Saat Aku Sengaja Pulang Lebih Cepat Saat Lebaran, Seorang Bocah Memanggil Suamiku “Papa”—Lalu Ibu Mertuaku Menyuruhku Keluar dari Rumah yang Kubeli Sendiri dan Sebuah Map Merah Menungguku di Meja
Bagian 1 — Aku Pulang Tanpa Memberi Kabar, dan Satu Panggilan “Papa” Membongkar Keluarga yang Selama Delapan Tahun Disembunyikan dariku di Balik Perjalanan Dinas
Tiga hari sebelum Lebaran, aku sengaja berbohong kepada ibu mertuaku.
“Bu, kantor minta aku mendampingi audit sampai malam takbiran. Sepertinya aku tidak bisa pulang.”
Bu Ratih langsung menjawab dengan suara terlalu ringan.
“Tidak apa-apa, Nadira. Kamu kerja saja. Jangan dipaksakan pulang.”
Aku hampir merasa bersalah karena sudah berbohong.
Sampai tujuh menit kemudian suamiku, Arman, menelepon.
Begitu kuangkat, bukan ucapan salam yang kudengar.
“Bukankah sudah kubilang tahun ini kamu tidak usah pulang?”
Aku terdiam.
Nada suaranya bukan kecewa.
Bukan juga khawatir.
Dia terdengar… panik.
“Aku memang tidak pulang,” jawabku.
“Bagus. Jangan tiba-tiba berubah pikiran. Di rumah banyak saudara. Merepotkan kalau kamu datang tanpa kabar.”
Telepon ditutup.
Aku menatap layar beberapa detik.
Delapan tahun menikah, baru kali itu seorang suami terdengar begitu takut istrinya pulang ke rumah sendiri.
Jadi malam itu, alih-alih menuju apartemen sewaan dekat kantor seperti yang kukatakan kepada mereka, aku naik kereta terakhir menuju Bekasi.
Aku tiba keesokan paginya.
Rumah dua lantai itu adalah rumah peninggalan ayahku.
Sebelum menikah dengan Arman, sertifikatnya sudah atas namaku.
Setelah Ayah meninggal, aku merenovasinya dari tabungan sendiri.
Arman pindah ke sana setelah kami menikah.
Bu Ratih menyusul dua tahun kemudian.
Selama ini aku tak pernah menghitung siapa membayar listrik, siapa membeli makanan, atau siapa mengganti genteng bocor.
Kupikir kami keluarga.
Ternyata aku hanya orang terakhir yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumahku.
Saat membuka pagar, aku melihat enam pasang sandal asing berjajar di teras.
Dari dalam terdengar tawa.
Ada suara anak kecil.
Aku memasukkan kunci perlahan.
Belum sempat pintu terbuka penuh, seorang bocah lelaki berumur sekitar sembilan tahun berlari sambil membawa pesawat mainan.
Dia hampir menabrakku.
Kami saling menatap.
“Cari siapa, Tante?”
Aku belum menjawab ketika seorang perempuan keluar dari dapur membawa semangkuk opor.
Umurnya sekitar pertengahan tiga puluhan.
Rambutnya diikat rapi.
Dia memakai daster bermotif bunga.
Dan di pergelangan tangannya ada gelang emas bermotif daun yang kukenal luar kepala.
Gelang milik almarhumah ibuku.
Enam bulan lalu aku mencarinya sampai membongkar seluruh kamar.
Arman mengatakan mungkin aku menyimpannya sembarangan.
Perempuan itu menatapku dari ujung kepala sampai kaki.
“Mbak katering?”
Aku tidak bergerak.
“Hari ini makanan sudah cukup. Mungkin salah alamat.”
Aku mengangkat tangan yang masih memegang kunci.
“Ini rumah saya.”
Wajahnya berubah.
Dari ruang makan terdengar sendok jatuh.
Bu Ratih muncul.
Tangannya masih memegang piring ketupat.
“Nadira?”
Bibirnya memucat.
“Kamu bilang tidak pulang.”
Aku tersenyum.
“Pekerjaan selesai lebih cepat.”
Dia berjalan cepat menghampiriku.
Bukannya memelukku, tangannya justru mendorong lenganku ke arah pintu.
“Rumah sedang ramai. Kalau kamu capek, menginap saja dulu di hotel dekat sini. Nanti Ibu jelaskan.”
Aku menatap tangannya.
“Kenapa pemilik rumah harus menginap di hotel?”
“Nadira, jangan mulai.”
“Mulai apa?”
Suara langkah terdengar dari lantai atas.
Arman turun.
Dia mengenakan baju koko putih yang kubelikan dua minggu lalu.
Aku bahkan masih ingat memilih ukurannya.
Saat melihatku, langkahnya berhenti.
Wajahnya berubah begitu cepat sampai semua orang di ruangan ikut diam.
“Kamu ngapain di sini?”
Pertanyaan itu membuatku tertawa kecil.
“Pulang.”
“Aku sudah bilang jangan pulang.”
“Sejak kapan aku perlu izin untuk masuk ke rumah atas namaku sendiri?”
Bocah tadi berlari melewatiku.
Dia memeluk pinggang Arman.
“Papa, Tante ini siapa?”
Dunia terasa hening.
Aku menatap tangan kecil yang melingkar di tubuh suamiku.
Papa.
Delapan tahun menikah, Arman selalu mengatakan dia belum siap punya anak.
Tiga tahun lalu aku pernah hamil.
Ketika kandunganku memasuki minggu kesepuluh, aku mengalami keguguran.
Arman memelukku semalaman di rumah sakit.
Dia berkata mungkin memang lebih baik kami hidup berdua.
Setelah itu, setiap kali aku membicarakan program kehamilan, dia selalu mencari alasan.
Biaya.
Pekerjaan.
Usia.
Stres.
Sekarang seorang anak berumur sembilan tahun berdiri di hadapanku dan memanggilnya Papa.
Aku memandang perempuan bergelang milik ibuku.
“Siapa kamu?”
Dia meletakkan mangkuk perlahan.
“Namaku Salsa.”
Dia mendekati Arman tanpa ragu.
Lalu berdiri di sampingnya.
“Aku ibu Bima.”
Aku masih menunggu kalimat berikutnya.
Dia memberikannya tanpa berkedip.
“Dan Arman ayahnya.”
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
Aku menatap suamiku.
“Umurnya?”
Arman membuang wajah.
Salsa menjawab.
“Sembilan tahun.”
Kami menikah delapan tahun lalu.
Aku tertawa.
Entah mengapa aku justru tertawa.
“Jadi sebelum menikah denganku, kamu sudah punya anak?”
Bu Ratih buru-buru menyela.
“Jangan bicara seperti ada kejahatan besar. Semua orang punya masa lalu.”
“Kenapa saya tidak pernah diberi tahu?”
“Karena Salsa dulu tinggal di Makassar.”
Salsa mendengus.
“Aku bukan tinggal di Makassar selama delapan tahun.”
Dia mengambil ponsel.
Sebelum Arman sempat menghentikannya, layar itu sudah diarahkan kepadaku.
Foto pertama diambil lima tahun lalu.
Arman berdiri di pantai bersama Salsa dan Bima.
Foto berikutnya: ulang tahun Bima.
Foto berikutnya: acara sekolah.
Foto berikutnya: Lebaran.
Foto berikutnya: kamar hotel.
Tanggalnya cocok dengan perjalanan-perjalanan dinas Arman.
Yogyakarta.
Surabaya.
Semarang.
Balikpapan.
Ternyata sebagian besar perjalanannya bukan perjalanan dinas.
Aku menggenggam tas lebih erat.
“Sudah berapa lama semua orang di rumah ini tahu?”
Tak ada yang menjawab.
Seorang perempuan tua yang duduk di sofa akhirnya angkat bicara.
“Sudahlah. Toh sekarang semuanya sudah terbuka.”
“Siapa Ibu?”
“Ibu saya,” jawab Salsa.
Perempuan itu bahkan sedang memakan nastar yang kubeli minggu lalu.
“Arman itu laki-laki,” katanya santai. “Dia bertanggung jawab pada anak kandungnya. Seharusnya kamu bersyukur dia selama ini tetap tinggal bersamamu.”
Aku hampir tidak percaya.
“Bersyukur?”
Bu Ratih menarik napas.
“Bima satu-satunya cucu laki-laki Ibu.”
Lalu dia mengucapkan kalimat yang membuat seluruh tubuhku dingin.
“Cepat atau lambat dia memang harus tinggal di sini.”
Aku menatapnya.
“Di sini?”
“Ini rumah besar. Kamar banyak.”
Salsa menyambung dengan suara tenang.
“Aku juga akan pindah.”
Aku menatap Arman.
Dia tidak membantah.
“Jadi rencananya apa?” tanyaku. “Kita tinggal bertiga? Kamu pikir aku akan menerima perempuan lain membawa anaknya masuk ke rumahku?”
Rahang Arman mengeras.
“Kamu jangan membuat masalah lebih rumit.”
“Aku?”
“Iya. Salsa tidak akan mengambil posisimu.”
Salsa tersenyum tipis.
“Posisi?”
Aku melihat gelang ibuku di tangannya.
“Gelang itu dari mana?”
Senyumnya hilang.
Arman langsung menjawab.
“Aku yang kasih.”
“Itu gelang ibuku.”
“Cuma gelang.”
Untuk pertama kali pagi itu aku ingin menampar seseorang.
Tapi aku tidak melakukannya.
Aku justru membuka ponsel dan menyalakan perekam suara di dalam tas.
“Kalau semuanya sudah direncanakan, lanjutkan.”
Bu Ratih menatap Arman.
Mereka seperti saling memberi kode.
Kemudian Arman mengambil sebuah map merah dari laci meja televisi.
Dia meletakkannya di meja.
“Bagus kamu pulang.”
Aku menatap map itu.
“Kenapa?”
“Ada beberapa dokumen yang perlu kamu tanda tangani.”
Aku membukanya.
Halaman pertama berisi surat persetujuan pengalihan hak atas rumah.
Nama calon penerima manfaat membuatku berhenti bernapas.
Bima Pratama.
Anak yang baru kukenal sepuluh menit lalu.
“Ini apa?”
Arman duduk seolah kami sedang membahas tagihan listrik.
“Aku ingin masa depan Bima jelas.”
“Dengan rumahku?”
“Rumah ini sudah delapan tahun kita tempati bersama.”
“Dan sertifikatnya tetap atas namaku.”
Bu Ratih mulai meninggikan suara.
“Kamu ini istri macam apa? Arman sudah memberi delapan tahun hidupnya untukmu.”
Aku menatapnya.
“Delapan tahun hidupnya?”
Aku menunjuk Salsa.
“Separuh waktunya ternyata diberikan ke keluarga yang lain.”
Salsa tiba-tiba tertawa kecil.
“Keluarga yang lain?”
Dia mengambil sebuah amplop cokelat dari tasnya.
Kemudian mengeluarkan buku nikah.
Diletakkannya di meja tepat di depanku.
Aku melihat nama laki-laki di sana.
Arman Prasetyo.
Nama perempuan:
Salsa Maharani.
Tanggal pernikahan:
Sebelas tahun lalu.
Tiga tahun sebelum Arman menikah denganku.
Jantungku berdebar keras.
“Ini asli?”
Salsa menatapku lama.
“Menurutmu?”
Aku memandang Arman.
Dia menunduk.
Salsa lalu mengucapkan kalimat berikutnya dengan suara begitu pelan sampai terdengar jauh lebih kejam.
“Selama ini aku bukan perempuan simpanannya, Nadira.”
Dia mengetuk buku nikah itu dengan telunjuk.
“Kamu yang menikahi laki-laki yang status pernikahannya belum selesai.”
Aku belum sempat menjawab ketika Bima menunjuk map merah di meja.
“Papa, itu surat rumah yang Nenek bilang nanti jadi rumahku, kan?”
Semua kepala menoleh kepadanya.
Bu Ratih berdiri cepat.
“Bima, diam.”
Tapi anak itu sudah melanjutkan.
“Nenek bilang Tante Nadira sebentar lagi tidak punya hak apa-apa.”
Ruangan mendadak senyap.
Aku menoleh pelan kepada ibu mertuaku.
“Apa maksudnya… aku tidak punya hak apa-apa?”
Dan untuk pertama kalinya pagi itu, Bu Ratih tidak sanggup menatap mataku.
#DramaKeluarga #CeritaRumahTangga #KisahPengkhianatan #CeritaIndonesia #KisahPenuhPlotTwist
Bagian 2 — Dokumen yang Kukira Klaim Asuransi Ternyata Kuasa Menjual Rumah, dan Rekaman Lama Menunjukkan Mereka Sudah Merencanakan Semuanya Saat Aku Masih Dirawat di Rumah Sakit
Aku menutup pintu depan.
Klik.
Suara kecil itu membuat semua orang menoleh.
“Aku belum selesai.”
Arman berdiri.
“Kamu mau apa?”
“Mengetahui seberapa jauh kalian merencanakan ini.”
Aku membuka map merah lagi.
Di antara dokumen pengalihan rumah, ada fotokopi KTP-ku, NPWP, sertifikat rumah, bahkan salinan kartu keluarga.
Semua dokumen yang kusimpan di lemari kamar.
Lalu aku menemukan selembar surat kuasa.
Namaku tercetak sebagai pemberi kuasa.
Arman sebagai penerima kuasa.
Isinya memberinya wewenang mengurus penjualan rumah.
Di bagian bawah terdapat tanda tanganku.
Aku mengenal bentuknya.
Karena memang aku yang menandatangani.
Tapi aku tidak pernah membaca surat itu.
Ingatan tiga bulan lalu langsung muncul.
Aku dirawat empat hari karena demam berdarah.
Saat trombositku turun, Arman datang membawa setumpuk dokumen.
“Berkas asuransi kantor,” katanya saat itu.
Aku sedang lemas, tangan kanan terpasang infus.
Dia membalik halaman satu per satu.
“Tanda tangan di sini.”
Lalu di sini.
Dan di sini.
Aku menurut.
Aku percaya kepada suamiku.
Kesalahan terbesar dalam hidupku ternyata bukan mencintainya.
Kesalahanku adalah percaya bahwa orang yang tidur di sampingku tidak sedang menunggu saat paling lemah untuk mengambil milikku.
Aku mengangkat surat itu.
“Kamu menyelipkan surat kuasa ini saat aku dirawat?”
Arman menjawab tanpa rasa bersalah.
“Aku cuma mempersiapkan semuanya.”
“Tanpa menjelaskan isi dokumen?”
“Kamu tetap menandatanganinya.”
“Karena kamu bilang itu klaim asuransi.”
Bu Ratih berdiri.
“Tidak usah dibesar-besarkan. Belum ada rumah yang dijual.”
Kalimatnya justru membuatku sadar sesuatu.
“Belum?”
Aku menatap mereka.
“Artinya memang akan dijual.”
Salsa menyilangkan tangan.
“Rumah sebesar ini terlalu berlebihan untuk satu orang.”
Aku tertawa pendek.
“Dan lebih cocok untuk kamu?”
Dia tidak menjawab.
Aku langsung menuju lemari televisi.
Enam bulan lalu aku memasang kamera kecil di ruang keluarga setelah beberapa paket belanja hilang.
Arman membencinya.
Katanya dia tidak nyaman diawasi di rumah sendiri.
Tak lama kemudian kamera itu sering offline.
Aku selalu mengira jaringan Wi-Fi bermasalah.
Aku melepas kartu memorinya.
Arman berubah tegang.
“Nadira.”
Aku mengambil laptop.
“Nadira, jangan macam-macam.”
Aku menancapkan kartu itu.
Sebagian besar rekaman memang kosong.
Tapi ada beberapa file lama yang tersimpan sebelum kamera dinonaktifkan.
Salah satunya bertanggal tiga bulan lalu.
Tanggal ketika aku masih berada di rumah sakit.
Dalam rekaman, Arman duduk di ruang keluarga bersama Bu Ratih.
Ada seorang laki-laki berkemeja batik yang tidak kukenal.
Map merah yang sekarang ada di depanku terletak di meja.
Aku memperbesar suara.
Laki-laki itu berkata,
“Kalau tanda tangan surat kuasanya sudah ada, proses berikutnya tinggal kita atur. Tapi jangan sampai pemilik sertifikat datang dan bertanya langsung.”
Arman bertanya,
“Kalau nanti dia sadar?”
Laki-laki itu tertawa.
“Makanya jangan buru-buru. Cari pembeli yang masih orang sendiri dulu.”
Bu Ratih menyela.
“Yang penting rumahnya jangan sampai jatuh ke keluarga Nadira lagi.”
Aku menghentikan video.
Tak seorang pun bicara.
Aku menatap Arman.
“Siapa laki-laki itu?”
“Teman.”
“Namanya?”
“Tidak penting.”
Aku melanjutkan video.
Beberapa menit kemudian Arman mengeluarkan fotokopi sertifikat rumah.
Nama seorang calon pembeli disebut.
Dimas Prasetyo.
Aku mengenalnya.
Sepupu Arman.
Mereka tidak berniat memberikan rumah langsung kepada Bima.
Rencananya lebih rapi.
Rumah akan dibuat seolah-olah dijual kepada Dimas.
Setelah berpindah, barulah mereka mengaturnya kembali untuk Bima.
Aku mengambil ponsel.
Arman bergerak cepat.
“Mau telepon siapa?”
“Pengacara.”
Dia mencoba meraih ponselku.
Aku mundur.
“Dan polisi kalau perlu.”
Bu Ratih langsung berteriak.
“Kamu mau memenjarakan suamimu sendiri?”
“Saya sedang melindungi rumah saya sendiri.”
Salsa tiba-tiba berdiri di depan pintu.
“Hari ini Lebaran. Jangan membuat keributan di depan anak.”
Aku menatap Bima.
Dia tidak bersalah karena lahir dari siapa pun.
Tapi orang-orang dewasa di sekelilingnya sedang mengajarinya bahwa mengambil milik orang lain adalah hak keluarga.
“Aku tidak akan melibatkan anakmu.”
Aku menatap Salsa.
“Tapi jangan pakai dia untuk melindungi orang dewasa yang tahu persis apa yang mereka lakukan.”
Wajah Salsa menegang.
Lalu dia membuat kesalahan.
“Kalau dari awal kamu mau menyerahkan rumah ini, tidak akan serumit ini.”
Aku diam.
Dari awal?
“Kamu tahu soal surat kuasa?”
Salsa sadar dia salah bicara.
Terlambat.
Perekam di tasku masih menyala.
Aku tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
“Apa?”
“Sekarang aku tahu kamu juga terlibat.”
Arman mengambil langkah ke arahku.
Kali ini wajahnya benar-benar berubah.
“Berikan ponselmu.”
“Tidak.”
“Nadira.”
Dia maju lagi.
Aku berteriak keras.
“Jangan sentuh saya!”
Tetangga sebelah pasti mendengar.
Arman berhenti.
Aku langsung mengirim video kamera, foto buku nikah Salsa, dan seluruh halaman surat kuasa ke tiga tempat sekaligus: email pribadi, penyimpanan cloud, dan sahabatku, Maya.
Baru setelah itu aku menatap mereka.
“Kalian terlalu yakin aku sendirian.”
Bu Ratih mulai menangis.
Tapi tangisnya tidak lagi memengaruhiku.
Aku membawa laptop ke kamar.
Saat membuka lemari besi kecil tempat sertifikat asli kusimpan, aku membeku.
Kosong.
Sertifikat Hak Milik rumahku sudah tidak ada.
Paspor lama masih ada.
Ijazah masih ada.
Perhiasan masih ada.
Hanya satu benda yang hilang.
Sertifikat rumah.
Dari belakangku terdengar suara Arman.
“Cari ini?”
Aku menoleh.
Dia berdiri di ambang pintu.
Di tangannya ada map plastik bening.
Aku melihat lambang pada sertifikat asli milikku di dalamnya.
Arman tersenyum.
“Sekarang kita bicara baik-baik.”
Lalu dia menutup pintu kamar dari dalam.
Bagian 3 — Aku Tidak Berteriak Lagi; Aku Membiarkan Polisi, Bank, dan PPAT Membacakan Satu per Satu Kebohongan yang Mereka Bangun di Rumahku Sendiri
Arman mengira sertifikat di tangannya membuatnya menang.
Dia salah.
Aku menatap pintu yang baru dikuncinya.
Lalu menatap wajah laki-laki yang selama delapan tahun kupanggil suami.
“Kembalikan sertifikatnya.”
“Kita buat kesepakatan.”
“Tidak ada kesepakatan.”
“Kalau kamu terus keras kepala, semuanya akan jadi jelek.”
Aku mengeluarkan ponsel kedua dari saku jaket.
Arman membeku.
Dia tidak tahu sejak perjalanan pulang aku membawa dua ponsel.
Sebelum memasuki rumah, aku sudah mengaktifkan berbagi lokasi kepada Maya.
Saat Arman mencoba merampas ponsel pertamaku di ruang keluarga, Maya sudah menerima pesan:
Kalau aku tidak menghubungimu dalam lima belas menit, telepon polisi dan datang ke rumah.
Bel pintu berbunyi.
Sekali.
Dua kali.
Lalu terdengar suara beberapa orang dari luar.
Arman tidak bergerak.
Aku tersenyum.
“Sepertinya tamuku datang.”
Ternyata bukan hanya Maya.
Dia datang bersama suaminya dan dua petugas keamanan kompleks.
Beberapa menit kemudian, setelah situasi dijelaskan, petugas kepolisian yang dihubungi Maya juga tiba.
Aku tidak meminta siapa pun langsung ditangkap.
Aku hanya menunjukkan satu per satu bukti yang kupunya.
Sertifikat asli yang dipegang Arman.
Surat kuasa yang kutandatangani ketika dirawat.
Rekaman kamera.
Percakapan hari itu.
Dokumen rencana pengalihan.
Buku nikah Salsa.
Foto perjalanan Arman selama bertahun-tahun.
Arman mulai mengatakan semuanya hanya “salah paham keluarga”.
Tapi masalahnya sudah terlalu besar untuk disebut salah paham.
Keesokan harinya aku menghubungi pengacara dan mendatangi kantor pertanahan untuk memastikan tidak ada permohonan perubahan hak yang sedang diproses tanpa sepengetahuanku.
Aku juga mengirimkan pemberitahuan tertulis kepada pihak terkait bahwa setiap transaksi atas rumah tersebut sedang disengketakan dan tidak boleh dilakukan tanpa verifikasi langsung kepadaku.
Pengacaraku kemudian memeriksa surat kuasa yang dibawa Arman.
Ada banyak kejanggalan.
Cara dokumen itu diberikan kepadaku.
Keterangan yang tidak sesuai.
Saksi yang tidak kukenal.
Dan rencana transaksi yang melibatkan kerabat mereka sendiri.
Rekaman kamera membuat semuanya semakin sulit mereka bantah.
Laki-laki berbaju batik di video akhirnya diketahui bernama Yudi.
Dia bukan PPAT.
Dia calo dokumen yang mengaku bisa “membantu proses”.
Ketika dipanggil untuk dimintai keterangan, keberaniannya tidak sebesar saat duduk di ruang tamuku.
Dia mulai bicara.
Dimas, sepupu Arman, juga dipanggil.
Dimas langsung mundur.
Katanya dia hanya diminta meminjamkan nama dan dijanjikan sejumlah uang.
Semakin banyak orang bicara, semakin runtuh cerita Arman.
Sementara itu, masalah pernikahan kami juga dibuka.
Dokumen pernikahan Arman dan Salsa tercatat bertahun-tahun sebelum pernikahanku.
Tidak ada dokumen perceraian yang dapat langsung menjelaskan keadaan seperti cerita Arman kepadaku dulu.
Pengacaraku menyarankan semua status itu diperiksa resmi melalui instansi dan pengadilan yang berwenang.
Aku menurut.
Kali ini aku tidak mau percaya pada cerita siapa pun tanpa dokumen.
Bu Ratih berkali-kali menelepon.
Hari pertama dia marah.
Hari kedua dia menangis.
Hari ketiga dia mengatakan penyakitnya kambuh.
Hari keempat dia memintaku memikirkan “nama baik keluarga”.
Untuk pertama kalinya aku menjawab dengan tenang.
“Nama baik keluarga seharusnya dipikirkan sebelum kalian merencanakan mengambil rumah orang.”
Setelah itu, nomor mereka kublokir.
Salsa mencoba cara berbeda.
Dia datang menemuiku sendirian.
Tidak memakai gelang ibuku lagi.
Dia meletakkannya di meja.
“Aku kembalikan.”
Aku mengambil gelang itu tanpa berkata terima kasih.
Itu bukan pemberian darinya.
Itu barangku.
Salsa menunduk.
“Aku memang tahu rencana rumah itu.”
“Aku tahu.”
“Arman bilang kamu akan mendapat kompensasi.”
Aku menatapnya.
“Dan itu membuatmu merasa semuanya benar?”
Dia tidak bisa menjawab.
“Aku tidak membencimu karena punya anak dengan Arman sebelum aku mengenalnya,” kataku. “Aku juga tidak menyalahkan Bima.”
Aku menunjuk gelang di meja.
“Tapi saat kamu memakai barang milik ibuku, duduk di rumahku, lalu ikut merencanakan bagaimana rumah itu akan berpindah tangan, kamu sudah membuat pilihanmu sendiri.”
Salsa pergi tanpa membantah lagi.
Beberapa bulan berikutnya melelahkan.
Ada pemeriksaan dokumen.
Ada pertemuan dengan pengacara.
Ada proses hukum mengenai hubungan perkawinanku dengan Arman.
Ada laporan terkait dugaan penyalahgunaan dokumen dan rencana pengalihan aset yang harus ditangani melalui jalur resmi.
Tidak semuanya selesai dalam semalam.
Tapi satu hal selesai jauh lebih cepat.
Arman keluar dari rumahku.
Bu Ratih juga.
Mereka membawa pakaian mereka dalam kardus-kardus besar.
Hari ketika mereka pergi, Bu Ratih berdiri di depan pagar.
“Delapan tahun kami tinggal di sini. Kamu benar-benar tidak punya hati?”
Aku melihat rumah di belakangnya.
Rumah yang diwariskan ayahku.
Rumah yang kubayar pajaknya.
Rumah tempat aku pernah merawat Bu Ratih ketika sakit.
Rumah tempat suaminya diam-diam membawa keluarga lain ketika aku bekerja.
“Ada perbedaan antara tidak punya hati dan berhenti membiarkan orang menginjaknya, Bu.”
Aku menutup pagar.
Tidak ada adegan dramatis.
Tidak ada piring pecah.
Tidak ada teriakan.
Hanya bunyi kunci.
Klik.
Aneh sekali.
Suara sederhana itu terasa seperti pertama kalinya aku benar-benar memiliki rumahku kembali.
Enam bulan kemudian, ruang keluarga sudah berubah.
Sofa tempat Salsa duduk kujual.
Kamar yang dulu dipakai Bu Ratih kujadikan ruang kerja.
Aku mengganti semua kunci.
Memasang sistem keamanan baru.
Dan di dinding dekat tangga, kupasang foto Ayah dan Ibu.
Gelang emas Ibu kusimpan dalam kotak kaca kecil di kamarku.
Maya pernah bertanya apakah aku menyesal kehilangan delapan tahun.
Aku memikirkan pertanyaan itu cukup lama.
Lalu kujawab,
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku terus menghitung delapan tahun yang hilang, mereka masih mengambil waktuku bahkan setelah pergi.”
Aku kemudian membuka usaha konsultan kecil bersama Maya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, penghasilanku tidak lagi bercampur dengan rekening yang bisa disentuh Arman.
Aku belajar membaca setiap dokumen sebelum menandatanganinya.
Bahkan kuitansi sederhana.
Dan aku berhenti merasa bersalah ketika mengatakan tidak.
Tentang Arman?
Dia kehilangan lebih banyak daripada rumah yang gagal dia ambil.
Hubungannya dengan beberapa kerabat memburuk setelah mereka tahu namanya digunakan dalam rencana transaksi.
Proses hukum atas dokumen-dokumen itu terus berjalan sesuai bukti dan keputusan pihak berwenang.
Sedangkan hubungan kami berakhir melalui jalur resmi.
Aku tidak mencari tahu lagi apakah dia kembali hidup bersama Salsa.
Itu bukan urusanku.
Bima tetap seorang anak.
Aku tidak pernah menyebut namanya dalam laporan kecuali ketika memang diperlukan untuk menjelaskan dokumen.
Dosa orang dewasa tidak perlu diwariskan kepada anak.
Lebaran berikutnya aku berada di rumah yang sama.
Tapi suasananya berbeda.
Tidak ada rahasia di lantai atas.
Tidak ada suara telepon yang menyuruhku menjauh.
Tidak ada orang yang menggunakan barang milik ibuku.
Maya datang membawa ketupat.
Kami makan di teras sampai malam.
Saat lampu-lampu tetangga mulai menyala, aku memandang pintu rumah yang setahun sebelumnya membuat lututku hampir lemas.
Aku akhirnya mengerti sesuatu.
Hari itu aku memang pulang untuk memergoki suamiku.
Tapi yang sebenarnya kutemukan bukan keluarga rahasianya.
Aku menemukan bagian diriku yang selama delapan tahun terlalu takut kehilangan pernikahan sampai lupa melindungi dirinya sendiri.
Dan sejak hari itu, tidak ada seorang pun lagi yang bisa menyuruhku keluar dari rumahku sendiri.

