Rekaman Terakhir Nenek Membongkar Kebohongan Hadi, Sementara Raka Harus Memilih Antara Ayahnya atau Menyelamatkan Keluarga Kami

Avatar penulis
Cerita 05
7 menit baca 193 tayangan
Indeks

BAGIAN 2 — Rekaman Terakhir Nenek Membongkar Kebohongan Hadi, Sementara Raka Harus Memilih Antara Ayahnya atau Menyelamatkan Keluarga Kami

Suara Nenek terdengar serak dari pengeras suara ponselku.

—Kalau kalian mendengar rekaman ini, berarti seseorang dari keluarga itu sudah datang mencari tanah di belakang rumah.

Wajah Hadi berubah seketika.

Ibu berdiri membeku di sampingku.

Aku menaikkan volume.

—Tanah itu tidak pernah kujadikan jaminan utang. Aku tidak pernah meminjam uang dari keluarga mereka. Kalau suatu hari muncul surat utang dengan tanda tanganku, jangan percaya sebelum diperiksa oleh ahli.

—Matikan!

Hadi tiba-tiba berteriak.

Ia menerjang ke arahku, tetapi Raka langsung menghadangnya.

—Jangan sentuh Amara!

—Minggir!

—Tidak!

Untuk pertama kalinya aku melihat Raka benar-benar melawan ayahnya.

Dari luar, suara sirene semakin dekat.

Hadi menatap jendela, lalu menatap pintu. Ia tampak sedang menghitung kemungkinan untuk melarikan diri.

Namun rekaman Nenek belum selesai.

—Dulu aku menjalankan usaha kopi bersama seorang pria bernama Darma. Kami membeli tanah itu ketika harganya masih sangat murah. Setelah usaha kami berkembang, Darma mulai mengambil uang perusahaan tanpa izin. Ketika aku mengetahuinya, aku memutuskan hubungan bisnis dengannya. Beberapa tahun kemudian, aku mendengar Darma meninggal dan putranya mulai mencari dokumen lama milik kami.

Aku menoleh kepada Hadi.

—Darma adalah ayahmu?

Hadi tidak menjawab.

Raka justru mengangguk perlahan.

—Kakekku bernama Darma.

Suara Nenek kembali terdengar.

—Aku menyimpan semua catatan transaksi. Jika suatu hari putra Darma datang membawa surat utang, periksa tanggal, tinta, dan sidik jarinya. Aku pernah kehilangan beberapa lembar kertas kosong yang sudah kutandatangani untuk keperluan usaha. Aku khawatir kertas itu digunakan untuk membuat dokumen palsu.

Ibu menutup mulutnya.

Sekarang semuanya mulai masuk akal.

Hadi bukan sekadar mengetahui keberadaan tanah itu.

Ia telah mempersiapkan semuanya.

Pernikahannya dengan Ibu mungkin memang sejak awal merupakan jalan termudah untuk mendekati rumah Nenek.

Tiba-tiba terdengar gedoran keras dari pintu depan.

—Polisi! Buka pintunya!

Hadi mundur satu langkah.

Lalu dua langkah.

Aku mengira semuanya telah selesai.

Tetapi mendadak ia meraih tas di atas sofa dan berlari menuju pintu belakang.

Raka mencoba menangkap lengannya.

—Ayah, berhenti!

Hadi mendorong putranya hingga jatuh.

Aku dan Ibu segera membantu Raka bangun.

Beberapa detik kemudian, polisi memasuki rumah dari depan.

Aku menunjukkan arah Hadi melarikan diri.

Dua petugas langsung mengejarnya.

Aku segera teringat kerabat kami.

—Pak, ada tiga orang mencoba masuk paksa ke rumah tua keluarga kami!

Aku memberikan alamatnya.

Petugas segera menghubungi kantor polisi terdekat.

Tanganku terus gemetar sampai seorang petugas mengatakan bahwa patroli sedang menuju lokasi tersebut.

Sekitar dua puluh menit kemudian, kami menerima kabar.

Kerabat kami selamat.

Tiga orang di luar rumah kabur setelah mendengar sirene, tetapi dua di antaranya berhasil diamankan tidak jauh dari sana.

Hadi sendiri tertangkap beberapa blok dari rumah kami.

Ketika dibawa kembali, wajahnya tidak lagi menunjukkan keramahan sedikit pun.

Ia menatap Raka dengan penuh kemarahan.

—Kamu mengkhianati ayahmu sendiri.

Raka berdiri diam.

Beberapa detik kemudian ia berkata pelan:

—Ayah sendiri yang membuat aku tidak punya pilihan.

Hadi dibawa pergi.

Namun malam itu aku baru mengetahui bahwa kejutan terbesar belum berakhir.

Raka meminta berbicara dengan kami.

Ia mengeluarkan kunci kecil dari sakunya.

—Kotak kayu itu tidak hilang.

—Di mana?

Tanyaku.

—Aku menyimpannya di loker sewaan.

Raka menunduk.

—Awalnya aku memang mengambilnya karena Ayah menyuruhku. Ayah bilang di dalamnya ada dokumen milik Kakek yang dicuri nenek kalian. Aku percaya.

Ia menarik napas panjang.

—Tapi setelah membuka kotak itu, aku menemukan foto, surat, dan beberapa catatan lama. Dari situ aku mulai curiga.

Raka ternyata sengaja tidak memberikan kotak itu kepada Hadi.

Ia menyembunyikannya karena ingin mengetahui kebenaran terlebih dahulu.

Keesokan paginya, dengan didampingi polisi, kami mengambil kotak tersebut.

Di dalamnya terdapat puluhan foto, buku rekening lama, surat perjanjian bisnis, serta bukti pembayaran.

Ada pula salinan dokumen yang menunjukkan bahwa Nenek membeli sebagian besar tanah itu menggunakan uangnya sendiri.

Namun satu amplop membuat Ibu menangis.

Di bagian depan tertulis nama Ibu.

Tangannya gemetar ketika membukanya.

Di dalamnya ada surat tulisan tangan Nenek.

“Untuk putriku. Kalau kamu membaca surat ini, mungkin Ibu sudah tidak ada. Jangan jadikan tanah ini alasan untuk bertengkar dengan siapa pun. Kalau suatu hari nilainya menjadi besar, gunakan sebagian untuk kehidupanmu dan anakmu, tetapi jangan lupa bahwa harta paling berharga adalah kemampuan kalian berdiri dengan kaki sendiri.”

Air mata Ibu jatuh di atas kertas.

Aku memeluknya.

Untuk pertama kalinya sejak Hadi memasuki kehidupan kami, aku merasa kami mendapatkan kembali sesuatu yang hampir dirampas.

Bukan tanah.

Melainkan rasa aman.

Penyelidikan berlangsung selama beberapa minggu.

Dokumen utang yang dibawa Hadi diperiksa.

Hasilnya sesuai dengan peringatan Nenek.

Tanda tangan memang asli, tetapi isi dokumen ternyata dibuat jauh setelah tanda tangan tersebut diberikan.

Beberapa bagian tinta berasal dari periode berbeda.

Selain itu, sidik jari pada bagian bawah dokumen bukan milik Nenek.

Dari telepon Hadi, penyidik juga menemukan percakapan mengenai rencana mengambil dokumen tanah.

Semakin diperiksa, semakin banyak kebohongan terbongkar.

Namun ada satu hal yang membuatku tidak tenang.

Kematian Nenek.

Raka pernah mengatakan mungkin itu bukan kecelakaan.

Aku menanyakannya kepada penyidik.

Ternyata di dalam kotak kayu terdapat catatan Nenek mengenai ancaman yang pernah diterimanya bertahun-tahun lalu. Akan tetapi, catatan tersebut belum cukup untuk membuktikan seseorang menyebabkan kematiannya.

Aku sempat kecewa.

Namun Ibu menggenggam tanganku.

—Jangan memaksakan jawaban kalau memang belum ada bukti, Amara. Yang penting kita mencari kebenaran dengan cara yang benar.

Aku mengangguk.

Sementara itu, Raka pindah dari rumah kami.

Sebelum pergi, ia berdiri cukup lama di depan pintu.

—Aku minta maaf.

Ibu memandangnya.

—Untuk apa?

—Aku mencuri kunci. Aku masuk ke rumah Nenek tanpa izin. Kalau sejak awal aku menolak Ayah, semua ini mungkin tidak terjadi.

Ibu terdiam beberapa saat.

—Kesalahan tetap kesalahan. Kamu harus bertanggung jawab atas bagianmu.

Raka mengangguk.

—Aku tahu.

—Tapi kamu juga memilih berhenti sebelum semuanya terlambat.

Raka mengangkat wajah.

Ibu melanjutkan:

—Gunakan kesempatan itu untuk memperbaiki hidupmu.

Raka menatapku.

—Amara, terima kasih karena malam itu kamu tidak langsung menganggap aku sama seperti Ayah.

Aku tersenyum tipis.

—Jangan membuatku menyesal.

Ia tertawa kecil untuk pertama kalinya.

Kupikir setelah itu hidup kami akan kembali tenang.

Ternyata belum.

Dua bulan kemudian, seorang pria berpakaian rapi datang ke toko roti Ibu.

Ia memperkenalkan diri sebagai perwakilan sebuah perusahaan pengembang kawasan wisata.

Ia meletakkan sebuah kartu nama di meja.

—Kami ingin membicarakan tanah keluarga Ibu.

Ibu langsung menolak.

—Tanah itu tidak dijual.

Pria tersebut tersenyum.

—Kami bukan datang untuk membeli seluruhnya.

Ia membuka tablet dan memperlihatkan rancangan sebuah kawasan baru.

—Kami ingin menyewa sebagian lahan selama dua puluh tahun untuk akses menuju kawasan wisata. Nilai sewanya mungkin akan membuat Ibu mempertimbangkannya.

Ia menyebut sebuah angka.

Aku hampir menjatuhkan gelas.

Jumlahnya jauh lebih besar daripada seluruh pendapatan toko roti kami selama bertahun-tahun.

Namun Ibu tetap tenang.

—Kami akan mempelajarinya dahulu.

Malam itu kami kembali ke rumah tua.

Aku berdiri di halaman belakang memandang tanah luas yang selama ini bahkan tidak kusadari nilainya.

Ibu tiba-tiba berkata:

—Amara, kalau uangnya benar-benar sebesar itu, kamu ingin melakukan apa?

Aku berpikir beberapa saat.

—Memperbesar toko roti.

Ibu tertawa.

—Hanya itu?

—Dan memperbaiki rumah Nenek.

Aku menunjuk bangunan tua di depan kami.

—Tapi jangan dijadikan hotel mewah. Aku ingin tempat ini tetap seperti rumah.

Ibu tersenyum.

Namun sebelum kami sempat melanjutkan pembicaraan, ponselku berbunyi.

Pesan dari Raka.

“Amara, aku baru menemukan sesuatu di barang-barang Ayah yang dikembalikan polisi.”

Di bawahnya ada sebuah foto.

Aku memperbesar gambar itu.

Itu adalah foto lama Nenek bersama Darma.

Namun kali ini ada orang ketiga berdiri di antara mereka.

Seorang perempuan muda.

Wajahnya sangat mirip dengan Ibu.

Aku langsung menunjukkan foto itu.

Begitu melihatnya, Ibu mundur selangkah.

—Tidak mungkin…

—Siapa dia?

Ibu menatap foto itu dengan mata berkaca-kaca.

Lalu berbisik:

—Itu kakak Ibu.

Aku terdiam.

Selama hidupku, aku tidak pernah tahu bahwa Ibu mempunyai seorang kakak.

Dan beberapa detik kemudian, Raka mengirim pesan kedua.

“Menurut catatan di belakang foto, dia mungkin masih hidup.”

(Lanjutkan ke BAGIAN 3….)