Pertemuan Tak Terduga Membuka Rahasia Terakhir Nenek dan Mengubah Tanah Sengketa Menjadi Awal Baru bagi Keluarga Kami

Avatar penulis
Cerita 05
8 menit baca 202 tayangan
Indeks

BAGIAN 3 — Pertemuan Tak Terduga Membuka Rahasia Terakhir Nenek dan Mengubah Tanah Sengketa Menjadi Awal Baru bagi Keluarga Kami

Malam itu Ibu akhirnya menceritakan semuanya.

Sebelum Ibu lahir, Nenek memang mempunyai seorang putri bernama Maya.

Maya lebih tua sebelas tahun dari Ibu.

Ketika masih muda, ia sering membantu Nenek menjalankan usaha kopi.

Namun setelah terjadi pertengkaran besar dalam keluarga, Maya pergi.

—Tentang apa mereka bertengkar?

Tanyaku.

Ibu menggeleng.

—Ibu tidak pernah tahu. Saat itu Ibu masih kecil. Nenek hanya bilang Kak Maya memilih hidupnya sendiri.

—Lalu kalian tidak pernah bertemu lagi?

—Tidak.

Ada kesedihan yang selama ini rupanya disimpan Ibu sendirian.

Keesokan harinya, aku menghubungi Raka.

Tulisan di belakang foto mencantumkan sebuah nama lengkap dan nama daerah.

Dengan bantuan penyidik yang masih menangani kasus Hadi, akhirnya kami mendapatkan petunjuk.

Maya ternyata masih hidup.

Ia tinggal di sebuah kota kecil dan mengelola warung kopi bersama putrinya.

Tiga hari kemudian, aku dan Ibu pergi menemuinya.

Sepanjang perjalanan Ibu hampir tidak berbicara.

Ketika kami tiba, seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun sedang menyusun cangkir di belakang meja.

Rambutnya sudah banyak memutih.

Namun ketika ia mengangkat wajah, aku langsung tahu.

Matanya sama persis dengan mata Ibu.

Perempuan itu menjatuhkan cangkirnya.

—Lina?

Ibu menangis sebelum sempat menjawab.

—Kak Maya…

Mereka berdiri saling memandang selama beberapa detik.

Lalu Maya berjalan keluar dari balik meja dan memeluk adiknya.

Tidak ada pertanyaan.

Tidak ada kemarahan.

Hanya tangisan dua saudara yang kehilangan lebih dari tiga puluh tahun.

Setelah suasana tenang, Maya menceritakan alasan sebenarnya ia meninggalkan rumah.

Dulu Darma bukan hanya rekan bisnis Nenek.

Ia juga pernah mendekati Maya.

Darma ingin menikahinya karena mengetahui sebagian usaha keluarga akan diwariskan kepada Maya.

Namun Maya mengetahui Darma mengambil uang perusahaan.

Ia memberi tahu Nenek.

Darma membantah dan menuduh Maya memfitnahnya.

Pertengkaran besar terjadi.

—Aku pergi karena marah kepada Ibu.

Maya menunduk.

—Aku pikir Ibu tidak mempercayaiku.

—Tapi kenapa Kakak tidak pernah pulang?

Tanya Ibu.

Maya tersenyum pahit.

—Karena ketika aku ingin kembali beberapa tahun kemudian, aku menerima surat.

Ia masuk ke kamar dan kembali membawa sebuah amplop tua.

Surat itu mengatakan bahwa Nenek tidak ingin bertemu dengannya lagi.

Aku membaca surat tersebut.

Ada sesuatu yang aneh.

Tulisan tangannya mirip tulisan Nenek, tetapi beberapa huruf berbeda.

Kami membawa surat itu untuk diperiksa.

Beberapa minggu kemudian, hasilnya keluar.

Surat tersebut palsu.

Seseorang sengaja membuat Maya percaya bahwa Nenek telah membuangnya dari keluarga.

Tidak ada bukti cukup untuk memastikan siapa pembuatnya.

Namun bagi kami, itu tidak lagi menjadi hal terpenting.

Maya akhirnya pulang ke rumah tua.

Saat memasuki kamar Nenek, ia menangis lama sekali.

Di salah satu lemari, kami menemukan sebuah kotak kecil berisi foto masa kecilnya yang disimpan Nenek sampai akhir hayat.

Di bawah foto itu terdapat tulisan:

“Untuk Maya, kalau suatu hari kamu pulang.”

Maya memeluk kotak tersebut ke dadanya.

—Ternyata Ibu menungguku.

Ibu menggenggam tangannya.

—Sekarang Kakak sudah pulang.

Kasus Hadi akhirnya masuk proses hukum.

Aku tidak pernah datang untuk melihatnya.

Aku juga tidak ingin hidup kami terus berputar di sekeliling orang yang pernah mencoba menghancurkan keluarga kami.

Raka berbeda.

Ia datang beberapa kali untuk meminta maaf.

Ia juga menyerahkan seluruh informasi yang diketahuinya kepada penyidik.

Beberapa bulan kemudian, ketika semuanya mulai tenang, ia bekerja di sebuah perusahaan logistik kecil.

Suatu sore ia datang ke toko roti membawa dua kardus.

Aku curiga.

—Apa itu?

—Mesin kopi.

—Untuk apa?

—Hadiah.

Aku menatapnya.

—Aku tidak sedang ulang tahun.

Raka tertawa.

—Aku tahu. Tapi Tante Maya bilang kalian mau membuat kedai kecil di rumah Nenek.

Ternyata rencana kami telah berubah.

Setelah mempertimbangkan tawaran perusahaan pengembang, Ibu dan Maya sepakat tidak menjual tanah.

Sebagian kecil lahan disewakan untuk jalur akses dengan syarat yang diperiksa pengacara independen.

Uang sewanya digunakan untuk memperbaiki rumah Nenek.

Namun kami tidak mengubahnya menjadi penginapan mewah.

Kami membuat sesuatu yang lebih sederhana.

Lantai bawah dijadikan kedai kopi dan toko roti.

Maya mengurus kopi.

Ibu membuat roti.

Aku menangani pemasaran dan pemesanan daring.

Di halaman belakang kami menanam kembali beberapa pohon kopi sebagai pengingat usaha lama Nenek.

Kami memberi tempat itu nama sederhana:

Rumah Nenek.

Tidak ada nama keluarga.

Tidak ada nama perusahaan.

Hanya Rumah Nenek.

Pada hari pembukaan, puluhan orang datang.

Sebagian besar adalah penduduk sekitar yang sejak dulu mengenal Nenek.

Seorang lelaki tua berdiri lama melihat foto Nenek di dinding.

—Dulu ibumu sering memberi kopi gratis kepada pekerja yang tidak punya uang.

Maya tersenyum sambil menangis.

—Dia memang seperti itu.

Toko roti Ibu di kota tetap berjalan.

Bahkan setelah cerita mengenai Rumah Nenek menyebar, pesanan kami meningkat.

Aku yang awalnya hanya membantu akhirnya benar-benar membangun usaha sendiri.

Setahun kemudian, kami membuka program pelatihan gratis setiap tiga bulan bagi perempuan yang ingin belajar membuat roti atau mengelola usaha makanan rumahan.

Ibu berkata kepadaku:

—Dulu Nenek meninggalkan tanah. Ibu ingin kita meninggalkan kemampuan.

Aku sangat menyukai kalimat itu.

Maya juga membawa putrinya tinggal lebih dekat dengan kami.

Keluarga yang selama puluhan tahun terpisah perlahan-lahan menjadi utuh kembali.

Sedangkan hubunganku dengan Raka berubah dengan cara yang tidak pernah kuduga.

Kami tidak menjadi saudara.

Kami juga tidak berpura-pura bahwa masa lalu tidak pernah terjadi.

Tetapi kami menjadi teman.

Raka sering membantu mengantar bahan baku ke Rumah Nenek pada akhir pekan.

Setiap kali aku menggodanya karena dulu membobol pintu kamar Nenek, ia selalu mengangkat kedua tangan.

—Kesalahan terbesar dalam hidupku.

—Bukan.

Aku menjawab suatu hari.

—Kesalahan terbesarmu adalah mengira kamu bisa membuka pintu tanpa terlihat kamera.

Raka tertawa sampai hampir menjatuhkan satu karung kopi.

Dua tahun berlalu.

Suatu sore, aku duduk di teras Rumah Nenek.

Matahari hampir tenggelam.

Anak-anak berlarian di halaman, sementara aroma kopi dan roti hangat memenuhi udara.

Ibu keluar membawa dua cangkir teh.

Ia duduk di sampingku.

Di pergelangan tanganku masih terpasang gelang emas tua pemberian Nenek.

Ibu menyentuhnya perlahan.

—Dulu Hadi pertama kali menanyakan gelang itu.

Aku mengangguk.

—Kalau malam itu Raka tidak melihat gelang ini, mungkin semua rahasia tidak akan terbongkar.

Ibu tersenyum.

—Kadang sesuatu yang terlihat seperti awal masalah justru membuka jalan keluar.

Kami terdiam menikmati senja.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil berhenti di depan halaman.

Raka turun membawa kue besar.

Di belakangnya Maya dan putrinya turun sambil tertawa.

—Cepat!

Raka berteriak.

—Kalau terlambat, lilinnya keburu meleleh!

Aku bingung.

—Lilin apa?

Semua orang saling berpandangan.

Kemudian Ibu tertawa.

Hari itu ternyata tepat tiga tahun sejak malam ketika kami menemukan rekaman Nenek.

Mereka diam-diam menjadikannya hari keluarga.

Di atas kue tertulis:

“Untuk rumah yang akhirnya menemukan kembali semua penghuninya.”

Aku hampir menangis.

Malam itu kami makan bersama di halaman.

Tidak ada pembicaraan mengenai tanah.

Tidak ada pertengkaran mengenai warisan.

Tidak ada yang menghitung siapa mendapatkan lebih banyak dan siapa mendapatkan lebih sedikit.

Maya bercerita tentang masa kecil Ibu.

Ibu membongkar cerita memalukan tentang Maya.

Raka sibuk membela diri ketika semua orang kembali membahas kejadian ia membobol kamar.

Untuk pertama kalinya aku mengerti pesan Nenek.

Tanah itu memang berharga.

Tetapi tanah hanya memberikan kami tempat untuk berkumpul.

Yang membuat tempat itu menjadi rumah adalah orang-orang di dalamnya.

Setelah semua tamu pulang, aku masuk ke kamar Nenek.

Kamar itu sudah diperbaiki, tetapi kami sengaja mempertahankan lemari dan meja kayunya.

Di atas meja terdapat alat perekam tua.

Aku menyalakannya sekali lagi.

Suara Nenek terdengar.

Kali ini aku memutar bagian terakhir yang dulu tidak sempat kami dengarkan.

—Amara mungkin masih kecil ketika aku merekam ini. Kalau suatu hari kamu sudah dewasa dan mendengarnya, Nenek ingin mengatakan satu hal. Jangan takut kehilangan sesuatu yang bisa dibeli kembali. Takutlah kehilangan orang yang benar-benar menyayangimu hanya karena harta.

Aku menahan air mata.

Rekaman berlanjut.

—Kalau rumah ini masih berdiri, bukalah pintunya. Biarkan orang datang, minum kopi, makan bersama, dan tertawa. Rumah yang terlalu lama dikunci hanya akan menyimpan kesedihan.

Aku tersenyum.

Dari halaman terdengar suara Ibu memanggilku.

—Amara! Kopinya sudah dingin!

Aku mematikan alat perekam.

—Aku datang!

Sebelum keluar, aku memandang foto Nenek di dinding.

—Keinginan Nenek sudah terwujud.

Aku membuka pintu.

Cahaya dari halaman masuk memenuhi kamar yang dahulu selalu gelap dan terkunci.

Di luar, Ibu, Maya, putrinya, dan Raka sudah menungguku.

Aku berjalan menghampiri mereka.

Tidak ada lagi rahasia yang perlu kami kejar.

Tidak ada lagi harta yang perlu kami pertengkarkan.

Tanah peninggalan Nenek tetap menjadi milik keluarga, Rumah Nenek berkembang menjadi usaha yang menghidupi banyak orang, dan Ibu akhirnya menemukan kembali kakak yang selama puluhan tahun ia kira telah meninggalkan keluarga.

Sedangkan aku akhirnya memahami bahwa warisan terbesar Nenek bukanlah gelang emas, rumah tua, ataupun tanah yang nilainya meningkat berkali-kali lipat.

Warisan terbesarnya adalah kesempatan untuk mempertemukan kami kembali.

Aku duduk di antara Ibu dan Maya.

Raka menuangkan kopi ke cangkirku.

—Jangan khawatir, kali ini aku tidak mengambil apa pun dari rumah kalian.

Aku tertawa.

—Bagus. Karena kameranya sekarang ada delapan.

Semua orang tertawa.

Suara itu memenuhi halaman Rumah Nenek hingga larut malam.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua rahasia terbongkar, aku tidak lagi memikirkan apa yang pernah hampir dirampas dari kami.

Aku hanya memandang orang-orang di sekeliling meja dan menyadari sesuatu.

Hadi datang ke keluarga kami karena menginginkan sebuah warisan.

Ia gagal mendapatkannya.

Tetapi tanpa disengaja, perbuatannya justru membuat kami menemukan kembali warisan yang jauh lebih berharga daripada tanah mana pun.

Sebuah keluarga yang pernah tercerai-berai.

Sebuah rumah yang kembali dipenuhi kehidupan.

Dan sebuah masa depan yang akhirnya benar-benar menjadi milik kami sendiri.