Aku Mengejar Akuisisi Rp12 Triliun di Malam Natal, Lalu Sebuah Krayon Membawaku pada Mantan Tunanganku dan Dua Anak Kecil

Avatar penulis
Cerita 01
21 menit baca 174 tayangan
Aku Mengejar Akuisisi Rp12 Triliun di Malam Natal, Lalu Sebuah Krayon Membawaku pada Mantan Tunanganku dan Dua Anak Kecil
Indeks

Bagian 2

Yang Cassandra keluarkan adalah amplop cokelat kusut.

Di pojok kanan atas masih ada stiker jasa kurir. Alamat penerimanya adalah kantor pusat Prasetya Teknologi di Jakarta.

Namaku tercetak jelas.

DAMAR PRASETYA.

Di bagian depan amplop ada satu cap merah.

DITOLAK PENERIMA.

Tanggalnya membuat perutku mengeras.

Hampir tujuh bulan sebelum Lukas dan Viola lahir.

“Apa ini?”

Aku Mengejar Akuisisi Rp12 Triliun di Malam Natal, Lalu Sebuah Krayon Membawaku pada Mantan Tunanganku dan Dua Anak Kecil

“Aku kirim setelah dokter memastikan aku hamil.”

Aku membalik amplop itu.

Belum pernah dibuka.

“Kenapa dikembalikan?”

“Bukankah seharusnya aku yang bertanya?”

Aku menatapnya.

“Aku tidak pernah melihat ini.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Karena tiga hari setelah amplop itu kembali, aku menelepon kantormu lagi.”

Lukas menarik ujung lengan ibunya.

“Mama, pesawatnya merah boleh?”

Cassandra melihat gambarnya.

“Boleh.”

Setelah Lukas kembali mewarnai, dia menatapku lagi.

“Resepsionis menyambungkan aku ke seseorang dari kantor eksekutif. Aku bilang ini soal pribadi dan penting.”

“Siapa?”

“Aku tidak ingat. Laki-laki.”

Reno.

Nama itu muncul di kepalaku sebelum dia mengatakannya.

“Apa yang dia bilang?”

“Bahwa kau tidak ingin menerima telepon, surat, paket, atau pesan apa pun dariku.”

Aku tidak langsung membantah.

Karena aku mulai mengingat sesuatu.

Malam setelah Cassandra mengembalikan cincin tunangan, aku berada di Singapura. Kami baru bertengkar lewat telepon untuk ketiga kalinya minggu itu.

Aku marah.

Dia bilang aku lebih pandai merencanakan lima tahun pertumbuhan perusahaan daripada merencanakan satu akhir pekan bersama orang yang ingin kunikahi.

Aku menjawab sesuatu yang selama bertahun-tahun sengaja tidak kuingat.

Kalau kamu sudah selesai, ya sudah. Jangan tarik aku masuk lagi setiap kali kamu berubah pikiran.

Keesokan paginya, aku meminta Reno memastikan tidak ada pesan pribadi dari Cassandra masuk ke jadwalku.

Saat itu kukira aku sedang melindungi diri.

“Damar?”

Aku kembali melihat amplop itu.

“Setelah itu kamu tidak mencoba lagi?”

“Aku mencoba nomor pribadimu.”

“Aku mengganti nomor.”

“Aku tahu. Pesanku cuma centang satu sampai akhirnya akunmu tidak muncul lagi.”

“Email?”

“Email pribadimu tidak aktif.”

Aku menekan ibu jari ke tepi amplop.

Email pribadi lama itu memang kututup setelah beberapa percobaan peretasan terhadap akun perusahaan.

Semua komunikasiku beralih melalui kantor.

Melalui orang-orang yang kubayar untuk memastikan hanya hal-hal penting yang sampai kepadaku.

Ironinya hampir membuatku mual.

“Apa isi amplop ini?”

“USG pertama.”

Aku tidak membuka segelnya.

Tidak tanpa izin.

“Boleh?”

Cassandra mengangguk.

Di dalamnya ada satu lembar hasil pemeriksaan dan foto USG yang warnanya sudah sedikit pudar.

Di belakang foto, tulisan tangan Cassandra masih bisa kubaca.

Damar, dokter bilang ada dua.

Aku memegang kertas itu terlalu lama.

“Kenapa kamu simpan?”

“Karena aku tidak mau suatu hari nanti kau mengatakan aku tidak pernah mencoba.”

Tidak ada amarah dalam suaranya.

Itu lebih buruk.

Pesawat mulai menurunkan ketinggian.

Pramugari meminta kami kembali ke tempat duduk.

Aku menyerahkan amplop itu.

“Setelah kita turun, jangan pergi dulu.”

Cassandra menyelipkannya kembali.

“Anak-anak sudah lelah.”

“Lima belas menit.”

“Kau punya rapat.”

Aku menatapnya.

“Bagaimana kamu tahu?”

Dia hampir tersenyum, tetapi tidak jadi.

“Damar, tiga tahun lalu aku bisa menebak jadwalmu dari cara kau melihat jam.”

Aku kembali ke depan.

Begitu pesawat menyentuh landasan, ponselku langsung dipenuhi pesan.

Reno.

Direktur keuangan.

Tim legal.

Ketua komisaris.

Pihak penjual.

Tiga puluh tujuh menit menuju batas waktu.

Aku menelepon Reno.

“Pak, mobil sudah menunggu di pintu kedatangan. Dokumen cetak ada di hotel. Tim Nusa Medika juga sudah—”

“Reno.”

Dia berhenti.

“Ya, Pak?”

“Tiga tahun lalu, apakah aku pernah menyuruhmu menolak semua komunikasi dari Cassandra?”

Hening.

“Pak?”

“Jawab.”

“Saya ingat Bapak meminta semua urusan pribadi terkait Bu Cassandra tidak dimasukkan ke jadwal.”

“Paket juga?”

Kali ini diamnya lebih lama.

“Saya kira itu termasuk paket.”

Aku menutup mata.

“Pernah ada amplop?”

“Ada satu.”

“Kenapa ditolak?”

“Karena instruksi Bapak.”

Bukan konspirasi.

Bukan kebohongan rumit.

Tidak ada orang yang sengaja mencuri tiga tahun hidupku.

Ada satu instruksi yang kuberikan ketika sedang marah, lalu sistem yang kubangun menjalankannya dengan sangat efisien.

“Pak, soal akuisisi—”

“Nanti.”

Aku memutus sambungan.

Saat keluar dari garbarata, aku melihat Cassandra mendorong stroller kembar sambil membawa tas besar.

Lukas sudah mengantuk.

Viola tidur dengan boneka gajah menutupi separuh wajahnya.

Aku berjalan mendekat.

“Biar aku bantu.”

“Tidak perlu.”

“Kamu bawa dua anak, dua tas, dan stroller.”

“Aku sudah melakukan ini cukup lama.”

Kalimat itu tidak diucapkan untuk melukaiku.

Tetapi tetap terasa demikian.

Kami berjalan sampai area pengambilan bagasi.

Ponselku kembali bergetar.

Reno: 26 menit.

Cassandra melihat layar.

“Pergilah.”

“Aku belum selesai bicara.”

“Tim-mu menunggumu.”

“Mereka bisa menunggu.”

Dia mengangkat alis.

“Sejak kapan?”

Aku tidak punya jawaban yang tidak terdengar bodoh.

Setelah bagasi datang, aku membantu mengangkat koper ke troli meski Cassandra tidak meminta.

“Di mana kalian tinggal?”

“Di Surabaya.”

“Di Jakarta malam ini?”

“Rumah Tanteku di Cibubur.”

“Boleh aku ikut?”

“Tidak.”

Jawabannya cepat.

Aku menarik napas.

“Baik. Besok?”

“Besok Natal.”

“Aku tahu.”

“Anak-anak akan bersama keluarga.”

“Aku juga—”

Aku berhenti.

Aku juga apa?

Ayah?

Secara biologis mungkin.

Dalam hidup mereka, belum.

Lukas terbangun dan mengangkat kepala.

Dia melihatku, lalu ibunya.

“Mama.”

“Ya?”

Dia menunjukku.

“Om Damar tadi marah karena apa?”

Cassandra menatapku.

“Bukan sama kamu.”

Lukas berpikir sebentar.

Kemudian bertanya dengan kepolosan yang hampir membuatku kehilangan suara.

“Dia Papa?”

Area pengambilan bagasi tiba-tiba terasa terlalu terang.

Cassandra memejamkan mata sebentar.

Ketika membukanya kembali, dia berjongkok agar sejajar dengan anaknya.

“Iya.”

Lukas menatapku.

Tidak tersenyum.

Tidak berlari memelukku.

Hanya menatap.

“Papa aku?”

Cassandra mengangguk.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memiliki sesuatu yang tidak bisa kubeli, negosiasikan, atau perbaiki dengan satu tanda tangan.

Kepercayaan dua anak yang bahkan belum mengenalku.

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku berjongkok di depan Lukas.

Kepalaku penuh kalimat.

Tidak ada satu pun terasa benar.

“Hai,” akhirnya hanya itu yang keluar.

Dia memegang krayon merahnya.

“Kamu namanya Damar?”

“Iya.”

“Mama bilang Papa namanya Damar.”

Aku melihat Cassandra.

Dia tidak menyela.

Aku kembali menatap Lukas.

“Berarti Mama benar.”

Anak itu mengangguk, seolah baru saja menyelesaikan persoalan yang sangat sederhana.

Kemudian dia memandang sepatuku.

“Krayonku tadi kena sepatu Papa.”

Aku tertawa kecil untuk pertama kalinya malam itu.

“Iya.”

Viola masih tidur.

Aku ingin menyentuh rambutnya.

Tanganku bahkan sudah terangkat sedikit.

Lalu aku menurunkannya lagi.

Aku belum punya hak untuk bertindak seolah tiga tahun yang hilang bisa dihapus hanya karena aku sudah tahu kebenarannya.

Ponselku kembali berdering.

Kali ini direktur keuanganku.

Aku berdiri dan menjauh beberapa langkah.

“Ya.”

“Pak, sebelas menit. Pihak Nusa Medika meminta kepastian.”

Aku melihat Cassandra sedang memasangkan jaket pada Lukas.

“Aku tidak akan datang ke hotel malam ini.”

Di seberang terdengar diam.

“Maaf?”

“Mintakan perpanjangan sampai besok pagi.”

“Mereka sudah bilang penawaran Arta Data berlaku malam ini.”

“Kalau mereka tidak mau memperpanjang, kita terima risikonya.”

“Pak, ini sembilan bulan kerja.”

“Aku tahu.”

“Dewan akan bertanya kenapa.”

“Katakan aku mengambil keputusan.”

“Keputusan apa?”

Aku memandang dua anak yang baru kuketahui keberadaannya kurang dari tiga jam.

“Bahwa perusahaan dengan nilai triliunan tidak boleh bergantung pada satu orang yang harus berada di satu ruangan sebelum tengah malam.”

Dia tidak langsung menjawab.

Aku melanjutkan.

“Kirim dokumen final ke tabletku. Aku baca malam ini. Kalau mereka setuju memperpanjang, kita lanjut pagi. Kalau tidak, jangan buat komitmen baru tanpa persetujuan dewan.”

Aku menutup telepon.

Cassandra berdiri di belakangku.

“Jangan lakukan itu karena kami.”

“Aku tidak melakukannya karena kalian.”

Dia menatapku seolah tahu aku berbohong.

Aku mengoreksi.

“Baik. Sebagian karena kalian.”

“Damar, jangan mulai dengan pengorbanan besar lalu berharap itu mengganti tiga tahun.”

“Aku tidak berharap begitu.”

“Bagus.”

Sopirku sudah menunggu di luar.

Aku menawarkan mobil kedua untuk Cassandra dan anak-anak.

Dia menolak.

“Tanteku sudah pesan mobil.”

“Setidaknya kirim aku alamat.”

“Kenapa?”

“Aku ingin tahu di mana anak-anakku berada.”

Ekspresinya langsung berubah.

Aku sadar pilihan kataku salah.

“Aku tidak bermaksud mengawasi.”

“Terdengar seperti itu.”

“Aku ingin bisa datang kalau kamu mengizinkan.”

“Itu berbeda.”

Aku mengangguk.

“Kalau begitu, boleh aku datang besok?”

Cassandra membuka tasnya, mengambil ponsel, lalu menatap layar.

“Jam sepuluh.”

“Terima kasih.”

“Jangan bawa rombongan.”

“Aku tidak akan.”

“Jangan bawa orang perusahaan.”

“Tidak.”

“Dan jangan datang dengan hadiah satu mobil.”

Aku hampir membantah.

Lalu sadar aku memang sempat memikirkan apakah anak usia dua tahun membutuhkan sepeda, mainan elektronik, atau sesuatu yang lebih besar.

“Baik.”

“Damar.”

“Ya?”

“Mereka belum mengenalmu. Jangan buat mereka merasa harus menyukaimu.”

Aku mengangguk.

Malam itu aku tidak ke hotel tempat tim akuisisi menunggu.

Aku pulang ke apartemenku di Jakarta dan duduk di ruang makan dengan dokumen transaksi terbuka di layar.

Untuk pertama kalinya, angka-angka itu tidak langsung masuk ke kepalaku.

Di meja ada foto USG yang Cassandra izinkan kupotret.

Dua bentuk kecil.

Dua anak.

Dua setengah tahun.

Aku membuka percakapan lama dengan Reno.

Mencari pesan tiga tahun lalu.

Aku menemukannya pukul satu lewat dua belas dini hari.

Jangan masukkan apa pun dari Cassandra ke jadwalku lagi. Telepon, pesan, apa pun. Aku tidak mau diganggu.

Hanya satu kalimat.

Tidak ada perintah untuk menolak surat.

Tidak ada perintah untuk menyembunyikan kehamilan.

Tetapi aku tahu cara kantorku bekerja.

Aku membangun budaya di mana orang tidak bertanya dua kali setelah aku mengatakan tidak.

Reno tidak membuat keputusan dari udara kosong.

Dia menjalankan batas yang kubuat.

Aku menekan tombol panggil.

Dia menjawab meski sudah lewat pukul satu.

“Pak?”

“Aku menemukan pesanku.”

Hening.

“Saya minta maaf.”

“Aku juga.”

“Pak?”

“Kamu seharusnya bertanya tentang amplop itu.”

“Iya.”

“Tapi aku juga membuat keadaan di mana bertanya padaku terasa seperti melanggar instruksi.”

Reno tidak menjawab.

Aku tidak membutuhkan dia menghiburku.

“Mulai sekarang, jangan pernah menolak korespondensi pribadi atas namaku tanpa dokumentasi jelas. Dan tidak ada lagi instruksi lisan untuk urusan seperti itu.”

“Baik, Pak.”

“Aku akan bicara dengan HR setelah libur.”

“Apakah saya diberhentikan?”

Aku menatap kota dari jendela.

“Tidak.”

Dia menarik napas pelan.

“Tapi kita akan memperbaiki cara kantor menangani hal seperti ini.”

Setelah telepon ditutup, pesan dari direktur keuangan masuk.

Nusa Medika memberi waktu sampai pukul sepuluh pagi.

Bukan karena keajaiban.

Karena tim kami sudah sembilan bulan bernegosiasi dan pihak mereka juga tidak ingin membuang transaksi sebesar itu hanya demi selisih beberapa jam.

Tetapi harga penawaran tidak akan berubah.

Mereka tidak menjanjikan apa pun setelah pukul sepuluh.

Aku tidur kurang dari tiga jam.

Pukul delapan pagi aku sudah bangun.

Tanganku refleks membuka aplikasi belanja.

Aku hampir membeli set kereta listrik besar.

Kemudian teringat kata-kata Cassandra.

Jangan datang dengan hadiah satu mobil.

Aku menutup aplikasi.

Aku masuk ke minimarket dekat apartemen.

Aku tidak tahu apa yang dibawa seorang ayah ketika pertama kali datang menemui anak-anaknya pada pagi Natal.

Akhirnya aku membeli dua buku gambar, satu kotak krayon, dan selotip kain karena semalam aku melihat telinga boneka gajah Viola hampir lepas.

Aku sampai di rumah tante Cassandra di Cibubur pukul sembilan lewat lima puluh delapan.

Rumahnya tidak besar.

Ada tiga mobil terparkir di halaman dan sandal berserakan di teras.

Suara anak-anak terdengar dari dalam.

Aku berdiri beberapa detik di depan pintu sambil memegang kantong plastik.

Aku sudah masuk ke ruang rapat dengan menteri, investor asing, dan orang-orang yang bisa membuat harga saham turun hanya dengan satu kalimat.

Tidak pernah tanganku berkeringat seperti itu.

Cassandra membuka pintu.

Matanya turun ke kantongku.

“Apa itu?”

“Dua buku gambar.”

Dia membuka kantong.

“Dan krayon?”

“Yang merah aman.”

Sudut bibirnya bergerak sedikit.

“Masuk.”

Lukas sedang duduk di lantai ruang keluarga bersama dua anak lain.

Begitu melihatku, dia berdiri.

“Papa krayon.”

Semua orang di ruangan itu menoleh.

Aku mendengar seseorang menahan tawa.

Cassandra memijat kening.

“Sepertinya itu nama barumu.”

Aku duduk di lantai.

Lukas langsung mengambil kotak krayon.

Viola memperhatikanku dari belakang kaki ibunya.

Aku tidak memanggilnya.

Tidak mengulurkan tangan.

Aku membuka buku gambar dan mulai menggambar pesawat yang bentuknya sangat buruk.

Lukas protes.

“Itu bukan pesawat.”

“Ini pesawat.”

“Kayak ikan.”

Aku melihat gambar itu.

Dia benar.

“Papa ternyata nggak bisa gambar pesawat.”

Kata Papa keluar begitu saja dari mulutnya.

Dadaku mengencang.

Aku tidak memperlihatkannya.

“Makanya kamu yang ajari.”

Selama hampir satu jam, aku duduk di lantai.

Tidak ada pembicaraan besar.

Tidak ada foto keluarga.

Tidak ada pengumuman.

Viola akhirnya mendekat ketika melihat aku memperbaiki boneka gajahnya dengan selotip kain.

Dia berdiri satu meter dariku.

Aku menunjukkan boneka itu.

“Gajahnya sakit sedikit.”

Dia memandangku curiga.

“Bisa sembuh?”

“Kayaknya bisa.”

Aku merekatkan bagian kain yang lepas.

Tidak bagus.

Tapi cukup.

Viola mengambil kembali bonekanya.

“Terima kasih.”

“Sama-sama.”

Dia kembali ke Cassandra.

Itu saja.

Dan entah kenapa aku lebih menghargai dua kata itu daripada semua penghargaan bisnis yang pernah kuterima.

Pukul sembilan lewat empat puluh, ponselku bergetar.

Aku melihat Cassandra.

“Aku harus menerima telepon.”

Dia mengangguk.

Aku berdiri di teras.

Tim legal sudah terhubung.

Aku membaca bagian terakhir kontrak, bertanya dua hal, lalu memberikan persetujuan digital tepat beberapa menit sebelum batas waktu.

Aku tidak pergi ke hotel.

Tidak ada puluhan orang menungguku berdiri sambil bertepuk tangan.

Transaksi berlanjut karena selama sembilan bulan timku memang sudah bekerja.

Aku akhirnya memahami sesuatu yang seharusnya kupahami bertahun-tahun sebelumnya.

Aku bukan perusahaan itu.

Dan perusahaan itu tidak seharusnya menjadi seluruh hidupku.

Saat kembali masuk, Cassandra sedang mengupas jeruk untuk Viola.

“Sudah?”

“Sudah.”

“Dapat?”

“Masih proses sampai penutupan final.”

Dia mengangguk.

Tidak ada kekaguman di wajahnya.

Aneh sekali bagaimana dulu aku selalu ingin orang memahami besar pekerjaanku.

Sekarang aku justru lega Cassandra tidak peduli.

Setelah makan siang, kami bicara di dapur sementara anak-anak bermain di ruang depan.

Aku tidak bertanya kenapa dia tidak mencari keluargaku.

Aku tidak bertanya kenapa dia tidak datang langsung.

Aku tahu pertanyaan-pertanyaan itu mudah dipakai untuk memindahkan kesalahan.

Jadi aku bertanya hal lain.

“Bagaimana kehamilanmu?”

Cassandra berhenti mencuci gelas.

“Sulit.”

“Ada masalah?”

“Bukan masalah besar. Mual parah beberapa bulan. Setelah itu tekanan darahku sempat naik.”

“Siapa yang menemanimu?”

“Tante. Teman kantor. Beberapa orang.”

Aku mengangguk.

“Persalinannya?”

“Operasi.”

Aku menatap tangannya.

“Sendiri?”

“Damar.”

“Aku cuma ingin tahu.”

Dia mematikan keran.

“Aku tidak ingin kau duduk di sini dan menghukum dirimu sendiri berdasarkan daftar kejadian yang kau lewatkan.”

“Aku memang melewatkannya.”

“Ya.”

“Dan aku harus tahu.”

“Untuk apa?”

“Supaya aku tidak berpura-pura tiga tahun itu tidak ada.”

Cassandra terdiam.

Aku melanjutkan.

“Aku tidak akan meminta kamu membuatku merasa lebih baik tentang ini.”

Wajahnya melunak sedikit.

“Hari mereka lahir, Tante ada di rumah sakit.”

Aku mendengarkan.

Dia bercerita sederhana.

Tidak dramatis.

Lukas lahir empat menit lebih dulu.

Viola lebih kecil.

Lukas paling sering bangun malam selama enam bulan pertama.

Viola terlambat berjalan beberapa minggu, lalu tiba-tiba langsung mengejar kakaknya ke seluruh rumah.

“Siapa yang lebih cerewet?”

“Lukas.”

Dari ruang depan terdengar suara Lukas.

“Mama, Viola ambil hijau!”

Cassandra menoleh kepadaku.

“Bukti langsung.”

Aku tertawa.

Kemudian pertanyaan yang sejak semalam kutahan akhirnya keluar.

“Kenapa mereka memakai nama belakangmu?”

Cassandra tidak tersinggung.

“Mereka anak-anak yang lahir dan hidup bersamaku. Saat dokumen mereka diurus, tidak ada pengakuan ayah dari pihakmu.”

Aku mengangguk.

“Aku ingin mengurus itu.”

“Tidak secepat itu.”

“Aku tidak bilang hari ini.”

“Bagus.”

“Aku juga ingin tes DNA.”

Dia menatapku tajam.

“Karena kamu meragukan aku?”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Karena kalau aku akan masuk secara hukum dan bertanggung jawab dalam hidup mereka, aku ingin semuanya jelas. Untuk kamu juga.”

Dia mempertimbangkan jawabanku.

“Aku setuju.”

Aku hampir mengatakan terima kasih.

Tetapi itu terasa aneh.

Jadi aku hanya mengangguk.

Kami melakukan tes paternitas beberapa hari kemudian di laboratorium yang dipilih bersama.

Aku tidak meminta stafku mengatur diam-diam.

Tidak ada dokter yang memberiku hasil lebih cepat karena namaku.

Kami mengikuti proses biasa.

Menunggu.

Selama menunggu, aku kembali ke Surabaya dua kali.

Pertama hanya untuk makan sore bersama anak-anak.

Kedua untuk menemani Cassandra membawa mereka ke taman bermain.

Aku tinggal di hotel.

Cassandra tidak mengizinkanku menginap di rumahnya.

Aku tidak meminta lagi.

Pada kunjungan kedua, Lukas jatuh ketika berlari.

Dia langsung menangis.

Refleksku bergerak maju.

Cassandra sudah lebih dulu mengangkatnya.

Aku berhenti.

Kemudian Lukas mengulurkan tangan kepadaku.

“Papa pegang.”

Aku jongkok dan memegang tangannya sementara Cassandra membersihkan lututnya.

Tidak ada darah banyak.

Tidak ada kejadian besar.

Tetapi malam itu, di kamar hotel, aku duduk hampir sepuluh menit hanya mengingat tangannya yang kecil menggenggam jariku.

Hasil tes keluar empat belas hari kemudian.

Probabilitas paternitas lebih dari 99,99 persen.

Aku membaca angka itu tiga kali.

Cassandra hanya membaca sekali.

“Aku sudah tahu,” katanya.

“Aku juga.”

Dia melipat kertas hasil tes.

“Sekarang?”

“Aku ingin bicara tentang apa yang nyaman untuk mereka.”

Dia tampak sedikit terkejut.

“Aku kira kamu akan langsung bicara pengacara.”

“Aku sudah punya pengacara.”

Wajahnya menegang.

“Bukan untuk mengambil anak-anak.”

Dia tidak menjawab.

“Aku minta mereka menjelaskan apa yang harus kulakukan untuk mengakui tanggung jawab secara resmi tanpa membuatmu kehilangan kendali atas kehidupan yang selama ini kamu bangun untuk mereka.”

Cassandra duduk.

“Kau benar-benar bicara seperti itu ke pengacaramu?”

“Kurang lebih.”

“Kurang lebih?”

“Aku mungkin bilang jangan sampai ada yang bertindak seolah aku mau menyeret ibu anak-anakku ke pengadilan.”

Dia tertawa kecil.

Itu pertama kali aku mendengar tawa yang mirip Cassandra yang dulu.

Tetapi hubungan kami tidak tiba-tiba kembali.

Aku belajar itu pelan-pelan.

Ada hari ketika dia ramah.

Ada hari ketika dia menjawab pesanku hanya dengan satu kata.

Ada jadwal video call yang kadang berantakan karena anak-anak sedang tidur.

Pernah aku terbang ke Surabaya untuk akhir pekan, lalu Lukas demam dan Cassandra membatalkan semua rencana.

Versi diriku tiga tahun lalu mungkin akan marah karena jadwal berubah.

Kali ini aku mengirim sup, bertanya apakah mereka membutuhkan sesuatu, lalu menunggu.

Aku tidak datang tanpa izin.

Dua hari kemudian Cassandra mengirim foto Lukas sedang makan.

Pesannya cuma:

Sudah lebih baik.

Aku menyimpan foto itu.

Bukan di folder perusahaan.

Di ponselku sendiri.

Sebulan setelah penerbangan itu, Cassandra akhirnya mau bicara tentang kami.

Bukan tentang anak-anak.

Tentang hubungan kami yang dulu.

Kami duduk di balkon apartemen kecil yang kusewa di Surabaya agar aku tidak terus tinggal di hotel.

Dia memegang kopi.

“Aku bukan meninggalkanmu karena kamu bekerja keras,” katanya.

“Aku tahu.”

“Dulu kamu selalu bilang aku tidak mendukung ambisimu.”

Aku mengangguk.

“Aku salah.”

“Yang membuatku menyerah adalah semua hal harus menunggu sampai pekerjaanmu selesai.”

Aku menatap jalan di bawah.

“Pernikahan kita.”

“Iya.”

“Kita tunda dua kali.”

“Iya.”

“Aku masih ingat.”

“Ulang tahunku.”

Aku menutup mata.

“Aku terbang ke Singapura.”

“Kau mengirim bunga.”

“Delapan puluh tangkai.”

“Dengan kartu yang ditulis sekretarismu.”

Aku mengusap wajah.

“Itu buruk.”

“Itu sangat buruk.”

Kami sama-sama tertawa kecil.

Kemudian dia kembali serius.

“Saat aku hamil, aku takut. Tapi aku juga berpikir mungkin itu akan membuatmu berhenti sebentar.”

Aku menatapnya.

“Dan kemudian amplop itu kembali.”

“Ya.”

“Apa yang kamu pikirkan?”

Dia lama menjawab.

“Aku pikir aku salah menilai tempatku dalam hidupmu.”

Aku tidak punya pembelaan.

“Aku marah,” lanjutnya. “Lalu aku berhenti mencoba. Setelah anak-anak lahir, aku beberapa kali berpikir mencari kamu lagi.”

“Kenapa tidak?”

“Kau sudah pindah kantor. Perusahaanmu semakin besar. Namamu ada di berita bisnis. Aku melihat foto kamu di Singapura, Tokyo, Seoul.”

“Itu bukan alasan.”

“Bukan.”

Dia menatap cangkirnya.

“Aku juga keras kepala.”

Aku tidak membantah.

“Aku bilang ke diriku sendiri, kalau kau memang tidak mau tahu, aku tidak akan memaksa. Lama-lama semakin sulit.”

“Karena anak-anak semakin besar?”

“Karena setiap bulan yang lewat membuat pertanyaannya semakin berat. Bagaimana aku menjelaskan ada ayah yang tidak tahu mereka ada?”

Aku menarik napas.

“Kita sama-sama membuat keputusan karena marah.”

“Bedanya, aku yang harus bangun jam dua pagi kalau mereka muntah.”

Kalimat itu tepat mengenai tempatnya.

“Iya.”

Dia memandangku.

“Aku tidak bilang itu untuk menghukummu.”

“Aku tahu.”

“Kalau mau jadi ayah mereka, jangan gunakan rasa bersalah sebagai bahan bakar.”

“Maksudmu?”

“Rasa bersalah cepat habis.”

Aku diam.

“Datang karena memang mau datang. Bayar kebutuhan mereka karena itu tanggung jawabmu, bukan karena mau menebus sesuatu. Jangan menjanjikan hal besar ke anak kecil cuma karena kamu takut kehilangan waktu lagi.”

Aku mengangguk.

“Aku bisa melakukan itu.”

“Kita lihat.”

Jawaban itu dulu mungkin akan membuatku tersinggung.

Sekarang aku tahu Cassandra benar.

Kepercayaan tidak bisa diminta di muka.

Beberapa bulan berikutnya berjalan tanpa keajaiban.

Aku mengatur jadwalku agar dua akhir pekan setiap bulan bisa di Surabaya.

Tidak selalu berhasil.

Pernah rapat darurat membuatku terlambat satu hari.

Aku menelepon Cassandra sebelum anak-anak menunggu.

Pernah juga Lukas marah karena aku harus kembali ke Jakarta.

“Papa kerja terus.”

Aku hampir mengatakan semua ayah bekerja.

Untung aku berhenti.

Aku jongkok.

“Iya. Papa harus kerja. Tapi Papa juga sudah janji Minggu pagi video call. Kalau Papa terlambat, boleh marah.”

“Boleh?”

“Boleh.”

Hari Minggu aku menelepon lima menit lebih awal.

Viola tidak mau bicara.

Dia hanya menunjukkan boneka gajahnya.

Telinga yang pernah kutempel dengan selotip akhirnya benar-benar lepas.

Aku membawanya ke penjahit mainan pada kunjungan berikutnya.

Bukan membeli gajah baru.

Memperbaiki yang dia sayangi.

Aku mulai memahami perbedaannya.

Soal uang, Cassandra menolak ketika aku pertama kali ingin mengambil alih semua biaya.

“Mereka bukan proyek.”

“Aku tahu.”

“Jangan tiba-tiba membuat standar hidup yang bahkan tidak bisa kupertahankan kalau suatu hari kau berubah pikiran.”

“Aku tidak akan berubah pikiran.”

Dia menatapku.

Aku langsung memperbaiki kalimat.

“Baik. Kamu tidak harus percaya itu sekarang.”

Akhirnya kami membuat pengaturan yang masuk akal.

Aku menanggung bagian tetap untuk pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan harian anak-anak melalui rekening khusus yang bisa dipantau Cassandra.

Tidak ada uang yang diberikan ke keluarganya.

Tidak ada syarat.

Tidak ada pengeluaran yang harus disetujui stafku.

Urusan anak-anak tidak masuk melalui Reno.

Nomor Cassandra tersimpan langsung di ponselku.

Enam bulan setelah penerbangan malam Natal itu, proses administratif pengakuan sebagai ayah sudah berjalan sesuai prosedur yang kami sepakati.

Tidak semuanya selesai.

Tidak perlu semuanya selesai untuk hidup kami mulai berubah.

Aku juga membuat perubahan di perusahaan.

Bukan karena tiba-tiba berhenti mencintai pekerjaanku.

Aku masih menyukai negosiasi.

Masih menyukai membangun sesuatu.

Aku masih bisa bekerja sampai malam kalau memang dibutuhkan.

Tetapi aku berhenti menjadikan diriku satu-satunya pintu bagi setiap keputusan.

Direktur operasional mendapat kewenangan lebih besar.

Dewan mendapat aturan eskalasi yang lebih jelas.

Reno tetap bekerja denganku.

Kami bahkan masih beberapa kali berdebat.

Tetapi tidak ada lagi instruksi seperti “jangan ganggu aku dengan apa pun” tanpa pengecualian.

Aku belajar bahwa efisiensi yang tidak menyisakan ruang bagi kehidupan manusia bisa menjadi bentuk kebodohan yang sangat mahal.

Akuisisi Nusa Medika akhirnya selesai tiga bulan setelah malam Natal itu.

Tidak ada pesta besar.

Aku bahkan tidak menghadiri makan malam penutup karena hari itu bertepatan dengan pertunjukan kecil di tempat penitipan anak Lukas dan Viola.

Reno sempat bertanya apakah aku yakin.

Aku menjawab iya.

Lukas berdiri di panggung memakai topi karton berbentuk bintang.

Dia hanya punya satu kalimat.

Dia lupa setengahnya.

Aku tetap merekam seluruh pertunjukan.

Viola malah menolak naik panggung dan duduk di pangkuan Cassandra.

Sesudah acara, kami makan mi di tempat sederhana dekat sekolah.

Cassandra melihat jam.

“Kamu tidak ada makan malam perusahaan?”

“Ada.”

“Terus?”

“Aku sudah bilang tidak datang.”

Dia tersenyum kecil.

“Akhirnya mereka tahu hidup tanpa Damar Prasetya?”

“Sedikit-sedikit.”

Hubungan kami sendiri masih jauh lebih rumit.

Aku tidak melamarnya lagi.

Tidak ada adegan aku berlutut enam bulan setelah kembali.

Itu akan menjadi cara lama kami.

Terlalu cepat.

Terlalu besar.

Terlalu banyak janji sebelum kebiasaan berubah.

Kami mulai dengan makan malam.

Kadang hanya berdua setelah anak-anak tidur.

Kadang kami bertengkar.

Pernah Cassandra menuduhku mencoba membeli solusi ketika aku menawarkan pindah ke rumah lebih besar.

Aku tersinggung.

Kemudian aku sadar dia benar sebagian.

Aku menarik tawaran itu.

Dua minggu kemudian kami membicarakan apa yang sebenarnya dia butuhkan.

Bukan rumah.

Jadwal bantuan untuk menjaga anak ketika pekerjaannya sedang padat.

Aku mengatur bagianku.

Ada juga saat aku terlalu jauh mengalah karena takut dianggap mengontrol.

Cassandra kesal.

“Kalau semua keputusan kamu lempar ke aku, itu bukan kerja sama.”

Aku menatapnya.

“Bukankah kamu bilang jangan mengontrol?”

“Aku bilang jangan mengontrol. Bukan jangan punya pendapat.”

“Aku sedang belajar.”

“Belajarnya cepat sedikit.”

Aku tertawa.

Dia juga.

Beberapa luka kami tidak hilang.

Ada hari ketika amplop cokelat itu masih muncul dalam percakapan.

Bukan sebagai senjata.

Sebagai pengingat bahwa satu kalimat yang diucapkan saat marah bisa hidup jauh lebih lama daripada kemarahan itu sendiri.

Menjelang Natal berikutnya, aku kembali berada di bandara.

Kali ini bukan mengejar tanda tangan.

Aku menunggu di area kedatangan Surabaya.

Pesawat Cassandra dan anak-anak dari Jakarta terlambat hampir empat puluh menit.

Aku tidak menelepon maskapai.

Tidak menyuruh staf mencari jalur khusus.

Aku duduk sambil membawa dua gelas minuman dan satu kotak krayon baru.

Ketika pintu kedatangan terbuka, Lukas melihatku lebih dulu.

“Papa!”

Dia berlari.

Aku menangkapnya.

Viola datang beberapa langkah di belakang sambil memeluk boneka gajah abu-abu yang sekarang telinganya sudah dijahit rapi.

Cassandra mendorong koper.

Saat sampai di depanku, dia menunjuk kantong di tanganku.

“Krayon lagi?”

“Yang merah dulu mempertemukan kita.”

“Jangan mulai jadi puitis.”

“Aku cuma bilang fakta.”

Dia menggeleng sambil tersenyum.

Lukas sudah membuka kotaknya.

Satu krayon merah jatuh ke lantai.

Menggelinding melewati sepatuku.

Kali ini aku tidak menunggu anak kecil itu mengambilnya sendiri.

Aku membungkuk, mengambil krayon itu, lalu menyerahkannya kembali.

“Jangan kabur lagi,” kataku.

Lukas tertawa.

Tangannya langsung menggenggam tanganku.

Dan ketika kami berjalan keluar dari bandara, untuk pertama kalinya aku tidak melihat jam.

Menurutmu, apakah Cassandra benar memberi Damar kesempatan menjadi ayah secara perlahan setelah tiga tahun tanpa kehadirannya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.