WANITA YANG DIUSIR DARI ACARA PELUNCURAN PROYEK—HINGGA KEPALA PENGAWAS MELIHAT CINCIN DI JARINYA
Gelas kaca itu ditepis dari tanganku, jatuh ke lantai marmer, lalu pecah berkeping-keping di hadapan ratusan tamu.
Orang yang melakukannya adalah Arga Pratama.
Dia baru saja diperkenalkan sebagai orang yang akan mengambil alih jabatan Direktur Utama perusahaan konstruksi yang telah dikuasai keluarganya selama tiga generasi.
Arga memandang pecahan kaca di bawah kakinya, lalu menatapku dengan senyum miring.
—Sekarang kamu bisa pergi dari sini, kan?
Tak seorang pun bersuara.

Aku menunduk melihat tanganku. Sebuah goresan kecil melintang di jari telunjukku dan darah mulai merembes keluar.
Di sekelilingku berdiri para pengusaha, investor, pengacara, dan anggota dewan direksi yang berpengaruh di dunia bisnis.
Seandainya satu orang saja mengatakan bahwa tindakan Arga sudah keterlaluan, mungkin keadaan akan berbeda.
Namun tak ada yang melakukannya.
Karena malam ini, di mata mereka, aku hanyalah seorang wanita dengan setelan blazer krem sederhana, tanpa asisten, tanpa pengawal, bahkan namaku tidak tercantum dalam daftar tamu VIP.
Sementara Arga adalah sang pewaris.
Acara malam itu digelar untuk mengumumkan proyek kawasan kota baru terbesar yang pernah dikerjakan perusahaan tersebut.
Di layar besar di belakang panggung masih terpampang angka investasi yang fantastis.
Namun bukan proyek itu yang membuatku datang.
Melainkan tujuh belas hektare tanah yang terletak tepat di tengah kawasan proyek.
Tiga bulan lalu, tanah itu masih berada di bawah pengelolaan sebuah yayasan masyarakat.
Sebulan lalu, hak pengelolaannya tiba-tiba dialihkan kepada sebuah perusahaan yang baru saja didirikan.
Dan pagi tadi, aku menemukan bahwa orang yang tercatat sebagai perwakilan hukum perusahaan tersebut pernah bekerja sebagai sopir pribadi ayah Arga.
Aku hanya menanyakan satu hal kepadanya.
—Siapa yang menandatangani pengalihan tujuh belas hektare tanah itu?
Sekelompok orang yang sedang berbincang di sekitar Arga langsung terdiam.
Dia berbalik menatapku.
—Apa yang baru saja kamu katakan?
—Aku bertanya, siapa yang menandatanganinya?
Arga menatapku dari ujung kepala hingga kaki.
—Kamu dari media mana?
—Aku bukan dari media.
—Pengacara?
—Bukan.
Dia tertawa.
—Kalau begitu, atas dasar apa kamu berani bertanya?
Aku tidak menjawab pertanyaan itu.
Sebaliknya, aku kembali bertanya.
—Mengapa dokumen yang diserahkan kepada dewan direksi menyatakan tanah tersebut masih menunggu proses penilaian, sementara surat pengalihannya sudah ditandatangani dua belas hari sebelumnya?
Suasana di sekitar kami seketika berubah.
Seorang pria tua yang berdiri di dekat Arga perlahan meletakkan gelasnya.
Seorang direktur wanita menoleh kepada asistennya.
Arga tidak lagi tersenyum.
—Siapa yang memberikan dokumen itu kepadamu?
—Yang penting bukan siapa yang memberikannya kepadaku.
—Bagiku itu sangat penting.
Dia melangkah mendekat.
—Kamu tahu ini acara tertutup?
—Tahu.
—Kalau begitu, silakan keluar.
Aku tetap berdiri di tempat.
Arga memberi isyarat kepada petugas keamanan.
Dua pria berseragam segera berjalan mendekat.
Saat itulah seorang wanita paruh baya turun dari arah panggung.
Dia adalah ibu Arga sekaligus anggota senior dewan direksi.
Dia mempertahankan senyum sopannya.
—Nona, kalau ada kesalahpahaman, datanglah ke kantor besok. Malam ini adalah hari penting bagi keluarga kami.
Aku menatapnya.
—Besok mungkin sudah terlambat.
Senyum di wajahnya membeku.
—Apa maksudmu?
—Malam ini sistem penyimpanan data akan melakukan sinkronisasi kuartalan. Jika beberapa berkas menghilang sebelum tengah malam, akan sulit membuktikan siapa yang telah mengubahnya.
Arga tertawa keras.
—Kamu sedang mengancamku?
—Tidak.
Aku menjawab dengan tenang.
—Aku sedang memberimu kesempatan untuk menjelaskan.
Kalimat itu membuat ekspresinya berubah.
Arga maju dan menepis gelas dari tanganku.
Prang!
Suara pecahan kaca menggema di seluruh ruangan.
—Kamu pikir kamu siapa?
Aku tidak menjawab.
Dia menunjuk ke arah pintu.
—Keluar.
Aku menunduk dan mengambil tisu untuk membersihkan darah di jariku.
Saat itulah Arga melihat cincin yang kupakai.
Sebuah cincin perak tua dengan ukiran seekor burung kecil di permukaannya.
Dia mengerutkan kening, tetapi tampaknya tidak mengenalinya.
Sebaliknya, seorang pria yang berdiri di belakangnya tiba-tiba pucat.
Namanya Surya, Kepala Pengawas Internal perusahaan.
Dia menatap tanganku.
Kemudian wajahku.
Lalu kembali menatap cincin itu.
Aku menyadarinya, tetapi tetap diam.
Arga mulai kehilangan kesabaran.
—Keamanan! Bawa wanita ini keluar!
Dua petugas keamanan melangkah maju.
Surya tiba-tiba berteriak.
—Berhenti!
Seluruh ruangan seketika sunyi.
Arga berbalik cepat.
—Pak Surya?
Surya tidak memandangnya.
Dia berjalan lurus ke arahku.
Jaraknya hanya beberapa meter, tetapi langkahnya semakin lama semakin lambat.
Ketika berdiri tepat di hadapanku, dia bertanya,
—Cincin ini… dari mana kamu mendapatkannya?
Aku melihat tanganku.
—Milik ibuku.
Bibir Surya sedikit bergetar.
—Siapa nama beliau?
Aku menyebutkan sebuah nama.
Gelas di tangan Surya terlepas.
Untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari lima menit, suara pecahan kaca terdengar di tengah ruangan.
Namun kali ini tak seorang pun melihat ke lantai.
Semua mata tertuju kepada Surya.
Arga mengerutkan kening.
—Pak Surya, apa yang sedang Anda lakukan?
Surya masih menatapku.
—Ibumu… masih hidup?
—Beliau meninggal enam bulan lalu.
Surya memejamkan mata.
Setelah cukup lama, dia kembali bertanya.
—Sebelum meninggal, apakah beliau memberikan sesuatu kepadamu selain cincin itu?
Aku mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari saku blazerku.
Seketika wajah Surya memucat.
Arga melihat reaksinya.
—Apa isi amplop itu?
Aku belum sempat menjawab ketika Surya tiba-tiba berbalik ke arah petugas keamanan.
—Kunci semua pintu.
Ruangan langsung gaduh.
Arga terpaku.
—Apa yang Anda katakan?
—Tak seorang pun boleh meninggalkan lantai ini.
—Anda sudah gila? Ini acara keluarga saya!
Surya akhirnya menatapnya.
Tatapan matanya benar-benar berbeda.
—Kamu keliru, Arga.
Arga tertawa karena marah.
—Keliru tentang apa?
Surya menunjuk amplop di tanganku.
—Jika benda yang kupikirkan benar-benar ada di dalam amplop itu…
Dia berhenti.
Ruangan begitu sunyi hingga suara pendingin udara terdengar jelas.
—…maka keluargamu tidak pernah menjadi pemilik sebenarnya perusahaan ini.
Senyum di wajah Arga lenyap.
Ibunya langsung berdiri.
—Surya! Apa yang sedang kamu bicarakan?!
Aku meletakkan amplop itu di atas meja.
Wanita itu melihat cap yang tertera di tepi amplop.
Dan tepat pada saat itu, aku tahu dia mengenalinya.
Karena dia mundur satu langkah.
—Tidak mungkin…
Aku menatap lurus ke arahnya.
—Anda mengenal cap ini?
Dia tidak menjawab.
Arga langsung mencoba merebut amplop itu.
Namun Surya menahan pergelangan tangannya.
—Jangan dibuka.
—Lepaskan tangan Anda!
—Kubilang jangan dibuka!
Arga membentak,
—Kenapa?!
Surya menatapnya cukup lama.
Lalu dia mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh anggota dewan direksi membeku.
—Karena orang yang berhak membukanya bukan kamu.
Perlahan dia berbalik ke arahku.
Kemudian, di bawah tatapan terkejut semua orang, Kepala Pengawas Internal yang telah bekerja untuk perusahaan itu selama lebih dari tiga puluh tahun membungkukkan tubuhnya dalam-dalam di hadapanku.
—Nona Kirana…
Suaranya terdengar serak.
—Kami telah mencarimu selama dua puluh tujuh tahun.
Aku bahkan belum sempat mengatakan apa pun ketika terdengar teriakan ibu Arga dari belakang.
—AMBIL AMPLOP ITU!
Tiga pria langsung berlari menuju meja.
Surya berteriak keras,
—KUNCI SISTEMNYA! JANGAN BIARKAN MEREKA MENGHAPUS BERKAS!
Tiba-tiba seluruh lampu di aula padam.
Layar besar di belakang panggung berubah menjadi hitam.
Satu detik.
Dua detik.
Kemudian layar menyala kembali.
Namun presentasi proyek telah menghilang.
Sebagai gantinya, muncul sebuah dokumen lama yang dipindai hampir tiga puluh tahun lalu.
Di bagian paling atas halaman tercantum nama pendiri sebenarnya perusahaan itu.
Dan di bawahnya…
ada sebuah foto.
Aku menatap layar.
Seluruh tubuhku membeku.
Wanita dalam foto itu memiliki wajah yang hampir sama persis denganku.
Surya berbisik,
—Ibumu.
Namun hal yang paling mengejutkan justru tertulis tepat di bawah foto tersebut.
“SATU-SATUNYA AHLI WARIS: PUTRINYA.”
Pada saat yang sama, suara otomatis terdengar dari pengeras suara.
—Permintaan penghapusan data terdeteksi dari ruang Ketua Dewan.
Surya langsung berbalik.
Sementara itu, aku melihat ibu Arga perlahan mundur menuju pintu samping.
Di tangannya…
ada sebuah ponsel yang menampilkan tulisan:
HAPUS PERMANEN — 92%
Aku langsung berlari ke arahnya.
Angka di layar berubah.
97%…
98%…
99%…
BAGIAN 2
99%…
Aku menerjang ke arah ibu Arga tepat ketika ibu jarinya hendak menyentuh layar sekali lagi.
Namun aku terlambat.
100%.
Layar ponselnya berubah hitam.
Ruangan membeku.
Arga mengembuskan napas panjang, lalu tiba-tiba tertawa.
—Selesai.
Dia menatapku dengan wajah yang perlahan kembali percaya diri.
—Apa pun yang kamu cari sudah hilang.
Ibunya menggenggam ponsel erat-erat.
—Surya, buka pintunya. Pertunjukan konyol ini sudah berakhir.
Aku berhenti beberapa langkah di depannya.
Anehnya, aku tidak merasa panik.
Aku justru menatap Surya.
—Berapa lama Anda bekerja di perusahaan ini?
Surya memahami maksud pertanyaanku.
—Tiga puluh dua tahun.
—Kalau begitu Anda pasti tahu aturan penyimpanan data perusahaan.
Mata Surya langsung berubah.
Arga mengerutkan kening.
—Apa maksudnya?
Aku berbalik menatapnya.
—Kalian baru saja menghapus salinan lokal.
Senyum Arga lenyap.
Surya segera mengeluarkan radio komunikasinya.
—Hubungi pusat penyimpanan cadangan. Putus seluruh akses administrator dari gedung ini. Jangan izinkan satu akun pun melakukan perubahan.
Wajah ibu Arga memucat.
—Tidak!
Itulah jawaban yang kami perlukan.
Surya menatapnya tajam.
—Jadi Ibu memang tahu ada salinan cadangan?
Wanita itu terdiam.
Arga memandang ibunya.
Untuk pertama kalinya malam itu, ada keraguan di wajahnya.
—Ibu… sebenarnya apa yang terjadi?
—Diam, Arga.
—Kenapa Ibu menyuruh mereka menghapus data?
—Kubilang diam!
Suasana menjadi kacau.
Namun aku tidak lagi memperhatikan mereka.
Aku mengambil amplop cokelat di atas meja dan menyerahkannya kepada Surya.
—Buka.
Tangannya bergetar ketika membuka segelnya.
Di dalamnya terdapat tiga lembar dokumen asli, sebuah surat tulisan tangan, dan sebuah foto lama.
Surya membaca halaman pertama.
Wajahnya berubah total.
—Ini akta pendirian asli.
Beberapa anggota dewan mendekat.
Surya melanjutkan.
—Dua puluh sembilan tahun lalu, perusahaan ini didirikan oleh dua orang. Salah satunya adalah ayah Arga. Tetapi pemegang saham mayoritas…
Dia menatapku.
—…adalah ibu Kirana.
Ruangan langsung gaduh.
Arga merebut dokumen itu.
—Tidak mungkin!
Dia membaca angka kepemilikan saham.
61 persen.
Tangannya mulai gemetar.
Aku sendiri baru mengetahui keseluruhan cerita enam bulan lalu, beberapa hari sebelum ibuku meninggal.
Selama hidupnya, Ibu tidak pernah bercerita bahwa ia pernah membangun perusahaan besar.
Bagiku, ia hanyalah seorang perempuan sederhana yang mengelola toko kecil dan selalu menghitung uang belanja dengan hati-hati.
Baru menjelang akhir hidupnya, ia mengatakan bahwa hampir tiga puluh tahun lalu, ia mendirikan perusahaan bersama sahabat sekaligus mitra bisnisnya.
Ketika perusahaan mulai berkembang, terjadi kecelakaan yang membuatnya harus menjalani perawatan berbulan-bulan.
Saat ia kembali, seluruh dokumen perusahaan telah berubah.
Namanya perlahan dihapus.
Tanda tangannya dipalsukan.
Dan ia diberi tahu bahwa seluruh sahamnya telah dialihkan.
Ia mencoba melawan.
Namun saat itu ia sedang mengandungku.
Seseorang mengirim ancaman bahwa jika ia terus menuntut, anaknya akan berada dalam bahaya.
Akhirnya Ibu pergi.
Bukan karena menyerah.
Ia menunggu.
Mengumpulkan bukti sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun.
Surya membuka surat tulisan tangan.
Dia membacanya dalam diam sebelum akhirnya berkata,
—Surat ini ditujukan kepada saya.
Aku menatapnya.
Surya membaca kalimat terakhir dengan suara bergetar.
—“Jika suatu hari putriku datang membawa cincin ini, tolong lakukan apa yang dulu tidak berani kita lakukan: katakan yang sebenarnya.”
Surya menutup mata.
Air mata muncul di sudut matanya.
—Saya pengecut.
Dia menatapku.
—Dulu saya masih pegawai muda. Saya melihat beberapa dokumen diganti, tapi saya takut kehilangan pekerjaan. Saya diam. Saya pikir diam berarti saya tidak ikut melakukan kejahatan.
Aku menjawab pelan,
—Diam juga sebuah pilihan.
Dia mengangguk.
—Saya tahu.
Tiba-tiba radio komunikasinya berbunyi.
—Pak Surya, cadangan berhasil diamankan. Kami menemukan arsip lama dan log perubahan.
Semua orang terdiam.
Suara dari radio melanjutkan,
—Ada ribuan dokumen yang dimodifikasi selama hampir tiga dekade. Dan ada satu hal lagi. Transfer tujuh belas hektare tanah yang dipertanyakan Nona Kirana memang tidak sah.
Arga perlahan menoleh kepada ibunya.
—Siapa yang melakukannya?
Wanita itu tidak menjawab.
—IBU!
Ia akhirnya berteriak.
—Aku melakukannya untukmu!
Arga membeku.
—Untukku?
—Kamu akan menjadi Direktur Utama! Kita membutuhkan proyek itu untuk memastikan posisi keluarga kita tetap kuat!
Aku menatapnya.
—Jadi perusahaan baru yang menerima tanah itu milik siapa?
Ia diam.
Surya menerima sebuah tablet dari staf keamanan.
Setelah melihat isinya, dia menyerahkannya kepada Arga.
Di sana tercantum nama pemilik manfaat perusahaan tersebut.
Bukan Arga.
Bukan pula ibunya.
Melainkan sebuah perusahaan asing yang selama ini diam-diam dikendalikan oleh…
ayah Arga.
Arga memandang layar tanpa berkedip.
—Ayah masih hidup?
Ibunya langsung pucat.
Aku menoleh cepat.
Semua orang tahu ayah Arga dinyatakan meninggal lima tahun lalu.
Surya menatap layar.
—Transaksi terakhir atas namanya dilakukan…
Dia berhenti.
—Tiga hari lalu.
Lalu lift di ujung aula berbunyi.
Ting.
Pintunya terbuka.
Seorang pria berambut putih melangkah keluar dengan tongkat di tangan.
Arga menjatuhkan tablet.
—Ayah?
Pria itu tersenyum.
—Sepertinya pesta dimulai tanpa aku.
BAGIAN 3
Tak seorang pun bergerak.
Pria yang selama lima tahun dianggap telah meninggal itu berjalan perlahan memasuki aula.
Wajah Arga kehilangan seluruh warnanya.
—Ayah… bagaimana mungkin?
Pria itu tidak menjawab anaknya.
Dia justru menatapku.
Tatapannya berhenti pada cincin di jariku.
—Jadi kamu putri Ratih.
Aku mengepalkan tangan.
Ratih adalah nama ibuku.
—Anda mengenal ibu saya.
Dia tersenyum tipis.
—Lebih dari yang kamu bayangkan.
Surya berdiri di depanku.
—Pak Darma, sebaiknya Anda tidak mendekat.
Darma tertawa kecil.
—Setelah tiga puluh tahun, akhirnya kamu menemukan keberanian juga, Surya?
Kalimat itu membuat semua orang memahami sesuatu.
Surya memang tahu pria ini masih hidup.
—Saya mengetahuinya dua tahun lalu.
Surya menatapku.
—Tapi saya tidak tahu tempat persembunyiannya. Dia mengendalikan beberapa perusahaan melalui perantara.
Darma bertepuk tangan pelan.
—Bagus sekali.
Arga maju.
—Ayah memalsukan kematian?
—Aku melakukan apa yang diperlukan.
—Dan Ibu tahu?
Keheningan ibunya menjadi jawaban.
Arga mundur seperti baru saja ditampar.
Seluruh hidupnya dibangun di atas kebohongan.
Darma memandang anggota dewan.
—Jangan membuat keputusan bodoh hanya karena seorang gadis datang membawa beberapa lembar kertas tua. Kalian semua menikmati keuntungan perusahaan ini selama bertahun-tahun.
Aku maju satu langkah.
—Benar. Karena itu saya tidak datang hanya membawa kertas tua.
Darma menatapku.
Aku mengeluarkan sebuah benda kecil dari lapisan dalam amplop.
Sebuah kartu memori.
Wajahnya berubah.
Ibuku tahu dokumen kertas bisa dihancurkan.
Karena itu selama bertahun-tahun ia menyimpan rekaman percakapan, salinan rekening, bukti pemalsuan tanda tangan, serta korespondensi lama dengan para pendiri perusahaan.
Semuanya ada di sana.
Tetapi bukti terpenting berasal dari Darma sendiri.
Dua puluh delapan tahun lalu, ia pernah mengirim rekaman suara kepada ibuku.
Dalam rekaman itu, ia menawarkan uang agar Ibu melepaskan sahamnya.
Ketika Ibu menolak, Darma mengucapkan kalimat yang akhirnya membuatnya pergi:
“Pilih perusahaanmu atau keselamatan anakmu.”
Surya memasukkan kartu itu ke komputer yang tidak terhubung dengan jaringan utama.
Beberapa detik kemudian, suara Darma muda terdengar memenuhi aula.
Wajah pria tua itu berubah.
Untuk pertama kalinya, kesombongannya runtuh.
Arga mendengarkan sampai akhir.
Kemudian dia duduk perlahan.
Dia menutupi wajah dengan kedua tangannya.
—Semua yang kalian katakan kepadaku… bohong.
Tak ada yang menjawab.
Tak lama kemudian, pihak berwenang yang sebelumnya telah dihubungi oleh tim hukum independen tiba.
Aku memang tidak datang malam itu tanpa persiapan.
Sebelum memasuki gedung, seluruh dokumen penting telah diserahkan kepada pengacara dan auditor independen.
Jika aku tidak menghubungi mereka sebelum pukul sebelas malam, bukti akan otomatis diteruskan untuk penyelidikan.
Ponselku yang dihancurkan Arga sejak awal tidak pernah menjadi satu-satunya bukti.
Malam itu berakhir bukan dengan pesta peluncuran proyek, melainkan penyegelan beberapa ruang kerja dan pengamanan arsip perusahaan.
Darma dibawa untuk dimintai keterangan.
Ibu Arga juga harus menghadapi penyelidikan atas pemalsuan dokumen, pengalihan aset, dan upaya penghapusan data.
Arga tidak ditahan malam itu.
Namun ketika semua orang mulai pergi, dia menghampiriku.
Tak ada lagi kesombongan di wajahnya.
Dia melihat pecahan ponselku yang masih berada di lantai.
—Tentang tadi…
—Jangan meminta maaf kalau kamu hanya melakukannya karena sekarang tahu siapa aku.
Dia terdiam.
Aku melanjutkan,
—Minta maaflah karena kamu seharusnya tidak memperlakukan siapa pun seperti itu, bahkan jika aku benar-benar hanya orang biasa tanpa nama besar.
Arga menundukkan kepala.
—Kamu benar.
Itu terakhir kali kami berbicara malam itu.
Enam bulan berikutnya menjadi periode paling melelahkan dalam hidupku.
Audit besar dilakukan.
Puluhan transaksi diperiksa.
Sejumlah kontrak dibatalkan.
Aset yang dialihkan secara ilegal mulai dikembalikan.
Hak pengelolaan tujuh belas hektare tanah juga dikembalikan kepada yayasan masyarakat.
Dan akhirnya, berdasarkan dokumen asli, bukti forensik, serta keputusan hukum, kepemilikan saham ibuku diakui.
Secara hukum, aku menjadi ahli waris atas kepemilikan tersebut.
Media menyebutku “pewaris yang hilang”.
Aku membenci julukan itu.
Aku tidak pernah merasa hilang.
Aku dibesarkan oleh seorang ibu yang bekerja keras, menyekolahkanku, dan mengajariku bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh seberapa mahal pakaian yang dikenakannya.
Justru perusahaan itulah yang kehilangan ibuku selama hampir tiga puluh tahun.
Ketika dewan menawarkan posisi Direktur Utama kepadaku, aku menolak.
Semua orang terkejut.
Surya bertanya,
—Bukankah ini yang diperjuangkan ibumu?
Aku menggeleng.
—Ibu memperjuangkan haknya, bukan kursi.
Aku memilih membentuk dewan baru dengan sistem pengawasan independen.
Tidak ada lagi satu keluarga yang boleh mengendalikan perusahaan sendirian.
Laporan keuangan dibuka untuk audit eksternal.
Perlindungan pelapor pelanggaran diperkuat.
Dan untuk tujuh belas hektare tanah yang hampir dirampas, perusahaan justru memberikan dana pembangunan fasilitas pendidikan, klinik, serta ruang usaha bagi warga sekitar.
Surya memutuskan pensiun setahun kemudian.
Pada hari terakhirnya, dia datang membawa sebuah kotak kecil.
Di dalamnya ada foto ibuku ketika masih muda.
Ia berdiri di depan bangunan kantor pertama yang bahkan belum selesai dibangun.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan:
“Suatu hari, perusahaan ini harus menjadi tempat orang jujur tidak perlu takut.”
Aku menangis ketika membacanya.
Bukan karena sedih.
Untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar memahami apa yang diinginkan Ibu.
Setahun setelah malam itu, aku kembali berdiri di aula yang sama.
Namun suasananya berbeda.
Tidak ada pesta mewah.
Tidak ada orang yang mengelilingi seorang pewaris.
Hari itu perusahaan mengadakan pertemuan tahunan terbuka pertama.
Di barisan belakang, aku melihat Arga.
Dia tidak lagi menjadi calon Direktur Utama.
Setelah penyelidikan, ia menjual sebagian besar saham pribadinya dan mengundurkan diri dari seluruh jabatan keluarga.
Namun ia datang bukan sebagai pemilik.
Dia datang sebagai tamu.
Setelah acara selesai, dia menghampiriku.
—Aku masih berutang sesuatu kepadamu.
Dia menyerahkan sebuah kotak.
Di dalamnya ada ponsel baru.
Aku hampir tertawa.
—Butuh satu tahun untuk mengganti ponselku?
—Aku membutuhkan satu tahun untuk memahami kenapa aku menghancurkannya.
Aku menatapnya.
Arga berkata pelan,
—Malam itu aku bukan marah karena kamu salah. Aku marah karena untuk pertama kalinya ada orang yang tidak takut kepadaku.
Dia menarik napas.
—Aku dibesarkan untuk percaya bahwa nama keluarga membuatku lebih penting daripada orang lain. Ternyata nama itu bahkan dibangun di atas kebohongan.
Aku menerima kotak tersebut.
—Setidaknya sekarang kamu tahu.
Dia mengangguk, lalu pergi.
Tidak ada kisah cinta mendadak di antara kami.
Tidak ada pengampunan ajaib.
Hanya dua orang yang akhirnya memahami bahwa memperbaiki kesalahan membutuhkan waktu lebih lama daripada mengucapkan maaf.
Aku berjalan menuju jendela besar di ujung aula.
Cahaya pagi memenuhi ruangan.
Di jariku masih terpasang cincin perak tua bergambar burung kecil.
Aku menyentuhnya perlahan.
—Kita berhasil, Bu.
Surya yang berdiri tidak jauh dariku tersenyum.
—Saya rasa ibumu akan sangat bangga.
Aku menggeleng sambil tersenyum.
—Tidak. Kalau Ibu ada di sini, mungkin beliau akan bertanya apakah aku sudah makan pagi.
Surya tertawa.
Aku ikut tertawa.
Lalu sekretarisku datang membawa dokumen pertama untuk rapat dewan baru.
Aku membukanya.
Di halaman paling depan tidak ada nama keluargaku.
Tidak ada nama Arga.
Tidak ada nama Darma.
Hanya satu kalimat yang kami sepakati sebagai prinsip baru perusahaan:
“Tidak ada seorang pun yang berada di atas aturan.”
Aku menandatanganinya.
Dua puluh sembilan tahun sebelumnya, ibuku keluar dari perusahaan itu sambil mengandungku, membawa sebuah cincin, beberapa dokumen, dan sebuah kebenaran yang belum sempat ia perjuangkan sampai akhir.
Hampir tiga dekade kemudian, aku kembali melalui pintu yang sama.
Bukan untuk merebut sebuah kerajaan.
Bukan untuk membalas dendam kepada sebuah keluarga.
Dan bukan untuk membuat orang-orang yang pernah meremehkanku membungkuk di hadapanku.
Aku kembali untuk menyelesaikan satu hal yang tertunda.
Mengembalikan nama ibuku ke tempat yang seharusnya.
Di lobi lantai dasar, sebuah dinding baru telah dipasang.
Di sana terpampang foto para pendiri perusahaan.
Foto Ratih berada di posisi pertama.
Di bawahnya tertulis:
RATIH — PENDIRI DAN PEMEGANG SAHAM UTAMA PERTAMA.
Aku berdiri cukup lama di depannya.
Kemudian aku tersenyum.
Selama dua puluh sembilan tahun, mereka berhasil menghapus namanya dari dokumen.
Mereka mengambil perusahaannya.
Mereka membuatnya hidup dalam ketakutan.
Namun ada satu hal yang gagal mereka hapus.
Kebenaran.
Dan ketika pintu gedung terbuka, aku melangkah keluar menuju cahaya pagi sambil menggenggam cincin peninggalan Ibu.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sedang membawa beban masa lalu.
Aku merasa sedang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga.
Warisan keberanian seorang ibu yang akhirnya mendapatkan kembali namanya.
TAMAT
