Setahun Tomas Diam-Diam Meninggalkan Payung untuk Perempuan di Terminal, Sampai Hari Terakhirnya Membuka Rahasia Elena
Bagian 1
Hujan turun begitu deras ketika Tomas melihat Elena berdiri di ujung area tunggu terminal tanpa payung. Perempuan itu beberapa kali melihat jalan yang sudah berubah menjadi genangan, lalu memeriksa jam di ponselnya dengan wajah gelisah.
Tomas sudah hampir setahun memperhatikannya dari jarak beberapa meter.
Bukan karena ia sengaja mengikuti Elena.
Mereka hanya selalu berada di terminal yang sama, pada jam pulang yang hampir sama, menunggu bus ke arah berbeda setelah seharian bekerja.
Tomas bekerja sebagai graphic artist di sebuah perusahaan percetakan dan pemasaran di kota. Pekerjaannya tidak buruk, tetapi jam pulangnya sering lewat dari pukul tujuh malam karena revisi klien hampir selalu datang menjelang sore.

Ia bukan tipe orang yang mudah menjadi pusat perhatian.
Di kantor pun Tomas lebih sering duduk di depan monitor sambil mengenakan headphone daripada ikut bercanda keras di pantry. Kalau ada rapat, ia berbicara hanya ketika diminta menjelaskan desain.
Karena itu, sejak pertama kali melihat Elena di terminal, ia tidak pernah berani menyapa.
Elena hampir selalu datang dengan pakaian kerja yang rapi. Kadang kemeja polos dan celana panjang, kadang blus dengan jaket tipis. Tasnya sederhana, tetapi caranya membawa diri membuat Tomas berpikir perempuan itu pasti bekerja di tempat yang jauh lebih bagus daripada dirinya.
Ia terlihat cantik, tenang, dan agak sulit didekati.
Tomas bahkan tidak tahu namanya selama berbulan-bulan.
Dalam pikirannya, perempuan seperti itu pasti punya lingkaran pergaulan sendiri. Mungkin sudah punya pasangan. Mungkin kalau Tomas tiba-tiba mengajak bicara, Elena justru merasa terganggu.
Maka Tomas memilih hal yang paling aman baginya.
Diam.
Sampai malam ketika hujan pertama itu datang.
Tomas sendiri membawa payung lipat hitam. Ia sudah membuka payung ketika melihat Elena masih berdiri di bawah atap, memandangi halte keberangkatan di seberang jalur kendaraan.
Untuk mencapai busnya, Elena harus berjalan melewati bagian terminal yang tidak seluruhnya tertutup.
Tomas sempat berpikir untuk menghampiri.
“Mau pakai payung saya?”
Sederhana sekali.
Namun baru membayangkannya saja ia sudah gugup.
Akhirnya, ketika Elena menoleh ke arah papan jadwal, Tomas berjalan mendekat, meletakkan payungnya di bangku tepat di samping tas Elena, lalu berbalik sebelum perempuan itu sempat melihat wajahnya.
Ia kemudian berlari menerobos hujan.
Kemeja Tomas basah dalam waktu kurang dari semenit.
Dari bawah atap berikutnya, ia menoleh.
Elena menemukan payung itu.
Perempuan itu mengangkatnya, melihat ke kanan dan kiri, lalu membuka payung hitam tersebut. Wajah serius yang selama ini selalu dilihat Tomas tiba-tiba berubah.
Elena tersenyum.
Bukan senyum sopan yang diberikan kepada orang asing.
Senyumnya lebar dan hangat, seolah sebuah hal kecil baru saja memperbaiki hari yang sangat melelahkan.
Tomas pulang dengan celana basah sampai lutut dan sepatu yang berbunyi setiap kali diinjak.
Anehnya, ia tidak menyesal.
Sejak malam itu, kebiasaan aneh tersebut dimulai.
Setiap kali langit terlihat buruk dan Tomas tahu kemungkinan hujan besar, ia membeli payung murah dari minimarket dekat terminal.
Ia tidak pernah meminta payung sebelumnya kembali.
Ia hanya meninggalkan yang baru.
Kadang payung biru tua.
Kadang abu-abu.
Pernah sekali hijau.
Lalu Tomas mengetahui sesuatu secara tidak sengaja. Pada suatu malam ia melihat Elena berhenti lebih lama di depan rak payung sebuah toko kecil karena memegang payung merah sebelum mengembalikannya.
Sejak itu, Tomas beberapa kali membeli warna merah ketika tersedia.
Ia mulai hafal tempat Elena biasa duduk.
Kursi kedua dari ujung, dekat tiang informasi.
Ia tahu Elena biasanya datang sekitar pukul delapan kurang seperempat. Jika terlambat, biasanya hanya sepuluh atau lima belas menit.
Tomas tidak pernah menganggap kebiasaannya sebagai sesuatu yang besar.
Ia tidak merasa sedang melakukan pengorbanan.
Ia hanya tahu satu hal sederhana: kalau hujan turun, ia tidak ingin perempuan itu berjalan sendirian dalam keadaan basah.
Dalam hampir satu tahun, jumlah payung yang ia tinggalkan mencapai dua puluh tiga.
Setiap kali, caranya hampir sama.
Letakkan.
Pergi.
Jangan sampai ketahuan.
Kadang Tomas melihat Elena mengangkat payung sambil tersenyum kecil. Kadang perempuan itu tampak mencari seseorang di antara kerumunan, tetapi Tomas selalu sudah menjauh.
Yang tidak diketahui Tomas adalah Elena sebenarnya mulai mengenali pola itu sejak payung ketiga.
Ia juga mulai mengenali lelaki yang selalu menghilang beberapa menit sebelum payung muncul.
Namun Elena tidak pernah menghampirinya.
Ada rasa ingin tahu yang perlahan tumbuh, lalu berubah menjadi sesuatu yang lebih pribadi.
Ia menunggu.
Barangkali suatu hari lelaki pendiam itu akhirnya berani mengatakan sesuatu.
Hari itu tidak pernah datang.
Justru setahun kemudian, hidup Tomas berubah lebih cepat daripada yang ia bayangkan.
Ibunya yang tinggal jauh di luar kota jatuh sakit dan memerlukan pendampingan rutin selama masa pengobatan. Saudara yang bisa membantu hanya sesekali, sementara sebagian besar tanggung jawab akhirnya jatuh kepada Tomas.
Ia mencoba mengambil cuti panjang.
Perusahaannya tidak bisa memberikannya.
Setelah beberapa hari menghitung tabungan, biaya hidup, dan kebutuhan ibunya, Tomas mengambil keputusan yang paling tidak ia inginkan.
Ia mengundurkan diri.
Pada hari terakhir bekerja, meja kerjanya hampir kosong. Beberapa buku desain sudah masuk kardus, tanaman kecilnya diberikan kepada teman sekantor, dan akses kerjanya dinonaktifkan menjelang sore.
Tomas berpamitan tanpa pesta besar.
Hanya makan bersama beberapa rekan dekat, berjabat tangan, lalu keluar membawa satu tas punggung.
Ia sudah membeli tiket bus malam menuju kota tempat ibunya tinggal.
Ketika turun dari angkutan menuju terminal, langit berubah gelap.
Tidak lama kemudian hujan turun.
Tomas sempat tertawa sendiri.
“Pas sekali,” gumamnya.
Itu akan menjadi malam terakhir ia melihat Elena.
Ia masuk ke minimarket.
Kali ini ia tidak mengambil payung termurah.
Tomas memilih payung merah dengan rangka lebih kuat, gagang yang kokoh, dan kain yang cukup lebar untuk melindungi seseorang saat hujan miring.
Payung kedua puluh empat.
Sebelum membayar, ia membeli satu bungkus sticky note.
Di dekat pintu keluar minimarket, Tomas berdiri beberapa menit sambil memikirkan apa yang harus ditulis.
Ia sempat mencoret dua lembar.
Yang ketiga akhirnya ia tempelkan pada gagang payung.
“Semoga kamu selalu aman saat hujan meskipun aku sudah tidak ada di sini. Ini payung terakhir dariku. Jaga diri baik-baik.”
Ia tidak menulis nama.
Baginya, tidak perlu.
Sekitar pukul delapan, Elena muncul.
Tomas melihatnya duduk di tempat biasa sambil memegang ponsel.
Dadanya terasa lebih berat daripada yang ia duga.
Setelah malam itu, mungkin mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Ia berjalan melewati kerumunan, mendekati bangku, lalu meletakkan payung merah di sisi Elena ketika perempuan itu sedang membaca sesuatu di layar.
Tomas berhenti sepersekian detik.
Ia ingin mengatakan selamat tinggal.
Namun keberaniannya tetap berhenti di tenggorokan.
Akhirnya ia berbalik.
Ia berjalan menuju jalur keberangkatan bus antarkota tanpa melihat ke belakang.
Hujan memukul atap terminal dengan suara keras.
Tomas sudah dapat melihat busnya.
Kondektur berdiri di dekat pintu sambil memanggil penumpang yang belum naik.
Tomas mempercepat langkah.
Lalu seluruh lampu dekoratif kecil di area tunggu padam bersamaan.
Beberapa orang berhenti berjalan.
Tomas ikut menoleh.
Suara dari pengeras publik terminal terdengar.
Bukan suara petugas yang memanggil nomor keberangkatan.
Suara perempuan.
Lembut.
Dan sangat ia kenal meskipun selama ini ia hanya beberapa kali mendengar Elena berbicara singkat dengan petugas terminal.
“Untuk lelaki yang sudah meninggalkan dua puluh empat payung dan memilih kehujanan supaya saya tidak basah, tolong jangan pergi dulu.”
Tomas membeku.
Orang-orang di sekitarnya mulai melihat ke kanan dan kiri.
Beberapa bahkan berhenti di tengah langkah.
Tomas menoleh ke layar LED besar di pusat terminal.
Iklan yang tadi tampil menghilang.
Layar berubah.
Muncul rekaman kamera pengawas dari hampir setahun sebelumnya.
Tomas melihat dirinya sendiri berjalan cepat ke sebuah bangku.
Meletakkan payung.
Lalu berlari keluar menembus hujan.
Klip berikutnya memperlihatkan malam lain.
Kemudian malam berikutnya.
Payung berbeda.
Baju berbeda.
Hujan berbeda.
Tetapi lelaki yang melakukannya selalu sama.
Tomas.
Wajahnya terasa panas meskipun pakaiannya mulai terkena tempias dingin dari luar.
Pada salah satu rekaman, terlihat Tomas berdiri jauh di belakang tiang sambil melihat Elena membuka payung.
Senyum bodoh yang selama ini ia kira tidak pernah dilihat siapa pun tampak jelas di layar besar.
Beberapa orang bertepuk tangan.
Tomas justru ingin menghilang.
Lalu kerumunan di depannya bergerak membuka jalan.
Elena berjalan mendekat.
Di tangannya ada payung merah terakhir.
Di belakangnya, beberapa petugas keamanan terminal berdiri membawa payung-payung yang pernah ditinggalkan Tomas.
Hitam.
Biru.
Abu-abu.
Hijau.
Merah.
Dua puluh tiga payung lama yang selama ini Tomas kira sudah berpindah ke mana-mana ternyata disimpan.
Tomas menatap semuanya tanpa mampu berkata apa-apa.
Elena berhenti di depannya.
“Kamu benar-benar mau pergi tanpa pernah bicara sama saya?”
Tomas membuka mulut.
Menutupnya lagi.
“Aku… harus pulang ke tempat Ibu.”
“Aku tahu.”
Tomas mengernyit.
Elena lalu mengatakan sesuatu yang membuatnya semakin tidak mengerti.
Ia bukan pegawai kantoran biasa yang setiap malam kebetulan menunggu bus di tempat yang sama.
Elena adalah General Manager fasilitas terminal tersebut.
Ia sering turun langsung memeriksa kondisi layanan pada jam sibuk, termasuk area keberangkatan malam. Karena perjalanan pulangnya melewati jalur yang sama, ia memang sering duduk di waiting shed beberapa menit seperti penumpang lain.
“Sejak payung pertama saya sudah bertanya-tanya siapa yang meninggalkannya,” kata Elena.
“Payung ketiga, saya mulai curiga.”
Ia tersenyum.
“Payung kelima, saya sudah tahu.”
Tomas menatap layar besar, lalu kembali menatap Elena.
“Kalau tahu, kenapa tidak bilang?”
“Kamu yang selalu lari.”
Beberapa orang tertawa kecil.
Tomas menunduk karena malu.
Elena melanjutkan lebih pelan.
“Aku menunggu kamu berhenti lari dan sekadar menyapa.”
Ia mengangkat payung merah.
“Ternyata yang datang malah pesan perpisahan.”
Untuk pertama kalinya malam itu, suara Elena sedikit bergetar.
“Aku juga sudah lama menunggu kamu, Tomas.”
Tomas menatapnya.
“Kamu tahu namaku?”
Elena tertawa sambil mengusap sudut matanya.
“Saya mengelola terminal ini. Mencari tahu nama lelaki yang membeli payung berkali-kali di minimarket yang sama bukan bagian tersulit dari pekerjaan saya.”
Tomas tidak tahu apakah ia harus tertawa atau merasa semakin malu.
Elena membuka payung merah lalu berdiri di sampingnya.
Payung itu cukup lebar untuk dua orang.
“Aku tidak meminta kamu membatalkan perjalanan,” katanya. “Aku cuma tidak mau kamu pergi dengan pikiran bahwa semua yang kamu lakukan tidak pernah diperhatikan.”
Untuk pertama kalinya setelah hampir setahun, Tomas berdiri di bawah satu payung bersama Elena.
Ia tidak perlu meninggalkan apa pun diam-diam.
Ia tidak perlu bersembunyi di balik tiang.
Malam itu, sebelum Tomas naik bus untuk pulang merawat ibunya, ia dan Elena akhirnya bertukar nomor telepon.
Bukan akhir yang sempurna.
Bukan juga janji bahwa semuanya akan mudah.
Namun saat bus Tomas meninggalkan terminal, sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Dari Elena.
“Hati-hati di jalan. Payungmu saya simpan. Yang merah saya pakai.”
Tomas membaca pesan itu dua kali.
Lalu tersenyum sepanjang beberapa kilometer pertama perjalanan.
Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇
Bagian 2
Tiga hari setelah pulang, Tomas baru memahami bahwa cerita di terminal itu adalah bagian paling mudah.
Ibunya membutuhkan kontrol rutin, pemeriksaan tambahan, dan seseorang yang memastikan obat diminum sesuai jadwal. Rumah kecil keluarga mereka juga membutuhkan banyak pekerjaan yang selama beberapa bulan sebelumnya tidak sempat dilakukan.
Tomas tidak menyesali keputusannya pulang.
Namun setiap pagi, ketika ia membuka laptop lama di meja makan untuk mencari proyek desain lepas, ia sadar tabungannya tidak akan bertahan selamanya.
Elena tidak mengirim pesan setiap lima menit.
Justru itu yang membuat Tomas nyaman.
Kadang mereka bicara malam hari setelah Tomas selesai membantu ibunya. Kadang Elena baru menelepon pukul sepuluh karena baru keluar dari rapat operasional.
Percakapan pertama mereka canggung.
Percakapan kelima sudah penuh ejekan tentang payung.
Sebulan kemudian, Elena datang berkunjung.
Ia tidak datang dengan mobil mewah atau rombongan dari kantornya. Ia naik kereta, lalu memesan kendaraan dari stasiun menuju rumah Tomas sambil membawa satu tas kecil dan payung merah.
Ibu Tomas menyambutnya dengan rasa ingin tahu yang sulit disembunyikan.
“Kamu yang dapat dua puluh empat payung itu?”
Elena tertawa.
“Saya korbannya, Bu.”
Tomas hampir tersedak teh.
Hari itu sederhana.
Elena membantu memotong buah. Ibu Tomas bercerita tentang masa kecil anaknya. Tomas beberapa kali ingin menghentikan cerita yang menurutnya memalukan, tetapi dua perempuan itu justru semakin akrab.
Masalah baru muncul dua bulan kemudian.
Tomas mendapat pesan dari seorang staf procurement perusahaan pengelola terminal.
Mereka sedang mencari vendor desain untuk memperbarui materi visual internal, peta area, dan beberapa materi informasi digital.
Nilai proyeknya cukup besar untuk ukuran pekerjaan lepas Tomas.
Awalnya ia senang.
Sampai staf tersebut berkata, “Bu Elena yang memberikan kontak Bapak.”
Tomas langsung berhenti mengetik.
Malamnya ia menelepon Elena.
“Kamu yang atur proyek terminal itu?”
“Aku kasih kontakmu. Itu saja.”
“Elena.”
“Aku serius. Tim tetap minta portofolio dan penawaran.”
“Tapi kenapa tidak bilang dulu?”
Di seberang telepon, Elena terdiam.
“Aku pikir kamu butuh pekerjaan.”
“Aku memang butuh.”
“Terus masalahnya apa?”
Tomas memandang ibunya yang sudah tidur di kamar.
“Masalahnya aku tidak mau setiap kali dapat kerja, orang berpikir karena pacarku General Manager.”
Kata pacarku membuat keduanya diam beberapa detik.
Mereka memang sudah semakin dekat, tetapi belum pernah memberi nama resmi pada hubungan mereka.
Elena berbicara lebih pelan.
“Aku cuma memberikan nomor teleponmu karena mereka memang butuh desainer.”
“Tetap saja seharusnya kamu tanya dulu.”
Kali ini Elena tidak langsung membela diri.
Beberapa detik kemudian ia berkata, “Iya. Itu salahku.”
Tomas tidak menyangka permintaan maaf datang secepat itu.
“Aku terbiasa mengambil keputusan cepat di kantor,” Elena melanjutkan. “Tapi kamu bukan bagian dari stafku.”
Nada Tomas turun.
“Aku juga mungkin terlalu sensitif.”
“Karena kamu takut dianggap numpang hidup?”
Tomas tidak menjawab.
Elena sudah mendapat jawabannya.
“Tomas, aku suka kamu bukan karena kasihan.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kamu belum benar-benar tahu.”
Tomas duduk lebih tegak.
Elena lalu mengatakan bahwa ia akan menarik diri sepenuhnya dari proses pemilihan vendor. Tim lain akan menilai portofolio Tomas seperti peserta lain.
“Kalau kamu tidak lolos, aku tidak akan campur tangan.”
“Kalau aku lolos?”
“Aku akan tetap mengejek desain jelekmu kalau memang jelek.”
Tomas tertawa untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai.
Ia tetap mengirim proposal.
Seminggu kemudian, ia lolos tahap awal.
Bukan sebagai pemenang langsung.
Ia diminta merevisi konsep bersama dua kandidat lain.
Tomas bekerja tiga malam penuh.
Ketika hasil akhirnya keluar, ia mendapatkan sebagian proyek, bukan seluruhnya.
Nilainya jauh lebih kecil dari yang semula ia bayangkan.
Anehnya, ia justru lega.
Untuk pertama kali sejak berhenti bekerja, ia menerima penghasilan yang cukup besar dari hasil pekerjaannya sendiri.
Malam itu Elena mengirim foto.
Payung merah berdiri di sudut kantornya.
Di bawahnya ada pesan:
“Selamat. Dan jangan besar kepala. Tim desain bilang pilihan font pertamamu jelek.”
Tomas tertawa keras sampai ibunya keluar dari kamar menanyakan apa yang terjadi.
Namun beberapa minggu kemudian, arah hubungan mereka berubah lagi ketika Elena menerima undangan makan malam keluarga dan berkata melalui telepon,
“Ayah ingin bertemu kamu.”
Tomas langsung diam.
Ia tahu dari nada suara Elena bahwa pertemuan itu bukan sekadar makan malam biasa.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Tomas tidak langsung menyetujui undangan itu.
Bukan karena takut bertemu ayah Elena.
Ia sudah berumur tiga puluh dua tahun. Seharusnya makan malam dengan orang tua perempuan yang sedang dekat dengannya bukan sesuatu yang membuatnya ingin mencari alasan.
Yang membuatnya ragu adalah keadaan hidupnya.
Ia baru beberapa bulan mengundurkan diri.
Penghasilannya belum tetap.
Ibunya masih membutuhkan perhatian rutin.
Ia tinggal kembali di rumah keluarga.
Sementara Elena memegang jabatan yang membuat banyak orang memanggilnya Bu Elena bahkan ketika usianya belum empat puluh.
Perbedaan mereka sekarang terasa lebih nyata dibanding ketika Tomas hanya melihat Elena sebagai perempuan yang menunggu bus.
“Ayahmu sudah tahu aku tinggal di rumah Ibu?”
“Tahu.”
“Tahu aku belum punya pekerjaan tetap?”
“Tahu.”
“Tahu aku pernah menghabiskan uang beli dua puluh empat payung untuk perempuan yang bahkan tidak berani kusapa?”
Elena tertawa.
“Bagian itu justru paling dia suka.”
Makan malam akhirnya dijadwalkan dua minggu kemudian ketika Tomas harus datang ke kota untuk menyerahkan materi proyek.
Ia datang mengenakan kemeja biru tua yang sudah beberapa kali dipakainya untuk presentasi.
Elena menjemput di depan sebuah restoran keluarga yang tidak terlalu formal.
“Kamu kelihatan mau wawancara kerja,” katanya.
“Rasanya memang begitu.”
“Ayah tidak menggigit.”
“Kalimat itu biasanya diucapkan sebelum orang menggigit.”
Elena menahan tawa lalu menarik lengan Tomas masuk.
Ayah Elena bernama Surya.
Ia bukan konglomerat.
Bukan pemilik terminal.
Ia pensiunan kepala bagian keuangan sebuah perusahaan distribusi dan sekarang lebih banyak mengurus rumah bersama istrinya.
Surya berbicara tenang, hampir tidak pernah memotong orang.
Justru karena itu Tomas semakin sulit menebak apa yang ada di pikirannya.
Setelah makan hampir setengah jam, pertanyaan yang sejak tadi ditunggu akhirnya keluar.
“Jadi sekarang kamu bekerja sendiri?”
“Iya, Pak.”
“Penghasilan tetap?”
“Belum selalu tetap.”
Surya mengangguk.
“Rencana enam bulan ke depan?”
Tomas melihat Elena sekilas.
Elena tidak membantu.
Dan Tomas justru menghargai itu.
Ia menjelaskan bahwa ia sedang membangun basis klien, sudah mempunyai tiga pekerjaan rutin berskala kecil, ditambah beberapa proyek sekali jalan. Ia juga sedang menyisihkan sebagian penghasilan untuk biaya rumah dan kebutuhan ibunya.
Surya bertanya angka.
Tidak sampai detail rekening, tetapi cukup jelas untuk membuat Tomas tahu lelaki itu sedang menilai apakah ia menjalani hidup berdasarkan rencana atau sekadar mengandalkan keberuntungan.
Tomas menjawab sebisanya.
Kemudian Surya bertanya, “Kalau hubungan kalian serius, kamu mau Elena ikut pindah?”
Tomas hampir salah menelan air.
Elena menatap ayahnya.
“Ayah.”
“Ayah tanya dia.”
Tomas meletakkan gelas.
“Saya belum pernah meminta Elena pindah.”
“Kalau ibumu membutuhkan kamu terus?”
“Saya tetap bertanggung jawab pada Ibu.”
“Dan Elena?”
Tomas tidak menjawab cepat.
Dulu mungkin ia akan mengatakan bahwa semuanya bisa diatur.
Sekarang ia tahu kalimat itu terlalu mudah.
“Kalau hubungan kami memang menuju ke sana,” katanya akhirnya, “kami harus cari cara yang tidak membuat salah satu dari kami kehilangan hidupnya.”
Surya mengangkat alis.
Tomas melanjutkan.
“Saya tidak mau Elena meninggalkan pekerjaan yang sudah dia bangun bertahun-tahun cuma karena saya punya tanggung jawab pada Ibu. Tapi saya juga tidak akan meninggalkan Ibu saat beliau belum bisa mandiri.”
Elena tidak berkata apa-apa.
Surya hanya mengangguk kecil.
Beberapa menit berikutnya percakapan berpindah ke hal lain.
Dalam perjalanan pulang, Tomas bertanya, “Ayahmu tidak suka aku?”
Elena menoleh.
“Kenapa?”
“Wajahnya seperti orang menilai laporan pajak.”
“Itu wajah normal Ayah.”
“Menyeramkan.”
Elena tertawa.
Lalu ia berkata, “Dia tidak menolak kamu.”
“Tapi?”
“Tapi dia khawatir.”
Tomas mengerti.
Surya tidak pernah merendahkannya.
Tidak pernah mengatakan ia terlalu miskin atau tidak selevel dengan Elena.
Ia hanya melihat apa yang Tomas sendiri lihat setiap hari.
Hubungan mereka punya masalah praktis.
Jarak.
Pekerjaan.
Orang tua yang sakit.
Dan perbedaan kestabilan finansial.
Tidak ada payung yang bisa menyelesaikan semuanya.
Beberapa bulan berikutnya menjadi masa yang jauh berbeda dari cerita romantis di terminal.
Elena tetap bekerja.
Tomas tetap di rumah ibunya.
Mereka bertemu rata-rata dua atau tiga kali sebulan jika jadwal memungkinkan.
Kadang Tomas datang ke kota.
Kadang Elena yang berkunjung.
Pernah mereka tidak bertemu hampir lima minggu karena Elena menangani perbaikan besar sistem keberangkatan terminal sementara kondisi ibu Tomas memburuk selama beberapa hari.
Mereka pernah bertengkar hanya karena Elena membatalkan perjalanan dua jam sebelum berangkat.
Tomas kesal karena sudah menyiapkan makan malam.
Elena kesal karena menurutnya Tomas seharusnya memahami situasi darurat pekerjaannya.
Percakapan berakhir buruk.
Dua jam mereka tidak saling menghubungi.
Lalu Elena menelepon lagi.
“Aku tetap salah karena baru bilang dua jam sebelumnya.”
Tomas duduk di teras.
“Aku juga salah karena bicara seolah pekerjaanmu tidak penting.”
Tidak ada kalimat romantis setelah itu.
Mereka hanya menyusun ulang rencana.
Malam berikutnya, Tomas makan masakan yang sudah disiapkannya bersama ibunya.
Elena ikut melalui video call sambil menyantap mi dari ruang kantor.
Hubungan mereka tumbuh dengan cara yang lebih membosankan daripada kejutan di terminal.
Justru itu yang membuat Tomas mulai percaya hubungan tersebut nyata.
Ketika ibunya mulai membaik, Tomas tidak langsung kembali ke kota.
Ia sudah memiliki beberapa klien tetap.
Penghasilan bulanannya kadang masih naik turun, tetapi rata-ratanya mulai mendekati gaji lamanya.
Ia juga menyukai kenyataan bahwa pekerjaannya memberinya fleksibilitas.
Suatu pagi ibunya duduk di meja makan sambil melihat Tomas bekerja.
“Kamu tidak harus terus di sini.”
Tomas menoleh dari laptop.
“Ibu sudah sehat?”
“Belum seratus persen.”
“Berarti masih perlu aku.”
Ibunya menggeleng.
“Perlu bukan berarti harus menahan.”
Tomas menutup laptop.
Ibunya lalu berkata bahwa seorang tetangga yang sudah lama dikenalnya bersedia membantu beberapa jam setiap hari jika Tomas sedang keluar kota. Dokter juga sudah mengurangi frekuensi kontrol.
“Kalau kamu mau kembali bekerja di kota, Ibu bisa.”
Tomas menatap wajah ibunya.
“Ini bukan karena Elena?”
“Bukan.”
Ibunya tersenyum kecil.
“Tapi kalau kamu tanya apakah Ibu suka Elena, jawabannya iya.”
Tomas menghela napas.
“Ibu.”
“Apa?”
“Jangan mulai.”
“Ibu cuma bilang suka. Belum pesan gedung.”
Keputusan Tomas selanjutnya bukan kembali ke kantor lama.
Ia menyewa ruang kerja kecil bersama dua teman desainer yang juga bekerja lepas.
Bukan studio besar.
Hanya lantai dua sebuah ruko lama dengan tiga meja, pendingin udara yang kadang menetes, printer, papan tulis, dan koneksi internet yang cukup stabil.
Mereka mulai mengambil pekerjaan dari bisnis lokal, sekolah, restoran, toko daring, dan beberapa perusahaan kecil.
Tomas tetap pulang ke rumah ibunya setiap minggu.
Kadang dua kali.
Elena tidak terlibat dalam usahanya.
Setelah insiden proyek terminal, mereka sepakat satu aturan sederhana: tidak ada bantuan profesional yang melibatkan nama atau jabatan Elena tanpa dibicarakan terlebih dahulu.
Aturan itu terdengar sepele.
Namun bagi Tomas, itu penting.
Bagi Elena juga.
Suatu sore, hampir setahun setelah malam kejutan di terminal, Tomas datang ke kantor Elena membawa makan siang yang terlambat.
Elena sedang berdiri di depan meja rapat sambil menandatangani beberapa dokumen.
Di sudut ruangan, payung merah masih ada.
“Masih dipakai?”
Elena melihat ke arah payung.
“Masih.”
“Sudah bocor belum?”
“Belum.”
Tomas duduk.
“Payung-payung yang lain?”
“Sebagian masih di gudang.”
Tomas langsung menatapnya.
“Kamu serius masih menyimpan semuanya?”
Elena mengangkat bahu.
“Tidak semua barang harus dibuang hanya karena sudah pernah dipakai.”
Tomas tertawa.
Kemudian matanya jatuh pada bingkai foto kecil di rak.
Foto mereka bersama ibu Tomas.
Bukan foto dari terminal.
Bukan foto ketika layar besar menampilkan dirinya.
Hanya foto sederhana di halaman rumah.
Tomas memandangnya beberapa detik.
Elena menyadari arah pandangnya.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Kalau tidak apa-apa, wajahmu tidak akan begitu.”
Tomas berdiri, mengambil sebuah amplop kecil dari tasnya, lalu meletakkannya di meja.
Elena mengernyit.
“Apa?”
“Buka.”
Elena membuka amplop.
Di dalamnya bukan cincin.
Bukan tiket liburan.
Hanya lembaran hasil cetak dengan beberapa angka dan alamat.
Elena membaca.
Kemudian menatap Tomas.
“Ini apartemen?”
“Aku lihat beberapa tempat.”
“Untuk?”
“Kalau aku pindah lagi ke kota.”
Elena berhenti membaca.
Tomas melanjutkan sebelum ia salah mengerti.
“Bukan supaya kamu pindah. Bukan juga karena aku mau besok langsung tinggal dekat sini.”
Ia menunjuk salah satu alamat.
“Aku cuma mulai hitung kemungkinan.”
Tomas sudah berdiskusi dengan ibunya.
Ia ingin tetap menjaga rumah keluarga sebagai tempat utama ibunya tinggal. Namun jika pekerjaannya semakin banyak di kota, ia bisa membagi waktunya beberapa hari di sana dan beberapa hari di rumah.
Apartemen yang ia cari pun bukan apartemen mahal.
Studio atau satu kamar sudah cukup.
“Kenapa baru bilang sekarang?”
“Karena baru sekarang aku punya angka yang masuk akal.”
Elena membaca lembar itu lagi.
“Kamu mau aku bantu pilih?”
“Boleh.”
“Mau aku bantu bayar?”
“Tidak.”
Jawaban Tomas terlalu cepat.
Elena tertawa.
“Sudah kuduga.”
“Tapi kalau mau traktir makan setelah lihat apartemen, boleh.”
“Nah, itu lebih realistis.”
Mereka akhirnya tidak memilih apartemen mana pun dari daftar pertama.
Dua terlalu mahal.
Satu terlalu jauh.
Satu lingkungan sekitarnya tidak cocok.
Mereka mencari lagi selama hampir dua bulan.
Pada periode yang sama, hubungan mereka menghadapi masalah yang lebih besar.
Bukan dari keluarga.
Bukan dari pekerjaan.
Dari mereka sendiri.
Elena terbiasa mengatur.
Setiap hari ia mengelola ratusan pegawai, jadwal vendor, keamanan, kebersihan, keluhan penumpang, dan target operasional.
Tanpa sadar, kebiasaan itu kadang masuk ke hubungan.
Ia menentukan restoran sebelum Tomas menjawab.
Membuat jadwal akhir pekan lalu mengirimkannya sebagai keputusan.
Sekali waktu ia menghubungi klinik tempat ibu Tomas kontrol karena merasa jadwal pemeriksaan terlalu lama.
Ketika Tomas tahu, ia marah.
“Elena, jangan lakukan itu lagi.”
“Aku cuma tanya jadwal.”
“Itu urusan kesehatan Ibu.”
“Aku tidak minta data medis.”
“Tetap saja kamu bergerak tanpa bicara.”
Elena menatapnya.
Tomas tidak menaikkan suara.
Justru itu membuat kalimat berikutnya terdengar lebih serius.
“Aku tahu niatmu membantu. Tapi waktu proyek terminal dulu kita sudah bicara soal ini.”
Elena menarik napas.
“Benar.”
“Aku tidak mau hidupku berubah menjadi sesuatu yang kamu kelola.”
Kalimat itu membuat Elena diam cukup lama.
Tomas sempat khawatir ia sudah terlalu keras.
Namun Elena akhirnya duduk di sofa.
“Kadang aku memang tidak tahu kapan harus berhenti jadi General Manager.”
Tomas duduk di seberangnya.
“Aku tidak butuh General Manager.”
“Aku tahu.”
“Aku butuh Elena.”
Kali ini Elena tidak menjawab dengan kalimat romantis.
Ia hanya mengambil ponselnya dan menghapus nomor klinik yang tadi disimpan.
“Kalau suatu hari aku mulai begitu lagi, bilang.”
“Aku akan bilang.”
“Jangan diam setahun.”
Tomas tertawa.
“Itu juga berlaku buat kamu.”
Mereka belajar.
Pelan-pelan.
Dua tahun setelah payung pertama, kondisi ibu Tomas jauh lebih stabil.
Tomas sudah menyewa apartemen kecil di kota, tetapi tidak tinggal penuh di sana. Setiap beberapa hari ia masih pulang, membawa bahan makanan atau menemani ibunya kontrol.
Usaha desain bersama teman-temannya belum bisa disebut besar.
Ada bulan yang sangat baik.
Ada bulan yang membuat mereka harus menunda membeli printer baru.
Namun Tomas tidak lagi merasa hidupnya menggantung.
Ia punya tabungan lagi.
Punya klien tetap.
Punya pilihan.
Suatu malam pada awal musim hujan, Elena menelepon ketika Tomas sedang menutup ruang kerja.
“Di mana?”
“Studio.”
“Bisa ke terminal?”
“Kenapa?”
“Datang saja.”
Nada itu membuat Tomas curiga.
“Jangan bilang kamu matikan lampu satu terminal lagi.”
Elena tertawa.
“Tidak. Biaya listrik mahal.”
Setengah jam kemudian Tomas tiba.
Hujan turun.
Tidak sederas malam dua tahun sebelumnya, tetapi cukup untuk membuat orang berlari dari kendaraan menuju atap.
Elena berdiri di area tunggu lama.
Tempat yang sama.
Tidak ada layar besar.
Tidak ada petugas membawa dua puluh tiga payung.
Tidak ada pengumuman melalui pengeras suara.
Elena hanya berdiri sendiri.
Dengan payung merah.
Tomas mendekat.
“Kamu sengaja?”
“Sedikit.”
“Aku mulai takut.”
Elena mengulurkan payung itu.
“Pegang.”
Tomas menerimanya.
Kemudian Elena mengeluarkan sesuatu dari tas.
Bukan cincin.
Sebuah kunci.
Tomas menatapnya.
“Apa ini?”
“Kunci apartemenku.”
“Elena.”
“Dengar dulu.”
Ia tidak sedang meminta Tomas pindah malam itu.
Ia juga tidak meminta mereka menikah bulan depan.
Elena mengatakan hubungan mereka sudah berjalan cukup lama sehingga ia tidak ingin terus hidup dengan pola bertemu hanya ketika jadwal kebetulan cocok.
“Tapi aku juga tidak mau memutuskan semuanya sendiri.”
Ia meletakkan kunci di telapak tangan Tomas.
“Kalau kamu belum siap, kembalikan.”
Tomas memandangi kunci itu.
Dulu ia mungkin akan menerima hanya karena takut mengecewakan Elena.
Atau menolak hanya karena takut dianggap bergantung.
Sekarang ia tahu dua-duanya bukan alasan yang baik.
“Aku belum mau pindah penuh.”
Elena mengangguk.
“Tapi aku mau punya kunci.”
Senyum Elena muncul perlahan.
“Berarti?”
“Berarti kita coba.”
Mereka mencoba selama beberapa bulan.
Tidak selalu berhasil mulus.
Tomas kadang tinggal di apartemen Elena tiga malam berturut-turut, lalu pulang ke rumah ibunya.
Kadang Elena merasa ruang pribadinya berubah terlalu cepat.
Kadang Tomas meninggalkan alat gambar dan laptop di meja makan sampai Elena kesal.
Mereka membuat aturan kecil.
Tidak membawa pekerjaan ke kamar setelah pukul sebelas jika tidak mendesak.
Jika salah satu perlu waktu sendiri, bilang.
Tidak menawarkan uang besar tanpa pembicaraan.
Tidak mengambil keputusan untuk keluarga pihak lain.
Tidak memakai diam sebagai hukuman.
Aturan-aturan tersebut jauh dari romantis.
Tetapi justru dari sana Tomas mulai melihat bentuk kehidupan yang mungkin mereka bangun.
Setahun kemudian, Surya mengajak Tomas minum kopi.
Tanpa Elena.
Tomas sempat menduga ada masalah.
Namun Surya hanya bertanya, “Kamu masih ingin serius dengan anak saya?”
Tomas tersenyum kecil.
“Iya, Pak.”
“Kenapa belum melamar?”
Pertanyaan itu datang begitu langsung sampai Tomas tertawa gugup.
“Saya sedang menyiapkan beberapa hal.”
“Uang?”
“Salah satunya.”
Surya menggeleng.
“Kalau menunggu semua sempurna, kalian menikah umur enam puluh.”
Tomas diam.
Surya mengaduk kopinya.
“Saya dulu khawatir kamu akan bergantung pada Elena.”
Tomas menunggu.
“Sekarang saya justru lihat kamu terlalu takut menerima bantuan.”
Tomas sedikit terkejut.
Surya melanjutkan.
“Menikah bukan lomba siapa paling mandiri. Tapi juga bukan alasan mengambil alih hidup pasangan.”
Kalimat itu menempel di kepala Tomas sampai berhari-hari.
Beberapa bulan kemudian, Tomas meminta Elena datang ke rumah ibunya pada akhir pekan.
Tidak ada restoran mewah.
Tidak ada kamera.
Tidak ada layar.
Ibu Tomas sedang berada di dapur ketika Tomas dan Elena duduk di teras setelah makan siang.
Langit mendung.
Tomas masuk sebentar.
Ia kembali membawa sebuah kotak kecil.
Elena langsung menatapnya.
“Jangan bilang itu payung lipat.”
“Kalau payung, kotaknya terlalu kecil.”
Tomas duduk.
Tangannya tetap gemetar meskipun ia sudah berlatih berkali-kali.
“Elena.”
Perempuan itu tidak bercanda lagi.
Tomas membuka kotak.
Cincin sederhana.
Tidak terlalu besar.
Dibeli dari uang yang sengaja ia sisihkan hampir satu tahun.
“Aku dulu pikir mencintai seseorang itu cukup dengan memastikan dia tidak kehujanan.”
Elena tersenyum tipis.
“Ternyata aku salah.”
Tomas menelan ludah.
“Kadang lebih sulit dari itu. Kadang harus bicara. Harus marah. Harus mengaku kalau takut. Harus bilang kalau tidak setuju.”
Elena sudah mulai berkaca-kaca.
“Aku masih harus bolak-balik menjaga Ibu. Pekerjaanku kadang berantakan. Kamu juga bisa pulang sangat malam dan membawa urusan terminal sampai rumah.”
Elena tertawa kecil di antara air mata.
“Tapi aku tidak ingin cuma bertemu kamu di sela jadwal.”
Tomas mengangkat cincin itu.
“Mau menikah denganku?”
Elena tidak langsung menjawab.
Ia melihat ke arah pintu rumah.
Ibu Tomas berdiri setengah bersembunyi sambil pura-pura memeriksa tanaman.
Elena tertawa.
“Bu, kelihatan.”
Ibu Tomas buru-buru masuk lagi.
Tomas menutup wajah sebentar karena malu.
Ketika ia menurunkan tangannya, Elena mengulurkan jari.
“Iya.”
Tidak ada tepuk tangan satu terminal.
Hanya suara gerimis mulai menyentuh genteng.
Mereka menikah beberapa bulan kemudian dalam acara keluarga yang tidak terlalu besar.
Elena tetap bekerja.
Tomas tetap menjalankan studio desainnya.
Ibunya tetap tinggal di rumahnya sendiri karena memang itulah yang ia inginkan.
Tomas dan Elena tidak mendadak memiliki kehidupan tanpa masalah.
Mereka tetap berbeda dalam banyak hal.
Elena cepat mengambil keputusan.
Tomas terlalu lama memikirkan sesuatu.
Elena bisa bekerja sampai lupa makan.
Tomas bisa duduk dua jam memilih warna desain yang menurut orang lain hampir sama.
Kadang mereka bertengkar.
Kadang salah satu tidur dalam keadaan masih kesal.
Tetapi mereka tidak lagi membiarkan masalah mengendap berbulan-bulan.
Dua tahun setelah menikah, Tomas pernah membuka lemari penyimpanan apartemen dan menemukan empat payung lama.
Ia memanggil Elena.
“Katanya yang lain di gudang.”
“Sebagian.”
“Kenapa ini di sini?”
Elena duduk di lantai sambil memeriksa satu payung biru yang gagangnya mulai kusam.
“Aku ambil beberapa.”
“Untuk apa?”
Elena berpikir sebentar.
“Entahlah.”
Tomas mengambil payung hitam pertama.
Kainnya sudah agak pudar.
Ia ingat malam ketika ia berlari kehujanan karena terlalu takut untuk mengatakan lima kata sederhana kepada seorang perempuan.
“Mau pakai payung saya?”
Ia tertawa sendiri.
Elena menatapnya.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Tomas melipat payung itu kembali.
Mereka tidak menyimpan seluruh dua puluh empat payung.
Sebagian akhirnya disumbangkan untuk digunakan petugas saat membantu penumpang pada musim hujan.
Beberapa sudah rusak.
Payung merah tetap bersama mereka.
Pada suatu sore, ketika hujan turun saat Tomas dan Elena hendak keluar dari terminal setelah makan siang, Elena membuka payung merah itu.
Tomas otomatis berdiri di sampingnya.
Elena menoleh.
“Dulu kamu selalu lari sendiri ke hujan.”
Tomas mengambil gagang payung dari tangannya.
“Dulu aku juga bodoh.”
“Sekarang?”
Tomas membuka payung lebih lebar agar bahu Elena tidak terkena air.
“Sekarang masih kadang-kadang.”
Mereka berjalan bersama menuju parkiran.
Payung merah itu sudah tidak baru.
Ada bekas goresan kecil di gagangnya dan warna kainnya sedikit lebih kusam dibanding malam pertama.
Tapi rangkanya masih kuat.
Dan kali ini, tidak ada seorang pun yang harus meninggalkannya diam-diam lalu berlari sendirian di tengah hujan.
Menurutmu, apakah Elena dan Tomas mengambil keputusan yang tepat dengan membangun hubungan mereka perlahan meski kehidupan mereka sangat berbeda?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
