Di Depan Ratusan Tamu, Calon Suamiku Mengejar Perempuan Bergaun Putih—Aku Malah Membuka Pesta, Lalu Satu Tagihan Membuat Keluarganya Kehilangan Senyum Malam Itu

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 1,248 tayangan
Di Depan Ratusan Tamu, Calon Suamiku Mengejar Perempuan Bergaun Putih—Aku Malah Membuka Pesta, Lalu Satu Tagihan Membuat Keluarganya Kehilangan Senyum Malam Itu
Indeks

Di Depan Ratusan Tamu, Calon Suamiku Mengejar Perempuan Bergaun Putih—Aku Malah Membuka Pesta, Lalu Satu Tagihan Membuat Keluarganya Kehilangan Senyum Malam Itu

Bagian 1 — Saat Dimas Meninggalkanku di Pelaminan demi Perempuan Masa Lalunya, Aku Memilih Menyelamatkan Harga Diriku dan Menghabiskan Pesta yang Sudah Dibayar

Pernikahanku seharusnya menjadi acara paling indah yang pernah diselenggarakan keluarga kami.

Gedung ballroom sebuah hotel di Bandung sudah dihias sejak dini hari.

Ratusan rangkaian melati dan mawar putih tergantung dari langit-langit. Lampu kristal menyala hangat. Musik gamelan modern mengalun pelan ketika aku berdiri di depan pelaminan bersama Dimas.

Aku memakai kebaya putih rancangan khusus yang dikerjakan hampir empat bulan.

Ibuku bahkan menangis ketika melihatku keluar dari ruang rias.

Katanya, “Nadira, akhirnya Ibu melihat kamu sampai di hari ini.”

Aku menggenggam tangannya sambil tersenyum.

Saat itu aku benar-benar percaya beberapa menit kemudian aku akan resmi menjadi istri laki-laki yang sudah menemaniku selama hampir lima tahun.

Ternyata aku salah.

Penghulu baru saja meminta kami bersiap memasuki bagian berikutnya ketika pintu ballroom mendadak terbuka.

Suara pintunya cukup keras hingga beberapa tamu menoleh.

Seorang perempuan berdiri di sana.

Namanya Selma.

Aku mengenalnya.

Semua orang dekat Dimas juga mengenalnya.

Perempuan yang selama bertahun-tahun disebut Dimas sebagai “teman lama yang sudah seperti adik sendiri”.

Selma memakai gaun panjang berwarna putih gading.

Bukan gaun pengantin.

Tetapi datang ke acara pernikahan mantan kekasihmu dengan gaun putih sambil berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh air mata?

Orang bodoh pun tahu maksudnya.

Bisik-bisik segera terdengar.

Aku belum sempat mengatakan apa pun ketika Selma menatap Dimas.

“Mas…”

Hanya satu kata.

Lalu ia berbalik dan berlari keluar.

Tanganku masih berada dalam genggaman Dimas.

Namun hanya selama dua detik.

Setelah itu telapak tanganku mendadak kosong.

Dimas menatap pintu.

Kemudian menatapku.

“Nadira, aku harus bicara dengannya sebentar.”

Aku bahkan belum sempat menjawab.

Dia sudah turun dari pelaminan.

“Dimas!”

Ibunya memanggil.

Ayahnya berdiri.

Aku tetap diam.

Dimas berjalan semakin cepat.

Lalu berlari.

Dalam hitungan detik, calon suamiku menghilang di balik pintu ballroom.

Mengejar perempuan lain.

Di hari pernikahannya sendiri.

Di depan lebih dari empat ratus tamu.

Tidak ada penjelasan.

Tidak ada permintaan maaf.

Tidak ada kalimat, “Tunggu aku.”

Pintu ballroom tertutup kembali.

Musik berhenti.

Ruangan yang sebelumnya penuh suara mendadak begitu sunyi hingga aku bisa mendengar dengungan pendingin udara.

MC berdiri beberapa meter dariku dengan wajah pucat.

Ayah Dimas terlihat seperti akan meledak.

Ibunya terus memanggil staf agar mencari anaknya.

Sementara aku?

Aku menatap tanganku.

Aneh.

Tidak terasa sakit.

Mungkin karena penghinaan yang terlalu besar terkadang membuat tubuhmu terlambat memahami apa yang baru saja terjadi.

Aku kemudian melihat sekeliling.

Rangkaian bunga.

Lampu.

Panggung.

Hidangan.

Dekorasi.

Layar LED.

Semua itu mendadak tidak lagi terlihat romantis.

Yang kulihat hanyalah angka.

Rp78 juta untuk gedung.

Rp42 juta dekorasi.

Rp36 juta dokumentasi.

Hampir Rp150 juta untuk katering.

Belum gaun, suvenir, makeup, undangan, kamar keluarga dan biaya lainnya.

Aku mengembuskan napas.

Saat itulah pikiranku menjadi sangat jernih.

Aku mungkin baru saja kehilangan calon suami.

Tetapi aku tidak akan kehilangan harga diri sekaligus membuang semua uang yang sudah dikeluarkan keluargaku.

Aku mengulurkan tangan kepada MC.

“Mic-nya boleh?”

Dia berkedip.

“Mbak?”

“Mic.”

Dengan ragu dia menyerahkannya.

Ketika mikrofon berada di tanganku, semua kepala menghadap kepadaku.

Aku tersenyum tipis.

“Bapak, Ibu, teman-teman semua…”

Suara bisik-bisik langsung berhenti.

“Sepertinya acara hari ini mengalami sedikit perubahan.”

Beberapa orang menunduk canggung.

Aku menunjuk pintu yang baru saja dilewati Dimas.

“Seperti yang kalian lihat, calon pengantin pria sedang ada urusan yang menurutnya lebih penting daripada pernikahannya sendiri.”

Wajah ibu Dimas langsung berubah.

“Nadira!”

Aku mengabaikannya.

“Karena saya tidak tahu apakah dia akan kembali lima menit lagi, satu jam lagi, atau besok pagi, maka proses pernikahan hari ini saya hentikan.”

Ruangan membeku.

Ayah Dimas berteriak dari meja keluarga.

“Jangan membuat keputusan sembarangan!”

Aku menatapnya.

“Yang meninggalkan acara bukan saya, Om.”

Lalu aku kembali menatap para tamu.

“Tapi pesta tetap jalan.”

Beberapa orang saling pandang.

Aku melanjutkan.

“Makanan sudah dimasak.”

“Meja sudah ditata.”

“Kalian sudah datang jauh-jauh.”

“Dan saya menolak membiarkan empat ratus orang pulang dalam keadaan lapar hanya karena satu laki-laki lupa di mana seharusnya dia berdiri hari ini.”

Seseorang di meja belakang tertawa kecil.

Beberapa tamu lainnya menutup mulut menahan senyum.

Aku menyerahkan mikrofon sebentar kepada MC.

Kemudian mataku jatuh pada meja keluarga Dimas.

Ada enam botol wine premium yang dibawa ayah Dimas dari koleksi pribadinya.

Katanya khusus dibuka setelah akad selesai.

Aku memanggil pelayan.

“Pak.”

“Iya, Mbak.”

“Minumannya boleh dibuka.”

Ayah Dimas langsung berdiri.

“Jangan!”

Semua orang menoleh.

Dia menunjuk botol-botol itu.

“Itu koleksi saya!”

Aku mengangguk.

“Saya tahu.”

“Jadi jangan disentuh.”

Aku tersenyum.

“Tapi tadi Om sendiri bilang minuman itu dibawa untuk pernikahan Dimas.”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan tenang.

“Kalau begitu sekarang waktu terbaik membukanya.”

“Pernikahan bahkan belum jadi!”

“Nah.”

Aku mengangguk.

“Itulah masalahnya.”

Beberapa tamu tidak mampu lagi menahan tawa.

Wajah ayah Dimas merah padam.

Aku memandang pelayan.

“Silakan dibuka. Sajikan ke meja tamu.”

Pelayan masih ragu.

Aku menambahkan, “Kalau nanti ada masalah soal pembayaran, masukkan ke daftar penyelesaian biaya keluarga.”

Kalimat itu membuat wajah beberapa anggota keluarga Dimas langsung berubah.

Mereka mungkin mengira aku sedang bercanda.

Aku tidak sedang bercanda.

Aku meminta MC mengganti musik yang muram dengan musik yang lebih hidup.

Kemudian aku turun dari pelaminan.

Gaunku berat.

Sepatu hak tinggiku mulai menyakitkan.

Tapi tidak masalah.

Semua sudah dibayar.

Aku akan memakainya sampai puas.

Aku duduk di meja utama di kursi yang seharusnya ditempati Dimas.

Ketika hidangan lobster saus mentega diletakkan di depanku, aku mengambil satu potong.

Ibu Dimas menatapku seperti aku sudah kehilangan akal.

“Kamu masih bisa makan?”

Aku mengunyah perlahan.

“Bisa.”

“Anak saya pergi begitu saja dan kamu masih memikirkan makanan?”

Aku meletakkan garpu.

“Tante salah.”

“Anak Tante pergi begitu saja, justru karena itu saya harus makan.”

Wajahnya menegang.

Aku berkata pelan tetapi cukup keras untuk didengar orang-orang di meja.

“Yang mempermalukan keluarga hari ini bukan saya.”

“Yang meninggalkan calon istri di depan ratusan orang bukan saya.”

“Jadi kenapa saya harus sembunyi di kamar dan menangis seolah-olah saya yang melakukan kesalahan?”

Ayah Dimas memukul meja.

“Kamu tidak punya malu?”

Aku menatapnya lurus.

“Justru karena saya masih punya malu, saya tidak akan mengejar laki-laki yang meninggalkan saya demi perempuan lain.”

Meja mendadak sunyi.

“Kalau saya berlari keluar, memohon Dimas kembali, lalu menyeretnya ke sini agar pura-pura menikahi saya… apakah itu baru dianggap menjaga nama baik keluarga?”

Tidak ada jawaban.

Aku menyeka ujung jariku dengan serbet.

“Orang yang harus malu adalah orang yang pergi.”

“Bukan orang yang ditinggalkan.”

Untuk pertama kalinya malam itu, ayah Dimas tidak punya kalimat balasan.

Aku kembali makan.

Lobster.

Sapi panggang.

Sup asparagus.

Dessert cokelat.

Apa pun yang mahal, kucoba.

Karena mulai detik itu, pernikahan ini berhenti menjadi persoalan cinta.

Ini sudah menjadi persoalan pertanggungjawaban.

Sambil makan, aku membuka aplikasi catatan di ponsel.

Gedung.

Dekorasi.

Katering.

Fotografer.

Undangan.

Souvenir.

Gaun.

Penginapan keluarga.

Satu per satu kutulis jumlahnya.

Lalu ponselku bergetar.

Pesan masuk dari manajer wedding organizer.

“Mbak Nadira, maaf mengganggu. Ada hal penting. Tadi siang Mas Dimas meminta kami memindahkan invoice beberapa vendor ke nama Mbak karena katanya semua biaya akhirnya akan ditanggung pihak perempuan.”

Tanganku berhenti.

Aku membaca pesan itu dua kali.

Kemudian sekali lagi.

Belum selesai.

Pesan kedua masuk.

“Dan ada satu perubahan rekening pembayaran yang diminta Mas Dimas tiga hari lalu. Kami belum proses karena tanda tangan Mbak belum ada.”

Aku menegakkan tubuh.

“Rekening apa?”

Balasan muncul beberapa detik kemudian.

Sebuah foto dokumen dikirim.

Aku memperbesar layar.

Nama rekening penerima membuat darahku terasa dingin.

SELMA PUTRI ANGGRAENI.

Perempuan yang baru saja dikejar calon suamiku keluar dari ballroom.

Dan nominal yang hendak dipindahkan Dimas ke rekeningnya adalah Rp275.000.000.

Aku menatap pintu ballroom.

Untuk pertama kalinya sejak Dimas pergi, aku benar-benar tersenyum.

Bukan karena senang.

Melainkan karena akhirnya aku mengerti sesuatu.

Dimas mungkin mengira malam ini dia hanya meninggalkan seorang pengantin perempuan di pelaminan.

Dia belum tahu, beberapa menit lagi aku akan membuka seluruh transaksi yang selama ini dia sembunyikan.

#DramaKeluarga #KisahPernikahan #HargaDiriPerempuan #CeritaViralIndonesia #PengkhianatanCinta

Bagian 2 — Ketika Bukti Transfer Rp275 Juta Mengarah kepada Selma, Keluarga Dimas Masih Membelanya sampai Satu Rekening Perusahaan Akhirnya Terbuka

Aku tidak langsung menunjukkan dokumen itu kepada siapa pun.

Marah ketika belum memegang semua bukti hanyalah memberi lawan kesempatan menyiapkan alasan.

Aku memanggil Diah, sepupuku yang bekerja sebagai staf keuangan di perusahaan ayah.

“Temani aku ke ruang pengantin.”

Begitu pintu tertutup, aku menyerahkan ponsel kepadanya.

Diah membaca pesan wedding organizer.

Wajahnya langsung berubah.

“Dua ratus tujuh puluh lima juta?”

Aku mengangguk.

“Cari tahu sumber uangnya.”

Diah memperbesar dokumen.

“Nadira…”

“Apa?”

“Kode rekening asalnya mirip rekening operasional PT Arunika.”

Aku membeku.

PT Arunika adalah perusahaan distribusi bahan bangunan milik ayahku.

Enam bulan sebelumnya, Dimas baru saja diangkat menjadi kepala pengembangan bisnis karena ayah percaya calon menantunya kelak akan ikut membantu perusahaan keluarga.

Aku segera menelepon kepala keuangan.

Aku tidak menjelaskan drama di ballroom.

Aku hanya meminta satu hal.

“Pak Surya, tolong cek semua permintaan transfer yang dibuat Dimas dalam tiga bulan terakhir.”

Lima belas menit kemudian jawabannya datang.

Ada tiga transaksi mencurigakan.

Rp90 juta.

Rp65 juta.

Rp120 juta.

Total Rp275 juta.

Semua menggunakan alasan “uang muka vendor ekspansi”.

Vendor yang tercantum memang berbeda-beda.

Tetapi rekening penerimanya terhubung ke satu orang.

Selma.

Tanganku dingin.

Jadi perempuan itu bukan hanya masalah cinta.

Dimas sudah menyeret perusahaan keluargaku ke dalamnya.

Aku kembali ke ballroom.

Pesta sekarang jauh lebih hidup.

Sebagian tamu sudah makan.

Beberapa mungkin berpura-pura tidak membicarakan skandal.

Sebagian jelas-jelas membicarakannya.

Ayah Dimas langsung mendatangiku.

“Kamu ke mana?”

“Mengecek sesuatu.”

“Dimas sebentar lagi kembali.”

Aku hampir tertawa.

“Dengan Selma?”

Dia terdiam.

Tepat ketika itu pintu ballroom terbuka.

Dimas masuk.

Sendirian.

Wajahnya kusut.

Ia berjalan cepat ke arahku.

“Nadira, kita bicara.”

“Bicaralah.”

“Bukan di sini.”

“Kenapa?”

Aku melihat sekeliling.

“Tadi kamu pergi di depan semua orang. Kenapa sekarang penjelasannya harus sembunyi-sembunyi?”

Rahangnya mengeras.

“Selma sedang tidak stabil. Aku hanya memastikan dia aman.”

Aku mengangguk.

“Baik sekali.”

“Nadira…”

“Sekarang giliranku bertanya.”

Aku menunjukkan layar ponsel.

“Apa hubungan kondisi emosional Selma dengan Rp275 juta dari perusahaan ayahku?”

Wajah Dimas langsung kehilangan warna.

Itulah jawaban pertama yang kubutuhkan.

Ibunya mendekat.

“Uang apa?”

Dimas merebut ponselku.

Aku sudah memperkirakannya.

Karena itu Diah sudah mengirim semua file ke emailku.

“Ini salah paham.”

Aku tertawa pendek.

“Tiga transfer.”

“Rekening perusahaan.”

“Tiga vendor palsu.”

“Satu rekening penerima.”

“Dan semuanya salah paham?”

Ayah Dimas segera berkata, “Jangan membahas urusan bisnis di depan orang banyak.”

Aku memandangnya.

“Kenapa?”

“Ini bisa merusak nama baik Dimas!”

Akhirnya aku benar-benar tertawa.

“Om masih memikirkan nama baik?”

Dimas menurunkan suara.

“Aku akan mengembalikan semuanya.”

“Dengan uang siapa?”

Dia tidak menjawab.

Aku melanjutkan.

“Uang Rp275 juta itu kamu berikan kepada Selma untuk apa?”

Ibunya menyela.

“Kalau memang dipinjamkan kepada teman, bisa dibicarakan baik-baik.”

Aku menatapnya.

“Meminjamkan uang milik orang lain sekarang disebut baik hati?”

Wajahnya berubah.

Dimas mendekatiku.

“Nadira, cukup.”

“Belum.”

Aku menggeleng.

“Kamu ingin pergi dari pernikahan kita? Silakan.”

“Kamu masih mencintai Selma? Itu juga urusanmu.”

“Tapi saat kamu menggunakan perusahaan ayahku sebagai ATM untuk membiayai hidup perempuan lain, itu menjadi urusanku.”

Beberapa tamu terdekat mulai mendengar.

Dimas melihat sekeliling dengan panik.

“Aku bisa menjelaskan.”

“Bagus.”

Aku tersenyum.

“Jelaskan.”

Akhirnya dia mengaku.

Selma memiliki usaha skincare yang hampir bangkrut.

Dimas membantu modal.

Katanya hanya sementara.

Katanya Selma akan mengembalikan semuanya setelah investor masuk.

Aku mendengarkan tanpa menyela.

Setelah selesai, aku hanya bertanya satu hal.

“Kenapa pakai invoice palsu?”

Dia diam.

“Kalau niatmu memang membantu teman secara baik-baik, kenapa menyamarkannya sebagai pembayaran vendor?”

Tidak ada jawaban.

Aku mengerti.

Karena jawabannya sederhana.

Dia tahu itu salah.

Dimas kemudian mencoba strategi yang paling kukenal.

“Nadira, kita sudah bersama hampir lima tahun. Masa kamu mau menghancurkan semuanya karena uang?”

Aku menatap laki-laki yang beberapa jam sebelumnya seharusnya menjadi suamiku.

Lalu aku berkata pelan.

“Bukan aku yang menghancurkan semuanya.”

“Kamu melakukannya ketika mengambil uang yang bukan milikmu.”

Ayahku yang sejak tadi diam akhirnya berdiri.

“Pak Surya sudah mengirim laporan.”

Dimas langsung menoleh.

Ayah meletakkan beberapa lembar dokumen di meja.

“Ternyata bukan hanya Rp275 juta.”

Suasana mendadak berubah.

Aku menatap Ayah.

“Apa maksud Ayah?”

Ayah membuka halaman terakhir.

“Selama delapan bulan, Dimas mengajukan reimburse, perjalanan dinas dan pembayaran konsultan yang tidak pernah ada.”

Tanganku mengepal.

“Totalnya?”

Ayah menatap Dimas.

“Rp683 juta.”

Ibunya menutup mulut.

Ayah Dimas membeku.

Tetapi sebelum siapa pun sempat berbicara, ayahku mengeluarkan satu dokumen lagi.

“Dan yang lebih menarik…”

“Dua minggu lalu, ada permintaan pencairan tambahan Rp400 juta.”

Dimas pucat.

“Untung bagian keuangan belum memprosesnya.”

Ayah menatapnya lama.

“Karena uang itu rencananya baru dicairkan Senin pagi.”

Aku melihat kalender di ponsel.

Hari itu Sabtu.

Dua hari lagi.

Artinya jika Selma tidak datang ke pernikahan hari ini…

Jika Dimas tidak meninggalkanku…

Jika aku tetap menikah dengannya…

Mungkin Senin pagi hampir setengah miliar rupiah lagi akan menghilang.

Aku memandang Dimas.

Dia baru membuka mulut ketika pintu ballroom kembali terbuka.

Kali ini dua orang masuk bersama seorang perempuan.

Selma.

Dan di tangannya terdapat sebuah map cokelat tebal.

Begitu melihatku, dia berkata,

“Nadira, ada sesuatu yang selama ini Dimas sembunyikan darimu.”

Bagian 3 — Selma Datang Membawa Bukti yang Tak Diduga, tetapi Pengakuannya Justru Menjatuhkan Dimas dan Membuat Pernikahan Gagal Menjadi Keselamatanku

Aku tidak pernah menyangka orang yang datang mengacaukan pernikahanku justru menjadi orang yang membawa potongan terakhir dari kebenaran.

Selma berdiri beberapa meter dariku.

Matanya merah.

Gaun putihnya masih sama.

Tetapi kali ini aku tidak melihat seorang rival.

Aku melihat seseorang yang juga baru menyadari bahwa dirinya dipakai.

Dimas berteriak.

“Selma, pulang!”

Selma tidak bergerak.

Ia menyerahkan map itu kepadaku.

“Aku baru tahu uang ini berasal dari perusahaan keluargamu.”

Aku membukanya.

Di dalamnya ada salinan percakapan.

Bukti transfer.

Proposal usaha.

Dan beberapa pesan suara yang sudah ditranskrip.

Dimas selama ini mengatakan kepada Selma bahwa uang Rp275 juta berasal dari tabungan pribadinya.

Bahkan lebih buruk.

Dimas menjanjikan akan menambah modal setelah menikah.

Dari mana?

Dari “akses ke perusahaan keluarga Nadira”.

Aku membaca satu pesan.

Setelah menikah, aku punya posisi lebih kuat. Tunggu saja beberapa bulan. Nanti modal usahamu aman.

Aku menatap Dimas.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku benar-benar merasa mual.

Ternyata selama ini dia tidak hanya melihatku sebagai pasangan.

Dia melihat keluargaku sebagai pintu masuk menuju uang.

Selma mulai menangis.

“Aku datang tadi bukan mau merebut dia.”

Dimas memotong.

“Jangan bohong!”

Selma berbalik.

“Kamu yang meneleponku pagi tadi!”

Semua orang diam.

Selma mengeluarkan ponselnya.

“Kamu bilang setelah menikah kamu akan sulit menemuiku lagi. Kamu bilang aku harus datang kalau masih ingin bicara terakhir kali.”

Dimas melangkah maju.

Selma mundur.

“Jadi kamu datang memakai gaun putih?” tanyaku.

Dia menunduk.

“Itu salahku.”

“Aku marah. Aku ingin mempermalukan dia.”

Aku mengangguk.

Setidaknya dia tidak berpura-pura suci.

“Tapi waktu dia mengejarku keluar, dia bilang jangan membuat keributan karena setelah menikah dia tetap akan mengurus usahaku.”

Selma menelan ludah.

“Lalu dia mengatakan satu kalimat yang membuatku sadar ada yang tidak beres.”

“Apa?”

“Dia bilang uang Nadira nanti juga uangku.”

Dadaku terasa dingin.

Ayah Dimas langsung duduk.

Ibunya menangis.

Tetapi kali ini aku tidak merasa kasihan.

Aku memandang Dimas.

“Kamu tahu hal paling lucu malam ini?”

Dia diam.

“Kalau kamu tidak mengejar Selma keluar tadi, mungkin aku sudah menjadi istrimu.”

Aku tersenyum tipis.

“Jadi terima kasih.”

Wajahnya menegang.

“Terima kasih karena mempermalukanku di depan empat ratus orang.”

“Karena rupanya itu jauh lebih murah daripada menikah denganmu.”

Beberapa tamu bertepuk tangan kecil.

Lalu semakin banyak.

Dimas memandang sekeliling dengan wajah marah.

Ayahku meminta bagian keamanan hotel mendekat.

Semua dokumen diserahkan kepada pengacara keluarga.

Senin paginya, akses Dimas ke sistem perusahaan resmi diblokir.

Audit internal dimulai.

Keluargaku kemudian melaporkan dugaan penyalahgunaan dana berdasarkan dokumen yang ditemukan.

Aku tidak perlu meneriakinya.

Tidak perlu menamparnya.

Tidak perlu membuat drama tambahan.

Angka-angka dalam rekening sudah berbicara lebih keras daripada apa pun.

Selma mengembalikan sebagian uang yang masih tersisa dari usahanya.

Sisanya diselesaikan melalui proses hukum dan perjanjian tertulis.

Hubunganku dengannya?

Kami tidak menjadi sahabat.

Hidup bukan sinetron.

Aku juga tidak mendadak memeluk perempuan yang datang ke pernikahanku memakai gaun putih.

Tetapi aku berhenti membencinya.

Karena akhirnya aku tahu orang yang paling banyak berbohong kepada kami berdua adalah laki-laki yang sama.

Sementara pesta pernikahanku?

Tetap berlangsung sampai malam.

Tanpa pengantin pria.

Teman-temanku naik ke panggung.

Sepupu-sepupuku menari.

Ayah akhirnya membuka dua botol minuman mahal yang sejak awal disimpan khusus untuk keluarga.

Ibuku sempat bertanya,

“Kamu benar-benar mau tetap di sini?”

Aku menatap ballroom.

“Kenapa tidak?”

“Dekornya cantik.”

“Makanannya enak.”

“Dan semua sudah dibayar.”

Ibu tertawa sambil menangis.

Menjelang malam aku mengganti kebaya putih dengan gaun sederhana yang sudah disiapkan untuk resepsi.

Lalu fotografer bertanya apakah sesi foto tetap dilakukan.

Aku menjawab,

“Tentu.”

“Pengantinnya cuma satu.”

Foto favoritku dari hari itu bukan foto bersama Dimas.

Foto favoritku adalah foto ketika aku berdiri di tengah ballroom bersama Ayah dan Ibu.

Kami tertawa.

Benar-benar tertawa.

Enam bulan kemudian, sebagian besar dana perusahaan berhasil dikembalikan melalui penyelesaian aset dan proses hukum.

Dimas kehilangan pekerjaannya.

Beberapa rekan bisnis yang mengetahui hasil audit juga memilih memutus kerja sama dengannya.

Aku mendengar Selma menutup bisnis skincare lamanya dan memulai kembali dengan skala jauh lebih kecil menggunakan uangnya sendiri.

Sedangkan aku?

Aku kembali bekerja.

Aku mengambil alih satu divisi yang sebelumnya banyak ditangani Dimas.

Awalnya aku takut setiap orang akan mengenalku sebagai “pengantin yang ditinggal di pelaminan”.

Ternyata hanya beberapa minggu.

Setelah itu orang-orang mulai mengenalku karena sesuatu yang lain.

Karena pekerjaanku.

Keputusanku.

Dan karena aku tidak membiarkan satu laki-laki menentukan bagaimana hidupku harus berakhir.

Hampir setahun setelah hari itu, wedding organizer mengirimkan folder foto lama kepadaku.

Aku membukanya malam-malam.

Ada foto saat Dimas berlari meninggalkan pelaminan.

Ada foto keluarga Dimas yang panik.

Ada foto diriku memegang mikrofon.

Lalu ada foto ketika aku duduk di meja utama sambil makan lobster sendirian.

Aku tertawa melihatnya.

Ternyata ekspresiku benar-benar tenang.

Aku kemudian menemukan satu foto terakhir.

Foto setelah sebagian besar tamu mulai santai.

Aku berdiri memegang gelas, dikelilingi keluarga dan sahabat.

Tidak ada Dimas.

Tidak ada Selma.

Hanya aku.

Aku menatap foto itu cukup lama sebelum akhirnya menyimpannya sebagai favorit.

Dulu aku mengira hari itu adalah hari paling memalukan dalam hidupku.

Sekarang aku justru menganggapnya sebagai keberuntungan terbesar yang pernah datang dengan cara paling kejam.

Karena terkadang hidup tidak menyelamatkan kita dengan memberikan apa yang kita inginkan.

Kadang hidup menyelamatkan kita dengan mempermalukan orang yang salah tepat di depan mata kita, sebelum kita sempat mengikat diri dengannya seumur hidup.

Dan jika aku harus memilih lagi?

Aku tetap akan membiarkan Dimas berlari keluar dari ballroom hari itu.

Aku bahkan mungkin akan membukakan pintunya lebih lebar.

Karena kehilangan calon suami sebelum akad memang menyakitkan.

Tetapi kehilangan harga diri, keluarga, dan masa depan setelah menikah dengannya akan jauh lebih mahal.