Bagian 2
Setelah telepon ditutup, aku tidak kembali melihat ke seberang jalan.
Aku naik angkot sampai dekat rumah, lalu berjalan beberapa ratus meter dengan kedua tangan masuk ke saku celana.
Ibu sudah menunggu di ruang tamu.
Begitu melihatku pulang sendiri, wajahnya langsung berubah.
“Mana orangnya?”
“Tidak datang.”
“Tidak datang bagaimana?”
Aku meletakkan tas.
“Dia membatalkan.”

Ibu tampak lebih tersinggung daripada aku.
“Anaknya Bu Mira itu?”
Aku mengangguk.
“Padahal ibunya sendiri yang minta dikenalkan. Kok sekarang begini?”
Aku hampir bertanya apakah Ibu yakin pertemuan ini memang diatur seperti kehidupan sebelumnya.
Tetapi kutahan.
Ada satu hal yang mulai terasa terlalu jelas.
Bukan hanya tempat dan waktunya yang sama.
Arman memang seharusnya bertemu denganku hari ini.
Dia sengaja tidak datang.
Malamnya, Ibu mendapat telepon dari Bu Mira.
Aku mendengar sebagian percakapan dari kamar.
“Tidak apa-apa, Bu Mira. Anak muda memang begitu.”
Jeda.
“Ya, Ratih juga tidak marah.”
Jeda lagi.
“Nadia?”
Tanganku berhenti di atas buku.
Suara Ibu merendah.
“Oh, begitu.”
Beberapa menit kemudian dia masuk ke kamarku.
“Kamu tadi bilang Arman tidak datang.”
“Memang tidak.”
“Katanya pagi tadi dia minta ibunya membatalkan pertemuan. Setelah itu dia minta dikenalkan dengan Nadia.”
Aku menutup buku.
Jadi bukan kebetulan.
“Kenapa wajahmu biasa saja?”
“Mau bagaimana?”
“Bukankah kamu dulu bilang tidak tertarik sama Arman?”
Itulah masalahnya.
Dalam kehidupan ini, aku memang belum pernah mengatakan bahwa aku tertarik.
Menurut semua orang kecuali aku, Arman Wicaksana hanyalah seorang laki-laki yang belum pernah kukencani.
Aku tidak punya hak untuk merasa dikhianati.
Aku juga tidak bisa berjalan ke kafenya lalu berkata, “Kamu seharusnya menjadi suamiku selama tiga puluh tahun.”
Aku bisa dibawa ke dokter sebelum sempat menyelesaikan kalimat.
Ibu duduk di tepi ranjang.
“Besok ada anak temannya Tante Siska. Kerja di bank.”
“Tidak.”
“Ratih.”
“Aku tidak mau dikenalkan dulu.”
Ibu menghela napas.
“Karena Arman?”
Aku menatapnya.
“Karena aku tidak mau.”
Dulu aku akan berdebat sampai suara kami sama-sama meninggi.
Kali ini aku hanya mengulang kalimat yang sama.
“Aku tidak mau.”
Ibu keluar sambil mengomel, tetapi tidak memaksaku lagi malam itu.
Untuk pertama kalinya sejak kembali, aku mencoba memikirkan kehidupan sebelumnya bukan sebagai cerita cinta yang sudah selesai, melainkan dari sisi Arman.
Tiga tahun dia mengejarku.
Tujuh kali kutolak.
Setelah menikah, sebagian besar keputusan untuk mendekat selalu datang darinya.
Dia yang menelepon dulu.
Dia yang mengajak bicara setelah kami bertengkar.
Dia yang bertanya aku mau makan apa.
Dia yang berusaha akrab dengan keluargaku.
Aku tidak pernah merasa memaksanya.
Setiap kali kutanya, dia selalu menjawab bahwa dia melakukannya karena ingin.
Tetapi mungkin ada bedanya antara rela memberi dan tidak pernah ingin menerima.
Aku tidak tidur nyenyak malam itu.
Tiga hari kemudian aku melihat Arman lagi.
Bukan karena mencarinya.
Aku sedang keluar dari toko buku ketika melihatnya berdiri di depan minimarket bersama Nadia.
Mereka berbicara biasa.
Tidak bergandengan tangan.
Tidak tampak seperti pasangan yang baru jatuh cinta.
Anehnya, itu justru membuat dadaku lebih sesak.
Karena berarti Arman tidak sedang terbawa perasaan sesaat.
Dia memang sedang mencoba mengenal seseorang yang bukan aku.
Aku tidak menghampiri.
Aku berbalik dan pulang.
Dua minggu kemudian, ketika Ibu kembali mencoba membicarakan calon lain, aku mengatakan sesuatu yang belum pernah kukatakan dalam kehidupan sebelumnya.
“Aku belum mau menikah hanya karena umurku dianggap sudah cukup.”
Ibu mengerutkan kening.
“Semua orang juga mulai dari kenalan.”
“Kalau aku ingin kenalan, aku akan bilang.”
“Kamu ini kalau terlalu keras nanti sendirian.”
Aku menatap Ibu.
“Kalau pilihannya menikah hanya supaya tidak dibilang sendirian, aku lebih baik menunggu.”
Ibu terdiam.
Kalimat itu bahkan mengejutkan diriku sendiri.
Dalam kehidupan sebelumnya, aku memang keras kepala.
Tetapi sebagian besar waktuku justru dihabiskan dengan membiarkan orang lain menebak apa yang kuinginkan.
Aku mengira diam adalah ketegasan.
Ternyata tidak selalu.
Malam itu ponselku berbunyi pukul sebelas lewat tujuh.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Tidak ada salam.
Tidak ada nama.
Hanya dua kalimat.
Aku ingat rumah sakit itu.
Dan aku ingat persis apa yang kukatakan kepadamu sebelum aku meninggal.
Aku duduk tegak.
Pesan kedua masuk beberapa detik kemudian.
Ratih, kali ini jangan menungguku.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Aku membaca tiga kalimat itu berulang kali.
Tidak ada lagi keraguan.
Arman juga kembali.
Jari-jariku berada di atas papan ketik cukup lama.
Puluhan pertanyaan berdesakan.
Sejak kapan kamu sadar?
Kenapa tidak datang?
Apakah kamu membenciku?
Apakah selama tiga puluh tahun itu kamu sebenarnya tidak bahagia?
Kenapa Nadia?
Pada akhirnya aku hanya mengetik satu kalimat.
Baik.
Aku menekan kirim sebelum sempat menghapusnya.
Arman tidak membalas.
Aneh sekali.
Tiga puluh tahun hidup bersama seseorang membuatmu mengenal bunyi langkahnya, cara dia membuka tutup botol, kebiasaan meletakkan kunci, sampai jeda yang dia ambil sebelum mengatakan sesuatu yang sulit.
Namun sekarang satu kata dariku harus menyeberangi layar kepada seseorang yang, secara resmi, bahkan belum pernah berkencan denganku.
Keesokan paginya aku bangun lebih awal.
Aku menyimpan nomor Arman tanpa nama.
Bukan “Arman”.
Bukan “Suamiku”.
Hanya nomor.
Lalu aku berangkat kerja.
Pada usia dua puluh lima tahun, aku bekerja di perusahaan distribusi perlengkapan rumah tangga. Di kehidupan sebelumnya aku bertahan di sana hampir empat tahun sebelum pindah ke perusahaan lain.
Selama beberapa minggu berikutnya, aku kembali menjalani rutinitas yang dulu sudah kulupakan.
Naik angkot saat jam sibuk.
Makan siang bersama dua rekan kerja di warung dekat kantor.
Mendengar atasan mengeluhkan laporan stok.
Pulang sebelum gelap kalau tidak lembur.
Tidak ada Arman yang menjemput.
Tidak ada pesan menanyakan aku mau makan apa.
Tidak ada suara lelaki yang mengingatkanku membawa payung.
Awalnya setiap ketidakhadiran itu terasa seperti lubang kecil.
Kemudian perlahan menjadi ruang.
Ruang yang harus kuisi sendiri.
Sebulan setelah pertemuan yang gagal itu, aku mendapat tawaran pindah ke bagian pembelian dengan tanggung jawab lebih besar.
Dalam kehidupan sebelumnya aku menolaknya karena jam kerjanya lebih panjang dan pada saat itu Arman sedang giat mengejarku.
Bukan karena dia melarang.
Aku saja yang merasa hidupku sudah cukup ramai.
Kali ini aku menerimanya.
Ibu mengeluh karena menurutnya semakin sibuk aku bekerja, semakin kecil peluangku mau berkenalan dengan siapa pun.
Aku hanya berkata, “Kalau seseorang cuma tertarik kalau aku punya banyak waktu kosong, berarti memang bukan orangnya.”
Ibu mendengus.
Tetapi beberapa minggu kemudian dia berhenti menawarkan nomor telepon laki-laki setiap tiga hari.
Tentang Arman, aku hanya mendengar kabar dari percakapan orang tua kami.
Nadia beberapa kali datang ke rumah Bu Mira.
Bu Mira menyukainya.
Itu tidak mengejutkan.
Nadia memang mudah disukai.
Dalam kehidupan sebelumnya aku mengenalnya cukup baik karena keluarga kami masih punya lingkaran pertemanan yang berdekatan.
Dia tidak pernah berbuat buruk kepadaku.
Bahkan beberapa kali dia pernah menolong Ibu mengurus acara lingkungan ketika aku sedang bekerja.
Selama bertahun-tahun, setiap kali Ibu membandingkanku dengan Nadia, aku kesal kepada Nadia seolah dia yang meminta dijadikan alat ukur.
Sekarang baru kusadari betapa kekanak-kanakannya itu.
Yang memilih membandingkan adalah Ibu.
Bukan Nadia.
Dan yang memilih duduk di hadapan Nadia sekarang adalah Arman.
Bukan salah perempuan itu.
Karena itu aku tidak meneleponnya.
Tidak mendatangi Arman.
Tidak mencari alasan untuk “kebetulan” bertemu.
Pesan terakhir Arman jelas.
Kali ini jangan menungguku.
Aku memutuskan menghormatinya.
Dua bulan berlalu.
Lalu tiga.
Suatu Minggu pagi, ketika aku sedang membantu Ibu memindahkan pot tanaman di teras, Bu Mira datang.
Wajahnya canggung.
Aku langsung tahu kunjungannya berhubungan dengan Arman.
Ibu menyuruhku membuat teh.
Aku menaruh tiga cangkir di meja, lalu duduk.
Bu Mira menatapku beberapa kali sebelum bicara.
“Ratih, kamu masih marah sama Arman?”
“Tidak.”
“Benar?”
“Untuk marah saja saya harus punya hubungan dulu dengannya, Bu.”
Bu Mira tertawa kecil, tetapi senyumnya cepat hilang.
“Arman sama Nadia tidak lanjut.”
Tanganku tidak bergerak.
Ibu langsung menoleh kepadaku.
Aku bertanya, “Kenapa?”
“Katanya tidak cocok.”
Jawaban yang sangat pendek.
Terlalu pendek untuk seorang ibu yang biasanya menjelaskan sesuatu sampai detail terkecil.
Aku tidak bertanya lebih jauh.
Bu Mira justru melanjutkan sendiri.
“Nadia yang bilang sebaiknya berhenti.”
Kali ini aku sedikit terkejut.
“Kenapa?”
Bu Mira menarik napas.
“Katanya Arman baik, tapi rasanya seperti sedang menjalani ujian.”
Aku hampir tersenyum.
Kalimat itu terdengar sangat mungkin diucapkan Nadia.
Bu Mira mengusap ujung tasnya.
“Katanya setiap dia melakukan sesuatu, Arman seperti membandingkan dengan sesuatu yang tidak dia katakan.”
Aku menunduk melihat teh.
Ibu tidak memahami maksudnya.
Aku memahami terlalu baik.
Arman boleh memilih orang lain.
Tetapi ternyata dia membawa tiga puluh tahun bersamaku ke meja perkenalan itu.
Bukan dalam bentuk cinta romantis semata.
Dalam bentuk kebiasaan.
Ingatan.
Standar.
Luka.
Dan mungkin ketakutan.
Bu Mira pulang setelah setengah jam.
Begitu pintu tertutup, Ibu berkata, “Kalau memang sudah putus sama Nadia, mungkin kamu bisa…”
“Tidak.”
“Belum selesai Ibu ngomong.”
“Aku tahu mau ngomong apa.”
Ibu duduk di sofa.
“Dulu dia hampir dikenalkan denganmu. Sekarang kan sama-sama belum punya pasangan.”
Aku menatap Ibu.
“Bu, orang itu bukan barang yang kembali ke rak kalau pilihan pertama tidak jadi.”
Ibu terdiam.
Aku melanjutkan lebih pelan.
“Kalau Arman ingin bicara sama aku, dia tahu nomor teleponku.”
Malamnya, seolah kehidupan sedang mengejek kalimatku, nomor itu menelepon.
Aku menatap layar sampai dering hampir berakhir.
Kemudian kujawab.
“Halo?”
Suara Arman terdengar lebih muda daripada yang tersimpan dalam ingatanku.
Tetapi jedanya tetap sama.
“Ratih.”
“Ya.”
“Kita bisa ketemu?”
Aku diam.
Arman cepat menambahkan, “Bukan untuk bicara soal Nadia.”
“Bagus. Karena itu bukan urusanku.”
Dia mengembuskan napas kecil.
“Aku tahu.”
“Kapan?”
“Besok setelah pulang kerja?”
Aku menyebut sebuah kedai kopi dekat kantorku.
Bukan kafe tempat aku menunggunya dulu.
Aku tidak ingin percakapan ini dimulai dari kursi kosong yang sama.
Arman sudah datang ketika aku tiba.
Tidak ada Americano di mejanya.
Dia memesan teh tawar hangat.
Aku duduk di hadapannya.
Untuk beberapa detik kami hanya saling melihat.
Wajah dua puluh lima tahun.
Mata orang tua.
Itu mungkin bagian paling aneh dari seluruh kehidupan kedua ini.
Arman akhirnya berkata, “Kamu kelihatan sama.”
Aku menaruh tas.
“Kamu lebih kurus.”
Dia tertawa kecil.
Suara itu membuat tenggorokanku menegang.
Aku langsung bertanya, “Sejak kapan kamu ingat?”
“Hari setelah kita meninggal.”
“Kita?”
“Setelah aku meninggal.”
Dia menatap meja.
“Aku tidak tahu berapa lama kamu hidup setelah itu.”
Aku tidak menjawab.
Tujuh bulan.
Aku hidup tujuh bulan setelah kematiannya.
Sebagian besar waktuku kuhabiskan di rumah yang terlalu sunyi.
Tetapi rasanya tidak perlu menceritakan itu sekarang.
Arman mengusap telapak tangannya.
“Aku bangun dan kembali ke umur dua puluh enam. Ibu bilang akan mengenalkanku dengan anak temannya.”
“Namaku.”
Dia mengangguk.
“Aku langsung tahu.”
“Lalu kamu membatalkan.”
“Ya.”
Jawabannya tidak berputar.
Aku menghargai itu meskipun tetap sakit.
“Karena kalimatmu di rumah sakit?”
“Bukan cuma itu.”
Aku menunggu.
Arman memandangku.
“Ratih, aku mencintaimu.”
Kata-kata itu, dari mulut lelaki muda yang pernah menjadi suamiku selama lebih dari tiga puluh tahun, terdengar hampir tidak masuk akal.
Dia melanjutkan.
“Aku tidak menyesal menikahimu.”
“Lalu?”
“Aku capek.”
Tidak ada musik yang berhenti.
Tidak ada cangkir jatuh.
Hanya dua kata.
Tetapi dua kata itu lebih berat daripada semua hal yang kubayangkan.
Arman menatapku lurus.
“Bukan capek menyetrika sendiri. Bukan capek kamu jarang masak. Bukan soal kamu tidak mau ikut pulang kampung setiap tahun.”
Aku tidak menyela.
“Aku capek menjadi orang yang selalu lebih dulu.”
Jari-jariku menegang di bawah meja.
Arman berkata, “Kalau kita bertengkar, aku yang datang dulu. Kalau beberapa hari kita sibuk, aku yang mengajak makan. Kalau ulang tahun pernikahan, aku yang membuat rencana. Kalau aku ingin kamu datang ke rumah Ibu, aku yang membujuk. Kalau aku sakit, aku tetap harus bilang apa yang kubutuhkan karena kamu menganggap kalau aku diam berarti baik-baik saja.”
“Aku pikir kamu memang seperti itu.”
“Aku memang seperti itu.”
Dia mengangguk.
“Itulah sebabnya aku bertahan dan bahagia cukup lama. Tapi menjelang tua, aku mulai berpikir, kalau aku berhenti mendekat, apakah kamu akan mendekat?”
Aku membuka mulut.
Tidak ada jawaban yang segera keluar.
Karena aku tahu jawabannya.
Mungkin tidak.
Bukan karena tidak cinta.
Karena aku terlalu yakin Arman tidak akan pernah menjauh.
Dia selalu ada.
Seperti pintu depan rumah.
Seperti lampu teras.
Seperti suara televisi malam hari.
Aku memperlakukannya sebagai kepastian.
“Aku tidak pernah tahu kamu merasa seperti itu.”
“Aku juga salah.”
Dia tersenyum tipis.
“Aku selalu bilang tidak apa-apa.”
“Kamu bilang kamu melakukan semuanya karena mau.”
“Memang.”
“Jadi bagaimana aku tahu?”
“Tidak mungkin.”
Untuk pertama kalinya sejak duduk, suaranya terdengar lelah.
“Itulah maksudku. Kamu tidak mungkin tahu sesuatu yang tidak pernah kukatakan.”
Aku menatapnya.
Jadi ini bukan pengadilan.
Arman tidak datang untuk membuat daftar kesalahanku.
Dia sedang mengatakan bahwa dalam kehidupan sebelumnya, kami berdua membuat kesalahan yang berbeda.
Aku terlalu sedikit bertanya.
Dia terlalu sering mengatakan baik-baik saja.
“Kenapa Nadia?” tanyaku.
Arman tertawa pendek tanpa humor.
“Karena dia kebalikanmu.”
Aku mengangkat alis.
“Terima kasih.”
“Bukan pujian.”
Dia menggosok kening.
“Dalam kepalaku waktu itu sederhana. Aku kembali. Aku punya kesempatan lain. Aku pikir kalau memilih perempuan yang lebih lembut, lebih mudah bicara, lebih dekat dengan keluarga, hidupku pasti berbeda.”
“Dan?”
“Berbeda.”
Aku menunggu.
“Tapi aku sadar aku sedang melakukan hal yang sama lagi.”
“Apa?”
“Menyesuaikan hidupku berdasarkan apa yang menurut orang lain seharusnya membuatku bahagia.”
Aku memahami maksudnya.
Bu Mira menyukai Nadia.
Ibuku menyukai Nadia.
Semua orang menyebut perempuan seperti Nadia sebagai tipe istri yang “mudah”.
Arman, setelah menjalani tiga puluh tahun bersama perempuan sepertiku, bangun di kehidupan kedua dan berlari menuju gambaran kebalikannya.
“Nadia tahu soal kehidupan sebelumnya?”
“Tidak.”
“Bagus.”
“Aku tidak pernah cerita.”
Arman menatap cangkir tehnya.
“Dia orang baik, Ratih.”
“Aku tahu.”
“Dia bilang masalahnya bukan aku tidak menyukainya.”
“Lalu?”
“Katanya aku selalu memperhatikan reaksinya seolah sedang memastikan sesuatu.”
Aku hampir tertawa.
“Nadia memang cukup tajam.”
“Dia bilang, ‘Aku tidak tahu perempuan siapa yang sedang kamu lawan di kepala kamu, tapi aku tidak mau ikut lomba dengan orang yang tidak pernah kutemui.’”
Aku diam.
Aku menyukai Nadia sedikit lebih banyak setelah mendengar itu.
Arman mengangkat wajah.
“Aku minta ketemu bukan karena aku putus dari Nadia.”
“Lalu?”
“Karena aku pikir aku berutang satu percakapan kepadamu.”
“Tidak.”
Dia tampak terkejut.
Aku melanjutkan.
“Kamu tidak berutang pernikahan kepadaku. Tidak berutang kehidupan kedua. Bahkan percakapan ini sebenarnya juga tidak.”
“Ratih…”
“Tapi aku senang kamu datang.”
Dia terdiam.
Aku menarik napas.
“Aku juga salah.”
Arman menatapku.
“Selama bertahun-tahun, setiap kali kamu bilang tidak apa-apa, aku percaya begitu saja karena itu nyaman buatku.”
Aku memandang tanganku.
“Aku mengira karena kamu selalu datang, aku tidak perlu bergerak.”
Sulit mengucapkan kalimat berikutnya.
“Aku menganggap cintamu seperti sesuatu yang tidak mungkin habis.”
Arman tidak bicara.
“Aku tidak menyesal tidak menjadi istri yang suka memasak atau menyetrika. Aku masih tidak suka menyetrika.”
Sudut bibirnya bergerak.
“Tapi kalau kamu bertanya apakah aku menyesal pernah membuatmu merasa satu-satunya orang yang harus menjaga hubungan kita tetap bergerak… iya.”
Kami duduk cukup lama.
Bukan sebagai suami istri.
Bukan sebagai mantan pasangan.
Entah apa nama hubungan dua orang yang pernah menjalani tiga puluh tahun bersama, lalu dikembalikan ke masa ketika mereka bahkan belum pernah berkencan.
Arman akhirnya bertanya, “Sekarang bagaimana?”
Aku menggeleng.
“Tidak tahu.”
“Kalau kita mencoba lagi?”
Aku menatapnya.
Dulu, kalau Arman mengatakan itu, aku mungkin langsung setuju.
Karena dalam kepalaku, kami sudah membuktikan bahwa kami bisa hidup bersama sampai tua.
Sekarang justru karena mengetahui seluruh masa lalu itulah aku berhati-hati.
“Aku tidak mau menikahimu karena kita pernah menikah.”
Arman terdiam.
“Aku juga tidak mau menjadi hadiah setelah hubunganmu dengan Nadia gagal.”
“Itu bukan…”
“Aku tahu.”
Aku mengangkat tangan.
“Aku bukan menuduhmu.”
Aku melanjutkan, “Kalau kita mencoba lagi, kita mulai dari sekarang. Bukan dari rumah sakit. Bukan dari tiga puluh tahun pernikahan itu.”
Arman menatapku cukup lama.
“Artinya?”
“Artinya kamu harus mengenalku lagi.”
“Kita sudah saling kenal tiga puluh tahun.”
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Kamu kenal Ratih yang menikah denganmu tiga puluh tahun. Aku juga kenal Arman yang tumbuh tua bersamaku. Orang yang duduk di depan kita sekarang punya kesempatan membuat pilihan berbeda.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Arman benar-benar tersenyum.
“Jadi aku harus mengajakmu kencan?”
“Kalau mau.”
“Kalau tidak?”
“Aku pulang.”
Dia tertawa.
Aku juga.
Kami keluar dari kedai hampir pukul sembilan.
Arman menawarkan mengantarku.
Aku menolak karena rumahku berlawanan arah.
Dulu dia pasti memaksa.
Kali ini dia hanya berkata, “Kabari kalau sudah sampai.”
Aku mengangguk.
Lima belas menit setelah sampai rumah, untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, akulah yang mengirim pesan lebih dulu.
Sudah sampai.
Arman membalas kurang dari satu menit.
Aku juga.
Tidak ada kalimat romantis.
Anehnya, rasanya cukup.
Kami tidak langsung kembali bersama.
Bahkan selama beberapa bulan pertama, hubungan kami lebih banyak terasa seperti dua orang yang sedang memeriksa ulang rumah lama setelah gempa.
Ada bagian yang masih kuat.
Ada yang harus diperbaiki.
Ada juga yang memang harus dibuang.
Arman pernah mengajakku makan siang, lalu membatalkan karena ibunya memintanya pulang ke Tasikmalaya untuk urusan keluarga.
Dalam kehidupan sebelumnya, aku mungkin hanya menjawab singkat kemudian kesal sepanjang hari.
Kali ini aku bertanya, “Kamu sebenarnya ingin pergi?”
Dia berpikir.
“Iya. Sudah lama tidak lihat Paman.”
“Ya sudah, pergi.”
“Kamu marah?”
“Tidak.”
“Benar?”
Aku menatapnya.
“Kalau aku marah, aku akan bilang.”
Dia tersenyum.
“Baik.”
Sebaliknya, suatu malam aku pulang terlambat tiga hari berturut-turut karena audit stok.
Arman mengirim pesan menanyakan kapan kami bisa bertemu.
Aku hampir membalas “nanti”.
Lalu kuingat percakapan kami.
Aku membuka kalender.
“Sabtu sore. Jam empat. Setelah itu aku kosong.”
Jawabannya sederhana.
Oke.
Hal-hal kecil.
Tidak dramatis.
Tetapi rupanya kehidupan bersama memang dibangun dari hal-hal seperti itu.
Masalah terbesar justru datang dari keluarga kami.
Bu Mira, setelah mengetahui kami mulai bertemu, sangat berhati-hati kepadaku.
Suatu siang dia mengundangku makan.
Di tengah obrolan, dia berkata, “Kalau nanti kalian serius, Ibu cuma berharap kamu bisa lebih sering ikut Arman pulang.”
Aku meletakkan sendok.
Arman yang duduk di sebelahku langsung menoleh.
Bu Mira buru-buru menambahkan, “Bukan harus setiap waktu. Cuma keluarga juga perlu dijaga.”
Dalam kehidupan sebelumnya, aku mungkin langsung memasang wajah dingin.
Arman kemudian akan menjelaskan kepadanya setelah kami pulang.
Kali ini aku menjawab sendiri.
“Bu, saya akan datang kalau bisa dan kalau saya memang ingin datang.”
Wajah Bu Mira sedikit berubah.
Aku melanjutkan sebelum suasana menjadi tajam.
“Tapi saya juga tidak mau Arman selalu harus memilih antara saya dan keluarganya. Kalau saya tidak ikut, dia tetap boleh pulang.”
Bu Mira tampak tidak menyangka.
Arman juga.
Aku menatapnya.
“Kenapa?”
Dia menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Setelah makan, di parkiran dia berkata, “Dulu kamu tidak pernah bilang begitu.”
“Dulu aku berpikir kalau aku tidak mau, kamu juga seharusnya tidak pergi.”
“Kamu tidak pernah melarang.”
“Tidak.”
Aku mengakui, “Aku cuma membuat wajah tidak senang sampai kamu sendiri yang batal.”
Arman tertawa begitu keras sampai harus bersandar pada mobil.
Aku menyikut lengannya.
“Jangan senang dulu. Kamu juga salah karena selalu mengalah.”
“Iya.”
Dia masih tertawa.
“Aku bodoh.”
“Kita berdua.”
Setahun berlalu.
Kami belum menikah.
Hal itu membuat kedua keluarga mulai gelisah.
Ibuku paling sering bertanya.
“Sudah pernah menikah tiga puluh tahun saja kalian masih butuh waktu berapa lama?”
Aku hampir menjatuhkan sendok.
Tentu saja Ibu tidak tahu tentang kehidupan pertama.
Baginya, kami hanya dua orang yang sudah berpacaran cukup lama.
Suatu malam dia berkata, “Kalau serius ya serius. Jangan terlalu pilih-pilih.”
Aku menjawab, “Ibu mau aku menikah sekali dan benar, atau cepat lalu bermasalah?”
Ibu menghela napas.
“Zaman Ibu tidak seribet kalian.”
Aku tersenyum.
“Makanya ini zaman aku.”
Sejak itu dia jarang mendesak.
Pada ulang tahunku yang kedua puluh tujuh, Arman mengajakku kembali ke kafe tempat kami seharusnya bertemu dua tahun sebelumnya.
Meja dekat jendela kosong.
Aku langsung tahu apa yang ada di pikirannya.
“Jangan.”
Arman berhenti.
“Aku belum bicara apa-apa.”
“Wajahmu sudah bicara.”
Dia tertawa.
Kami duduk.
Kali ini dia tidak memesan Americano.
Dia memilih teh lemon.
Aku tetap memesan kopi hitam.
Arman memandang gelasku.
“Aku dulu benar-benar benci minuman itu.”
“Aku tahu.”
“Tapi tetap kuhabiskan.”
“Boros kalau dibuang.”
Dia tersenyum.
“Aku dulu pikir kalau menyukai kamu berarti harus belajar menyukai semua yang kamu suka.”
Aku mengaduk kopi.
“Sekarang?”
“Sekarang aku tahu cukup duduk satu meja.”
Aku menatapnya.
Arman mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas.
Tidak langsung membukanya.
“Ratih.”
“Apa?”
“Aku tidak mau menikahimu karena kita pernah tua bersama.”
Aku terdiam.
“Aku juga tidak mau menikahimu karena takut menyesal kalau tidak mencoba.”
Dia membuka kotak itu.
Cincinnya sederhana.
“Dua tahun ini aku mengenal kamu lagi.”
Arman tersenyum.
“Dan ternyata kamu tetap menyebalkan.”
Aku menyipitkan mata.
“Lanjutkan dengan hati-hati.”
“Tapi sekarang kalau kesal kamu bicara.”
Dia mendorong kotak itu perlahan ke tengah meja.
“Aku juga sedang belajar bilang kalau aku capek sebelum benar-benar capek.”
Aku tidak langsung mengambil cincin.
Arman tidak mendesak.
Akhirnya aku bertanya, “Kalau aku bilang tidak?”
“Aku pulang.”
“Tidak mengejar tiga tahun?”
“Tidak.”
“Kok gampang?”
“Karena jawabanmu harus jadi jawabanmu.”
Aku menatap lelaki di hadapanku.
Dalam kehidupan pertama, aku baru menerima Arman setelah dia mengejarku bertahun-tahun.
Dalam kehidupan kedua, justru kalimat bahwa dia tidak akan mengejarku membuatku yakin.
Aku mengambil cincin itu.
“Baik.”
Arman tidak langsung bereaksi.
“Kamu bilang apa?”
“Jangan menyuruhku mengulang.”
Dia tertawa.
“Ratih.”
“Apa?”
“Sekali saja.”
Aku memasang cincin itu sendiri.
“Iya.”
Kami menikah tujuh bulan kemudian.
Tidak ada pesta besar.
Tidak ada kejutan.
Tidak ada pidato tentang takdir.
Aku bahkan menolak saat Ibu ingin menceritakan kepada semua tamu bahwa “akhirnya Ratih mau juga”.
Kami menyewa gedung kecil, mengundang keluarga dan teman dekat, lalu pulang ke rumah kontrakan yang kami pilih bersama.
Rumah pertama dalam kehidupan ini bukan rumah yang dibeli Arman seorang diri.
Kami membuat rekening untuk kebutuhan bersama, tetapi tetap mempertahankan rekening pribadi masing-masing.
Bukan karena kami curiga.
Karena kali ini kami ingin semua hal yang disebut “bersama” benar-benar dibicarakan bersama.
Aku masih tidak pandai memasak.
Arman juga masih lebih sabar mengurus dapur.
Aku masih tidak suka menyetrika.
Pada bulan pertama pernikahan, dia sekali waktu meletakkan kemeja kusut di depan pintu kamar sambil berkata, “Istri orang lain biasanya peka.”
Aku melewatinya begitu saja.
“Laundry dua gang dari sini buka jam tujuh.”
Dia mengikuti dari belakang.
“Kamu tidak berubah sama sekali.”
Aku berbalik.
“Bukankah dua tahun lalu sudah tahu?”
Arman mengambil kemejanya sambil tertawa.
Tetapi ada hal lain yang berubah.
Kalau dia pulang dengan wajah lelah, aku tidak lagi menunggu sampai dia menceritakan sendiri.
Aku bertanya.
Kalau aku sedang sibuk dan ingin sendirian, aku tidak lagi membuatnya menebak dari wajahku.
Aku bilang.
Lebaran pertama setelah menikah, aku ikut pulang ke Tasikmalaya dua hari.
Tahun berikutnya pekerjaanku sedang padat, jadi Arman pergi sendiri.
Bu Mira sempat bertanya mengapa aku tidak ikut.
Arman menjawab, “Ratih kerja, Bu. Saya tetap pulang, kan?”
Sesederhana itu.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada pilihan antara istri atau ibu.
Tidak ada orang yang harus kalah supaya orang lain merasa dipilih.
Nadia kemudian menikah dengan seseorang dari kantornya.
Kami bertemu sekali di sebuah acara teman bersama.
Dia menyapaku biasa.
Aku juga.
Arman berdiri beberapa langkah di belakangku.
Tidak ada adegan canggung.
Tidak ada rasa perlu menang.
Nadia pernah menjadi jalan yang dipilih Arman ketika dia sedang mencoba melarikan diri dari kehidupan lama.
Aku tidak membencinya karena itu.
Kalau ada seseorang yang seharusnya bertanggung jawab atas pilihan Arman, orang itu Arman sendiri.
Lima tahun setelah kami menikah kembali, suatu malam aku menemukan Arman tertidur di sofa.
Televisi masih menyala.
Di meja ada dua cangkir.
Satu kopi hitam milikku yang belum kusentuh.
Satu teh miliknya.
Aku mengambil selimut dan menutupkannya ke tubuhnya.
Arman terbangun sedikit.
“Jam berapa?”
“Hampir sebelas.”
Dia memejamkan mata lagi.
“Kopimu sudah kubuat.”
“Aku lihat.”
“Dingin mungkin.”
“Nanti kupanaskan.”
Aku hendak pergi ketika tangannya menangkap pergelangan tanganku.
“Ratih.”
“Apa?”
Dengan mata masih tertutup dia berkata, “Kehidupan ini lumayan juga.”
Aku menatapnya.
Kalimat terakhirnya di kehidupan sebelumnya kembali terlintas.
Dengan sifatmu, kehidupan berikutnya aku tidak berani menikahimu lagi.
Aku menepuk tangannya.
“Sudah terlambat menyesal.”
Dia tertawa pelan tanpa membuka mata.
Aku menuju dapur membawa cangkir kopi.
Di dekat pintu tergantung satu kemeja Arman yang baru diambil dari laundry sore tadi.
Rapi.
Licin.
Bukan aku yang menyetrika.
Mungkin memang ada hal-hal yang tidak perlu berubah.
Yang penting, kali ini kami tidak lagi menganggap satu sama lain sebagai sesuatu yang pasti akan selalu ada tanpa perlu dipilih.
Setiap hari kami memilih lagi.
Kadang dengan kata-kata.
Kadang dengan pulang.
Kadang hanya dengan bertanya lebih dulu.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, itu terasa cukup.
Menurutmu, apakah Ratih dan Arman benar memberi cinta mereka kesempatan kedua dengan cara yang lebih sehat?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
