Suamiku Menghamili Adikku, Lalu Keluargaku Memaksaku Memberikan Apartemen—Mereka Tak Tahu Aku Sudah Menyiapkan Bukti

Avatar penulis
Cerita 04
6 menit baca 2,645 tayangan
Suamiku Menghamili Adikku, Lalu Keluargaku Memaksaku Memberikan Apartemen—Mereka Tak Tahu Aku Sudah Menyiapkan Bukti
Indeks

Suamiku Menghamili Adikku, Lalu Keluargaku Memaksaku Memberikan Apartemen—Mereka Tak Tahu Aku Sudah Menyiapkan Bukti

Aku datang membawa hadiah untuk bayi yang baru lahir ketika tanpa sengaja aku mendengar suamiku berkata kepada adikku:

“Suamimu yang akan membayar semua tagihannya. Tapi anak kita akan memakai nama belakangku.”

Aku berdiri membeku di balik pintu kamar VIP rumah sakit itu.

Beberapa detik kemudian, aku melihat suamiku, Arga, mengecup kening adikku, Nadia, dengan lembut.

Aku tidak masuk.

Aku tidak berteriak.

Aku bahkan tidak menjatuhkan hadiah yang kubawa.

Aku hanya mundur perlahan sebelum mereka menyadari keberadaanku.

Suamiku Menghamili Adikku, Lalu Keluargaku Memaksaku Memberikan Apartemen—Mereka Tak Tahu Aku Sudah Menyiapkan Bukti

Ketika Mama kemudian menelepon dan meminta tambahan Rp150 juta untuk membayar kamar VIP dan berbagai kebutuhan mewah Nadia—sama sekali tidak menyadari pengkhianatan anak kesayangannya—aku menjawab dengan sangat tenang:

“Tentu, Ma.”

Mama tidak tahu bahwa saat itu aku sudah menyiapkan sesuatu yang akan menghancurkan seluruh kebohongan mereka.

Karena kalimat yang kudengar di rumah sakit bukan sekadar perselingkuhan.

“Anak kita akan memakai nama belakangku. Dan kakakmu yang akan membayar semuanya—tanpa pernah tahu bahwa uangnya sedang membangun kehidupan baru untuk kita.”

Itulah kata-kata persis yang dibisikkan Arga kepada Nadia sambil mengusap kepala bayi di kamar VIP sebuah rumah sakit swasta di Jakarta Selatan.

Suamiku.

Adik kandungku.

Dan bayi yang selama ini semua orang katakan sebagai anak dari suami Nadia.

Duniaku seperti runtuh saat itu.

Namun ternyata, pengkhianatan paling kejam belum terjadi.

Empat hari kemudian, keluargaku mengadakan makan siang di rumah orang tuaku di Pondok Indah.

Papa, Mama, Nadia, dan Arga sudah duduk menungguku.

Aku baru menyadari bahwa itu bukan makan siang keluarga ketika Mama mengeluarkan sebuah map cokelat dan mendorongnya ke arahku.

“Larissa, tanda tangan saja.”

Namaku Larissa Pratama.

Dan dokumen di dalam map itu meminta agar aku menyerahkan kepemilikan apartemenku di kawasan Kuningan kepada Nadia sebagai “hadiah keluarga” untuk kelahiran anak pertamanya.

Apartemen itu kubeli jauh sebelum menikah dengan Arga.

Aku membacanya sampai selesai, lalu mengembalikan map tersebut.

“Tidak.”

Wajah Mama langsung berubah.

“Kamu ini kenapa begitu egois?”

Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.

Mama semakin marah.

“Kamu cuma iri karena adikmu sudah punya anak sementara kamu belum punya siapa-siapa. Untuk apa punya banyak aset kalau nanti tidak ada anak yang mewarisinya?”

Ruangan mendadak sunyi.

Nadia menundukkan wajah.

Bukan karena malu.

Sekarang aku tahu dia sedang berusaha menyembunyikan ekspresinya.

Kemudian Arga—lelaki yang beberapa hari sebelumnya kudengar merencanakan masa depan bersama adikku—meletakkan tangannya di bahuku.

“Jangan bikin keributan, Larissa. Itu cuma apartemen. Tanda tangan saja.”

Aku menepis tangannya.

Yang tidak mereka ketahui adalah aku sudah menemukan sesuatu pagi itu.

Dalam beberapa bulan terakhir, sekitar Rp2,4 miliar telah keluar dari rekening bersama kami.

Arga selalu mengatakan uang itu dipindahkan untuk investasi.

Ternyata bukan.

Uang tersebut digunakan untuk membiayai kehidupan rahasianya bersama Nadia.

Kamar VIP.

Belanja.

Perawatan kecantikan.

Perlengkapan bayi.

Dan beberapa transaksi lain yang saat itu belum bisa kujelaskan.

Aku berdiri.

“Aku tidak akan memberikan apartemenku.”

Mama memukul meja.

“Kalau kamu keluar dari rumah ini tanpa tanda tangan, jangan harap keluarga ini akan membelamu lagi!”

Aku hanya mengambil tas.

“Baik.”

Lalu aku pergi.

Namun ketika sampai di halaman depan, aku hampir bertabrakan dengan seseorang.

Dimas, suami Nadia.

Matanya cekung.

Seragam medisnya kusut.

Dia bekerja sebagai tenaga medis dan selama beberapa minggu terakhir mengambil shift tambahan untuk membayar semua kebutuhan istrinya.

Dimas tampak seperti seseorang yang sudah sebulan tidak tidur dengan benar.

“Larissa.”

Dia melihat ke arah rumah, memastikan tidak ada yang mengikuti.

Kemudian dia mengeluarkan setumpuk kertas kusut dari tasnya.

“Aku perlu bicara sama kamu.”

“Ada apa?”

Dia menyerahkan dokumen itu.

“Ada yang aneh dengan tagihan rumah sakit Nadia.”

Tangannya gemetar.

“Aku bahkan sudah menjual motor untuk membayar sebagian utangnya. Tapi angkanya tidak masuk akal.”

Aku mulai membaca.

Dan darahku terasa dingin.

Itu bukan sekadar tagihan persalinan.

Beberapa kode transaksi yang disamarkan sebagai biaya medis ternyata mengarah pada perawatan kecantikan premium, prosedur pelangsingan, pembelian barang bermerek, serta sejumlah pembayaran yang sama sekali tidak berhubungan dengan kelahiran bayi.

Lebih buruk lagi, sebagian pembayaran berasal dari rekening yang kukenal.

Rekening milikku dan Arga.

Aku mengangkat kepala.

Dimas menatapku.

“Kamu tahu sesuatu, kan?”

Untuk beberapa detik aku ingin mengatakan semuanya.

Bahwa istrinya berselingkuh dengan suamiku.

Bahwa bayi yang selama ini dia kira anaknya mungkin bukan anaknya.

Bahwa dia bekerja sampai kelelahan sementara dua orang yang paling dia percaya sedang menggunakan uang kami untuk membangun kehidupan mereka sendiri.

Tapi aku menahan diri.

Belum.

Karena jika aku membongkar semuanya saat itu, Arga dan Nadia masih punya kesempatan menghapus jejak.

Jadi aku hanya berkata:

“Dimas, jangan bayar tagihan apa pun lagi.”

Dia mengernyit.

“Kenapa?”

“Simpan semua dokumen ini. Jangan bilang kepada Nadia bahwa kamu memberikannya kepadaku.”

“Larissa…”

“Percaya padaku.”

Aku mengambil foto setiap halaman.

Kemudian aku pulang dan mulai bekerja.

Aku memisahkan rekening pribadiku.

Mengumpulkan mutasi bank.

Menyimpan salinan bukti transfer.

Menghubungi pengacara.

Memeriksa dokumen kepemilikan apartemenku.

Dan untuk pertama kalinya, aku mulai menyusun seluruh aliran uang yang selama ini disembunyikan Arga dariku.

Tiga minggu kemudian, Papa dan Mama mengadakan pesta besar bertajuk “Welcome Baby” di sebuah ballroom hotel mewah di Jakarta.

Mereka mengundang keluarga besar, teman-teman bisnis, kolega, dan hampir semua orang yang mereka anggap penting.

Mama menghabiskan ratusan juta rupiah karena ingin memperkenalkan cucu kesayangannya dengan sempurna.

Nadia mengira malam itu akan menjadi malam paling bahagia dalam hidupnya.

Arga bahkan membeli setelan baru.

Dimas masih belum mengetahui seluruh kebenaran.

Dan keluargaku mengira aku akhirnya menyerah.

Mama menelepon sehari sebelum acara.

“Jangan bikin masalah besok. Datang, tersenyum, dan bawa dokumen apartemennya. Kita selesaikan semuanya setelah pesta.”

Aku tersenyum sambil melihat map tebal di meja kerjaku.

Di dalamnya bukan dokumen penyerahan apartemen.

Ada laporan transaksi.

Salinan bukti pembayaran.

Dokumen kepemilikan.

Catatan dari pengacara.

Dan satu bukti terakhir yang baru kuterima pagi itu.

Bukti yang bisa membuat Dimas mempertanyakan siapa sebenarnya ayah bayi tersebut.

“Tentu, Ma,” jawabku.

Mama terdengar lega.

Dia mengira aku akhirnya patuh.

Yang tidak dia ketahui adalah aku memang akan membawa sebuah “hadiah” ke pesta itu.

Hanya saja hadiah tersebut bukan untuk Nadia.

Itu adalah kebenaran.

Dan ketika pintu ballroom dibuka malam berikutnya, aku masuk sambil membawa map itu di tangan.

Nadia tersenyum lebar melihatku.

Arga langsung pucat.

Karena dia mengenali map tersebut.

Lalu pengacara yang berjalan beberapa langkah di belakangku masuk ke ruangan.

Senyum Arga menghilang sepenuhnya.

Aku menatapnya dan berkata pelan:

“Tenang saja. Aku datang untuk memberikan hadiah keluarga.”

Dia belum tahu bahwa dalam beberapa menit berikutnya, semua orang di ruangan itu akan mengetahui siapa yang sebenarnya membayar kehidupan rahasianya bersama Nadia.

Dan itu baru permulaan.