Di Pernikahan Adik Ipar, Ibu Mertuaku Menyuruhku Berdiri di Luar. Seorang Pria Lalu Datang Mencariku

Avatar penulis
Cerita 01
27 menit baca 206 tayangan
Di Pernikahan Adik Ipar, Ibu Mertuaku Menyuruhku Berdiri di Luar. Seorang Pria Lalu Datang Mencariku
Indeks

Di Pernikahan Adik Ipar, Ibu Mertuaku Menyuruhku Berdiri di Luar. Seorang Pria Lalu Datang Mencariku

Bagian 1

“Kamu berdiri di luar saja. Hari ini pernikahan anak perempuanku. Jangan bikin keluarga besan malu.”

Suara Bu Ratna cukup keras hingga beberapa kerabat yang sedang menuju ruang utama berhenti dan menoleh. Aku berdiri di depan pintu aula rumah keluarga Wijaya di Semarang, mengenakan kebaya hijau pucat yang kupilih sendiri seminggu sebelumnya.

Di dalam, para tamu sudah mulai memenuhi meja.

Hari itu adik iparku, Celine, menikah dengan putra sulung keluarga pengembang properti dari Surabaya. Sejak pagi rumah mertua dipenuhi bunga, petugas katering, fotografer, dan kerabat yang datang bergantian.

Aku sudah membantu sejak dua hari sebelumnya.

Tetapi ketika acara utama akan dimulai, aku justru dilarang masuk.

Di Pernikahan Adik Ipar, Ibu Mertuaku Menyuruhku Berdiri di Luar. Seorang Pria Lalu Datang Mencariku

“Bu,” kataku pelan, “kalau aku berdiri di depan pintu sepanjang acara, orang malah akan bertanya-tanya.”

Bu Ratna menatapku dari kepala sampai kaki.

“Kamu takut ditanya?”

Ia tertawa kecil.

“Harusnya dari dulu kamu sadar diri. Keluarga besan duduk satu meja dengan kami. Masa aku menaruh kamu di situ juga?”

Dua tante Adrian yang berdiri beberapa langkah di belakangnya saling pandang. Salah satunya pura-pura membetulkan bros agar tidak terlihat sedang tersenyum.

Tanganku mengepal di sisi tubuh.

Empat tahun aku menjadi istri Adrian.

Empat tahun juga aku belajar bahwa di rumah ini, ada banyak cara untuk mengatakan bahwa seseorang bukan bagian dari keluarga tanpa pernah mengucapkannya terang-terangan.

Aku tidak berasal dari keluarga kaya.

Ibuku meninggal ketika aku masih muda. Aku menyelesaikan kuliah sambil bekerja dan kemudian menjadi kepala administrasi di perusahaan logistik. Sebelum menikah, aku tinggal di rumah sederhana peninggalan ibu bersama seorang kerabat yang kini menetap di luar kota.

Adrian berbeda.

Keluarganya memiliki perusahaan distribusi bahan bangunan yang sudah berjalan puluhan tahun. Tidak sebesar yang sering dibicarakan orang, tetapi cukup besar untuk membuat Bu Ratna terbiasa menentukan siapa dianggap selevel dan siapa tidak.

Aku menoleh kepada suamiku.

Adrian berdiri di dekat pintu dengan setelan hitam. Di tangannya ada segelas air mineral. Sejak tadi ia diam.

Aku berharap, paling tidak kali ini, ia akan berkata bahwa istrinya tidak seharusnya diperlakukan seperti petugas penerima tamu.

“Adrian,” panggilku.

Ia akhirnya melihatku.

“Menurutmu aku memang harus berdiri di sini?”

Rahangnya mengeras.

Ia melirik ibunya, lalu tamu-tamu yang mulai masuk.

“Laras, hari ini jangan dibikin panjang.”

“Aku cuma bertanya.”

Adrian menurunkan suaranya.

“Kalau harus menahan malu sedikit, memangnya kamu kehilangan apa?”

Aku menatap wajahnya cukup lama.

Mungkin ia mengira kalimat itu sederhana.

Mungkin baginya memang begitu.

Menahan malu sedikit.

Seolah penghinaan memiliki ukuran yang boleh ditentukan orang lain.

“Jadi kamu juga menganggap ini wajar?”

Adrian membuang pandangan ke arah taman.

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

“Hari ini acara Celine. Jangan cari masalah.”

Aku tertawa pendek.

“Yang disuruh berdiri di luar aku. Yang dipermalukan di depan keluarga besar aku. Tapi yang mencari masalah juga aku?”

Bu Ratna langsung menyela.

“Sudah!”

Ia melangkah mendekat.

“Kalau kamu masih mau tinggal baik-baik bersama keluarga ini, belajar mengalah. Jangan semua hal dijadikan urusan harga diri.”

Kalimat itu pernah kudengar dalam berbagai bentuk.

Ketika aku diminta membatalkan perjalanan kerja karena Bu Ratna harus menjalani operasi.

Ketika Adrian mengalami kecelakaan mobil dan aku tidur di kursi rumah sakit selama beberapa malam.

Ketika usaha keluarga mereka mengalami masalah arus kas tiga tahun lalu dan Adrian meminta bantuanku.

Saat itu aku bahkan menjual gelang emas peninggalan ibu, satu-satunya perhiasan yang tidak pernah berniat kulepas.

Aku melakukannya karena Adrian berkata perusahaan keluarganya sedang kesulitan membayar beberapa pemasok.

Aku tidak pernah meminta gelang itu diganti.

Aku juga tidak pernah menggunakan semua yang pernah kulakukan untuk menagih rasa terima kasih.

Tetapi pagi itu aku memahami sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Tidak peduli berapa banyak yang kuberikan, Bu Ratna tetap melihatku sebagai perempuan yang beruntung karena boleh menikah dengan anaknya.

Aku melihat cincin di jari manisku.

Empat tahun aku memakainya.

Aku menarik cincin itu perlahan.

Cincin sederhana berwarna perak tersebut sempat tersangkut di buku jariku sebelum akhirnya lepas.

Aku meletakkannya di meja marmer kecil dekat pintu.

Bunyinya pendek.

Tik.

Adrian langsung mengerutkan kening.

“Kamu ngapain?”

Aku menarik tanganku kembali.

“Nggak apa-apa.”

“Jangan bikin adegan hari ini.”

“Aku tidak bikin adegan.”

Aku menatapnya.

“Aku cuma capek.”

Untuk pertama kalinya sejak pagi, Adrian terlihat kehilangan jawaban.

Aku berbalik dan berjalan ke ujung koridor.

Sebenarnya, kalau bukan karena satu pesan yang kuterima beberapa jam sebelumnya, mungkin aku sudah memesan taksi dan pulang.

Pesan itu berasal dari nomor yang tidak kukenal.

Tidak ada salam.

Tidak ada nama pengirim.

Hanya satu kalimat.

Kalau kamu ingin tahu kenapa keluarga Wijaya tidak pernah benar-benar menganggapmu keluarga, jangan meninggalkan acara pernikahan hari ini.

Di bawahnya ada sebuah foto lama.

Aku membukanya berkali-kali sejak pagi.

Kualitas gambarnya buruk, seperti hasil pemindaian foto cetak. Di sana terlihat seorang lelaki berusia sekitar tiga puluhan berdiri di depan pintu sebuah rumah sakit di Semarang.

Aku mengenal wajah itu.

Pak Surya.

Ayah Adrian.

Foto tersebut tampaknya diambil lebih dari dua puluh tahun lalu.

Di belakangnya terlihat papan nama rumah sakit yang lama, sedangkan Pak Surya memegang sebuah map cokelat di tangan kirinya.

Tidak ada aku di foto itu.

Tidak ada Adrian.

Tidak ada penjelasan apa pun.

Aku sempat membalas pesan tersebut.

Siapa Anda?

Tidak ada jawaban.

Aku bahkan berpikir seseorang sedang mempermainkanku.

Namun sekarang, setelah Bu Ratna menyuruhku berdiri di luar dan Adrian memilih diam, pesan itu kembali terasa berbeda.

Dari dalam aula terdengar pembawa acara mengumumkan bahwa prosesi akan segera dimulai.

Celine masuk bersama ayahnya.

Beberapa tamu bertepuk tangan.

Adrian mengikuti ibunya menuju meja keluarga.

Ia tidak menoleh lagi kepadaku.

Aku tetap berdiri di koridor.

Bukan untuk menyambut tamu.

Bukan pula karena menuruti Bu Ratna.

Aku menunggu.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam tua berhenti di dekat pagar depan.

Seorang pria turun.

Usianya mungkin pertengahan lima puluhan. Ia mengenakan celana kain gelap dan jaket abu-abu yang warnanya sudah memudar pada bagian siku.

Ia sama sekali tidak tampak seperti tamu pernikahan.

Petugas keamanan sempat menghentikannya.

Pria itu mengatakan sesuatu sambil menunjukkan ponsel, kemudian melihat ke arah rumah.

Tatapannya berhenti tepat padaku.

Wajahnya berubah.

Ia berjalan cepat melewati halaman.

Aku tanpa sadar mundur setengah langkah.

“Bu Laras?”

Aku mengerutkan kening.

“Bapak siapa?”

Ia tidak langsung menjawab.

Pandangan matanya jatuh pada cincin yang masih berada di meja dekat pintu.

Kemudian ia melihatku lagi.

Ada sesuatu di wajahnya yang membuatku tidak jadi memanggil petugas keamanan.

“Boleh saya tanya satu hal?”

“Tanya apa?”

Pria itu menelan ludah.

“Benar Anda menantu Pak Surya Wijaya?”

Aku semakin waspada.

“Iya.”

Ia seperti mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya.

Tangannya masuk ke dalam jaket.

Aku refleks menjauh.

Namun yang dikeluarkannya bukan sesuatu yang berbahaya.

Sebuah kotak kayu kecil.

Sudut-sudutnya sudah aus.

Ia memegang kotak itu dengan kedua tangan.

“Sebelum Anda masuk lagi ke rumah ini,” katanya, “ada sesuatu yang harus Anda tahu.”

“Apa?”

Ia hendak membuka kotak tersebut ketika suara gaduh terdengar dari aula.

Seseorang berteriak cukup keras hingga musik berhenti.

“Berkasnya ditukar!”

Percakapan para tamu langsung berubah menjadi suara riuh.

Aku menoleh.

Dari tempatku berdiri, kulihat Bu Ratna bangkit dari kursinya.

Wajahnya pucat.

Adrian berada beberapa meter dari panggung, memegang sebuah map dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Pria di depanku ikut memandang ke dalam.

Kemudian ia berkata lirih, “Terlambat.”

Aku menatapnya.

“Maksud Bapak?”

“Mereka sudah tahu kamu datang.”

“Kamu?”

Aku belum sempat bertanya lebih jauh ketika kotak kayu itu terbuka.

Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas lama, sebuah bukti transfer yang tintanya mulai memudar, serta salinan dokumen dengan stempel notaris.

Aku hanya sempat membaca bagian paling atas.

Lalu mataku berhenti pada satu nama.

Nama yang selama bertahun-tahun kupikir tidak memiliki hubungan sedikit pun dengan keluarga Wijaya.

Bagian 2 berlanjut di kolom komentar di bawah jika ingin lanjut membaca. 👇

Bagian 2

Indah Pramesti.

Nama ibuku.

Aku meraih sisi meja agar tanganku tidak langsung menyentuh dokumen itu.

“Kenapa nama ibu saya ada di sini?”

Pria tersebut menutup kotak sedikit, melindunginya dari orang-orang yang mulai keluar dari aula.

“Nama saya Budi. Dulu saya bekerja di bagian administrasi keuangan perusahaan Pak Surya.”

“Dulu kapan?”

“Lebih dari dua puluh tahun lalu.”

Dari aula, Bu Ratna berjalan cepat ke arah kami.

Ketika melihat Pak Budi, wajahnya langsung menegang.

“Kamu ngapain datang ke sini?”

Aku menoleh kepadanya.

Pertanyaan Bu Ratna bukan, siapa orang ini?

Ia mengenalnya.

Pak Budi juga tidak terlihat terkejut.

“Saya sudah mencoba menghubungi Pak Surya.”

“Ini acara keluarga. Pergi.”

Bu Ratna hendak mengambil kotak di tangannya, tetapi aku lebih cepat menariknya ke arahku.

“Jangan.”

Ia menatapku tajam.

“Laras, kamu tidak tahu apa yang sedang kamu pegang.”

“Makanya aku mau tahu.”

Adrian muncul dari pintu aula.

Ia membawa map biru.

“Laras.”

Aku memandangnya.

“Kenal dia?”

Adrian tidak menjawab.

Pak Budi membuka salah satu lembar.

“Dulu ibumu memberikan dana kepada perusahaan keluarga Wijaya ketika usaha mereka hampir berhenti.”

Bu Ratna mendengus.

“Jangan putar cerita lama seolah-olah kami mencuri.”

Aku belum berkata apa pun.

Pak Budi juga belum menyebut kata mencuri.

Aku menatap Bu Ratna.

“Cerita lama apa?”

Untuk sesaat ia terdiam.

Pak Budi melanjutkan, “Ada perjanjian utang yang dibuat resmi. Ada pembayaran sebagian. Tapi menurut dokumen yang saya simpan, kewajibannya belum pernah dinyatakan selesai.”

Bu Ratna langsung berkata, “Sudah dilunasi.”

“Kapan?”

“Sudah lama.”

Pak Budi menatapnya.

“Tanggal berapa, Bu?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Aku membuka dokumen paling atas.

Nama ibu tertulis sebagai pihak pemberi pinjaman.

Nama Pak Surya sebagai pihak penerima.

Jumlah pada halaman pertama membuatku membaca dua kali.

Rp280 juta.

Tahun dokumennya 2003.

Saat itu jumlah tersebut bukan uang kecil.

“Dari mana Ibu punya uang sebanyak ini?”

Pak Budi berkata, “Setahu saya, sebagian berasal dari hasil penjualan ruko milik keluarga ibumu.”

Aku mengingat cerita lama yang nyaris tidak pernah dibahas di rumah.

Ibuku memang pernah memiliki bagian dari sebuah ruko bersama almarhum kakek.

Katanya dijual sebelum aku masuk SD.

Aku selalu mengira uangnya habis untuk biaya pengobatan ibu.

Adrian berdiri kaku.

Aku menatap suamiku.

“Kenapa kamu diam?”

“Laras, jangan bahas di sini.”

“Kamu tahu?”

“Sekarang bukan tempatnya.”

Jawaban itu lebih buruk daripada penolakan.

Aku melangkah mendekat.

“Adrian. Kamu tahu?”

Bu Ratna menyela, “Dia cuma pernah lihat dokumen lama. Itu bukan urusan rumah tangga kalian.”

Aku tidak memandangnya.

“Aku tanya suamiku.”

Adrian mengusap wajah.

“Aku pernah lihat namanya.”

“Kapan?”

Ia diam.

“Kapan, Adrian?”

“Beberapa bulan lalu.”

“Berapa bulan?”

Bu Ratna berkata tajam, “Sudah kubilang jangan bikin keributan di pernikahan adikmu.”

Aku akhirnya menoleh kepadanya.

“Bu, sejak tadi yang membuat keributan bukan aku.”

Adrian menarik napas.

“Delapan bulan.”

Suara di belakang kami terasa menjauh.

“Delapan bulan apa?”

Ia menatap lantai.

“Aku tahu ada nama ibumu di dokumen perusahaan sejak delapan bulan lalu.”

Aku tidak langsung bereaksi.

Cuma delapan kata itu berputar-putar di kepalaku.

Delapan bulan.

Selama delapan bulan kami sarapan di meja yang sama.

Tidur di kamar yang sama.

Membahas cicilan mobil, pekerjaan, belanja bulanan, bahkan rencana renovasi dapur.

Ia tahu ada dokumen puluhan tahun yang menghubungkan ibuku dengan keluarganya.

Ia memilih diam.

“Kenapa?”

Adrian menjawab pelan, “Karena aku belum tahu ceritanya benar atau tidak.”

“Lalu kenapa tidak tanya aku?”

“Ibu bilang urusannya sudah selesai.”

Pak Budi tertawa hambar.

“Kalau sudah selesai, kenapa berkas pengakuan utangnya masih ada?”

Bu Ratna menatapnya.

“Budi, cukup.”

Adrian mengangkat map biru yang dibawanya.

“Ini yang tadi ditukar.”

Aku melihat ujung sebuah salinan sertifikat dan surat pengantar dari kantor notaris.

“Apa itu?”

Ia tampak ragu.

“Dokumen untuk aset yang rencananya mau diberikan Ayah kepada Celine setelah menikah.”

Pak Budi mengerutkan kening.

“Gudang di Genuk?”

Tidak ada yang menjawab.

Pak Budi langsung melihatku.

“Bu Laras, dalam dokumen lama, tanah dan bangunan itu disebut dalam perjanjian tambahan. Bukan berarti otomatis milik ibumu, tapi ada hubungan dengan kewajiban yang belum dibereskan.”

Bu Ratna langsung berkata, “Jangan bicara sembarangan.”

Aku memandang map di tangan Adrian.

Jadi pagi ini mereka berniat memindahkan sebuah aset kepada Celine.

Aset yang ternyata tercantum dalam dokumen lama bersama nama ibuku.

Aku memasukkan kembali lembar-lembar itu ke dalam kotak.

“Dokumen ini aku bawa.”

Bu Ratna maju.

“Tidak bisa.”

Pak Budi berkata, “Itu salinan yang saya simpan sendiri.”

Aku memandang Adrian.

“Cincinku mana?”

Ia terkejut.

“Apa?”

“Cincin yang tadi kutaruh di meja.”

Adrian menoleh. Salah satu sepupunya rupanya telah menyimpannya dan kemudian menyerahkannya kepadanya.

Ia mengeluarkan cincin tersebut dari saku.

Aku tidak mengambilnya.

“Simpan dulu.”

“Laras.”

“Aku pulang untuk ambil barangku.”

Bu Ratna tertawa tidak percaya.

“Cuma gara-gara dokumen yang belum jelas kamu mau keluar rumah?”

Aku menatapnya.

“Bukan cuma gara-gara dokumen.”

Lalu aku menoleh kepada Adrian.

“Suamiku tahu sesuatu tentang ibuku selama delapan bulan. Hari ini dia masih memilih membiarkan aku berdiri di luar supaya keluarganya kelihatan pantas di depan besan.”

Adrian membuka mulut.

Aku menggeleng.

“Jangan jelaskan sekarang. Aku takut kalau terus mendengar, aku malah percaya lagi.”

Aku membawa kotak kayu itu dan berjalan keluar dari halaman.

Untuk pertama kalinya sejak menikah, Adrian tidak berhasil menghentikanku hanya dengan berkata, “Nanti kita bicarakan.”

Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇

Bagian 3

Aku tidak langsung pulang ke rumah yang kutempati bersama Adrian di kompleks milik keluarganya.

Aku memesan kamar di sebuah hotel bisnis kecil di pusat Semarang dan baru kembali malam hari setelah memastikan sebagian besar tamu sudah pergi.

Aku tidak ingin pertengkaran lain.

Aku juga tidak ingin mengambil sesuatu yang bukan milikku.

Aku memasukkan pakaian kerja, laptop, dokumen pribadi, beberapa buku, obat-obatan, dan barang peninggalan ibu ke dalam dua koper.

Adrian berdiri di pintu kamar.

“Berapa lama kamu mau pergi?”

“Aku belum tahu.”

“Laras, kalau soal tadi, kita bisa jelaskan.”

Aku membuka laci meja rias.

“Sekarang aku justru sedang memberi kamu waktu untuk menyiapkan penjelasan.”

“Aku sungguh cuma tahu sedikit.”

“Tapi sedikit itu kamu simpan delapan bulan.”

Ia menunduk.

“Aku takut kamu salah paham.”

Aku menutup laci.

“Yang membuatku salah paham itu karena kamu sengaja tidak bilang.”

Ia mencoba mengambil salah satu koper.

Aku menahan gagangnya.

“Jangan.”

“Aku cuma mau bantu.”

“Aku bisa bawa sendiri.”

Kalimat itu membuat tangannya turun.

Malam itu aku memindahkan gaji bulan berikutnya agar masuk ke rekening pribadiku, bukan rekening bersama yang biasa kami pakai untuk kebutuhan rumah.

Aku tidak memindahkan uang milik Adrian.

Aku juga tidak mengosongkan rekening bersama.

Aku hanya menghentikan kebiasaan membiarkan seluruh penghasilanku masuk ke tempat yang aksesnya juga dimiliki suamiku.

Aku mengganti PIN mobile banking, kata sandi email, dan menyimpan foto semua dokumen yang dibawa Pak Budi di dua tempat terpisah.

Pagi berikutnya aku menghubungi kantor notaris yang namanya tercantum pada salinan perjanjian lama.

Notaris yang membuat akta tersebut sudah meninggal beberapa tahun lalu. Protokol dan arsipnya telah dialihkan kepada notaris lain.

Aku tidak mendapatkan jawaban hanya melalui telepon.

Aku diminta datang membawa identitas, akta kematian ibu, dan dokumen yang menunjukkan bahwa aku adalah ahli warisnya.

Dua hari kemudian aku datang.

Aku tidak berharap pulang dengan keputusan soal siapa berhak atas apa.

Yang kuinginkan cuma satu.

Memastikan dokumen di kotak kayu bukan buatan seseorang yang sedang bermusuhan dengan keluarga Wijaya.

Setelah proses pengecekan, kantor tersebut mengonfirmasi bahwa memang ada akta pengakuan utang atas nama Surya Wijaya dan Indah Pramesti.

Ada pula dokumen tambahan yang menyebut sebuah aset gudang di kawasan Genuk sebagai bagian dari kesepakatan pengamanan kewajiban saat itu.

Petugas menjelaskan dengan hati-hati bahwa keberadaan dokumen lama tidak otomatis berarti aku bisa mengambil gudang atau menuntut nominal tertentu saat itu juga.

Status pembayaran, dokumen setelahnya, dan berbagai hal lain harus diperiksa lebih lanjut.

Aku justru lega mendengarnya.

Aku tidak membutuhkan seseorang yang menjanjikan kemenangan.

Aku membutuhkan fakta.

Dan fakta pertama sudah cukup berat.

Hubungan antara ibuku dan keluarga suamiku benar-benar ada.

Sore itu aku bertemu Pak Budi di sebuah kedai kopi dekat kantor lamanya.

Ia membawa map plastik lain, tetapi isinya tidak sebanyak kotak kayu.

“Apa ini?”

“Salinan bukti transfer.”

Ada tiga lembar.

Dua berasal dari rekening ibuku.

Satu menunjukkan pembayaran sebagian dari perusahaan Wijaya kepada ibuku sekitar setahun setelah perjanjian dibuat.

“Kenapa Bapak menyimpan semua ini?”

Pak Budi lama tidak menjawab.

“Saya yang mencatat transaksi perusahaan waktu itu.”

Ia menatap meja.

“Setelah ibumu sakit, Pak Surya sempat minta perpanjangan waktu. Beliau bilang akan menyelesaikan kewajiban setelah proyek gudang stabil.”

“Lalu?”

“Ibumu meninggal.”

Aku menekan bibir.

“Dan mereka berhenti membayar?”

“Yang saya tahu, ada pembayaran lain. Tapi saya tidak pernah melihat surat yang menyatakan lunas.”

“Kenapa baru sekarang mencari saya?”

Pak Budi mengusap kening.

“Beberapa tahun lalu saya sudah berhenti bekerja. Bulan lalu orang perusahaan lama menghubungi saya karena mereka sedang merapikan arsip sebelum aset gudang dialihkan.”

Ia menatapku.

“Saya dengar aset itu mau diberikan kepada anak perempuan Pak Surya.”

“Celine.”

“Iya.”

“Terus?”

“Mereka menanyakan kenapa di daftar lama ada catatan kewajiban atas nama Indah Pramesti.”

Aku mulai memahami.

“Bapak cari nama ibu?”

“Saya cari ahli warisnya. Baru saya tahu anaknya menikah dengan Adrian.”

Aku diam.

Kebetulan terbesar bukan Pak Budi menemukanku di hari pernikahan.

Yang lebih menyakitkan justru keluarga Wijaya sudah mengenal namaku sejak aku masuk ke keluarga mereka.

“Apa Pak Surya tahu Bapak akan datang?”

Pak Budi mengangguk.

“Saya kasih tahu dua hari sebelumnya.”

“Apa jawabannya?”

“Beliau minta saya menunggu sampai acara selesai.”

“Kenapa Bapak tetap datang?”

“Karena pagi itu saya dengar dokumen untuk pengalihan gudang sudah dibawa ke rumah.”

Ia menghela napas.

“Saya takut setelah dialihkan, semuanya malah makin rumit.”

Aku teringat teriakan dari aula.

“Siapa yang menukar berkas?”

Pak Budi menggeleng.

“Saya tidak tahu.”

Jawabannya terdengar jujur.

Aku berterima kasih kepadanya dan pulang tanpa bertanya lebih jauh.

Sore itu Adrian menelepon tujuh kali.

Aku baru menjawab telepon kedelapan.

“Kita harus bicara.”

“Aku setuju.”

“Malam ini?”

“Besok. Tempat umum.”

Ia diam sejenak.

“Kenapa harus tempat umum?”

“Karena aku tidak mau Ibu masuk di tengah pembicaraan.”

Keesokan siang kami bertemu di sebuah restoran yang tidak terlalu ramai.

Adrian datang lebih dulu.

Ia terlihat kurang tidur.

“Aku bawa cincinmu.”

Ia meletakkan kotak kecil di meja.

Aku tidak membukanya.

“Aku bukan datang untuk cincin.”

“Aku tahu.”

“Ceritakan dari awal sejak kamu menemukan nama ibu.”

Adrian menarik napas panjang.

Delapan bulan sebelumnya, perusahaan keluarga sedang mengurus tambahan fasilitas kredit dan merapikan sejumlah dokumen aset.

Adrian membantu ayahnya karena selama beberapa tahun terakhir ia mulai ikut mengelola bisnis.

Di salah satu map lama ia melihat nama Indah Pramesti.

Ia mengenali nama itu.

“Aku langsung tanya Ibu,” katanya.

“Kenapa bukan Ayah?”

“Ibu ada di kantor waktu itu.”

“Dia bilang apa?”

“Dia bilang itu pinjaman lama. Sudah selesai.”

“Dan kamu percaya?”

“Aku mau percaya.”

Aku tersenyum tipis.

“Itu bukan jawaban.”

Adrian menatapku.

“Aku tidak mau membuka masalah lama.”

“Masalah siapa?”

“Keluarga.”

“Termasuk aku?”

Ia tidak menjawab.

Aku menggeser gelas air tanpa meminumnya.

“Waktu kamu menikahiku, Ibu sudah tahu nama ibuku?”

“Iya.”

Jawabannya membuat dadaku terasa kosong.

“Sejak awal?”

“Iya.”

“Jadi semua komentar dia tentang keluargaku, tentang aku tidak selevel, tentang aku harus tahu diri…”

“Laras.”

“Dia tahu ibuku pernah membantu perusahaan kalian?”

Adrian memejamkan mata sebentar.

“Iya.”

Aku tidak membutuhkan penjelasan lain untuk bagian itu.

Ada penghinaan yang lahir dari ketidaktahuan.

Ada pula penghinaan yang digunakan untuk menjaga seseorang tetap merasa kecil.

Yang kedua jauh lebih sulit dimaafkan.

“Kenapa dia tidak mau aku tahu?”

“Aku tidak bisa bicara atas nama Ibu.”

“Kamu bisa bicara atas namamu sendiri.”

Adrian memandang kotak cincin.

“Aku takut kalau ternyata urusan itu belum selesai, hubungan kita dengan keluargaku akan rusak.”

Aku menatapnya.

“Hubungan kita rusak karena kamu takut hubunganmu dengan mereka rusak.”

Ia diam.

Aku tidak mengatakan kalimat itu dengan marah.

Tidak perlu.

Adrian tampaknya memahami sendiri betapa buruk bunyinya.

Aku bertanya, “Siapa yang menukar berkas di pernikahan?”

“Ayah.”

Aku benar-benar tidak menduga jawaban itu.

“Ayahmu?”

“Pagi itu dia menyuruh asistennya mengganti map pengalihan gudang dengan salinan dokumen lama.”

“Kenapa?”

“Karena dia tahu Pak Budi akan datang. Dia tidak mau aset dialihkan sebelum masalah lama diperiksa.”

Aku menyandarkan tubuh.

Untuk pertama kalinya, ada bagian yang sedikit berbeda dari dugaan terburukku.

Pak Surya ternyata tidak sedang berusaha mempercepat pengalihan.

Ia justru menghentikannya.

“Kenapa Ayahmu tidak bicara langsung denganku?”

Adrian menjawab, “Malu.”

Aku hampir tertawa.

“Aku yang disuruh berdiri di luar, tapi kalian semua yang malu?”

Adrian menutup wajah sebentar.

“Aku salah.”

“Aku tahu.”

“Kasih aku kesempatan memperbaiki.”

Aku melihat pria yang empat tahun menjadi suamiku.

Aku masih mengenal caranya menggerakkan tangan ketika gugup.

Masih tahu ia biasanya memesan kopi tanpa gula.

Masih tahu sisi mana dari lehernya yang sering sakit kalau bekerja terlalu lama.

Perasaan tidak hilang hanya karena seseorang mengecewakan kita.

Justru itu yang membuat keputusan menjadi berat.

“Aku belum memutuskan soal pernikahan kita,” kataku. “Tapi aku tidak akan kembali ke rumah itu.”

Adrian langsung menatapku.

“Untuk sementara?”

“Aku tidak tahu.”

“Ibu bisa minta maaf.”

“Aku tidak minta Ibumu minta maaf supaya semuanya kembali seperti kemarin.”

“Lalu kamu mau apa?”

“Aku mau urusan ibu dan ayahmu diperiksa secara resmi. Aku mau semua komunikasi soal dokumen lewat orang yang mengerti. Dan aku mau kamu berhenti menjadi penyaring informasi untuk keluargamu.”

Adrian mengangguk.

Aku menambahkan, “Rekening gajiku juga sudah kupisah.”

Ia terkejut.

“Kenapa sampai rekening?”

“Karena selama ini aku terlalu gampang menganggap akses sebagai bukti kepercayaan.”

“Aku tidak pernah ambil uangmu.”

“Aku tidak bilang kamu mengambil.”

Aku menatapnya.

“Aku cuma sedang mengembalikan sesuatu ke tempatnya.”

Malamnya Bu Ratna menelepon.

Aku tidak menjawab.

Ia mengirim pesan panjang.

Isinya berubah-ubah dari marah, menyalahkan Pak Budi, mengatakan aku tidak tahu jasa keluarga Wijaya kepadaku, sampai menuduhku sedang memanfaatkan pernikahan Celine untuk mendapatkan uang.

Aku membaca sekali.

Lalu menyimpannya.

Aku tidak membalas.

Dua hari kemudian Pak Surya sendiri meminta bertemu.

Aku memilih kantor seorang advokat yang kukonsultasikan untuk memeriksa dokumen.

Pak Surya datang tanpa istrinya.

Ia tampak jauh lebih tua dibanding saat mengantar Celine ke depan tamu beberapa hari sebelumnya.

Begitu duduk, ia langsung berkata, “Saya minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

Ia mengeluarkan sebuah amplop tebal.

Advokat yang mendampingiku meminta semua dokumen diletakkan di meja sebelum dibicarakan.

Pak Surya menurut.

Di dalamnya terdapat salinan laporan perusahaan lama dan dua bukti pembayaran.

“Indah membantu saya ketika bank menolak memberikan tambahan modal,” katanya.

“Kenapa Ibu saya?”

Pak Surya memandang tangannya.

“Ibumu mengenal kakak saya. Dia pernah menjalankan usaha sendiri. Dia percaya proyek gudang kami bisa jalan.”

“Dia memberi Rp280 juta.”

“Ya.”

“Dan tidak seluruhnya kembali.”

Pak Surya menggeleng pelan.

“Tidak.”

Itu pertama kalinya seseorang dari keluarga Wijaya mengatakannya tanpa berputar-putar.

“Ada pembayaran beberapa kali. Setelah ibumu meninggal, saya sempat menyerahkan uang kepada kerabat yang mengurusmu.”

“Sebagai pelunasan?”

“Saya menganggap begitu waktu itu.”

“Apakah ada tanda terima yang menyebut semua kewajiban selesai?”

Pak Surya tidak menjawab.

Advokatku berkata, “Itulah yang nanti perlu diperiksa.”

Pak Surya mengangguk.

Aku bertanya, “Kenapa tidak pernah mencari saya?”

Ia menarik napas.

“Awalnya saya selalu bilang akan mengurus nanti. Perusahaan sedang susah. Lalu usaha membaik. Tahun berganti.”

Ia menatapku.

“Semakin lama saya diam, semakin sulit untuk mulai bicara.”

“Ketika saya menikah dengan Adrian?”

“Saya mengenali nama ibumu.”

“Dan tetap diam.”

“Ya.”

“Bu Ratna juga tahu.”

Pak Surya mengangguk.

Aku menahan diri beberapa detik sebelum bertanya lagi.

“Kenapa dia begitu membenci saya?”

“Dia tidak…”

Aku langsung mengangkat tangan.

“Jangan bilang dia tidak membenci saya. Saya cuma ingin tahu alasannya.”

Pak Surya terlihat sangat tidak nyaman.

“Ada ketakutan.”

“Takut apa?”

“Kalau kamu tahu cerita lama, kamu akan menganggap keluarga kami memanfaatkan ibumu.”

Aku menatapnya.

“Bukankah dengan menyembunyikannya, kalian justru membuat kesannya lebih buruk?”

Pak Surya tidak membantah.

Ia juga mengakui bahwa Bu Ratna sejak awal menentang hubunganku dengan Adrian, bukan hanya karena latar belakang keluargaku sederhana.

Nama ibuku mengingatkan mereka pada masalah yang ingin dikubur.

Aku pulang dari pertemuan itu tanpa merasa menang.

Tidak ada perasaan puas.

Yang ada justru lelah.

Selama bertahun-tahun aku mencoba menjadi menantu yang cukup baik agar diterima.

Ternyata sebagian dari mereka sejak awal sudah membuat keputusan bahwa aku harus dijaga pada jarak tertentu.

Bukan karena aku tidak pantas.

Karena kehadiranku membuat mereka mengingat sesuatu yang belum mereka selesaikan.

Seminggu kemudian, Bu Ratna akhirnya datang ke hotel tempatku tinggal.

Ia menunggu di lobi.

Aku sebenarnya bisa menolak bertemu.

Namun aku turun.

Ia tidak meminta maaf.

Setidaknya tidak pada awalnya.

“Celine menangis terus,” katanya.

“Kenapa?”

“Gudang itu jadi tidak bisa diberikan.”

Aku menatapnya.

“Pernikahannya batal?”

“Bukan begitu.”

“Suaminya meninggalkan dia?”

“Tidak.”

“Berarti pernikahannya baik-baik saja.”

Bu Ratna menghela napas kasar.

“Kamu tahu maksud saya.”

“Aku tahu.”

Aku meletakkan ponsel di meja.

“Yang tertunda cuma pemberian aset.”

“Itu sudah dijanjikan kepada keluarga suaminya.”

Aku hampir tidak percaya.

“Bu, kalian yang menjanjikan sesuatu sebelum membereskan riwayat dokumennya.”

“Jangan bicara seolah kamu pemilik gudang itu.”

“Aku tidak pernah bilang begitu.”

Aku condong sedikit ke depan.

“Aku bahkan belum tahu hak hukum apa yang sebenarnya masih ada. Makanya sedang diperiksa.”

Ia terdiam.

Aku melanjutkan, “Aku tidak akan mengambil sesuatu yang bukan milikku. Tapi aku juga tidak akan pura-pura dokumen ibu tidak pernah ada supaya acara keluarga kalian terlihat rapi.”

Bu Ratna menatapku lama.

“Kamu berubah.”

“Tidak.”

Aku menggeleng.

“Aku cuma sudah berhenti minta izin untuk menjaga milikku sendiri.”

Bu Ratna mulai bicara tentang nama keluarga, tentang perusahaan, tentang bagaimana masalah puluhan tahun bisa membuat orang luar salah paham.

Aku mendengarkan sampai selesai.

Kemudian aku berkata, “Bu, aku tidak akan menyebarkan ini ke keluarga besar. Aku tidak akan membuat keributan. Urusannya akan lewat jalur yang benar.”

Wajahnya sedikit melunak.

“Tapi saya tidak akan kembali tinggal di rumah keluarga.”

Ekspresinya berubah lagi.

“Karena masalah ini?”

“Karena setelah empat tahun, saya akhirnya paham posisi saya di sana.”

“Adrian suamimu.”

“Betul.”

“Dia tidak melakukan apa-apa.”

Aku mengangguk.

“Itulah masalahnya.”

Bu Ratna terdiam cukup lama.

Sebelum pergi, ia berkata pelan, “Saya memang seharusnya tidak menyuruh kamu berdiri di luar.”

Aku melihatnya.

Itu belum sebuah permintaan maaf yang utuh.

Namun untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba mengatakan bahwa kejadian tersebut adalah kesalahanku.

Aku tidak memaksanya berkata lebih banyak.

Dua minggu berikutnya menjadi masa paling membingungkan dalam hidupku.

Adrian datang hampir setiap hari.

Kadang membawa makanan.

Kadang hanya duduk.

Ia berhenti meminta aku segera pulang.

Ia mulai datang ke pertemuan soal dokumen meski aku tidak memintanya.

Ia bahkan menyerahkan semua arsip perusahaan yang ia temukan kepada advokat dan ayahnya.

Kalau ini terjadi sebelum pernikahan Celine, mungkin aku akan menganggapnya cukup.

Masalahnya, aku sekarang tahu Adrian mampu melakukan hal benar.

Ia hanya melakukannya setelah diam menjadi lebih mahal daripada berkata jujur.

Suatu malam ia bertanya, “Kalau semua urusan utang selesai, kamu pulang?”

Aku sedang menyusun pakaian kerja.

“Tidak ada hubungannya.”

“Aku kira ini tentang ibumu.”

“Sebagian.”

“Lalu apa lagi?”

Aku berhenti melipat.

“Waktu ibumu menyuruh aku berdiri di luar, kamu ada di sana.”

“Aku tahu.”

“Waktu aku tanya kamu, kamu bilang aku tinggal menahan malu sedikit.”

Adrian memejamkan mata.

“Aku sudah minta maaf.”

“Aku dengar.”

“Terus aku harus apa?”

Aku lama tidak menjawab.

Karena aku tahu ia sungguh ingin tahu.

“Aku tidak tahu.”

Aku kembali melipat pakaian.

“Dan itu masalahnya, Adrian. Aku tidak mau lagi menjadi orang yang mengajari suaminya kenapa mempermalukan istrinya itu salah.”

Ia duduk cukup lama.

Sebelum pulang, ia meninggalkan kotak cincin di meja.

Aku tidak memakainya.

Sebulan setelah pernikahan Celine, pemeriksaan dokumen lama belum selesai sepenuhnya.

Tidak ada cerita ajaib bahwa gudang tiba-tiba menjadi milikku.

Tidak ada orang datang membawa cek miliaran rupiah.

Yang ada adalah catatan pembayaran, perjanjian lama, jumlah yang harus dihitung ulang, dan beberapa bagian yang masih harus diverifikasi.

Pak Surya bersedia mengikuti mediasi.

Ia juga menyatakan secara tertulis bahwa perjanjian dengan ibuku memang pernah ada dan bahwa tidak ditemukan dokumen pelepasan kewajiban secara penuh.

Itu sudah cukup untuk menghentikan keluarga mereka berpura-pura tidak pernah terjadi apa-apa.

Pengalihan gudang kepada Celine ditunda.

Bukan karena aku menuntut gudang itu.

Karena Pak Surya sendiri akhirnya mengatakan aset tersebut tidak boleh dipindahkan sebelum semua urusan lama jelas.

Celine sempat mengirim satu pesan kepadaku.

Awalnya aku takut Kakak sengaja merusak hadiah pernikahanku. Ayah sudah jelaskan. Maaf aku tidak tahu apa-apa.

Aku membalas singkat.

Aku juga tidak tahu sampai hari itu.

Kami tidak tiba-tiba menjadi dekat.

Tetapi setidaknya konflik berhenti berpindah kepada orang yang tidak membuatnya.

Dua bulan setelah aku keluar dari rumah keluarga, Adrian dan aku mencoba konseling pernikahan.

Bukan untuk memastikan kami tetap bersama.

Kami datang karena aku ingin mengambil keputusan setelah mendengar dirinya tanpa suara Bu Ratna di belakangnya.

Adrian mengakui sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari.

Sejak kecil ia terbiasa menghindari konflik dengan ibunya.

Cara termudah adalah membiarkan orang lain mengalah.

Setelah menikah, orang lain itu menjadi aku.

Ketika ibunya mengkritikku, ia berkata, “Sudahlah.”

Ketika keluarganya meminta sesuatu, ia berkata, “Sekali ini saja.”

Ketika aku keberatan, ia berkata, “Demi keluarga.”

Hari pernikahan Celine hanya membuat pola itu terlihat terlalu jelas untuk diabaikan.

Aku bertanya kepadanya, “Kalau besok ibumu kembali mempermalukanku dan aku tidak punya dokumen apa pun yang membuatmu takut kehilangan aku, kamu akan tetap membelaku?”

Adrian tidak langsung menjawab.

Beberapa detik itu cukup.

Aku pulang ke kamar kontrakanku malam itu dan tahu apa yang harus kulakukan.

Seminggu kemudian aku mengatakan kepadanya bahwa aku ingin berpisah secara resmi.

Adrian tidak marah.

Ia menangis.

Aku juga.

Kami empat tahun menikah.

Tidak mungkin menutup empat tahun hanya dengan satu kalimat tegas dan pulang dengan hati ringan.

Ia meminta satu kesempatan lagi.

Aku berkata, “Aku percaya kamu bisa berubah.”

Matanya langsung mengangkat.

“Tapi aku tidak mau menjadikan hidupku tempat kamu berlatih berubah.”

Ia tidak membantah.

Proses perceraian kami kemudian berjalan melalui jalur hukum.

Kami membagi hal-hal yang memang kami miliki bersama secara wajar. Tidak ada perebutan mobil, tidak ada penghancuran barang, tidak ada ancaman.

Aku hanya meminta barang milikku kembali dan memastikan kewajiban bersama kami diselesaikan.

Urusan lama antara ibuku dan Pak Surya berjalan terpisah.

Beberapa bulan kemudian, melalui mediasi dan pemeriksaan dokumen, keluarga Wijaya sepakat mengakui sisa kewajiban yang dapat dibuktikan.

Pembayarannya tidak dilakukan sekaligus.

Ada jadwal.

Ada dokumen.

Ada perwakilan hukum.

Aku menyetujui itu.

Aku tidak membutuhkan mereka bangkrut agar merasa hidupku adil.

Aku hanya ingin sesuatu yang seharusnya tidak pernah disembunyikan berhenti menjadi rahasia.

Bu Ratna tidak pernah menjadi perempuan yang tiba-tiba hangat kepadaku.

Kami bertemu dua kali setelah itu.

Pertemuan kedua terjadi ketika aku mengambil beberapa barang terakhir dari rumah.

Ia berdiri di dekat ruang makan sambil melihatku menutup koper.

“Kalau waktu bisa diputar,” katanya, “mungkin saya akan melakukan beberapa hal secara berbeda.”

Aku menatapnya.

“Semoga begitu.”

Tidak ada pelukan.

Tidak ada tangisan bersama.

Aku tidak membutuhkan itu.

Pak Surya berubah lebih banyak.

Ia mulai menangani sendiri proses penyelesaian dokumen dan berhenti meminta Adrian berbicara atas namanya.

Dalam satu pertemuan terakhir ia berkata, “Ibumu dulu membantu saya saat banyak orang tidak mau.”

Aku menjawab, “Seharusnya Bapak mengatakan itu sejak saya pertama kali datang ke rumah kalian.”

Ia mengangguk.

“Saya tahu.”

Enam bulan setelah pernikahan Celine, hidupku tidak berubah menjadi sempurna.

Aku masih bekerja di tempat yang sama.

Aku pindah dari hotel ke apartemen kecil dengan sewa yang masuk akal.

Sebagian uang dari pembayaran pertama kewajiban lama kusimpan dalam deposito atas namaku sendiri.

Aku juga membeli kembali sebuah gelang emas sederhana.

Bukan untuk menggantikan gelang ibu yang pernah kujual.

Barang itu tidak bisa diganti.

Aku membelinya karena selama bertahun-tahun aku selalu merasa semua yang kumiliki boleh dikorbankan kalau keluarga membutuhkannya.

Sekarang aku belajar bahwa membantu orang dan menghapus diri sendiri adalah dua hal berbeda.

Adrian masih menghubungiku sesekali.

Tidak lagi setiap hari.

Ia tidak menikah lagi.

Aku juga tidak sedang mencari siapa pun.

Hubungan kami berubah menjadi jarak yang akhirnya bisa kuterima tanpa harus membenci seluruh masa lalu.

Pada hari dokumen perceraian kami selesai, sebuah paket kecil dikirim ke apartemenku.

Isinya kotak cincin.

Cincin yang kulepas di meja marmer pada hari pernikahan Celine.

Adrian menyertakan secarik kertas.

Aku tidak akan meminta kamu memakainya lagi. Aku cuma mengembalikan sesuatu yang memang milikmu.

Aku membaca catatan itu sekali.

Kemudian membuka laci meja.

Cincin tersebut kumasukkan ke dalam kotaknya dan kusimpan bersama beberapa dokumen lama.

Bukan sebagai janji.

Bukan juga sebagai sesuatu yang ingin kubuang.

Hanya bagian dari hidup yang sudah selesai.

Setelah itu aku menutup laci, mematikan lampu ruang tamu, dan mengunci pintu apartemen dari dalam.

Kali ini, tidak ada seorang pun yang menyuruhku berdiri di ambang pintu.

Menurutmu, apakah Laras masih seharusnya mempertahankan pernikahannya setelah Adrian memilih diam demi keluarganya?

Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.