Aku Pura-Pura Lembur untuk Menghindari Kencan Buta, Tak Disangka Wanita yang Akan Dijodohkan Denganku Ternyata CEO Perusahaanku! Dia Langsung Menelepon: “30 Menit Lagi, Datang ke Kantor Pusat!”

Avatar penulis
Cerita 01
19 menit baca 228 tayangan
Aku Pura-Pura Lembur untuk Menghindari Kencan Buta, Tak Disangka Wanita yang Akan Dijodohkan Denganku Ternyata CEO Perusahaanku! Dia Langsung Menelepon: “30 Menit Lagi, Datang ke Kantor Pusat!”
Indeks

Aku Pura-Pura Lembur untuk Menghindari Kencan Buta, Tak Disangka Wanita yang Akan Dijodohkan Denganku Ternyata CEO Perusahaanku! Dia Langsung Menelepon: “30 Menit Lagi, Datang ke Kantor Pusat!”

Pernahkah kalian berpura-pura sibuk bekerja hanya demi menghindari sebuah kencan buta?

Aku pernah melakukannya.

Dan akibatnya, tiga puluh menit kemudian aku harus melintasi hampir separuh Jakarta hanya untuk berdiri di hadapan wanita yang baru saja kubohongi.

Yang lebih ironis, dia bukan wanita biasa.

Namanya Nadira Maheswari, Direktur Utama perusahaan tempatku bekerja.

Aku Pura-Pura Lembur untuk Menghindari Kencan Buta, Tak Disangka Wanita yang Akan Dijodohkan Denganku Ternyata CEO Perusahaanku! Dia Langsung Menelepon: “30 Menit Lagi, Datang ke Kantor Pusat!”

Sedangkan aku hanyalah Raka Pratama, dua puluh delapan tahun, seorang staf periklanan digital biasa yang bekerja di sebuah kantor cabang kecil di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Hidupku saat itu sebenarnya tidak memiliki sesuatu yang layak diceritakan.

Setiap pagi aku menyelip di antara lautan sepeda motor yang memenuhi jalanan, tiba di kantor sebelum pukul sembilan, lalu duduk di depan komputer memeriksa iklan, anggaran, dan deretan angka yang membosankan.

Setelah pulang kerja, aku kembali ke kamar kos berukuran kurang dari dua puluh meter persegi di Pancoran.

Gajiku sekitar 7,5 juta rupiah per bulan.

Setelah dipotong biaya kos, makan, bensin, pulsa, dan sesekali mengirim uang kepada orang tuaku di Cianjur, hampir tidak ada yang tersisa.

Aku belum punya rumah.

Tidak punya mobil.

Sepeda motor tua yang kukendarai sudah menemaniku sejak baru lulus kuliah.

Tabunganku bahkan belum cukup untuk membeli ponsel flagship keluaran terbaru.

Karena itu, menikah sama sekali belum masuk dalam rencana hidupku dalam waktu dekat.

Namun ibuku berpikir sebaliknya.

Pada Minggu pagi itu, ponselku terus bergetar di atas meja kecil di samping tempat tidur.

Begitu melihat tulisan Ibu di layar, aku langsung tahu bahwa hari liburku resmi berakhir.

Baru saja panggilan kuangkat, Ibu langsung bertanya,

“Raka, sampai kapan kamu mau main-main dan tidak serius memikirkan pernikahan?”

Aku menguap panjang.

“Bu, ini baru jam sembilan pagi.”

“Memangnya kenapa kalau jam sembilan? Orang seusiamu sudah punya anak yang berlarian di halaman.”

Aku tahu ceramah yang sangat kukenal itu akan segera dimulai.

Benar saja.

Ibu bercerita bahwa Nenek sudah beberapa kali menanyakan tentangku. Nenek khawatir aku hidup sendirian di Jakarta, dan kalau suatu hari sakit, tidak ada seorang pun yang merawatku.

Setelah cukup lama mengomel, Ibu akhirnya masuk ke pokok persoalan.

Seorang kerabat yang mengenal keluarga kami telah memperkenalkanku kepada seorang wanita.

Menurut Ibu, wanita itu juga bekerja di Jakarta, memiliki pekerjaan tetap, berasal dari keluarga baik-baik, dan memiliki kepribadian yang serius.

Yang paling penting, kedua keluarga sudah sepakat mengatur pertemuan kami pukul dua siang di sebuah kafe di Kuningan.

Aku langsung bangkit dari tempat tidur.

“Hari ini?”

“Iya. Ibu sudah kirim nomor WhatsApp-nya.”

Aku merasa Minggu pagiku yang indah baru saja dibungkus seseorang lalu dilempar begitu saja ke Kali Ciliwung.

Aku membenci kencan buta.

Dua orang asing duduk berhadapan, memesan dua cangkir kopi, kemudian mengajukan pertanyaan yang terdengar seperti wawancara kerja.

Kerja di mana?

Gaji berapa?

Sudah punya rumah?

Kapan mau menikah?

Aku tidak punya sesuatu yang istimewa untuk menjawab semua pertanyaan itu.

Maka aku mulai mencari jalan keluar.

Pertama, aku pura-pura sakit perut.

Namun Ibu hanya perlu mendengar beberapa kalimat untuk mengetahui aku sedang berbohong.

“Katanya sakit perut, tapi suara kamu masih segar begitu?”

Aku langsung mengganti strategi.

Aku berdeham, lalu mencoba berbicara dengan nada seserius mungkin.

“Bu, sebenarnya tadi kantor menelepon. Ada masalah dengan anggaran salah satu akun iklan besar. Bos menyuruh seluruh tim masuk untuk lembur dan menangani masalah darurat. Kalau aku tidak datang, bisa-bisa aku kehilangan pekerjaan.”

Di ujung telepon, Ibu terdiam selama beberapa detik.

Tepat seperti yang sudah kuduga.

Ibu mungkin bisa memaksaku pergi kencan buta, tetapi beliau tidak mungkin menyuruhku mengabaikan pekerjaan.

Akhirnya beliau menghela napas.

“Baiklah. Pekerjaan memang penting. Tapi kamu harus mengirim pesan WhatsApp sendiri kepada wanita itu dan meminta maaf. Jangan sampai orang menunggu sendirian.”

Aku langsung menyetujuinya.

Setelah menutup telepon, aku dengan gembira membuka kulkas, mengambil sebotol air, lalu duduk kembali di tempat tidur.

Rencana sempurna.

Aku hanya perlu mengirim pesan permintaan maaf yang sopan.

Setelah itu, aku bisa menghabiskan sepanjang hari bermain gim.

Aku menyimpan nomor yang dikirim Ibu, lalu membuka WhatsApp.

Foto profilnya muncul.

Botol air di tanganku langsung jatuh ke lantai.

Aku mengucek mata.

Melihat sekali lagi.

Kemudian memperbesar fotonya.

Wanita di foto itu mengenakan setelan hitam. Rambutnya yang sebahu tertata rapi, sementara tatapan matanya terlihat tenang namun tajam.

Aku pernah melihat wajah itu di layar besar dalam rapat perusahaan.

Tidak mungkin aku salah mengenalinya.

Wanita itu adalah Nadira Maheswari.

Direktur Utama Nusantara Vista Media Group.

Perempuan yang menduduki kursi tertinggi di perusahaan tempatku bekerja.

Namanya saja cukup membuat para kepala divisi memperbaiki posisi duduk ketika rapat dimulai. Nadira dikenal tegas, sangat disiplin, dan hampir tidak pernah memberi toleransi kepada orang yang bekerja setengah hati.

Aku menatap foto profil itu sekali lagi.

Lalu melihat nomor yang dikirim Ibu.

Sama.

Jantungku mulai berdetak tidak beraturan.

“Tidak mungkin…”

Aku bahkan belum selesai bergumam ketika ponselku bergetar.

Sebuah nomor yang belum kusimpan menelepon.

Entah kenapa, firasat buruk langsung menjalar dari tengkuk hingga punggungku.

Aku mengangkat telepon dengan tangan gemetar.

“Halo?”

Tidak ada suara selama dua detik.

Kemudian terdengar suara wanita yang jernih, tenang, tetapi cukup dingin untuk membuatku duduk tegak.

“Raka Pratama.”

Aku menelan ludah.

“N-namun siapa?”

“Nomor pegawai NV-2741. Digital Advertising, kantor cabang Pasar Minggu. Tiga kali terlambat bulan ini. Penilaian kinerja kuartal terakhir: cukup.”

Aku membeku.

Aku mengenal suara itu.

“Bu… Nadira?”

“Katanya kamu sedang lembur?”

Aku merasa seluruh darah di tubuhku turun ke kaki.

“Bu, saya bisa jelaskan.”

“Bagus.”

Suaranya tetap datar.

“Jelaskan langsung di depan saya.”

Aku belum sempat menjawab ketika Nadira melanjutkan.

“Kalau kamu begitu mencintai pekerjaan sampai harus memakai nama perusahaan untuk menghindari urusan pribadi, saya rasa semangat itu harus dihargai.”

Aku menutup mata.

Selesai sudah hidupku.

“Tiga puluh menit lagi, datang ke kantor pusat di Sudirman.”

“Bu, hari ini Minggu…”

“Dua puluh sembilan menit lima puluh detik.”

Sambungan terputus.

Aku menatap layar ponsel.

Sepuluh detik berikutnya menjadi sepuluh detik paling bodoh dalam hidupku.

Kemudian aku melompat dari tempat tidur.

Aku mandi secepat mungkin, mengenakan kemeja putih yang bahkan belum sempat kusetrika ulang, mengambil dompet, lalu berlari keluar dari kos.

Sepeda motorku terlalu lambat untuk menghadapi kemacetan Jakarta.

Aku memesan ojek online dengan layanan tercepat.

Begitu pengemudinya tiba, aku langsung naik.

“Pak, Sudirman. Kalau bisa agak cepat.”

Pengemudi itu melihat wajahku dari kaca spion.

“Dikejar utang, Mas?”

“Lebih parah.”

Dua puluh delapan menit kemudian aku berdiri di lobi gedung kantor pusat dengan napas tersengal.

Petugas keamanan memeriksa kartu pegawaiku.

“Pak Raka?”

Aku mengangguk.

“Bu Nadira sudah menunggu.”

Kalimat itu terdengar seperti pengumuman menuju ruang eksekusi.

Aku naik lift ke lantai tiga puluh.

Ketika pintu terbuka, lorong kantor sangat sepi.

Aku berhenti di depan pintu ruang Direktur Utama dan mengetuk tiga kali.

“Masuk.”

Nadira duduk di belakang meja besar menghadap jendela kaca yang memperlihatkan Jakarta dari ketinggian.

Dia tidak mengenakan blazer seperti biasanya. Hanya blus berwarna krem dan celana panjang hitam.

Tetapi auranya tetap membuat lututku terasa lemah.

Aku berdiri beberapa meter di depan meja.

“Bu, mengenai tadi…”

“Buatkan saya kopi.”

Aku terdiam.

“Maaf?”

“Kopi hitam. Tanpa gula.”

Aku hampir bertanya apakah aku benar-benar dipanggil ke sini hanya untuk membuat kopi, tetapi naluri bertahan hidup menyuruhku menutup mulut.

Aku pergi ke pantry kecil di sudut ruangan.

Masalah baru muncul.

Mesin kopi Nadira terlihat seperti panel kendali pesawat.

Sementara pengalaman membuat kopiku sebatas menuangkan kopi instan ke gelas lalu menambahkan air panas.

Sepuluh menit kemudian, aku membawa cangkir pertama.

Nadira mencicipinya.

“Terlalu encer.”

Cangkir kedua.

“Over-extracted.”

Cangkir ketiga.

“Airnya terlalu panas.”

Cangkir keempat.

“Cangkirnya belum dipanaskan.”

Pada percobaan keenam, lenganku sudah pegal dan keringat membasahi punggung.

Nadira mencicipinya.

Kali ini dia tidak langsung mengkritik.

Dia meletakkan cangkir perlahan.

“Duduk.”

Aku duduk seperti murid yang dipanggil kepala sekolah.

Nadira menatapku.

“Kalau tidak ingin datang ke pertemuan tadi, kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya?”

Aku menunduk.

“Saya tidak ingin membuat Ibu saya kecewa.”

“Jadi kamu memilih berbohong?”

Aku tidak punya jawaban.

Nadira menyandarkan tubuh pada kursinya.

“Raka, seseorang boleh gagal. Boleh takut. Boleh belum siap menikah. Tetapi kalau setiap masalah diselesaikan dengan bersembunyi di balik kebohongan, kamu tidak akan pernah tumbuh.”

Wajahku panas.

“Dan jangan memakai perusahaan sebagai alasan palsu.”

“Saya minta maaf, Bu.”

“Besok masuk kerja seperti biasa.”

Aku mengangkat kepala.

“Hanya itu?”

“Kalau kamu ingin saya pecat, saya bisa mempertimbangkannya.”

“Tidak, Bu. Terima kasih, Bu.”

Aku hampir berlari keluar.

Keesokan paginya, aku datang ke kantor cabang Pasar Minggu dengan perasaan masih tidak tenang.

Belum lima menit duduk, atasanku, Pak Budi Santoso, memanggilku.

Di atas mejanya ada selembar surat.

“Raka.”

“Ya, Pak?”

“Kamu punya kenalan di kantor pusat?”

“Tidak.”

Pak Budi mendorong surat itu kepadaku.

Aku membaca baris pertama.

Lalu kedua.

Kemudian seluruh tubuhku kaku.

Aku dipindahkan ke Divisi Strategic Marketing di kantor pusat Sudirman, efektif mulai hari itu.

“Pak…”

Pak Budi menatapku.

“Saya juga tidak tahu apa yang terjadi. Suratnya ditandatangani langsung dari tingkat direksi.”

Aku tahu persis apa yang terjadi.

Nadira belum selesai denganku.

Sore itu aku tiba di kantor pusat membawa satu kardus berisi barang-barang dari meja lamaku.

Divisi baru dipimpin oleh Maya Kusuma, seorang manajer berusia sekitar tiga puluh lima tahun dengan cara bicara cepat dan tatapan tajam.

Setelah menunjukkan mejaku, Bu Maya berkata,

“Saya tidak tahu mengapa Anda dipindahkan langsung ke sini. Tapi saya akan mengatakan satu hal.”

Aku menunggu.

“Di divisi ini tidak ada tempat untuk orang malas.”

Aku mengangguk.

“Baik, Bu.”

Minggu pertama hampir menghancurkanku.

Di kantor cabang, aku hanya mengelola beberapa kampanye iklan.

Di sini, aku harus membaca data dari puluhan wilayah, mempelajari perilaku konsumen, membuat proyeksi anggaran miliaran rupiah dan menjelaskan keputusan di depan para manajer senior.

Aku bekerja sampai malam hampir setiap hari.

Nadira sendiri seolah muncul di mana-mana.

Aku bertemu dengannya di basement.

Bertemu lagi di minimarket bawah gedung.

Lalu suatu sore, dia tiba-tiba masuk ke ruang rapat divisi.

Saat itu aku sedang bosan dan tanpa sadar menggambar karikatur seorang wanita dengan dua tanduk kecil dan cambuk di tangan.

Karikatur itu jelas-jelas menyerupai Nadira.

Sialnya, satu-satunya kursi kosong berada tepat di sebelahku.

Nadira duduk.

Beberapa menit kemudian pandangannya jatuh pada buku catatanku.

Aku buru-buru hendak menutupnya.

Telunjuknya lebih cepat.

Dia menahan halaman itu.

Melihat gambar tersebut.

Lalu menatapku.

“Lumayan.”

Aku berharap lantai kantor terbuka dan menelanku.

“Mungkin saya salah menempatkan kamu. Seharusnya ke divisi desain.”

“Bu, itu cuma…”

“Lanjutkan rapat.”

Sudut bibirnya terangkat sedikit.

Entah kenapa, saat itu untuk pertama kalinya aku merasa Nadira tidak seseram yang kubayangkan.

Beberapa hari kemudian Bu Maya memberiku tugas besar.

Engagement kampanye salah satu klien terbesar perusahaan turun hampir tiga puluh persen.

Aku diminta mencari penyebabnya.

Aku bekerja sampai pukul sembilan lewat tiga puluh malam.

Setelah berjam-jam memeriksa data, akhirnya kutemukan masalah utamanya.

Perilaku kelompok pelanggan utama berubah, tetapi distribusi anggaran iklan masih menggunakan pola lama.

Aku menyelesaikan laporan.

Saat hendak mematikan komputer, seseorang mengetuk kaca.

Nadira berdiri di sana.

“Sudah selesai?”

“Sudah.”

“Matikan komputer.”

Aku tegang.

“Kenapa, Bu?”

“Makan.”

Dia membawaku ke sebuah warung soto Betawi sederhana di belakang kawasan Kuningan.

Aku hampir tidak percaya melihat Direktur Utama Nusantara Vista duduk di kursi plastik dengan semangkuk soto mengepul di depan wajahnya.

“Jangan melihat saya seperti itu,” katanya.

“Saya kira Ibu makan malamnya selalu di hotel.”

“Memangnya direktur utama tidak punya lambung?”

Aku tertawa.

Dia ikut tersenyum.

Malam itu Nadira mengatakan sesuatu yang tidak pernah kuduga.

Dia sudah memperhatikan hasil pekerjaanku sejak sebelum pertemuan kencan buta itu.

Beberapa kampanye kecil yang kukerjakan memiliki pola analisis yang menarik.

“Masalah kamu bukan kemampuan,” katanya.

“Lalu?”

“Kamu malas.”

Aku hampir tersedak.

“Kamu bisa menghasilkan delapan dari sepuluh, tapi selalu berhenti di enam karena enam sudah cukup untuk menerima gaji.”

Aku terdiam.

Dia benar.

“Jadi Ibu memindahkan saya ke kantor pusat?”

“Saya ingin tahu apa yang terjadi kalau kamu tidak punya tempat untuk bersembunyi.”

Sejak malam itu aku berubah.

Aku mulai datang lebih pagi.

Belajar data analytics.

Mengambil proyek yang sebelumnya kuhindari.

Pelan-pelan, aku mulai merasa bahwa aku memang mampu berada di sana.

Hubunganku dengan Nadira pun ikut berubah.

Di kantor dia tetap atasanku.

Tetapi setelah jam kerja, terkadang kami makan bakso, martabak, atau nasi goreng di warung pinggir jalan.

Dia ternyata sangat menyukai makanan sederhana.

Katanya, itu mengingatkannya pada masa kuliah ketika uang bulanannya terbatas dan ia belum menjadi siapa-siapa.

Suatu malam hujan Jakarta turun begitu deras.

Beberapa jalan di sekitar Kuningan mulai tergenang.

Mobil Nadira tidak mungkin melewati genangan.

Kami memutuskan berjalan menuju warung seafood yang tidak jauh dari kantor.

Aku membawa payung.

Air mencapai mata kaki.

Nadira memakai sepatu hak tinggi dan hampir terpeleset beberapa kali.

Akhirnya dia memegang lenganku.

Ketika kami sampai, tumit kakinya lecet dan memerah.

Aku meminta air hangat kepada pemilik warung.

“Apa yang kamu lakukan?” tanyanya.

“Kaki Ibu terluka.”

“Tidak perlu.”

“Besok kalau sakit, siapa yang akan meneror satu gedung?”

Nadira menatapku.

Kemudian, untuk pertama kalinya, dia menurut tanpa berdebat.

Aku membersihkan luka kecil itu.

Wajah Nadira sedikit memerah.

Di bawah suara hujan yang menghantam terpal warung, sesuatu berubah di antara kami.

Aku tidak lagi melihatnya hanya sebagai direktur utama.

Dan cara dia menatapku mengatakan bahwa mungkin dia juga mulai melihatku bukan sekadar pegawai.

Masalah muncul beberapa minggu kemudian.

Sebuah kotak jam tangan mewah ditemukan di atas mejaku.

Bu Maya menarikku ke sudut kantor.

“Raka, ada gosip tentang kamu.”

“Gosip apa?”

“Orang bilang kamu naik ke kantor pusat karena dekat dengan Bu Nadira.”

Darahku mendidih.

Aku langsung membawa kotak itu ke ruangan Nadira.

“Saya tidak bisa menerima ini.”

Dia melihat jam tersebut.

“Dari siapa?”

“Saya pikir dari Ibu.”

Wajahnya langsung berubah.

“Saya tidak pernah mengirim ini.”

Tim compliance dipanggil.

Hasil pemeriksaan menemukan bahwa jam senilai hampir seratus juta rupiah itu berasal dari salah satu vendor yang sedang mencoba mendapatkan kontrak besar.

Mereka mendengar rumor bahwa aku dekat dengan Nadira dan mencoba menjadikanku jalan masuk.

Nadira sangat marah.

Vendor itu langsung masuk dalam pemeriksaan internal.

Sebelum aku keluar dari ruangannya, Nadira berkata,

“Mulai sekarang jangan menerima hadiah dari siapa pun.”

“Baik.”

“Terutama dari perempuan.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

Nadira terdiam.

Wajahnya sedikit berubah.

“Maksud saya… siapa pun.”

Aku menahan senyum.

Saat itulah aku mulai yakin.

Perasaanku mungkin tidak bertepuk sebelah tangan.

Namun kemudian Reyhan Wijaya muncul.

Dia adalah perwakilan dari kelompok investasi besar yang hendak bekerja sama dengan perusahaan kami.

Usianya tiga puluh lima tahun.

Pendidikannya luar negeri.

Keluarganya memiliki jaringan bisnis yang dikenal luas.

Dan dia sudah mengenal Nadira sejak kecil.

Saat Reyhan datang ke kantor, dia memeluk Nadira dengan akrab.

Pegawai mulai berbisik.

“Cocok banget.”

“Keluarga mereka dekat dari dulu.”

“Katanya pernah mau dijodohkan.”

Aku berdiri di belakang ruang acara.

Tiba-tiba aku sadar betapa jauhnya dunia Nadira dari duniaku.

Reyhan memiliki kekayaan, pendidikan, jaringan, dan keluarga yang setara dengannya.

Aku?

Aku masih tinggal di kamar kos Pancoran.

Motor tuaku bahkan kadang harus ditendang dua kali sebelum bisa menyala.

Sejak hari itu aku mulai menjaga jarak.

Aku berhenti makan malam bersama Nadira.

Menghindari laporan langsung.

Sepulang kerja, aku segera pulang.

Beberapa hari kemudian Reyhan meneleponku.

Kami bertemu di sebuah kafe hotel.

Dia langsung berbicara.

“Saya tahu kamu menyukai Nadira.”

Aku diam.

“Saya tidak akan merendahkan kamu, Raka. Tapi kamu harus memahami dunia tempat Nadira hidup.”

Dia menjelaskan bagaimana reputasi Nadira dibangun bertahun-tahun.

Bagaimana hubungan dengan bawahan bisa menjadi senjata bagi orang-orang yang ingin menjatuhkannya.

“Kalau kamu benar-benar peduli kepadanya, mungkin menjauh adalah pilihan terbaik.”

Aku tidak bisa membantah.

Malam itu aku memblokir nomor Nadira.

Aku pikir aku sedang melakukan sesuatu yang benar.

Ternyata aku hanya mengulangi kebiasaan lamaku.

Lari.

Dua hari kemudian, ketika aku berjalan di jembatan pejalan kaki dekat Dukuh Atas, sebuah mobil hitam berhenti di bawah.

Nadira keluar.

Dia naik tangga hampir berlari.

Bahkan melepas sepatu hak tingginya karena kesulitan mengejarku.

“Raka!”

Aku berhenti.

Dia berdiri di depanku sambil terengah.

“Kenapa kamu memblokir saya?”

“Kita seharusnya berhenti.”

“Berhenti apa?”

Aku menunduk.

“Saya tahu posisi saya.”

Wajahnya berubah.

“Saya cuma pegawai biasa. Reyhan jauh lebih cocok denganmu.”

Beberapa detik Nadira hanya memandangiku.

Kemudian dia tertawa.

Bukan karena lucu.

Lebih seperti seseorang yang sudah kehabisan kesabaran menghadapi orang bodoh.

“Raka.”

“Apa?”

“Kamu tahu siapa yang mengatur pertemuan kencan buta kita?”

“Ibu saya?”

“Bukan.”

Aku menatapnya.

“Saya.”

Aku benar-benar kehilangan kata-kata.

Nadira menjelaskan bahwa dia sudah memperhatikan pekerjaanku beberapa bulan sebelumnya.

Melalui koneksi keluarga, dia mengetahui bahwa ibunya mengenal kerabat keluargaku di Cianjur.

Dialah yang meminta pertemuan itu diatur.

“Jadi sejak awal…”

“Saya memang ingin bertemu kamu.”

“Dan saya justru berbohong harus lembur untuk menghindari kamu?”

Nadira menutup wajah sebentar.

Lalu tertawa.

Untuk pertama kalinya aku melihatnya tertawa tanpa menahan diri.

Kemudian ekspresinya berubah lembut.

“Raka, saya tidak membutuhkan laki-laki yang lebih kaya daripada saya.”

Aku terdiam.

“Saya bisa membeli rumah sendiri. Saya bisa membeli mobil sendiri. Saya bisa menjaga diri saya sendiri.”

Dia menatap lurus ke mataku.

“Yang saya butuhkan adalah seseorang yang tidak memperlakukan saya seperti jabatan. Seseorang yang bisa duduk makan soto bersama saya di warung. Seseorang yang melihat kaki saya terluka dan langsung membantu tanpa berpikir apakah saya direktur utama atau bukan.”

Mataku terasa panas.

“Jangan memutuskan untuk saya siapa yang pantas saya cintai.”

Kalimat itu menghancurkan seluruh tembok yang kubangun.

Aku memeluknya.

Untuk pertama kalinya aku mengatakan,

“Aku mencintaimu.”

Nadira bersandar pada dadaku.

“Aku tahu.”

Aku tertawa.

“Bisa tidak sekali saja kamu membiarkan aku terdengar romantis?”

“Tidak.”

Sejak malam itu kami mulai berpacaran.

Tetapi kami sepakat menjaga profesionalitas.

Hubungan kami dilaporkan secara resmi kepada bagian HR dan dewan perusahaan. Semua keputusan mengenai penilaian kinerja, promosi, dan kompensasiku dipindahkan ke jalur manajemen lain agar tidak terjadi konflik kepentingan.

Aku justru semakin keras bekerja.

Aku ingin setiap pencapaianku memiliki namaku sendiri.

Bukan bayangan Nadira.

Setahun kemudian aku memimpin satu tim dalam proyek nasional.

Kami berhasil meningkatkan pendapatan salah satu lini bisnis secara signifikan.

Untuk pertama kalinya, ketika namaku disebut dalam rapat sebagai orang yang memimpin keberhasilan itu, tidak ada seorang pun yang berbisik bahwa aku mendapatkannya karena Nadira.

Aku mendapatkannya karena pekerjaan.

Pada akhir tahun, aku membawa Nadira pulang ke Cianjur.

Dia meninggalkan blazer mahalnya di Jakarta.

Hanya mengenakan blus sederhana dan celana panjang.

Ibuku hampir menjatuhkan nampan ketika melihatnya.

“Ini… perempuan yang waktu itu?”

Aku mengangguk.

Nadira tersenyum.

“Maaf, Bu. Pertemuan pertama kami memang sedikit kacau.”

“Sedikit?”

Aku berbisik.

Nadira menyikut lenganku.

Siang itu kami makan nasi liwet, ayam kampung, gurame goreng, sayur asem, lalapan, dan sambal terasi.

Nadira membantu Ibu di dapur.

Dia bahkan mencuci piring meskipun Ibu terus melarangnya.

Malamnya Nenek memanggil kami.

Dari sebuah kotak kayu tua, Nenek mengeluarkan cincin emas sederhana.

“Ini bukan barang mahal,” katanya sambil memasangkannya ke jari Nadira.

“Tapi sudah lama ada di keluarga.”

Mata Nadira langsung berkaca-kaca.

Nenek menepuk tangannya.

“Banyak uang tidak menjamin rumah tangga bahagia. Yang penting kalian tahu bagaimana saling menjaga.”

Aku melihat Nadira menangis untuk pertama kalinya.

Bukan sebagai CEO.

Bukan sebagai perempuan kuat yang memimpin ribuan pegawai.

Hanya sebagai seorang perempuan yang akhirnya merasa diterima menjadi bagian dari sebuah keluarga.

Beberapa bulan kemudian, tepat satu tahun setelah hari ketika aku pura-pura lembur, Nadira datang ke kamar kosku membawa beberapa kantong belanja.

Dia bersikeras ingin memasak nasi liwet sendiri.

Hasilnya adalah bencana.

Asap memenuhi dapur.

Bagian bawah nasi gosong.

Ikan hampir hangus.

Nadira berdiri di tengah dapur dengan celemek, rambut berantakan dan noda hitam kecil di pipinya.

Aku tertawa sampai perutku sakit.

“Jangan tertawa!”

“Kamu bisa mengelola perusahaan bernilai triliunan rupiah, tapi kalah sama rice cooker.”

“Aku bisa memecatmu.”

“Kamu bukan atasanku lagi dalam urusan penilaian.”

Dia menatapku tajam.

Lalu ikut tertawa.

Ketika suasana tenang, Nadira memasukkan tangan ke saku celemek.

Dia mengeluarkan kotak kecil.

Aku berhenti tertawa.

Di dalamnya ada dua cincin.

“Nadira…”

“Aku tadinya mau mengeluarkan ini setelah makan malam.”

Aku melihat nasi yang gosong.

“Sepertinya makan malam mengorbankan dirinya demi momen ini.”

Dia memukul lenganku pelan.

Kemudian Nadira menatapku serius.

“Raka Pratama.”

“Ya?”

“Perusahaan bisa mencari pegawai lain.”

Aku mengangkat alis.

“Tapi aku tidak ingin mencari laki-laki lain.”

Dadaku terasa sesak.

Nadira mengulurkan cincin.

“Mau menikah denganku?”

Aku menatapnya lama.

“Kamu sedang melamar aku?”

“Anggap saja perintah direktur utama.”

Aku tertawa.

“Itu penyalahgunaan jabatan.”

“Jawabannya?”

Aku mengambil cincin itu.

“Iya.”

Tiga bulan kemudian kami menikah di Cianjur.

Bukan di ballroom hotel mewah.

Bukan dengan dekorasi yang menghabiskan miliaran rupiah.

Kami mengadakan pernikahan hangat bersama keluarga, teman dekat, dan beberapa rekan kerja.

Nadira mengenakan kebaya berwarna krem dengan kain batik yang sederhana dan anggun.

Nenek duduk di barisan depan.

Bu Maya datang dari Jakarta.

Pak Budi juga hadir dan berkali-kali menggeleng sambil berkata bahwa dia masih tidak percaya pegawai yang dulu sering terlambat itu sekarang menikahi Direktur Utama perusahaan.

Menjelang malam, ketika sebagian besar tamu mulai pulang, aku berdiri bersama Nadira di halaman rumah orang tuaku.

Lampu-lampu kecil tergantung di atas kami.

Dari dapur masih tercium aroma nasi liwet.

Suara keluarga bercampur dengan tawa anak-anak yang berlarian.

Aku memandang perempuan di sampingku.

Semua ini berawal dari satu kebohongan sederhana.

Aku hanya ingin menghindari kencan buta.

Aku mengatakan kepada Ibu bahwa aku harus lembur.

Aku tidak pernah menduga perempuan yang ingin kuhindari ternyata adalah orang yang pada akhirnya mengubah seluruh hidupku.

Nadira tidak menjadikanku sukses dengan uangnya.

Dia tidak memberiku jalan pintas.

Dia hanya membuka sebuah pintu dan memaksaku melihat bahwa selama ini orang yang paling sering menghalangi langkahku adalah diriku sendiri.

Aku terlalu takut gagal.

Terlalu mudah puas.

Dan terlalu sering melarikan diri ketika merasa tidak cukup baik.

Darinya aku belajar bahwa menjadi pantas bagi seseorang bukan berarti harus memiliki jumlah uang yang sama.

Bukan berarti harus lahir dari keluarga yang sama kayanya.

Bukan berarti harus mengendarai mobil yang sama mahalnya.

Kadang yang dibutuhkan hanyalah keberanian untuk tumbuh.

Kejujuran untuk mengatakan apa yang kita rasakan.

Dan kemauan untuk tetap berdiri ketika hidup terasa lebih besar daripada kita.

Nadira menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Apa yang kamu pikirkan?”

Aku tersenyum.

“Kalau waktu bisa diputar, mungkin aku tetap akan pura-pura lembur.”

Dia langsung mengangkat kepala.

“Apa?”

Aku tertawa.

“Karena kalau aku tidak melakukan kebodohan itu, mungkin aku tidak akan dipanggil ke kantor pusat, tidak akan dipaksa membuat enam cangkir kopi gagal, dan tidak akan sampai di sini.”

Nadira menyipitkan mata.

“Jadi kamu bangga sudah berbohong?”

“Bukan begitu maksudku.”

Dia mencubit lenganku.

Aku tertawa dan menariknya lebih dekat.

Di tengah halaman rumah sederhana di Cianjur, perempuan yang dulu hanya bisa kulihat dari layar besar dalam rapat kini berdiri sebagai istriku.

Dan aku akhirnya memahami sesuatu.

Kadang-kadang orang yang paling kita hindari justru membawa kita menuju kehidupan yang selama ini tidak berani kita bayangkan.

Aku hanya ingin kabur dari sebuah kencan buta.

Tetapi hidup punya rencana lain.

Dan untungnya, kali ini aku berhenti berlari.