Bagian 3 — Aku Membatalkan Akad, Lalu Bukti Mereka Sendiri Menghancurkan Semua Kebohongan Keluarga Itu
Aku membaca keterangan transfer itu tiga kali.
Dana seserahan Alya.
Bukan pinjaman usaha.
Bukan dana sementara.
Bukan uang keluarga yang kebetulan digunakan Dinda.
Nama tujuannya jelas.
Tanggalnya jelas.
Jumlahnya jelas.
Dan yang paling ironis, dokumen itu berasal dari pihak mereka sendiri.
Aku mengangkat lembar mutasi tersebut.
“Bu Ratna.”
Dia tidak menjawab.
“Katanya saya menerima Rp800 juta tiga hari lalu.”
Aku menunjuk transaksi itu.
“Kalau begitu kenapa kemarin Rp650 juta masih dipindahkan dari rekening perusahaan ke rekening Dinda dengan keterangan ‘Dana seserahan Alya’?”
Bu Ratna maju hendak merebut kertas dari tanganku.
Ayahku langsung berdiri di antara kami.
“Jangan sentuh anak saya.”
Suara ayah tenang, tetapi kali ini tidak ada seorang pun berani memotong.
Raka mencoba mengambil alih situasi.
“Itu bisa dijelaskan.”
Aku menoleh.
“Silakan.”
“Uangnya memang awalnya disiapkan untuk kita.”
“Lalu?”
“Dinda butuh dana cepat.”
“Lalu?”
“Mama bilang nanti diganti setelah proyek gudang di Gresik cair.”
“Kapan?”
“Sekitar dua atau tiga bulan.”
Aku mengangguk.
“Jadi kalian berempat tahu uangnya tidak ada.”
“Tidak seperti itu.”
“Kamu tahu?”
Raka diam.
“Dinda tahu?”
Diam.
“Ibumu tahu?”
Diam.
“Lalu hari ini kalian memasukkan uang mainan ke dalam peti dan mengumumkan kepada empat ratus orang bahwa keluarga kalian menyerahkan Rp800 juta kepadaku.”
Raka mulai kehilangan kesabaran.
“Karena itu cuma seremoni!”
“Kalau hanya seremoni, kenapa ada tanda terima palsu?”
Dia tak bisa menjawab.
Aku mengangkat kertas yang tadi dibawa Bu Ratna.
“Dan kenapa tanda tanganmu ada sebagai saksi bahwa aku sudah menerima uang?”
Seluruh perhatian kini tertuju kepada Raka.
Wajahnya memerah.
“Surat itu disiapkan Mama.”
“Aku bertanya kenapa kamu menandatanganinya.”
Raka mengusap wajah.
“Alya, aku cuma mau semuanya berjalan lancar.”
Aku tertawa.
Untuk pertama kalinya pagi itu, aku benar-benar tertawa.
Bukan karena lucu.
Karena akhirnya aku memahami sesuatu.
Empat tahun aku mengenal Raka sebagai laki-laki yang katanya tidak suka konflik.
Ketika ibunya memaksaku mengganti warna dekorasi, dia berkata, “Mengalah saja.”
Ketika Dinda meminjam mobilku selama lima hari tanpa izin, dia berkata, “Dia masih muda.”
Ketika Bu Ratna menambah daftar tamu hingga seratus dua puluh orang dan meminta keluargaku menanggung katering tambahan, dia berkata, “Sekali seumur hidup.”
Aku selalu mengira Raka sedang menjaga keseimbangan.
Ternyata dia hanya punya satu cara menyelesaikan masalah.
Membiarkan aku yang menanggungnya.
“Aku baru mengerti sekarang,” kataku.
“Apa?”
“Kamu bukan takut konflik.”
Aku menatapnya.
“Kamu hanya selalu memastikan konflik itu jatuh ke orang lain.”
Raka menatapku lama.
Kemudian wajahnya berubah keras.
“Kalau kamu keluar sekarang, hubungan kita selesai.”
Aku melepas cincin tunangan dari jariku.
Aku meletakkannya di atas meja akad.
“Memang itu maksudku.”
Ibuku menahan napas.
Dinda berseru,
“Kak Alya!”
Bu Ratna menepuk meja.
“Kamu pikir anak saya tidak bisa dapat perempuan lain?”
Aku mengangguk.
“Semoga dapat.”
Aku berbalik kepada penghulu.
“Mohon maaf, Pak. Saya tidak bisa mengucapkan akad dengan seseorang yang ikut membuat dokumen palsu menggunakan nama saya.”
Beliau mengangguk tanpa memperdebatkan keputusanku.
“Pernikahan harus dilaksanakan dengan kerelaan kedua pihak. Kalau calon pengantin perempuan tidak bersedia, acara akad tidak dilanjutkan.”
Kalimat sederhana itu mengakhiri semuanya.
Bukan teriakan Bu Ratna.
Bukan kemarahan Raka.
Bukan ratusan tamu.
Keputusanku.
Aku mengambil tangan ibu.
“Ayo pulang.”
Namun sebelum kami meninggalkan ballroom, ayah berhenti di depan meja event organizer.
“Ada satu hal lagi yang harus diselesaikan.”
Bu Ratna langsung menatapnya.
“Apa lagi?”
Ayah membuka map biru dari tas kerjanya.
Sejak awal, biaya pernikahan kami dibagi berdasarkan vendor.
Keluargaku membayar gedung utama, dokumentasi, dan paket katering untuk 250 tamu.
Keluarga Raka bertanggung jawab atas dekorasi tambahan, entertainment, serta biaya tamu tambahan dari pihak mereka.
Masalahnya, satu bulan sebelum acara Bu Ratna berkali-kali meminta ayahku membayar beberapa tagihan terlebih dahulu dengan alasan rekening perusahaan mereka sedang diaudit.
Ayah membayarnya.
Totalnya Rp96,4 juta.
Ada pesan WhatsApp.
Ada invoice.
Ada bukti transfer.
Dan ada pernyataan tertulis dari Raka bahwa uang tersebut akan diganti maksimal sehari sebelum akad.
Sampai pagi itu, belum satu rupiah pun masuk.
Ayah meletakkan semua dokumen tersebut di meja.
“Karena akad dibatalkan, kami akan menyelesaikan kewajiban vendor yang menjadi bagian keluarga kami. Bagian keluarga Ibu, silakan diselesaikan sendiri.”
Bu Ratna menatap angka pada invoice.
“Pak Hendra, kita keluarga!”
Ayah menatapnya dingin.
“Tidak jadi.”
Aku hampir tersenyum.
Manajer event organizer kemudian memeriksa kontrak satu per satu.
Beberapa vendor memang dicatat atas nama keluarga Raka.
Tambahan katering 120 orang.
Dekorasi lorong VIP yang diminta Bu Ratna.
Pertunjukan musik.
Dua kamar suite tambahan untuk keluarganya.
Mobil pengantin yang secara khusus diganti ke tipe lebih mahal atas permintaannya.
Total tagihan yang belum mereka selesaikan mencapai lebih dari Rp170 juta.
Bu Ratna langsung menunjukku.
“Ini semua gara-gara kamu!”
Aku sudah terlalu lelah untuk marah.
“Tidak, Bu.”
Aku menatap peti penuh uang palsu yang masih terbuka di atas panggung.
“Gara-gara keluarga Ibu ingin terlihat mampu membayar sesuatu yang sebenarnya tidak mampu kalian keluarkan.”
Kemudian aku pergi.
Hari itu seharusnya menjadi hari pernikahanku.
Aku pulang masih memakai kebaya putih.
Riasanku masih utuh.
Sanggulku masih dipenuhi melati.
Namun di dalam mobil, aku menangis sampai napasku sesak.
Ibuku tidak mengatakan, “Sudahlah.”
Dia juga tidak berkata aku harus bersyukur karena mengetahui semuanya lebih awal.
Dia hanya duduk di sampingku sambil menggenggam tanganku.
Setelah hampir dua puluh menit, aku berkata,
“Ma, apa aku keterlaluan?”
Ibu menoleh.
“Karena membatalkan?”
Aku mengangguk.
Ibu mengusap punggung tanganku.
“Kalau hari ini kamu mengalah terhadap uang palsu, besok mereka akan memintamu mengalah terhadap kebohongan yang lebih besar.”
Aku kembali menangis.
Kali ini bukan karena Raka.
Aku menangis karena membayangkan betapa dekatnya aku dengan kehidupan yang hampir kupilih.
Masalahnya tidak berhenti setelah kami pulang.
Malam itu sebuah video berdurasi 37 detik mulai beredar di grup keluarga.
Video tersebut hanya memperlihatkan bagian ketika aku membuka peti, menuntut transfer, lalu menghentikan akad.
Bagian ketika Dinda mengaku uang digunakan untuk DP ruko dipotong.
Bagian mengenai tanda terima palsu juga tidak ada.
Caption yang menyertainya berbunyi:
“Calon pengantin perempuan membatalkan pernikahan karena tidak puas dengan uang Rp800 juta.”
Besok paginya, beberapa akun Facebook lokal mulai mengunggah ulang.
Namaku memang tidak ditulis lengkap, tetapi wajahku terlihat.
Komentarnya menyakitkan.
Perempuan zaman sekarang cuma lihat uang.
Kasihan pengantin pria.
Sudah dibuatkan pesta mewah masih kurang.
Aku hampir membalas semuanya.
Ayah melarang.
“Jangan jawab saat emosi.”
Sebagai gantinya, kami menghubungi pihak event organizer dan fotografer.
Ternyata acara sejak awal direkam menggunakan tiga kamera.
Bukan potongan 37 detik.
Semua.
Mulai dari Bu Ratna mengumumkan Rp800 juta.
Aku menemukan uang mainan.
Permintaanku agar transfer dilakukan saat itu juga.
Pengakuan Dinda.
Pengakuan Raka bahwa dia sudah tahu selama dua bulan.
Sampai momen tanda terima dengan tanda tanganku ditunjukkan.
EO memberikan salinan rekaman penuh kepada kami karena kami adalah salah satu pihak dalam kontrak dokumentasi.
Aku juga menyimpan pesan Bu Ratna sejak beberapa bulan terakhir.
Salah satunya berbunyi:
“Uang Rp800 juta itu hak Alya setelah menikah. Kami tidak akan mengurangi satu rupiah pun.”
Pesan lain, dikirim dua minggu sebelum pernikahan:
“Jangan khawatir Pak Hendra, dananya sudah siap.”
Dan yang terpenting, ada pesan dari Raka sendiri tiga hari sebelum akad:
“Mama sudah siapkan cash sesuai kesepakatan. Kamu fokus cantik saja.”
Aku membaca pesan itu lama sekali.
Saat dia mengetiknya, dia sudah tahu uang tersebut tidak akan diberikan.
Itulah bagian yang paling sulit kuterima.
Bukan jumlah Rp800 juta.
Bahkan kalau keluarga Raka sejak awal mengatakan mereka tidak mampu memberikan seserahan sebesar itu, aku tidak akan membatalkan pernikahan hanya karena nominal.
Keluargaku tidak pernah menjadikan uang tersebut syarat.
Yang menghancurkan semuanya adalah kenyataan bahwa calon suamiku bisa menatap mataku, berbohong, lalu membiarkan keluarganya menyiapkan dokumen yang menyatakan aku telah menerima sesuatu yang tidak pernah kuterima.
Hari ketiga setelah pernikahan batal, Raka datang ke rumah.
Dia berdiri di pagar selama hampir satu jam.
Akhirnya ayah mengizinkannya masuk.
Aku menemuinya di ruang tamu.
Matanya sembab.
“Aku salah.”
Aku diam.
“Aku sudah bicara sama Mama. Ruko Dinda akan dijual lagi kalau perlu. Uangmu akan dikembalikan.”
Aku mengernyit.
“Uangku?”
“Maksudku, uang yang seharusnya buat kamu.”
“Itu uang keluargamu. Kalian mau apakan, terserah.”
Raka terlihat bingung.
“Jadi masalahnya bukan uang?”
Aku hampir tidak percaya dia masih menanyakan itu.
“Raka, kalau uangnya cuma Rp8 juta sekalipun, masalahnya tetap sama.”
“Aku bisa memperbaiki semuanya.”
“Kertas tanda terima itu?”
Dia diam.
“Kamu tanda tangan tanpa sepengetahuanku.”
“Aku tertekan.”
“Siapa yang menekanmu?”
“Mama bilang hanya untuk jaga-jaga.”
“Jaga-jaga apa?”
Raka tidak menjawab.
Aku mendekat sedikit.
“Jaga-jaga kalau setelah menikah aku bertanya tentang uang itu, kan?”
Wajahnya berubah.
Itulah jawabannya.
Rencana mereka sebenarnya sederhana.
Peti uang mainan digunakan untuk dokumentasi.
Aku diharapkan diam karena tidak ingin membuat keributan di hari pernikahan.
Setelah akad selesai, mereka akan mengatakan transfer tertunda.
Kalau beberapa bulan kemudian aku menuntut janji tersebut, surat tanda terima bisa digunakan untuk mengatakan bahwa uang sudah diberikan sebelumnya.
Aku mungkin tidak bisa membuktikan sebaliknya.
Terutama jika laki-laki yang menjadi suamiku ikut menjadi saksi.
Aku menatap Raka.
“Kalau kita jadi menikah, kamu akan membela siapa?”
“Alya—”
“Jawab.”
Dia kembali diam.
Aku berdiri.
“Pulang.”
“Aku mencintaimu.”
“Cinta yang membutuhkan aku pura-pura bodoh supaya keluargamu nyaman bukan cinta yang aku mau.”
Raka mulai menangis.
Aku tetap membuka pintu.
“Pulang.”
Itu terakhir kalinya kami berbicara berdua.
Seminggu kemudian, keluarga kami mengirimkan somasi melalui kuasa hukum terkait tanda tangan yang digunakan tanpa persetujuanku dan kewajiban biaya acara yang belum dibayar.
Aku tidak meminta Rp800 juta.
Aku tidak pernah menganggap uang itu milikku karena akad bahkan belum terjadi.
Yang kami tuntut hanyalah hal-hal yang benar-benar bisa dibuktikan:
tagihan yang sebelumnya dibayarkan ayah untuk pihak mereka,
penggunaan namaku dalam dokumen tanpa izin,
serta penghentian penyebaran tuduhan bahwa aku telah menerima dan membawa kabur Rp800 juta.
Setelah menerima surat tersebut, nada Bu Ratna berubah.
Tidak ada lagi teriakan.
Tidak ada lagi status Facebook panjang.
Pengacaranya meminta pertemuan.
Dua minggu kemudian kedua keluarga bertemu di kantor mediator.
Bu Ratna datang tanpa perhiasan yang biasa memenuhi kedua tangannya.
Dinda duduk di sebelahnya.
Raka berada paling ujung.
Dalam pertemuan itu, mereka akhirnya mengakui secara tertulis bahwa tidak pernah terjadi penyerahan Rp800 juta kepadaku.
Mereka juga menyatakan bahwa tanda terima tersebut tidak pernah kutandatangani.
Ayah mendapat kembali Rp96,4 juta yang sebelumnya dia talangi.
Tagihan vendor yang menjadi tanggung jawab keluarga Raka mereka selesaikan sendiri.
Sebagai bagian dari penyelesaian, mereka juga wajib mengirim klarifikasi kepada grup keluarga yang sebelumnya menerima tuduhan terhadapku.
Tidak ada drama.
Tidak ada tangisan.
Hanya satu paragraf pendek:
“Kami mengklarifikasi bahwa Alya Prameswari tidak pernah menerima uang seserahan Rp800 juta. Informasi sebelumnya yang menyatakan sebaliknya tidak benar.”
Aku membaca kalimat itu sekali.
Kemudian aku menutup ponsel.
Aneh.
Setelah berminggu-minggu berjuang membuktikan kebenaran, ketika akhirnya pengakuan itu datang, aku tidak merasa ingin bersorak.
Aku hanya merasa lega.
Seperti baru meletakkan koper yang terlalu lama kubawa.
Belakangan aku mendengar beberapa hal dari teman yang masih mengenal keluarga Raka.
Ruko Dinda akhirnya tetap dibeli, tetapi bukan dengan kondisi semudah yang mereka bayangkan.
Karena sebagian dana perusahaan sudah dialihkan untuk DP sementara beberapa kewajiban vendor pernikahan harus dibayar sekaligus, Bu Ratna terpaksa menjual mobil keduanya untuk menutup arus kas.
Aku tidak merasa senang mendengarnya.
Itu bukan urusanku lagi.
Yang lebih mengejutkan, calon suami Dinda yang sebelumnya berencana ikut mengelola ruko memilih mundur dari kerja sama setelah mengetahui bahwa dana DP berasal dari uang yang selama berbulan-bulan diklaim sebagai seserahan pernikahanku.
Hubungan mereka bertahan beberapa bulan, lalu berakhir.
Sekali lagi, itu bukan urusanku.
Sementara Raka beberapa kali mencoba mengirim pesan.
Aku tidak membalas.
Pesan terakhirnya datang empat bulan setelah pernikahan batal.
“Sekarang aku paham kenapa kamu pergi.”
Aku membaca.
Lalu menghapusnya.
Karena aku tidak membutuhkan Raka untuk memahami keputusanku agar keputusan itu menjadi benar untuk hidupku.
Setahun setelah kejadian itu, aku mendapat promosi menjadi finance manager.
Aku juga membeli sebuah rumah kecil dua lantai di Sidoarjo.
Bukan rumah mewah.
Tidak ada pagar tinggi.
Tidak ada marmer.
Tapi sertifikat dan seluruh cicilannya atas namaku sendiri.
Pada hari pertama aku menerima kunci, ayah datang membawa kardus perkakas.
Ibu membawa nasi kuning.
Kami makan bertiga di lantai ruang tamu karena sofa belum datang.
Ayah melihat sekeliling.
“Dulu Papa sedih pesta sebesar itu batal.”
Aku tersenyum.
“Sekarang?”
Ayah menunjuk rumahku.
“Sekarang Papa pikir biaya pesta itu murah dibanding harga yang mungkin harus kamu bayar kalau jadi menikah.”
Aku tertawa.
Ibu langsung menyikutnya.
“Jangan bicara biaya terus.”
Malam itu kami duduk sampai hampir pukul sebelas sambil membicarakan warna tirai.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, hidup terasa tenang.
Tidak spektakuler.
Tidak viral.
Tenang.
Dan ternyata aku menyukai itu.
Hampir dua tahun kemudian aku mengenal seseorang bernama Faris melalui proyek audit internal perusahaan.
Aku tidak langsung menyukainya.
Bahkan pada pertemuan pertama aku menganggapnya terlalu cerewet karena dia mengembalikan laporan pengeluaran hanya gara-gara selisih Rp17.500.
Enam bulan kemudian kami mulai minum kopi bersama.
Setahun setelahnya dia datang ke rumah menemui ayah dan ibu.
Ketika hubungan kami mulai serius, ada satu percakapan yang paling kuingat.
Kami duduk di warung soto dekat kantorku.
Faris membuka laptop.
“Aku mau ngomong soal keuangan sebelum kita bahas pernikahan.”
Aku langsung tertawa.
Dia bingung.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Lanjut.”
Dia menunjukkan tabungan, cicilan motor yang tersisa, kewajiban membantu ibunya setiap bulan, dan investasi kecil yang dimilikinya.
Tidak ada angka fantastis.
Tidak ada Rp800 juta.
Tidak ada peti akrilik.
Kemudian dia berkata,
“Aku tidak mau nanti ada hal yang kamu baru tahu setelah menikah.”
Aku menatapnya beberapa detik.
Kalimat itu jauh lebih berharga bagiku daripada peti uang mana pun.
Saat kami akhirnya menikah, acaranya sederhana.
Seratus dua puluh tamu.
Akad di sebuah pendopo kecil.
Tidak ada pengumuman jumlah uang.
Tidak ada keluarga yang berdiri memamerkan kekayaan.
Mahar disebut dengan jelas sesuai yang memang diberikan pada hari itu.
Tidak kurang.
Tidak dilebihkan.
Tidak ada properti untuk kamera.
Sesaat sebelum akad, Faris menyerahkan sebuah amplop kepadaku.
Aku membukanya.
Isinya bukan uang.
Melainkan fotokopi seluruh dokumen pembayaran vendor dengan satu catatan kecil:
“Sudah lunas. Tidak ada kejutan setelah ini.”
Aku tertawa sampai hampir merusak riasan.
Faris panik.
“Kok nangis?”
Aku menggeleng.
“Aku cuma sedang membandingkan dua hari pernikahan.”
Dia tidak bertanya lebih jauh.
Dan ketika akad selesai, aku melihat ayah menangis diam-diam di barisan depan.
Kali ini bukan karena malu.
Bukan karena marah.
Bukan karena harus membela anak perempuannya.
Dia menangis karena akhirnya bisa melihatku memulai rumah tangga tanpa kebohongan di atas meja.
Kadang orang bertanya apakah aku pernah menyesal membuka peti itu di depan semua orang.
Jawabanku selalu sama.
Tidak.
Karena masalah terbesar hari itu bukan bahwa isi petinya palsu.
Yang jauh lebih berbahaya adalah orang-orang di sekeliling peti tersebut sudah sepakat membuatku mempercayai kebohongan yang sama.
Calon ibu mertua yang berbohong.
Adik ipar yang menikmati hasilnya.
Dan calon suami yang mengetahui semuanya tetapi berharap aku baru sadar setelah hubungan kami sah.
Kalau pagi itu aku memilih diam hanya demi menyelamatkan pesta beberapa jam, mungkin aku harus menghabiskan bertahun-tahun menyelamatkan diriku sendiri.
Aku kehilangan satu pesta pernikahan.
Namun sebagai gantinya, aku menyelamatkan seluruh hidupku.
Dan sekarang aku mengerti:
Pernikahan tidak hancur ketika seorang perempuan berani membuka peti penuh uang palsu.
Pernikahan itu sudah hancur jauh sebelumnya—ketika orang-orang yang seharusnya menjadi keluarganya sepakat bahwa kebohongan lebih penting daripada kejujuran kepadanya.
Hari itu aku memang pulang tanpa suami.
Tetapi aku pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga.
Harga diriku.
Keluargaku.
Dan hak untuk memilih kehidupan yang tidak dibangun di atas kebohongan.
Kali ini, tidak ada yang palsu.

