Bagian 2
Tidak ada seorang pun langsung bicara.
Aku bahkan sempat mengira aku salah mendengar bagian terakhir.
“Apa maksudnya ‘semua yang disimpan’?” tanyaku.
Rian lebih cepat.
“Ya. Apa?”
Pak Adrian meletakkan surat sebentar.
“Pak Yakob memiliki sebidang tanah warisan keluarga di Kabupaten Semarang. Tanah itu bertahun-tahun tidak bisa dijual karena persoalan batas dengan kerabat.”
Rian menggeser tubuhnya.
“Aku tahu tanah itu. Tanah kecil.”

Pak Adrian menoleh kepadanya.
“Dulu memang nilainya tidak besar.”
Ia membuka dokumen lain.
“Masalah batasnya selesai sekitar tiga bulan lalu. Dua belas hari sebelum Pak Yakob meninggal, transaksi penjualan selesai.”
Aku menatap angka pada dokumen yang ia letakkan di meja.
Rp960 juta.
Mulutku kering.
“Bapak punya uang sebanyak itu?”
“Baru dua belas hari sebelum beliau meninggal,” jawab Pak Adrian. “Setelah pajak dan biaya yang berkaitan dengan transaksi, jumlah bersihnya lebih kecil. Dana tersebut masih tercatat sebagai bagian dari harta almarhum dan akan diproses sesuai dokumen serta ketentuan hukum yang berlaku.”
Aku memandang Ellen.
Wajahnya sama bingungnya denganku.
“Kenapa dia tidak bilang?” tanyaku.
Pak Adrian membuka buku biru.
“Sepertinya alasan itu ada di sini.”
Halaman pertama tidak berisi daftar kekayaan.
Isinya tanggal.
Dua puluh tahun lalu.
Di sampingnya ada tulisan tangan Pak Yakob.
Martin membeli ranjang lipat agar aku bisa tinggal. Ellen bilang uang bulan itu sempit.
Halaman berikutnya.
Martin membayar dokter. Jangan lupa.
Lalu:
Sinta butuh sepatu sekolah. Martin tetap membeli obatku.
Dan:
Pikap dijual. Operasi mata. Aku tidak boleh melupakan ini.
Aku menutup buku itu.
“Cukup.”
Suaraku terdengar lebih kasar daripada yang kumaksud.
Ellen memegang lenganku.
Aku berdiri.
Selama bertahun-tahun aku mengira Pak Yakob tidak melihat.
Ternyata ia melihat semuanya.
Itu justru membuatku lebih sakit.
Rian bersandar.
“Baik. Bapak mencatat. Terus apa hubungannya dengan warisan?”
Pak Adrian membuka surat lagi.
Ia membaca beberapa kalimat.
Pak Yakob menulis bahwa selama hampir seluruh dua puluh tahun itu, ia memang tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk menghidupi dirinya sendiri.
Tanah tersebut belum bisa dijual.
Tabungannya telah lama habis.
Ia tahu Martin sering kesal.
Ia juga tahu Martin tidak pernah mengusirnya.
Lalu ada satu kalimat yang membuatku kembali duduk.
Uang ini datang sangat terlambat. Kalau datang dua puluh tahun lalu, mungkin aku tidak perlu melihatmu menjual mobilmu untuk mataku.
Dadaku terasa sesak.
Jadi bukan selama dua puluh tahun ia duduk di atas kekayaan diam-diam.
Uang itu memang baru ada.
Pak Adrian melanjutkan.
“Beliau membuat wasiat di hadapan notaris. Tidak semua harta bisa begitu saja dialihkan sesuka hati karena ada hak ahli waris yang harus diperhitungkan. Dokumennya disusun dengan mempertimbangkan itu.”
Rian langsung bertanya, “Jadi kami tetap ahli waris?”
“Proses pembagiannya tetap harus dilakukan secara sah.”
“Lalu Martin dapat apa?”
Pak Adrian menatapku, bukan Rian.
“Pak Yakob memberikan bagian yang secara hukum dapat beliau tetapkan kepada Pak Martin. Ada juga beberapa barang pribadi yang disebut secara khusus.”
Aku tidak merasa lega.
Aku justru marah.
“Kenapa saya?”
Pak Adrian menutup map sebentar.
“Karena menurut beliau, anak-anaknya datang ketika punya waktu. Anda memberinya waktu bahkan ketika Anda tidak punya.”
Rian berdiri.
“Itu keterlaluan.”
Ellen menoleh.
“Yang mana?”
“Bapak membuat kami seperti anak durhaka.”
“Adrian cuma membaca surat.”
“Karena Martin tinggal serumah, ya jelas Martin yang bayar ini-itu.”
Aku melihat buku biru.
Dua puluh tahun.
Semua tanggal itu.
Lalu Pak Adrian mengeluarkan satu lembar lain.
“Sebenarnya ada hal lain yang perlu dibicarakan.”
Rian diam.
Pak Adrian meletakkan fotokopi sebuah surat kuasa di meja.
Bagian tanda tangan Pak Yakob masih kosong.
“Apa ini?” tanya Dewi.
“Dokumen yang dibawa seseorang kepada Pak Yakob sekitar delapan bulan lalu, ketika mulai terdengar bahwa sengketa tanah akan selesai.”
Pak Adrian menunjuk bagian bawah.
Nama pihak yang diberi kuasa tertulis jelas.
Rian Pranoto.
Rian langsung memerah.
“Itu cuma untuk bantu Bapak.”
Pak Adrian belum selesai.
Ia membalik halaman.
Pada bagian rekening tujuan hasil penjualan tanah, nomor yang tercantum bukan rekening Pak Yakob.
Itu rekening Rian.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Ellen adalah orang pertama yang memecah kesunyian.
“Rian?”
Kakaknya tidak menjawab.
Ia meraih surat kuasa itu, tetapi Pak Adrian menahannya.
“Mohon tidak diambil.”
“Ini fotokopi.”
“Betul. Tetap bagian dari berkas yang saya bawa.”
Rian menatap kami satu per satu.
“Jangan melihat aku seperti itu. Waktu itu Bapak sudah tua. Aku cuma mau bantu urus tanah.”
Dewi menunjuk lembar kedua.
“Kalau cuma bantu, kenapa uangnya masuk rekeningmu?”
“Karena lebih gampang.”
“Lebih gampang buat siapa?”
“Dewi, kamu tidak tahu urusannya.”
“Makanya aku tanya.”
Rian mendecakkan lidah.
Aku tidak ikut bicara.
Sesuatu dalam diriku masih tertinggal pada kalimat Pak Yakob tentang mobil pikap.
Selama bertahun-tahun aku pernah membayangkan banyak kemungkinan.
Bahwa ia tidak tahu kami kesulitan.
Bahwa ia terlalu tua untuk peduli.
Bahwa ia menganggap semua pengeluaran itu memang kewajiban menantunya.
Ternyata ia tahu.
Setiap nota apotek yang kubuang, sebagian ia simpan.
Setiap pengorbanan yang kukira tidak dilihat, ia catat.
Aku tidak tahu apakah itu membuat semuanya lebih baik atau justru lebih buruk.
Pak Adrian memasukkan kembali surat kuasa ke dalam map.
“Pak Yakob tidak menandatangani dokumen itu.”
“Ya karena aku tidak memaksa,” kata Rian cepat.
Pak Adrian memandangnya.
“Saya tidak mengatakan Anda memaksa.”
Rian terdiam.
“Tapi beliau datang menemui saya setelah menerima dokumen tersebut.”
Ellen menatap kakaknya.
“Kamu menemui Bapak tanpa bilang siapa-siapa?”
“Aku sering ketemu Bapak.”
Aku akhirnya menoleh.
“Kapan?”
Rian menatapku.
“Ya… beberapa kali.”
“Kamu datang ke rumah ini?”
“Tidak selalu.”
“Di mana?”
“Warung. Kadang aku jemput.”
Aku langsung mengingat beberapa Sabtu ketika Pak Yakob mengatakan ingin keluar sebentar.
Biasanya ia bilang bertemu teman lama.
Aku tidak pernah bertanya lebih jauh.
“Delapan bulan?” tanyaku.
Rian menarik napas.
“Martin, tanah itu urusan keluarga kami.”
Kalimat itu mengenai sesuatu dalam diriku.
Keluarga kami.
Selama dua puluh tahun ketika ada obat, beras, operasi mata, kamar, listrik, atau rumah sakit, Pak Yakob adalah urusanku juga.
Ketika tanah mulai bernilai hampir satu miliar rupiah, tiba-tiba aku kembali menjadi menantu.
Aku tidak marah dengan cara biasanya.
Tidak ada suara keras.
Aku hanya bertanya,
“Kalau itu urusan keluarga kalian, dua puluh tahun kemarin Bapak urusan siapa?”
Rian membuka mulut.
Tidak ada jawaban yang keluar.
Dewi menunduk.
Ellen menggenggam ujung meja.
Rian akhirnya berkata, “Jangan hitung-hitungan sama orang tua.”
Aku hampir tertawa.
“Bukan aku yang menyimpan buku dua puluh tahun.”
Pak Adrian menarik kursinya sedikit.
“Saya rasa kita perlu kembali ke dokumen utama.”
Ia menjelaskan dengan kalimat yang sengaja dibuat sederhana.
Hasil penjualan tanah tidak otomatis menjadi milikku.
Pak Yakob tetap memiliki anak-anak yang punya hak sebagai ahli waris.
Ada proses administrasi yang harus dijalankan bersama notaris, termasuk pemeriksaan dokumen keluarga, kewajiban yang mungkin masih ada, dan pembagian sesuai ketentuan yang berlaku.
Wasiat Pak Yakob memberiku bagian tertentu yang boleh ia tetapkan untuk orang lain.
Bukan seluruh Rp960 juta.
Tidak ada koper uang yang bisa kubawa pulang siang itu.
Tidak ada adegan ajaib di mana seorang advokat menyerahkan kunci rumah mewah kepadaku.
Justru yang ada adalah beberapa bulan dokumen, tanda tangan, pemeriksaan, dan kemungkinan perselisihan kalau salah satu ahli waris menggugat.
Anehnya, penjelasan itu membuatku sedikit lebih tenang.
Aku tidak ingin menjadi kaya karena kematian Pak Yakob.
Aku bahkan belum yakin ingin menerima apa pun.
“Kalau saya menolak bagian saya?” tanyaku.
Ellen langsung menoleh.
Pak Adrian menjawab, “Itu keputusan yang bisa dibicarakan nanti. Tidak perlu diputuskan hari ini.”
Rian menyandarkan punggung.
“Nah. Kalau Martin memang tidak mengejar uang, ya sudah.”
Aku melihatnya.
Ia berhenti bicara.
Dewi mengusap wajah.
“Aku malu.”
Rian menoleh tajam.
“Kenapa kamu malu?”
“Karena aku mungkin datang sebulan sekali. Kadang dua bulan sekali. Tapi kalau cerita ke orang, aku selalu bilang Bapak tinggal bersama Ellen karena beliau memang lebih dekat sama Ellen.”
Ellen tersenyum pahit.
“Lebih dekat?”
Dewi menangis.
“Maaf.”
Tidak ada yang menjawab beberapa saat.
Pak Adrian kemudian berkata ada bagian lain dari surat yang menurut Pak Yakob tidak harus dibacakan keras-keras.
Amplopnya diserahkan kepadaku.
“Khusus untuk Bapak.”
Aku menerimanya.
Tanganku gemetar sedikit.
Rian memandang amplop itu.
“Apa lagi isinya?”
Aku memasukkannya ke dalam saku.
“Namaku yang tertulis.”
Rian menahan tatapanku beberapa detik.
Untuk pertama kalinya selama aku mengenalnya, ia tidak punya komentar.
Pertemuan itu berakhir tanpa keputusan.
Pak Adrian meninggalkan salinan daftar dokumen yang boleh kami pegang dan membawa kembali berkas utama.
Rian keluar lebih dulu.
Di depan pintu ia berhenti.
“Ellen.”
Istriku tidak bergerak.
“Jangan ikut terbawa emosi Martin.”
Ellen menatap kakaknya.
“Emosi apa?”
“Bapak sudah meninggal. Jangan sampai warisan bikin keluarga pecah.”
Aku masih duduk di meja.
Ironis sekali mendengar kalimat itu dari orang yang delapan bulan sebelumnya membawa surat kuasa dengan nomor rekeningnya sendiri.
Ellen berdiri.
“Yang bikin aku marah bukan warisannya.”
“Terus?”
“Kamu tahu tanah Bapak mungkin akan laku.”
Rian membuang pandangan.
“Kamu tahu berbulan-bulan.”
“Terus kenapa?”
“Kenapa kamu tidak pernah tanya Bapak butuh apa?”
“Dia tinggal sama kalian.”
“Persis.”
Rian menatap adiknya.
Ellen jarang bicara dengan nada seperti itu.
Biasanya dalam keluarganya, Rianlah yang paling banyak menentukan arah percakapan.
Ia anak pertama.
Kalau ada acara keluarga, ia yang memilih tempat.
Kalau ada keputusan tentang Bapak, ia juga sering paling cepat memberi pendapat.
Hanya saja pendapat itu hampir selalu datang dari jauh.
Sekarang Ellen membuka pintu.
“Pulang dulu, Kak.”
Rian tidak mengatakan apa-apa lagi.
Dewi memeluk Ellen sebelum pergi.
Kepadaku ia berkata pelan,
“Aku tidak tahu soal surat kuasa itu.”
Aku mengangguk.
“Aku juga.”
Setelah pintu ditutup, rumah kembali sunyi.
Aku berdiri di ruang tengah.
Kursi Pak Yakob masih ada di dekat radio.
Tiga hari sebelumnya aku menganggap kursi kosong itu sebagai bukti bahwa satu masa dalam hidup kami selesai.
Ternyata ia malah membuka bagian lain yang belum kukenal.
Ellen duduk.
“Martin.”
Aku tahu ia ingin bicara.
“Aku mau masuk kamar Bapak dulu.”
Ia mengangguk.
Kamar belakang masih seperti terakhir kali dipakai.
Kasur tipis.
Lemari kayu.
Satu kipas angin.
Kemeja tergantung di belakang pintu.
Di meja ada gelas plastik, gunting kuku, dua bolpoin, dan koran yang dilipat.
Aku duduk di tepi kasur.
Dua puluh tahun.
Aku mencoba membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang tua yang harus tinggal di rumah anak dan menantunya selama itu.
Harus meminta obat.
Harus menunggu orang lain belanja.
Mendengar pertengkaran tentang uang yang sebenarnya membicarakan dirimu.
Aku tidak pernah benar-benar memikirkannya dari sisi itu.
Bukan karena aku jahat.
Aku terlalu sibuk menjadi lelah.
Dari saku, aku mengeluarkan surat kedua.
Tulisan Pak Yakob tidak panjang.
Martin,
Kalau kamu membaca ini, berarti Bapak sudah tidak sempat bicara langsung.
Mungkin itu lebih baik. Kalau bicara langsung, Bapak pasti malu.
Bapak tahu kamu pernah marah karena harus menanggung Bapak.
Kamu berhak marah.
Jangan biarkan orang bilang kamu harus ikhlas setiap hari hanya karena Bapak orang tua.
Dua puluh tahun itu lama.
Aku berhenti membaca.
Aku tidak pernah mendengar Pak Yakob bicara seperti itu.
Aku melanjutkan.
Tanah itu baru punya harga ketika persoalannya selesai. Sebelumnya Bapak memang tidak punya uang untuk membayar apa yang sudah kalian keluarkan.
Ketika Rian mulai bertanya tentang tanah, Bapak sadar uang bisa membuat orang lupa siapa yang selama ini ada.
Kalau uangnya datang lebih cepat, Bapak ingin membayar obat sendiri.
Ingin ikut membayar listrik.
Ingin membelikan Sinta lemari saat dia harus berbagi kamar.
Ingin mengembalikan mobilmu.
Tapi uangnya terlambat.
Jadi Bapak hanya bisa menentukan apa yang terjadi dengan bagian yang masih bisa Bapak tentukan.
Bukan karena kamu paling baik.
Kadang kamu ngomel.
Kadang mukamu jelas tidak senang.
Aku mengeluarkan suara seperti tawa, tetapi mataku mulai panas.
Pak Yakob bahkan tidak berusaha membuatku menjadi orang suci setelah ia meninggal.
Suratnya berlanjut.
Tapi kamu tidak pernah membuat Bapak makan setelah semua orang selesai.
Kamu tidak pernah bilang anakmu tidak boleh dekat dengan kakeknya karena kakeknya tidak punya uang.
Saat operasi mata, kamu menjual sesuatu yang kamu perlukan.
Bapak tahu kamu kesal.
Kamu tetap melakukannya.
Kalau Bapak memberi uang ini kepada orang yang paling sering mengatakan sayang, Bapak akan bingung memilih.
Kalau memberikannya kepada orang yang paling sering datang saat Bapak butuh, pilihannya lebih mudah.
Aku menutup mata.
Ada satu kalimat terakhir.
Jangan gunakan uang itu untuk merasa bersalah.
Gunakan kalau memang berguna.
Kalau tidak berguna, simpan.
Tapi sekali saja dalam hidupmu, jangan biarkan Rian menentukan sesuatu yang sebenarnya menjadi hakmu.
Bapak.
Aku duduk lama di kamar itu.
Aku tidak tahu kapan Ellen masuk.
Ia tidak bertanya isi surat.
Ia hanya duduk di sampingku.
Aku menyerahkannya.
Ellen membaca perlahan.
Ketika selesai, ia menutup surat dan menempelkannya ke dadanya.
“Dia tahu.”
Aku mengangguk.
“Semua.”
Ellen menangis tanpa suara.
Aku menatap lantai.
“Aku pernah berharap dia cepat tidak ada.”
Ellen diam.
Kalimat itu terasa menjijikkan ketika keluar.
“Aku tidak pernah ingin dia mati,” kataku cepat. “Tapi kadang aku pulang, lihat dia duduk di kursiku, terus aku pikir… kapan hidup kita cuma milik kita lagi?”
Ellen memegang tanganku.
“Aku juga pernah capek.”
Aku menoleh.
Selama dua puluh tahun aku menganggap Ellen sebagai orang yang selalu membela ayahnya tanpa syarat.
Ia mengusap air mata.
“Aku cuma tidak pernah berani bilang.”
“Kenapa?”
“Karena dia Bapakku.”
Kalimat yang sama yang selama ini menutup pertengkaran kami, tetapi kali ini maknanya berbeda.
Bukan pembelaan.
Pengakuan.
“Aku sering marah sama Rian dan Dewi,” katanya. “Tapi kalau aku memaksa mereka, aku takut mereka malah menjauh dari Bapak. Jadi aku selalu bilang tidak apa-apa.”
“Padahal tidak.”
“Padahal tidak.”
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kami membicarakan Pak Yakob bukan sebagai tagihan.
Bukan sebagai kewajiban.
Sebagai manusia yang pernah tinggal bersama kami.
Malam itu aku membuka kembali buku biru.
Aku membacanya dari awal.
Ternyata tidak semua isinya tentang uang.
Ada tanggal Sinta pertama kali naik sepeda.
Dimas demam. Martin tidak masuk kerja.
Ellen sakit. Bapak masak nasi terlalu lembek.
Hari ini Martin marah soal listrik. Jangan jawab. Dia sedang pusing.
Aku tertawa kecil membaca yang terakhir.
Ellen yang duduk di sampingku ikut melihat.
“Bapak tulis itu?”
“Lihat sendiri.”
Ia tertawa sambil menangis.
Beberapa halaman kemudian ada catatan lain.
Rian telepon. Minta pinjam uang kalau tanah selesai. Jangan jawab dulu.
Lalu:
Rian bawa surat. Katanya supaya urusan gampang. Rekeningnya sendiri. Tidak benar.
Tanggalnya delapan bulan sebelum Pak Yakob meninggal.
Ada catatan beberapa hari setelahnya.
Bicara dengan Pak Adrian. Jangan bikin anak-anak bertengkar. Tapi jangan biarkan Martin dilewati lagi.
Aku berhenti di sana.
“Dia sudah merencanakan ini lama,” kata Ellen.
“Sejak Rian datang bawa surat.”
Ellen mengangguk.
Dua hari kemudian Rian meneleponku.
Aku sedang bekerja di bengkel.
“Tin, kita harus bicara.”
“Bicara.”
“Jangan lewat telepon.”
“Kalau soal dokumen Bapak, Pak Adrian bilang pertemuan berikutnya minggu depan.”
“Bukan itu.”
Aku menunggu.
Rian menurunkan suara.
“Surat kuasa kemarin jangan dibesar-besarkan.”
“Aku tidak membesar-besarkan.”
“Dewi sekarang tidak mau angkat teleponku.”
“Itu urusanmu sama Dewi.”
“Ellen juga.”
“Itu urusanmu sama Ellen.”
Ia menarik napas.
“Bapak sudah tua. Waktu itu aku cuma khawatir dia ditipu pembeli tanah.”
“Makanya uangnya harus masuk rekeningmu?”
“Nanti aku pindahkan.”
Aku memegang kunci pas di tangan.
“Kenapa tidak rekening Bapak?”
“Bapak tidak ngerti mobile banking.”
“Pak Adrian ngerti.”
Rian diam.
Aku melanjutkan pekerjaan.
“Martin.”
“Ya.”
“Kamu sekarang merasa paling berjasa?”
Aku meletakkan kunci pas.
Beberapa tahun lalu pertanyaan itu mungkin akan membuatku berteriak.
Hari itu tidak.
“Tidak.”
“Terus?”
“Aku cuma berhenti pura-pura tidak lihat.”
“Lihat apa?”
“Kalau ada biaya Bapak, kamu bilang kita keluarga. Begitu ada uang Bapak, kamu bilang itu urusan keluarga kalian.”
Ia tidak menjawab.
“Dua-duanya tidak bisa benar sekaligus, Rian.”
Telepon terputus beberapa detik kemudian.
Aku tidak menelepon balik.
Pertemuan berikutnya di kantor notaris tidak semulus yang kuharapkan.
Rian datang dengan seorang kenalan yang katanya mengerti hukum.
Pak Adrian tetap tenang.
Notaris yang menangani dokumen Pak Yakob menjelaskan bahwa kalau Rian atau ahli waris lain menganggap ada masalah dengan wasiat, mereka mempunyai jalur resmi untuk mempersoalkannya.
Tidak ada yang akan diselesaikan dengan teriak di ruang rapat.
Rian bertanya apakah Pak Yakob masih “cukup sadar” ketika membuat wasiat.
Aku melihat Ellen menegang.
Notaris menjawab bahwa pada saat dokumen dibuat, Pak Yakob datang sendiri, berkomunikasi dengan baik, memahami apa yang ia bicarakan, dan prosedur yang diperlukan telah dilakukan.
“Kalau Anda ingin menggugat, itu hak Anda,” kata Pak Adrian. “Tapi bukan berarti hasilnya bisa ditentukan di meja ini.”
Rian melihatku.
“Kamu akan lawan kami?”
“Aku belum melawan siapa-siapa.”
“Kalau kamu ambil bagian itu, sama saja.”
Aku menatap Ellen.
Ia diam, membiarkan keputusan itu kepadaku.
Beberapa hari terakhir aku memang memikirkan untuk menolak.
Bukan karena Rian.
Karena rasa bersalah.
Menerima uang setelah berkali-kali menyebut Pak Yakob beban terasa seperti mengambil hadiah yang tidak pantas kudapatkan.
Tapi kemudian aku teringat kalimat dalam surat.
Jangan gunakan uang itu untuk merasa bersalah.
Aku melihat Rian.
“Aku akan menerima apa yang Bapak tetapkan untukku kalau prosesnya memang sah.”
Rian tertawa sinis.
“Nah.”
“Tapi aku tidak minta bagianmu.”
Ia berhenti.
“Aku juga tidak minta bagian Ellen atau Dewi. Semua diselesaikan sesuai proses.”
“Enak saja kamu ngomong begitu setelah Bapak kasih tambahan ke kamu.”
“Bukan aku yang membuat dokumennya.”
“Kamu yang mempengaruhi Bapak.”
Ellen akhirnya bicara.
“Cukup.”
Rian menoleh.
“Kamu bela dia?”
“Dia suamiku.”
“Aku kakakmu.”
“Terus kenapa?”
Rian terlihat benar-benar kaget.
Ellen melanjutkan.
“Dua puluh tahun aku tidak pernah minta kamu ganti setengah biaya Bapak. Aku cuma beberapa kali minta bantuan, itu pun kamu selalu punya alasan.”
“Aku juga punya keluarga.”
“Aku juga.”
Ruangan sunyi.
Dewi menatap meja.
Ellen tidak menaikkan suara.
“Aku tidak mau bagianmu diambil. Aku juga tidak mau bagian Dewi diambil. Tapi kalau Bapak sendiri memutuskan memberi sesuatu kepada Martin dalam batas yang dibolehkan, aku tidak akan menyuruh Martin menolak cuma supaya kamu nyaman.”
Rian merapikan kertas di depannya.
“Jadi sekarang aku penjahat.”
“Tidak ada yang bilang begitu.”
“Tatapan kalian bilang.”
Aku berkata, “Yang bikin orang curiga bukan tatapan kami. Nomor rekeningmu yang ada di surat kuasa.”
Rian berdiri.
Pertemuan berhenti beberapa menit.
Ia akhirnya duduk lagi karena kenalannya membisikkan sesuatu.
Anehnya, tidak ada ledakan besar setelah itu.
Tidak ada polisi datang.
Tidak ada orang ditangkap.
Tidak ada rahasia lain yang tiba-tiba muncul.
Hanya keluarga yang dipaksa duduk menghadapi catatan dari seorang lelaki tua yang sudah tidak ada.
Dan ternyata itu sudah cukup membuat banyak hal berubah.
Proses warisan berjalan beberapa bulan.
Lebih lambat daripada yang dibayangkan Rian.
Beberapa dokumen tanah lama perlu dicocokkan.
Ada kewajiban administratif yang harus diselesaikan.
Nilai bersih yang akhirnya dibagi juga tidak sebesar angka pertama pada surat penjualan.
Rian sempat mengancam akan membawa masalah wasiat ke pengadilan.
Dua minggu kemudian ia berubah pikiran.
Aku tidak pernah tahu apakah karena nasihat orang yang dibawanya atau karena ia sadar proses itu akan memakan waktu dan biaya.
Ia tidak meminta maaf soal surat kuasa.
Aku juga tidak memaksanya.
Hubungan kami berubah.
Bukan putus.
Hanya tidak lagi berpura-pura dekat.
Dewi mulai datang ke rumah lebih sering, terutama menemani Ellen membereskan barang-barang Pak Yakob.
Suatu hari ia membawa satu kotak plastik.
“Aku nemu ini di rumahku.”
Isinya foto lama.
Pak Yakob menggendong Sinta yang masih kecil.
Ada foto Dimas duduk di bahunya.
Ada satu foto aku tertidur di kursi ruang depan, masih memakai seragam bengkel.
Di belakang foto itu ada tulisan:
Martin pulang sangat capek. Jangan bangunkan.
Aku memandangi foto tersebut sampai Dewi bertanya,
“Mau disimpan?”
“Iya.”
Beberapa bulan kemudian, bagian yang secara sah diberikan Pak Yakob kepadaku akhirnya selesai diproses.
Jumlahnya cukup besar bagiku.
Tidak membuatku kaya.
Tidak membuatku berhenti bekerja.
Aku masih bangun pagi dan pergi ke bengkel.
Aku masih menghitung pengeluaran.
Aku masih melihat harga sebelum membeli sesuatu.
Hari uang itu masuk ke rekening, aku duduk hampir lima menit melihat angkanya.
Ellen berdiri di belakangku.
“Gimana rasanya?”
“Aneh.”
“Mau diapakan?”
Pertanyaan itu dulu sering menjadi sumber pertengkaran kami.
Uang mau diapakan.
Siapa yang harus didahulukan.
Apa yang bisa ditunda.
Kali ini aku tidak langsung menjawab.
Beberapa hari kemudian aku menelepon tukang yang pernah datang bertahun-tahun sebelumnya.
Atap rumah kami akhirnya diperbaiki.
Bukan direnovasi mewah.
Bukan diganti seluruhnya hanya karena sekarang ada uang.
Bagian yang bocor dibongkar dan diperbaiki dengan benar.
Saat tukang bekerja, aku berdiri di teras belakang.
Dimas, yang sekarang sudah bekerja sendiri, datang siang itu.
Ia melihat ke atas.
“Akhirnya.”
Aku tertawa.
“Kamu masih ingat bocornya?”
“Pak, waktu kecil kalau hujan aku taruh ember di dua tempat.”
Aku mengangguk.
Ia melihat kamar belakang.
“Kamar Mbah mau diapakan?”
“Aku belum tahu.”
“Jangan buru-buru.”
Aku menatap anakku.
“Kenapa?”
“Entahlah.”
Ia mengangkat bahu.
“Rasanya aneh kalau langsung diubah.”
Aku memahami.
Kami akhirnya membersihkan kamar itu perlahan.
Bajunya dibagikan sesuai keinginan Ellen dan Dewi.
Beberapa barang disimpan.
Topi abu-abunya kutaruh di lemari.
Radio kecilnya tetap di rak.
Kamar itu kemudian menjadi kamar tamu.
Ketika Sinta pulang bersama anaknya, cucuku tidur di sana.
Lucu juga.
Dua puluh tahun sebelumnya aku kesal karena anak-anakku harus berbagi kamar akibat Pak Yakob.
Sekarang cucuku malah suka kamar belakang itu karena dekat teras.
Suatu sore Sinta membantuku menggeser lemari kecil.
Ia menemukan buku biru yang sempat kusimpan di laci.
“Ini punya Mbah?”
“Iya.”
Ia membuka halaman acak.
Aku sebenarnya ingin melarangnya.
Lalu kuurungkan.
Ia membaca beberapa baris.
“Pak.”
“Ya?”
“Mbah catat waktu Bapak jual mobil?”
Aku mengangguk.
Sinta duduk di kasur.
“Aku ingat mobil itu.”
“Kamu masih kecil.”
“Aku ingat Bapak marah banget waktu itu.”
Aku tertawa pendek.
“Aku memang marah.”
Sinta menutup buku.
“Ke Mbah?”
“Ke keadaan.”
Ia memandangku dengan cara yang membuatku sadar anak-anak sering melihat lebih banyak daripada yang kita kira.
“Dulu aku kira Bapak nggak suka Mbah.”
Aku terdiam.
“Mungkin kadang memang begitu kelihatannya.”
“Tapi Mbah nggak pernah bilang begitu.”
Aku menoleh.
“Dia pernah ngomong tentang aku?”
“Kadang.”
“Apa?”
Sinta tersenyum.
“Katanya, ‘Bapakmu kalau capek mukanya memang galak. Jangan diambil hati.’”
Aku tertawa keras untuk pertama kalinya ketika membicarakan Pak Yakob setelah kematiannya.
Sinta ikut tertawa.
Kemudian ia berkata,
“Dia juga bilang jangan ganggu Bapak kalau baru pulang dari bengkel sebelum mandi.”
“Itu nasihat bagus.”
Malamnya aku duduk dengan Ellen di teras.
Atap baru selesai diperbaiki.
Hujan turun.
Tidak ada ember di ruang tengah.
Tidak ada suara tetesan di lantai.
Ellen menyandarkan kepala ke kursi.
“Bapak pasti ngomel kalau tahu kita habiskan uang buat atap.”
“Kenapa?”
“Dia pasti bilang atap lama masih bisa ditambal.”
Aku mengangguk.
“Terus besoknya dia yang taruh ember kalau bocor.”
Kami tertawa.
Ada hal-hal tentang dua puluh tahun itu yang tidak pernah bisa diperbaiki.
Aku tidak bisa kembali dan menarik kata-kata kasar yang pernah kukatakan.
Aku tidak bisa membuat Pak Yakob tahu bahwa sesudah ia pergi, aku akhirnya memahami rasa malu yang mungkin ia bawa setiap kali harus meminta obat.
Aku juga tidak bisa berpura-pura bahwa merawatnya selalu indah.
Tidak.
Kadang berat.
Kadang mahal.
Kadang membuatku iri kepada saudara-saudaranya yang hanya datang membawa buah lalu pulang.
Kadang membuat pernikahanku tegang.
Kadang membuat anak-anakku harus mengalah.
Menyadari bahwa Pak Yakob mencintaiku tidak menghapus semua itu.
Tetapi sekarang aku memahami hal lain.
Ia tidak duduk di rumahku dua puluh tahun sambil menganggap semua yang kuberikan sebagai haknya.
Ia duduk di sana sambil mencatatnya.
Mengingatnya.
Mungkin juga merasa bersalah karenanya.
Dan ketika akhirnya sesuatu yang bernilai datang ke tangannya, hal pertama yang ia pikirkan bukan bagaimana menikmati sisa hidup dengan uang itu.
Ia memikirkan orang yang selama ini mengeluh tetapi tetap membuka pintu.
Rian masih jarang datang.
Kalau ada acara keluarga, kami tetap berjabat tangan.
Kami bicara seperlunya.
Beberapa bulan setelah pembagian selesai, ia pernah menarikku ke samping.
“Tin.”
“Ya?”
“Aku waktu itu memang salah tulis rekening.”
Aku melihatnya.
Ia tidak mengatakan maaf.
Aku juga tidak membantunya menghindari kalimat yang seharusnya ia katakan.
Kami berdiri beberapa detik.
Akhirnya ia menghela napas.
“Ya sudah.”
Ia pergi.
Mungkin suatu hari ia akan benar-benar mengakui apa yang dilakukannya.
Mungkin tidak.
Aku sudah berhenti menunggu.
Dewi berbeda.
Ia mulai mengajak Ellen menyusun jadwal untuk menjaga ibu mertuanya sendiri yang mulai sakit-sakitan.
Suatu hari Ellen pulang dan berkata,
“Dewi bilang jangan sampai kejadian Bapak terulang.”
“Maksudnya?”
“Biaya dan waktu dibagi dari awal.”
Aku mengangguk.
Itu mungkin satu-satunya warisan Pak Yakob yang benar-benar dibagi rata.
Bukan uangnya.
Pelajarannya.
Sekarang, setiap pagi sebelum berangkat ke bengkel, aku masih membuat kopi.
Kadang aku membawanya ke teras belakang.
Kursi Pak Yakob belum kubuang.
Radio tuanya masih bekerja kalau antenanya diputar sedikit ke kiri.
Suatu pagi aku duduk di sana saat matahari baru naik.
Di dalam rumah, Ellen sedang menyalakan mesin cuci.
Dari kamar belakang terdengar cucuku masih tidur.
Aku menyalakan radio.
Suara penyiar memenuhi teras yang dulu selalu kupikir terlalu sempit karena harus dibagi dengan seorang lelaki tua.
Topi abu-abu Pak Yakob tergantung di paku dekat pintu.
Kali ini, aku tidak memindahkannya.
Menurutmu, apakah Martin berhak menerima bagian yang Pak Yakob tinggalkan meski selama bertahun-tahun ia diam-diam merasa terbebani?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
