Bagian 3 Satu Rekaman, Satu Sertifikat, dan Satu Gugatan Membalikkan Seluruh Permainan Keluarga Itu

Avatar penulis
Cerita 02
13 menit baca 1,435 tayangan
Bagian 3 Satu Rekaman, Satu Sertifikat, dan Satu Gugatan Membalikkan Seluruh Permainan Keluarga Itu
Indeks

Bagian 3
Satu Rekaman, Satu Sertifikat, dan Satu Gugatan Membalikkan Seluruh Permainan Keluarga Itu

Pagar menutup.

Mobil yang membawa Bima dan kedua orang tuanya menghilang di ujung jalan.

Aku masih berdiri di teras.

Tanganku dingin.

Bukan karena ucapan Bu Marni.

Bukan pula karena ancaman keluarga besarnya.

Yang terus terngiang justru satu kalimat Bima.

“Besok aku akan ambil Alya.”

Selama enam tahun menikah, aku bisa menoleransi banyak hal.

Aku bisa menoleransi suami yang terlalu banyak membantu keluarganya.

Aku bisa menoleransi mertua yang pilih kasih.

Aku bisa menoleransi adik ipar yang setiap beberapa bulan muncul membawa masalah keuangan baru.

Namun ketika seorang ayah menjadikan anaknya sebagai alat untuk menakut-nakuti istrinya, batas terakhir dalam diriku putus.

Aku kembali masuk.

Alya berdiri di tangga.

Wajahnya pucat.

“Mama… Papa mau ambil Alya ke mana?”

Aku berjongkok dan memegang kedua tangannya.

“Tidak ada yang akan membawa Alya ke mana pun tanpa bicara baik-baik dengan Mama.”

“Papa marah sama Mama?”

Aku menahan napas.

Anak tidak seharusnya dipaksa memilih pihak dalam pertengkaran orang dewasa.

“Papa sedang marah karena Mama dan Papa berbeda pendapat.”

“Bukan salah Alya.”

“Dan Mama tidak akan meminta Alya membenci Papa.”

Dia mengangguk perlahan.

Lalu memelukku.

Malam itu, setelah Alya tidur, aku tidak menangis.

Aku membuka laptop.

Mengunduh semua rekaman CCTV.

Menyimpan rekaman Bima mencengkeram tanganku.

Menyimpan bagian ketika dia mengepalkan tangan.

Menyimpan ancaman mengenai Alya.

Kemudian kubuat tiga salinan.

Satu di laptop.

Satu di penyimpanan daring.

Satu kukirim kepada kakakku.

Pagi berikutnya aku menghubungi seorang pengacara keluarga bernama Nadia Kusuma, perempuan yang pernah membantu rekan kerjaku menyelesaikan sengketa rumah tangga.

Kami bertemu Senin siang.

Aku membawa satu map penuh.

Nadia membaca perjanjian perkawinan kami terlebih dahulu.

Kemudian sertifikat rumah.

Laporan rekening.

Rekaman CCTV.

Riwayat transfer.

Percakapan WhatsApp.

Semakin lama dia membaca, semakin sedikit pertanyaan yang dia ajukan.

Akhirnya dia menutup map.

“Pertanyaan saya cuma satu.”

“Apa?”

“Masih ingin mempertahankan pernikahan ini?”

Aku terdiam.

Kalau dia menanyakan itu tiga bulan sebelumnya, mungkin aku masih akan berkata iya.

Kalau ditanya setelah telepon tentang delapan miliar itu, mungkin aku akan mengatakan aku perlu berpikir.

Tetapi sekarang jawabannya sudah jelas.

“Tidak.”

“Baik.”

Nadia mengangguk.

“Kalau begitu jangan bertengkar lagi melalui WhatsApp. Jangan menghina keluarganya. Jangan membuat unggahan media sosial. Simpan semua komunikasi. Urusan Alya juga jangan dihalangi secara sepihak selama pertemuannya aman.”

Aku mengikuti semua sarannya.

Dan itu ternyata jauh lebih membuat keluarga Bima frustrasi daripada kemarahan.

Hari itu grup WhatsApp keluarga besar mereka meledak.

Seorang tante menulis:

“Perempuan kalau sudah punya penghasilan memang gampang lupa diri.”

Sepupu Bima menulis:

“Orang tua cuma butuh tempat tinggal, masa tega?”

Bu Marni mengirim pesan suara tujuh menit.

Isinya tangisan.

Kutukan.

Cerita bagaimana dia melahirkan Bima dengan susah payah.

Cerita bagaimana menantu zaman sekarang tidak tahu balas budi.

Aku tidak menjawab satu pun.

Hanya screenshot.

Simpan.

Arsipkan.

Sore harinya, Bima datang ke depan pagar.

Sendirian.

Aku tidak membuka pintu.

Kami berbicara lewat interkom.

“Aku mau ketemu Alya.”

“Alya sedang les.”

“Buka dulu.”

“Kalau mau bertemu Alya, kirim jadwal. Kita atur.”

“Ini rumahku juga.”

“Bukan.”

Dia terdiam.

Aku mendengar napasnya dari speaker.

“Ratih, jangan kekanak-kanakan.”

“Aku sedang berusaha sangat dewasa.”

“Kalau dewasa, buka pintu dan kita selesaikan sebagai suami istri.”

“Kemarin kamu mau membawa Alya untuk menakutiku.”

“Itu cuma emosi.”

“Dan kamu mencengkeram tangan saya.”

“Aku tidak memukulmu.”

Aku hampir tersenyum.

Standar seseorang memang bisa serendah itu.

“Selamat. Kamu tidak memukul istrimu. Prestasi yang luar biasa.”

“Ratih!”

“Aku sudah berkonsultasi dengan pengacara.”

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Beberapa detik kemudian suaranya berubah.

“Pengacara?”

“Iya.”

“Kamu mau cerai cuma gara-gara Mama Papa?”

“Bukan.”

Aku menjawab tenang.

“Aku mau bercerai karena suamiku diam-diam menjanjikan rumah milikku kepada orang lain, menganggap penghasilanku sumber dana keluarganya, mencengkeramku ketika aku menolak, lalu memakai anak kami sebagai ancaman.”

Dia tidak menjawab.

“Kamu boleh datang lagi besok pukul empat kalau ingin bertemu Alya.”

Lalu kumatikan interkom.

Besoknya dia datang.

Aku membiarkan Alya bertemu ayahnya di ruang tamu sementara pintu depan tetap terbuka dan kakakku ada bersamaku.

Bima membawa dua kotak donat.

Seolah donat bisa memperbaiki semuanya.

Setelah bermain dengan Alya, dia meminta bicara denganku.

Kami duduk di teras.

“Aku sudah bicara sama Mama.”

“Lalu?”

“Mama masih marah.”

“Itu urusan Mama.”

“Aku bisa minta mereka menyewa rumah kontrakan dulu.”

Aku menatapnya.

“Dengan uang siapa?”

Dia diam.

Aku langsung tahu.

“Uang kita?”

“Ratih, mereka orang tuaku.”

“Benar.”

“Jadi kamu yang biayai.”

Wajahnya mengeras.

“Kita sudah menikah. Pendapatan kita seharusnya untuk keluarga.”

“Aku dan Alya juga keluarga.”

“Jangan dipelintir.”

Aku membuka ponsel.

“Aku cuma ingin jelas. Kamu mau menyewa rumah untuk orang tuamu dari penghasilanmu sendiri?”

Bima menatap lantai.

Gajinya sekitar dua puluh juta per bulan.

Tidak kecil.

Namun cicilan mobilnya, gaya hidupnya, bantuan untuk keluarganya, dan kebiasaannya menggunakan kartu kredit membuat tabungannya hampir tidak ada.

Selama ini pendapatanku yang lebih besar menutup banyak kebutuhan rumah.

Itulah alasan dia begitu mudah berkata “kita mampu”.

Karena “kita” sebenarnya sering berarti aku.

“Aku akan cari cara,” katanya.

“Bagus.”

“Kalau begitu kita tidak perlu cerai.”

Aku menggeleng.

“Masalah kita sudah lebih besar dari tempat tinggal Mama Papa.”

Wajahnya berubah.

“Ratih, jangan rusak keluarga cuma karena emosi.”

Aku menarik napas.

“Bima, keluarga ini tidak rusak Sabtu kemarin.”

“Keluarga ini rusak sedikit demi sedikit setiap kali kamu meminta aku mengalah supaya kamu tidak perlu berkata tidak kepada keluargamu.”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan.

“Setiap kali uang rumah tangga dipakai tanpa persetujuanku.”

“Setiap kali aku dipaksa menjadi perawat gratis.”

“Setiap kali masalah Dimas dijadikan tanggung jawab kita.”

“Setiap kali kamu berkata, ‘Kita lebih mampu.’”

“Dan Sabtu kemarin aku akhirnya sadar siapa yang selalu diminta berkorban.”

Dia mengusap wajahnya.

“Jadi sudah final?”

“Iya.”

Bima pulang tanpa bicara lagi.

Kupikir setelah itu keadaan akan lebih tenang.

Ternyata aku salah.

Tiga hari kemudian Dimas menelepon.

Aku tidak mengangkat.

Dia menelepon lagi.

Lalu mengirim pesan.

“Mbak, kita bicara baik-baik. Mama sampai sakit gara-gara masalah ini.”

Aku menjawab satu kalimat.

“Kalau mengenai kondisi kesehatan Mama, silakan koordinasi dengan Bima.”

Lima menit kemudian dia menelepon lagi.

Kali ini kuangkat.

“Mbak, kok tega banget, sih?”

Aku hampir tertawa.

“Dimas, kamu menelepon aku untuk mengatakan aku tega?”

“Mama Papa cuma numpang.”

“Kamu punya rumah empat kamar.”

“Situasiku beda.”

“Apa bedanya?”

“Livia lagi program hamil. Dia butuh tenang.”

“Dan aku tidak butuh tenang?”

Dia terdiam.

Aku melanjutkan.

“Kamu menerima hampir delapan miliar dari mereka.”

“Itu pemberian orang tua.”

“Benar.”

“Dan karena itu pemberian orang tua, aku tidak menuntut uang itu.”

“Aku cuma mempertanyakan kenapa orang yang menerima hampir seluruh aset mereka merasa tidak berkewajiban menyediakan satu kamar.”

Suara Dimas mulai meninggi.

“Livia tidak cocok sama Mama.”

“Dan aku cocok?”

“Mbak lebih sabar.”

Aku tertawa.

Akhirnya.

Inilah kalimat yang menjelaskan enam tahun hidupku.

Aku dibebani lebih banyak justru karena aku lebih sabar.

Orang yang paling bisa menahan sakit selalu dianggap mampu menerima pukulan berikutnya.

“Dimas.”

“Iya?”

“Mulai hari ini, jangan salah mengartikan kesabaran sebagai izin.”

Lalu kututup telepon.

Beberapa hari setelah percakapan itu, aku mendapat informasi mengejutkan dari Pak Hadi.

Dia meneleponku sendiri.

Suaranya terdengar jauh lebih lelah dibanding biasanya.

“Ratih… Papa mau tanya sesuatu.”

“Silakan, Pak.”

“Kalau dulu Papa sama Mama transfer uang ke Dimas dengan keterangan ‘untuk pembelian rumah’, itu bisa diminta lagi tidak?”

Aku langsung duduk tegak.

“Ada apa?”

Lama sekali dia tidak menjawab.

Kemudian dia berkata lirih.

“Dimas bilang rumahnya bukan punya dia.”

Aku membeku.

“Maksud Bapak?”

“Rumah itu atas nama Livia.”

Ternyata ketika transaksi dilakukan, hampir delapan miliar dari mertuaku masuk sebagai uang muka.

Sisanya dibiayai dari pinjaman bank.

Tetapi karena urusan kredit dan penghasilan, sertifikat serta perjanjian pembeliannya disusun atas nama Livia.

Yang lebih menyakitkan, sebulan sebelum mertuaku datang ke rumahku, Livia sudah mengatakan secara tegas bahwa mereka tidak boleh pindah ke rumah tersebut.

Itulah sebabnya mereka datang kepadaku.

Bukan karena mendadak rindu anak sulung.

Mereka sudah ditolak terlebih dahulu.

“Papa pikir minimal kami bisa tinggal di sana kalau sudah tua,” katanya.

Aku tidak tahu harus kasihan atau marah.

“Dimas menjanjikan itu?”

“Iya.”

“Ada buktinya?”

“Ada chat.”

“Kalau Bapak ingin tahu posisi hukumnya, konsultasikan dengan pengacara. Jangan hanya berdasarkan omongan keluarga.”

Pak Hadi menghela napas.

“Ratih… Papa minta maaf.”

Aku terdiam.

Itu pertama kalinya salah satu dari mereka meminta maaf.

Bukan permintaan maaf besar.

Tidak dramatis.

Tapi cukup membuatku berhenti beberapa detik.

“Papa dulu pikir karena kamu istri Bima, ya wajar membantu keluarga.”

Aku menjawab pelan.

“Membantu itu wajar, Pak.”

“Memaksa itu yang tidak wajar.”

Dua minggu kemudian aku mendapat kabar bahwa Pak Hadi dan Bu Marni pindah ke kontrakan kecil di daerah Bekasi.

Bima yang membayar uang muka sewanya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, suamiku harus benar-benar menanggung keputusan keluarganya menggunakan uang sendiri.

Barulah dia mulai memahami harga dari kalimat “kita bantu saja”.

Dia menjual motornya.

Membatalkan rencana mengganti mobil.

Memotong pengeluaran.

Dan mulai mentransfer biaya hidup orang tuanya setiap bulan.

Sementara itu, Dimas hampir tidak membantu.

Bu Marni mulai meneleponnya setiap hari.

Awalnya Dimas mengangkat.

Kemudian hanya menjawab chat.

Lalu semakin sering tidak membalas.

Puncaknya terjadi dua bulan kemudian.

Hari Minggu sore, aku mendapat pesan dari Bu Marni.

Bukan makian.

Bukan tangisan.

Hanya tiga kalimat.

“Dimas ganti nomor.”

“Dia sama Livia pindah sementara ke Singapura karena pekerjaan.”

“Mama tidak tahu harus bicara kepada siapa.”

Aku membaca pesan itu lama.

Lalu menjawab:

“Ibu masih punya dua anak. Silakan bicarakan dengan mereka. Saya tidak lagi menangani urusan keuangan keluarga Bima.”

Tidak ada jawaban.

Proses perceraianku terus berjalan.

Bima sempat berubah pikiran berkali-kali.

Di satu pertemuan mediasi, dia berkata ingin memperbaiki semuanya.

“Aku sudah sadar.”

Aku tidak langsung menolak.

Aku hanya bertanya.

“Kamu sadar apa?”

Dia terlihat bingung.

Aku melanjutkan.

“Kamu sadar karena hampir kehilangan istri?”

“Atau sadar bahwa selama ini kamu salah memperlakukan istrimu?”

Dia menunduk.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

Aku tidak ingin kembali hanya karena seseorang takut kehilangan kenyamanan.

Aku ingin bersama seseorang yang mengerti batas bahkan ketika tidak ada ancaman kehilangan apa pun.

Mediasi gagal.

Proses dilanjutkan.

Alya tetap tinggal bersamaku.

Bima mendapatkan waktu yang teratur untuk bertemu dengannya.

Aku tidak pernah melarang.

Aku juga tidak pernah menjelek-jelekkan ayahnya di depan Alya.

Masalah kami adalah masalah kami.

Bukan warisan emosional yang harus ditanggung anak sembilan tahun.

Beberapa bulan kemudian keputusan perceraian selesai.

Rumah tetap milikku sesuai dokumen kepemilikan dan perjanjian kami.

Dana pendidikan Alya yang sejak awal kubuat terpisah tetap aman.

Bima berkewajiban memberikan nafkah untuk Alya setiap bulan.

Mobil yang dibeli selama pernikahan diselesaikan berdasarkan kesepakatan kami.

Tidak ada adegan saling merampas.

Tidak ada keributan di pengadilan.

Hanya satu hubungan yang akhirnya diberi titik.

Pada hari aku menerima salinan akta cerai, aku pulang sebelum magrib.

Alya sedang menggambar di meja makan.

Dia melihat map di tanganku.

“Sudah selesai, Ma?”

Aku terdiam sebentar.

Entah dari mana anak sekecil itu memahami begitu banyak.

“Sudah.”

Dia menatapku.

“Papa tetap Papa, kan?”

Aku tersenyum.

“Tetap.”

“Papa tetap boleh datang ke acara sekolah?”

“Tentu.”

Wajahnya langsung lega.

Saat itu aku tahu aku mengambil keputusan yang benar.

Bukan karena aku menang.

Bukan karena Bima kalah.

Tetapi karena anak kami tidak perlu tumbuh di rumah yang setiap hari dipenuhi rasa terpaksa, ancaman, dan kebencian.

Enam bulan kemudian hidupku benar-benar berubah.

Aku mengubah kamar yang dulu hendak diambil Bu Marni menjadi ruang kerja sekaligus perpustakaan kecil.

Alya memilih sendiri rak bukunya.

Kami mengecat satu dinding dengan warna krem muda.

Di dekat jendela, kami menaruh dua kursi.

Kadang malam hari kami membaca di sana bersama.

Tidak ada lagi koper mendadak.

Tidak ada telepon meminta transfer untuk masalah Dimas.

Tidak ada kalimat “kamu harus mengalah”.

Bima juga perlahan berubah.

Bukan kepadaku.

Kepada dirinya sendiri.

Karena sekarang tidak ada lagi penghasilanku sebagai jaring pengaman, dia mulai benar-benar membuat anggaran.

Dia membayar kontrakan orang tuanya.

Mengatur biaya berobat.

Dan untuk pertama kalinya berani berkata tidak ketika Bu Marni meminta sesuatu yang tidak sanggup dia berikan.

Suatu sore ketika menjemput Alya, dia berdiri di depan pagar cukup lama.

“Ratih.”

“Ya?”

“Aku baru ngerti sesuatu.”

Aku menunggu.

“Selama ini gampang sekali bagiku bilang kamu harus ikhlas karena yang keluar bukan cuma uangku.”

Aku tidak menjawab.

Dia tertawa pahit.

“Sekarang setiap bulan aku bayar semuanya sendiri, baru terasa.”

“Memang.”

“Dimas hampir tidak pernah bantu.”

“Itu urusan kalian.”

“Iya.”

Dia mengangguk.

Kemudian sebelum masuk mobil, dia berkata:

“Aku minta maaf.”

Kali ini aku percaya permintaan maafnya.

Bukan berarti aku ingin kembali.

Memaafkan seseorang tidak selalu berarti memberikan kembali tempat yang sama dalam hidup kita.

“Aku sudah tidak marah,” jawabku.

“Tapi kita memang lebih baik seperti ini.”

Dia mengangguk.

Tidak membantah.

Beberapa bulan setelah itu, kabar terakhir tentang Dimas datang dari Pak Hadi.

Ternyata pekerjaan di Singapura hanya alasan sementara.

Dimas dan Livia sebenarnya pergi karena hubungan mereka dengan Bu Marni semakin buruk.

Rumah mewah yang dibeli dengan uang orang tua itu juga menjadi sumber pertengkaran mereka.

Bu Marni berkali-kali menuntut hak tinggal.

Livia merasa rumah itu miliknya.

Dimas terjepit.

Pada akhirnya Pak Hadi memilih berkonsultasi dengan pengacara mengenai uang yang pernah mereka transfer.

Aku tidak pernah bertanya bagaimana hasilnya.

Itu bukan lagi urusanku.

Yang kutahu, pasangan tua itu akhirnya belajar satu pelajaran paling mahal dalam hidup mereka.

Ketika membagi kasih sayang secara tidak adil, jangan berharap anak yang selalu dikorbankan akan terus menyediakan tempat untuk mendarat.

Mereka memberikan hampir seluruh kekayaan kepada anak yang paling mereka sayangi.

Namun ketika membutuhkan atap, mereka justru mengetuk pintu anak yang selama ini mereka anggap paling mudah diminta berkorban.

Ironis.

Tapi aku tidak menikmati penderitaan mereka.

Aku hanya tidak mau lagi menjadi solusinya.

Setahun setelah perceraian, aku mendapat promosi.

Penghasilanku meningkat.

Alya masuk kelas empat dan mulai mengikuti kursus melukis.

Rumah terasa jauh lebih tenang.

Pada ulang tahunku yang ke-36, Alya memberikan sebuah kartu buatan tangan.

Di bagian depan dia menggambar rumah kami.

Ada dua orang berdiri di halaman.

Aku dan dia.

Di bawah gambar itu tertulis:

“Rumah adalah tempat orang tidak takut pulang.”

Aku membacanya dua kali.

Lalu memeluknya erat.

Selama bertahun-tahun aku berpikir mempertahankan keluarga berarti menahan sebanyak mungkin rasa sakit.

Ternyata aku salah.

Kadang mempertahankan keluarga justru berarti menghentikan pola yang membuat semua orang saling menyakiti.

Malam itu kami makan mi goreng buatanku di ruang keluarga.

Hujan turun di luar.

Tidak ada suara orang berteriak.

Tidak ada tuntutan.

Tidak ada yang mengatur kamar siapa harus diberikan kepada siapa.

Hanya aku, anakku, dan rumah yang kembali terasa seperti rumah.

Ponselku berbunyi.

Pesan dari Bima.

“Besok jam dua aku jemput Alya seperti biasa.”

Aku menjawab:

“Baik.”

Lalu meletakkan ponsel.

Tidak ada kebencian.

Tidak ada keinginan membalas.

Semua konsekuensi sudah terjadi dengan sendirinya.

Bima kehilangan pernikahannya karena terlalu lama menganggap istrinya akan selalu mengalah.

Bu Marni dan Pak Hadi kehilangan rumah masa tua karena menyerahkan hampir seluruh aset kepada anak favorit tanpa memikirkan perlindungan untuk diri sendiri.

Dimas mendapatkan rumah mahal, tetapi sekaligus mendapatkan seluruh konflik yang datang bersama uang orang tuanya.

Sedangkan aku?

Aku hanya mengambil kembali sesuatu yang seharusnya tidak pernah kulepaskan.

Hak untuk menentukan siapa yang boleh tinggal di rumahku.

Hak untuk menjaga uang hasil kerjaku.

Hak untuk melindungi anakku.

Dan yang paling penting—

hak untuk berkata tidak tanpa merasa bersalah.

Karena membantu keluarga adalah pilihan.

Menghormati orang tua adalah kewajiban anak mereka.

Tetapi menjadikan seorang menantu sebagai dompet, perawat, tempat tinggal, dan penanggung semua akibat keputusan keluarga bukanlah bakti.

Itu hanya ketidakadilan yang terlalu lama diberi nama “pengorbanan”.

Dan pada pagi ketika empat koper diletakkan di depan pintuku, akhirnya aku berhenti berkorban untuk orang-orang yang bahkan tidak pernah bertanya apakah aku masih sanggup.