Bagian 3 — Rekaman Kamera Membalikkan Keadaan, dan Mereka Baru Panik Saat Aku Benar-Benar Membatalkan Pernikahan
Aku menonton rekaman itu dua kali.
Bukan karena tidak percaya.
Aku hanya ingin memastikan telingaku tidak sedang mengubah sesuatu karena marah.
Namun kalimat Bu Ratna tetap sama.
“Bikin dia malu sedikit saja. Biar dari awal dia tahu rumah itu milik siapa.”
Di video itu, Kezia sempat tertawa.
Lalu bertanya,
“Kalau dia marah?”
Bu Ratna menjawab,
“Raka bisa mengendalikan dia.”
Dadaku terasa kosong.
Bukan sakit.
Aneh sekali.
Justru kosong.
Selama hampir tiga tahun mengenal Raka, aku berkali-kali meyakinkan diriku bahwa keluarganya hanya “berbeda gaya komunikasi”.
Bu Ratna cerewet karena perhatian.
Kezia kasar karena masih muda.
Raka diam karena tidak suka konflik.
Itulah semua alasan yang kugunakan.
Sampai hari pernikahanku sendiri menunjukkan arti sebenarnya.
Bu Ratna bukan sekadar ikut campur.
Ia memang ingin menguji seberapa jauh aku bisa dipermalukan.
Kezia bukan sekadar tidak sopan.
Ia merasa punya hak atas rumah yang kurenovasi.
Dan Raka bukan sekadar tidak suka konflik.
Dia nyaman membiarkan orang lain menyakitiku selama ketenangan dirinya tidak terganggu.
Aku menutup laptop.
“Mas Dimas, simpan file ini bersama rekaman kejadian tadi.”
“Sudah, Mbak.”
“Jangan diberikan kepada siapa pun tanpa persetujuan saya.”
“Siap.”
Raka langsung menyela.
“Itu dokumentasi acara kita juga.”
Aku menatapnya.
“Acara kita?”
Aku menunjuk cincin di meja.
“Tidak ada acara kita lagi.”
“Laras.”
Untuk pertama kalinya sejak polisi datang, nada suaranya berubah.
Bukan marah.
Panik.
“Kita bicara berdua.”
“Tidak.”
“Aku minta lima menit.”
“Tidak.”
“Jangan bikin keputusan waktu emosi.”
Aku hampir ingin tertawa.
Aneh sekali mendengar kalimat itu dari seseorang yang lima belas menit sebelumnya menganggap menarik kepala calon pengantinnya sebagai bercanda.
Aku menjawab,
“Keputusan paling buruk yang saya buat selama ini justru keputusan yang terlalu lama saya pikirkan.”
Mama menggenggam tanganku.
Papa berdiri di sampingku.
Aku menoleh kepada keduanya.
“Ma, Pa.”
Mereka menatapku.
“Akadnya batal.”
Mama menutup mulut.
Bukan karena terkejut.
Matanya justru langsung penuh air.
“Yakin?”
Aku mengangguk.
“Yakin.”
Papa tidak bertanya dua kali.
Ia menoleh kepada penghulu yang sejak tadi berada di ruang tunggu dan menjelaskan bahwa akad dibatalkan oleh pihakku sebelum dilaksanakan.
Kemudian ia berjalan ke depan ballroom.
Mengambil mikrofon.
Suara Papa tidak keras.
Tetapi seluruh ruangan langsung diam.
“Bapak-Ibu, keluarga dan sahabat sekalian.”
“Terima kasih sudah datang.”
“Dengan berat hati kami sampaikan bahwa pernikahan putri kami, Larasati Pramesti, dengan Raka Adinata tidak dilanjutkan.”
Terdengar beberapa seruan kaget.
Papa melanjutkan,
“Untuk menghormati proses yang sedang berlangsung, kami tidak akan membuka semua persoalan keluarga di sini.”
“Namun putri kami telah mengalami tindakan fisik dan penghinaan sebelum akad berlangsung.”
“Sebagai orang tua, kami mendukung keputusannya.”
Lalu Papa membungkukkan badan.
“Mohon maaf atas ketidaknyamanan hari ini. Makanan tetap tersedia. Silakan Bapak-Ibu menikmati jamuan sebelum pulang.”
Aku menatap punggungnya.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, air mataku hampir jatuh.
Bukan karena Raka.
Karena Papa.
Ia tidak berkata aku memalukan keluarga.
Tidak berkata orang akan bergosip.
Tidak berkata “sudah terlanjur”.
Ia hanya berdiri di depanku.
Itulah yang seharusnya dilakukan seseorang ketika keluarganya disakiti.
Raka malah menghampiri Papa.
“Om, jangan begini. Saya sama Laras masih bisa bicara.”
Papa menatapnya.
“Ketika kepala anak saya ditarik di depan dua ratus orang, kamu bilang lanjut acara.”
Raka membeku.
“Sekarang acara tidak lanjut.”
Papa mengangguk pelan.
“Bukankah lebih mudah?”
Raka tidak mampu menjawab.
Polisi kemudian meminta Kezia memberikan keterangan awal.
Ia terus mengulang bahwa dirinya hanya “iseng”.
Namun rekaman kamera memperlihatkan dengan jelas ia berlari dari sisi panggung, menarik kerudungku dengan tenaga cukup besar, lalu meneriakkan penghinaan.
Lebih buruk lagi, rekaman sebelum acara menunjukkan percakapannya dengan Bu Ratna.
Petugas tidak langsung menyimpulkan perkara di ballroom.
Mereka menjelaskan langkah berikutnya.
Aku diminta melakukan pemeriksaan medis agar kondisi fisikku terdokumentasi.
Aku setuju.
Sore itu, sementara tamu mulai pulang, Mama menemaniku ke rumah sakit.
Hasil pemeriksaan menunjukkan ada lecet ringan pada kulit kepala dan beberapa rambut tercabut akibat tarikan.
Tidak parah.
Aku bersyukur.
Tetapi justru karena tidak parah, Bu Ratna merasa punya alasan baru.
Malamnya ia mengirim pesan panjang.
“Laras, Ibu akui Kezia salah. Tapi kamu calon guru teladan, seharusnya tahu cara memaafkan. Kalau masalah kecil seperti ini dibawa ke polisi, masa depan anak bisa rusak.”
Aku membaca kalimat itu tiga kali.
Lalu menyimpan tangkapan layarnya.
Tidak kubalas.
Lima menit kemudian pesan kedua masuk.
“Kalau masalahmu uang renovasi, nanti kita hitung baik-baik. Jangan karena uang menghancurkan hubungan.”
Aku simpan lagi.
Pesan ketiga datang.
“Raka dari tadi tidak makan. Dia terpukul sekali.”
Untuk yang satu itu aku benar-benar tertawa.
Aku yang ditarik rambutnya.
Aku yang dihina.
Aku yang dipermalukan.
Tetapi yang harus kukhawatirkan ternyata laki-laki yang tidak makan malam.
Aku memblokir nomor Bu Ratna.
Raka menelepon dua puluh tujuh kali.
Tidak kuangkat.
Sekitar pukul sebelas malam dia datang ke rumah orang tuaku.
Papa tidak mengizinkannya masuk.
Raka berdiri di depan pagar hampir satu jam.
Akhirnya aku keluar.
Bukan untuk berdamai.
Aku membawa satu map.
Raka terlihat kacau.
Jas pengantinnya sudah tidak dipakai.
Kemejanya kusut.
Begitu melihatku, ia langsung berkata,
“Laras, aku salah.”
Aku berdiri di balik pagar.
“Bagian mana?”
Ia terdiam.
“Nah.”
Aku mengangguk.
“Bahkan sekarang kamu tidak tahu bagian mana.”
“Aku seharusnya membelamu.”
“Ya.”
“Aku seharusnya marah ke Kezia.”
“Ya.”
“Aku enggak tahu Ibu menyuruh dia mempermalukanmu.”
“Baik.”
“Aku benar-benar enggak tahu.”
Aku menatapnya.
“Tapi kamu tahu soal rumah.”
Ia diam.
“Kamu tahu ibumu ingin Kezia tinggal di sana.”
“Cuma sementara.”
“Berapa lama?”
“Belum tahu.”
“Satu bulan?”
Ia diam.
“Enam bulan?”
Tetap diam.
Aku mengangkat alis.
“Permanen?”
“Laras, bukan begitu.”
“Kalau bukan begitu, jelaskan.”
Raka mengusap wajah.
“Kezia mau buka usaha nail studio di Bandung. Rumah itu dekat jalan besar. Ibu pikir lantai bawah bisa dipakai sementara.”
Aku menatapnya tanpa bicara.
Ia melanjutkan dengan cepat,
“Kita masih bisa tinggal di lantai dua.”
Akhirnya aku tertawa.
Benar-benar tertawa.
“Jadi rumah yang saya keluarkan Rp186 juta untuk direnovasi akan dipakai sepupumu berbisnis di bawah, lalu saya boleh tinggal di atas?”
“Bukan ‘boleh’.”
“Lalu apa?”
“Laras…”
“Apa?”
Ia tidak menjawab.
Aku membuka map.
Mengeluarkan salinan bukti transfer.
“Ini Rp55 juta tahap pertama.”
Satu lembar lagi.
“Rp42 juta.”
Lembar berikutnya.
“Rp31 juta.”
Lalu Rp38 juta.
Kemudian Rp20 juta.
“Total Rp186 juta.”
Aku meletakkannya di meja kecil dekat pos keamanan.
“Kamu punya tujuh hari untuk memberikan proposal pengembalian.”
“Jangan jadikan hubungan kita transaksi.”
Aku langsung menatapnya.
“Yang memasukkan uang saya ke properti atas nama kamu siapa?”
Raka kehilangan kata-kata.
Aku melanjutkan,
“Kalau kamu ingin hubungan tidak menjadi transaksi, seharusnya sebelum menerima uang itu kamu bilang: Laras, keluargaku berencana menjadikan lantai bawah rumah ini tempat usaha Kezia.”
“Bukan diam.”
“Bukan menunggu uang saya masuk.”
“Bukan berharap setelah menikah saya sudah terlalu terikat untuk menolak.”
Ia menggeleng.
“Aku enggak pernah berpikir seperti itu.”
“Mungkin.”
Aku mengangguk.
“Tapi ketidakjujuranmu menghasilkan akibat yang sama.”
Wajahnya makin pucat.
“Aku bisa kembalikan uangnya.”
“Bagus.”
“Kita mulai lagi.”
“Tidak.”
Jawabanku terlalu cepat sampai dia menatapku seperti baru ditampar.
“Kenapa?”
Aku benar-benar tidak memahami pertanyaannya.
“Karena hari ini saya melihat seperti apa hidup saya setelah menikah.”
“Setiap ibumu melewati batas, kamu akan bilang dia cuma ingin membantu.”
“Setiap Kezia menghina saya, kamu akan bilang dia masih muda.”
“Setiap saya marah, kamu akan menyuruh saya menjaga nama baik keluarga.”
“Dan ketika semuanya terlalu jauh, kamu baru minta maaf karena saya memilih pergi.”
Aku mengambil kembali map kosongku.
“Maaf tidak mengubah pola.”
“Akad batal.”
“Hubungan selesai.”
“Uang saya dikembalikan.”
“Itu saja.”
Aku masuk ke rumah.
Raka tetap berdiri di depan pagar.
Tiga hari kemudian, urusan mulai menjadi lebih rumit.
Ternyata Rp186 juta bukan satu-satunya uang yang harus dibereskan.
Ada deposit gedung.
Dekorasi.
Dokumentasi.
Entertainment.
Katering.
Karena pembatalan terjadi di hari-H, sebagian besar biaya memang tidak dapat dikembalikan.
Namun selama proses pengecekan invoice, aku menemukan sesuatu.
Keluargaku telah mentransfer Rp72 juta kepada Raka dua bulan sebelumnya sebagai bagian pembayaran katering.
Vendor hanya menerima Rp52 juta dari rekeningnya.
Selisih Rp20 juta tidak pernah masuk ke katering.
Aku menghubungi vendor.
Mereka mengirim invoice asli.
Nominalnya jelas.
Aku lalu memeriksa percakapan lama.
Raka pernah mengatakan biaya katering naik karena “tambahan menu keluarga”.
Tidak ada tambahan menu.
Aku mengirim satu pesan kepadanya.
“Selisih Rp20 juta katering dipakai untuk apa?”
Dua jam tidak ada jawaban.
Malamnya baru datang balasan.
“Aku pinjam dulu buat bantu Kezia bayar uang muka alat salon. Rencananya dikembalikan setelah acara.”
Aku duduk memandangi layar ponsel.
Jadi bukan cuma rumah.
Bahkan uang resepsi dari keluargaku pernah ia alihkan untuk Kezia tanpa izin.
Aku meneruskan pesan itu kepada Papa.
Papa cuma menjawab satu kalimat.
“Simpan semua bukti.”
Besok paginya aku bertemu pengacara kenalan salah satu rekan guru.
Namanya Aditya.
Kami memisahkan persoalan menjadi beberapa bagian.
Pertama, tindakan Kezia di ballroom.
Kedua, Rp186 juta renovasi.
Ketiga, Rp20 juta dana katering yang dialihkan tanpa persetujuanku.
Keempat, barang-barang yang kubeli dan masih berada di rumah Raka.
Aku tidak meminta sesuatu yang bukan milikku.
Aku hanya meminta semua yang memang bisa kubuktikan berasal dariku.
Itu bedanya.
Seminggu kemudian, keluarga Raka mengundang keluargaku bertemu di sebuah restoran.
Aku awalnya tidak ingin datang.
Namun pengacaraku menyarankan menghadiri satu mediasi informal terakhir.
Aku datang bersama Papa dan Aditya.
Di sana sudah ada Raka, Bu Ratna, ayah Raka, Kezia, dan kedua orang tua Kezia.
Begitu kami duduk, ibu Kezia langsung berkata,
“Anak saya sudah stres berat.”
Aku bahkan belum membuka map.
Ia melanjutkan,
“Dia tidak berani keluar rumah karena semua keluarga membicarakan kejadian itu.”
Aku menjawab,
“Rekaman belum saya unggah ke mana pun.”
“Ya, tapi tamu merekam!”
“Saya tidak bisa mengendalikan ponsel dua ratus orang.”
“Kalau kamu dari awal tidak menelepon polisi, orang juga tidak heboh!”
Aku menatapnya.
“Kalau putri Ibu dari awal tidak menarik kepala saya, saya juga tidak menelepon polisi.”
Meja langsung diam.
Bu Ratna masuk.
“Sudahlah. Kita jangan saling menyalahkan.”
Aku hampir kagum.
Orang yang terekam menyuruh orang lain mempermalukanku sekarang meminta semua pihak tidak mencari kesalahan.
Aditya meletakkan satu berkas di meja.
“Kita langsung ke substansi saja.”
Ia menjelaskan nominal yang harus diselesaikan.
Rp186 juta renovasi.
Rp20 juta dana katering.
Beberapa barang elektronik dan furnitur senilai sekitar Rp34 juta yang memiliki bukti pembelian atas namaku.
Total yang kami tuntut untuk dikembalikan atau diserahkan nilainya mencapai Rp240 juta, dengan rincian dan bukti lengkap.
Raka menatap angka itu.
“Aku enggak punya uang sebanyak ini sekaligus.”
Aku menjawab,
“Rumahmu nilainya lebih dari Rp1,4 miliar.”
Bu Ratna langsung menyela.
“Jangan sentuh rumah!”
Aku menoleh kepadanya.
“Bukankah sejak awal Ibu selalu bilang itu rumah Raka?”
“Iya.”
“Berarti keputusan bagaimana Raka membayar utangnya juga urusan Raka.”
Bu Ratna menutup mulut.
Aditya menawarkan skema pembayaran tertulis.
Sebagian dibayar dalam dua minggu.
Sisanya dicicil maksimal empat bulan.
Jika gagal, kami mempertimbangkan jalur perdata sesuai bukti yang kami miliki.
Mereka akhirnya setuju.
Lalu muncul bagian kedua.
Kezia.
Ayahnya berkata,
“Kalau soal polisi, apa bisa dicabut saja?”
Aku menatap Kezia.
Sejak tadi dia tidak berani melihatku.
Aku berkata,
“Saya tidak akan menjadikan laporan sebagai alat tawar-menawar uang.”
“Itu persoalan terpisah.”
Kezia tiba-tiba menangis.
“Kak Laras, aku minta maaf.”
Aku diam.
“Aku kebawa emosi.”
Tetap diam.
“Aku pikir Kak Laras mau mengambil rumah Mas Raka.”
“Siapa yang bilang?”
Dia menatap Bu Ratna.
Bu Ratna langsung memotong,
“Kezia!”
Namun sudah terlambat.
Kezia menangis semakin keras.
“Tante Ratna bilang setelah nikah Kak Laras pasti akan minta namanya masuk sertifikat. Terus nanti keluarga Raka enggak bisa pakai rumah itu lagi.”
Aku memandang Bu Ratna.
“Jadi itu yang Ibu katakan?”
Bu Ratna terlihat tidak nyaman.
“Saya hanya khawatir.”
“Padahal saya tidak pernah minta nama masuk sertifikat.”
Ia diam.
“Apa saya pernah meminta?”
Tidak ada jawaban.
Aku membuka percakapan WhatsApp dengan Raka.
Dalam salah satu chat empat bulan sebelumnya, justru aku yang menulis:
“Karena rumah atas nama kamu, biaya renovasi besar sebaiknya kita dokumentasikan supaya nanti jelas uang siapa masuk ke mana.”
Raka membalas waktu itu:
“Enggak usah seribet itu. Kamu kan nanti istriku.”
Ironis sekali.
Kalimat yang dulu terdengar romantis sekarang justru menjadi bukti.
Pertemuan berakhir tanpa pelukan.
Tanpa “kita keluarga”.
Tanpa foto bersama.
Aku tidak membutuhkannya.
Aku membutuhkan penyelesaian.
Proses setelah itu tidak terjadi secepat drama televisi.
Tidak ada polisi langsung memborgol Kezia di ballroom.
Tidak ada rumah langsung disita.
Tidak ada hakim muncul keesokan hari.
Semuanya berjalan melalui laporan, bukti, pemeriksaan, komunikasi, dan proses yang jauh lebih membosankan.
Tapi justru karena itu hasilnya terasa nyata.
Kezia akhirnya memberikan pernyataan permintaan maaf tertulis.
Dalam proses penyelesaian perkara, ia juga mengakui perbuatannya dan berkomitmen tidak menghubungi atau mendekatiku tanpa izin.
Aku tidak mengunggah rekaman ballroom ke media sosial.
Bukan karena takut.
Aku tidak ingin hidupku berikutnya terus berpusat pada wajah mereka.
Sedangkan urusan uang selesai hampir lima bulan kemudian.
Raka menjual mobil SUV yang baru dibelinya setahun sebelumnya.
Sebagian uang digunakan membayar tahap pertama kepadaku.
Sisanya ia cicil.
Rp186 juta biaya renovasi kembali penuh.
Rp20 juta dana katering juga kembali.
Barang-barang milikku di rumah itu kukembalikan melalui jasa pindahan.
Televisi.
Mesin kopi.
Meja kerja.
Satu lemari buku.
Dua lampu berdiri.
Dan sebuah kursi baca yang kupilih bersama Mama.
Kitchen set tentu tidak mungkin kubongkar.
Nilainya masuk perhitungan pengembalian uang.
Saat truk pindahan terakhir keluar dari rumah itu, aku berdiri di seberang jalan.
Rumah tersebut terlihat cantik.
Dinding putih.
Jendela besar.
Lampu teras hangat.
Dulu aku membayangkan pulang mengajar ke tempat itu.
Membuka pintu.
Mendengar seseorang berkata,
“Kamu sudah pulang?”
Ternyata beberapa bayangan memang lebih baik tidak menjadi kenyataan.
Enam bulan setelah pernikahan batal, Niken mengirim satu foto kepadaku.
Foto itu didapat dari kenalan bersama.
Papan kecil tergantung di depan lantai bawah rumah Raka.
KEZIA BEAUTY & NAIL STUDIO
Aku menatapnya cukup lama.
Kemudian bertanya,
“Jadi akhirnya benar-benar buka di sana?”
Niken membalas,
“Iya. Tapi katanya cuma bertahan dua bulan.”
“Kenapa?”
“Sepi. Terus ribut soal listrik sama biaya renovasi.”
Aku tertawa.
Setelah itu aku menghapus fotonya.
Bukan urusanku.
Tentang Raka, aku mendengar beberapa hal dari teman bersama.
Katanya hubungannya dengan Bu Ratna memburuk setelah ia harus menjual mobil dan mencicil pengembalian uangku.
Katanya ia juga pernah bertengkar besar dengan Kezia karena studio menggunakan rumah tanpa ikut membayar tagihan.
Katanya beberapa kali ia mencoba menanyakan kabarku melalui teman.
Aku tidak pernah membalas.
Tidak ada gunanya.
Seseorang tidak kehilanganmu ketika kamu pergi.
Sering kali ia kehilanganmu jauh sebelumnya, tepat ketika ia memilih diam saat seharusnya berdiri di sisimu.
Hampir satu tahun kemudian aku pindah dari SMP lamaku.
Bukan untuk melarikan diri.
Aku lolos seleksi menjadi wakil kepala sekolah bidang kurikulum di sekolah lain.
Gajiku memang masih jauh dari orang-orang yang dulu mengejekku.
Tetapi aku membeli sebuah apartemen kecil dengan uang muka dari tabunganku sendiri.
Hanya dua kamar.
Tidak luas.
Tidak mewah.
Namun sertifikatnya jelas.
Cicilannya jelas.
Dan tidak ada seorang sepupu pun yang merasa memiliki lantai bawahnya.
Mama membantu memilih tirai.
Saat kami berdiri di toko, Mama menunjuk kain berwarna krem.
“Ini bagus.”
Aku langsung tertawa.
Mama bingung.
“Kenapa?”
Aku menggeleng.
“Enggak apa-apa.”
Aku akhirnya memilih warna hijau sage.
Bukan karena lebih mahal.
Bukan karena sedang tren.
Aku memilihnya hanya karena aku suka.
Hal sederhana semacam itu ternyata terasa luar biasa setelah bertahun-tahun hidup dengan seseorang yang selalu membuatku mempertanyakan apakah keinginanku terlalu banyak.
Beberapa bulan kemudian, sekolah mengadakan acara kelulusan.
Selesai acara, salah satu muridku datang bersama ibunya.
Dia anak perempuan yang pernah mengalami perundungan.
Ibunya menggenggam tanganku.
“Bu Laras, terima kasih karena dulu Ibu tidak menyuruh anak saya diam demi menjaga nama baik kelas.”
Aku terdiam.
Kalimat itu seperti mengetuk sesuatu jauh di dalam dada.
Dulu ketika menangani kasus murid, aku selalu berkata,
“Kalau seseorang menyakiti kamu lalu meminta kamu diam supaya keadaan terlihat baik-baik saja, itu bukan penyelesaian.”
Lucunya, aku membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menerapkan nasihat itu pada diriku sendiri.
Malam itu aku pulang ke apartemen.
Meletakkan tas.
Membuat teh.
Lalu membuka sebuah kotak yang sudah lama kusimpan di bagian atas lemari.
Di dalamnya ada kerudung pengantin itu.
Bagian renda yang dulu ditarik Kezia sudah diperbaiki oleh penjahit.
Tusuk kondenya masih kusimpan.
Aku tidak menyimpannya karena rindu hari itu.
Aku menyimpannya sebagai pengingat.
Bukan tentang penghinaan.
Tentang keputusan.
Hari itu aku datang ke ballroom dengan keyakinan bahwa kebahagiaan berarti berhasil menikah dengan orang yang sudah kupilih.
Aku pulang dengan pemahaman yang berbeda.
Kadang-kadang kebahagiaan justru berarti berani berhenti beberapa menit sebelum membuat kesalahan seumur hidup.
Ponselku berbunyi.
Sebuah pesan dari Papa.
“Besok sarapan bubur ayam?”
Aku membalas,
“Jam delapan. Aku traktir.”
Papa mengirim stiker jempol.
Aku tersenyum.
Lalu menutup kotak itu.
Beberapa orang pernah bertanya apakah aku menyesal membuat keributan di hari pernikahanku sendiri.
Jawabanku selalu sama.
Aku tidak membuat keributan.
Keributan itu sudah ada.
Aku hanya berhenti berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Kalau hari itu aku menundukkan kepala, memasang kembali kerudung, lalu melanjutkan akad karena takut tamu membicarakanku, mungkin fotoku akan terlihat sempurna.
Gaun putih.
Bunga cantik.
Pengantin pria tersenyum.
Keluarga berbaris rapi.
Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa beberapa menit sebelumnya rambutku ditarik di depan mereka.
Dan mungkin bertahun-tahun kemudian aku masih akan mendengar kalimat yang sama setiap kali seseorang dari keluarganya melewati batas.
“Sudahlah.”
“Jangan dibesar-besarkan.”
“Dia cuma bercanda.”
“Namanya juga keluarga.”
Sekarang aku tahu satu hal.
Tidak semua hubungan harus diselamatkan hanya karena sudah berlangsung lama.
Tidak semua pernikahan harus diteruskan hanya karena undangan sudah tersebar.
Tidak semua penghinaan harus ditelan hanya supaya sebuah keluarga terlihat harmonis dari luar.
Dan orang yang benar-benar menganggapmu keluarga tidak akan meminta harga dirimu sebagai biaya masuk.
Aku memasukkan kerudung itu kembali ke dalam kotak.
Mematikan lampu ruang tamu.
Lalu berjalan ke kamar.
Di dinding dekat pintu tergantung satu foto baru.
Bukan foto pernikahan.
Bukan foto bersama Raka.
Foto itu diambil saat aku menerima surat pengangkatan di sekolah baru.
Aku berdiri di antara Papa dan Mama.
Kami bertiga tersenyum.
Tidak ada gaun mahal.
Tidak ada ballroom.
Tidak ada dua ratus tamu.
Tapi untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama, aku melihat diriku sendiri dalam sebuah foto dan tidak merasa sedang berusaha menyenangkan siapa pun.
Dan ternyata…
Itulah rumah yang sejak awal sebenarnya ingin kubangun.

