Ruangan itu mendadak terasa jauh lebih dingin.
Pria berjas yang baru saja masuk berdiri di dekat pintu, sementara seorang pengacara di sampingnya meletakkan sebuah map tebal di atas meja.
Aku mengenal pria itu.
Namanya Raka.
Dia adalah penasihat hukum perusahaan yang selama ini bekerja langsung denganku.
Namun hari itu, dia tidak datang membawa urusan perusahaan biasa.
Dia datang karena aku memintanya.
Raka membuka map tersebut dan berkata dengan suara tenang,
“Dokumen ini dibuat tiga bulan lalu.”
Arga menatapnya tajam.
“Apa maksudnya?”
Raka tidak menjawab Arga.
Dia justru melihat kepadaku.
Aku mengangguk pelan.
Barulah dia menyerahkan dokumen itu kepada ayah mertuaku.
Ayah mertuaku membaca halaman pertama.
Wajahnya berubah.
Halaman kedua.
Tangannya mulai gemetar.
Ketika sampai pada halaman terakhir, dia langsung mengangkat kepala.
“Arga…”

Suara ayahnya terdengar berat.
“Ini tanda tanganmu?”
Arga terdiam.
Aku bisa melihat tenggorokannya bergerak.
Dia menelan ludah.
“Itu… dokumen lama.”
Aku tersenyum pahit.
“Benar.”
“Dokumen lama.”
“Tapi kamu mungkin lupa satu hal.”
Aku menarik napas.
“Perusahaan yang kamu coba pindahkan bukan perusahaan milikmu.”
Semua orang terdiam.
Selama ini, mereka mengira perusahaan yang kukelola adalah aset yang bisa disentuh siapa saja hanya karena aku menikah dengan Arga.
Mereka salah.
Perusahaan itu didirikan oleh ayahku jauh sebelum aku menikah.
Aku hanya meneruskan pengelolaannya.
Dan beberapa bulan lalu, aku menemukan sesuatu yang membuatku mulai curiga.
Ada beberapa transaksi mencurigakan.
Sejumlah uang perusahaan dipindahkan secara bertahap.
Bukan dalam jumlah besar sekaligus.
Justru itulah yang membuatnya sulit terlihat.
Sedikit demi sedikit.
Bulan demi bulan.
Sampai jumlahnya mencapai miliaran rupiah.
Dan semua jalurnya mengarah ke perusahaan yang berhubungan dengan Maya.
Aku menatap perempuan itu.
“Kamu tahu kenapa aku tidak langsung membongkarnya?”
Maya tidak menjawab.
“Karena aku ingin tahu seberapa jauh kalian akan pergi.”
Air matanya berhenti.
Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak lagi terlihat seperti perempuan yang tersakiti.
Dia terlihat takut.
Sangat takut.
Arga tiba-tiba melangkah mendekat.
“Cukup.”
Aku menatapnya.
“Cukup?”
“Ya.”
Dia mengusap wajahnya.
“Kita bicara berdua saja.”
Aku tertawa pelan.
“Lima menit lalu kamu menuduh anak kita bukan anakmu di depan seluruh keluarga.”
“Sekarang kamu ingin bicara berdua?”
Arga terdiam.
Aku melanjutkan,
“Aku sudah memberimu kesempatan selama lima tahun.”
“Sekarang tidak ada lagi yang perlu dibicarakan secara diam-diam.”
Raka kemudian mengeluarkan satu dokumen lain.
“Masih ada satu hal.”
Aku melihatnya.
Raka mengangguk.
“Ini hasil pemeriksaan yang diminta Nyonya sebelumnya.”
Dia menyerahkannya kepada ayah mertua.
Kali ini, ayah mertua membacanya sangat lama.
Kemudian dia memandang Arga.
“Anak itu…”
Suaranya tercekat.
“Anak itu memang anakmu.”
Aku menutup mata.
Air mataku akhirnya jatuh.
Bukan karena lega semata.
Melainkan karena aku baru menyadari betapa dekatnya aku dengan kehancuran.
Anakku lahir prematur.
Aku hampir kehilangan nyawa.
Dan di saat seperti itu, orang-orang yang seharusnya melindungiku justru menuduhku.
Aku mengusap air mata.
“Anakku tidak perlu dibuktikan dengan hinaan kalian.”
“Dia tidak bersalah.”
Maya tiba-tiba berteriak.
“Semua ini karena dia!”
Dia menunjuk kepadaku.
“Dia menghancurkan keluarga ini!”
Aku menatapnya.
“Tidak.”
Aku menggeleng.
“Keluarga tidak hancur karena kebenaran.”
“Keluarga hancur ketika orang-orang di dalamnya memilih kebohongan.”
Maya hendak menjawab.
Namun pintu kembali terbuka.
Seorang petugas keamanan rumah sakit datang.
Di belakangnya ada dua orang dari pihak berwenang.
Mereka membawa surat resmi.
Arga langsung pucat.
Aku menatapnya tanpa berkata apa-apa.
Raka berbisik kepadaku,
“Bu, sekarang semuanya sudah dimulai.”
Aku menggenggam selimut di atas tubuhku.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa tidak perlu lagi membela diriku dengan suara keras.
Bukti akan berbicara sendiri.
Tetapi sebelum mereka membawa dokumen-dokumen itu, salah satu petugas menatapku dan berkata,
“Bu, kami perlu menyampaikan satu hal lagi.”
Aku mengangkat kepala.
“Apa?”
Dia membuka sebuah berkas kecil.
“Dari pemeriksaan awal, ada satu rekening lain yang menerima aliran dana.”
Aku mengernyit.
“Rekening siapa?”
Petugas itu melihat catatan di tangannya.
Kemudian dia menyebut nama pemilik rekening tersebut.
Aku membeku.
Nama itu bukan Maya.
Bukan Arga.
Bukan siapa pun yang selama ini kucurigai.
Nama itu adalah nama seseorang yang selama bertahun-tahun kuanggap paling bisa dipercaya.
Ayahku.
Dadaku langsung sesak.
Aku menatap Raka.
Dia pun terlihat terkejut.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua rahasia ini terbuka, aku merasa takut.
Karena mungkin…
cerita ini belum selesai.
Mungkin orang yang paling dekat denganku selama ini menyimpan rahasia yang jauh lebih besar.
Dan malam itu, sebelum aku sempat bertanya apa pun, ayahku sendiri datang ke rumah sakit.
Wajahnya pucat.
Di tangannya ada sebuah amplop tua.
Dia menatapku lama.
Lalu berkata pelan,
“Anakku…”
“Kalau hari ini kamu sudah tahu tentang Arga dan Maya, berarti waktunya sudah tiba.”
“Sudah waktunya Ayah mengatakan alasan sebenarnya kenapa perusahaan itu dulu diberikan kepadamu.”
Aku menatap amplop di tangannya.
Dan entah mengapa, seluruh tubuhku terasa dingin.
Karena di bagian depan amplop itu tertulis satu kalimat:
“Untuk putriku, jika suatu hari keluargamu sendiri berusaha mengambil semuanya darimu.”
