Aku menatap nama yang tertulis di halaman itu.
Sari.
Nama ibuku.
Di bawahnya ada nomor rekening dan beberapa catatan yang ditulis dengan tangan ayah.
Tanganku gemetar.
“Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan serahkan uang ini kepada siapa pun sebelum kamu mengetahui kebenarannya.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Dari ruang tamu terdengar langkah kaki ibu dan pamanku semakin dekat.
Aku buru-buru menutup map tersebut.
Pintu terbuka.
Ibu berdiri di sana.
Wajahnya terlihat tenang.
Namun matanya langsung tertuju pada map cokelat di tanganku.
Sesaat, aku melihat ketakutan melintas di wajahnya.
Hanya sekejap.
Kalau aku tidak memperhatikannya, mungkin aku akan melewatkannya.
Pamanku masuk setelah ibu.
“Berikan kepada paman.”
Aku menggenggam map itu lebih erat.
“Itu barang ayah.”
“Ayahmu sudah meninggal,” katanya dingin. “Hal-hal seperti ini seharusnya ditangani oleh orang dewasa.”
Aku menatapnya.
“Kalau begitu, kenapa uang ayah ditransfer ke rekening pribadi paman?”
Ruangan langsung sunyi.
Ibu menoleh kepada pamanku.
Pamanku tidak menjawab.
Hanya beberapa detik.
Namun bagiku, rasanya seperti sepanjang hidup.
Saat itu aku mengerti.
Mereka tahu.
Mereka benar-benar tahu.
Uang Rp1,8 miliar itu ternyata tidak pernah disumbangkan kepada yayasan seperti yang ibu katakan.
Uang itu masuk ke rekening pribadi pamanku.
“Rani…”
Ibu memanggilku pelan.
Aku tertawa hambar.
“Aku cuma ingin tahu satu hal.”
“Apa yang ibu lakukan dengan uang ayah?”
“Sudah ibu katakan. Itu untuk amal.”
“Kalau begitu, kenapa rekening penerimanya milik paman?”
Ibu tidak menjawab.
Pamanku melangkah maju.
“Masalah ini tidak sesederhana yang kamu pikirkan.”
“Tentu saja.”

Aku mengangguk.
“Kalau memang sederhana, kalian tidak perlu menyembunyikannya dariku.”
Pamanku tiba-tiba mengulurkan tangan hendak mengambil map itu.
Aku mundur.
“Jangan sentuh!”
Suaraku terdengar lebih keras dari yang kukira.
Ibu menatapku.
“Rani, dengarkan penjelasan ibu.”
“Aku sedang mendengarkan.”
“Tapi sebelumnya…”
Ibu terdiam.
Untuk pertama kalinya aku melihat ibuku tidak tahu harus berkata apa.
Saat itu ponselku bergetar.
Sebuah pesan masuk dari rumah sakit.
Keluarga harus memberikan keputusan besok pagi mengenai jadwal operasi nenek.
Aku menatap pesan itu.
Air mataku langsung jatuh.
Aku menoleh kepada ibu.
“Besok nenek harus operasi.”
“Aku tidak punya uang.”
“Ibu punya.”
“Tapi ibu bilang uang ayah sudah disumbangkan.”
Aku menunjuk map itu.
“Lalu kenapa ayah menulis nama ibu di sini?”
Ibu berdiri diam.
Aku tidak menunggu jawabannya.
Aku mengambil tas dan berjalan menuju pintu.
Pamanku berdiri menghalangi.
“Kamu mau ke mana?”
“Ke rumah sakit.”
“Sekarang?”
“Iya.”
“Dengan uang dari mana?”
Aku menatapnya.
“Itu urusanku.”
Aku membuka pintu.
Namun sebelum keluar, aku mendengar ibu berkata dari belakang.
“Rani.”
Aku berhenti.
“Ibu akan membayar biaya operasi nenek.”
Aku berbalik.
“Dengan uang apa?”
Ibu tidak menjawab.
Aku menatapnya cukup lama.
Kemudian pergi.
Malam itu aku tidak tidur.
Aku duduk di dalam mobil di depan rumah sakit sambil membuka kembali semua dokumen milik ayah.
Ada satu hal yang tidak bisa kupahami.
Kalau ayah memang mencurigai ibu dan pamanku, mengapa dia tidak pernah mengatakannya kepadaku?
Kenapa dia membiarkan semuanya terjadi setelah dia meninggal?
Sekitar pukul tiga pagi, aku menemukan sebuah catatan kecil di bagian bawah rekening koran.
“Brankas nomor 17 — kunci diberikan kepada Rani.”
Aku teringat kunci kecil yang pernah diberikan ayah beberapa bulan sebelumnya.
Saat itu aku bertanya untuk apa.
Ayah hanya tersenyum.
“Nanti kamu akan mengerti.”
Aku langsung kembali ke rumah.
Di ruang kerja ayah ada sebuah lemari kayu tua.
Aku menarik laci ketiga.
Di balik tumpukan dokumen terdapat sebuah kotak logam.
Kuncinya cocok dengan kunci yang selama ini kusimpan.
Aku membukanya.
Tidak ada uang.
Hanya sebuah USB, beberapa kontrak, dan sebuah surat.
Aku membuka surat itu.
Tulisan tangan ayah membuat mataku panas.
“Rani, kalau kamu membaca surat ini, berarti ayah sudah tidak punya kesempatan untuk menjelaskan semuanya kepadamu.”
“Ayah tahu ibumu akan melakukan sesuatu yang membuatmu sangat marah.”
“Tapi sebelum kamu menyalahkannya, baca semuanya sampai selesai.”
Aku berhenti.
Lalu membaca lagi.
“Uang yang ayah tinggalkan bukan hanya tabungan.”
“Di dalamnya ada uang untuk operasi nenek, biaya sekolah Dimas, dan sebagian untuk membayar cicilan rumah.”
“Tapi ada satu bagian lain.”
“Bagian itu berkaitan dengan pamanmu.”
Tanganku semakin erat menggenggam surat.
Ayah sudah tahu.
Dia mengetahui semuanya sejak awal.
Namun kalimat berikutnya membuat tubuhku terasa dingin.
“Ibumu tidak mengambil uang itu karena keserakahan.”
Aku membaca kalimat tersebut lagi.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Bukan karena keserakahan?
Kalau begitu, kenapa ibu berbohong kepadaku?
Video di dalam USB menjawab pertanyaan itu.
Aku memasangnya ke laptop.
Sebuah folder muncul.
Hanya ada satu video.
Aku menekan tombol putar.
Wajah ayah muncul di layar.
Ia duduk di ruang kerjanya.
Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus dibandingkan beberapa hari terakhir sebelum ia meninggal.
Ayah menatap kamera.
“Rani, kalau kamu melihat rekaman ini, berarti hal yang ayah khawatirkan sudah terjadi.”
Ia diam beberapa detik.
“Ayah tidak ingin kamu membenci ibumu.”
“Ayah juga tidak ingin kamu mempercayai pamanmu begitu saja.”
“Yang ayah ingin kamu lakukan adalah memeriksa satu hal.”
Ayah mengangkat beberapa lembar dokumen.
“Tiga tahun lalu, pamanmu menggunakan nama ibumu untuk mengambil pinjaman.”
Aku membeku.
“Pinjaman itu sekarang sudah jatuh tempo.”
“Secara hukum, ibumu yang tercatat sebagai pihak yang bertanggung jawab.”
“Kalau tidak dibayar, rumah dan aset lain yang terkait akan terkena dampaknya.”
“Ayah diam-diam sudah membayar sebagian.”
“Tapi kemudian ayah menemukan bahwa pamanmu tidak hanya memiliki utang di satu tempat.”
“Dia menggunakan uang banyak orang untuk berinvestasi dalam sebuah proyek yang gagal.”
“Dan uang terakhir…”
Ayah menunduk.
“…adalah seluruh tabungan keluarga.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
Sekarang aku mengerti.
Namun mengapa ibu mengatakan uang itu sudah disumbangkan?
Video masih berlanjut.
“Ayah tahu setelah ayah meninggal, pamanmu akan berusaha mengambil uang itu.”
“Ayah juga tahu ibumu akan melakukan apa pun untuk menghentikannya.”
“Mungkin ibu akan membuatmu berpikir bahwa dia sudah menghabiskan semuanya.”
“Jangan buru-buru menyalahkan ibumu.”
Ayah berhenti.
Kemudian mengatakan kalimat terakhir:
“Karena uang yang sebenarnya…”
Layar tiba-tiba menjadi hitam.
Video selesai.
Aku duduk diam.
Di luar, langit mulai berubah terang.
Tiba-tiba ponselku berdering.
Ibu.
Aku mengangkatnya.
Tidak ada suara selama beberapa detik.
Lalu terdengar suara ibu yang sangat pelan.
“Rani…”
“Kamu di mana?”
“Kenapa ibu bertanya?”
“Karena pamanmu sedang mencarimu.”
Aku mengerutkan kening.
“Ibu…”
“Dengarkan ibu.”
Suara ibu bergetar.
“Jangan berikan USB itu kepadanya.”
Aku berdiri.
“Kenapa?”
Ibu hanya berkata:
“Karena ayahmu bukan satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini.”
Lalu telepon terputus.
Aku menatap layar ponsel.
Beberapa detik kemudian terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah sakit.
Aku menoleh.
Mobil pamanku.
Ia turun dari mobil.
Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari…
Aku tidak lagi sedang melarikan diri dari rahasia keluargaku.
Aku sedang berdiri tepat di tengah-tengahnya.
