Bibiku Menolak Meminjamkan Rp220 Juta Saat Ayahku Menunggu Operasi, Dua Hari Kemudian Ia Meneleponku 67 Kali

Avatar penulis
Cerita 01
22 menit baca 420 tayangan
Bibiku Menolak Meminjamkan Rp220 Juta Saat Ayahku Menunggu Operasi, Dua Hari Kemudian Ia Meneleponku 67 Kali
Indeks

Bibiku Menolak Meminjamkan Rp220 Juta Saat Ayahku Menunggu Operasi, Dua Hari Kemudian Ia Meneleponku 67 Kali

Bagian 1

Ayahku sedang menunggu operasi darurat ketika bibiku berkata, “Jangan telepon lagi. Aku tidak akan meminjamkan uang.”

Aku berdiri di lorong rumah sakit dengan tagihan Rp220 juta di tangan, sementara perempuan yang mengatakan itu adalah adik kandung Ayah sendiri, orang yang dulu dibantu Ayah sampai menjual rumah kecil yang seharusnya menjadi tabungan masa depannya.

Nama bibiku Maya Prasetyo.

Di keluarga kami, semua orang tahu ia satu-satunya yang berhasil membangun bisnis sampai nilainya mencapai ratusan miliar rupiah.

Dua ratus dua puluh juta seharusnya bukan jumlah yang membuat perusahaannya goyah.

Bibiku Menolak Meminjamkan Rp220 Juta Saat Ayahku Menunggu Operasi, Dua Hari Kemudian Ia Meneleponku 67 Kali

Bagiku sore itu, jumlah itu adalah perbedaan antara Ayah masuk ruang operasi atau terus menunggu dengan pendarahan di kepalanya.

Aku masih bisa mencium bau antiseptik yang menusuk hidung ketika dokter memanggil Ibu dan aku ke dekat meja perawat.

“Kondisinya tidak bisa terlalu lama menunggu,” katanya. “Ada perdarahan di dalam kepala. Tim bedah sudah siap, tetapi administrasi dan biaya tindakan harus segera dibereskan.”

Ibu menggenggam lenganku.

“Berapa, Dok?”

“Untuk tindakan awal, ICU, obat, dan kemungkinan perawatan setelah operasi, keluarga perlu menyiapkan sekitar Rp220 juta.”

Lutut Ibu langsung lemas.

Aku menangkap bahunya sebelum ia jatuh.

Tabungan orang tuaku tidak sampai Rp50 juta.

Aku sudah menghubungi saudara, tetangga lama, dan dua teman Ayah. Jika digabung dengan uang yang bisa segera dicairkan, jumlahnya baru sedikit di atas Rp80 juta.

Masih terlalu jauh.

Aku menatap pintu ICU dan memikirkan satu nama.

Maya.

Aku meneleponnya.

Panggilan pertama baru diangkat setelah lama berdering.

Suara orang berbicara dan kursi bergeser terdengar dari seberang.

“Kirana?” katanya cepat. “Ada apa?”

“Bi, Ayah kecelakaan. Sekarang di ICU. Dokter bilang harus segera dioperasi.”

Suara di seberang mendadak lebih pelan.

“Parah?”

“Parah. Ada perdarahan di kepala. Kami kekurangan uang untuk tindakan. Aku butuh pinjaman Rp220 juta.”

Aku belum selesai menjelaskan ketika Maya memotong.

“Aku sedang rapat penting.”

“Bi, sebentar saja. Aku cuma mau—”

“Nanti dulu, ya.”

Telepon ditutup.

Aku tetap menempelkan ponsel ke telinga beberapa detik meskipun sambungan sudah mati.

Ibu menatapku.

“Bagaimana?”

Aku memasukkan ponsel ke tas.

“Bibi sedang rapat. Mungkin memang tidak bisa bicara.”

Aku tahu Ibu tidak percaya sepenuhnya. Namun ia hanya mengangguk.

Setengah jam kemudian, seorang perawat mendatangi kami lagi.

“Mbak Kirana, administrasinya bagaimana? Dokter ingin segera masuk tindakan. Kalau terlalu lama, jadwal operasi harus disesuaikan lagi.”

Aku merasakan telapak tanganku dingin.

Aku menelepon Maya untuk kedua kalinya.

Kali ini ia langsung menjawab.

“Kirana, tadi sudah kubilang aku sedang sibuk.”

“Bi, Ayah benar-benar tidak bisa menunggu. Kalau Bibi bisa transfer sebagian dulu juga tidak apa-apa. Aku akan buat surat pinjaman. Aku cicil. Berapa pun yang—”

“Aku sedang di luar kota.”

Aku berhenti bicara.

“Apa?”

“Ada perjalanan kerja. Aku tidak mungkin pulang sekarang.”

“Aku tidak minta Bibi pulang. Transfer bank bisa dilakukan dari ponsel.”

Hening sebentar.

Lalu suaranya berubah.

“Jaringan di sini jelek. Nanti saja.”

“Bi—”

Sambungan kembali terputus.

Aku turun perlahan ke kursi plastik di lorong.

Aku tidak mengerti.

Yang kuminta bukan hadiah.

Bukan pula modal usaha atau uang untuk membeli kendaraan.

Ayah sedang terbaring di ICU.

Orang yang kutelpon adalah adik kandungnya.

Dan kalau ada seseorang di dunia ini yang pernah membantu Maya sampai mengorbankan miliknya sendiri, orang itu Ayah.

Sebelum Maya menjadi pemilik perusahaan manufaktur besar, ia pernah tinggal hampir dua tahun bersama orang tuaku.

Ayah membayar uang kuliahnya ketika Kakek sudah tidak mampu.

Saat Maya ingin membuka usaha pertamanya, bank menolak pengajuan kredit karena ia belum punya jaminan yang cukup.

Ayah menjual rumah kecil yang sebelumnya ia beli dari hasil bekerja bertahun-tahun.

Aku masih ingat kalimatnya kepada Ibu.

“Maya punya kemampuan. Kalau kita bantu sekarang, hidupnya bisa berubah.”

Ibu tidak pernah menyukai keputusan menjual rumah itu.

Namun ia tidak pernah melarang.

Mereka pindah ke kontrakan yang lebih kecil.

Ayah memulai lagi dari nol.

Maya kemudian berhasil.

Usahanya tumbuh dari satu gudang menjadi pabrik. Dari beberapa pegawai menjadi ratusan pekerja. Namanya mulai muncul di acara bisnis dan berita ekonomi daerah.

Ayah tidak pernah meminta uang itu kembali.

Ia hanya bangga.

Sekarang orang yang dibanggakannya bahkan tidak mau mendengarkan sampai aku selesai bicara.

Ibu duduk di sebelahku.

“Kita cari cara lain.”

“Cara apa, Bu?”

Ia tidak menjawab.

Matanya merah, tetapi tidak ada air mata yang jatuh.

Aku berdiri lagi.

“Sekali lagi.”

“Kirana…”

“Sekali saja.”

Aku menelepon untuk ketiga kalinya.

Maya mengangkat dengan napas panjang.

“Kirana, kamu tidak mengerti bahasa orang?”

Aku membeku.

“Bibi?”

“Aku bilang terus terang saja. Aku tidak akan meminjamkan Rp220 juta.”

“Kenapa?”

“Karena hari ini Rp220 juta, besok berubah jadi dua ratus dua puluh ribu masalah.”

Aku menatap lantai.

Ia melanjutkan.

“Keluargamu selalu ada kebutuhan. Sekarang rumah sakit. Besok apa lagi? Aku tidak mau masuk ke dalam urusan yang tidak ada habisnya.”

Ada sesuatu dalam diriku yang menjadi sangat tenang.

“Ayah bukan ‘urusan’, Bi.”

“Jangan mulai membuatku merasa bersalah.”

“Dia kakak kandung Bibi.”

“Aku tahu siapa dia.”

“Dan dulu ketika Bibi tidak punya modal—”

“Kirana.”

Nadanya meninggi.

“Jangan hitung-hitungan masa lalu. Kakakmu membantu karena dia mau. Tidak ada perjanjian utang. Tidak ada kewajiban bagiku untuk membayar hidup kalian selamanya.”

Aku menutup mata.

Aku bahkan tidak sedang meminta pembayaran utang lama.

Aku meminta pinjaman untuk menyelamatkan kakaknya.

Namun saat itu aku sadar, tidak ada gunanya menjelaskan.

Maya sudah memutuskan sebelum panggilan pertama.

“Tolong jangan hubungi aku lagi,” katanya. “Aku tidak mau terlibat.”

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan Ayah, aku tersenyum.

Bukan karena lucu.

Aku hanya merasa sesuatu yang selama ini kuanggap ada, ternyata memang tidak pernah ada.

“Baik.”

Hanya itu yang kukatakan.

Aku mematikan telepon.

Ibu menatapku.

Aku menggenggam tangannya.

“Bu, uangnya biar aku yang cari.”

“Kamu mau cari dari mana?”

“Aku akan hubungi kantor.”

“Kamu baru tiga bulan kerja.”

“Aku tahu.”

“Masa perusahaan mau meminjamkan sebanyak itu?”

Aku mengeluarkan ponsel pribadi, menghapus nomor Maya, kemudian memblokirnya.

“Bukan perusahaan biasa.”

Ibu mengerutkan kening.

Selama ini aku memang tidak banyak bercerita tentang pekerjaan baruku.

Tiga bulan sebelumnya, aku diterima di Arunika Capital, perusahaan investasi swasta yang namanya cukup terkenal di kalangan keuangan tetapi hampir tidak pernah membicarakan struktur internal mereka kepada media.

Proses seleksinya berlangsung berminggu-minggu.

Tes angka.

Analisis kontrak.

Simulasi krisis.

Wawancara yang membuatku merasa setiap jawaban sedang dibongkar sampai ke dasar.

Dari ratusan pelamar, aku masuk ke tim kecil yang bekerja langsung di bawah pimpinan perusahaan.

Jabatanku terdengar sederhana: asisten ketiga.

Pekerjaannya tidak sederhana.

Aku membantu memeriksa risiko pemasok, transaksi antarkorporasi, dokumen investasi, dan masalah yang harus diselesaikan sebelum berubah menjadi kerugian besar bagi perusahaan-perusahaan dalam jaringan Arunika.

Orang di luar kantor jarang mengetahui siapa sebenarnya pimpinan tertinggi kami.

Bahkan banyak pegawai hanya mengenalnya dengan panggilan yang sama.

Pak L.

Aku membuka tas kerja dan mengambil ponsel hitam khusus kantor.

Di daftar kontak hanya ada beberapa nomor internal.

Satu nama berada paling atas.

Pak L.

Ibu memperhatikanku.

“Kamu yakin?”

Aku menatap lampu merah di atas pintu ICU.

“Tidak.”

Aku menarik napas.

“Tapi aku harus mencoba.”

Lalu aku menekan tombol panggil.

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Pak L mengangkat pada dering kedua.

“Kirana?”

Aku berdiri menjauh dari Ibu.

“Maaf menghubungi langsung, Pak. Ayah saya kecelakaan. Rumah sakit meminta dana tindakan sekitar Rp220 juta. Saya ingin mengajukan pinjaman karyawan atau uang muka kompensasi. Saya bersedia menandatangani perjanjian dan dipotong dari penghasilan saya.”

Tidak ada pertanyaan tentang mengapa keluargaku tidak membayar.

Tidak ada kalimat basa-basi.

“Berapa yang sudah tersedia?”

“Sekitar delapan puluh juta.”

“Nama rumah sakit?”

Aku menyebutkannya.

“Nomor administrasi pasien kirim ke sekretaris keuangan.”

Aku sampai tidak langsung menjawab.

“Pak, saya baru tiga bulan bekerja.”

“Aku tahu.”

“Jumlahnya besar.”

“Karena itu bukan hadiah.”

Nada suaranya tetap datar.

“Arunika punya fasilitas dana darurat untuk tim inti. Kamu mengajukan pinjaman, perusahaan yang membayar langsung ke rumah sakit, lalu bagian keuangan membuat jadwal pengembalian sesuai kontrakmu.”

Aku menutup mata sebentar.

“Terima kasih.”

“Urus ayahmu dulu. Besok kirim dokumen pendukung.”

Dalam waktu kurang dari satu jam, bagian administrasi rumah sakit mengonfirmasi jaminan pembayaran.

Ayah dibawa ke ruang operasi malam itu.

Operasi berlangsung hampir lima jam.

Ketika dokter akhirnya keluar, masker sudah diturunkan sampai ke dagu.

“Tindakannya berjalan sesuai rencana. Dua puluh empat sampai empat puluh delapan jam ke depan tetap penting, tetapi kondisinya lebih stabil.”

Ibu langsung menangis.

Aku duduk di kursi dan baru sadar kedua kakiku gemetar.

Besok paginya aku mengirim surat keterangan rumah sakit kepada bagian keuangan dan menandatangani perjanjian pinjaman pegawai.

Tidak ada uang yang masuk ke rekening pribadiku.

Pembayaran dilakukan langsung ke rumah sakit.

Itu membuatku sedikit lebih tenang.

Siang hari, sambil menunggu Ayah di ICU, aku membuka laptop kantor.

Aku hanya berniat memeriksa pekerjaan yang tertunda.

Ada satu surel dari kepala tim risiko.

Subjeknya membuatku berhenti.

REVIEW PEMASOK PRIORITAS – PT MAHARDIKA KEMASAN NUSANTARA.

Aku membaca nama itu dua kali.

Itu perusahaan Maya.

Di lampiran ada catatan bahwa beberapa perusahaan dalam portofolio Arunika membeli kemasan dari Mahardika. Nilai kontraknya besar. Sekitar delapan puluh persen pesanan produksi Mahardika untuk kuartal berikutnya berasal dari empat perusahaan yang masih berada dalam jaringan investasi kami.

Aku langsung menelepon kepala tim.

“Pak Dimas, saya punya konflik kepentingan.”

“Dengan vendor ini?”

“Pemiliknya bibi saya.”

Ia diam sebentar.

“Baik. Jangan sentuh analisisnya. Aku pindahkan ke orang lain.”

“Ada masalah besar?”

“Belum bisa disimpulkan.”

Aku tidak bertanya lebih jauh.

Sore harinya, satu pesan internal masuk.

Review dipercepat karena dua anak perusahaan mengeluhkan pengiriman yang tidak sesuai spesifikasi dan dokumen sertifikasi dari salah satu fasilitas produksi belum cocok dengan alamat yang terdaftar di kontrak.

Aku menutup laptop.

Untuk pertama kalinya aku mengerti betapa kecilnya dunia bisnis.

Maya tidak tahu aku bekerja di Arunika.

Aku juga tidak pernah tahu bahwa perusahaan-perusahaan yang menjadi pelanggan terbesarnya berada dalam jaringan tempatku bekerja.

Keesokan malamnya, keputusan sementara keluar.

Semua pesanan baru kepada Mahardika ditangguhkan sampai audit pemasok selesai.

Beberapa pesanan yang belum masuk produksi ditarik.

Dalam hitungan jam, hampir delapan puluh persen order untuk kuartal berikutnya hilang dari buku pesanan Maya.

Aku tidak ikut rapat.

Aku tidak memberi rekomendasi.

Namaku bahkan dicatat resmi sebagai pihak yang mengundurkan diri dari pembahasan karena hubungan keluarga.

Namun sekitar pukul sembilan malam, ponsel pribadiku mulai bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Aku diamkan.

Nomor lain masuk.

Lalu nomor kantor Mahardika.

Lalu nomor asistennya.

Sampai lewat tengah malam, ada enam puluh tujuh panggilan dari berbagai nomor.

Besok paginya sebuah pesan muncul dari nomor baru.

Kirana, angkat. Ini Bibi.

Aku tidak membalas.

Sepuluh menit kemudian panggilan masuk lagi.

Entah mengapa kali ini aku menjawab.

Suara Maya tidak lagi terdengar seperti dua hari sebelumnya.

“Kirana…”

Ia menarik napas.

“Sekarang kamu sebenarnya bekerja di mana?”

Aku memandang jendela ICU.

“Kenapa Bibi baru ingin tahu sekarang?”

“Jawab dulu.”

“Arunika Capital.”

Di seberang sana sunyi.

Lalu terdengar suara benda jatuh.

“Kirana… empat perusahaan yang membatalkan pesanan kami itu…”

“Berada dalam jaringan Arunika.”

“Kamu yang melakukan ini?”

Aku tersenyum tipis.

“Bibi punya perusahaan ratusan miliar.”

Aku mengulangi kalimatnya sendiri dengan suara tenang.

“Masalah kecil seperti ini seharusnya tidak berarti banyak, kan?”

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Maya langsung meninggikan suara.

“Jangan main-main denganku.”

Aku menjauh dari pintu ICU agar Ibu tidak mendengar.

“Aku tidak sedang main-main.”

“Kamu marah karena aku tidak memberi uang, lalu kamu menghancurkan perusahaan yang kubangun belasan tahun?”

“Tunggu.”

Aku memotongnya sebelum kalimat itu semakin jauh.

“Jangan menuduh sesuatu yang bahkan tidak Bibi mengerti.”

“Lalu kenapa tepat setelah kita bertengkar, empat pelanggan terbesarku membatalkan pesanan?”

“Itu pertanyaan yang seharusnya Bibi tanyakan kepada orang di perusahaan Bibi sendiri.”

Maya terdiam.

Aku melanjutkan.

“Aku memang bekerja di Arunika. Tapi begitu melihat nama perusahaan Bibi dalam daftar review, aku melaporkan konflik kepentingan dan keluar dari pembahasan. Keputusan dibuat tim lain.”

“Kamu berharap aku percaya?”

“Bibi tidak perlu percaya kepadaku.”

Aku melihat dokter keluar dari ruang ICU dan memberi isyarat bahwa kami boleh masuk bergantian.

“Aku harus melihat Ayah.”

“Kirana, jangan tutup dulu.”

Untuk pertama kalinya ada sesuatu dalam suaranya yang hampir terdengar seperti memohon.

“Setidaknya kasih tahu aku apa masalahnya.”

“Aku tidak boleh membocorkan dokumen internal.”

“Aku bibimu.”

“Dua hari lalu itu tidak banyak berarti.”

Ia tidak menjawab.

Aku mematikan telepon.

Ketika masuk ke ICU, Ayah belum sepenuhnya sadar.

Wajahnya pucat. Ada balutan di kepala, dan suaranya hanya terdengar seperti gumaman kecil ketika aku memanggilnya.

Aku duduk di sebelah ranjang.

Tangannya bergerak pelan.

Aku menggenggamnya.

“Operasinya sudah selesai, Yah.”

Kelopak matanya terbuka sedikit.

“Ibu?”

“Di luar. Baik-baik saja.”

Ia mencoba bicara lagi.

Aku mendekat.

“Maya?”

Aku membeku.

Bahkan dalam keadaan seperti itu, orang pertama dari keluarga besar yang ia tanyakan adalah adiknya.

Aku tidak sanggup mengatakan yang sebenarnya saat itu.

“Jangan pikirkan apa-apa dulu.”

Tangannya melemah lagi.

Aku duduk di sana hampir dua puluh menit.

Kemarahanku kepada Maya belum hilang.

Namun melihat Ayah seperti itu membuatku sadar bahwa aku tidak ingin hidupku berubah menjadi perang pribadi.

Aku tidak ingin menggunakan pekerjaanku untuk membalasnya.

Kalau perusahaannya memang bermasalah, biarkan masalah bisnis diselesaikan sebagai masalah bisnis.

Kalau Maya telah memperlakukanku dengan buruk, aku bisa mengatur batas dalam hubungan keluarga.

Dua hal itu tidak boleh dicampur.

Pagi berikutnya aku kembali ke kantor untuk beberapa jam karena kepala tim memintaku menandatangani pernyataan konflik kepentingan.

Pak Dimas menemuiku di ruang rapat kecil.

“Ayahmu bagaimana?”

“Sudah melewati operasi. Masih dipantau.”

Ia mengangguk.

Lalu ia mendorong satu formulir ke arahku.

“Ini untuk memastikan namamu tidak muncul dalam review Mahardika. Tanda tangan di sini.”

Aku membaca seluruh halaman sebelum menandatangani.

“Seberapa buruk masalahnya?”

Dimas menatapku beberapa detik.

“Aku bisa menjelaskan sebatas yang memang menjadi pekerjaanmu setelah recusal. Bukan detail rahasia.”

Aku menunggu.

“Masalahnya bukan satu.”

Dadaku mengencang.

“Keluhan awal datang dari perubahan kualitas kemasan. Setelah ditelusuri, sebagian produksi ternyata dialihkan ke fasilitas pihak ketiga yang belum disetujui pelanggan.”

“Subkontrak?”

“Ya.”

“Tanpa pemberitahuan?”

“Begitu dugaan awalnya.”

Ia menunjuk catatan ringkas yang sudah diizinkan untuk kulihat karena berkaitan dengan prosedur konflik.

“Lalu ditemukan perbedaan antara alamat produksi pada dokumen pengiriman dengan fasilitas yang tercantum di kontrak.”

Aku menghela napas.

“Kenapa bisa sampai delapan puluh persen pesanan dihentikan sekaligus?”

“Karena empat pembeli itu memakai standar vendor yang sama. Kalau pemasok gagal review dasar, pemesanan baru otomatis ditahan.”

Jadi bukan karena satu telepon.

Bukan pula karena seseorang di Arunika ingin membelaku.

Mahardika sendiri yang membangun ketergantungan besar pada empat pelanggan dalam satu jaringan, lalu melanggar persyaratan yang sama terhadap mereka.

Dimas berdiri.

“Kalau bibimu menghubungimu, jangan diskusikan audit.”

“Sudah.”

“Apa yang kamu bilang?”

“Bahwa aku tidak bisa memberinya informasi.”

“Bagus.”

Ia berhenti di pintu.

“Kirana, hubungan keluarga sering membuat orang merasa aturan boleh dibengkokkan sedikit. Justru saat begini kita harus lebih kaku.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalaku.

Siang itu Maya datang ke kantor.

Aku tahu karena resepsionis menelepon.

“Ada Ibu Maya Prasetyo ingin bertemu Mbak Kirana.”

“Apakah ada janji?”

“Tidak.”

Aku menatap layar laptop.

“Kalau urusan perusahaan, minta beliau menghubungi tim vendor melalui kanal resmi. Kalau urusan keluarga, saya tidak bisa menerima sekarang.”

Lima menit kemudian ponselku berbunyi.

Sebuah pesan.

Aku sudah di bawah. Kita harus bicara.

Aku tidak turun.

Pesan kedua masuk.

Aku hanya minta lima menit.

Lalu yang ketiga.

Kakakmu hampir meninggal, aku tahu aku salah. Tapi jangan campurkan itu dengan perusahaan.

Aku membaca kalimat tersebut dua kali.

Kemudian membalas.

Justru karena tidak mau mencampurkan keduanya, aku tidak akan membicarakan perusahaan Bibi.

Maya tidak menjawab.

Malamnya aku kembali ke rumah sakit.

Ayah sudah lebih sadar.

Dokter mengatakan jika tidak ada komplikasi, ia bisa keluar dari ICU dalam satu atau dua hari.

Ibu menyuapinya sedikit air menggunakan sendok kecil.

Ketika melihatku, Ayah tersenyum lemah.

“Kamu kelihatan seperti tiga hari tidak tidur.”

“Memang hampir.”

“Uangnya dari mana?”

Ibu dan aku saling pandang.

Aku duduk.

“Dari kantor. Pinjaman karyawan.”

Ayah langsung mengernyit.

“Berapa?”

“Cukup.”

“Kirana.”

“Rp140 juta sisanya dijamin perusahaan. Nanti aku cicil dari penghasilan.”

Ayah menutup mata.

“Harusnya jangan sampai kamu berutang sebanyak itu.”

“Kalau aku tidak berutang, Ayah mau bagaimana?”

Ia diam.

Beberapa detik kemudian ia bertanya lagi.

“Kamu sempat hubungi Maya?”

Aku menatap Ibu.

Ibu menunduk.

Ayah memahami jawabannya sebelum aku bicara.

“Dia tidak mau?”

Aku tidak ingin membuatnya lebih sakit, tetapi aku juga tidak ingin berbohong.

“Tidak.”

Berbeda dari reaksiku, Ayah tidak marah.

Ia hanya menatap langit-langit.

Lama sekali.

Kemudian bertanya, “Dia bilang apa?”

“Tidak perlu dibahas.”

“Kirana.”

Nada suaranya pelan tetapi tegas.

Aku akhirnya menceritakannya.

Tidak semua kata.

Hanya bagian penting.

Tentang tiga panggilan.

Tentang penolakannya.

Tentang kalimat bahwa keluarga kami bisa menjadi masalah tanpa akhir.

Ayah diam sampai aku selesai.

Ibu yang akhirnya bicara.

“Aku sudah bilang dulu, jangan serahkan semuanya untuk adikmu.”

“Aku tahu.”

“Itu rumah pertama yang kita punya.”

“Aku tahu.”

“Kamu menjualnya supaya dia punya modal.”

“Aku tahu, Bu.”

Suara Ayah pecah sedikit.

Bukan marah.

Lebih seperti seseorang yang akhirnya dipaksa melihat hasil dari keputusan yang selama bertahun-tahun selalu ia bela.

“Aku tidak pernah minta dia mengembalikan uang itu.”

“Aku juga tidak pernah bilang harus,” kata Ibu. “Tapi kalau kakaknya hampir mati dan dia bahkan tidak mau meminjamkan uang padahal mampu, itu bukan lagi soal utang lama.”

Ayah menutup mata.

Aku menyentuh lengan Ibu agar tidak melanjutkan.

Sore berikutnya Maya datang ke rumah sakit.

Aku sedang membeli makan ketika Ibu menelepon.

“Kirana, bibimu datang.”

Aku mempercepat langkah.

Ketika sampai di kamar rawat, Maya berdiri di dekat pintu.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun aku melihatnya tanpa sopir, tanpa asisten, tanpa seseorang yang membawakan tas.

Ia memakai blus sederhana dan celana panjang hitam. Wajahnya tampak seperti orang yang belum tidur.

Ayah menatapnya dari ranjang.

Maya membawa sebuah amplop.

“Kak.”

Ayah tidak menjawab.

Ia meletakkan amplop di meja.

“Ada Rp220 juta. Aku transfer juga bisa kalau lebih mudah.”

Aku memandangnya.

“Untuk apa?”

“Biaya rumah sakit.”

“Sudah dibayar.”

“Untuk mengganti pinjamanmu.”

Aku hampir tertawa.

Tiga hari lalu ia menganggap jumlah yang sama sebagai awal dari ratusan ribu masalah.

Sekarang ia membawanya sendiri ke kamar rawat.

Ayah berbicara sebelum aku sempat berkata apa-apa.

“Kalau kamu datang karena perusahaanmu, bawa pulang uang itu.”

Maya pucat.

“Kak, bukan begitu.”

“Lalu kenapa baru sekarang?”

“Aku salah.”

Ayah menatapnya.

Maya menarik kursi tetapi tidak langsung duduk.

“Aku pikir kalau aku memberi sekali, nanti semua keluarga akan datang.”

Ayah masih diam.

“Aku capek, Kak,” lanjutnya. “Setiap ada saudara butuh uang, mereka meneleponku. Ada yang minta modal. Ada yang minta bayar sekolah. Ada yang mau beli motor. Kalau kutolak, mereka bilang aku berubah setelah kaya.”

Aku bisa mengerti bagian itu.

Memiliki uang tidak berarti seseorang wajib membiayai seluruh keluarga besarnya.

Tapi Maya belum selesai.

“Aku mulai membuat aturan sendiri. Tidak memberi pinjaman keluarga. Tidak ikut campur masalah keuangan saudara.”

Ayah akhirnya menatapnya lurus.

“Masalahnya bukan kamu punya aturan.”

Maya menunduk.

“Masalahnya kamu tidak lagi melihat siapa yang menelepon.”

Ruangan menjadi hening.

“Aku bukan sepupu jauh yang mau beli motor, Maya. Aku kakakmu yang sedang menunggu operasi.”

Maya duduk perlahan.

“Aku tahu.”

“Tidak. Waktu itu kamu tidak tahu.”

Ayah tidak membentak.

Itu justru membuat ucapannya terasa lebih berat.

“Aku tidak minta kamu mengembalikan rumah yang kujual dulu. Aku tidak minta bagian dari perusahaanmu. Aku bahkan tidak pernah bilang anakku berhak minta uang darimu karena dulu aku membantumu.”

Matanya mulai merah.

“Tapi kalau suatu hari kamu yang terbaring seperti aku, aku ingin percaya aku masih cukup manusia untuk mendengarkan sampai telepon selesai.”

Maya mengusap wajah.

Ibu berdiri di dekat jendela dan tidak berkata apa-apa.

Akhirnya Maya menatapku.

“Kirana, aku juga mau minta maaf kepadamu.”

Aku tidak menjawab.

Ia melanjutkan.

“Aku menuduhmu menghancurkan perusahaan.”

“Ya.”

“Aku sedang panik.”

“Panik tidak membuat tuduhan itu benar.”

“Aku tahu.”

Ia menarik napas.

“Kalau memang bukan kamu, apakah kamu bisa menjelaskan apa yang terjadi?”

Aku langsung menggeleng.

“Tidak.”

Wajahnya berubah.

“Maksudmu kamu tetap tidak mau membantu?”

“Aku tidak bilang begitu.”

Aku duduk di kursi seberangnya.

“Kalau Bibi mau membahas hubungan keluarga kita, kita bisa bicara. Kalau soal Mahardika, Bibi harus menggunakan jalur resmi.”

“Kamu pasti tahu sesuatu.”

“Mungkin. Tapi aku tidak akan menggunakan akses kantor untuk keluarga.”

“Empat pelanggan itu bisa membuat pabrikku berhenti.”

“Kalau begitu Bibi harus bicara dengan tim audit mereka.”

“Kirana…”

“Dua hari lalu Bibi mengajarkanku sesuatu.”

Ia diam.

“Punya hubungan keluarga bukan berarti seseorang otomatis berhak atas uang orang lain.”

Aku berhenti sebentar.

“Hal yang sama berlaku untuk pekerjaan.”

Maya tidak bisa menjawab.

Aku tidak merasa menang.

Aku hanya tahu untuk pertama kalinya batasnya jelas.

Hari-hari berikutnya bergerak lebih lambat.

Ayah dipindahkan dari ruang rawat intensif ke kamar biasa.

Dokter mengatakan ia perlu fisioterapi karena keseimbangannya sempat terganggu setelah operasi, tetapi peluang pemulihannya baik.

Sementara itu, Maya menjalani audit tanpa bantuan dariku.

Belakangan, dari informasi yang memang boleh diketahui dalam pekerjaanku, aku mengetahui gambaran lengkapnya.

Mahardika mengalami lonjakan pesanan enam bulan sebelumnya.

Kapasitas pabrik mereka tidak cukup.

Daripada menolak pesanan atau meminta perubahan jadwal, direktur operasional mengalihkan sebagian produksi ke pabrik rekanan.

Keputusan itu sebenarnya masih bisa diperbaiki jika pelanggan diberi tahu dan proses persetujuan dilakukan lebih dulu.

Masalahnya, tidak dilakukan.

Dokumen pengiriman tetap menggunakan data fasilitas Mahardika seolah semua barang diproduksi di sana.

Ketika kualitas beberapa kemasan menurun, pelanggan mulai memeriksa.

Maya mengaku tahu perusahaan memakai fasilitas tambahan, tetapi mengatakan ia tidak memahami bahwa timnya menggunakan dokumen lama untuk seluruh pengiriman.

Apakah ia benar-benar tidak tahu?

Aku tidak bisa memastikan.

Dan itu bukan tugasku.

Yang jelas, ia tetap pemilik yang bertanggung jawab atas sistem yang dibangun di perusahaannya.

Arunika tidak “menghancurkan” Mahardika.

Empat pelanggan hanya membekukan pesanan baru sampai audit dan rencana perbaikan selesai.

Sebagian kontrak memang berakhir.

Sebagian lain masih mungkin dipertahankan jika Mahardika memenuhi syarat.

Dua minggu setelah Ayah pulang dari rumah sakit, Maya meneleponku lagi.

Kali ini hanya satu kali.

Aku mengangkat.

“Aku tidak mau minta informasi kantor,” katanya cepat.

“Lalu?”

“Aku mau bicara sebagai keluarga.”

Aku menunggu.

“Kakak sudah di rumah?”

“Sudah.”

“Aku boleh datang?”

“Bibi tanya Ayah sendiri.”

Ia terdiam.

“Nomorku masih diblokir di ponselnya.”

Aku hampir mengatakan itu bukan urusanku.

Lalu kuingat kondisi Ayah.

“Aku akan tanyakan.”

Ayah mengizinkannya datang hari Minggu.

Maya tidak membawa amplop.

Tidak membawa hadiah mahal.

Ia membawa buah dan sekotak makanan lunak yang direkomendasikan dokter.

Lebih penting lagi, ia datang tanpa membicarakan perusahaan selama hampir satu jam.

Ia membantu Ibu memindahkan kursi.

Mengambil air untuk Ayah.

Lalu duduk di ruang tamu yang dulu selalu ia anggap terlalu sempit.

Ketika akhirnya bicara tentang uang, ia menatap Ayah.

“Aku tetap ingin membayar biaya rehabilitasi.”

Ayah menggeleng.

“Tidak perlu.”

“Kak…”

“Aku tidak mau kamu membayar karena merasa bersalah.”

Maya menarik napas.

“Aku memang merasa bersalah.”

“Bagus. Simpan rasa itu. Biar kamu ingat.”

Aku hampir tersenyum.

Maya justru mengangguk.

“Kalau begitu, apa yang bisa kulakukan?”

Ayah memandangnya lama.

“Datang kalau memang mau datang. Jangan cuma kalau butuh sesuatu.”

Maya menunduk.

“Baik.”

Aku tidak langsung percaya bahwa hubungan mereka akan pulih.

Ayah juga tidak.

Namun setidaknya untuk pertama kalinya Maya tidak mencoba membeli jalan keluar dari masalah yang diciptakannya sendiri.

Sebulan kemudian, keadaan mulai menemukan bentuk baru.

Ayah masih menjalani fisioterapi dua kali seminggu.

Jalannya belum secepat dulu, tetapi ia sudah bisa membuat teh sendiri dan duduk di teras tanpa bantuan.

Aku kembali bekerja penuh waktu.

Setiap bulan sebagian penghasilanku dipotong untuk membayar pinjaman rumah sakit.

Jumlahnya cukup terasa.

Aku harus menunda rencana mengganti motor dan memangkas beberapa pengeluaran.

Anehnya, aku tidak menyesal.

Pinjaman itu milikku.

Keputusannya milikku.

Tidak ada seorang pun yang bisa menggunakan uang tersebut untuk mengendalikan keluargaku.

Mahardika kehilangan dua kontrak besar secara permanen.

Dua pelanggan lain kembali memesan dalam jumlah lebih kecil setelah perusahaan menyelesaikan audit fasilitas, mengganti kepala operasional, dan mengubah proses persetujuan subkontrak.

Maya tidak jatuh miskin.

Perusahaannya tidak hancur dalam semalam.

Tetapi untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia harus menerima bahwa ukuran rekening bank tidak membuat konsekuensi menghilang.

Ia juga berhenti meneleponku tentang pekerjaan.

Tiga bulan setelah kecelakaan, kami berkumpul di rumah orang tuaku untuk makan siang kecil.

Tidak ada pesta.

Hanya aku, Ibu, Ayah, dan Maya.

Ketika selesai makan, Maya membantu Ibu membawa piring ke dapur.

Ayah duduk di kursi dekat jendela sambil memeriksa jadwal fisioterapinya.

Aku membuka aplikasi bank di ponsel.

Potongan cicilan pinjaman bulan itu sudah masuk.

Saldo tabunganku lebih kecil dari yang kuinginkan.

Tetapi untuk pertama kalinya sejak malam di rumah sakit, melihat angka itu tidak membuatku takut.

Maya keluar dari dapur.

“Kirana.”

Aku menoleh.

“Ya?”

Ia tampak ragu.

“Aku belum pernah bilang terima kasih.”

“Untuk apa?”

“Karena kamu tidak mencampurkan urusan kantor dengan apa yang kulakukan kepada kalian.”

Aku mengunci layar ponsel.

“Jangan berterima kasih.”

“Kenapa?”

“Karena itu memang seharusnya kulakukan.”

Ia mengangguk perlahan.

Kemudian matanya jatuh ke arah Ayah.

“Aku masih tidak tahu apakah Kakak benar-benar memaafkanku.”

Aku mengikuti pandangannya.

“Bibi bisa tanyakan sendiri.”

Maya tersenyum pahit.

“Dulu aku selalu mengira uang membuat semuanya lebih mudah.”

“Kadang iya.”

“Kadang tidak.”

“Terutama kalau masalahnya bukan uang.”

Ia tidak menjawab.

Beberapa menit kemudian Maya pamit.

Tidak ada pelukan dramatis.

Ayah hanya berkata, “Hati-hati di jalan.”

Maya mengangguk.

Namun sebelum keluar, ia berbalik.

“Minggu depan aku boleh datang lagi?”

Ayah menatapnya sebentar.

“Kalau datang, jangan bawa dokumen perusahaan.”

Untuk pertama kalinya sejak kecelakaan, kami semua tertawa kecil.

Bukan karena semuanya sudah kembali seperti dulu.

Memang tidak.

Kepercayaan yang pecah tidak pulih hanya karena seseorang datang beberapa kali dan meminta maaf.

Tetapi Maya mulai belajar bahwa keluarga bukan pintu yang bisa ditutup saat orang lain membutuhkan pertolongan lalu dibuka paksa ketika dirinya sendiri kesulitan.

Dan aku belajar sesuatu yang berbeda.

Menetapkan batas tidak berarti harus membalas luka dengan luka yang lain.

Kadang batas itu hanya sesederhana menolak membocorkan satu dokumen, tidak mengangkat enam puluh tujuh panggilan panik, dan membiarkan seseorang menghadapi konsekuensi dari keputusan mereka sendiri.

Setelah Maya pergi, aku mengantar Ayah kembali ke kamarnya.

Di meja kecil dekat ranjang masih ada satu amplop putih yang dulu dibawa Maya ke rumah sakit.

Kosong.

Ayah sudah mengembalikan uangnya.

Di sampingnya ada jadwal cicilan pinjamanku dari Arunika.

Aku memasukkan dokumen itu ke dalam map milikku, menutup laci, lalu memutar kuncinya.

Kali ini, tidak ada orang lain yang menentukan apa yang harus kulakukan dengannya.

Menurutmu, apakah Kirana benar menolak membantu perusahaan bibinya lewat jalur pribadi meski hubungan keluarga mereka mulai membaik?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.