Setelah Tiga Kali Jatuh Sakit karena Ruang Kerja, Aku Meminta Satu Hal pada Kekasihku—Besoknya Ruang Baru Itu Diberikan kepada Perempuan yang Selalu Ia Bela di Depan Seluruh Kantor
Bagian 1: Ruang Kecil yang Kukira Disiapkan untuk Menyelamatkan Kesehatanku Justru Menjadi Hadiah untuk Perempuan yang Kini Memanggil Namanya Tanpa Takut Sedikit Pun
Dalam tiga minggu, aku dua kali demam dan sekali harus pulang sebelum jam makan siang karena migrain yang membuat pandanganku berkunang-kunang.
Penyebabnya tidak sulit ditebak.
Meja kerjaku berada tepat di bawah kisi pendingin udara sentral. Setiap hari sejak pukul delapan pagi, udara dingin menghantam bagian belakang kepala dan bahuku tanpa henti.
Aku sudah mencoba memakai cardigan.
Sudah membeli syal tipis.
Bahkan pernah memindahkan monitor beberapa sentimeter hanya agar bisa duduk sedikit menyamping.
Tidak banyak membantu.
Pada Senin pagi, setelah dokter klinik mengatakan radang tenggorokanku belum pulih sepenuhnya, aku akhirnya mengetuk pintu ruang direktur operasional.
Orang yang duduk di dalam bukan hanya atasanku.
Arga Mahendra adalah laki-laki yang sudah menjadi kekasihku hampir enam tahun.
Kami bahkan pernah membicarakan rumah, tabungan pernikahan, dan kamar kecil yang suatu hari akan kami ubah menjadi ruang anak.
“Mas, aku mau minta pindah meja,” kataku setelah pintu tertutup. “Aku terus sakit karena AC. Kalau ada tempat kosong, di mana pun tidak masalah.”
Arga sedang membaca laporan di laptop.
Ia mengangguk tanpa mengangkat wajah.
“Aku urus.”
“Besok?”
“Besok.”
Hanya dua kata itu.
Tapi setelah enam tahun mengenalnya, aku tidak pernah berpikir aku perlu meminta kepastian kedua kali.
Keesokan paginya, aku datang dan melihat sebuah ruangan kecil di sebelah ruang Arga baru selesai ditata.
Sebelumnya tempat itu hanyalah ruang penyimpanan dokumen.
Sekarang sudah ada meja baru, kursi ergonomis, rak putih, tanaman kecil, bahkan pendingin udara dengan pengaturan suhu sendiri.
Untuk pertama kalinya selama berminggu-minggu, aku merasa lega.
Aku mengambil kardus dari gudang alat tulis lalu mulai memasukkan dokumen, mug, obat tenggorokan, dan foto kecil keluargaku.
Baru beberapa barang masuk, pintu ruang Arga terbuka.
“Dinda?”
Aku menoleh.
Arga menatap kardus di tanganku.
“Kamu mau ke mana?”
Aku sempat mengira ia sedang bercanda.
“Ke ruang baru.”
Dahinya berkerut.
Saat itulah seseorang muncul dari belakang tubuhnya.
Keisya Anindita.
Staf brand partnership yang baru bekerja tujuh bulan di perusahaan kami.
Ekspresi Arga langsung berubah.
“Keisya,” katanya sambil membuka pintu ruangan kecil itu, “mulai hari ini kamu kerja di sini saja. Kamu pernah bilang susah fokus kalau ruangannya terlalu ramai, kan?”
Keisya membelalakkan mata seolah tidak menyangka.
“Serius, Pak?”
“Serius.”
Seseorang dari meja belakang langsung bersiul.
“Wah, Pak Arga sampai renovasi semalam, nih!”
Yang lain tertawa.
“Kalau bosnya perhatian begini, siapa yang mau resign?”
Keisya menutup mulut sambil tersenyum malu.
“Jangan digoda, dong.”
Aku masih memegang kardus.
Yang membuatku paling sulit bernapas bukan karena ruangan itu diberikan kepada Keisya.
Melainkan karena meja lama Keisya sebenarnya berada dekat jendela.
Tidak terkena AC langsung.
Tidak berisik.
Bahkan hampir semua orang di divisi kami menganggapnya tempat terbaik.
Arga tidak menjelaskan apa pun kepadaku.
Ia hanya berkata, “Dinda, tolong laporan klien Surabaya selesai sebelum sore, ya.”
Seolah percakapan kami kemarin tidak pernah terjadi.
Aku kembali ke meja.
Mengeluarkan satu per satu barang dari kardus.
Di layar laptop, sebuah email yang masuk dua malam sebelumnya masih belum kubalas.
Pengirimnya adalah Talent Director sebuah perusahaan distribusi digital di Bandung.
Mereka menawariku posisi Senior Client Strategy Lead dengan gaji lebih tinggi, tim sendiri, serta kesempatan menangani ekspansi Jawa Barat.
Aku sebelumnya menunda jawaban karena satu alasan.
Arga.
Pagi itu, alasannya tiba-tiba terasa sangat kecil.
Aku mengetik singkat.
“Saya menerima penawarannya. Saya siap membicarakan tanggal mulai kerja.”
Lalu kukirim.
Belum sepuluh menit, ponselku berbunyi.
Pesan dari Arga.
“Malam ini jangan langsung pulang. Tim makan bersama di Senopati. Sekalian ulang tahun Keisya.”
Aku menatap pesan itu cukup lama.
Ulang tahun.
Tahun sebelumnya, di hari ulang tahunku sendiri, Arga berjanji menjemputku pukul tujuh.
Aku sudah memesan meja di restoran kecil di Kemang.
Pukul tujuh lewat.
Delapan.
Hampir sembilan.
Ia tidak datang.
Pesannya hanya satu.
“Ada kerjaan mendadak. Jangan tunggu.”
Besok paginya aku mengetahui “kerjaan mendadak” itu adalah mendampingi Keisya menyiapkan presentasi pertamanya untuk klien.
Saat aku protes, Arga mengatakan, “Dia anak baru. Jangan bandingkan situasinya dengan ulang tahun.”
Aku percaya.
Atau lebih tepatnya, aku memaksa diriku percaya.
Malam itu aku tetap datang ke acara tim.
Restorannya berada di lantai dua sebuah bangunan lama di kawasan Senopati. Lampunya hangat, musiknya pelan, hampir semua orang sudah datang ketika aku tiba.
Aku mendapat kursi paling ujung.
Keisya duduk di sebelah Arga.
Ketika makanan datang, Arga mengambilkan sambal matah untuknya.
“Sedikit saja,” katanya. “Kemarin kamu bilang lambungmu sensitif.”
Aku berhenti mengangkat sendok.
Enam tahun bersamaku, Arga masih sering lupa aku alergi udang.
Tapi ia ingat lambung Keisya.
Kemudian Keisya tertawa karena sesuatu dan tanpa sadar berkata, “Arga, coba lihat ini.”
Meja mendadak riuh.
“Waduh!”
“Sekarang sudah panggil nama?”
Keisya buru-buru menutup mulut.
“Eh, maaf. Pak Arga.”
Arga hanya tertawa kecil.
“Sudah, jangan ganggu dia.”
Aku menatap gelas di depanku.
Dua tahun sebelumnya, aku pernah memanggil “Arga” saat kami sedang sendirian di pantry kantor.
Ia langsung mengingatkan.
“Di kantor panggil Pak Arga. Aku tidak mau orang menganggap kamu dapat perlakuan khusus.”
Sejak itu aku tidak pernah salah.
Malam ini akhirnya aku mengerti.
Ternyata beberapa peraturan memang keras.
Hanya saja tidak berlaku kepada semua orang.
Setelah makan, seseorang mengusulkan permainan kartu tantangan.
Aku sebenarnya ingin pulang.
Namun Arga berkata di depan semua orang, “Sekali-sekali santai, Din. Jangan serius terus.”
Pada putaran ketiga, Keisya mendapat kartu yang memberinya hak menunjuk seseorang melakukan satu tantangan sederhana.
Matanya berkeliling.
Lalu berhenti padaku.
“Mbak Dinda saja.”
Beberapa orang bersorak.
Keisya tersenyum.
“Hadiah dari teman-teman buat aku masih ada di mobil Pak Arga. Kardus putih, di parkiran basement. Bisa tolong ambil?”
Tanganku yang memegang gelas langsung kaku.
Basement gedung itu sedang direnovasi.
Saat masuk tadi, aku melihat papan pemberitahuan bahwa sebagian lampu di koridor servis tidak berfungsi.
Aku memiliki alasan yang sangat spesifik untuk tidak memasuki ruang seperti itu sendirian.
Empat tahun lalu, aku pernah terjebak hampir empat puluh menit di lift servis sebuah mal ketika listrik padam dan panel mengalami kerusakan.
Udara terasa habis.
Aku sampai memukul pintu dengan kedua tangan sampai buku jariku berdarah.
Sejak kejadian itu, ruangan gelap dan sempit bisa membuat napasku kacau dalam hitungan detik.
Orang pertama yang menemaniku terapi setelah kejadian itu adalah Arga.
Ia tahu semuanya.
Aku menatapnya.
“Basement-nya gelap.”
Keisya langsung berkata, “Kalau Mbak Dinda tidak mau, nggak apa-apa. Aku cuma mengikuti permainan.”
Nada suaranya lembut.
Tapi orang-orang lain mulai bersuara.
“Cuma ambil kardus, Mbak.”
“Lima menit juga selesai.”
Aku tetap melihat Arga.
Aku hanya menunggu satu kalimat.
Biar orang lain saja.
Namun Arga menghela napas.
“Din, jangan dibesar-besarkan.”
Dadaku seperti ditekan sesuatu.
Ia melanjutkan, “Kamu tidak masuk lift. Cuma lewat koridor. Pakai flashlight dari HP juga bisa.”
“Mas tahu aku—”
“Aku tahu.”
Ia memotongku.
Justru dua kata itu yang paling menyakitkan.
Karena berarti ia tidak lupa.
Ia ingat.
Dan tetap menyuruhku pergi.
“Hari ini ulang tahun Keisya,” katanya. “Jangan bikin suasana jadi tidak enak gara-gara hal kecil.”
Aku berdiri.
Tidak mengatakan apa-apa lagi.
Aku mengambil ponsel dan berjalan menuju tangga servis.
Semakin ke bawah, suara musik dari restoran semakin kecil.
Di depan pintu basement terdapat koridor panjang dengan beberapa lampu mati.
Aku menyalakan flashlight.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tanganku mulai dingin.
Aku memaksa diri terus maju.
Saat akhirnya melihat kardus putih di dekat ruang penyimpanan, aku mempercepat langkah.
Lalu dari belakang terdengar suara keras.
BRAK.
Pintu besi yang baru saja kulewati menutup sendiri.
Aku berbalik dan berlari mendekatinya.
Kutarik gagangnya.
Tidak bergerak.
Kutarik sekali lagi.
Tetap terkunci.
Saat itulah lampu terakhir di ujung koridor berkedip dua kali lalu padam, meninggalkanku sendirian dengan cahaya kecil dari ponsel dan suara napasku sendiri yang mulai tidak beraturan.
#DramaKeluarga #KisahPerempuan #CeritaKehidupan #PengkhianatanCinta #KarmaItuNyata
Bagian 2: Di Malam Ulang Tahunnya, Mereka Mengirimku Sendirian ke Gudang Gelap dan Aku Akhirnya Tahu Seberapa Murah Keselamatanku di Mata Lelaki yang Kucintai
Aku menekan gagang pintu dengan kedua tangan.
Tidak terbuka.
Napasku mulai pendek.
Aku tahu apa yang sedang terjadi pada tubuhku.
Telapak tangan dingin.
Jantung berdegup terlalu cepat.
Pendengaran seperti tertutup dengungan.
Gejala yang sama seperti empat tahun lalu.
“Ini bukan lift,” bisikku pada diri sendiri.
“Dinda, ini bukan lift.”
Aku mencoba menelepon Arga.
Panggilan pertama berdering sampai selesai.
Tidak dijawab.
Aku menelepon lagi.
Ditolak.
Beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk.
“Lagi potong kue. Tunggu sebentar.”
Tanganku gemetar.
Aku mengetik.
“Aku terkunci di basement.”
Pesan terkirim.
Tidak dibaca.
Aku mencoba mencari pintu lain.
Di dekat ruang penyimpanan terdapat lorong sempit yang tampaknya menuju area parkir utama.
Aku berjalan ke sana sambil menahan napas.
Lantai di bagian itu basah karena pipa renovasi.
Flashlight ponselku hanya menerangi beberapa meter ke depan.
Aku tidak melihat potongan papan di lantai.
Kakiku menginjaknya.
Tubuhku kehilangan keseimbangan.
Aku jatuh dengan posisi miring, pergelangan kaki menghantam sudut beton.
Rasa sakitnya begitu tajam hingga aku tidak bisa langsung bersuara.
Ponsel terlepas.
Cahayanya berputar di lantai.
Saat mencoba bangun, kaki kiriku tidak mampu menopang tubuh.
Aku terduduk lagi.
Kali ini aku menelepon Bayu, sopir kantor yang kebetulan mengantar beberapa orang ke restoran.
Bayu mengangkat pada dering pertama.
“Mbak?”
“Aku di basement.”
Suaraku hampir tidak keluar.
“Aku jatuh. Tolong cari petugas gedung.”
Lima belas menit kemudian, Bayu bersama dua petugas keamanan menemukan pintu yang mengunciku.
Ternyata sistem magnet pintu sedang bermasalah karena renovasi.
Salah satu petugas langsung memucat saat melihat kakiku.
“Mbak, ini harus diperiksa.”
Tetapi sebelum ke rumah sakit, aku melakukan sesuatu yang bahkan sekarang sulit kujelaskan.
Aku kembali ke ruang acara.
Mungkin sebagian diriku masih berharap Arga akan melihat kondisiku dan akhirnya memahami.
Aku salah.
Ketika pintu dibuka, lagu ulang tahun baru saja selesai.
Orang-orang menoleh.
Celanaku kotor.
Telapak tangan lecet.
Aku berjalan pincang sambil berpegangan pada dinding.
Keisya berdiri paling dulu.
“Ya ampun, Mbak Dinda kenapa?”
Seorang rekan di dekatnya malah berbisik cukup keras untuk kudengar.
“Serius sampai segitunya?”
Yang lain menyahut, “Cuma ambil hadiah, loh.”
Arga mendatangiku.
Aku kira ia akan memegang lenganku.
Tidak.
Ia melihatku dari kepala sampai kaki lalu mengusap wajahnya dengan frustrasi.
“Kamu jatuh?”
“Aku terkunci.”
“Kok bisa?”
“Aku sudah telepon.”
“Aku lagi pegang kue, Din.”
Nada suaranya seperti aku sedang mempermasalahkan hal sepele.
“Kakiku sakit sekali.”
Keisya tiba-tiba berkata dari belakang, “Pak, kalau memang Mbak Dinda mau pulang, biar saya pesan taksi.”
Aku menatap Arga.
Enam tahun hubungan kami tiba-tiba terasa seperti sesuatu yang hanya ada di kepalaku.
“Aku perlu ke IGD.”
Arga melirik meja.
Kue belum dibagikan.
Beberapa tamu masih memegang ponsel.
Lalu ia berkata, “Bayu antar kamu, ya? Aku menyusul setelah acara selesai.”
Kalimat itu memutus sesuatu dalam diriku dengan sangat tenang.
Aku mengangguk.
“Tidak perlu menyusul.”
Di rumah sakit, hasil rontgen menunjukkan retak kecil pada tulang pergelangan kaki serta memar cukup berat di bahu.
Dokter memintaku memakai penyangga dan beristirahat.
Saat perawat membersihkan luka di telapak tanganku, ponselku terus berbunyi.
Tidak ada telepon dari Arga.
Yang muncul justru unggahan Instagram Keisya.
Foto dirinya sedang meniup lilin.
Arga berdiri di sebelahnya sambil memegang lampu ponsel karena ruangan sengaja diredupkan saat lagu ulang tahun.
Caption-nya hanya satu kalimat.
“Terima kasih untuk orang yang selalu memastikan aku tidak pernah merasa sendirian saat lampu mati.”
Aku menatap layar lama sekali.
Aneh.
Aku tidak menangis.
Mungkin karena malam itu tubuhku akhirnya kehabisan tempat untuk menyimpan rasa kecewa.
Pukul satu lewat dua belas menit, email dari perusahaan Bandung masuk.
Mereka menyetujui tanggal bergabung yang kuajukan.
Aku langsung membuka laptop kecil yang dibawakan Bayu dari mobil.
Kuketik surat pengunduran diri.
Tanpa sindiran.
Tanpa menyebut Keisya.
Tanpa membicarakan hubungan enam tahun kami.
Hanya fakta.
Aku akan menjalani masa pemberitahuan sesuai kontrak dan menyerahkan seluruh proyek dengan profesional.
Sebelum menekan tombol kirim, pesan WhatsApp dari nomor petugas keamanan gedung masuk.
“Mbak Dinda, terkait kecelakaan tadi, manajemen sedang cek CCTV karena area itu seharusnya ditutup. Ada sesuatu yang mungkin Mbak perlu lihat.”
Sebuah video pendek menyusul.
Waktu pada rekaman menunjukkan pukul 21.17.
Dua puluh tiga menit sebelum Keisya menyuruhku mengambil hadiah.
Dalam video itu, Keisya berjalan seorang diri ke pintu basement.
Ia melihat papan kuning besar bertuliskan AREA DITUTUP—PENERANGAN BERMASALAH.
Lalu ia mengangkat papan itu.
Membawanya ke balik tiang.
Dan meninggalkannya di sana.
Aku belum selesai mencerna rekaman tersebut ketika petugas mengirim satu video lagi.
Kali ini ada suara.
Keisya sedang menelepon seseorang.
Kalimat terakhirnya terdengar sangat jelas.
“Tenang saja. Dia pasti turun kalau Arga yang bilang.”
Tanganku berhenti di atas keyboard.
Untuk pertama kalinya malam itu, rasa sakit di kakiku kalah oleh satu pertanyaan.
Seberapa banyak dari semua ini yang sebenarnya sudah direncanakan?
Bagian 3: Aku Pergi Tanpa Membuat Keributan, tetapi Satu Rekaman CCTV dan Surat Pengunduran Diriku Membuat Mereka Membayar Semua yang Dianggap Sepele
Pagi berikutnya, aku tidak menghubungi Arga.
Aku mengirim surat pengunduran diri kepada HR, direktur utama, dan komisaris yang membawahi operasional.
Aku juga menyertakan surat dokter serta dua rekaman CCTV dari pengelola gedung.
Aku tidak menuduh siapa pun.
Aku hanya menulis:
“Saya meminta perusahaan menyimpan seluruh bukti terkait insiden karena kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai acara divisi dan menggunakan anggaran perusahaan.”
Kalimat itu ternyata cukup.
Pukul sepuluh pagi, kepala HR meneleponku.
Siang harinya, investigasi internal dimulai.
Barulah fakta-fakta kecil yang selama ini dianggap candaan mulai terlihat berbeda.
Keisya mengakui memindahkan papan peringatan.
Alasannya, katanya, karena ia ingin mengambil foto hadiah di basement dan papan itu “mengganggu latar”.
Namun rekaman menunjukkan ia tidak pernah mengambil foto apa pun.
Lebih buruk lagi, percakapan di grup tim memperlihatkan bahwa sebelumnya ia pernah bertanya kepada seorang staf lama tentang alasan aku selalu menghindari lift servis.
Jadi ia tahu.
Ia tahu aku pernah mengalami serangan panik.
Ia tahu area itu gelap.
Dan tetap memilihku.
Ketika ditanya mengapa, jawabannya hanya, “Saya kira Mbak Dinda terlalu berlebihan soal ketakutannya.”
Arga kemudian dipanggil.
Di hadapan HR ia mengaku mengetahui kondisiku sejak lama.
Ia juga mengakui bahwa aku sudah mengatakan basement itu membuatku tidak nyaman sebelum pergi.
Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi di balik kalimat, “Saya tidak tahu.”
Dua hari kemudian Arga datang ke apartemenku.
Aku tidak mempersilahkannya masuk.
Ia berdiri di lorong sambil membawa sup, obat, dan bunga.
Enam tahun lalu, melihatnya seperti itu mungkin akan membuatku luluh.
Sekarang aku hanya merasa lelah.
“Aku salah,” katanya.
Aku diam.
“Aku benar-benar kira kamu cuma takut sebentar. Aku nggak tahu pintunya bermasalah.”
“Mas tahu aku takut.”
Ia menunduk.
“Aku tahu.”
“Mas tahu lampunya mati.”
Ia tidak menjawab.
“Mas tahu aku telepon dua kali.”
“Dinda…”
“Dan Mas memilih potong kue.”
Wajahnya berubah.
“Aku bisa perbaiki semuanya.”
Aku hampir tertawa.
“Yang ingin Mas perbaiki apa? Kakiku? Rekaman CCTV? Atau enam tahun ketika aku terus meyakinkan diri bahwa setiap kali Mas memilih orang lain, pasti ada alasan yang masuk akal?”
Arga mendekat satu langkah.
“Aku sama Keisya tidak pernah selingkuh.”
Aku mengangguk.
“Aku percaya.”
Ia tampak terkejut.
“Tapi ternyata pengkhianatan tidak selalu perlu dimulai dari perselingkuhan.”
Aku menunjuk pintu.
“Pulang.”
Seminggu kemudian hasil investigasi keluar.
Keisya mendapat pemutusan hubungan kerja karena sengaja mengabaikan tanda keselamatan dan memberikan keterangan awal yang tidak sesuai rekaman.
Arga tidak dipecat.
Namun kewenangannya sebagai direktur operasional dibekukan sementara.
Audit kemudian menemukan acara ulang tahun Keisya dicatat sebagai biaya “client engagement”, meski tidak ada klien yang hadir.
Itu menjadi masalah yang jauh lebih besar daripada hubungan kami.
Dewan perusahaan akhirnya memindahkan Arga dari posisi operasional dan menunjuk eksekutif lain untuk mengambil alih tim.
Aku tidak merasa senang mendengarnya.
Tapi juga tidak kasihan.
Konsekuensi bukan balas dendam.
Kadang konsekuensi hanyalah tagihan yang datang setelah terlalu lama seseorang menganggap semuanya gratis.
Tiga minggu setelah kecelakaan, aku pindah ke Bandung.
Pergelangan kakiku belum sepenuhnya pulih, jadi pada hari pertama bekerja aku masih menggunakan penyangga.
Atasan baruku melihatnya dan langsung memindahkan rapat dari lantai atas ke ruang yang lebih dekat dengan lift.
Aku sempat berkata, “Tidak apa-apa, saya bisa naik.”
Ia menjawab sederhana.
“Kalau bisa dibuat lebih mudah, kenapa harus dibuat lebih susah?”
Kalimat itu membuatku diam beberapa detik.
Ternyata perhatian tidak selalu datang dalam bentuk janji besar.
Kadang hanya berupa keputusan kecil yang tidak membuat kita harus memohon dua kali.
Dua bulan kemudian, proyek pertamaku berhasil memperpanjang kontrak dengan salah satu jaringan ritel terbesar di Jawa Barat.
Tim mengajakku makan sederhana untuk merayakannya.
Tidak ada permainan yang memaksa seseorang melakukan hal yang tidak nyaman.
Tidak ada candaan yang menjadikan batas pribadi sebagai hiburan.
Pukul sembilan malam aku sudah kembali ke apartemen baruku.
Di balkon, udara Bandung terasa dingin.
Ponselku bergetar.
Pesan terakhir dari Arga.
“Aku masih berharap suatu hari kamu mau bicara lagi.”
Aku membacanya sekali.
Lalu membalas.
“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Semoga setelah ini Mas belajar mendengar orang sebelum kehilangan mereka.”
Kukirim.
Nomornya kemudian kublokir.
Bukan karena aku masih marah.
Justru karena untuk pertama kalinya aku tidak lagi membutuhkan penjelasannya.
Aku masuk ke dalam, menutup pintu balkon, menyalakan lampu ruang tamu, lalu membuka laptop untuk mempersiapkan presentasi esok pagi.
Enam tahun aku mengira mencintai seseorang berarti bertahan sampai ia kembali menjadi orang yang dulu kukenal.
Sekarang aku tahu, pergi juga bisa menjadi bentuk paling jujur dari mencintai diri sendiri.
Aku tidak lagi menunggu seseorang datang membawa cahaya setiap kali ruangan menjadi gelap.
Aku hanya memilih pintu yang sejak awal memang menuju tempat yang terang.

