BAGIAN 2
Aku tidak membangunkan Bima.
Ia sudah tidur ketika aku masuk kamar hampir pukul satu dini hari.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku melihat suamiku dan merasa bahwa diam bukan lagi bentuk mengalah.
Diam bisa menjadi waktu untuk berpikir.
Pagi berikutnya aku menemui Rini di rukonya.
Aku sengaja datang sebelum toko buka.
Ia sedang menyapu daun kering di depan pintu.
Begitu melihatku, tangannya berhenti.
“Aku sudah lihat proposal bank,” kataku.
Sapu itu ia sandarkan ke dinding.
“Bima bilang kamu sudah setuju.”
“Aku bahkan baru tahu kemarin.”
Wajah Rini pucat.
Aku mengira ia akan membela diri.

Sebaliknya ia duduk di kursi plastik dekat pintu.
“Ya Allah.”
Aku tidak ikut duduk.
“Rp124 juta sudah masuk ke usahamu dari rekening Dapur Sari.”
Rini menatapku cepat.
“Bukan segitu.”
“Berapa?”
“Yang masuk ke aku sekitar Rp74 juta.”
Aku langsung memandangnya.
“Lalu sisanya?”
“Aku nggak tahu.”
Untuk beberapa detik aku mengira ia sedang berbohong.
Namun ada sesuatu di wajahnya yang tidak cocok dengan orang yang merasa tertangkap.
Lebih mirip orang yang baru sadar dirinya juga hanya mengetahui separuh cerita.
“Bima bilang uang itu bagian dari investasi bersama,” katanya.
“Investasi apa?”
“Usaha baru.”
“Namaku ada di mana?”
Rini menunduk.
“Katanya nanti kamu jadi komisaris.”
Aku hampir tidak percaya.
“Nanti?”
“Dia bilang kamu nggak suka urusan administrasi, jadi biar dia yang mengatur awalnya.”
Kalimat itu terasa akrab.
Biar aku yang urus.
Biar kamu fokus masak.
Nggak perlu lihat semua rekening.
Satu per satu potongan kecil itu mulai membentuk sesuatu yang jauh lebih besar.
Rini mengusap ujung jilbabnya.
“Aku memang sedang kesulitan, Tari. Aku nggak mau bohong. Tiga pinjaman jatuh tempo hampir bersamaan. Aku malu bilang ke Ibu.”
“Jadi kamu minta rumahku jadi jaminan?”
“Nggak.”
Jawabannya cepat.
“Aku kira rumah itu aset kalian berdua.”
Aku menatapnya.
“Bima tahu rumah itu warisan dari Ibu sebelum kami menikah.”
Rini menutup wajah dengan kedua tangan.
Saat itulah rasa marahku bergeser.
Tidak hilang.
Hanya berubah arah.
Siangnya aku pulang ke dapur katering dan memanggil Rafi.
Ia sudah bekerja denganku sembilan tahun. Mulai dari pengantar kotak makan, lalu menjadi orang yang paling kupercaya mengurus operasional.
“Ada berapa pelanggan yang pembayaran terakhirnya berubah rekening?”
Ia membuka laptop.
“Yang aku tahu tiga.”
“Tiga?”
“Iya. Aku pernah tanya Pak Bima. Katanya rekening baru untuk memisahkan proyek perusahaan.”
“Rekening atas nama siapa?”
Rafi terlihat ragu.
“Aku nggak hafal.”
Kami membuka folder invoice.
Benar.
Pada beberapa invoice terbaru, nomor rekening Dapur Sari sudah diganti.
Bima tidak mengubah semua pelanggan.
Hanya pelanggan dengan pembayaran besar.
Aku segera menelepon dua klien.
Yang pertama belum membayar.
Yang kedua mengatakan invoice mereka sudah diproses.
“Ke rekening yang mana?” tanyaku.
Staf keuangan mereka menyebut nama perusahaan.
PT Bima Karya Nusantara.
Dadaku terasa kosong.
Perusahaan itu bukan Dapur Sari.
Itu perusahaan kecil milik Bima yang selama ini kupikir hanya dipakai untuk proyek instalasi listriknya.
Sore itu aku pergi ke bank.
Aku membawa KTP dan salinan SHM.
Aku menyatakan secara tertulis bahwa aku tidak memberikan persetujuan penggunaan rumahku sebagai agunan.
Petugas menjelaskan pengajuan tidak akan dilanjutkan tanpa kehadiran dan tanda tanganku.
Aku tidak meminta bantuan ajaib.
Aku hanya memastikan satu pintu yang hampir dibuka atas namaku benar-benar kututup sendiri.
Setelah itu aku mengganti akses rekening usaha.
Password.
PIN.
Email pemulihan.
Nomor otorisasi transaksi.
Aku mengirim pesan ke semua pelanggan tetap:
Mulai hari ini seluruh pembayaran Dapur Sari hanya melalui rekening resmi atas nama Lestari Wulandari. Perubahan rekening harus dikonfirmasi langsung kepada saya.
Bima menelepon tujuh kali.
Aku tidak menjawab sampai malam.
Ketika akhirnya kuangkat, suaranya sudah penuh amarah.
“Kamu ke bank?”
“Iya.”
“Kamu tahu apa yang baru kamu lakukan?”
“Aku menghentikan penggunaan rumahku untuk utang yang tidak pernah kusetujui.”
“Kamu mempermalukan aku di depan keluarga.”
“Masalah ini tidak dimulai di bank.”
“Lestari, kamu nggak ngerti bisnis sebesar ini.”
Aku menatap halaman belakang rumahku, tempat dua orang staf sedang membersihkan panci.
“Mungkin. Tapi aku cukup mengerti bahwa orang yang memiliki rumah dan usaha seharusnya tahu kalau keduanya mau dijadikan bagian perusahaan baru.”
Ia diam.
Lalu suaranya menurun.
“Kita bicara di rumah.”
“Silakan.”
Setengah jam kemudian Rafi datang membawa selembar kertas.
“Bu,” katanya, “ini tadi dikirim bagian finance salah satu klien. Mereka bilang pembayaran sudah masuk minggu lalu.”
Nominalnya Rp96 juta.
Aku membaca nama penerima.
PT Bima Karya Nusantara.
Di bawahnya ada catatan:
Perubahan rekening atas instruksi Bapak Bima Prasetyo melalui WhatsApp.
Bukan hanya uang yang keluar dari Dapur Sari.
Bima juga sudah mulai mengalihkan uang yang seharusnya masuk.
Dan untuk pertama kalinya aku sadar, mungkin pinjaman Rp780 juta itu bukan awal rencananya.
Mungkin itu hanya langkah terakhir sebelum semuanya dipindahkan dari tanganku.
Saat itu aku tidak lagi ingin bertanya apakah Bima berbohong. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya sedang ia bangun menggunakan nama, pelanggan, dapur, dan rumahku. Bagian 3 adalah malam ketika semuanya akhirnya diletakkan di atas meja.
BAGIAN 3
Aku masih memegang bukti transfer Rp96 juta ketika suara pagar besi dibuka keras dari depan.
Rafi menoleh ke arah pintu dapur.
“Itu Pak Bima?”
Aku mengangguk.
“Pulang dulu, Fi.”
Ia tidak bergerak.
“Bu, kalau perlu saya di sini.”
“Tidak. Ini urusan rumah tangga.”
Aku berhenti sebentar.
“Besok datang lebih pagi. Pesanan Gedung Wanita tetap jalan.”
Rafi memandang wajahku beberapa detik, lalu mengangguk.
“Baik.”
Aku tidak ingin seluruh staf mendengar pertengkaranku.
Apa pun yang dilakukan Bima, aku masih punya satu hal yang tidak boleh ikut hancur malam itu.
Dapur Sari.
Setelah Rafi pergi, aku membawa laptop, print out proposal bank, daftar transaksi, dan bukti pembayaran Rp96 juta ke meja makan.
Meja itu sudah berada di rumah ini sejak sebelum aku menikah dengan Bima.
Ibuku membelinya dari toko furnitur bekas di Jalan Kertajaya ketika aku pertama kali pindah ke rumah ini.
Di meja itulah dulu aku belajar membuat perhitungan harga nasi kotak.
Di meja yang sama, bertahun-tahun kemudian, suamiku harus menjelaskan kenapa bisnis yang kubangun sedang diarahkan ke tempat lain.
Pintu depan dibuka.
Bima masuk tanpa melepas sepatu.
“Apa maksudmu mengganti akses rekening?”
Aku menunjuk kursi di seberangku.
“Duduk.”
“Aku nggak mau diperlakukan seperti pencuri di rumah sendiri.”
“Duduk dulu.”
Ia menatap dokumen di meja.
Wajahnya berubah.
Ia akhirnya menarik kursi.
“Kamu bongkar semua email?”
“Itu email Dapur Sari.”
“Sekarang semuanya harus pakai kata ‘punyaku’, ‘usahaku’, ‘rumahku’?”
Aku tidak menjawab tuduhan itu.
Aku mendorong bukti transfer Rp96 juta ke arahnya.
“Ini apa?”
Ia melihat sekilas.
“Pembayaran klien.”
“Kenapa masuk perusahaanmu?”
“Karena proyek itu akan masuk ke struktur baru.”
“Struktur yang belum pernah kusetujui.”
“Kita sudah bicara tentang pengembangan usaha.”
“Sekali lagi, Mas. Kita bicara menambah armada dan memperbesar dapur. Kita tidak pernah bicara memindahkan pembayaran pelanggan ke rekening perusahaanmu.”
Bima menyandarkan tubuh.
“Aku sebenarnya mau jelaskan setelah semuanya siap.”
Aku menatapnya.
“Setelah apa siap?”
“Konsepnya.”
“Pinjaman sudah diajukan.”
“Belum cair.”
“Pelanggan sudah dialihkan.”
“Itu sementara.”
“Rp124 juta keluar dari rekening.”
“Untuk kebutuhan persiapan.”
“Rumah sudah dimasukkan dalam proposal bank.”
Ia mulai kehilangan kesabaran.
“Dan bank tetap butuh tanda tanganmu. Jadi kenapa seolah-olah aku sudah menjual rumah diam-diam?”
Aku tidak langsung menjawab.
Dulu kalimat seperti itu mungkin membuatku mundur.
Karena memang secara teknis ia benar.
Bank belum mencairkan apa pun.
Rumah belum berpindah tangan.
Tidak ada tanda tanganku.
Tapi masalah kami bukan hanya perkara apa yang berhasil ia lakukan.
Masalahnya adalah apa yang ia coba lakukan sebelum aku tahu.
Aku membuka proposal.
“Kenapa namaku tidak ada di struktur perusahaan?”
Bima mengalihkan pandangan.
“Ada versi baru.”
“Yang ini dikirim ke bank tiga hari lalu.”
“Kamu nanti masuk.”
“Kapan?”
Ia tidak menjawab.
Aku membuka halaman lain.
“Bima Prasetyo lima puluh lima persen.”
Aku menggeser jari.
“Fajar dua puluh lima persen.”
Lalu bagian berikutnya.
“Rini dua puluh persen.”
Aku menatapnya.
“Lestari Wulandari?”
Ia menggosok dagunya.
“Kita suami istri.”
Jawaban itu membuatku tertawa.
Pelan sekali.
“Jadi kalau asetku dipakai, kita suami istri. Kalau saham dibagi, aku tidak perlu ada karena kita suami istri?”
“Jangan dipelintir.”
“Aku tidak memelintir apa pun. Ini tertulis.”
Ponsel Bima bergetar.
Ia melihat layar.
Aku mengenali nama Rini.
“Angkat,” kataku.
“Nanti.”
“Angkat.”
Ia menolak panggilan.
Kurang dari lima menit kemudian terdengar suara motor berhenti di depan.
Aku bahkan tidak terkejut ketika Rini masuk bersama Fajar.
Di belakang mereka ada Bu Hartini.
Bima langsung berdiri.
“Kenapa Ibu dibawa?”
Bu Hartini menjawab sendiri.
“Karena kalian dari siang bikin masalah keluarga ke mana-mana.”
Aku menahan napas.
Ada masa ketika satu kalimat dari mertuaku cukup untuk membuatku merasa bersalah.
Bu Hartini sudah tujuh puluh tiga tahun.
Sejak suaminya meninggal, aku ikut membayar obat darah tinggi dan biaya bulanan rumahnya. Aku tidak pernah merasa itu beban.
Yang menyakitkan justru karena kebaikan yang diberikan dengan rela sering kali pelan-pelan dianggap kewajiban.
Rini duduk di ujung meja.
Fajar tetap berdiri.
Tidak ada yang menyentuh toples kue kering di dekat dispenser.
Bu Hartini melihatku.
“Bima bilang kamu menolak pinjaman.”
“Benar.”
“Padahal itu untuk menolong Mbakmu.”
Aku ingin mengatakan, dia bukan kakakku.
Tapi kalimat itu hanya akan mengalihkan masalah.
“Bu, yang ditolak bukan menolong Mbak Rini. Yang kutolak adalah menjadikan rumahku jaminan tanpa bicara lebih dulu kepadaku.”
Bu Hartini menghela napas.
“Tapi toh akhirnya tetap harus tanda tangan kamu.”
Bima menoleh ke Ibunya seolah mendapat dukungan.
Aku menunjuk dokumen.
“Kalau sejak awal tahu aku harus setuju, kenapa semua perencanaan dilakukan seolah jawabanku pasti iya?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Rini menunduk.
Fajar menggeser berat tubuh dari satu kaki ke kaki lain.
Bima berkata, “Karena aku tahu kamu selalu takut ambil risiko.”
“Aku takut ambil risiko atas rumahku sendiri berarti kamu boleh memutuskan risikonya untukku?”
“Lihat, kan? Begini terus.”
Ia berdiri.
“Setiap kali aku mencoba membawa usaha ini naik kelas, kamu berpikirnya cuma bahaya.”
Aku ikut berdiri.
“Usaha ini sudah membayar gaji sebelas orang. Sudah membiayai kuliah anak kita. Sudah membantu Ibu tiap bulan. Kalau menurutmu itu belum ‘naik kelas’ hanya karena tidak punya utang Rp780 juta, mungkin kita memang melihat bisnis dengan cara berbeda.”
Bu Hartini langsung menyela.
“Jangan bawa Ibu.”
Aku menoleh kepadanya.
“Aku tidak sedang menghitung apa yang kuberikan, Bu. Aku menjelaskan bahwa aku bukan orang yang tidak mau membantu keluarga.”
“Kalau begitu bantu sekarang.”
Kalimat itu jatuh begitu sederhana.
Rini menutup mata.
“Bu, jangan.”
Tapi Bu Hartini sudah melanjutkan.
“Rini juga anak Ibu. Usahanya hampir tutup. Masa kalian punya rumah, punya katering, punya pelanggan, tapi saudara sendiri dibiarkan?”
Aku menarik kursi dan duduk kembali.
“Bu, kalau saya memberikan Rp20 juta karena saya mau, itu membantu.”
Aku menyentuh proposal di meja.
“Kalau orang lain merencanakan pinjaman Rp780 juta memakai rumah saya sebelum bertanya, itu bukan bantuan. Itu keputusan atas hidup saya.”
“Rumah itu kalian tempati bersama hampir dua puluh tahun,” kata Bu Hartini.
“Benar.”
“Bima juga keluar uang untuk renovasi.”
“Benar.”
Aku mengangguk.
“Aku tidak menghapus kontribusinya.”
Bima tersenyum tipis, seperti baru mendapat celah.
“Nah.”
“Tapi kontribusi bukan izin untuk mengambil keputusan tanpa pemiliknya.”
Senyumnya hilang.
Rini akhirnya bicara.
“Tari, aku minta maaf.”
Bima langsung menoleh.
“Mbak.”
“Aku minta maaf karena aku seharusnya tanya langsung ke dia.”
Rini memandangku.
“Aku memang menerima Rp74 juta. Sebagiannya buat membayar cicilan ruko, sebagian buat vendor. Bima bilang itu uang investasi tahap pertama.”
Aku melihat Bima.
“Rp74 juta.”
Rini mengangguk.
“Yang masuk ke aku segitu.”
Aku mengambil catatanku.
“Dari rekening Dapur Sari keluar Rp124 juta ke CV Sinar Ayu.”
Rini menatap adiknya.
“Mas, sisanya ke mana?”
Bima mengeraskan rahang.
“Untuk persiapan perusahaan.”
“Persiapan apa?” tanyaku.
Ia tidak menjawab.
Fajar yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata, “Om sudah sewa gudang kecil.”
Semua orang menoleh kepadanya.
Bima berdiri begitu cepat sampai kursinya bergeser.
“Jar.”
“Apa?” Fajar membalas. “Tante sudah tahu setengahnya.”
Aku menatap Fajar.
“Gudang apa?”
Fajar menarik napas.
“Di Waru.”
“Untuk apa?”
“Katanya nanti barang dekorasi sama perlengkapan katering disimpan di sana. Om juga sudah bicara sama dua vendor.”
Aku menoleh kepada Bima.
“Pakai uang siapa?”
Ia memukul ringan meja dengan telapak tangan.
“Jangan interogasi semua orang satu-satu.”
Aku tidak meninggikan suara.
“Aku tanya kamu.”
“Uang operasional.”
“Uang Dapur Sari?”
“Sebagian.”
Aku membuka transaksi lain.
Sekarang semuanya menjadi jelas.
Rp124 juta yang kukira seluruhnya mengalir ke Rini ternyata tidak.
Rp74 juta memang masuk ke sana.
Sekitar Rp50 juta lainnya diputar melalui rekening usahanya, lalu dipakai Bima untuk biaya gudang, uang muka rak, pembuatan badan usaha, dan beberapa pengeluaran awal.
Kemudian ada Rp96 juta pembayaran pelanggan yang dialihkan langsung ke PT Bima Karya Nusantara.
Total uang yang sudah keluar dari jalur normal Dapur Sari mencapai Rp170 juta.
Belum termasuk invoice vendor yang tertunda.
Aku memandang suamiku.
“Berapa lama?”
Ia tidak mengerti atau berpura-pura tidak mengerti.
“Berapa lama kamu sudah merencanakan ini?”
“Beberapa bulan.”
“Berapa?”
“Enam.”
Enam bulan.
Aku teringat pemasok tepung menelepon.
Rekening baru.
Password yang berubah.
Invoice yang tidak lagi masuk ke emailku.
Pertanyaan Fajar tentang luas tanah.
Cara Bima beberapa kali mengatakan Dapur Sari sedang “kurang sehat” padahal pesanan justru meningkat.
Tiba-tiba aku tahu kenapa.
“Kamu sengaja membuat arus kas Dapur Sari terlihat jelek.”
“Jangan asal tuduh.”
“Uang pelanggan dialihkan. Vendor tidak dibayar tepat waktu. Lalu kamu datang dengan solusi berupa pinjaman.”
“Aku mengatur cash flow.”
“Supaya aku merasa usaha kita membutuhkan modal besar?”
Bima tidak menjawab.
Itu jawaban paling jelas malam itu.
Aku menatap orang yang telah tidur di sampingku hampir dua puluh tahun.
Bukan orang asing.
Itulah bagian yang paling sulit.
Kalau ia orang asing, aku hanya perlu marah.
Tapi Bima adalah orang yang mengantarku ke rumah sakit ketika kakiku terkilir.
Orang yang dulu menjemput Dinda dari sekolah kalau aku sibuk.
Orang yang membantuku mengecat dapur produksi sampai jam dua pagi.
Orang yang pada suatu masa benar-benar percaya pada usaha kecilku.
Mungkin justru karena itu pengkhianatan terasa begitu rumit.
Manusia jarang berubah menjadi jahat dalam satu malam.
Kadang mereka hanya mulai merasa kontribusinya memberi mereka hak yang tidak pernah diberikan.
“Apa rencana akhirnya?” tanyaku.
Bima terlihat lelah.
“Sudah kubilang. Kita bikin usaha keluarga yang lebih besar.”
“Kenapa sahamku nol?”
“Kamu istriku.”
“Jawab.”
“Mudah nanti ditambahkan.”
“Kenapa pelanggan Dapur Sari membayar ke perusahaanmu?”
“Supaya omzet badan usaha baru terbentuk.”
“Kenapa tanpa izin?”
Ia mengusap wajah kasar.
“Karena kalau aku bicara dari awal, kamu pasti menolak sebelum mencoba.”
Kalimat itu membuat seluruh ruangan seperti mengecil.
Aku akhirnya mendapat jawaban yang paling jujur.
Bukan karena lupa.
Bukan karena salah komunikasi.
Bukan karena ia belum sempat menjelaskan.
Ia memang sengaja tidak memberitahuku karena tahu aku mungkin akan berkata tidak.
Aku mengangguk perlahan.
“Jadi kamu mengambil hakku untuk berkata tidak.”
“Dramatis sekali.”
Aku menatapnya.
“Mas, rumah ini atas namaku. Usaha ini kubangun sebelum kamu ikut mengelola. Pelanggannya datang karena bertahun-tahun aku menjaga kualitas. Dan karena kamu takut aku menolak, kamu memilih membuat keputusan dulu supaya nanti aku tinggal ikut.”
“Aku suamimu.”
“Justru itu.”
Suaraku pecah sedikit untuk pertama kalinya.
“Kalau orang lain melakukan ini, aku tahu harus berbuat apa. Yang membuatku terlambat menyadari semuanya adalah karena yang melakukan kamu.”
Tidak ada yang berbicara.
Bima duduk lagi.
Untuk beberapa detik wajahnya kehilangan kemarahan.
“Lestari,” katanya lebih pelan, “aku juga membangun Dapur Sari.”
“Aku tahu.”
“Aku pegang keuangan saat kamu nggak sanggup pegang semuanya.”
“Aku tahu.”
“Aku cari vendor. Aku negosiasi mobil. Aku bantu pelanggan perusahaan.”
“Aku tahu.”
“Jadi jangan seolah aku cuma numpang.”
Aku menarik napas.
“Aku tidak pernah bilang kamu numpang.”
“Sekarang semuanya ‘rumahku, usahaku, uangku’.”
“Karena selama bertahun-tahun aku terlalu jarang mengucapkan batasnya.”
Aku memandang satu per satu orang di meja.
“Dan itu kesalahanku.”
Bu Hartini menatapku seolah tidak mengerti.
“Aku terlalu takut dianggap pelit. Terlalu takut dianggap menantu yang hitung-hitungan. Terlalu takut rumah tangga ribut kalau aku tanya rekening terlalu banyak.”
Aku tersenyum hambar.
“Jadi setiap kali ada yang bilang ‘demi keluarga’, aku mundur satu langkah.”
Aku menatap Bima lagi.
“Masalahnya, kalian terus maju.”
Rini menunduk.
Bu Hartini diam.
Bima berkata, “Jadi sekarang maumu apa?”
Itulah saat ketika semuanya berubah.
Bukan ketika bank menelepon.
Bukan ketika aku melihat proposal.
Bukan ketika kutahu tentang Rp96 juta.
Perubahannya terjadi saat aku sadar aku tidak lagi perlu menunggu orang lain mengerti kenapa aku terluka sebelum aku membuat keputusan.
Aku mengambil selembar kertas kosong dari map.
“Mulai malam ini, kamu tidak lagi mengurus keuangan Dapur Sari.”
Bima langsung tertawa pendek.
“Serius?”
“Serius.”
“Kamu pikir bisa jalan sendiri?”
“Aku sudah pernah menjalankannya sendiri.”
“Dulu skalanya kecil.”
“Kalau perlu aku belajar lagi.”
Ia menyandarkan tubuh.
“Terus?”
“Semua pelanggan kembali membayar ke rekening resmi. Besok aku kirim pemberitahuan ulang.”
Aku menunjuk bukti Rp96 juta.
“Uang ini harus kembali.”
“Sudah dipakai sebagian.”
“Berapa yang masih ada?”
“Sekitar Rp42 juta.”
“Transfer besok.”
“Lalu sisanya?”
“Kita buat jadwal pengembalian tertulis.”
Wajahnya mengeras.
“Kamu mau bikin perjanjian sama suami sendiri?”
“Setelah ini, iya.”
Bu Hartini segera berkata, “Tari, jangan keterlaluan.”
Aku menatapnya.
“Justru karena selama ini tidak tertulis, semua orang merasa boleh menafsirkan bantuan sesuka hati.”
Aku menoleh ke Rini.
“Untuk Rp74 juta yang kamu terima, aku tidak minta langsung kembali semua.”
Rini mengangkat wajah.
“Tapi itu utang, bukan investasi. Kita buat cicilan sesuai kemampuanmu.”
Ia mengangguk perlahan.
“Aku sanggup Rp3 juta sebulan dulu.”
“Baik.”
Bima memotong.
“Jangan paksa Mbak Rini. Kondisinya lagi susah.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak meminta rumahnya dijual.”
Rini justru menyentuh lengan adiknya.
“Sudah, Bim.”
Ia menatapku.
“Aku yang terima uangnya. Aku yang bayar.”
Untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa Rini dan aku berdiri pada sisi persoalan yang sama.
Bukan karena ia tidak bersalah.
Ia tetap menerima uang tanpa bertanya kepadaku.
Tetapi setidaknya ia berhenti bersembunyi di balik kata keluarga.
Aku kembali kepada Bima.
“Pengajuan bank berhenti.”
“Sudah.”
“Gudang Waru?”
Ia diam.
“Batalkan kalau masih bisa. Kalau ada kerugian dari uang yang kamu pakai tanpa izin, itu tanggung jawabmu.”
Ia menatapku tajam.
“Enak sekali ngomongnya.”
“Memang tidak enak.”
Aku mengangguk.
“Malam ini tidak ada yang enak.”
Lalu aku mengatakan bagian paling sulit.
“Dan untuk sementara, aku ingin kamu tinggal di tempat lain.”
Bu Hartini langsung berdiri.
“Astaghfirullah.”
Bima tidak bergerak.
“Kamu mengusir aku?”
“Aku minta ruang.”
“Dari rumah yang aku tempati sembilan belas tahun?”
“Ya.”
Ia menatapku lama.
Aku menahan tanganku agar tidak meremas ujung taplak.
Aku masih takut.
Orang mungkin mengira setelah memutuskan sesuatu dengan tegas, rasa takut langsung hilang.
Tidak.
Aku takut pernikahanku berakhir.
Takut Dinda marah.
Takut keluarga besar membicarakanku.
Takut usaha berantakan tanpa Bima.
Takut salah.
Tapi untuk pertama kalinya, rasa takut itu tidak otomatis berubah menjadi kata iya.
Bima berdiri.
“Baik.”
Ia masuk kamar.
Lima belas menit kemudian keluar membawa tas olahraga berisi beberapa pakaian.
Di pintu, ia berhenti.
“Kamu akan menyesal membuat semuanya sebesar ini.”
Aku memandangnya.
“Masalahnya sudah besar jauh sebelum aku mulai bertanya.”
Ia pergi.
Bu Hartini mengikuti sambil menangis kecil.
Rini dan Fajar tinggal beberapa menit lebih lama.
Sebelum pulang, Fajar berdiri dekat pintu dapur.
“Tante.”
Aku menoleh.
“Sebenarnya aku pernah tanya Om dua kali apakah Tante sudah setuju.”
Aku teringat pertanyaannya tentang luas tanah.
“Terus?”
“Om bilang, ‘Tante Lestari nanti ikut saja kalau semuanya sudah jalan.’”
Fajar terlihat malu.
“Aku seharusnya ngerti itu aneh.”
Aku mengangguk.
“Kamu juga harus belajar satu hal.”
“Apa?”
“Kalau sebuah rencana bisnis menggunakan barang milik seseorang, pastikan orang itu ada di ruangan ketika keputusan dibuat.”
Ia menunduk.
“Iya.”
Malam itu aku tidur sendiri.
Tidak nyenyak.
Pukul empat pagi aku sudah bangun.
Pukul lima kurang sepuluh, aku masuk dapur dan menemukan dua staf sudah datang.
Pesanan delapan ratus porsi tidak peduli rumah tanggaku sedang retak.
Ayam tetap harus dimarinasi.
Sambal tetap harus dibuat.
Beras tetap harus datang.
Pemasok ayam mengirim pesan:
Bu, DP Rp42 juta hari ini ya supaya stok saya tahan.
Biasanya Bima yang mengurus.
Aku membuka rekening operasional.
Saldo yang tersedia tidak cukup karena arus kas sudah kacau.
Untuk beberapa menit aku duduk di kursi plastik dekat rak bumbu.
Di sinilah harga dari keputusanku mulai terasa.
Aku bisa membatalkan pesanan.
Mengembalikan uang muka pelanggan.
Menjelaskan ada masalah internal.
Tapi reputasi Dapur Sari akan ikut menanggung kesalahan Bima.
Aku membuka rekening pribadiku.
Ada tabungan darurat Rp67 juta yang selama bertahun-tahun kusimpan terpisah.
Bima tahu rekening itu ada, tapi tidak punya akses.
Dulu Ibu selalu berkata, “Perempuan boleh percaya suami, tapi jangan sampai tidak tahu ke mana harus melangkah kalau suatu hari keadaan berubah.”
Aku sering menganggap kalimat itu terlalu kuno.
Pagi itu aku mentransfer Rp42 juta ke pemasok.
Tabungan daruratku berkurang hampir dua pertiga.
Aku merasa sakit ketika menekan tombol konfirmasi.
Bukan karena menyesal menghentikan Bima.
Karena ternyata melindungi batas pribadi juga ada harganya.
Rafi datang pukul lima lewat dua puluh.
“Ayam aman?”
“Aman.”
“Bumbu?”
“Masuk jam tujuh.”
Ia melihat wajahku.
“Pak Bima?”
“Sudah tidak pegang operasional.”
Rafi tidak bertanya lagi.
“Baik. Hari ini saya pegang loading.”
Hari itu kami bekerja hampir delapan belas jam.
Tidak ada pidato kemenangan.
Tidak ada orang datang menyelamatkan usahaku.
Ada sambal yang terlalu asin dan harus diperbaiki.
Ada dua belas kotak dessert yang tutupnya kurang.
Ada mobil pengiriman kedua yang terlambat karena ban bocor.
Ada staf baru yang salah menghitung sendok.
Aku mondar-mandir dari dapur ke meja administrasi dengan rambut berantakan dan kaus yang terkena noda kunyit.
Tapi pukul lima sore, delapan ratus porsi sudah tiba di gedung.
Pukul delapan malam, pihak keluarga pengantin mengirim pesan:
Terima kasih Bu Lestari, makanannya habis dan tamu banyak yang suka.
Aku membaca pesan itu sambil duduk di lantai dapur.
Aku menangis.
Bukan keras.
Hanya beberapa menit.
Rafi pura-pura sibuk memeriksa termos nasi.
Seminggu setelah itu, aku menyisir semua rekening Dapur Sari sendiri.
Aku tidak menemukan harta rahasia.
Tidak menemukan jumlah miliaran.
Tidak menemukan kehidupan ganda.
Yang kutemukan justru lebih biasa dan karena itu lebih menakutkan.
Selama enam bulan, Bima membangun sebuah sistem berdasarkan keyakinan bahwa aku akhirnya akan mengalah.
Ia mengalihkan sebagian pembayaran.
Menunda vendor.
Membuat kondisi kas terlihat lemah.
Membayar persiapan usaha baru.
Membantu utang kakaknya.
Membuat proposal pinjaman.
Semua dilakukan sedikit demi sedikit.
Tidak ada satu transaksi yang cukup besar untuk membuatku langsung panik.
Itulah sebabnya aku terlambat menyadari.
Batas jarang dihancurkan dalam satu pukulan.
Lebih sering ia digeser dua sentimeter setiap minggu sampai suatu hari kita baru sadar berdiri jauh dari tempat semula.
Dua minggu kemudian, Bima datang ke rumah.
Ia terlihat lebih kurus.
Kami duduk di teras.
Tidak ada Rini.
Tidak ada Ibu.
Tidak ada anak.
Hanya kami berdua.
“Aku sudah transfer Rp42 juta,” katanya.
“Aku lihat.”
“Gudang batal.”
“Kerugiannya?”
“Sekitar Rp11 juta.”
Aku tidak berkata apa-apa.
“Itu aku tanggung.”
Aku mengangguk.
Ia menatap halaman.
“Aku salah.”
Kalimat itu seharusnya membuatku lega.
Anehnya, tidak.
Mungkin karena aku terlalu lama menunggu sampai ia bisa mengucapkannya tanpa tambahan kata tapi.
Lalu ia memang menambahkan sesuatu.
“Tapi aku tetap merasa caramu memperlakukan aku malam itu keterlaluan.”
Aku menutup mata sebentar.
“Ini yang membuat kita belum bisa kembali.”
“Aku sudah bilang aku salah.”
“Masih ada ‘tapi’.”
“Apa aku harus menganggap semua yang kulakukan selama sembilan belas tahun nggak ada artinya?”
“Tidak.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak pernah bilang begitu.”
“Lalu kenapa seolah aku penipu?”
“Karena selama enam bulan kamu melakukan sesuatu yang membutuhkan persetujuanku tanpa memberiku kesempatan untuk setuju atau menolak.”
“Aku pikir nanti kalau kamu lihat hasilnya…”
Aku tersenyum tipis.
“Nah.”
Ia berhenti.
Aku melanjutkan.
“Kamu masih membicarakan hasil. Aku membicarakan hak memilih.”
Bima menunduk.
Itulah masalah terbesar kami.
Ia benar-benar percaya niat baik bisa menghapus cara yang salah.
Aku tidak lagi percaya begitu.
Kami mencoba berbicara beberapa kali selama dua bulan berikutnya.
Kadang tenang.
Kadang berakhir dengan marah.
Dinda, anak kami yang saat itu berusia dua puluh tiga tahun, akhirnya tahu.
Aku tidak menceritakan semuanya pada hari pertama.
Aku tidak ingin menjadikannya hakim.
Namun suatu sore ia datang ke rumah setelah bertemu ayahnya.
“Ma,” katanya, “Ayah bilang Mama sekarang nggak percaya siapa-siapa.”
Aku sedang menempel label pada kotak katering.
Aku berhenti.
“Menurutmu begitu?”
Dinda duduk.
“Nggak.”
Ia menatap meja.
“Tapi aku sedih.”
“Aku juga.”
“Papa jahat?”
Pertanyaan itu membuatku diam cukup lama.
“Papa bukan orang jahat.”
“Terus?”
“Papa melakukan hal yang salah cukup lama sampai akibatnya besar.”
Dinda mengangguk pelan.
“Berarti aku boleh tetap sayang Papa?”
Aku meletakkan label.
“Harusnya kamu nggak perlu tanya itu.”
Matanya berkaca-kaca.
Aku memegang tangannya.
“Masalah pernikahan kami bukan tugasmu.”
Aku tahu sumber referensi hidup banyak orang sering membuat anak harus memilih.
Aku tidak mau melakukan itu.
Empat bulan setelah telepon bank pertama, Rini masih membayar Rp3 juta per bulan.
Ia menutup salah satu titik penyewaan yang paling banyak menelan biaya.
Tidak mudah.
Kadang transfernya terlambat beberapa hari.
Tapi ia selalu memberi tahu.
Hubungan kami tidak kembali seperti dulu, tetapi anehnya menjadi lebih jujur.
Suatu hari ia datang mengantar kebaya yang salah satu resletingnya rusak.
Kami minum teh di teras.
“Aku marah sama kamu waktu itu,” katanya.
“Aku tahu.”
“Aku pikir kamu tega membiarkan usahaku mati.”
Aku menatapnya.
“Sekarang?”
Rini tersenyum pahit.
“Sekarang aku tahu aku juga terlalu terbiasa berpikir kalau keluarga yang lebih mampu pasti harus menutup lubang.”
Aku tidak menjawab.
Ia melihat ke halaman.
“Aku nggak akan minta kamu percaya lagi sekarang.”
“Bagus.”
Ia tertawa kecil.
“Galak sekali.”
“Aku sedang belajar.”
Bu Hartini membutuhkan waktu lebih lama.
Selama hampir dua bulan ia tidak meneleponku.
Aku tetap mengirim Rp2 juta per bulan khusus untuk obat dan kebutuhan rutinnya, jumlah yang memang sudah kami sepakati jauh sebelum masalah ini.
Tidak lebih.
Tidak ada lagi permintaan tambahan mendadak melalui Bima.
Kalau ada biaya dokter, Rini mengirim foto tagihan dan kami bagi sesuai kemampuan.
Awalnya Bu Hartini tersinggung.
“Sekarang semua harus pakai bukti?”
Aku menjawab, “Supaya tidak ada lagi salah paham.”
Ia tidak suka.
Tapi lama-lama ia berhenti berdebat.
Enam bulan setelah malam di meja makan itu, aku dan Bima akhirnya membuat keputusan yang paling berat.
Kami tidak kembali tinggal bersama.
Kami sudah mencoba berbicara.
Sudah mencoba bertemu tanpa keluarga besar.
Sudah mencoba mencari titik di mana kepercayaan itu bisa dibangun ulang.
Bima memang mengembalikan sebagian besar uang yang masih berada di perusahaannya dan mencicil sisanya.
Ia mengakui bahwa rencana perusahaan baru tidak seharusnya dibuat tanpa aku.
Tapi ada satu hal yang terus muncul setiap kali kami membahas masa depan.
Ia masih merasa aku seharusnya memahami kenapa ia melakukannya.
Aku tidak lagi mau membangun pernikahan di atas kalimat itu.
Akhirnya aku mengajukan perceraian.
Tidak ada adegan besar.
Tidak ada orang dilempar keluar rumah.
Tidak ada keluarga besar berkumpul untuk menyaksikan.
Hanya dua orang dewasa yang duduk berhadapan dan mengakui bahwa kadang cinta saja tidak cukup kalau satu orang merasa berhak memilihkan risiko untuk yang lain.
Saat aku memberi tahu Bu Hartini, ia menangis.
“Kamu benar-benar mau pisah?”
“Iya, Bu.”
“Setelah selama ini?”
“Justru karena selama ini.”
Ia lama diam.
Kemudian berkata sesuatu yang tidak pernah kuduga.
“Ibu mungkin terlalu sering bilang Bima harus bantu kakaknya.”
Aku tidak menjawab.
“Ibu pikir kalau dia berhasil, semua anak Ibu akan aman.”
Suaranya lebih kecil.
“Ibu nggak pernah bilang dia boleh pakai rumahmu.”
Itu bukan permintaan maaf sempurna.
Tapi hidup jarang memberi kita kalimat yang sempurna.
Aku menerimanya sebatas yang bisa kuterima.
Dapur Sari perlahan pulih.
Aku merekrut staf administrasi paruh waktu khusus pembukuan dan membuat aturan yang dulu menurutku terlalu kaku.
Setiap pembayaran memiliki dua catatan.
Semua rekening hanya bisa diakses olehku.
Rafi bisa melihat laporan operasional, tetapi tidak bisa memindahkan uang.
Perubahan rekening pelanggan harus dikonfirmasi tertulis.
Tidak ada uang usaha untuk pinjaman keluarga.
Kalau aku membantu saudara, uang itu keluar dari rekening pribadiku dengan jumlah yang sudah kutentukan.
Beberapa orang menganggap aku berubah.
Mungkin memang.
Dulu aku ingin dikenal sebagai orang yang mudah mengerti.
Sekarang aku lebih ingin menjadi orang yang jelas.
Setahun kemudian, suatu pagi sebelum pukul enam, aku membuka pagar rumah.
Suara besi bergeser terdengar sampai dapur.
Motor pemasok sayur berhenti di bawah kanopi.
Dua staf datang sambil membawa nasi bungkus untuk sarapan.
Di meja makan, ada daftar pesanan baru untuk acara ulang tahun kantor sebanyak seribu dua ratus porsi.
Aku duduk dengan secangkir teh.
Di sebelah laptop ada map cokelat.
Di dalamnya tersimpan salinan SHM rumah.
Bukan karena aku takut seseorang akan mengambilnya lagi.
Aku hanya akhirnya mengerti bahwa menjaga sesuatu bukan berarti kita mencintai keluarga lebih sedikit.
Ponselku berbunyi.
Grup WhatsApp keluarga Bima.
Bu Hartini mengirim foto hasil kontrol dokter.
Rini menulis bahwa ia akan mengambil obat sore nanti.
Bima hanya memberi tanda jempol.
Dulu, notifikasi dari grup itu sering membuatku tegang.
Aku selalu bertanya-tanya siapa yang membutuhkan uang, siapa yang sedang kecewa, dan permintaan apa yang harus kupenuhi supaya tidak dianggap tidak peduli.
Pagi itu aku membaca pesannya.
Lalu meletakkan ponsel terbalik di atas meja.
Tidak ada rasa bersalah.
Tidak ada kebutuhan untuk langsung menjawab.
Aku mengambil pulpen dan kembali menghitung kebutuhan beras untuk pesanan berikutnya.
Rumah itu masih sama.
Meja makannya masih sama.
Pagar besinya masih berbunyi keras setiap pagi.
Yang berubah adalah orang yang duduk di dalamnya.
Aku masih membantu keluarga.
Aku masih percaya orang.
Aku masih bisa memaafkan.
Tapi sekarang aku tahu satu hal yang seharusnya kupahami jauh lebih awal.
Kebaikan tidak membutuhkan kita kehilangan hak untuk berkata tidak.
Dan keluarga yang benar-benar menghargai kita akan belajar hidup dengan jawaban itu.
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini sampai akhir. Semoga kamu dan keluargamu selalu diberi kesehatan, ketenangan, rezeki yang cukup, dan hubungan yang saling menghargai. Kalau kamu berada di posisiku, apakah kamu masih akan mencoba mempertahankan pernikahan setelah kepercayaan seperti itu dilanggar, atau mengambil keputusan yang sama? Aku ingin membaca pendapatmu. Kalau cerita ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, kamu boleh membagikannya kepada orang lain yang mungkin perlu mengingat bahwa membantu keluarga tetap membutuhkan batas.
