RAHASIA DI BALIK NAMA DI DOKUMEN ITU MEMBUAT RANI GEMETAR: PAK DARMA TERNYATA MENYIMPAN SATU KEBENARAN YANG BISA MENGUBAH HIDUP MEREKA SELAMANYA

Avatar penulis
Cerita 01
4 menit baca 263 tayangan
RAHASIA DI BALIK NAMA DI DOKUMEN ITU MEMBUAT RANI GEMETAR: PAK DARMA TERNYATA MENYIMPAN SATU KEBENARAN YANG BISA MENGUBAH HIDUP MEREKA SELAMANYA
Indeks

Rani masih memegang dokumen itu dengan kedua tangan yang gemetar.

Matanya bergerak perlahan dari satu baris ke baris berikutnya.

Nama yang tertulis di halaman terakhir membuat dadanya terasa sesak.

Darma Wijaya.

Nama Pak Darma.

“Pak…” suara Rani hampir tidak keluar. “Kenapa nama Bapak ada di sini?”

Pak Darma berdiri diam.

Wajahnya yang selama ini selalu tenang tiba-tiba berubah pucat.

Arman juga tidak langsung berbicara.

Hujan di luar semakin deras. Tetes air đập vào mái nhà tạo thành một âm thanh dồn dập, giống như đang thúc giục một bí mật đã bị chôn giấu quá lâu phải được nói ra.

Pak Darma akhirnya duduk.

“Sudah waktunya kamu tahu.”

Rani menatap lelaki tua itu.

“Bapak sebenarnya siapa?”

Pak Darma menarik napas panjang.

“Dulu, sebelum tinggal di desa ini, aku bekerja sebagai sopir untuk sebuah keluarga kaya di kota.”

Rani terdiam.

Pak Darma melanjutkan.

“Bertahun-tahun lalu, aku pernah mengantar seorang perempuan muda ke rumah sakit setelah kecelakaan.”

“Perempuan itu…”

“Ibumu.”
RAHASIA DI BALIK NAMA DI DOKUMEN ITU MEMBUAT RANI GEMETAR: PAK DARMA TERNYATA MENYIMPAN SATU KEBENARAN YANG BISA MENGUBAH HIDUP MEREKA SELAMANYA

Rani membeku.

Selama hidupnya, ia hanya tahu bahwa ibunya selalu menyembunyikan masa lalu.

Setiap kali Rani bertanya tentang keluarga dari pihak ayah, ibunya selalu menghindar.

Pak Darma menunduk.

“Setelah kecelakaan itu, aku tahu ada masalah besar di keluarga mereka. Ada sebuah harta yang seharusnya menjadi hak anak dari perempuan itu. Tapi dokumen kepemilikannya sengaja disembunyikan.”

“Kenapa Bapak tidak pernah bilang?”

“Karena aku pernah berjanji.”

“Berjanji kepada siapa?”

Pak Darma tidak langsung menjawab.

Matanya berkaca-kaca.

“Kepada ibumu.”

Rani merasa kepalanya berputar.

Arman kemudian berkata pelan,

“Pak Darma bukan orang yang mengambil keuntungan dari keluargamu.”

“Lalu apa hubungannya dengan aku?”

Arman menunjuk dokumen tersebut.

“Karena ada bagian dari peninggalan keluarga ibumu yang sejak dulu dititipkan kepada Pak Darma untuk disimpan sampai kamu cukup dewasa.”

Rani menatap lelaki tua itu.

“Berarti… Bapak sudah tahu siapa saya sejak awal?”

Pak Darma menggeleng.

“Tidak.”

“Lalu?”

“Aku baru yakin setelah melihat gelang yang dipakai anakmu.”

Rani menunduk melihat gelang kecil di tangan Aulia.

“Gelang ini…”

“Dulu ibumu memberikannya kepada seorang bayi.”

Rani mengangkat kepala.

“Bayi siapa?”

Pak Darma menatapnya lama.

“Kamu.”

Ruangan itu mendadak terasa begitu sunyi.

Rani tidak mampu berkata apa-apa.

Selama ini ia mengira Pak Darma hanyalah seorang lelaki tua yang kebetulan menolongnya ketika ia tidak punya siapa-siapa.

Ternyata pertemuan mereka bukan sekadar kebetulan.

Namun sebelum Rani sempat bertanya lebih jauh, terdengar suara mobil berhenti di luar.

Seseorang turun.

Pintu rumah diketuk keras.

Arman langsung berdiri.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Ketukan kembali terdengar.

Kali ini lebih keras.

Pak Darma berdiri perlahan.

Wajahnya berubah tegang.

“Aku tahu siapa mereka.”

Rani memeluk Aulia lebih erat.

“Siapa?”

Pak Darma menatapnya.

“Orang-orang yang selama ini mencari dokumen itu.”

Pintu kembali digedor.

“Buka pintunya!”

Rani mundur beberapa langkah.

Arman berdiri di depan mereka.

Pak Darma mengambil sebuah kotak kayu tua dari bawah lemari.

Tangannya gemetar ketika membuka kuncinya.

Di dalamnya terdapat beberapa dokumen, sebuah foto lama, dan surat yang sudah menguning.

Ia menyerahkannya kepada Rani.

“Kalau malam ini terjadi sesuatu, jangan biarkan siapa pun mengambil ini.”

Rani membuka surat tersebut.

Baru membaca beberapa kalimat pertama, air matanya langsung jatuh.

Surat itu ditulis oleh ibunya.

Di bagian akhir tertulis satu kalimat yang membuat jantung Rani serasa berhenti.

“Jika suatu hari anakku kembali kepadamu, jangan biarkan mereka mengambil haknya lagi.”

Tiba-tiba kaca jendela rumah pecah.

Rani menjerit.

Arman segera menariknya menjauh.

Pak Darma menggenggam tongkatnya.

Dan untuk pertama kalinya, lelaki tua yang selama ini hidup sederhana itu berdiri di depan pintu bukan sebagai petani miskin…

melainkan sebagai seseorang yang selama puluhan tahun menjaga sebuah rahasia.

Di luar rumah, terdengar suara seorang lelaki berteriak.

“Serahkan dokumen itu!”

Pak Darma menatap Rani.

“Sekarang kamu sudah tahu kenapa aku membiarkanmu tinggal di rumah ini.”

Rani menangis.

“Karena Ibu saya?”

Pak Darma mengangguk.

“Karena dulu aku gagal melindungi ibumu.”

Ia menarik napas.

“Dan kali ini… aku tidak akan gagal lagi.”

Pintu rumah kembali digedor.

Lebih keras.

Namun sebelum siapa pun sempat membukanya, terdengar suara sirene dari kejauhan.

Orang-orang di luar mulai panik.

Arman menatap Pak Darma.

“Bapak sudah memanggil bantuan?”

Pak Darma mengangguk.

“Tidak.”

“Lalu?”

Pak Darma menatap dokumen di tangan Rani.

“Aku sudah menunggu hari ini selama dua puluh tahun.”

Dan malam itu, Rani akhirnya sadar…

orang tua miskin yang ia kira hanya seorang petani ternyata telah menjadi penjaga rahasia keluarganya selama separuh hidupnya.

Tetapi ia belum tahu satu hal.

Rahasia terbesar dalam dokumen itu bukan tentang harta.

Melainkan tentang alasan sebenarnya mengapa ibunya dulu terpaksa meninggalkan dirinya.