Aku menatap Dimas tanpa berkedip.
“Siapa sebenarnya yang membayar rumah ini?”
Tangannya masih menggenggam dokumen lama dari kotak kayu milik Ibu.
Beberapa detik berlalu.
Ia tetap diam.
Dari lantai bawah terdengar suara Raka dan Sinta sedang berdebat. Namun di kamar itu, rasanya seluruh dunia berhenti bergerak.
Akhirnya Dimas menarik napas panjang.
“Sebagian uang untuk membeli rumah memang berasal dari keluargaku.”
Aku mengerutkan kening.
“Sebagian?”
“Ya.”
“Berapa?”
Dimas menunduk.
“Tidak sampai separuh.”
Aku tertawa kecil, tetapi dadaku terasa sesak.
“Jadi selama ini kalian membuatku percaya bahwa keluarga kalian ikut membeli rumah ini?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Dimas tidak menjawab.
Aku mengambil dokumen dari tangannya.
Di dalamnya terdapat beberapa kuitansi lama, catatan pembayaran, dan sebuah perjanjian yang dibuat lebih dari sepuluh tahun lalu.

Aku membaca semuanya dengan perlahan.
Semakin banyak yang kubaca, semakin dingin tanganku.
Ternyata ketika aku membeli rumah itu lima belas tahun lalu, aku memang membayar hampir seluruh harganya dengan uang peninggalan orang tuaku.
Namun ada sejumlah uang dari keluarga Dimas yang masuk ke rekeningku sebelum transaksi.
Aku dulu mengira itu bantuan untuk renovasi.
Ternyata uang itu digunakan untuk melunasi sebagian utang Raka.
Dan semua itu dilakukan tanpa sepengetahuanku.
Aku menatap Dimas.
“Jadi uang keluarga kalian bukan untuk rumah?”
Ia menggeleng.
“Uang itu untuk menyelamatkan bisnis Raka.”
“Dan sebagai gantinya?”
Dimas terdiam.
Aku membuka halaman terakhir.
Di sana tertulis sebuah perjanjian yang menyatakan bahwa Ibu tetap mempunyai hak tinggal seumur hidup di rumah tersebut.
Itu tidak mengejutkanku.
Aku memang tidak pernah berniat mengusirnya.
Tetapi ada satu kalimat lain yang membuat jantungku berhenti sesaat.
Jika aku meninggal dunia tanpa ahli waris yang sah, rumah tersebut akan diberikan kepada Raka.
Aku menatap Dimas.
“Siapa yang membuat perjanjian ini?”
“Aku.”
Jawabannya begitu pelan.
Tetapi cukup membuat seluruh tubuhku kaku.
“Kamu?”
Dimas mengangguk.
“Waktu itu aku pikir aku sedang melindungi keluargaku.”
“Dengan rumahku?”
“Aku tidak pernah berniat mengambilnya darimu.”
“Kalau begitu kenapa ada nama Raka?”
Ia mengusap wajahnya.
“Karena saat itu bisnis Raka hampir bangkrut. Ada orang yang menagih utang. Ibu takut dia akan kehilangan semuanya.”
Aku memejamkan mata.
Lima belas tahun.
Lima belas tahun aku memasak untuk keluarga ini.
Merawat Ibu ketika sakit.
Membayar tagihan rumah.
Merenovasi kamar mandi.
Memperbaiki atap.
Membelikan obat.
Dan selama itu, ternyata ada orang yang diam-diam menyiapkan kemungkinan agar rumahku suatu hari jatuh ke tangan orang lain.
Aku membuka mata.
“Kenapa Ibu menyebut rumah ini milik Raka di pesta ulang tahunnya?”
Dimas tidak langsung menjawab.
“Karena Raka memaksanya.”
Aku menatapnya.
“Bagaimana caranya?”
“Dia tahu tentang perjanjian lama itu.”
Aku terdiam.
Tiba-tiba semua kejadian beberapa hari terakhir terasa masuk akal.
Kedatangan Raka tanpa mengetuk pintu.
Kardus-kardus yang mereka bawa.
Sinta yang sudah memilih kamar.
Cara mereka berbicara seolah-olah rumah ini sudah menjadi milik mereka.
Mereka bukan sekadar berharap mendapatkan rumah.
Mereka sudah percaya bahwa rumah itu memang akan jatuh ke tangan mereka.
“Di mana Ibu sekarang?”
“Di rumah sakit.”
“Kenapa?”
Dimas menatapku.
“Tekanan darahnya naik setelah bertengkar dengan Raka.”
Aku langsung mengambil tas.
“Kita ke rumah sakit.”
Di rumah sakit, Ibu terbaring dengan wajah pucat.
Begitu melihatku, matanya langsung berkaca-kaca.
“Maafkan Ibu.”
Aku duduk di sampingnya.
“Jelaskan semuanya.”
Ia menggenggam tanganku.
“Lima belas tahun lalu, Raka membuat kesalahan besar. Utangnya hampir membuat keluarga kehilangan semua tabungan.”
Aku diam.
“Ibu takut.”
“Karena itu Ibu menyembunyikan semuanya dariku?”
Ia mengangguk.
“Ibu pikir kalau rumah itu tetap menjadi tempat kami berkumpul, keluarga tidak akan hancur.”
Aku menatapnya lama.
“Justru kebohongan yang hampir menghancurkan keluarga ini.”
Air matanya jatuh.
“Ibu tahu.”
Aku menggenggam tangannya.
“Kenapa sekarang?”
“Karena Raka mendapat masalah lagi.”
Aku membeku.
“Masalah apa?”
Ibu menarik napas.
“Utangnya kembali menumpuk.”
Jadi itulah alasannya.
Bukan karena Ibu tiba-tiba ingin memberikan rumah kepada cucu sulungnya.
Bukan karena rumah itu memang hak Raka.
Mereka membutuhkan rumah itu untuk menyelesaikan masalah keuangan yang kembali membesar.
Aku menatap Dimas.
“Berapa?”
Ia menyebutkan jumlahnya.
Aku sampai tidak bisa berkata-kata.
Jumlahnya cukup besar untuk membuat siapa pun panik.
“Tapi kenapa harus rumah ini?”
Dimas menunduk.
“Karena Raka berencana menjualnya.”
Aku merasakan tenggorokanku tercekat.
Selama ini mereka membicarakan rumah sebagai warisan keluarga.
Padahal yang mereka pikirkan adalah uang hasil penjualan.
Aku berdiri.
“Tidak.”
Suaraku tidak keras.
Tetapi kali ini aku benar-benar yakin.
“Rumah itu tidak akan dijual.”
Raka tiba-tiba muncul di pintu kamar.
Ia mendengar semuanya.
“Kamu tidak mengerti!”
Aku menoleh.
“Aku sangat mengerti.”
“Kami sedang terdesak.”
“Itu bukan tanggung jawabku.”
“Aku kakak suamimu!”
“Dan aku pemilik rumah itu.”
Ia maju selangkah.
“Kamu tega melihat keluarga kami hancur?”
Aku menatapnya.
“Yang menghancurkan hidupmu bukan aku.”
Raka terdiam.
“Dan aku tidak akan menghancurkan hidupku sendiri untuk menutup kesalahan yang bukan aku buat.”
Dimas berdiri di antara kami.
“Raka, cukup.”
Raka menatap adiknya dengan marah.
“Kamu juga membela dia?”
Dimas mengangguk.
“Ya.”
Itu pertama kalinya Dimas memilih berdiri di sisiku di depan keluarganya.
Raka pergi dengan wajah penuh amarah.
Malam itu, aku duduk sendirian di ruang tunggu rumah sakit.
Dimas datang dan duduk di sampingku.
“Aku tahu aku salah.”
Aku tidak menjawab.
“Aku seharusnya mengatakan semuanya sejak awal.”
“Benar.”
“Aku takut kehilangan keluargaku.”
Aku menatapnya.
“Dan kamu hampir kehilangan aku karena terlalu sibuk mempertahankan mereka.”
Dimas menunduk.
“Aku masih ingin memperbaiki semuanya.”
Aku diam cukup lama.
“Kalau begitu, jangan lagi minta aku menyelamatkan semua orang.”
Ia mengangguk.
“Aku tidak akan.”
Aku berdiri.
“Mulai sekarang, setiap orang bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.”
Aku pikir malam itu adalah akhir dari masalah.
Ternyata aku salah.
Keesokan paginya, saat aku pulang ke rumah, pintu depan sudah terbuka.
Kunci rumah telah diganti.
Aku berhenti di halaman.
Di depan rumah berdiri dua orang asing.
Salah satunya memegang map dokumen.
Raka berdiri di belakang mereka.
Saat melihatku, ia berkata dengan suara dingin,
“Mulai hari ini, kita akan menyelesaikan masalah rumah ini secara resmi.”
Aku menatapnya.
“Dokumen apa itu?”
Ia tersenyum.
“Perjanjian yang kamu sendiri tidak pernah tahu keberadaannya.”
Lalu ia mengangkat satu lembar kertas.
“Dan kali ini, kamu tidak bisa lagi pura-pura menjadi satu-satunya pemilik.”
Dadaku terasa sesak.
Namun aku tidak mundur.
Aku hanya berkata,
“Kalau begitu, kita buka semuanya.”
Karena untuk pertama kalinya, aku tidak takut pada rahasia mereka.
Aku justru ingin melihat…
seberapa jauh mereka berani berbohong ketika semua bukti dibuka di depan mata.
