SUAMIKU MEMBERIKU KOPI SEBELUM RAPAT SENILAI RP800 MILIAR—AKU MENUKAR CANGKIR KAMI, LALU MENUNGGU APA YANG TERJADI

Avatar penulis
Cerita 04
20 menit baca 5,281 tayangan
SUAMIKU MEMBERIKU KOPI SEBELUM RAPAT SENILAI RP800 MILIAR—AKU MENUKAR CANGKIR KAMI, LALU MENUNGGU APA YANG TERJADI
Indeks

SUAMIKU MEMBERIKU KOPI SEBELUM RAPAT SENILAI RP800 MILIAR—AKU MENUKAR CANGKIR KAMI, LALU MENUNGGU APA YANG TERJADI

Suamiku memberiku secangkir kopi sebelum rapat senilai Rp800 miliar dan berkata,

“Minumlah. Kamu butuh energi.”

Ibu mertuaku tersenyum dari seberang meja.

“Diminum saja, Nadira. Rapat hari ini sangat penting.”

SUAMIKU MEMBERIKU KOPI SEBELUM RAPAT SENILAI RP800 MILIAR—AKU MENUKAR CANGKIR KAMI, LALU MENUNGGU APA YANG TERJADI

Namun ada sesuatu yang terasa aneh.

Jadi diam-diam aku menukar cangkir kami.

Lalu aku menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi padanya…

Aroma kopi itu tidak biasa.

Bukan aroma yang langsung membuatku berpikir bahwa seseorang mencoba meracuniku. Tidak. Aku bahkan belum memiliki cukup bukti untuk menuduh siapa pun.

Namun di balik aroma kuat kopi arabika premium itu, ada sedikit bau manis seperti obat.

Aku mengenali aroma semacam itu karena selama bertahun-tahun aku pernah terlibat dalam pemeriksaan dokumen akuisisi beberapa perusahaan farmasi untuk klien perusahaanku.

Suamiku, Arga Wijaya, mendorong cangkir porselen itu ke arahku di atas kitchen island marmer rumah kami di Pondok Indah, Jakarta Selatan.

“Minumlah,” katanya ceria. “Kamu butuh energi.”

Di sebelahnya, ibu mertuaku, Ratna Wijaya, tersenyum manis.

Terlalu manis.

“Diminum saja, Nadira,” katanya lembut. “Rapat hari ini sangat penting.”

Penting?

Itu bahkan belum cukup untuk menggambarkannya.

Sembilan puluh menit lagi, aku dijadwalkan duduk di hadapan komite investasi sebuah perusahaan investasi besar di kawasan SCBD Jakarta untuk memberikan persetujuan akhir atas penjualan perusahaan perangkat lunak yang kubangun sendiri.

Nilai transaksinya hampir Rp800 miliar.

Perusahaanku.

Perusahaan yang kubangun dari sebuah ruangan sewaan kecil, dua laptop bekas, dan tabungan yang hampir habis.

Namun selama tiga tahun terakhir, Arga selalu membuat orang lain percaya bahwa kesuksesan itu adalah milik kami berdua.

Lebih tepatnya…

Miliknya.

Ia bahkan suka “mengoreksi” ceritaku di depan orang lain.

“Nadira itu hebat dalam urusan kreatif dan produk,” katanya suatu malam di depan beberapa investor sambil tersenyum. “Kalau urusan bisnis dan kenyataan, biar aku yang menangani.”

Semua orang tertawa sopan.

Aku ikut tersenyum.

Yang tidak pernah Arga ceritakan kepada mereka adalah bahwa 78 persen hak suara perusahaan masih berada di tanganku.

Tanpa tanda tanganku, penjualan itu tidak akan terjadi.

Dan ada dua hal lain yang tidak diketahui suamiku.

Beberapa minggu terakhir, tim keamanan siber perusahaanku menemukan serangkaian upaya login mencurigakan ke akun cloud perusahaan.

Seseorang mencoba mengakses dokumen kepemilikan sahamku.

Awalnya aku mengira itu serangan biasa.

Sampai pengacaraku, Dimas Pranoto, menemukan sesuatu yang jauh lebih mengkhawatirkan.

Ada beberapa draf dokumen hukum yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Dokumen-dokumen itu dirancang untuk memindahkan sebagian besar sahamku ke dalam sebuah struktur pengelolaan aset keluarga setelah penjualan selesai.

Dan orang yang akan mendapatkan kendali utama atas aset tersebut adalah…

Arga.

Aku belum menuduhnya.

Aku ingin bukti.

Pagi itu, bukti tersebut mungkin sedang berada tepat di depan mataku.

Aku mengangkat cangkir kopi.

Ratna memperhatikannya.

Bukan wajahku.

Bukan mataku.

Cangkir itu.

Tatapannya mengikuti setiap gerakan tanganku.

Saat itulah firasat burukku berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih nyata.

“Sebentar,” kataku sambil menurunkan cangkir. “Folder kontrakku tertinggal di ruang kerja.”

Aku berbalik dan berjalan keluar dari dapur.

Langkahku tetap tenang.

Begitu melewati pintu, aku mendengar suara Arga dari belakang.

Pelan.

Namun cukup jelas.

“Pastikan dia meminumnya.”

Tubuhku langsung terasa dingin.

Aku terus berjalan seolah tidak mendengar apa-apa.

Begitu masuk ke ruang kerja, aku menutup pintu dan mengambil ponsel.

Rumah kami memiliki sistem CCTV internal yang terhubung langsung ke aplikasi keamanan di ponselku.

Kamera dapur merekam hampir seluruh kitchen island.

Aku membuka rekamannya.

Memundurkan beberapa menit.

Lalu aku melihatnya.

Ratna masuk ke dapur lebih awal pagi itu.

Ia menoleh ke kanan dan kiri.

Kemudian membuka tas tangannya.

Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah botol kecil.

Beberapa saat kemudian, Arga datang.

Ratna menyerahkan botol itu kepadanya.

Arga membuka tutupnya.

Lalu menuangkan sesuatu ke dalam salah satu cangkir kopi.

Cangkirku.

Tanganku gemetar.

Hanya sekali.

Kemudian berhenti.

Selama bertahun-tahun, Arga mengira diamku berarti aku lemah.

Ia mengira karena aku jarang berteriak, aku mudah dikendalikan.

Ia mengira karena aku memilih menyelesaikan masalah tanpa drama, aku tidak akan pernah melawannya.

Pagi itu, kesalahpahaman tersebut akan menjadi kesalahan termahal dalam hidupnya.

Aku menyimpan rekaman CCTV itu ke penyimpanan cloud pribadi.

Lalu mengirim salinannya kepada Dimas dengan satu pesan singkat:

Jangan hubungi aku dulu. Simpan video ini.

Setelah itu aku mengambil folder kontrak dan kembali ke dapur.

Arga dan Ratna sedang berbicara pelan di dekat jendela.

Mereka langsung berhenti ketika melihatku.

Di atas kitchen island terdapat dua cangkir porselen yang bentuknya persis sama.

Aku berjalan mendekat.

Mengangkat keduanya.

“Tatakkannya tertukar,” kataku santai.

Sambil berpura-pura membetulkan posisi cangkir dan piring kecil di bawahnya, aku menukar keduanya.

Gerakannya hanya berlangsung beberapa detik.

Tidak seorang pun memperhatikan.

Aku mengambil cangkir yang sekarang berada di depanku.

Lalu tersenyum.

“Untuk Rp800 miliar.”

Arga tertawa puas.

Ia mengambil cangkir yang diyakininya sebagai miliknya.

“Untuk akhirnya kita hidup tenang seumur hidup.”

Ratna tersenyum.

Tatapannya masih tertuju kepadaku.

Aku mengangkat cangkir ke bibir.

Membiarkan kopi menyentuh bibirku.

Tetapi aku tidak benar-benar menelannya.

Arga berbeda.

Ia sedang terburu-buru.

Dalam tiga tegukan besar, hampir setengah isi cangkirnya habis.

Aku meletakkan cangkirku kembali.

Dan menunggu.

Sekitar dua puluh menit kemudian, kami masuk ke mobil menuju SCBD.

Ratna tidak ikut.

Sebelum mobil meninggalkan halaman, ia memeluk putranya dan berbisik sesuatu yang tidak bisa kudengar.

Kemudian ia menatapku.

Dan tersenyum.

Sepanjang perjalanan, Arga terlihat sangat percaya diri.

Ia membuka tablet, memeriksa dokumen, lalu menjelaskan kepadaku bagaimana aku harus bersikap dalam rapat.

Seolah-olah aku adalah karyawan junior di perusahaanku sendiri.

“Jangan terlalu banyak bicara soal valuasi,” katanya.

Aku menatap jalanan Jakarta dari balik jendela.

“Baik.”

“Kalau pengacara mereka bertanya tentang struktur kepemilikan setelah transaksi, biar aku yang jawab.”

“Baik.”

Kemudian ia meletakkan tangannya di lututku.

“Dan yang paling penting…”

Aku menoleh.

Arga menatapku lurus-lurus.

“Kamu tanda tangani apa pun yang kusuruh kamu tanda tangani.”

Aku memandang tangannya.

Lalu wajahnya.

“Tentu.”

Senyumnya langsung melebar.

Ia mengira aku sudah menyerah.

Kami tiba di sebuah gedung perkantoran tinggi di kawasan SCBD.

Lift membawa kami ke ruang rapat eksekutif di lantai atas.

Di balik dinding kaca, pemandangan gedung-gedung Jakarta membentang di bawah langit pagi.

Di dalam ruangan sudah menunggu belasan orang.

Pengacara.

Investor.

Penasihat keuangan.

Perwakilan pembeli.

Di tengah meja panjang terdapat beberapa map hitam berisi kontrak transaksi hampir Rp800 miliar.

Aku duduk.

Arga duduk di sebelahku.

Rapat dimulai.

Beberapa menit pertama berjalan normal.

Lalu aku melihat setitik keringat muncul di pelipis suamiku.

Arga mengusapnya.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Beberapa menit kemudian, ia menarik kerah kemejanya.

“AC-nya agak panas, ya?”

Tidak seorang pun menjawab.

Ruangan itu justru cukup dingin.

Seorang pengacara mulai menjelaskan pasal mengenai pengalihan saham.

Arga mencoba menyela.

Namun kata-katanya terdengar sedikit tidak jelas.

Ia berhenti.

Menggelengkan kepala.

Kemudian mencoba lagi.

“Nadira akan… akan menandatangani bagian… bagian…”

Ia kehilangan kalimatnya sendiri.

Semua orang mulai memperhatikannya.

Aku tetap duduk tenang.

Wajah Arga berubah pucat.

Ia meraih segelas air.

Tangannya gemetar.

Kemudian matanya beralih kepadaku.

Untuk pertama kalinya pagi itu, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat di wajah suamiku selama sembilan tahun pernikahan kami.

Ketakutan.

Bukan kebingungan.

Bukan rasa sakit.

Ketakutan.

Seolah-olah ia tiba-tiba memahami sesuatu.

Arga menatapku lama.

Lalu berbisik,

“Apa yang kamu lakukan?”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku melipat kedua tangan di atas meja.

“Tidak ada, Arga.”

Aku sedikit mendekat kepadanya.

Cukup dekat agar hanya dia yang benar-benar memahami maksudku.

“Aku hanya minum kopi dari cangkir yang satunya.”

Wajah Arga seketika kehilangan seluruh warnanya.

Dan saat itulah aku tahu…

dia tahu persis apa yang ada di dalam kopi itu.

Namun yang belum diketahui Arga adalah bahwa rekaman CCTV dari dapur kami sudah berada di tangan pengacaraku.

Dan beberapa detik kemudian, pintu ruang rapat terbuka.

Orang yang masuk membawa sebuah map dokumen yang akan mengubah bukan hanya transaksi senilai Rp800 miliar itu…

tetapi juga pernikahan kami.

Dan mungkin kebebasan Arga sendiri.

BAGIAN 2 — CANGKIR YANG SALAH, KONTRAK YANG PALSU, DAN RAHASIA YANG DISEMBUNYIKAN SUAMIKU SELAMA BERTAHUN-TAHUN

Pintu ruang rapat terbuka.

Semua orang menoleh.

Yang masuk bukan polisi.

Bukan dokter.

Bukan pula petugas keamanan gedung.

Melainkan Dimas Pranoto, pengacaraku.

Ia membawa sebuah map abu-abu tebal dan sebuah tablet.

Wajah Arga berubah.

“Kenapa kamu ada di sini?” tanyanya.

Dimas tidak menjawab pertanyaan itu.

Ia justru menatapku.

“Nadira, kamu baik-baik saja?”

Aku mengangguk.

“Untuk saat ini.”

Arga berdiri terlalu cepat.

Kursinya bergeser keras ke belakang.

“Aku tidak mengerti apa-apaan ini.”

Tapi tubuhnya jelas tidak lagi mampu mengikuti kemarahannya.

Ia memegang tepi meja.

Wajahnya semakin pucat.

Salah seorang direktur Meridian Capital, seorang pria bernama Bram Santoso, berdiri dan memanggil tim medis gedung.

Arga membentak.

“Aku tidak butuh dokter!”

Kalimat itu keluar terbata-bata.

Dimas berjalan mendekat dan meletakkan tablet di depanku.

“Aku sudah menyalin rekaman yang kamu kirim.”

Aku menatap layar.

Gambar dapur kami muncul.

Ratna.

Botol kecil.

Arga.

Cangkir kopi.

Semua jelas.

Salah seorang pengacara Meridian langsung menghentikan rapat.

“Tidak ada satu dokumen pun yang ditandatangani sebelum situasi ini dijelaskan.”

Arga mencoba meraih tablet itu.

Aku menariknya menjauh.

“Jangan.”

Ia menatapku.

Untuk pertama kalinya, Arga tidak terlihat seperti suami yang selalu merasa memiliki kendali.

Ia terlihat seperti pria yang tiba-tiba menyadari lantai di bawah kakinya sudah hilang.

“Nadira,” katanya pelan. “Kamu salah paham.”

Aku hampir tertawa.

“Salah paham yang mana?”

Aku menunjuk layar.

“Bagian ketika ibumu mengeluarkan botol?”

Atau ketika kamu menuangkannya ke dalam kopiku?”

Ruangan membeku.

Arga memandang ke sekeliling.

Belasan orang menyaksikannya.

Beberapa sudah mengambil ponsel.

Beberapa lainnya saling berbisik.

“Aku bisa jelaskan.”

“Bagus.”

Aku duduk kembali.

“Jelaskan.”

Arga membuka mulut.

Tidak ada suara keluar.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka lagi.

Dua petugas medis masuk.

Mereka memeriksa tekanan darah Arga, pupil matanya, dan denyut nadinya.

Salah satu dari mereka bertanya,

“Bapak mengonsumsi obat tertentu pagi ini?”

Arga menatapku.

Aku tidak menyelamatkannya.

“Aku tidak tahu.”

Petugas medis menatapku.

“Apakah Anda tahu?”

Aku menjawab,

“Saya tahu dia meminum kopi yang sebelumnya disiapkan untuk saya.”

Hening.

Aku kemudian menyerahkan salinan rekaman.

Dokter itu melihat sekilas.

Ekspresinya berubah serius.

“Kami perlu membawa beliau untuk pemeriksaan.”

Arga mulai panik.

“Aku baik-baik saja!”

Namun dua menit kemudian ia bahkan kesulitan berdiri tanpa bantuan.

Saat ia dibawa keluar, ia menoleh kepadaku.

Tatapannya tidak lagi penuh amarah.

Melainkan permohonan.

“Nadira… jangan lakukan sesuatu yang bodoh.”

Aku menatapnya lurus.

“Sudah terlambat.”

Itu kalimat terakhir yang ia dengar dariku hari itu.

Begitu pintu menutup, seluruh ruangan terasa berbeda.

Bram Santoso menarik napas.

“Nadira, kita bisa menunda transaksi ini.”

“Tidak.”

Semua orang menatapku.

Aku membuka map kontrak.

“Kita lanjutkan.”

Salah seorang pengacara Meridian berkata,

“Apakah Anda yakin?”

Aku tersenyum tipis.

“Lebih yakin daripada kapan pun.”

Namun sebelum aku menandatangani halaman pertama, Dimas menyentuh lenganku.

“Ada sesuatu yang harus kamu lihat.”

Ia membuka map abu-abu yang tadi dibawanya.

Di dalamnya ada beberapa dokumen.

Aku mengenali sebagian.

Akta perubahan kepemilikan.

Instruksi escrow.

Surat kuasa.

Namun ada satu dokumen yang membuatku berhenti bernapas.

Judulnya sederhana.

Perjanjian Pengalihan Hak Kendali Saham.

Nama pemilik saham tercetak jelas.

Nadira Prameswari.

Di bawahnya ada tanda tanganku.

Hanya saja…

aku tidak pernah menandatangani dokumen itu.

Aku menatap Dimas.

“Ini palsu.”

“Ya.”

“Dari mana kamu mendapatkannya?”

“Dari server perusahaan.”

Aku membeku.

Dimas melanjutkan.

“Sepertinya seseorang mengunggah versi final tadi malam dan menjadwalkannya untuk aktif otomatis begitu transaksi hari ini selesai.”

Aku merasa seluruh tubuhku dingin.

“Artinya?”

Dimas menunjuk pasal ketujuh.

“Begitu uang pembelian masuk ke rekening escrow, sebagian besar hak kontrol atas hasil transaksi akan berpindah ke entitas bernama Wijaya Family Asset Holdings.”

Aku menatap nama itu.

Arga.

Ratna.

Aku nyaris tidak perlu bertanya.

“Siapa pemegang kendalinya?”

Dimas menjawab pelan.

“Ratna Wijaya.”

Aku terdiam.

Semua potongan akhirnya tersambung.

Bukan Arga.

Atau setidaknya…

bukan hanya Arga.

Yang duduk di pusat rencana itu selama ini adalah ibu mertuaku.

Perempuan yang selama sembilan tahun terus menyebutku beruntung karena “dinikahi keluarga Wijaya.”

Padahal sejak awal, justru keluarga itu yang mengincar apa yang kubangun.

Aku membuka halaman lain.

Ada struktur rekening.

Perusahaan cangkang.

Instruksi investasi.

Dan satu angka yang membuat dadaku sesak.

Rp612 miliar.

Itulah jumlah yang akan berada di bawah kendali Ratna setelah transaksi selesai.

Aku duduk kembali.

Untuk beberapa saat aku tidak mendengar apa pun.

Suara AC.

Orang-orang berbisik.

Kertas dibalik.

Semua terasa jauh.

Aku hanya memikirkan satu hal.

Sembilan tahun.

Sembilan tahun pernikahanku.

Aku pernah menjual mobil pertamaku agar Arga bisa melunasi utang usaha yang katanya gagal karena pandemi.

Aku pernah membayar biaya operasi ayahnya.

Aku pernah menampung Ratna di rumahku selama hampir setahun setelah ia mengaku bisnis keluarganya sedang bermasalah.

Aku memberi mereka tempat.

Uang.

Nama.

Kepercayaan.

Dan rupanya, semua itu tidak pernah cukup.

Mereka menginginkan seluruh hidupku.

Dimas duduk di sebelahku.

“Ada satu hal lagi.”

Aku menatapnya.

“Apa lagi?”

Ia mengeluarkan sebuah amplop putih.

“Dokumen ini baru aku terima pagi tadi dari seseorang yang meminta identitasnya dirahasiakan sampai kamu melihat isinya.”

Tanganku terasa berat saat membuka amplop.

Di dalamnya ada fotokopi sebuah surat lama.

Tulisan tangan.

Bertanggal hampir tiga puluh tahun lalu.

Ditujukan kepada Ratna.

Aku membaca dua baris pertama.

Lalu berhenti.

“Ini… apa?”

Dimas menatapku.

“Baca sampai akhir.”

Aku melanjutkan.

Surat itu ditulis oleh seorang perempuan bernama Lestari Prameswari.

Nama ibuku.

Ibuku meninggal ketika aku berusia sebelas tahun.

Aku masih ingat rambut panjangnya.

Wangi minyak melati di bajunya.

Dan cara ia selalu berkata,

“Jangan pernah membiarkan siapa pun membuatmu merasa kecil hanya karena kamu lahir tanpa banyak hal.”

Tanganku mulai gemetar.

Surat itu berbunyi:

Ratna, aku tahu kamu marah karena ayah memilih mendanai proyekku, bukan proyek keluargamu. Tapi jangan libatkan anak-anak dalam masalah orang dewasa. Kita pernah bersahabat. Aku tidak ingin Nadira tumbuh membawa kebencian yang bukan miliknya.

Aku menatap Dimas.

“Apa hubungan ibuku dengan Ratna?”

Dimas tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, ia menatap seorang pria tua di ujung ruang rapat.

Aku baru sadar pria itu tidak berada di sana saat rapat dimulai.

Rambutnya putih.

Kacamata tipis.

Usianya mungkin lebih dari tujuh puluh.

Ia berdiri perlahan.

“Karena saya yang mengirim surat itu.”

Aku mengenalinya.

Hendra Wibowo.

Pendiri salah satu perusahaan teknologi tertua di Indonesia.

Seorang investor senior yang selama ini nyaris tidak pernah muncul di publik.

Aku pernah bertemu dengannya satu kali, bertahun-tahun lalu, saat perusahaan kecilku masih bekerja dari ruko sempit di Kemang.

Ia datang tanpa rombongan.

Duduk di kursi plastik.

Lalu memberiku investasi pertama yang benar-benar menyelamatkan perusahaan.

Saat itu aku pikir ia hanya investor yang melihat potensi.

Sekarang ia menatapku seperti seseorang yang telah menyimpan rahasia terlalu lama.

“Pak Hendra?”

Ia mengangguk.

“Aku kenal ibumu.”

Aku tercekat.

“Seberapa dekat?”

Ia menutup matanya sejenak.

“Dia adik saya.”

Aku tidak bergerak.

Ruangan seperti kehilangan udara.

“Apa?”

Hendra berjalan mendekat.

“Nama lahir ibumu bukan Lestari Prameswari.”

Ia menatapku.

“Namanya Lestari Wibowo.”

Aku merasa lantai bergeser.

“Tidak mungkin.”

“Ibu dan ayahmu memilih menggunakan nama Prameswari setelah menikah karena terjadi konflik keluarga. Ayah kami… kakekmu… menolak pernikahan itu.”

Aku menatap pria di depanku.

Pikiranku tidak mampu mengejar semuanya.

“Jadi… Anda…”

“Pamanmu.”

Aku berdiri.

Entah kenapa aku marah.

Sangat marah.

“Kalau begitu di mana Anda selama ini?”

Wajah Hendra runtuh.

Pertanyaan itu jelas telah ia tunggu selama bertahun-tahun.

“Menjadi pengecut.”

Tidak ada alasan.

Tidak ada pembelaan.

Hanya dua kata itu.

Ia menunduk.

“Setelah ibumu meninggal, aku mencoba mencarimu. Tapi ayahmu sudah pindah. Aku diberi tahu bahwa kalian tidak ingin berhubungan dengan keluarga Wibowo lagi.”

“Siapa yang bilang begitu?”

Ia menatapku.

“Ratna.”

Aku berhenti bernapas.

Hendra melanjutkan.

“Waktu itu Ratna masih dekat dengan beberapa anggota keluarga kami. Aku percaya padanya.”

Aku hampir tidak sanggup memahami.

Ratna telah mengenal ibuku.

Bukan hanya mengenal.

Ia pernah berada di dalam lingkaran keluarga kami.

“Kenapa dia melakukan ini?”

Hendra duduk.

“Karena tiga puluh tahun lalu, kakekmu berencana mendanai bisnis keluarga Ratna. Namun setelah ia melihat proyek teknologi yang dirancang ibumu, ia mengalihkan seluruh investasinya kepada Lestari.”

“Bisnis apa?”

“Perangkat lunak pengelolaan logistik.”

Aku menatapnya.

Perusahaanku hari ini tumbuh besar karena perangkat lunak logistik.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang lebih aneh daripada kebetulan.

Hendra tersenyum sedih.

“Bakat itu mungkin tidak muncul dari ruang kosong.”

Aku menutup mulut.

Mataku panas.

Selama hidupku, aku mengira ide-ide yang muncul di kepalaku adalah sesuatu yang sepenuhnya baru.

Ternyata mungkin ada jejak ibuku di dalamnya.

Dan Ratna tahu.

Sejak awal.

Ia tahu siapa aku ketika Arga pertama kali membawaku ke rumahnya.

Aku ingat malam itu.

Ratna menatapku terlalu lama setelah mendengar nama belakangku.

Kemudian bertanya,

“Nama ibumu siapa?”

Saat itu aku pikir ia hanya basa-basi.

Sekarang semuanya terasa mengerikan.

Ia mengenal darahku.

Ia mengenal sejarah keluargaku.

Dan ia membiarkan putranya menikahiku sambil perlahan mendekati perusahaan yang kubangun.

Bukan karena kebetulan.

Bukan karena cinta.

Mungkin sejak awal, aku adalah sasaran.

Tapi bagian yang paling menyakitkan datang setelahnya.

Dimas membuka rekaman percakapan.

“Aku menemukan ini ketika memeriksa backup laptop Arga.”

Ia menekan tombol play.

Suara Ratna terdengar jelas.

“Kalau dia menjual perusahaan, kita akhirnya bisa mengambil kembali apa yang dulu seharusnya menjadi milik keluarga kita.”

Lalu suara Arga.

“Bagaimana kalau Nadira tidak mau tanda tangan trust?”

Ratna menjawab,

“Kamu sudah jadi suaminya sembilan tahun. Masa kamu tidak tahu bagaimana membuat istrimu menurut?”

Arga tertawa.

Kemudian berkata,

“Aku cuma tidak mau dia curiga.”

Ratna menjawab,

“Makanya besok pagi kita buat dia cukup tenang untuk tanda tangan.”

Aku mematikan rekaman.

Cukup.

Aku tidak ingin mendengar lagi.

Bram berdiri.

“Dengan bukti ini, transaksi harus dihentikan.”

Aku memandang kontrak di depanku.

Lalu menggeleng.

“Tidak.”

Dimas menatapku.

“Nadira?”

Aku mengambil pulpen.

“Aku tetap menjual perusahaan.”

Semua orang tercengang.

Hendra bahkan berdiri.

“Setelah semua ini?”

“Justru karena semua ini.”

Aku menatap mereka.

“Perusahaan ini tidak boleh menjadi penjara tempat aku terus membuktikan siapa yang berhak mengendalikannya.”

Aku menarik kontrak.

“Tapi ada syarat baru.”

Dimas perlahan tersenyum.

Ia sudah mengenalku cukup lama untuk tahu bahwa ketika aku bicara setenang itu, keputusan sudah dibuat.

Tiga jam kemudian, transaksi direstrukturisasi.

Tidak ada satu rupiah pun yang masuk ke trust keluarga.

Tidak ada satu pun hak kontrol yang jatuh ke Arga.

Seluruh sahamku dijual langsung.

Sebagian hasilnya masuk ke rekening pribadi yang dilindungi.

Sebagian lagi ke yayasan baru.

Namanya:

Yayasan Lestari Prameswari.

Tujuannya sederhana.

Mendanai perempuan dari keluarga berpenghasilan rendah yang ingin membangun usaha teknologi.

Aku tidak melakukannya untuk terlihat mulia.

Aku melakukannya karena tiba-tiba aku sadar sesuatu.

Ibuku pernah memiliki ide yang hampir dihancurkan oleh konflik orang dewasa.

Aku tidak ingin perempuan lain kehilangan masa depan karena orang lain merasa berhak mengambilnya.

Saat aku menandatangani halaman terakhir, tanganku tidak gemetar.

Bram mengulurkan tangan.

“Selamat, Nadira.”

Nilai akhirnya sedikit berubah setelah restrukturisasi.

Rp786 miliar.

Aneh.

Beberapa jam sebelumnya aku datang ke gedung itu berpikir hidupku akan berubah karena jumlah uang tersebut.

Ketika keluar, uang justru terasa seperti bagian paling kecil dari semuanya.

Arga dirawat selama dua hari.

Hasil pemeriksaan menunjukkan zat di dalam kopi bukan sesuatu yang dimaksudkan untuk membunuh.

Itu obat penenang dosis tinggi yang bisa menyebabkan kebingungan, kantuk berat, dan gangguan koordinasi.

Cukup untuk membuat seseorang tampak tidak stabil.

Cukup untuk membuatku menandatangani dokumen tanpa membaca detail.

Dan jika aku kemudian mempertanyakan apa yang terjadi…

mereka bisa berkata aku sedang stres.

Kelelahan.

Tidak fokus.

Rencana itu sederhana.

Kejam.

Dan hampir berhasil.

Polisi membuka penyelidikan.

Rekaman CCTV.

Dokumen palsu.

Akses ilegal ke server.

Semuanya mengarah pada Ratna dan Arga.

Ratna menyangkal.

Arga awalnya juga menyangkal.

Sampai kemudian ia meminta bertemu denganku.

Aku menolak tiga kali.

Pada permintaan keempat, aku setuju.

Kami bertemu di ruang konsultasi sebuah kantor hukum.

Bukan rumah.

Bukan kafe.

Tidak ada tempat yang menyimpan kenangan.

Arga terlihat berbeda.

Lebih kurus.

Lebih tua.

Ia duduk di depanku.

“Nadira…”

Aku mengangkat tangan.

“Jangan panggil aku seperti dulu.”

Ia menelan ludah.

Lalu berkata,

“Aku memang salah.”

Aku menatapnya.

“Salah?”

Ia menunduk.

“Aku tidak tahu ibu akan sejauh itu.”

Aku hampir tersenyum.

“Jangan bohong untuk terakhir kalinya.”

Aku meletakkan transkrip rekaman di meja.

Ia membacanya.

Wajahnya runtuh.

Aku bertanya satu hal yang selama berminggu-minggu menghantuiku.

“Pernahkah kamu benar-benar mencintaiku?”

Arga diam.

Lama.

Aku kira aku sudah siap mendengar apa pun.

Ternyata tidak.

Akhirnya ia berkata,

“Ya.”

Air matanya jatuh.

“Aku mulai mendekatimu karena ibu.”

Dadaku seperti ditusuk.

“Tapi setelah menikah… semuanya berubah.”

Aku menatapnya.

“Tidak cukup berubah untuk menghentikanmu.”

Ia menangis.

“Aku pikir kita cuma akan mengambil sebagian.”

Kalimat itu justru membuat segalanya menjadi jelas.

Sebagian.

Seolah hidupku bisa dibagi seperti properti.

Seolah mencuri sedikit tidak termasuk pengkhianatan.

Aku berdiri.

Arga ikut berdiri.

“Tolong.”

Aku menatap pria yang pernah kupikir akan menua bersamaku.

“Apa?”

“Jangan hancurkan hidupku.”

Aku diam sebentar.

Kemudian menjawab,

“Arga, aku tidak menghancurkan hidupmu.”

Aku menunjuk berkas di atas meja.

“Kamu membangunnya seperti ini sendiri.”

Aku berjalan pergi.

Perceraian selesai enam bulan kemudian.

Aku tidak mengambil rumah di Pondok Indah.

Aku menjualnya.

Aku bahkan tidak menginginkan ruang yang terus mengingatkanku pada kopi pagi itu.

Ratna akhirnya menerima hukuman atas pemalsuan dokumen, percobaan penguasaan aset secara ilegal, dan keterlibatannya dalam pemberian zat tanpa persetujuan.

Arga membuat kesepakatan hukum dan memberikan kesaksian terhadap ibunya.

Ia tetap menerima konsekuensi.

Tidak seberat Ratna.

Namun cukup untuk menghancurkan reputasi bisnis yang selama ini ia banggakan.

Aku pikir cerita kami berakhir di sana.

Ternyata tidak.

Setahun setelah rapat itu, aku berdiri di depan sebuah gedung kecil di Yogyakarta.

Di atas pintunya ada papan sederhana.

Lestari Technology Fellowship.

Program pertama yayasanku.

Dua puluh perempuan muda duduk di dalam.

Ada yang berasal dari desa.

Ada yang pernah putus kuliah.

Ada ibu tunggal.

Ada anak pedagang pasar.

Mereka membawa laptop.

Ide.

Ketakutan.

Harapan.

Aku melihat mereka dan tiba-tiba teringat diriku sendiri.

Lalu seseorang berdiri di sampingku.

Hendra.

Pamanku.

Hubungan kami tidak langsung menjadi hangat.

Tidak ada keajaiban yang bisa mengganti puluhan tahun kehilangan.

Kami belajar pelan-pelan.

Makan bersama.

Bercerita.

Berdebat.

Mengenal siapa ibuku ketika ia masih muda.

Suatu hari Hendra memberiku sebuah kotak kayu.

“Ini milik ibumu.”

Di dalamnya terdapat buku catatan tua.

Halaman-halamannya penuh sketsa algoritma, diagram logistik, dan catatan bisnis.

Di halaman terakhir ada satu tulisan tangan.

Aku langsung mengenali gaya hurufnya.

Kalau suatu hari aku punya anak perempuan, aku ingin dia tumbuh tanpa merasa harus meminta izin untuk menjadi besar.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Lalu menangis.

Bukan karena Arga.

Bukan karena Ratna.

Untuk pertama kalinya, aku menangis untuk ibuku.

Untuk perempuan yang ternyata pernah bermimpi hampir sama denganku.

Hendra memelukku.

Dan aku membiarkannya.

Beberapa bulan kemudian, peserta pertama program fellowship kami meluncurkan aplikasi distribusi bahan pangan untuk pasar tradisional.

Namanya Sari.

Usianya dua puluh empat.

Ayahnya tukang ojek.

Ibunya penjual nasi uduk.

Pada hari peluncuran, Sari menyerahkan secangkir kopi kepadaku.

Aku membeku sepersekian detik.

Ia menyadarinya.

“Bu Nadira?”

Aku tersenyum.

Kemudian menerima cangkir itu.

Aromanya sederhana.

Kopi tubruk.

Sedikit gula.

Tidak ada apa-apa yang disembunyikan.

Aku menyesapnya.

Hangat.

Normal.

Aman.

Dan tiba-tiba aku memahami sesuatu.

Selama setahun terakhir, aku kira kemenangan terbesarku adalah menyelamatkan Rp786 miliar.

Bukan.

Kemenangan terbesarku adalah bahwa setelah seseorang mencoba menggunakan kepercayaanku sebagai senjata…

aku masih mampu percaya lagi.

Bukan pada semua orang.

Bukan secara buta.

Tetapi dengan mata terbuka.

Aku menatap ruangan penuh perempuan muda yang sedang mempresentasikan ide mereka.

Di dinding belakang tergantung foto ibuku.

Di bawahnya tertulis satu kalimat dari buku catatannya:

Jangan meminta izin untuk menjadi besar.

Aku tersenyum.

Ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kusimpan.

Aku membukanya.

Hanya ada satu kalimat.

Aku akhirnya mengerti kenapa kamu tidak pernah membalas dendam. Karena hidup yang kamu bangun tanpa kami jauh lebih menyakitkan untuk dilihat. — Arga

Aku membaca pesan itu sekali.

Lalu menghapusnya.

Tidak membalas.

Di depan ruangan, Sari memanggil namaku.

“Bu Nadira, kami siap mulai.”

Aku memasukkan ponsel ke tas.

Lalu berjalan menuju panggung.

Di meja sebelah kanan ada secangkir kopi baru.

Aku mengambilnya sendiri.

Kali ini tidak ada yang memilih cangkir untukku.

Tidak ada yang menyuruhku minum.

Tidak ada yang memberitahuku dokumen mana yang harus kutandatangani.

Aku berdiri di depan dua puluh perempuan muda dan berkata,

“Baik. Mari kita mulai.”

Dan pada saat itu aku sadar—

hari ketika aku menukar dua cangkir kopi bukanlah hari aku kehilangan suami.

Itu adalah hari aku mendapatkan kembali hidupku.