Bagian 4: Di Ruang Rapat Keluarga, Saya Mengembalikan Semua Kebohongan Itu kepada Orang yang Membuatnya
Saya tidak langsung berbalik.
Tangan saya masih berada di gagang pintu.
Selama beberapa detik, rumah itu begitu sunyi sampai suara kendaraan dari jalan depan terdengar jelas.
Kemudian saya menoleh kepada Dimas.
Wajahnya pucat.
Bukan wajah laki-laki yang difitnah.
Wajah orang yang baru saja kehilangan kendali atas rahasianya.
Saya bertanya,
“Benar?”
“Nisa, jangan dengarkan dia saat sedang emosi.”
Rania tertawa pahit.
“Sekarang aku yang emosional?”
Dimas menatapnya tajam.
“Cukup.”
Saya berjalan kembali ke ruang tengah.
Tidak duduk.
Saya berdiri di depan mereka.
“Rania. Jelaskan.”
Bu Mira menyela,
“Tidak ada yang perlu dijelaskan. Dia sedang sakit hati.”
Saya memandang ibu mertua saya.
“Ibu diam dulu.”
Mungkin itulah pertama kalinya selama pernikahan saya berbicara seperti itu kepadanya.
Dia sampai tidak sempat membalas.
Rania menarik napas panjang.
“Dua tahun lalu perusahaan Dimas hampir tutup.”
Saya tahu bagian itu.
Beberapa proyek besar terlambat membayar.
Gaji karyawan menunggak.
Vendor menagih.
Saat itu saya dan Dimas baru berkenalan lewat seorang teman keluarga.
Ayah saya memang membantu.
Bukan karena diminta Dimas secara langsung.
Dia melihat usaha Dimas punya peluang.
“Teruskan,” kata saya.
Rania menatap saya.
“Waktu itu aku dan Dimas sebenarnya belum benar-benar putus.”
Dada saya terasa dingin.
“Bukannya kamu pindah ke Jakarta?”
“Saya memang pindah.”
“Tapi masih bersama dia?”
Rania mengangguk.
“Hubungan kami sedang buruk. Bu Mira tidak suka saya karena… dokter pernah bilang kemungkinan saya hamil kecil setelah operasi kista.”
Sekarang semuanya terasa semakin menjijikkan.
Saya menoleh kepada Bu Mira.
Dia tidak berani memandang saya.
Rania melanjutkan,
“Bu Mira ingin Dimas menikah dengan perempuan yang keluarganya stabil dan… bisa memberi keturunan.”
Saya tertawa pendek.
“Dan kebetulan ayah saya punya uang.”
Rania menunduk.
“Saya baru tahu soal investasi keluargamu setelah kalian bertunangan.”
“Lalu kenapa kamu tidak bicara?”
Dia tidak menjawab.
Saya mengerti.
Karena dia juga berharap Dimas kembali.
Semua orang di ruangan itu mengambil sesuatu dari saya.
Dimas mengambil kepercayaan.
Bu Mira mengambil uang dan rahim saya sebagai jaminan masa depan keluarga.
Rania mengambil kesempatan untuk masuk lagi ke kehidupan suami orang.
Saya memasukkan kembali dokumen ke map.
Anehnya, setelah mendengar semua itu, saya justru tidak ingin berteriak.
Saya hanya berkata,
“Terima kasih.”
Dimas menatap saya bingung.
“Untuk apa?”
“Karena malam ini kalian akhirnya membuat semuanya sangat jelas.”
Saya pergi.
Kali ini tidak ada yang berani menahan.
Ayah menunggu saya di rumah bersama ibu.
Begitu pintu terbuka, saya tidak bisa lagi mempertahankan wajah tenang.
Saya memeluk ibu dan menangis sampai tubuh saya gemetar.
Ibu tidak berkata,
“Sudah Ibu bilang.”
Tidak berkata,
“Kenapa kamu tidak sadar dari dulu?”
Dia hanya memegang kepala saya dan membiarkan saya menangis.
Ayah duduk beberapa meter dari kami.
Matanya merah.
Setelah saya tenang, dia bertanya,
“Kamu mau bagaimana?”
Saya mengusap wajah.
“Mau cerai.”
Ayah mengangguk.
Tidak ada ceramah tentang malu.
Tidak ada nasihat untuk bertahan demi anak.
Hanya satu kalimat.
“Kalau itu keputusanmu setelah kamu pikirkan baik-baik, Ayah berdiri di belakangmu.”
Malam itu saya tidur di kamar lama saya.
Untuk pertama kali sejak menikah, saya mengunci pintu tanpa takut seseorang menganggap saya sedang ngambek.
Paginya, hidup saya berubah menjadi rangkaian dokumen.
Farah mengirim surat resmi ke perusahaan.
Permintaan audit.
Permintaan akses laporan keuangan.
Pemberitahuan larangan pengalihan saham tanpa persetujuan saya.
Dan tagihan atas pinjaman pemegang saham yang selama ini dianggap Dimas seolah-olah uang keluarga saya adalah hadiah pernikahan.
Belum sampai siang, telepon saya penuh.
Dimas.
Bu Mira.
Manajer keuangan perusahaan.
Paman Dimas.
Sepupu Dimas.
Bahkan satu tante yang selama ini hanya menghubungi saya saat Lebaran.
Saya tidak mengangkat satu pun.
Pukul dua siang, pesan Dimas masuk.
“Nisa, jangan campurkan masalah rumah tangga dengan perusahaan. Ada 24 orang karyawan yang bergantung pada bisnis ini.”
Saya membalas satu kali.
“Justru karena ada 24 karyawan, uang perusahaan tidak boleh dipakai membiayai apartemen selingkuhan pemiliknya.”
Setelah itu saya blokir.
Audit berlangsung hampir tiga minggu.
Hasilnya lebih buruk daripada perkiraan.
Tidak semua transaksi bermasalah.
Tetapi cukup banyak pembayaran pribadi yang disamarkan menjadi pengeluaran operasional.
Sewa apartemen Rania.
Tagihan klinik.
Cicilan mobil yang digunakan Rania.
Makan malam.
Tiket pesawat.
Bahkan sebuah gelang yang dibeli Dimas untuk ulang tahun Rania dicatat sebagai “hadiah klien”.
Farah sampai menatap saya beberapa detik sebelum berkata,
“Saya jarang lihat orang sebodoh ini mencampur perselingkuhan dengan pembukuan perusahaan.”
Saya tertawa.
Itulah pertama kalinya dalam hampir sebulan saya benar-benar tertawa.
Dimas akhirnya meminta bertemu.
Bukan sebagai suami.
Sebagai direktur perusahaan.
Kami bertemu di kantor notaris bersama Farah, auditor, ayah saya, dan dua pemegang saham kecil lainnya.
Dimas datang tanpa Bu Mira.
Wajahnya terlihat jauh lebih tua.
Dia langsung berkata,
“Aku mau menyelesaikan ini baik-baik.”
Saya membuka map.
“Kita memang akan menyelesaikannya.”
Dia menatap saya.
“Nis, perusahaan tidak punya uang tunai untuk mengembalikan seluruh pinjaman sekarang.”
“Bisa dicicil sesuai perjanjian.”
“Kalau arus kas terganggu, proyek bisa berhenti.”
“Jadi?”
“Aku butuh kamu tetap sebagai pemegang saham. Tapi jangan menarik dana dulu.”
Saya menatap laki-laki itu.
Dulu saya pernah menganggap ketenangannya sebagai kedewasaan.
Sekarang saya tahu sebagian hanyalah kemampuan membuat orang lain menanggung akibat dari pilihannya.
“Ada syarat,” kata saya.
Matanya langsung hidup.
“Apa?”
“Pertama, semua pengeluaran pribadi dikembalikan ke perusahaan.”
Dia diam.
“Kedua, akses keuangan berada di bawah pengawasan komisaris baru sampai audit selesai.”
Rahangnya mengeras.
“Ketiga, kamu tidak boleh menjual, menjaminkan, atau memindahkan aset perusahaan tanpa persetujuan pemegang saham.”
“Nisa…”
“Keempat, saya melepas sebagian kepemilikan saya setelah pinjaman selesai dibayar. Dengan harga berdasarkan valuasi independen.”
Dia menatap saya seakan baru menyadari bahwa perempuan di depannya bukan lagi istri yang bisa disuruh diam.
“Jadi kamu benar-benar mau keluar?”
“Saya sudah keluar.”
Dia menunduk.
Beberapa detik kemudian dia berkata,
“Aku salah.”
Saya tidak menjawab.
“Nis.”
Saya menatapnya.
“Aku salah.”
“Saya tahu.”
“Aku bisa perbaiki.”
Saya menggeleng.
“Perusahaan mungkin bisa.”
Dia menatap saya.
“Pernikahan kita tidak?”
Pertanyaan itu seharusnya menyakitkan.
Ternyata tidak.
Saya hanya teringat ruang tunggu rumah sakit.
Saya hamil, membawa hasil USG sendiri.
Suami saya berada bersama perempuan lain.
Dan ibu mertuaku menganggap itu hal wajar.
“Tidak.”
Satu kata.
Selesai.
Proses perceraian tidak secepat dalam cerita.
Ada mediasi.
Ada keluarga yang mencoba ikut campur.
Ada orang yang mengatakan saya terlalu keras.
Ada yang berkata,
“Namanya laki-laki bisa khilaf.”
Saya selalu bertanya balik,
“Khilaf berapa bulan?”
Biasanya mereka langsung diam.
Bu Mira datang ke rumah orang tua saya dua kali.
Kunjungan pertama, dia masih galak.
“Kamu sedang menghancurkan masa depan cucu Ibu.”
Saya duduk di ruang tamu sambil minum air hangat.
“Cucu Ibu baik-baik saja.”
“Anak tanpa ayah itu bagaimana?”
“Dia tetap punya ayah. Yang saya hentikan adalah pernikahan saya dengan anak Ibu.”
Bu Mira menepuk paha.
“Perempuan sekarang sedikit-sedikit cerai.”
Saya menatapnya.
“Perempuan dulu mungkin tidak punya pilihan. Saya punya.”
Dia pulang dengan wajah merah.
Kunjungan kedua berbeda.
Itu setelah hasil audit keluar.
Dia datang tanpa perhiasan.
Nada suaranya rendah.
“Nisa, tolong jangan paksa Dimas mengembalikan semuanya dalam waktu dekat.”
“Sesuai perjanjian.”
“Perusahaan bisa jatuh.”
“Kenapa waktu uang perusahaan dipakai membayar apartemen Rania, Ibu tidak khawatir perusahaan jatuh?”
Bu Mira terdiam.
Saya menatapnya.
“Dulu Ibu bilang Rania lebih membutuhkan Dimas karena saya sehat.”
Dia menunduk.
“Saya ingat.”
“Saya juga.”
Itu kunjungan terakhirnya.
Sementara itu, hubungan Dimas dan Rania ternyata tidak menjadi kisah cinta indah setelah saya pergi.
Saya mengetahuinya bukan karena mencari.
Rania sendiri yang menghubungi saya.
Hampir dua bulan setelah saya pindah.
Dia mengirim pesan panjang.
“Mbak Nisa, saya minta maaf.”
Saya tidak membalas.
Pesan berikutnya datang.
“Dimas menyalahkan saya karena bicara malam itu.”
Saya tetap tidak membalas.
Lalu satu foto masuk.
Tas-tas Rania berada di lorong apartemen.
“Saya sudah keluar.”
Barulah saya menulis,
“Itu urusan kalian.”
Dia menelepon.
Saya menolak.
Akhirnya dia mengirim pesan suara.
Dari sana saya mengetahui sesuatu yang hampir ironis.
Setelah audit, Dimas kehilangan akses bebas ke rekening perusahaan.
Dia harus menjual mobil pribadinya untuk mengembalikan sebagian uang.
Apartemen Rania tidak diperpanjang.
Ketika Rania menuntut kejelasan tentang pernikahan, Dimas justru mengatakan dia tidak sanggup memikirkan pernikahan baru.
Rania marah.
“Jadi selama ini saya menunggu apa?”
Dimas menjawab,
“Aku kehilangan keluarga, perusahaan kacau, dan semuanya bermula sejak kamu bicara malam itu.”
Rania akhirnya sadar.
Laki-laki yang selama bertahun-tahun berkata akan memilihnya ternyata tetap membutuhkan seseorang untuk disalahkan.
Saya tidak merasa menang.
Saya juga tidak merasa kasihan.
Saya hanya mengetik,
“Semoga setelah ini kamu juga berhenti membangun kebahagiaan di atas rumah tangga orang lain.”
Kemudian saya blokir nomornya.
Kehamilan saya memasuki bulan ketujuh.
Perut membesar.
Saya mulai sulit tidur.
Ibu membuatkan wedang jahe hangat tanpa terlalu banyak gula.
Ayah memasang pegangan tambahan di kamar mandi.
Setiap kontrol, salah satu dari mereka ikut.
Kadang ibu.
Kadang adik perempuan saya.
Saya tidak pernah lagi duduk sendirian di ruang tunggu.
Suatu pagi, ketika dokter menunjukkan wajah bayi melalui USG 4D, saya menangis.
Dokter tersenyum.
“Kelihatan hidungnya.”
Ibu memegang tangan saya.
“Mirip kamu.”
Saya tertawa sambil menangis.
Untuk pertama kalinya saya sadar.
Anak ini bukan simbol kegagalan pernikahan saya.
Dia juga bukan alat keluarga Dimas.
Dia hanya anak saya.
Seorang bayi yang tidak pernah meminta berada di tengah kebohongan orang dewasa.
Hari persalinan tiba lebih cepat sembilan hari dari perkiraan.
Kontraksi pertama muncul pukul tiga dini hari.
Ayah panik sampai membawa tas bayi tapi lupa membawa dompet sendiri.
Ibu malah tertawa melihatnya.
Di perjalanan ke rumah sakit, saya memegang perut dan tiba-tiba teringat pagi ketika Bu Mira menemani saya kontrol.
Aneh.
Rasanya seperti kehidupan orang lain.
Putri saya lahir pukul 11.47.
Beratnya 3,1 kilogram.
Saya memberinya nama Alya Kirana.
Ketika perawat meletakkannya di dada saya, saya menangis begitu keras sampai dokter ikut tersenyum.
Saya berbisik,
“Maaf perjalananmu ke dunia sempat dikelilingi orang-orang yang salah.”
Jari kecilnya bergerak.
“Semuanya sudah selesai.”
Dimas datang sore hari.
Dia berdiri di depan pintu kamar.
Tidak berani masuk sebelum ayah mengizinkan.
Saya mengangguk.
Dia berjalan mendekat.
Wajahnya berubah ketika melihat Alya.
Matanya langsung merah.
“Boleh aku gendong?”
Saya berkata,
“Cuci tangan dulu.”
Dia menurut.
Saya memperhatikan saat dia menggendong putrinya.
Ada bagian kecil dalam diri saya yang sedih.
Bukan karena ingin kembali.
Melainkan karena saya pernah membayangkan momen ini terjadi dalam keluarga yang utuh.
Dimas menangis.
“Saya minta maaf.”
Saya tahu permintaan maaf itu ditujukan kepada saya.
Tapi saya hanya berkata,
“Jadilah ayah yang baik.”
Dia mengangkat kepala.
“Kalau kamu kasih aku kesempatan…”
Saya menggeleng.
“Saya memberi kamu kesempatan menjadi ayah.”
Saya menatapnya lurus.
“Bukan menjadi suami saya lagi.”
Dia tidak memaksa.
Mungkin akhirnya dia mengerti.
Perceraian kami resmi beberapa bulan kemudian.
Hak dan kewajiban terkait Alya disepakati.
Dimas boleh bertemu anaknya sesuai jadwal.
Biaya kebutuhan Alya ditransfer langsung setiap bulan.
Saya tidak memakai anak sebagai senjata.
Tapi saya juga tidak membuka pintu lama.
Urusan perusahaan selesai hampir satu tahun kemudian.
Sebagian pinjaman dikembalikan tunai.
Sebagian diselesaikan melalui penjualan satu aset investasi.
Saya kemudian menjual sebagian besar saham saya berdasarkan valuasi independen.
Saya menyisakan lima persen selama satu tahun tambahan sampai seluruh kewajiban selesai.
Dengan uang yang kembali, saya tidak membeli mobil baru.
Tidak membeli rumah mewah.
Saya membuka studio kecil yang menjual perlengkapan dekorasi rumah berbasis kerajinan lokal.
Saya memang pernah kuliah desain produk sebelum menikah.
Mimpi itu tertunda ketika saya membantu Dimas.
Sekarang saya mengambilnya kembali.
Awalnya hanya tiga karyawan.
Enam bulan kemudian menjadi tujuh.
Tidak besar.
Tapi setiap rupiah di rekening bisnis saya terasa jauh lebih ringan daripada miliaran yang dulu membuat saya terikat pada pernikahan palsu.
Bu Mira beberapa kali meminta bertemu Alya.
Saya mengizinkan.
Dengan syarat jelas.
Tidak ada komentar buruk tentang saya di depan anak.
Tidak ada membawa Alya menemui Rania.
Tidak ada mengambil keputusan apa pun tanpa izin.
Anehnya, setelah kehilangan kendali, Bu Mira justru jauh lebih sopan.
Mungkin sebagian orang baru belajar menghormati batas ketika mereka sadar batas itu punya konsekuensi.
Dimas tidak menikah dengan Rania.
Setahu saya, Rania akhirnya pindah ke Jakarta dan bekerja di perusahaan lain.
Saya tidak pernah mencari kabarnya lagi.
Dimas bertahan di perusahaan.
Jabatannya tetap direktur, tetapi struktur pengawasan berubah total.
Dia tidak lagi memegang semua keputusan keuangan sendirian.
Pak Hendra beberapa kali mengirim pesan kepada saya.
Bukan membela anaknya.
Hanya meminta maaf.
Suatu kali beliau menulis,
“Bapak malu karena tidak tahu apa yang terjadi di rumah sendiri.”
Saya membalas,
“Bapak tidak perlu menanggung kesalahan orang lain. Yang penting jangan membenarkan yang salah.”
Dia menjawab,
“Iya.”
Dua tahun setelah pagi di rumah sakit itu, saya kembali melewati gedung yang sama.
Bukan untuk kontrol kehamilan.
Saya membawa Alya imunisasi.
Dia sudah bisa berjalan beberapa langkah.
Rambutnya dikuncir dua.
Saat kami melewati ruang tunggu poli kandungan, saya berhenti.
Kursinya masih sama.
Televisi masih menggantung di dinding.
Nomor antrean masih dipanggil dengan suara elektronik.
Dulu saya berdiri di sana sambil menggenggam hasil USG sampai kusut.
Saya merasa anak di perut saya adalah lelucon.
Saya merasa hidup saya selesai.
Sekarang seorang anak kecil menarik tangan saya.
“Bunda.”
Saya menunduk.
Alya mengulurkan tangannya.
“Mau susu.”
Saya tertawa.
“Sebentar.”
Dia mengerucutkan bibir.
Saya menggendongnya.
Lalu untuk beberapa detik saya melihat kursi tempat Bu Mira duduk ketika tanpa sengaja membongkar seluruh kebohongan keluarganya sendiri.
Dulu saya menganggap itu hari terburuk dalam hidup saya.
Sekarang tidak lagi.
Kadang-kadang sebuah kalimat yang menghancurkan rumahmu sebenarnya sedang membuka pintu keluar yang selama ini tidak pernah kamu sadari ada.
Kalau Bu Mira tidak salah bicara pagi itu, mungkin saya masih menjadi istri yang setiap malam bertanya kenapa suaminya pulang terlambat.
Mungkin uang keluarga saya terus mengalir ke perusahaan.
Mungkin saham saya sudah pindah tangan.
Mungkin saya membesarkan Alya di rumah yang setiap hari mengajarkan bahwa seorang perempuan harus diam demi mempertahankan nama keluarga.
Saya tidak kehilangan keluarga pada hari itu.
Saya baru mengetahui keluarga seperti apa yang sebenarnya saya miliki.
Dan setelah tahu, saya memilih membangun keluarga yang lain.
Lebih kecil.
Lebih sederhana.
Tapi tidak berdiri di atas kebohongan.
Saya menggendong Alya menuju lift.
Sebelum pintu tertutup, dia melambaikan tangan kepada perawat di meja registrasi.
Saya mencium kepalanya.
Kemudian berbisik,
“Kita pulang.”
Dan untuk pertama kalinya, kata pulang benar-benar berarti pergi ke tempat di mana saya tidak perlu takut siapa yang sedang berbohong kepada saya.
