Suamiku Menghilang dalam Kebakaran Gudang—Namun 6 Jam Kemudian, Aku Menerima Tagihan Hotel Atas Namanya

Avatar penulis
Cerita 05
17 menit baca 424 tayangan
Indeks

Suamiku Menghilang dalam Kebakaran Gudang—Namun 6 Jam Kemudian, Aku Menerima Tagihan Hotel Atas Namanya

Telepon yang mengabarkan bahwa suamiku menghilang datang saat aku sedang berbaring di sebuah pusat perawatan tubuh.

Yang menelepon adalah ibu mertuaku.

Suaranya gemetar hebat sampai hampir tidak terdengar jelas.

—Alya, gudang terbakar! Mereka menemukan mobil Faris di dalam area itu, tapi Faris tidak ditemukan! Cepat ke sini!

Aku langsung bangkit.

Namun tepat ketika hendak turun dari ranjang perawatan, layar ponselku menyala.

Sebuah notifikasi pembayaran muncul.

“Transaksi berhasil: Rp18.750.000.”

Aku menatap layar tanpa berkedip.

Suamiku Menghilang dalam Kebakaran Gudang—Namun 6 Jam Kemudian, Aku Menerima Tagihan Hotel Atas Namanya

Kartu yang digunakan adalah kartu tambahan atas nama Faris.

Lokasi transaksi adalah sebuah hotel resor yang berjarak lebih dari tiga jam dari kota.

Waktu transaksi: dua menit yang lalu.

Tanganku langsung terasa dingin.

Kalau Faris benar-benar terjebak dalam kebakaran, lalu siapa yang baru saja menggunakan kartunya?

Aku tidak menelepon ibu mertuaku kembali.

Aku mengenakan pakaian, meninggalkan pusat perawatan, lalu masuk ke mobil.

Namun tujuan pertamaku bukan lokasi kebakaran.

Aku pergi ke bank.

Aku dan Faris sudah menikah selama enam tahun.

Tiga tahun pertama, hidup kami cukup sulit. Setelah ayahku meninggal, aku mewarisi sebuah usaha kecil pengolahan makanan sekaligus sejumlah tabungan.

Faris mengusulkan agar uang itu digunakan untuk memperbesar bisnis.

Aku setuju.

Dari sebuah usaha kecil, kami berkembang menjadi perusahaan pemasok makanan kemasan untuk berbagai toko.

Di mata orang lain, Faris adalah suami ideal.

Dia selalu berkata:

—Kalau tidak ada Alya, aku tidak akan bisa sampai seperti sekarang.

Dulu aku percaya kalimat itu.

Sampai sebulan yang lalu.

Kepala bagian akuntansi tiba-tiba mengundurkan diri.

Sebelum pergi, dia mengirimiku pesan yang sangat aneh.

“Mbak Alya, kalau suatu hari Pak Faris meminta Mbak menandatangani dokumen yang berkaitan dengan gudang, tolong baca semuanya dengan sangat teliti.”

Aku mencoba meneleponnya, tetapi dia tidak menjawab.

Setelah itu, Faris menjelaskan bahwa perempuan itu ketahuan membuat kesalahan dalam laporan keuangan sehingga memilih pergi karena malu.

Aku tidak bertanya lebih lanjut.

Namun tiga hari lalu, Faris benar-benar membawa pulang setumpuk dokumen.

Dia bilang perusahaan perlu mengubah beberapa ketentuan asuransi gudang.

Aku hampir menandatanganinya.

Untungnya, putri kami yang berusia lima tahun tiba-tiba demam tinggi sehingga aku harus membawanya ke dokter.

Dokumen itu masih tersimpan di dalam laci.

Sesampainya di bank, aku meminta pemeriksaan seluruh transaksi selama tiga bulan terakhir.

Petugas awalnya menolak karena sebagian rekening berkaitan dengan perusahaan.

Aku meletakkan dokumen kepemilikan saham di atas meja.

Aku memegang 62 persen saham perusahaan.

Lima belas menit kemudian, seluruh angka transaksi muncul.

Aku membacanya dari baris pertama sampai terakhir.

Tubuhku langsung terasa dingin.

Dalam enam minggu, Faris telah memindahkan lebih dari Rp4,2 miliar ke tiga perusahaan pemasok yang sama sekali tidak kukenal.

Anehnya, ketiga perusahaan itu baru didirikan.

Alamat terdaftarnya sama.

Aku langsung menelepon pengacara.

Setelah memeriksanya, dia berkata:

—Ketiga perusahaan ini memiliki perwakilan yang sama.

—Siapa?

Dia terdiam beberapa detik.

—Nadia Prameswari.

Hampir saja ponselku terlepas dari tangan.

Nadia adalah sepupu Faris.

Setidaknya, itulah yang dikatakan Faris kepadaku selama enam tahun.

Perempuan itu sering datang ke acara keluarga, memanggil ibu mertuaku dengan sebutan bibi, dan memanggil Faris kakak.

Dua tahun lalu, ketika Nadia bercerai, bahkan aku yang meminjaminya uang untuk menyewa apartemen.

Namun pengacara itu melanjutkan:

—Saya sudah memeriksa catatan keluarganya. Mereka tidak memiliki hubungan darah.

Aku duduk membeku.

Pada saat itu, ibu mertuaku kembali menelepon.

Kali ini aku mengangkatnya.

Dia menangis terisak-isak.

—Kamu di mana? Orang-orang bilang kemungkinan Faris masih hidup sangat kecil! Kamu harus datang ke sini!

Aku menatap salinan transaksi hotel.

—Ibu melihat Faris berada di dalam gudang?

Di ujung sana, suara tiba-tiba berhenti.

Hanya satu detik.

Namun cukup lama bagiku untuk menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

—Ibu… ibu tidak melihatnya. Tapi mobilnya ada di sana.

—Kalau begitu, kenapa Ibu tahu dia ada di gudang?

Dia langsung meninggikan suara.

—Satpam yang bilang!

—Satpam yang mana?

Tidak ada jawaban.

Aku menutup telepon.

Setelah itu, aku meminta bank membekukan seluruh batas transaksi yang masih bisa kukendalikan dan menangguhkan hak persetujuan Faris atas transaksi perusahaan.

Kurang dari sepuluh menit kemudian, ponselku menerima enam notifikasi transaksi gagal secara beruntun.

Hotel.

Toko perhiasan.

Dealer mobil.

Lalu sebuah toko koper mahal.

Aku tertawa pelan.

Seorang pria yang katanya sedang hilang dalam kebakaran ternyata masih sempat berbelanja koper.

Aku menghubungi seorang kenalan yang bekerja dalam investigasi bisnis dan mengirimkan alamat hotel.

—Aku perlu tahu Faris bersama siapa.

Empat puluh menit kemudian, dia mengirim sebuah foto.

Di dalam foto itu, Faris mengenakan topi dan kacamata sambil menarik dua koper menuju lift hotel.

Di sampingnya ada Nadia.

Namun bukan mereka berdua yang membuatku terpaku.

Melainkan seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun yang sedang digendong Faris.

Anak itu melingkarkan tangannya di leher Faris dengan sangat alami.

Pesan berikutnya masuk.

“Saya sudah tanya staf resepsionis. Mereka mendaftar kamar keluarga. Anak itu memanggil Faris ‘Papa’.”

Aku menatap layar sangat lama.

Setelah itu, aku pulang ke rumah.

Setumpuk dokumen yang sebelumnya diminta Faris untuk kutandatangani masih berada di dalam laci.

Kali ini aku membaca setiap halaman.

Halaman pertama berisi perubahan ketentuan asuransi gudang.

Halaman kedua merupakan surat kuasa keuangan.

Halaman ketiga membuat tanganku berhenti.

Jika salah satu pasangan mengalami keadaan yang membuatnya tidak mampu mengelola aset, pasangan lainnya mendapat hak penuh untuk mengurus kepemilikan saham.

Namun di bagian bawah terdapat lampiran tambahan.

Nama wali cadangan untuk putriku telah diganti.

Dari kakak perempuanku menjadi Nadia.

Aku langsung meminta pengacaraku datang.

Kami memeriksa seluruh dokumen.

Dia membalik sampai halaman terakhir lalu mengernyit.

—Alya, ini bukan sekadar penipuan asuransi.

Dia meletakkan polis asuransi gudang di depanku.

Nilai pertanggungannya mencapai Rp28 miliar.

Penerima dana adalah perusahaan.

Namun rekening tujuan pembayaran klaim telah diganti lima hari lalu.

Aku bertanya:

—Rekening siapa?

Dia menatapku.

—Salah satu perusahaan atas nama Nadia.

Semuanya langsung menjadi jelas.

Mereka menciptakan kebakaran.

Faris pura-pura menghilang.

Perusahaan menerima uang asuransi lalu memindahkannya ke perusahaan milik Nadia.

Setelah itu, mereka bisa menghilang.

Namun aku masih tidak memahami satu hal.

Kenapa mereka membutuhkan hak perwalian atas putriku?

Malam itu, aku diam-diam pergi ke hotel.

Aku tidak masuk.

Aku duduk di dalam mobil di area parkir seberang.

Hampir pukul sebelas malam, Nadia muncul.

Dia sendirian.

Aku mengikutinya.

Nadia tidak kembali ke kota.

Dia mengendarai mobil menuju sebuah rumah sewaan di kawasan permukiman yang sepi.

Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil lain tiba.

Orang yang turun langsung kukenal.

Ibu mertuaku.

Dia melihat ke sekeliling lalu buru-buru masuk ke dalam rumah.

Aku turun dari mobil dan mendekati jendela samping.

Dari dalam, suara Nadia terdengar.

—Kenapa semua rekening diblokir?

Ibu mertuaku menjawab:

—Mungkin Alya sudah curiga.

Suara seorang pria segera menyela.

Faris.

—Tidak mungkin. Dia tidak tahu apa-apa.

Aku menggenggam erat ponsel yang sedang merekam.

Kemudian Nadia mengucapkan sesuatu yang membuat darahku serasa membeku.

—Kalau dia tidak menandatangani surat itu bagaimana? Rencana membawa anak itu bersama kita akan gagal.

Faris diam beberapa saat.

Lalu dia tertawa.

—Sekarang kita tidak butuh tanda tangannya lagi.

—Apa maksudmu?

—Besok Alya akan datang ke gudang.

—Kamu yakin?

—Ibu akan menelepon dan bilang mereka menemukan barang milikku di lokasi. Alya pasti datang.

Aku berdiri membeku di luar jendela.

Suara Faris terdengar lebih rendah.

—Begitu dia masuk ke area gudang lama, sisanya sudah ada orang yang mengurus.

Ibu mertuaku bertanya:

—Lalu anak itu bagaimana?

Faris menjawab dengan sangat tenang:

—Setelah Alya tidak lagi mampu merawatnya, hak perwalian akan jatuh kepada Nadia. Setelah itu kita bawa dia ke luar negeri.

Nadia tertawa.

—Pada akhirnya, semua harta keluarga Alya akan menjadi milik anak itu. Kita hanya perlu mengendalikan walinya.

Aku mengira itulah seluruh rencana mereka.

Namun kemudian Faris berkata:

—Tidak. Putri Alya bukan target terakhir.

Ruangan itu tiba-tiba sunyi.

Nadia bertanya:

—Lalu apa lagi?

Faris menarik sebuah kotak logam dari bawah meja.

Dia membuka kuncinya.

Dari posisiku, aku bisa melihat puluhan berkas di dalamnya.

Di paling atas terdapat sebuah amplop cokelat.

Nama ayahku tertulis di sana.

Faris mengambil selembar dokumen dan meletakkannya di atas meja.

—Yang sebenarnya kita butuhkan ada di sini. Sebelum meninggal, orang tua itu meninggalkan aset yang bahkan Alya sendiri tidak tahu.

Aku menahan napas.

Ibu mertuaku mengambil dokumen itu.

Hanya beberapa detik kemudian, ekspresinya langsung berubah.

—Jumlah uang ini… benar?

Faris tersenyum.

—Bukan cuma uang.

Dia membalik ke halaman terakhir.

—Kalau kita bisa mengambil ini sebelum Alya mengetahuinya, perusahaan kita yang sekarang tidak ada nilainya dibandingkan dengan ini.

Tepat saat itu, ponsel di dalam sakuku tiba-tiba bergetar.

Ketiga orang di dalam rumah langsung terdiam.

Faris menoleh tajam ke arah jendela.

—Siapa di luar sana?

BAGIAN 2

—Siapa di luar sana?

Suara Faris membuat jantungku berdegup keras.

Aku segera mematikan layar ponsel dan mundur dari jendela. Namun tumitku menginjak pot bunga kecil di belakangku.

Krek.

Suara itu terdengar jelas di tengah malam.

—Ada orang! seru Nadia.

Kursi bergeser dari dalam rumah.

Aku tidak menunggu lagi.

Aku berbalik dan berlari menuju mobil.

Pintu depan rumah terbuka.

—Berhenti!

Itu suara Faris.

Aku masuk ke mobil, mengunci pintu, lalu menyalakan mesin. Dari kaca spion, kulihat Faris berlari keluar bersama Nadia.

Sorot lampu jalan mengenai wajah suamiku.

Pria yang menurut semua orang sedang hilang dalam kebakaran itu berdiri hidup-hidup hanya beberapa meter dariku.

Untuk sesaat, mata kami bertemu.

Ekspresi Faris berubah.

Dia mengenaliku.

—Alya!

Aku langsung menginjak pedal gas.

Mobil melesat meninggalkan kawasan itu.

Tanganku gemetar, tapi aku memaksa diri tetap fokus.

Aku tidak pulang.

Aku langsung pergi ke rumah kakakku dan membawa putriku pergi dari sana sebelum fajar.

Setelah memastikan anakku aman, aku mengirim semua rekaman kepada pengacaraku.

Foto Faris di hotel.

Transaksi rekening.

Dokumen asuransi.

Rekaman percakapan di rumah sewaan.

Termasuk pembicaraan tentang rencana membawaku ke gudang.

Pengacaraku membaca semuanya tanpa berkata apa-apa selama beberapa menit.

Kemudian dia menatapku.

—Mulai sekarang, jangan temui mereka sendirian.

Aku mengangguk.

—Saya juga ingin tahu apa yang ada di dalam amplop milik ayah saya.

Pagi itu kami mulai mencari.

Ternyata setelah ayahku meninggal, ada satu bagian warisan yang belum pernah diberitahukan kepadaku.

Bukan karena ayah sengaja menyembunyikannya.

Dokumen itu dititipkan kepada seorang notaris lama dengan syarat baru boleh diserahkan kepadaku jika aku masih memegang kendali atas perusahaan keluarga setelah usia tiga puluh lima tahun.

Ulang tahunku yang ketiga puluh lima hanya tinggal dua minggu.

Nilai warisan itu bukan sekadar uang.

Ayah memiliki sebidang lahan industri luas, saham di dua perusahaan distribusi, dan rekening investasi yang nilainya telah berkembang berkali-kali lipat.

Semua itu akan menjadi milikku.

Dan jika aku meninggal sebelum dokumen resmi diserahkan, sebagian besar aset akan masuk ke perwalian atas nama putriku.

Kini aku akhirnya memahami alasan Faris begitu ingin menguasai hak perwalian.

Dia bukan hanya ingin uang asuransi.

Dia ingin seluruh peninggalan ayahku.

Menjelang siang, telepon dari ibu mertuaku masuk.

Aku sengaja mengangkatnya.

Dia terdengar panik.

—Alya, polisi menemukan jam tangan Faris di gudang lama. Kamu harus datang untuk mengenalinya.

Persis seperti rencana mereka.

Aku menarik napas.

—Baik. Aku akan datang.

Pengacaraku menatapku tajam.

Aku mematikan panggilan lalu berkata:

—Kalau mereka ingin saya datang, saya akan datang.

Tentu saja aku tidak pergi sendiri.

Sebelum berangkat, kami menyerahkan bukti kepada pihak berwenang dan penyidik asuransi. Mereka meminta agar aku tetap berperilaku seperti belum mengetahui semuanya.

Saat sore tiba, aku sampai di gudang lama.

Bangunannya sebagian hangus.

Ibu mertuaku sudah menunggu di luar.

Begitu melihatku, dia langsung memelukku.

—Kasihan sekali kamu, Alya.

Aku hampir ingin tertawa.

Perempuan yang tadi malam membahas cara mengambil anakku kini berpura-pura menangis di bahuku.

—Jam tangannya di mana? tanyaku.

—Di dalam.

Dia menunjuk lorong gelap.

—Petugas sedang menunggu.

Aku berjalan masuk.

Namun semakin jauh, semakin aneh suasananya.

Tidak ada petugas.

Tidak ada penyidik.

Hanya bau kayu terbakar dan suara langkahku sendiri.

Kemudian pintu besi di belakangku tertutup.

Aku berbalik.

Faris berdiri di sana.

Nadia muncul dari sisi lain.

Suamiku tersenyum tipis.

—Aku tidak menyangka kamu bisa menemukan kami semalam.

Aku menatapnya.

—Jadi kamu benar-benar masih hidup.

—Sepertinya kamu tidak terlalu sedih.

—Haruskah aku menangis untuk pria yang bersembunyi di hotel bersama perempuan lain dan anaknya?

Wajah Nadia berubah.

Faris menyipitkan mata.

—Kamu sudah tahu tentang anak itu?

—Lebih banyak daripada yang kamu pikirkan.

Faris mendekat.

—Kalau begitu kita tidak perlu berpura-pura lagi.

Dia mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

—Tandatangani ini. Lepaskan jabatanmu di perusahaan dan serahkan hak pengelolaan saham untuk sementara.

Aku melihat dokumen itu.

—Kalau aku menolak?

Nadia tersenyum dingin.

—Kamu berada di gudang yang baru saja terbakar. Siapa yang tahu kalau ada bagian bangunan yang tiba-tiba runtuh?

Aku menatapnya beberapa detik.

Kemudian aku tersenyum.

—Kalian benar-benar percaya aku datang ke sini tanpa persiapan?

Senyum Faris menghilang.

Aku mengeluarkan ponsel dari tas.

Di layar terlihat panggilan yang masih aktif.

Aku berkata perlahan:

—Semua yang kalian katakan sejak aku masuk ke gudang ini sudah didengar.

Dari luar tiba-tiba terdengar beberapa kendaraan berhenti.

Wajah Nadia langsung pucat.

Faris berbalik hendak membuka pintu belakang.

Namun belum sempat dia bergerak, suara keras terdengar dari luar.

—Jangan bergerak!

Pintu gudang dibuka.

Beberapa petugas masuk bersama penyidik.

Ibu mertuaku yang berdiri di luar mencoba melarikan diri, tetapi langsung dihentikan.

Faris menatapku dengan mata merah.

—Kamu menjebakku?

Aku menggeleng.

—Tidak. Aku hanya membiarkanmu menyelesaikan kebohonganmu sendiri.

Untuk pertama kalinya sejak kami menikah, aku melihat Faris benar-benar kehilangan kendali.

Namun saat petugas hendak membawanya pergi, dia tiba-tiba tertawa.

—Alya, kamu pikir ini selesai?

Aku menatapnya.

Faris mendekat sedikit sebelum diborgol.

—Dokumen warisan ayahmu sudah tidak ada pada notaris.

Dadaku langsung menegang.

Dia tersenyum.

—Dan kalau kamu ingin menemukannya, sebaiknya kamu bertanya kepada orang yang paling kamu percaya.

BAGIAN 3

Malam itu aku hampir tidak tidur.

Kalimat Faris terus terngiang di kepalaku.

“Bertanya kepada orang yang paling kamu percaya.”

Awalnya aku mengira itu hanya trik terakhir untuk membuatku curiga kepada semua orang.

Namun keesokan paginya, pengacaraku menelepon.

Nada suaranya serius.

—Alya, ada masalah.

—Apa?

—Kami menghubungi kantor notaris yang menyimpan dokumen ayahmu. Dokumen aslinya memang hilang.

Aku berdiri dari kursi.

—Sejak kapan?

—Tiga minggu lalu seseorang datang membawa surat kuasa.

Jantungku tenggelam.

Tiga minggu lalu.

Jauh sebelum kebakaran.

—Atas nama siapa?

Pengacaraku terdiam sebentar.

—Atas namamu.

Aku langsung mengatakan bahwa aku tidak pernah memberikan surat kuasa kepada siapa pun.

Kami meminta rekaman kamera dari kantor notaris.

Sore harinya aku melihat orang yang datang mengambil dokumen itu.

Bukan Faris.

Bukan Nadia.

Bukan ibu mertuaku.

Melainkan kepala akuntansi lama yang menghilang sebulan sebelumnya.

Perempuan yang pernah memperingatkanku agar tidak menandatangani dokumen Faris.

Aku benar-benar bingung.

Kenapa dia mengambil warisan ayahku?

Kami akhirnya menemukannya di sebuah kota kecil beberapa jam perjalanan dari tempat tinggalku.

Ketika aku datang bersama pengacara, dia tidak melarikan diri.

Sebaliknya, dia menangis begitu melihatku.

—Maafkan saya, Mbak Alya.

Aku menatapnya.

—Di mana dokumen ayah saya?

Dia mengeluarkan sebuah kotak dari lemari.

Di dalamnya terdapat amplop cokelat yang kulihat di rumah sewaan.

Namun ada sesuatu yang tidak sesuai.

—Bagaimana ini bisa ada pada Anda? Saya melihat Faris memegangnya dua malam lalu.

Dia menggeleng.

—Yang dipegang Pak Faris hanya salinan.

Aku terpaku.

Perempuan itu kemudian menceritakan semuanya.

Sebulan sebelumnya, dia menemukan transfer mencurigakan dari perusahaan kepada Nadia. Saat menyelidiki lebih lanjut, dia melihat Faris mencetak surat kuasa palsu atas namaku.

Dia mencoba memperingatkanku.

Namun Faris mengetahui tindakannya.

Dia diancam agar diam.

Karena takut dokumen warisan jatuh ke tangan Faris, dia mendahului mengambilnya dari kantor notaris menggunakan surat kuasa palsu yang sudah dibuat Faris sendiri.

—Saya tahu tindakan saya salah, katanya. —Tapi kalau dokumen ini tetap di sana, Pak Faris akan mengambilnya.

—Kenapa Anda tidak langsung memberikannya kepada saya?

Dia menunduk.

—Karena saya tidak tahu apakah Mbak masih mempercayainya. Kalau saya datang tanpa bukti, saya takut Mbak justru memberitahu Pak Faris.

Aku tidak bisa menyalahkannya.

Aku memang pernah mempercayai Faris tanpa syarat.

Setelah seluruh dokumen asli berhasil diamankan, kasus Faris berkembang jauh lebih besar.

Penyelidikan menemukan bahwa kebakaran gudang sengaja dirancang untuk mendapatkan uang asuransi.

Tidak ada korban jiwa.

Mobil Faris sengaja ditinggalkan di lokasi agar semua orang percaya dia berada di dalam bangunan.

Faris dan Nadia berencana menggunakan identitas baru setelah menerima uang.

Mereka bahkan sudah membayar uang muka sebuah rumah di luar negeri.

Sementara anak laki-laki yang bersama mereka ternyata benar-benar anak biologis Faris dan Nadia.

Hubungan keduanya sudah berlangsung sejak sebelum aku menikah dengan Faris.

Ibu mertuaku mengetahui semuanya.

Bahkan selama bertahun-tahun dia membantu menutupi keberadaan anak itu.

Saat penyidik memperlihatkan bukti percakapan, transfer, dan dokumen palsu, Faris akhirnya tidak bisa menyangkal lagi.

Namun dia masih mencoba satu hal terakhir.

Dia meminta bertemu denganku.

Aku sempat menolak.

Lalu kupikir mungkin aku memang perlu melihatnya sekali lagi.

Bukan sebagai istrinya.

Tapi sebagai seseorang yang akhirnya bebas darinya.

Kami bertemu di ruang khusus dengan petugas berjaga di luar.

Faris terlihat jauh berbeda.

Tidak ada jas mahal.

Tidak ada senyum percaya diri.

Dia menatapku lama.

—Alya, aku tahu kamu membenciku.

Aku diam.

—Tapi enam tahun kita menikah bukan semuanya palsu.

Aku hampir tertawa.

—Bagian mana yang nyata?

Dia menunduk.

—Aku pernah menyayangimu.

—Sambil setiap bulan mengirim uang kepada Nadia?

Dia tidak menjawab.

—Sambil membesarkan anak dengannya?

Masih diam.

Aku melanjutkan:

—Sambil merencanakan mengambil perusahaanku, warisan ayahku, dan hak perwalian putriku?

Faris akhirnya berkata:

—Aku hanya ingin memastikan anakku juga punya masa depan.

Aku menatapnya lurus.

—Dengan menghancurkan masa depan anakku?

Dia membeku.

Saat itulah aku benar-benar memahami sesuatu.

Faris tidak pernah mencintaiku.

Dia hanya mencintai apa yang bisa kudapatkan untuknya.

Aku berdiri.

—Mulai hari ini, jangan pernah menyebut dirimu ayah di depan putriku lagi.

Faris panik.

—Alya!

Aku berhenti di pintu.

Dia berkata cepat:

—Kalau kamu menceraikanku, reputasi perusahaan bisa hancur. Publik akan tahu semuanya.

Aku menoleh.

—Mereka memang akan tahu.

Wajahnya berubah.

Aku melanjutkan:

—Tapi mereka juga akan tahu siapa yang membakar gudang, siapa yang memalsukan dokumen, dan siapa yang berusaha mencuri uang perusahaan.

Untuk pertama kalinya, dia tidak punya jawaban.

Perceraian selesai beberapa bulan kemudian.

Dengan bukti penggelapan dan penipuan yang lengkap, sebagian besar aset yang pernah Faris pindahkan berhasil dilacak dan dikembalikan.

Tiga perusahaan atas nama Nadia dibekukan.

Klaim asuransi kebakaran dibatalkan.

Faris, Nadia, dan beberapa orang yang membantu mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai proses hukum.

Ibu mertuaku juga tidak lagi bisa mendekati putriku tanpa izin.

Sedangkan kepala akuntansi lama bersedia menjadi saksi dan mengembalikan seluruh dokumen asli. Aku tidak melupakan keberaniannya.

Setelah kasus selesai, aku memintanya kembali bekerja.

Kali ini sebagai kepala pengawasan internal.

Dia menatapku tidak percaya.

—Mbak masih mau mempercayai saya?

Aku tersenyum.

—Anda mempertaruhkan pekerjaan untuk melindungi perusahaan saya. Saya rasa kita bisa mulai dari sana.

Dua minggu setelah ulang tahunku yang ketiga puluh lima, warisan ayah resmi diserahkan.

Jumlahnya bahkan lebih besar daripada perkiraan Faris.

Namun aku tidak membeli rumah mewah.

Tidak membeli mobil baru.

Hal pertama yang kulakukan adalah membentuk dana pendidikan atas nama putriku yang tidak bisa disentuh siapa pun selain dirinya ketika dewasa.

Kemudian aku menggunakan sebagian lahan warisan ayah untuk membangun fasilitas produksi baru.

Satu tahun kemudian, perusahaan kami hampir dua kali lebih besar.

Pada hari pembukaan fasilitas baru, putriku berdiri di sampingku sambil memegang tanganku.

Dia menunjuk foto kakeknya yang dipasang di ruang utama.

—Mama, ini punya Kakek?

Aku berjongkok di depannya.

—Dulu iya.

—Sekarang punya Mama?

Aku tersenyum.

—Sekarang ini milik kita.

Dia langsung memelukku.

Saat itulah aku menyadari bahwa selama bertahun-tahun aku selalu takut kehilangan keluarga.

Karena itu aku terus mempertahankan orang-orang yang sebenarnya hanya memanfaatkanku.

Aku pikir rumah tangga yang utuh adalah hadiah terbaik untuk anakku.

Ternyata aku salah.

Hadiah terbaik yang bisa kuberikan kepadanya adalah sebuah rumah yang aman.

Rumah tanpa kebohongan.

Tanpa manipulasi.

Tanpa orang yang menghitung berapa banyak uang yang bisa diperoleh dari kami.

Beberapa bulan kemudian, aku menerima sebuah surat dari Faris.

Aku tidak membukanya.

Aku memasukkannya ke mesin penghancur kertas.

Kakakku yang melihat hanya bertanya:

—Kamu tidak penasaran apa yang dia tulis?

Aku menggeleng.

—Tidak lagi.

Karena ada beberapa pintu yang tidak perlu dibuka untuk kedua kalinya.

Sore itu aku pulang lebih awal.

Putriku sedang menunggu di halaman sambil membawa sebuah kue kecil yang dibuatnya sendiri.

Bentuknya miring.

Krimnya berantakan.

Tapi dia tersenyum begitu lebar saat melihatku.

—Mama! Aku buat ini untuk Mama!

Aku mencicipinya.

Terlalu manis.

Namun aku tetap menghabiskan satu potong.

Dulu aku pernah berpikir hidupku akan berakhir kalau Faris meninggalkanku.

Sekarang aku tahu, saat dia pergi, hidupku justru baru benar-benar dimulai.

Aku kehilangan seorang suami yang tidak pernah tulus.

Sebagai gantinya, aku mendapatkan kembali perusahaan ayahku, masa depan putriku, orang-orang yang benar-benar setia, dan yang paling penting—diriku sendiri.

Aku menatap putriku yang tertawa di bawah cahaya sore.

Kemudian untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa sedang bertahan hidup.

Aku benar-benar hidup.