Bagian 3 — Saat Putriku Mengejar Kami, Ia Menemukan Harga dari Enam Tahun Kelalaiannya

Avatar penulis
Cerita 03
14 menit baca 1,021 tayangan
Auto Draft
Indeks

Bagian 3 — Saat Putriku Mengejar Kami, Ia Menemukan Harga dari Enam Tahun Kelalaiannya

Aku tidak menghubungi Rani malam itu.

Tidak menegur.

Tidak mengirim kembali isi voice note.

Tidak pula bertanya mengapa selama enam tahun dia mengambil keputusan atas nama kami.

Aku hanya meletakkan ponsel di meja kecil hotel lalu duduk menghadap jendela.

Lampu-lampu Malang terlihat seperti titik-titik kuning di kejauhan.

Darmawan keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut.

Melihat wajahku, dia berhenti.

“Ada apa?”

Aku memutar voice note yang sempat terekam otomatis di notifikasi ponsel.

Dia mendengarkan sampai selesai.

Tidak ada perubahan besar pada wajahnya.

Hanya saja setelah suara Rani berhenti, Darmawan duduk di kursi sebelahku dan lama sekali tidak bicara.

Kemudian dia berkata:

“Jadi selama ini kita bukan lupa diajak.”

Aku menunduk.

“Iya.”

“Kita memang tidak masuk perhitungannya.”

Kalimat itu sederhana.

Justru karena sederhana, rasanya lebih berat.

Aku menatap tangan suamiku.

Tangan itu sudah keriput.

Jari telunjuk kanannya sedikit bengkok sejak kecelakaan mesin di pabrik dua puluh tahun lalu.

Dulu, tangan itu yang menggandeng Rani ke sekolah.

Tangan itu yang memperbaiki sepeda kecilnya.

Tangan itu pula yang memberikan kartu ATM kepada Bima seminggu sebelum akad nikah sambil berkata:

“Ini sisa bantuan kami untuk uang muka rumah. Jangan dipikirkan kapan harus dikembalikan.”

Tidak pernah dikembalikan.

Dan kami tidak pernah meminta.

“Pak,” kataku.

“Hm?”

“Mulai sekarang, kita jangan menunggu lagi.”

Darmawan memandangku.

Aku melanjutkan:

“Bukan cuma soal Lebaran.”

Dia mengangguk pelan.

“Maksudmu?”

“Kita hidup.”

Untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai, suamiku tertawa kecil.

“Memangnya selama ini kita mati?”

Aku ikut tersenyum.

“Setengahnya mungkin.”

Besok paginya kami pergi ke Batu.

Udara dingin, tetapi matahari cerah.

Rombongan kami berisi dua puluh empat orang, kebanyakan pasangan seusia kami.

Ada Pak Surono dan Bu Mira dari Surabaya yang baru pensiun.

Ada Bu Linda, janda enam puluh satu tahun dari Solo yang bepergian bersama adiknya.

Ada pasangan dari Kudus yang bahkan sudah berumur hampir tujuh puluh tetapi sibuk mengambil foto di mana-mana.

Di depan sebuah kebun bunga, Darmawan tiba-tiba meminta pemandu memotret kami.

Aku terkekeh.

“Tumben.”

“Buat bukti.”

“Bukti apa?”

“Bukti kalau orang tua Rani ternyata bisa pergi jauh.”

Aku menatapnya.

Kemudian kami tertawa bersama.

Hari itu kami makan bakso panas di tengah udara dingin.

Darmawan membeli topi yang menurutku terlalu muda untuknya.

Aku membeli syal merah.

Malamnya, ketika foto-foto masuk ke grup perjalanan, aku menyadari sesuatu.

Sudah lama sekali aku tidak memiliki foto baru berdua dengan suamiku.

Galeri ponselku penuh foto Rani.

Keanu.

Rumah Rani.

Ulang tahun Keanu.

Wisuda Rani.

Pernikahan Rani.

Tetapi hampir tidak ada foto tentang hidupku sendiri.

Seolah-olah setelah menjadi ibu, aku berhenti menjadi tokoh utama dalam kehidupanku.

Ponselku terus bergetar sepanjang perjalanan.

Rani menelepon.

Aku tidak mengangkat.

Bukan karena ingin menghukumnya.

Aku hanya sedang makan malam.

Lalu kami sedang melihat pertunjukan.

Kemudian kami tidur.

Keesokan paginya, aku menemukan dua belas panggilan tak terjawab.

Ada pesan panjang.

“Bu, kita jangan begini. Aku mengaku salah soal rumah. Tapi Ibu jangan sengaja menghindari aku.”

Aku membalas:

“Ibu tidak menghindar. Ibu sedang liburan.”

Hanya itu.

Lima menit kemudian telepon masuk.

Kali ini aku angkat.

“Bu.”

Suara Rani lebih pelan.

“Mama Bima telepon aku tadi malam.”

Aku tahu topiknya.

“Aku sudah jelaskan soal hotel.”

“Bagus.”

“Bu…”

“Ya?”

“Kenapa Ibu bilang ke Mama Bima kalau aku tidak pernah mengajak?”

“Aku tidak bilang begitu.”

Rani diam.

“Dia sendiri yang bilang pernah menyuruhmu mengajak kami.”

Hening.

Beberapa detik kemudian Rani berkata:

“Aku cuma enggak mau mereka merasa bersalah.”

Aku tertawa kecil.

“Karena mereka diajak sementara kami tidak?”

“Bukan begitu.”

“Lalu bagaimana?”

Rani mulai terdengar frustrasi.

“Bu, coba pikir realistis. Setiap perjalanan itu mahal. Tiket pesawat, hotel, makan. Kalau harus membawa empat orang tua sekaligus, biayanya besar. Papa Mama Bima tinggal sama kami, bantu Keanu setiap hari. Kalau aku memberi mereka lebih banyak, apa salah?”

“Tidak.”

Jawabanku cepat.

Rani terdiam.

“Aku tidak pernah mengatakan salah.”

Aku melanjutkan.

“Kamu boleh membelikan mereka tiket kelas bisnis setiap tahun. Kamu boleh membawa mereka ke Bali sepuluh kali. Ibu tidak pernah keberatan.”

“Terus?”

“Yang salah adalah kamu bahkan tidak memberi kami kesempatan menjawab.”

Rani tidak bicara.

“Kalau enam tahun lalu kamu bertanya, ‘Bu, tahun ini mau ikut enggak? Tapi tiketnya bayar sendiri, ya,’ mungkin Ibu tetap senang.”

Aku menarik napas.

“Kalau kamu berkata, ‘Bu, kami cuma mampu membawa Papa Mama Bima karena mereka membantu menjaga Keanu,’ mungkin Ibu juga akan mengerti.”

Suaraku mulai bergetar.

“Tapi kamu tidak pernah bertanya.”

Aku mendengar napasnya.

“Kamu memutuskan kami tidak suka bepergian.”

“Kamu bilang kepada mertuamu kami lebih suka tinggal di rumah.”

“Kamu membuat cerita supaya keputusanmu terasa nyaman.”

“Dan selama enam tahun, kamu membiarkan kami duduk di rumah setiap malam takbiran sambil percaya mungkin tahun depan putri kami akan ingat.”

Tidak ada suara.

Aku mengusap mataku.

“Bu…”

“Rani.”

“Iya?”

“Kamu tahu apa yang paling menyedihkan?”

Dia tidak menjawab.

“Bukan soal Bali.”

Aku melihat Darmawan berdiri beberapa meter di depan, membeli dua gelas kopi.

“Yang paling menyedihkan adalah kami selalu takut menjadi bebanmu, sementara kamu sudah begitu terbiasa dengan pengorbanan kami sampai menganggap keberadaan kami di rumah sebagai sesuatu yang pasti.”

Telepon itu berakhir tanpa pertengkaran.

Rani hanya berkata:

“Maaf.”

Tetapi saat itu aku belum siap mengatakan tidak apa-apa.

Karena memang belum apa-apa.

Kami melanjutkan perjalanan.

Di Bromo, Darmawan hampir menyerah bangun pukul tiga pagi.

Aku menyeret selimutnya.

“Kemarin siapa yang bilang mau melihat matahari terbit?”

Dia menggerutu sambil memakai jaket.

Kami naik jeep bersama rombongan.

Udara menusuk tulang.

Tanganku sampai mati rasa.

Namun ketika matahari perlahan muncul di balik pegunungan, langit berubah dari gelap menjadi jingga, aku berdiri di samping suamiku dan tiba-tiba ingin menangis.

Bukan karena sedih.

Karena baru saat itu aku sadar betapa banyak hal di dunia yang belum pernah kami lihat.

Kami terlalu lama menabung.

Terlalu lama membantu.

Terlalu lama berkata:

“Nanti saja.”

Nanti setelah anak lulus.

Nanti setelah anak menikah.

Nanti setelah cicilan rumah anak selesai.

Nanti setelah cucu besar.

Tanpa sadar, usia kami ikut berjalan.

Malam takbiran kami habiskan di Banyuwangi.

Hotel mengadakan makan malam sederhana.

Ada ketupat.

Opor.

Rendang.

Sambal goreng ati.

Beberapa orang di rombongan bahkan membawa kue dari rumah.

Setelah makan, seseorang menyalakan video call dengan anak-anaknya.

Yang lain mengirim foto.

Aku memandang ponselku.

Ada foto dari Rani.

Mereka sudah tiba di Bali.

Pak Hendra dan Bu Ratih duduk di meja restoran.

Keanu tersenyum sambil memegang es krim.

Di bawahnya ada pesan:

“Selamat Lebaran duluan, Bu. Besok kami video call.”

Aku menjawab:

“Selamat Lebaran juga.”

Tidak lebih.

Aneh.

Dulu satu pesan pendek Rani bisa membuatku menunggu berjam-jam.

Sekarang setelah berhenti menunggu, aku justru merasa lebih ringan.

Pagi Idulfitri, kami salat bersama.

Setelah itu aku menelepon Rani lebih dahulu.

Begitu video tersambung, wajah Keanu muncul.

“Nenek!”

Aku tertawa.

“Nenek di mana?” tanyanya.

“Nenek di Banyuwangi.”

“Kenapa enggak di rumah?”

Aku belum sempat menjawab ketika Rani berkata dari belakang:

“Nenek lagi jalan-jalan sama Kakek.”

Keanu berseru senang.

“Keren!”

Sesederhana itu.

Anak kecil tidak melihatnya sebagai pengkhianatan.

Hanya orang dewasa yang terkadang merasa orang tuanya tidak boleh punya rencana sendiri.

Kemudian Bu Ratih mengambil ponsel.

“Mbak Lastri, mohon maaf lahir batin.”

Kami saling meminta maaf.

Setelah beberapa menit, Bu Ratih menurunkan suaranya.

“Mbak, nanti kalau pulang kita makan bareng, ya.”

“Tentu.”

“Dan soal kemarin…”

Dia berhenti.

“Saya sudah marahi Rani.”

Aku terkejut.

“Jangan, Bu.”

“Bukan soal tidak mengajak.”

Bu Ratih memandang lurus ke kamera.

“Anak boleh berbakti kepada mertua. Tapi jangan sampai kebaikan kepada mertua dibayar dengan melupakan orang tua sendiri.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Dia melanjutkan:

“Saya malah malu. Enam tahun menikmati liburan tanpa tahu cerita sebenarnya.”

“Bu Ratih tidak salah.”

“Saya tahu. Tapi saya tetap tidak enak.”

Aku tersenyum.

“Sudah. Kita jangan membuat masalah ini jadi lomba siapa yang lebih disayang.”

Dia ikut tersenyum.

“Itu betul.”

Percakapan itu mengubah sesuatu.

Untuk pertama kalinya aku merasa masalah kami benar-benar dilihat.

Bukan oleh orang asing.

Bukan oleh tetangga.

Melainkan oleh orang yang selama enam tahun dianggap mendapat perlakuan lebih dariku.

Dan ternyata dia sendiri tidak pernah meminta Rani memilih.

Tiga hari kemudian, kabar kecil datang.

Pak Hendra dan Bu Ratih pulang lebih awal karena memang harus menghadiri pernikahan keponakan di Klaten.

Karena rumah kami kosong, mereka menginap di hotel.

Rani membayar tiga malam.

Bukan masalah besar.

Tetapi rupanya itulah pertama kali ia merasakan akibat dari kebiasaannya berasumsi bahwa rumah kami selalu tersedia.

Bima menelepon Darmawan malam itu.

Aku tidak ikut mendengar seluruh percakapan.

Setelah selesai, aku bertanya:

“Apa katanya?”

Darmawan meletakkan ponsel.

“Dia minta maaf.”

“Bima?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Katanya dia enggak tahu Rani tidak pernah mengajak kita.”

Aku menatap suamiku.

Darmawan menghela napas.

“Katanya dua atau tiga tahun lalu dia pernah bilang, ‘Sekali-kali ajak Mama Bapak Semarang.’ Rani jawab kita tidak suka bepergian dan selalu menolak.”

Aku menutup mata.

Satu lagi potongan teka-teki.

Jadi cerita itu dipakai bukan sekali.

Bukan hanya kepada mertua.

Bahkan kepada suaminya sendiri.

Ketika kami pulang sembilan hari kemudian, sesuatu yang tidak kami duga terjadi.

Rani berdiri di depan rumah.

Bima dan Keanu ada di sampingnya.

Mereka datang dari Jakarta pagi itu.

Tidak ada dekorasi.

Tidak ada bunga berlebihan.

Tidak ada adegan menangis sambil berlutut seperti sinetron.

Rani hanya berdiri di depan pagar, memandang kami menurunkan koper.

Wajahnya kelihatan lelah.

Aku membuka pintu.

“Masuk.”

Di ruang tamu, suasana canggung.

Keanu yang menyelamatkan semuanya.

Dia sibuk membongkar oleh-oleh kami.

Gantungan kunci.

Kaos kecil.

Sekotak pia.

Setelah Keanu dibawa Bima ke teras, Rani duduk di depanku.

Tangannya saling menggenggam.

“Bu.”

Aku menunggu.

“Aku minta maaf.”

Aku tidak menjawab cepat.

Dia melanjutkan.

“Aku sudah dengar rekaman yang salah kirim itu berkali-kali.”

Aku sedikit terkejut.

“Ternyata waktu dengar suara sendiri… kedengarannya jelek sekali.”

Darmawan duduk di sampingku.

Rani menunduk.

“Aku selama ini merasa punya alasan yang masuk akal.”

“Papa Mama Bima bantu kami.”

“Biaya liburan mahal.”

“Rumah mereka dekat.”

“Mama sama Bapak enggak pernah protes.”

Ia menarik napas.

“Semua alasan itu benar.”

Aku mengangguk.

“Memang.”

“Tapi ternyata alasan yang benar tetap bisa dipakai untuk melakukan hal yang salah.”

Aku akhirnya memandang wajah putriku lebih lama.

Matanya merah.

“Aku enggak sadar kalau setiap tahun kalian menunggu.”

Aku berkata pelan:

“Karena kami selalu bilang tidak apa-apa.”

Rani menangis.

Kalimat berikutnya hampir tidak terdengar.

“Aku terlalu percaya.”

Percakapan hari itu berlangsung hampir dua jam.

Untuk pertama kalinya kami tidak bicara seperti orang tua yang takut membebani anak.

Kami bicara sebagai empat orang dewasa.

Aku mengeluarkan sebuah buku catatan lama.

Bukan untuk menagih.

Aku bahkan mengatakan itu sebelum membukanya.

“Ini bukan daftar utang.”

Rani menatap halaman-halamannya.

Di sana ada catatan uang muka rumah.

Biaya pernikahan.

Pinjaman kami.

Tanggal ketika gelang emas ibuku dijual.

Catatan pekerjaan malam Darmawan.

Bukan semua pengorbanan.

Hanya transaksi-transaksi besar yang dulu harus kucatat supaya keuangan rumah tidak kacau.

Rani membaca angka-angka itu lama sekali.

Kemudian dia berkata:

“Kenapa Ibu tidak pernah cerita?”

“Karena waktu itu kami menganggap itu tugas orang tua.”

Aku menutup buku.

“Tapi kesalahan kami juga ada.”

Darmawan mengangguk.

“Kami terlalu sering mengatakan tidak apa-apa.”

“Padahal ada yang tidak baik-baik saja.”

Rani menangis lagi.

Namun kali ini aku tidak langsung memeluknya.

Bukan karena tidak sayang.

Aku ingin dia menyelesaikan rasa bersalahnya sendiri, bukan membuatku kembali menjadi orang yang menenangkan semua orang.

Setelah agak tenang, aku mengatakan tiga hal.

“Mulai sekarang, rumah ini tidak boleh kamu janjikan kepada siapa pun tanpa bertanya.”

Rani mengangguk.

“Kedua, kalau kamu butuh bantuan uang, katakan sebagai permintaan. Jangan anggap tabungan kami otomatis tersedia.”

Dia kembali mengangguk.

“Ketiga…”

Aku berhenti.

Rani menatapku.

“Lebaran bukan kewajiban kami menunggumu.”

Matanya kembali basah.

Aku melanjutkan:

“Kalau kami mau pergi, kami pergi.”

“Kalau kalian mau pulang, telepon dulu.”

“Kalau suatu tahun kita ingin merayakan bersama, kita rencanakan bersama.”

“Bukan karena Ibu marah.”

“Tapi karena kami juga punya hidup.”

Rani menunduk.

“Baik.”

Sejak hari itu, semuanya tidak berubah secara ajaib.

Justru itu yang membuatku percaya perubahan itu nyata.

Rani tidak mendadak menjadi anak paling sempurna di dunia.

Kami juga tidak mendadak lupa enam tahun kesepian.

Hubungan diperbaiki sedikit demi sedikit.

Sebulan kemudian, Rani menelepon.

“Bu, minggu depan ada long weekend. Aku mau pulang sama Keanu. Boleh?”

Aku hampir otomatis menjawab, “Boleh, datang saja.”

Tetapi aku teringat kesepakatan baru.

Aku membuka kalender.

“Sabtu boleh. Minggu siang Ibu sama Bapak ada acara komunitas.”

Rani terdiam sebentar.

Lalu menjawab:

“Oke. Berarti Minggu pagi kami balik.”

Sederhana.

Tetapi bagiku besar.

Untuk pertama kalinya, jadwalku dianggap ada.

Tiga bulan kemudian, aku dan Darmawan ikut komunitas jalan sehat lansia.

Enam bulan kemudian kami pergi tiga hari ke Solo dan Karanganyar bersama teman-teman.

Darmawan sekarang bahkan lebih rajin mencari promo hotel daripada aku.

Dia menyimpan sebuah map baru di lemari.

Di depannya ditulis:

“Dana Jalan-Jalan.”

Setiap bulan kami memasukkan uang ke sana.

Suatu sore Rani melihat map itu.

Dia tertawa.

“Bapak serius banget.”

Darmawan menjawab:

“Dulu semua tabungan buat kamu. Sekarang boleh sedikit buat kami.”

Rani berhenti tertawa.

Lalu mengangguk.

“Harusnya dari dulu.”

Lebaran berikutnya datang.

Sekitar satu bulan sebelumnya, Rani menelepon.

Kali ini kalimat pertamanya berbeda.

“Bu, aku belum booking apa-apa.”

Aku tersenyum kecil.

“Lalu?”

“Kami kepikiran mau ke Lombok empat malam.”

Aku menunggu.

“Kali ini aku mau tanya dulu.”

Suaranya terdengar gugup.

“Mama sama Bapak mau ikut?”

Aku tidak langsung menjawab.

Bukan untuk membuatnya menunggu.

Aku benar-benar memikirkan jawabannya.

Rani tertawa kecil.

“Enggak harus iya, Bu.”

Aku memandang Darmawan.

Dia sedang menyiram tanaman.

“Bayar sendiri boleh?”

Rani tertawa.

“Enggak.”

“Aku sama Bima yang traktir.”

“Papa Mama Bima?”

“Ikut juga.”

“Jadi empat orang tua?”

“Iya.”

Aku tersenyum.

Bukankah dulu itu alasan yang katanya terlalu mahal?

Seolah bisa membaca pikiranku, Rani berkata:

“Tahun ini kami enggak ambil vila mahal. Kami cari hotel biasa.”

Lalu dia menambahkan:

“Yang penting semua bisa duduk satu meja.”

Aku menutup mata sebentar.

Enam tahun lalu, mungkin aku akan langsung berkata iya sambil menangis bahagia.

Sekarang rasanya berbeda.

Lebih tenang.

Karena akhirnya aku memahami bahwa dicintai tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan hidupnya sendiri.

Aku menjawab:

“Ibu diskusi dulu dengan Bapak.”

Rani tertawa.

“Siap.”

Malamnya, Darmawan berkata:

“Pergi saja.”

“Kamu mau?”

“Mau.”

“Enggak trauma liburan sama anak?”

Dia terkekeh.

“Kalau menyebalkan, tahun depannya kita pergi sendiri lagi.”

Aku tertawa sampai mataku berair.

Lebaran itu akhirnya kami pergi berenam orang dewasa dan satu anak kecil.

Aku.

Darmawan.

Rani.

Bima.

Pak Hendra.

Bu Ratih.

Keanu.

Tidak ada tiket kelas bisnis.

Tidak ada vila mewah.

Kami menginap di hotel biasa.

Sarapan harus antre.

Satu sore hujan deras sampai rencana ke pantai batal.

Keanu rewel.

Pak Hendra lupa membawa obatnya.

Darmawan mengeluh AC kamar terlalu dingin.

Bu Ratih memaksa semua orang makan bekal telur balado yang dibawanya dari rumah.

Semuanya jauh dari sempurna.

Tetapi justru terasa seperti keluarga.

Pada malam terakhir, kami duduk di dekat pantai Senggigi.

Keanu bermain pasir.

Bima sedang membeli minuman.

Darmawan dan Pak Hendra berdebat soal sepak bola.

Bu Ratih duduk di sampingku.

Rani datang lalu mengambil foto kami berdua.

Setelah itu dia mengunggahnya ke WhatsApp.

Aku melihat tulisannya.

“Lebaran bersama empat orang yang mengajarkan kami arti pulang.”

Aku tidak menangis.

Setidaknya tidak langsung.

Rani duduk di sampingku.

“Bu.”

“Hm?”

“Aku masih menyesal enam tahun itu.”

Aku menatap laut.

“Menyesal boleh.”

Dia menunggu.

“Tapi jangan habiskan sepuluh tahun berikutnya untuk menyesali enam tahun yang sudah lewat.”

Aku menunjuk Keanu.

“Gunakan untuk melakukan lebih baik.”

Rani mengangguk.

Beberapa saat kemudian kepalanya bersandar di bahuku.

Dulu, saat masih kecil, dia sering duduk seperti itu.

Aku pernah berpikir seorang ibu harus selalu berada di tempat yang sama agar anak tahu ke mana harus pulang.

Sekarang aku tahu aku salah.

Rumah tidak berarti orang tua harus membeku di satu titik dan menunggu.

Rumah adalah tempat yang tetap menerima kepulangan, tetapi orang yang tinggal di dalamnya juga berhak memiliki perjalanan.

Enam tahun aku menunggu putriku mengingatku.

Pada tahun ketujuh aku akhirnya pergi.

Dan ternyata ketika aku berhenti berdiri di depan pintu sambil menunggu seseorang pulang, aku tidak kehilangan anakku.

Justru saat itulah putriku akhirnya belajar melihat bahwa di balik kata “Ibu” dan “Bapak”, ada dua manusia yang bisa lelah, kecewa, ingin dihargai, ingin pergi melihat tempat baru, dan ingin menikmati sisa hidup mereka.

Sejak saat itu, setiap menjelang Lebaran, Rani selalu bertanya satu kalimat sebelum membuat rencana apa pun:

“Bu, tahun ini Mama sama Bapak punya rencana sendiri atau mau bersama kami?”

Kadang kami ikut.

Kadang tidak.

Kadang mereka pulang ke Semarang.

Kadang kami pergi bersama teman.

Tidak ada lagi kewajiban.

Tidak ada lagi asumsi.

Dan yang paling penting, tidak ada lagi dua orang tua yang duduk di meja makan pada malam takbiran sambil menunggu suara mobil berhenti di depan rumah.

Karena akhirnya aku mengerti:

Membesarkan anak sampai ia memiliki kehidupannya sendiri adalah tugas orang tua.

Tetapi menyerahkan seluruh sisa hidup kita demi menunggu anak kembali bukanlah kewajiban.

Anak boleh tumbuh.

Anak boleh pergi.

Dan orang tua pun boleh melangkah keluar dari rumah, menggenggam tangan pasangannya, lalu berkata:

“Sekarang giliran kita hidup.”