Bagian 2
Setelah menaruh bunga di ruang tengah, Raka tidak langsung duduk.
Ia mondar-mandir sebentar, lalu berhenti di dekat meja makan.
“Ada yang mau aku minta.”
Nada suaranya membuatku ikut tegang.
“Soal perjalanan besok?”
“Bukan.”
Ia menarik kursi.
“Aku butuh modal sementara.”
Aku menatapnya.
Raka menjelaskan bahwa ia akhirnya mendapat kesempatan menyewa ruang kecil bersama temannya untuk memulai studio desain. Ada dua komputer bekas yang bisa dibeli murah, tetapi pemiliknya meminta pembayaran cepat.
“Gajiku bulan depan masuk. Ada satu proyek juga yang belum dibayar,” katanya. “Aku cuma butuh jembatan sebentar.”
“Berapa?”
Ia menarik napas.
“Sepuluh emas batangan yang pernah Ibu ceritakan.”
Aku tidak menjawab.

Beberapa bulan sebelumnya aku memang pernah menyebut tabungan emas peninggalan Harun. Bukan karena pamer. Kami sedang membicarakan kebiasaan menabung, dan aku bercerita bahwa suamiku lebih suka membeli emas daripada menyimpan semua uang di rekening.
Aku masih menyimpan beberapa keping emas batangan dalam brankas kecil.
Sepuluh keping yang diminta Raka masing-masing sepuluh gram.
Nilainya lebih dari dua ratus juta rupiah.
“Raka, itu bukan uang kecil.”
“Aku tahu.”
“Dan itu bukan modal yang bisa kuganti kalau usahamu gagal.”
“Aku tidak minta diberi.”
Ia cepat-cepat menambahkan, “Aku pinjam. Tiga bulan. Kalau proyekku dibayar lebih cepat, aku kembalikan lebih cepat.”
Aku masih diam.
Raka menunduk.
“Kalau Ibu tidak nyaman, tidak apa-apa.”
Justru kalimat itu yang membuat pertahananku goyah.
Ia tidak marah.
Tidak merajuk.
Tidak mengatakan bahwa aku tidak percaya padanya.
Ia malah berdiri.
“Lupakan saja. Besok kita tetap berangkat.”
Aku memintanya duduk lagi.
Selama hampir satu jam aku bertanya soal rencana studionya. Biaya sewa. Komputer. Klien pertama. Pendapatan yang ia perkirakan.
Sebagian jawabannya masuk akal.
Sebagian masih berupa harapan.
Akhirnya aku berkata, “Kalau aku setuju, kita buat surat.”
Ia menatapku.
“Surat?”
“Surat pinjaman. Jumlah emas, nomor seri, tanggal pengembalian.”
Wajahnya sempat berubah, hanya sebentar.
Kemudian ia mengangguk.
“Ya. Tentu.”
Aku mencetak surat sederhana dari komputer. Kami mencatat nomor seri sepuluh keping emas itu satu per satu. Raka menandatangani surat tersebut dan memotret salinannya.
Aku juga menyimpan foto setiap keping emas.
Ketika kuberikan kotak kecil itu kepadanya, jariku sulit melepaskan pegangan.
“Ini tabungan hari tuaku, Raka.”
Ia memegang tanganku.
“Aku tahu. Aku akan jaga.”
Malam itu aku hampir tidak tidur.
Pagi-pagi sekali kami berangkat menuju Magelang.
Raka tampak lebih pendiam daripada biasanya. Dua kali aku bertanya apakah ada masalah.
Ia mengatakan hanya gugup mempertemukanku dengan orang tuanya.
Kami tiba menjelang siang di rumah sederhana yang menyatu dengan bengkel kayu kecil di bagian belakang.
Seorang perempuan berusia sekitar akhir lima puluhan keluar menyambut kami.
Raka memperkenalkannya sebagai ibunya, Bu Lilis.
Ia menjabat tanganku dengan kedua tangannya.
“Bu Ratna, akhirnya datang juga. Aduh, kami sampai tidak enak. Sudah dibantu sebanyak itu, masih repot-repot datang.”
Aku tersenyum kaku.
“Tidak apa-apa, Bu.”
Seorang laki-laki keluar dari bengkel. Pak Hadi, ayah Raka.
Ia juga berterima kasih.
Bukan karena aku datang.
Karena aku “membantu.”
Saat makan siang, Bu Lilis berkata, “Kalau utang bengkel ini bisa dibereskan, Bapak bisa kerja tenang lagi. Raka bilang Ibu memang orangnya baik sekali.”
Sendokku berhenti sebelum menyentuh piring.
“Utang bengkel?”
Bu Lilis memandang Raka.
Raka langsung berdiri.
“Ma, nanti saja.”
Aku ikut memandangnya.
“Bukannya emas itu untuk studio desain?”
Ruangan mendadak sunyi.
Bu Lilis terlihat bingung.
“Studio?”
Raka menutup mata sebentar.
Aku bertanya lagi, kali ini lebih pelan.
“Bu Lilis, Raka bilang apa tentang aku?”
Perempuan itu menelan ludah.
“Dia bilang Ibu dulu gurunya di kegiatan seni. Sekarang seperti pembimbingnya. Ibu mau bantu dia dan keluarga supaya usaha kami tidak tutup.”
Aku menatap Raka.
Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.
Bahwa emas itu bukan untuk tujuan yang ia katakan.
Atau bahwa di rumah orang tuanya, aku bahkan tidak diperkenalkan sebagai perempuan yang katanya ia cintai.
“Emasnya sekarang di mana?” tanyaku.
Raka tidak menjawab.
Ayahnya menatap putranya dengan wajah pucat.
Bu Lilis akhirnya berkata, “Tadi pagi sebelum menjemput Ibu, Raka bilang dia sudah menggadaikannya. Uangnya mau dipakai melunasi tagihan pemasok sore ini.”
Aku meletakkan sendok.
Sepuluh keping emas milikku sudah berada di tempat gadai bahkan sebelum kami tiba di rumah itu.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku tidak berteriak.
Mungkin karena terlalu banyak hal yang terjadi sekaligus sehingga kemarahan belum menemukan jalan keluar.
Aku hanya menatap Raka.
“Kita bicara sekarang.”
Bu Lilis berdiri.
“Bu Ratna, kalau memang ada salah paham…”
“Ini bukan salah paham, Bu.”
Suaraku lebih tenang daripada yang kurasakan.
“Dia meminta emas saya untuk studio desain. Sekarang saya tahu emas itu digadaikan untuk bengkel.”
Pak Hadi langsung menoleh kepada putranya.
“Kamu bilang Bu Ratna tahu.”
Raka memijat dahinya.
“Aku mau jelasin.”
“Kapan?” tanyaku. “Setelah uangnya dipakai?”
Ia tidak menjawab.
Aku mengeluarkan ponsel.
“Tunjukkan surat gadainya.”
Raka terlihat terkejut.
“Ibu mau apa?”
“Melihat dokumennya.”
“Bu Ratna…”
“Raka.”
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku tidak memakai nada lembut.
“Surat gadainya.”
Ia mengambil dompet dan mengeluarkan selembar bukti transaksi yang dilipat.
Aku memeriksa nama.
Nama Raka.
Jumlah emas.
Berat.
Nilai pinjaman.
Nomor barang.
Semuanya sesuai dengan sepuluh keping yang kuberikan malam sebelumnya.
“Uangnya sudah ke mana?”
“Masih di rekeningku.”
“Belum dibayar ke pemasok?”
“Belum. Rencananya sore.”
Pak Hadi terduduk.
“Raka, kamu ini bagaimana?”
Raka membalas dengan suara meninggi, “Kalau tidak dibayar minggu ini, pemasok tidak mau kirim bahan lagi. Bengkel berhenti. Bapak tahu itu.”
“Aku tahu,” kata ayahnya. “Tapi aku tidak tahu kamu bohong sama orang.”
Bu Lilis duduk kembali.
Wajahnya berubah. Bukan marah kepadaku, melainkan kepada Raka.
“Kamu bilang dia memang mau membantu.”
Raka mengusap wajah.
“Aku memang mau kembalikan.”
Aku tertawa pendek.
Bukan karena lucu.
“Dengan apa?”
“Dari proyekku.”
“Studio yang bahkan belum ada?”
Ia diam.
Aku melihat lagi surat gadai itu.
Nilai pinjamannya memang di bawah nilai emas. Kalau uangnya belum digunakan, secara teori emas itu masih bisa ditebus kembali. Akan ada biaya administrasi dan jasa gadai, tetapi kerusakannya belum permanen.
Setidaknya belum.
“Kita kembali ke Bandung hari ini,” kataku.
Raka menatapku.
“Sekarang?”
“Sekarang.”
“Bu Ratna, kita baru sampai.”
“Aku datang untuk bertemu orang tuamu sebagai orang yang kamu cintai.”
Aku memandang Bu Lilis dan Pak Hadi.
“Ternyata mereka diberi cerita berbeda.”
Kemudian aku kembali menatap Raka.
“Dan aku memberikan emas untuk satu tujuan. Kamu memakainya untuk tujuan lain.”
“Aku belum memakai uangnya.”
“Kamu sudah menggadaikan barangku.”
Raka menarik kursi dan duduk.
“Aku panik.”
Aku tidak menjawab.
Ia bicara lebih cepat.
“Bengkel Bapak sudah hampir tiga bulan bermasalah. Ada pesanan besar yang pembayarannya terlambat. Sementara pemasok tetap menagih. Aku sudah coba cari pinjaman, tapi cicilannya berat.”
“Lalu kamu teringat emasku.”
Ia menunduk.
“Aku pikir kalau bengkel selamat, aku bisa bantu keluarga dulu. Setelah itu aku bisa mulai studio. Aku tetap akan kembalikan semuanya.”
“Kenapa tidak bilang begitu waktu meminta?”
“Karena…”
Ia berhenti.
Aku menunggu.
Akhirnya ia berkata, “Aku takut Ibu tidak mau.”
Itulah kalimat yang membuat semuanya menjadi sederhana.
Bukan rumit.
Sederhana.
Ia tahu aku mungkin akan menolak.
Maka ia mengganti ceritanya.
Aku berdiri.
“Terima kasih.”
Raka menatapku bingung.
“Untuk apa?”
“Karena akhirnya jawabannya jelas.”
Bu Lilis memanggilku ketika aku hendak mengambil tas.
“Bu Ratna.”
Aku berhenti.
“Saya benar-benar tidak tahu.”
Aku percaya padanya.
Rasa malunya terlihat jelas, dan sejak tadi ia tidak sekali pun membela kebohongan Raka.
“Saya pikir Ibu memang orang yang membantu Raka,” lanjutnya. “Saya juga tidak tahu hubungan kalian.”
Raka langsung berkata, “Ma, aku mau cerita setelah…”
“Setelah apa?” potong ibunya.
Ia menatap putranya.
“Setelah uangnya masuk ke bengkel?”
Raka terdiam.
Bu Lilis mengembuskan napas panjang.
“Umur kalian memang jauh. Mungkin Mama akan kaget. Bapak juga mungkin kaget. Tapi itu bukan alasan kamu mengubah siapa Bu Ratna di depan kami.”
Aku tidak menyangka justru ibunya yang mengatakan itu.
Pak Hadi ikut bicara.
“Utang bengkel tanggung jawab saya. Kalau bengkel harus berhenti sementara, ya berhenti. Jangan bawa barang orang tanpa cerita yang benar.”
Raka berdiri lagi.
“Aku cuma mau nolong keluarga.”
“Nolong keluarga pakai kebohongan tetap bohong,” kata ayahnya.
Tidak ada yang berteriak setelah itu.
Tidak ada adegan besar.
Hanya empat orang di ruang makan kecil, makanan mulai dingin, dan satu hubungan yang tiba-tiba terlihat berbeda dari yang kubayangkan selama delapan bulan.
Dalam perjalanan kembali ke Bandung, aku duduk di kursi penumpang dengan tas di pangkuan.
Raka mencoba bicara beberapa kali.
Aku hanya berkata, “Simpan tenaga. Kita selesaikan emas dulu.”
Kami tiba menjelang malam.
Tempat gadai tempat Raka melakukan transaksi masih buka.
Aku ikut masuk bersamanya.
Raka menjelaskan kepada petugas bahwa ia ingin menebus barang yang baru digadaikan. Karena transaksi memang atas namanya, prosesnya dilakukan olehnya. Ia menggunakan uang pinjaman yang tadi masuk ke rekeningnya dan membayar biaya yang timbul dari uangnya sendiri.
Aku tidak ikut campur.
Aku hanya menunggu.
Ketika sepuluh keping emas itu diletakkan di depan kami, aku membandingkan nomor serinya dengan foto yang kusimpan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Sampai sepuluh.
Semuanya kembali.
Baru setelah itu bahuku terasa sedikit turun.
Raka mengambil dompet.
“Aku bayar semua biaya hari ini.”
“Memang seharusnya.”
Kami keluar.
Di halaman parkir, ia berdiri beberapa langkah dariku.
“Boleh aku antar pulang?”
Aku menatapnya.
“Tidak.”
“Bu Ratna…”
“Aku pesan mobil.”
“Setidaknya dengar dulu.”
“Aku sudah dengar dari Magelang sampai Bandung.”
Ia mendekat satu langkah.
“Aku memang salah. Tapi perasaanku bukan bohong.”
Aku memegang tas berisi emas lebih erat.
“Itu yang membuatnya lebih buruk.”
Wajahnya berubah.
“Kalau kamu tidak pernah sayang, mungkin aku bisa menganggap semua ini penipuan biasa. Tapi kalau kamu memang sayang, berarti kamu tahu aku percaya sama kamu dan tetap memilih memanfaatkan kepercayaan itu.”
“Aku tidak bermaksud memanfaatkan.”
“Kamu tahu aku mungkin menolak kalau tahu uangnya untuk bengkel.”
Ia tidak menjawab.
“Itu namanya apa?”
Raka menatap aspal.
Aku tidak menunggunya menemukan istilah yang lebih nyaman.
Mobil pesananku datang.
Sebelum masuk, aku berkata, “Jangan datang ke rumahku dulu.”
“Berapa lama?”
“Aku tidak tahu.”
“Hubungan kita bagaimana?”
Aku membuka pintu mobil.
“Aku belum bisa menjawab malam ini.”
Untuk pertama kalinya sejak hubungan kami dimulai, aku membiarkan Raka berdiri sendiri sementara aku pergi.
Di rumah, aku meletakkan emas di atas meja makan.
Aku tidak langsung memasukkannya ke brankas.
Aku duduk menatap sepuluh keping itu cukup lama.
Barangnya sudah kembali.
Namun rasanya aku baru kehilangan sesuatu yang jauh lebih sulit ditebus.
Pukul sembilan malam, aku menelepon Maya.
Ia menjawab setelah dering kedua.
“Ibu? Kenapa? Kok malam-malam?”
“Ada waktu?”
Nada suaranya langsung berubah.
“Ada. Ibu kenapa?”
“Aku perlu cerita.”
Aku hampir tertawa ketika sadar aku menggunakan kata aku, bukan Ibu, seperti biasanya saat bicara dengannya.
Mungkin karena malam itu aku tidak ingin bicara sebagai ibu yang selalu tahu apa yang harus dilakukan.
Aku ingin bicara sebagai seorang perempuan yang baru menyadari dirinya bisa melakukan kesalahan.
Maya datang setengah jam kemudian.
Begitu melihat koper kecil yang belum kubongkar, bunga dari Raka di ruang tengah, dan wajahku, ia langsung duduk.
“Ada apa?”
Aku menceritakan semuanya.
Tentang kelas melukis.
Tentang Raka.
Tentang hubungan kami.
Tentang perbedaan usia.
Tentang perjalanan ke Magelang.
Tentang emas.
Maya hampir tidak menyela sampai aku selesai.
Setelah itu, ia mengusap wajah dengan kedua tangan.
“Ibu pacaran delapan bulan sama laki-laki dua puluh lima tahun dan tidak bilang ke kami?”
Aku mengangguk.
“Itu dulu yang kamu tanyakan?”
“Bukan. Aku sedang berusaha memilih mana yang mau kutanyakan dulu.”
Aku nyaris tersenyum.
Maya mengambil napas.
“Aku boleh kaget soal umur?”
“Boleh.”
“Aku sangat kaget.”
“Baik.”
“Tapi aku lebih marah soal emas.”
Aku mengangguk lagi.
Maya melihat kotak di meja.
“Sudah kembali semua?”
“Sudah.”
“Nomornya cocok?”
“Kucocokkan.”
Ia menatapku lama.
Kemudian ia berkata sesuatu yang tidak kuduga.
“Ibu tidak perlu malu karena jatuh cinta.”
Aku menunduk.
“Aku lebih tua empat puluh tahun darinya.”
“Ya. Itu memang… banyak.”
Aku menatapnya tajam.
Maya mengangkat tangan.
“Aku sedang berusaha sopan.”
Aku akhirnya tertawa kecil.
Kemudian wajahnya kembali serius.
“Ibu boleh jatuh cinta. Ibu juga boleh pacaran. Yang tidak boleh itu orang mengambil keputusan soal uang Ibu dengan cerita palsu.”
“Aku seharusnya tahu.”
“Bagaimana caranya?”
“Aku guru tiga puluh tahun. Aku biasa membaca orang.”
“Guru membaca karangan siswa, Bu. Bukan isi kepala pacar.”
Kalimat itu membuatku diam.
Malam itu Maya membantuku memindahkan dokumen penting dan emas ke tempat penyimpanan yang lebih aman. Bukan karena Raka pernah memiliki kunci rumahku. Ia tidak pernah.
Tetapi aku butuh melakukan sesuatu dengan tanganku.
Aku juga mengganti kata sandi beberapa akun yang pernah kubuka ketika Raka membantuku mengatur ponsel.
Bukan karena aku punya bukti ia mengakses apa pun.
Aku hanya tidak ingin bertanya-tanya.
Raka mengirim banyak pesan malam itu.
Aku tidak membukanya sampai pagi.
Isinya bukan ancaman.
Bukan kemarahan.
Sebagian besar permintaan maaf.
Aku membaca semuanya sekali, lalu mematikan notifikasi.
Dua hari kemudian ia datang ke rumah.
Aku tidak membiarkannya masuk.
Kami bicara di teras.
Ia tampak tidak tidur.
“Aku cuma mau jelasin tanpa Mama dan Bapak di sana.”
“Apa ada versi yang berbeda?”
“Tidak.”
“Kalau begitu jelaskan.”
Raka duduk.
Ia mengatakan bengkel ayahnya memang sedang kesulitan. Beberapa bulan terakhir ia membantu membayar tagihan keluarga. Tabungannya hampir habis.
Pada saat yang sama, ia memang ingin membuka studio desain.
Dua masalah itu bercampur di kepalanya.
Ia mulai memikirkan emas milikku sebagai jalan keluar sementara.
“Awalnya aku mau pinjam jujur,” katanya.
“Lalu?”
“Aku takut Ibu bilang tidak.”
“Jadi kamu menciptakan alasan yang menurutmu akan membuatku bilang ya.”
Raka mengangguk.
Itu tidak membuatku merasa lebih baik.
Aku bertanya, “Kenapa orang tuamu tidak tahu tentang hubungan kita?”
Ia diam cukup lama.
“Mama pernah bilang dia berharap aku menikah dan punya anak.”
“Itu bukan jawaban.”
“Aku takut mereka menolak.”
“Karena umurku.”
“Iya.”
“Kamu berani bilang mencintaiku. Tapi tidak berani mengatakan kepada keluargamu siapa aku.”
“Aku mau bilang saat Ibu sudah di sana.”
“Kapan? Setelah mereka berterima kasih soal emas?”
Raka menunduk.
Aku melihatnya lama.
Selama delapan bulan aku sering memuji keberaniannya.
Ia berani mencintai perempuan jauh lebih tua.
Berani menghadapi omongan orang.
Setidaknya itulah yang kukira.
Ternyata keberanian itu hanya ada selama tidak menuntut terlalu banyak darinya.
Selama hubungan kami berada di ruang kecil antara aku dan dia, semuanya mudah.
Begitu masuk keluarga, uang, masa depan, dan rasa malu, ia memilih cara yang paling nyaman baginya.
“Aku masih sayang sama Ibu,” katanya.
“Aku percaya.”
Ia menatapku, mungkin mengira kalimat itu membuka pintu.
Aku melanjutkan, “Tapi sayang tidak otomatis membuat seseorang aman untuk dipercaya.”
Wajahnya jatuh.
“Aku bisa memperbaiki.”
“Bagaimana?”
“Aku tidak tahu. Tapi aku mau.”
Aku mengangguk.
“Mulailah dari keluargamu.”
“Maksudnya?”
“Jangan minta uangku lagi. Jangan datang membawa bunga. Jangan membuat janji besar. Selesaikan masalah bengkel dengan cara yang memang bisa kalian tanggung.”
Raka terdiam.
“Dan hubungan kita?”
Aku melihat bunga yang ia bawa dua hari sebelumnya. Sudah mulai layu di vas ruang tengah.
“Aku berhenti dulu.”
“Berhenti sementara?”
“Aku tidak mau memberi nama supaya kamu merasa punya jadwal kapan semuanya kembali normal.”
Ia mengusap wajah.
“Aku kehilangan Ibu karena satu kesalahan.”
Aku menggeleng.
“Bukan satu kesalahan.”
Ia mengangkat kepala.
“Kamu meminta emas dengan alasan palsu. Kamu menggadaikannya tanpa mengatakan rencana sebenarnya. Kamu memperkenalkanku sebagai orang lain kepada keluargamu. Itu beberapa keputusan.”
Raka tidak membantah lagi.
Sebelum pergi ia mengeluarkan salinan surat pinjaman yang kami buat.
“Ini masih ada.”
“Robek.”
Ia menatapku.
“Emasnya sudah kembali. Tidak ada pinjaman lagi.”
Raka merobek surat itu menjadi beberapa bagian.
Salinanku kusimpan.
Bukan untuk menagih.
Sebagai pengingat bahwa tanda tangan bisa melindungi barang, tetapi tidak bisa melindungi kepercayaan.
Minggu berikutnya aku bertemu seorang advokat yang direkomendasikan teman lama.
Bukan untuk menuntut Raka.
Aku hanya ingin memastikan tidak ada kewajiban atau dokumen lain yang menggunakan namaku.
Aku membawa surat pinjaman, bukti gadai, dan foto emas.
Setelah mendengar ceritaku, ia mengatakan karena barang sudah kembali dan transaksi gadai telah ditutup, hal utama yang perlu kulakukan adalah menyimpan dokumen serta memastikan tidak pernah memberikan identitas, tanda tangan, atau akses keuangan untuk urusan orang lain tanpa memeriksa tujuan dan risikonya.
Aku pulang lebih lega.
Bukan karena ada orang profesional yang menyelesaikan masalahku.
Masalah sebenarnya bukan dokumen.
Masalah sebenarnya adalah aku.
Bukan karena aku jatuh cinta.
Melainkan karena diam-diam aku merasa harus membuktikan bahwa hubungan itu nyata dengan mempercayai Raka lebih jauh daripada yang sebenarnya nyaman bagiku.
Aku malu mengatakan kepada anak-anakku tentang dirinya.
Lalu ketika ia mengajakku bertemu keluarga, aku sangat ingin percaya bahwa itu bukti keseriusan.
Permintaan emas datang tepat ketika aku ingin diyakinkan.
Aku tidak merasa dipaksa.
Itulah yang paling sulit kuakui.
Aku sendiri yang membuka brankas.
Aku sendiri yang memberikan kotaknya.
Aku bahkan membuat surat.
Aku berhati-hati pada angka, tetapi tidak cukup berhati-hati pada alasan mengapa aku ingin mengatakan ya.
Beberapa minggu berlalu.
Aku kembali ke kelas melukis.
Raka tidak datang.
Instruktur kami hanya mengatakan ia sedang sibuk.
Aku tidak bertanya.
Untuk pertama kalinya, aku menceritakan hubungan itu kepada dua teman dekatku.
Salah satu dari mereka langsung berkata, “Dua puluh lima?”
Aku menatapnya.
Ia menutup mulut.
Temanku yang lain bertanya, “Kamu bahagia waktu sama dia?”
Aku mengangguk.
“Sebagian besar.”
“Kalau begitu jangan buang semua kenangan baik cuma karena akhirnya buruk.”
Aku memikirkan kalimat itu cukup lama.
Aku memang marah kepada Raka.
Tetapi aku tidak ingin menghukum diriku sendiri karena pernah merasa hidup lagi.
Aku masih ingat pertama kali tertawa bersamanya sampai perut sakit.
Masih ingat bagaimana ia menungguku keluar dari ruang dokter.
Masih ingat bagaimana ia mengajariku memesan makanan lewat aplikasi dan kemudian mengejekku karena aku memesan untuk alamat yang salah.
Hal-hal itu nyata.
Sama nyatanya dengan kebohongannya.
Manusia rupanya bisa memberi kita kebahagiaan dan tetap mengecewakan kita.
Dua hal itu tidak saling menghapus.
Sebulan setelah kejadian di Magelang, Bu Lilis meneleponku.
Aku sempat ragu menjawab.
Akhirnya kuangkat.
“Bu Ratna, saya cuma mau bilang satu hal.”
“Saya dengar.”
“Bengkel kami tutup sementara.”
Aku diam.
“Bapak menjual beberapa mesin yang memang sudah jarang dipakai. Raka juga mengambil pekerjaan tambahan. Kami cicil utang pemasok.”
Ia berhenti sebentar.
“Saya tidak menelepon untuk minta bantuan.”
“Saya tahu.”
“Saya malu pernah menerima Ibu di rumah dalam keadaan seperti itu.”
“Yang membuat saya kecewa bukan bengkel Ibu punya utang.”
“Saya mengerti.”
Bu Lilis menarik napas.
“Raka cerita semuanya.”
“Termasuk hubungan kami?”
“Termasuk.”
Aku menunggu reaksinya.
Ia berkata, “Saya kaget.”
Aku tersenyum kecil meski ia tidak melihat.
“Wajar.”
“Sangat kaget.”
“Bu Lilis.”
“Maaf.”
Aku tertawa untuk pertama kalinya sejak mengangkat telepon.
Lalu suaranya menjadi lebih serius.
“Saya tidak tahu apakah saya bisa langsung menerima kalau kalian menikah atau apa pun rencananya dulu. Saya orang tua. Pasti ada kekhawatiran. Tapi saya bilang ke Raka, kalau dia ingin dianggap dewasa, dia tidak bisa memilih kapan mau jujur dan kapan mau membuat cerita yang lebih mudah.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
“Saya cuma ingin Ibu tahu, kami tidak pernah menyuruh dia meminta emas.”
“Saya percaya.”
Telepon itu tidak memperbaiki hubungan apa pun.
Tetapi setidaknya satu pertanyaan berhenti menggangguku.
Dua bulan kemudian, Raka mengirim satu pesan.
Bukan serangkaian permintaan maaf.
Hanya satu.
Ia mengatakan sedang menyewa satu meja di ruang kerja bersama bersama dua temannya. Belum menjadi studio. Belum punya pegawai. Ia masih bekerja penuh waktu dan menerima proyek desain malam hari.
Di bawahnya ada foto meja kecil, laptop, papan gambar, dan secangkir kopi.
Ia menulis:
“Aku akhirnya mulai dari yang sebenarnya mampu kubayar sendiri.”
Aku menatap pesan itu lama.
Kemudian kubalas:
“Bagus. Pertahankan begitu.”
Ia menjawab terima kasih.
Tidak ada kata sayang.
Tidak ada pertanyaan kapan kami bertemu.
Aku menghargai itu.
Empat bulan setelah kejadian, aku akhirnya mengundang anak-anakku makan di rumah.
Maya sudah tahu semuanya. Kakaknya belum.
Aku menceritakan cerita yang sama sekali lagi.
Putraku, Arif, lebih diam daripada Maya.
Setelah selesai ia bertanya, “Ibu masih mau pacaran lagi?”
Pertanyaan itu membuatku tertawa.
“Kenapa? Kamu mau bikin formulir pendaftaran?”
“Aku serius.”
Aku berpikir sebentar.
“Mungkin.”
Ia mengangguk.
“Kalau begitu nanti bilang.”
“Agar kalian bisa memeriksa KTP-nya?”
“Minimal.”
Maya memukul bahunya.
Aku tertawa.
Dulu aku menyembunyikan Raka karena takut anak-anakku akan memperlakukanku seperti perempuan tua yang tidak mampu membuat keputusan sendiri.
Ironisnya, justru dengan merahasiakan semuanya aku membuat diriku lebih sendirian ketika keputusan itu mulai salah.
Sekarang aku tidak ingin hidup seperti itu lagi.
Bukan berarti setiap orang berhak mengatur hidupku.
Tetapi orang yang menyayangiku setidaknya boleh tahu siapa yang masuk ke dalamnya.
Enam bulan kemudian, aku melihat Raka lagi di kelas melukis.
Ia datang terlambat.
Tidak membawa bunga.
Tidak duduk di sampingku.
Ia hanya mengangguk ketika mata kami bertemu.
Saat istirahat, ia mendekat.
“Ibu sehat?”
“Sehat.”
“Lututnya?”
“Masih punya dua.”
Ia tertawa.
Aku ikut tersenyum.
Untuk beberapa detik rasanya seperti dulu.
Kemudian ia berkata, “Aku masih menyesal.”
“Aku tahu.”
“Aku tidak akan minta kesempatan sekarang.”
Aku mengangkat alis.
“Sekarang?”
Ia tersenyum kecil.
“Baik. Aku tidak akan minta.”
Kami berdiri dalam diam.
Akhirnya ia berkata, “Terima kasih karena waktu itu tidak langsung bawa masalah ini ke mana-mana.”
“Aku menyelesaikan yang memang perlu diselesaikan.”
Ia mengangguk.
“Aku belajar banyak.”
“Semoga bukan cuma belajar kalimatnya.”
Raka tertawa sebentar.
Kemudian ia kembali ke mejanya.
Aku tidak tahu apakah suatu hari aku akan memaafkannya sampai pada titik bisa bersamanya lagi.
Mungkin tidak.
Mungkin iya.
Tetapi aku tidak lagi merasa perlu membuat keputusan itu segera.
Yang sudah jelas adalah aku tidak akan kembali ke hubungan yang sama.
Kalau suatu hari ada hubungan baru antara kami, ia harus dimulai tanpa kebohongan, tanpa uangku sebagai jalan keluar, tanpa aku disembunyikan dari keluarganya, dan tanpa keyakinan bahwa rasa sayang bisa menggantikan batas.
Sampai hari itu, aku punya hidupku sendiri.
Aku masih melukis setiap Sabtu.
Masih minum kopi dengan teman-temanku.
Masih memakai gaun bermotif bunga meskipun tidak ada Raka yang akan melihatnya.
Dan sesekali, ketika bercermin sebelum keluar rumah, aku memakai lipstik yang dulu pertama kali kubeli karena ingin terlihat cantik di matanya.
Sekarang aku memakainya karena ternyata aku memang menyukai warnanya.
Sepuluh keping emas itu tidak lagi kusimpan di tempat lama.
Kotaknya sekarang berada di dalam ruang penyimpanan yang hanya bisa kuakses sendiri, bersama dokumen-dokumen pentingku.
Suatu sore setelah pulang dari kelas, aku membukanya untuk menyimpan satu surat deposito.
Aku melihat emas itu sebentar.
Lalu kututup kembali, mengunci kotaknya, dan memasukkan kunci ke dalam dompetku.
Setelah itu aku keluar untuk menyiram bunga di teras.
Bukan karena aku takut hidup lagi.
Aku hanya tidak mau menyerahkan kuncinya kepada orang lain.
Menurutmu, apakah Ratna seharusnya memberi Raka kesempatan kedua jika ia benar-benar berubah, atau kebohongan soal emas sudah terlalu jauh?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
