Suara Arman keluar dari ponselku.
Jelas.
Tidak lớn.
Tetapi setiap kata terdengar seperti palu yang dipukulkan satu per satu ke meja makan.
“Kalau dia sudah pergi dari rumah, sertifikatnya akan lebih mudah kita urus. Lagipula, dia tidak akan curiga kalau ibu yang meminta dia keluar.”
Tidak ada yang bergerak.
Bahkan suara sendok yang tadi beradu dengan piring pun hilang.
Aku memegang ponsel dengan kedua tangan.
Rekaman itu terus berjalan.
Lalu terdengar suara ibu mertuaku.
“Kalau begitu, jangan sampai dia tahu soal pinjaman itu sebelum semuanya selesai.”
Seseorang di belakangku menarik napas panjang.
Rina, adik iparku, menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Ia menatap kakaknya seperti baru pertama kali melihat wajah Arman.
“Mas…”

Arman tidak menjawab.
Aku melihat wajahnya.
Tidak ada lagi suami yang tadi duduk diam.
Yang kulihat hanya seorang laki-laki yang tahu bahwa kebohongannya sudah tidak bisa disembunyikan.
Aku mematikan rekaman.
“Sekarang,” kataku pelan, “ada yang mau menjelaskan?”
Ibu mertua langsung menunjuk ke arahku.
“Kamu merekam percakapan pribadi?”
Aku hampir tertawa.
“Bu, jangan mengalihkan pembicaraan.”
“Kamu perempuan licik!”
“Kalau saya licik, saya tidak akan datang ke sini membawa semua dokumen.”
Aku membuka map itu lagi.
“Ini salinan sertifikat rumah. Ini bukti cicilan. Ini rekening pembayaran. Dan ini surat dari bank yang menyatakan ada pengajuan pinjaman menggunakan rumah tersebut sebagai jaminan.”
Aku meletakkan semuanya satu per satu.
Beberapa saudara Arman mulai berdiri dan mendekat.
Salah seorang pamannya mengambil dokumen itu.
“Nama pemiliknya memang namamu.”
Aku mengangguk.
“Rumah itu saya beli dua tahun sebelum menikah.”
“Lalu tanda tangan ini?” tanyanya.
Aku menatap lembar pengajuan pinjaman.
“Itu bukan tanda tangan saya.”
Ruangan kembali sunyi.
Arman akhirnya bersuara.
“Sayang, dengarkan aku dulu.”
Aku menatapnya.
“Jangan panggil aku sayang.”
Ia terdiam.
Tiga tahun aku menunggu satu kalimat pembelaan darinya.
Hari itu, ketika aku benar-benar membutuhkannya, ia justru membiarkan ibunya mempermalukanku di depan seluruh keluarga.
Sekarang, setelah kebohongannya terbongkar, ia baru ingin menjelaskan.
“Aku cuma ingin membantu ibu,” katanya.
Aku bertanya,
“Dengan menjadikan rumahku jaminan pinjaman?”
“Bukan begitu.”
“Lalu bagaimana?”
Ia tidak menjawab.
Ibu mertua tiba-tiba menangis.
Tangisannya terdengar keras.
“Kalian semua tidak mengerti! Saya hanya ingin membantu Rina!”
Rina langsung menoleh.
“Bu…”
“Ibu tidak mungkin membiarkan anak ibu sendiri hidup terlunta-lunta!”
Aku menatap Rina.
Untuk pertama kalinya, aku melihat wajah perempuan itu tanpa kemarahan.
Ia tampak pucat.
“Aku tidak pernah tahu soal pinjaman itu,” katanya pelan.
Ibu mertua membentak,
“Diam!”
Rina mundur satu langkah.
Air matanya jatuh.
“Berarti selama ini… Ibu bohong kepada saya juga?”
Tidak ada yang menjawab.
Aku memasukkan dokumen kembali ke dalam map.
“Aku tidak akan membuat keributan di sini.”
Arman langsung mendekat.
“Mau ke mana?”
“Pulang.”
“Ke rumah?”
Aku menatapnya.
“Rumahku.”
Ia membeku.
Kalimat sederhana itu ternyata terasa sangat berat.
Aku mengambil tas.
Ketika aku melewati pintu, salah seorang tante Arman memanggilku.
“Nak…”
Aku berhenti.
Ia berdiri dengan mata berkaca-kaca.
“Maaf.”
Aku hanya mengangguk.
Aku tidak membutuhkan permintaan maaf dari orang yang tadi diam ketika aku dipermalukan.
Tetapi aku juga tidak ingin membalas luka dengan luka baru.
Aku berjalan keluar.
Di lorong restoran, kakiku terasa lemas.
Baru ketika pintu lift tertutup, aku menyentuh pipiku yang masih terasa panas.
Aku tidak menangis.
Entah kenapa, setelah semua kebohongan terbuka, air mata justru tidak keluar.
Yang muncul hanya satu pikiran.
Aku harus menyelamatkan hidupku sendiri.
Malam itu Arman pulang.
Aku sedang duduk di ruang tamu sambil memeriksa dokumen.
Ia berdiri di dekat pintu.
“Aku bisa menjelaskan.”
Aku tidak menatapnya.
“Jelaskan.”
Ia duduk perlahan.
“Aku memang mengajukan pinjaman.”
“Berapa?”
“Seratus dua puluh juta rupiah.”
Tanganku berhenti.
“Untuk apa?”
Ia menunduk.
“Sebagian untuk membayar utang usaha.”
Aku menatapnya tajam.
“Usaha apa?”
Ia diam.
Aku langsung tahu.
“Utang judi?”
Arman mengangkat wajah.
“Aku sudah berhenti.”
Dadaku terasa sesak.
Selama ini aku mengira suamiku hanya tidak berani melawan ibunya.
Ternyata ada hal lain yang tidak pernah ia ceritakan.
Utang.
Kebiasaan berjudi.
Dan sebuah pinjaman yang hampir menyeret rumahku.
“Aku akan menyelesaikannya,” katanya.
“Dengan apa?”
“Aku akan bekerja lebih keras.”
Aku tertawa kecil.
“Arman, masalahnya bukan seratus dua puluh juta.”
Ia terdiam.
“Masalahnya adalah kamu berani memalsukan tanda tanganku.”
“Aku tidak memalsukannya sendiri.”
Aku menatapnya.
“Siapa?”
Arman tidak menjawab.
Tetapi kali ini aku tidak perlu memaksa.
Jawabannya sudah jelas.
Aku berdiri.
“Besok kita bicara dengan bank.”
“Sayang…”
“Dan setelah itu, kita bicara dengan notaris.”
Wajah Arman berubah.
Aku menatapnya lurus.
“Kalau kamu benar-benar ingin memperbaiki semuanya, jangan lagi bersembunyi di belakang ibumu.”
Malam itu untuk pertama kalinya Arman tidur di sofa.
Aku tidur di kamar dengan pintu terkunci.
Bukan karena aku membencinya.
Aku hanya sedang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan seluruh hidup kita kepadanya.
Keesokan paginya, aku pergi ke bank bersama Arman.
Setelah dokumen diperiksa, pihak bank memastikan bahwa proses pencairan pinjaman belum selesai karena terdapat ketidaksesuaian pada dokumen persetujuan pemilik.
Rumah itu belum berpindah tangan.
Belum disita.
Belum hilang.
Aku masih punya kesempatan.
Tetapi ada satu hal yang membuatku semakin terkejut.
Petugas bank menunjukkan salinan dokumen yang dipakai Arman.
Di sana terdapat tanda tangan yang menyerupai milikku.
Namun ada satu kesalahan kecil.
Tanggalnya.
Aku tahu persis bahwa pada tanggal tersebut aku sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan.
Aku memiliki bukti perjalanan dan absensi.
Artinya, siapa pun yang membuat tanda tangan itu telah merencanakannya.
Aku menatap Arman.
“Ini bukan keputusan spontan.”
Ia menunduk.
“Aku tahu.”
“Siapa yang membantumu?”
Arman menarik napas panjang.
“Ibu.”
Aku memejamkan mata.
Aku tidak kaget.
Tetapi tetap saja sakit.
Sore harinya, Rina datang ke rumah.
Ia berdiri di depan pagar cukup lama sebelum akhirnya mengetuk.
Aku membukakan pintu.
Ia membawa satu kantong kecil.
“Ini barang-barangmu yang tertinggal di restoran.”
Aku menerimanya.
“Terima kasih.”
Ia tidak langsung pergi.
“Boleh aku masuk?”
Aku mengangguk.
Kami duduk berhadapan.
Untuk pertama kalinya selama tiga tahun, kami benar-benar berbicara sebagai dua perempuan.
Bukan sebagai kakak ipar dan adik ipar.
Bukan sebagai pihak yang saling curiga.
“Aku tidak tahu soal pinjaman itu,” katanya.
“Aku percaya.”
Ia menunduk.
“Aku juga tidak pernah meminta Ibu mengambil rumahmu.”
“Aku tahu.”
“Aku memang butuh tempat tinggal setelah bercerai. Tapi aku tidak mau mengambil milikmu.”
Aku tersenyum tipis.
“Aku tahu kamu butuh bantuan.”
Rina menangis.
“Aku malu.”
Aku menggeleng.
“Jangan malu karena kamu gagal dalam pernikahan. Yang penting kamu jangan membiarkan kegagalan itu membuatmu bergantung pada orang lain selamanya.”
Ia menatapku.
“Aku mau kerja.”
“Bagus.”
“Aku sudah mendapat pekerjaan.”
Aku tersenyum.
“Kalau begitu, mulai dari sana.”
Rina mengusap air matanya.
Sebelum pergi, ia berhenti di pintu.
“Kak…”
“Ya?”
“Maaf karena waktu Ibu memukulmu, aku diam.”
Aku tidak menjawab selama beberapa detik.
Lalu aku berkata,
“Semoga suatu hari nanti, kalau kamu melihat perempuan lain diperlakukan seperti itu, kamu tidak diam lagi.”
Rina mengangguk sambil menangis.
Hari itu, aku menyadari sesuatu.
Kadang-kadang, memutus sebuah lingkaran bukan dengan membalas orang yang menyakiti kita.
Tetapi dengan memastikan luka yang sama tidak diwariskan kepada orang berikutnya.
Namun aku belum tahu…
Bahwa masalah terbesar kami ternyata belum selesai.
Karena tiga hari kemudian, seseorang mengetuk pintuku.
Ketika kubuka, dua orang berdiri di depan rumah.
Mereka membawa surat.
Dan salah satu dari mereka mengatakan kalimat yang membuat darahku terasa dingin.
“Bu, kami datang karena ada pengaduan bahwa rumah ini merupakan aset yang sedang dijaminkan untuk utang suami Ibu.”
Aku menggenggam kusen pintu.
Di belakangku, Arman berdiri membeku.
Aku tahu.
Perang sebenarnya baru dimulai.
