TUNANGANKU SELALU MENGIRA AKU TAK AKAN BISA HIDUP TANPA DIRINYA—SAMPAI DIA MENGETAHUI AKU DIAM-DIAM MENJUAL APARTEMEN, MENERIMA PEKERJAAN BARU, DAN BERSIAP MENGHILANG DARI HIDUPNYA

Avatar penulis
Cerita 05
16 menit baca 280 tayangan
Indeks

TUNANGANKU SELALU MENGIRA AKU TAK AKAN BISA HIDUP TANPA DIRINYA—SAMPAI DIA MENGETAHUI AKU DIAM-DIAM MENJUAL APARTEMEN, MENERIMA PEKERJAAN BARU, DAN BERSIAP MENGHILANG DARI HIDUPNYA

Aku dan Farhan sudah bertunangan selama dua tahun.

Di mata semua orang, Farhan adalah pria yang nyaris sempurna.

Pekerjaannya stabil, keluarganya berada, tutur katanya sopan, dan dia selalu tahu bagaimana membuat orang-orang yang lebih tua menyukainya.

Sedangkan aku, Nadira, adalah tipe perempuan yang sering disebut ibunya dengan kalimat yang terdengar lembut.

“Nadira itu hanya butuh seseorang yang membimbingnya.”

Dulu, aku juga berpikir begitu.

TUNANGANKU SELALU MENGIRA AKU TAK AKAN BISA HIDUP TANPA DIRINYA—SAMPAI DIA MENGETAHUI AKU DIAM-DIAM MENJUAL APARTEMEN, MENERIMA PEKERJAAN BARU, DAN BERSIAP MENGHILANG DARI HIDUPNYA

Farhan yang memilih apartemen tempat kami akan tinggal setelah menikah.

Farhan yang menentukan di mana pesta pernikahan kami akan digelar.

Farhan juga yang menyuruhku menolak kesempatan promosi karena posisi baru itu mengharuskanku terlalu sering melakukan perjalanan dinas.

Bahkan ketika aku ingin membeli mobil menggunakan uang yang kutabung sendiri selama enam tahun, dia menggeleng.

—Untuk apa beli mobil? Setelah kita menikah, kamu bisa pakai mobilku.

Aku menurut.

Karena kukira itulah cinta.

Sampai suatu malam, tanpa sengaja aku mendengar percakapan Farhan dengan ibunya di ruang tamu.

—Setelah menikah nanti, suruh Nadira berhenti bekerja.

Ibunya bertanya:

—Memangnya dia mau?

Farhan tertawa.

—Kapan dia pernah berani mengambil keputusan sendiri? Ibu tenang saja. Apa pun yang kukatakan, dia pasti menurut.

Aku berdiri di balik pintu dengan dua cangkir teh panas di tangan.

Entah kenapa, saat itu aku tidak menangis.

Aku hanya meletakkan satu cangkir di meja dapur.

Lalu meminum cangkir satunya sendiri.

Tiga hari kemudian, perusahaan mengumumkan pembukaan posisi manajer di cabang yang berada di kota lain.

Dulu, aku pasti akan bertanya kepada Farhan terlebih dahulu.

Kali ini, aku langsung mengajukan lamaran.

Seminggu kemudian, aku diterima.

Aku tidak memberitahunya.

Aku mulai membereskan hidupku dalam diam.

Namun Farhan sama sekali tidak menyadarinya.

Dia terlalu sibuk mempersiapkan kehidupan yang sudah dia rancang sendiri, termasuk bagian hidup yang seharusnya menjadi milikku.

Suatu hari, dia mengirimkan rancangan rumah yang katanya akan kami tempati setelah menikah.

Kamar terbesar disiapkan untuk kedua orang tuanya.

Kamar di sebelahnya untuk adik laki-lakinya jika sewaktu-waktu datang menginap.

Sementara ruangan kecil di ujung lorong akan dijadikan ruang kerja Farhan.

Aku bertanya:

—Kalau ruang kerjaku?

Dia sedang melihat ponselnya dan bahkan tidak mengangkat kepala.

—Untuk apa kamu punya ruang kerja? Setelah menikah nanti kamu juga akan berhenti bekerja.

Aku menatapnya beberapa detik.

—Siapa yang bilang aku akan berhenti?

Barulah Farhan mengangkat kepala.

Dia tertawa.

—Nadira, kita sudah membicarakan ini.

Tidak.

Dia yang membicarakannya.

Sedangkan aku hanya duduk dan mendengarkan.

Namun kali ini aku tidak berdebat.

Aku hanya menjawab:

—Ya.

Sejak hari itu, aku mulai menjual barang-barang milikku.

Piano elektrik.

Kamera.

Meja kerjaku.

Semua dokumen penting kupindahkan ke kotak penyimpanan aman di bank.

Aku mengganti kata sandi rekening pribadiku.

Dan yang terpenting—

aku menjual apartemen tempatku tinggal.

Apartemen itu adalah aset yang diwariskan ayahku sebelum beliau meninggal.

Farhan selalu menganggap setelah kami menikah nanti, apartemen itu akan diberikan kepada adiknya untuk ditempati.

Aku tidak pernah menyetujuinya.

Namun dia sudah telanjur menjanjikannya kepada keluarganya.

Pada hari aku menandatangani kontrak penjualan apartemen, tanganku gemetar cukup lama.

Bukan karena aku menyesal.

Melainkan karena aku baru menyadari bahwa aku membutuhkan hampir tujuh tahun untuk memahami satu hal yang sebenarnya sangat sederhana.

Tidak seorang pun berhak merancang hidupku hanya karena aku mencintainya.

Dua minggu sebelum pernikahan, adik perempuan Farhan meneleponku.

—Kak Nadira, akhir pekan ini aku pindahkan barang-barangku ke apartemen, ya?

Aku terdiam.

—Barang apa?

—Kak Farhan belum bilang? Katanya setelah kalian menikah, apartemen lama Kak Nadira akan kupakai. Tempat yang kusewa sekarang terlalu mahal.

Aku terdiam beberapa detik.

Kemudian aku tertawa kecil.

—Baik. Tanya saja kepada kakakmu.

Malam itu Farhan pulang sangat terlambat.

Dia meletakkan kunci di atas meja.

—Akhir pekan ini pindahkan sebagian barangmu, ya. Adikku akan mulai pindah ke sini.

Aku sedang melipat pakaian.

—Tidak bisa.

Dia mengernyit.

—Kenapa?

—Karena apartemen ini bukan milikku lagi.

Farhan tertawa seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang sangat konyol.

—Apa maksudmu?

—Aku sudah menjualnya.

Senyum di wajahnya seketika menghilang.

—Menjualnya?

—Ya.

—Kapan?

—Minggu lalu.

Farhan langsung berdiri.

—Keputusan sebesar itu dan kamu sama sekali tidak bertanya kepadaku?

Aku menatapnya.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, kalimat itu terdengar sangat lucu.

—Bukankah kamu sendiri yang pernah bilang bahwa hidupku adalah urusanku dan aku harus mengambil keputusan sendiri?

Farhan terdiam.

—Tapi kita akan menikah!

—Lalu ketika kamu menjanjikan apartemen milikku kepada adikmu, apakah kamu pernah bertanya kepadaku?

Dia tidak menjawab.

Tepat saat itu, ibu Farhan menelepon.

Sepertinya adiknya sudah menceritakan semuanya.

Begitu Farhan mengangkat telepon, suara ibunya terdengar begitu keras sampai aku yang berdiri beberapa meter darinya bisa mendengarnya.

—Dia benar-benar menjual apartemen itu? Kalau begitu adikmu mau tinggal di mana?

Farhan menatapku.

Aku tetap melipat pakaian terakhir dan memasukkannya ke koper.

Dia mematikan telepon.

Barulah saat itu dia memperhatikan tiga koper besar yang berjajar di dekat dinding.

—Kamu mau pergi ke mana?

—Bekerja.

—Bekerja dengan membawa tiga koper?

Aku menutup ritsleting koper terakhir.

—Karena pekerjaan baruku berada di kota lain.

Ekspresi Farhan langsung berubah.

—Pekerjaan baru?

—Aku mendapat promosi.

—Kenapa aku tidak tahu?

Aku menatap lurus ke matanya.

—Karena aku tidak meminta izinmu.

Ruangan mendadak sunyi.

Farhan menatapku seperti sedang melihat orang asing.

Mungkin untuk pertama kalinya dia menyadari bahwa perempuan yang dulu selalu bertanya kepadanya tentang apa yang harus dimakan, apa yang harus dikenakan, ke mana harus pergi, dan keputusan apa yang harus diambil…

sudah lama menghilang.

Dia berjalan mendekat dan memegang gagang koperku.

—Sudahlah. Kamu sedang marah. Kita bicarakan semuanya nanti. Jangan membesar-besarkan masalah.

Dengan tenang, kulepaskan tangannya.

—Aku tidak marah.

—Lalu apa yang sedang kamu lakukan?

—Pergi.

Farhan membeku.

—Dua minggu lagi kita menikah.

Aku tidak menjawab.

Dia mulai kehilangan kesabaran.

—Nadira, undangan sudah disebarkan. Tempat resepsi sudah dipesan. Kedua keluarga sudah tahu semuanya. Kamu mau mempermalukanku?

Aku berbalik dan menatap pria yang selama bertahun-tahun kukira akan menjadi suamiku.

Sampai detik ini, hal yang paling dia takutkan ternyata tetap sama.

Kehilangan muka.

Bukan kehilangan aku.

Aku mengambil sebuah amplop cokelat dari dalam laci.

Kutaruh di hadapannya.

—Sebaiknya kamu membaca ini.

Farhan langsung mengambilnya.

Mungkin dia mengira itu dokumen pembatalan pernikahan.

Namun ketika membukanya, ekspresinya berubah dari marah menjadi terkejut.

Di dalamnya bukan hanya ada surat penerimaan pekerjaan baruku.

Ada juga salinan laporan sebuah rekening yang keberadaannya tidak pernah dia ketahui.

Dan satu bundel dokumen tebal.

Farhan membuka halaman pertama.

Kemudian halaman kedua.

Tangannya mulai gemetar.

—Nadira…

Aku berdiri tanpa bergerak.

Dia mendongak tajam.

—Kenapa nama ayahku ada di dalam laporan keuangan perusahaanmu?

Aku tidak menjawab.

Karena itulah alasan sebenarnya mengapa aku harus pergi.

Tiga minggu sebelumnya, ketika sedang melakukan serah terima pekerjaan, tanpa sengaja aku menemukan rangkaian transaksi mencurigakan yang sudah berlangsung hampir empat tahun.

Orang yang berada di balik salah satu perusahaan perantara itu…

adalah ayah Farhan.

Dan orang yang menggunakan akun internal untuk memberikan persetujuan terhadap transaksi terakhir—

tercatat atas nama Farhan sendiri.

Dia menatapku dengan wajah pucat.

—Kepada siapa kamu sudah memberikan semua ini?

Aku melihat jam.

Pukul 21.47.

Tiba-tiba layar ponsel di atas meja menyala.

Sebuah pesan baru masuk.

“Tim audit sudah tiba. Besok pagi investigasi resmi dimulai. Jangan kembali ke kantor.”

Farhan juga membacanya.

Amplop di tangannya jatuh ke lantai.

Pada saat yang sama, terdengar tiga ketukan keras dari balik pintu.

Kami berdua menoleh.

Suara seorang pria asing terdengar dari luar.

—Apakah Nona Nadira ada di dalam? Kami perlu berbicara dengannya mengenai dokumen yang telah dia kirimkan.

Wajah Farhan semakin pucat.

Sementara aku perlahan menegakkan koper terakhirku.

Karena Farhan masih belum tahu bahwa yang kukirimkan bukan hanya catatan transaksi milik ayahnya.

Di dalamnya juga ada sebuah rekaman suara.

Dan suara yang terdengar jelas dalam rekaman itu…

adalah suara Farhan sendiri.

BAGIAN 2

Ketukan di pintu terdengar sekali lagi.

Kali ini lebih keras.

—Nona Nadira? Kami dari tim audit internal. Kami sudah menghubungi Anda sebelumnya.

Farhan menatapku.

Wajahnya yang tadi penuh kemarahan kini benar-benar pucat.

—Jangan buka pintunya.

Aku hampir tertawa.

Selama bertahun-tahun, aku selalu menurut ketika dia berkata jangan.

Jangan mengambil pekerjaan itu.

Jangan membeli mobil.

Jangan terlalu ambisius.

Jangan memperbesar masalah.

Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, kata “jangan” darinya tidak berarti apa-apa bagiku.

Aku berjalan menuju pintu.

Farhan tiba-tiba meraih lenganku.

—Nadira, dengarkan aku dulu. Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Aku menatap tangannya.

—Lepaskan.

—Aku bisa menjelaskan.

—Kalau begitu jelaskan kepada auditor.

Dia langsung melepaskanku.

Aku membuka pintu.

Dua orang berdiri di luar. Seorang pria paruh baya dan seorang perempuan membawa tas dokumen. Keduanya menunjukkan kartu identitas perusahaan.

—Maaf datang malam-malam. Karena laporan yang Anda kirim menyangkut pejabat internal dan transaksi bernilai besar, kami harus memastikan beberapa hal sebelum investigasi resmi dimulai besok.

Perempuan itu kemudian melihat Farhan.

—Apakah kami datang pada waktu yang tidak tepat?

Aku menggeleng.

—Justru sangat tepat.

Farhan langsung menyela.

—Ini kesalahpahaman keluarga. Nadira sedang emosional karena kami bertengkar menjelang pernikahan.

Aku menoleh kepadanya.

Begitu mudahnya dia mengucapkan kalimat itu.

Seolah empat tahun transaksi mencurigakan bisa berubah menjadi pertengkaran pasangan hanya karena dia mengatakannya.

Auditor pria membuka map.

—Kami tidak datang untuk membicarakan hubungan pribadi kalian.

Dia mengeluarkan beberapa lembar dokumen.

—Kami datang karena ada tujuh belas transaksi yang melewati perusahaan perantara dengan nilai yang tidak sesuai kontrak. Sebagian persetujuan menggunakan akun yang terdaftar atas nama Anda, Tuan Farhan.

Farhan membeku.

—Akun bisa diretas.

—Benar. Karena itulah kami akan menyelidikinya.

Aku mengambil ponselku.

—Dan ada rekaman.

Farhan langsung menatapku.

Aku memutar file yang kusimpan.

Suara pertama adalah suara ayah Farhan.

“Pastikan Nadira tidak tahu soal perusahaan itu. Dia bekerja di divisi yang bisa melihat laporan konsolidasi.”

Lalu suara Farhan terdengar.

“Dia tidak akan curiga. Nadira bahkan tidak mengambil keputusan kecil tanpa bertanya kepadaku.”

Dadaku terasa sesak.

Aku sudah mendengar rekaman itu berkali-kali.

Namun mendengarnya di depan Farhan tetap terasa berbeda.

Rekaman berlanjut.

“Setelah menikah, suruh dia berhenti. Kalau dia keluar dari perusahaan, semuanya lebih aman.”

Ruangan menjadi sunyi.

Farhan memandangku.

—Nadira, aku bisa jelaskan konteksnya.

Aku mematikan rekaman.

—Jadi itu alasan sebenarnya kamu ingin aku berhenti bekerja?

—Tidak seperti itu.

—Lalu seperti apa?

Dia membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang keluar.

Auditor perempuan meminta salinan rekaman dan beberapa dokumen tambahan. Setelah hampir satu jam, mereka pergi dengan mengatakan bahwa aku mungkin akan dipanggil sebagai saksi.

Begitu pintu tertutup, Farhan langsung berkata:

—Kita masih bisa memperbaiki ini.

Aku menatapnya tidak percaya.

—Kita?

—Ayahku mungkin melakukan kesalahan, tapi dia sudah tua. Kalau masalah ini membesar, seluruh keluarga bisa hancur.

—Dan?

—Tarik laporanmu.

Akhirnya aku mengerti.

Bahkan setelah semuanya terbongkar, dia masih mengira aku akan menyelamatkannya.

—Tidak.

Farhan mendekat.

—Pikirkan pernikahan kita.

—Aku sedang memikirkannya.

Aku mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas.

Di dalamnya ada cincin pertunangan.

Aku meletakkannya di atas meja.

Farhan menatap cincin itu lama.

—Apa maksudmu?

—Pernikahan dibatalkan.

—Nadira!

—Tempat resepsi bisa dibatalkan. Undangan bisa dijelaskan. Uang bisa dicari lagi. Tapi aku tidak akan menikahi seseorang yang menganggapku cukup bodoh untuk dijadikan tameng.

Untuk pertama kalinya, aku melihat kepanikan sungguhan di wajahnya.

—Aku mencintaimu.

Aku tersenyum pahit.

—Mungkin. Tapi kamu lebih mencintai Nadira yang selalu menurut.

Aku menarik koperku.

Farhan berdiri di depan pintu.

—Kalau kamu pergi sekarang, jangan berharap bisa kembali.

Aku menatapnya.

Dulu, ancaman itu mungkin akan membuatku menangis.

Malam itu aku hanya menjawab:

—Aku memang tidak berniat kembali.

Aku membuka pintu dan pergi.

Tiga hari kemudian, semuanya meledak.

Investigasi menemukan bahwa perusahaan milik ayah Farhan telah menerima pembayaran melalui beberapa kontrak fiktif.

Namun kejutan terbesarnya bukan itu.

Tim digital menemukan bahwa akun Farhan memang digunakan untuk menyetujui beberapa transaksi.

Dan bukan karena diretas.

Ada bukti autentikasi dari perangkat pribadinya.

Farhan mencoba mengatakan bahwa dia hanya membantu ayahnya tanpa memahami seluruh transaksi.

Tapi rekaman suara dan pesan-pesan lama menunjukkan sesuatu yang lain.

Dia tahu cukup banyak.

Pernikahan kami resmi dibatalkan.

Keluarganya menyalahkanku.

Ibunya mengirim puluhan pesan.

“Kamu menghancurkan keluarga kami.”

Aku hanya membalas sekali.

“Bukan saya yang membuat transaksi itu.”

Lalu aku memblokir nomornya.

Seminggu kemudian, aku naik pesawat menuju kota tempat pekerjaan baruku berada.

Ketika pesawat mulai meninggalkan landasan, aku melihat keluar jendela.

Aneh.

Aku tidak menangis.

Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, tidak ada seorang pun yang menungguku untuk meminta izin.

Aku bebas.

Namun aku belum tahu bahwa kehidupan baruku akan membawaku kembali pada seseorang yang pernah kutinggalkan bertahun-tahun lalu.

Seseorang yang akan mengajarkanku bahwa dicintai tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.

BAGIAN 3

Enam bulan berlalu.

Kehidupanku berubah lebih cepat daripada yang kubayangkan.

Aku tinggal di apartemen kecil dekat kantor. Tidak mewah, tetapi setiap sudutnya kupilih sendiri.

Meja kerja dekat jendela.

Tanaman kecil di balkon.

Rak buku yang dulu selalu dikatakan Farhan hanya akan memenuhi ruangan.

Bahkan sofa kuning yang menurutnya “terlalu mencolok” kubeli pada minggu pertama.

Hal-hal kecil itu membuatku bahagia.

Di kantor, aku menangani tim baru dan proyek yang jauh lebih besar.

Awalnya aku masih memiliki kebiasaan lama.

Setiap harus mengambil keputusan penting, tanganku otomatis mencari ponsel.

Seolah aku harus bertanya kepada seseorang apakah pilihanku benar.

Lalu aku akan berhenti.

Menarik napas.

Dan bertanya pada diriku sendiri.

“Apa yang Nadira inginkan?”

Ternyata aku selalu punya jawaban.

Aku hanya terlalu lama tidak mendengarkannya.

Suatu sore, perusahaan mengadakan pertemuan dengan konsultan independen untuk memperbaiki sistem pengawasan keuangan setelah kasus sebelumnya.

Ketika pintu ruang rapat terbuka, aku hampir menjatuhkan pulpen.

Pria yang masuk tersenyum.

—Sudah lama sekali, Nadira.

Namanya Raka.

Kami pernah bekerja bersama bertahun-tahun lalu sebelum dia pindah ke luar negeri.

Dulu dia pernah mengatakan aku punya kemampuan menjadi pemimpin.

Aku malah tertawa dan berkata Farhan menganggapku terlalu ragu-ragu.

Raka menjawab saat itu:

“Mungkin kamu ragu karena terlalu sering membiarkan orang lain menentukan jawabanmu.”

Aku baru memahami kalimat itu bertahun-tahun kemudian.

Kami mulai bekerja bersama.

Raka tidak pernah mengambil keputusan untukku.

Ketika kami makan siang dan aku bertanya apa yang sebaiknya kupesan, dia hanya tertawa.

—Aku bisa bilang makanan favoritku. Tapi yang akan makan kamu.

Ketika aku mengeluh bingung memilih antara dua proyek, dia tidak mengatakan mana yang harus kuambil.

Dia bertanya:

—Mana yang paling membuatmu berkembang?

Perbedaannya sederhana.

Namun bagiku, terasa luar biasa.

Raka tidak membuatku bergantung kepadanya.

Dia membuatku semakin percaya pada diriku sendiri.

Sementara itu, penyelidikan terhadap keluarga Farhan terus berjalan.

Ayahnya diwajibkan mengembalikan dana perusahaan dan menghadapi proses hukum atas transaksi yang terbukti tidak sah.

Farhan kehilangan posisinya setelah investigasi internal memastikan bahwa dia sengaja memberikan akses dan persetujuan pada sejumlah transaksi.

Beberapa bulan kemudian, dia mengirimiku email.

Untuk pertama kalinya, tidak ada tuduhan.

Tidak ada permintaan agar aku kembali.

Hanya sebuah kalimat panjang yang membuatku terdiam.

“Aku selalu mengatakan kamu tidak bisa hidup tanpaku, Nadira. Sekarang aku sadar sebenarnya akulah yang membutuhkanmu tetap kecil supaya aku merasa besar.”

Aku membaca email itu dua kali.

Lalu menutup laptop.

Aku tidak membalas.

Bukan karena membencinya.

Aku hanya tidak lagi membutuhkan permintaan maafnya untuk melanjutkan hidup.

Setahun setelah malam aku meninggalkan apartemen itu, aku mendapat kabar bahwa kasus audit telah selesai.

Perusahaan berhasil mendapatkan kembali sebagian besar dana yang hilang dan memperbaiki sistem pengawasan.

Karena laporan awalku dianggap mencegah kerugian lebih besar, perusahaan memberiku penghargaan khusus.

Saat namaku dipanggil dalam acara tahunan perusahaan, aku berjalan ke atas panggung.

Tanganku sedikit gemetar.

Bukan karena takut.

Aku teringat perempuan yang dulu bahkan takut membeli mobil tanpa meminta pendapat tunangannya.

Kalau seseorang mengatakan kepadanya bahwa suatu hari dia akan berdiri di panggung ini sebagai kepala divisi, mungkin dia tidak akan percaya.

Setelah acara, Raka menungguku di luar gedung.

Dia membawa dua gelas kopi.

—Selamat, Bu Kepala Divisi.

Aku tertawa.

—Terima kasih.

Kami berjalan sampai taman kecil di depan gedung.

Kemudian Raka berhenti.

—Aku ingin bertanya sesuatu.

Aku menatapnya curiga.

—Kenapa serius sekali?

Dia tertawa kecil.

—Karena kali ini bukan soal pekerjaan.

Dia tidak berlutut.

Tidak mengeluarkan cincin.

Tidak membuat pertunjukan besar.

Dia hanya menatapku.

—Aku menyukaimu, Nadira. Sudah cukup lama. Tapi aku tidak ingin menjadi orang berikutnya yang mengatur hidupmu. Jadi aku hanya ingin bertanya: apakah kamu mau mencoba menjalani hubungan denganku?

Aku diam beberapa detik.

Raka tersenyum.

—Kamu tidak perlu menjawab sekarang.

Aku justru tertawa.

Dulu, aku mungkin akan meminta waktu untuk bertanya kepada teman, mencari pendapat orang lain, atau memastikan apakah keputusanku “benar”.

Tapi kali ini aku tahu jawabannya.

—Mau.

Mata Raka membesar.

—Serius?

—Serius. Tapi ada syarat.

—Apa?

—Aku tetap punya ruang kerja sendiri.

Dia tertawa keras.

—Bahkan kalau suatu hari kita punya rumah sebesar lapangan sepak bola, ruang kerjamu tetap milikmu.

Hubungan kami berkembang perlahan.

Tidak sempurna.

Kami juga pernah berbeda pendapat.

Namun untuk pertama kalinya, perbedaan tidak membuatku takut kehilangan seseorang.

Dua tahun kemudian, Raka melamarku.

Kali ini, sebelum menjawab, aku tidak memikirkan pendapat siapa pun.

Aku hanya bertanya kepada diriku sendiri:

Apakah aku bahagia?

Jawabannya iya.

Kami menikah dalam acara sederhana.

Tidak ada pesta berlebihan.

Tidak ada ratusan tamu yang bahkan tidak kukenal.

Hanya keluarga, sahabat, dan orang-orang yang benar-benar ingin melihat kami bahagia.

Beberapa hari setelah pernikahan, aku menerima sebuah paket.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya ada sebuah kotak kecil.

Cincin pertunanganku dengan Farhan.

Di bawahnya terdapat secarik kertas.

“Semoga kali ini kamu mendapatkan kehidupan yang kamu pilih sendiri.”

Aku tahu siapa pengirimnya.

Aku memandang cincin itu cukup lama.

Kemudian memasukkannya kembali ke kotak.

Bukan dengan marah.

Bukan dengan sedih.

Hanya seperti seseorang menutup buku yang sudah selesai dibaca.

Aku tidak membuang cincin itu.

Aku menjualnya.

Dengan uang tersebut, aku mendirikan program beasiswa kecil bagi perempuan muda di perusahaan yang ingin mengikuti pelatihan kepemimpinan.

Raka tertawa ketika mengetahui alasannya.

—Itu balas dendam paling elegan yang pernah kudengar.

Aku menggeleng.

—Bukan balas dendam.

—Lalu?

Aku melihat para peserta pertama program itu masuk ke ruang pelatihan.

Beberapa terlihat gugup.

Beberapa masih sangat muda.

Dan entah kenapa, aku melihat diriku yang dulu dalam diri mereka.

—Aku hanya ingin sesuatu yang pernah membuatku merasa kecil berubah menjadi sesuatu yang membantu perempuan lain menjadi lebih besar.

Tiga tahun kemudian, aku berdiri di balkon rumah kami.

Ya, rumah kami.

Bukan rumah Raka.

Bukan rumahku.

Rumah kami.

Tapi tetap ada dua ruang kerja.

Satu untuknya.

Satu untukku.

Raka datang membawa dua cangkir teh.

—Besok mau sarapan apa?

Aku berpikir sebentar.

—Nasi goreng.

—Baik.

Aku menoleh kepadanya.

—Kamu tidak mau menyuruhku makan yang lebih sehat?

Dia memasang wajah serius.

—Itu hidupmu. Jangan jadikan aku pengambil keputusan.

Aku terdiam.

Lalu kami berdua tertawa.

Kalimat yang sama.

Tapi rasanya sama sekali berbeda.

Karena kebebasan bukan berarti menjalani hidup sendirian.

Kebebasan adalah memiliki seseorang di sampingmu tanpa harus menyerahkan kendali atas dirimu sendiri.

Dulu Farhan mengira aku tidak akan pernah bisa hidup tanpanya.

Ternyata dia salah.

Aku bisa bekerja tanpa izinnya.

Aku bisa pindah tanpa persetujuannya.

Aku bisa mengambil keputusan tanpa bertanya kepadanya.

Aku bahkan bisa jatuh cinta lagi tanpa kehilangan diriku sendiri.

Dan pada akhirnya, aku memahami satu hal.

Keputusan terbaik yang pernah kuambil bukanlah menjual apartemen.

Bukan menerima promosi.

Bukan pula membatalkan pernikahan.

Keputusan terbaikku adalah malam ketika aku menarik koper melewati Farhan, membuka pintu, dan memilih diriku sendiri.

Karena malam itu aku tidak sedang meninggalkan hidupku.

Aku baru saja mulai menjalaninya.