Tanganku masih memegang surat tua itu ketika suasana ruang keluarga berubah menjadi begitu sunyi.
Aku membaca kalimat pertama sekali lagi.
“Maya, kalau suatu hari perempuan itu datang membawa koper ke rumah ini, jangan usir dia.”
Jantungku berdetak keras.
Aku mengangkat wajah.
Rani berdiri di samping sofa dengan wajah pucat.
Arman tidak lagi terlihat seperti laki-laki yang beberapa menit lalu begitu yakin bisa mengusir istrinya dari rumah.
Ibu mertuaku bahkan tidak berani menatapku.
Aku membalik halaman.
Di bawah kalimat pertama terdapat tulisan tangan ayah mertuaku.
“Jangan percaya pada siapa pun yang mengatakan bahwa mereka datang demi cinta. Perhatikan siapa yang paling panik ketika dokumen ini dibuka.”

Aku terdiam.
Mataku perlahan beralih kepada Arman.
Dia langsung membuang muka.
Saat itulah aku mengerti.
Selama ini ada sesuatu yang lebih besar daripada perselingkuhan.
Sesuatu yang telah disembunyikan oleh keluarga ini.
“Apa maksud surat ini?” tanyaku.
Tidak ada yang menjawab.
Aku menatap pengacara yang berdiri di hadapanku.
“Pak, apakah Anda sudah mengetahui tentang surat ini?”
Dia mengangguk pelan.
“Ya.”
“Sejak kapan?”
“Sejak sebelum ayah mertua Ibu meninggal.”
Aku menarik napas.
“Kenapa baru sekarang diberikan kepada saya?”
Pengacara itu menatap Arman.
“Karena almarhum meminta saya menyerahkannya hanya jika kondisi yang tertulis di surat benar-benar terjadi.”
Aku menggenggam kertas itu lebih erat.
“Dan sekarang kondisi itu terjadi?”
“Ya.”
Rani tiba-tiba bersuara.
“Tidak. Ini pasti kesalahpahaman.”
Aku menatapnya.
“Apa yang kamu takutkan?”
Dia terdiam.
Aku melanjutkan dengan suara pelan.
“Kamu datang ke rumah ini membawa koper. Kamu mengatakan akan menjadi nyonya rumah. Kamu bahkan tahu bahwa aku akan diceraikan.”
Aku menunjuk surat itu.
“Sekarang kamu bilang semuanya salah?”
Rani menelan ludah.
Arman maju satu langkah.
“Maya, dengarkan aku.”
Aku mundur.
“Tidak.”
“Tolong.”
“Selama berbulan-bulan aku meminta kamu jujur.”
Suaraku bergetar, tetapi aku menahannya.
“Kamu memilih berbohong.”
Aku menatap cincin pernikahan di jariku.
“Sekarang aku tidak ingin mendengar alasanmu.”
Arman mengepalkan tangan.
“Kalau kamu membuka semua dokumen itu, perusahaan keluarga bisa hancur.”
Aku tersenyum pahit.
“Perusahaan?”
“Ya.”
“Jadi akhirnya kamu mengaku bahwa memang ada sesuatu?”
Dia diam.
Pengacara itu membuka dokumen lain.
“Bu Maya, ada fakta yang harus Ibu ketahui sebelum mengambil keputusan.”
Dia menunjuk beberapa halaman.
“Beberapa tahun lalu, ayah mertua Ibu membentuk sebuah perjanjian perlindungan aset.”
Aku mengernyit.
“Untuk siapa?”
“Untuk keluarga.”
Aku menatap dokumen.
“Dan nama saya?”
Pengacara itu tidak langsung menjawab.
Kemudian jarinya berhenti pada satu bagian.
“Nama Ibu tercantum sebagai penerima hak pengendalian jika terjadi penyalahgunaan aset keluarga.”
Rani tiba-tiba tertawa kecil.
“Tidak mungkin.”
Aku menatapnya.
Dia mencoba tersenyum, tetapi wajahnya sudah kehilangan warna.
“Dia hanya menantu.”
Pengacara itu menjawab tenang.
“Benar. Tetapi almarhum justru memilih menantunya karena dia tidak mempercayai putranya.”
Ruangan seolah berhenti bernapas.
Arman menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Aku tidak merasa menang.
Anehnya, aku justru merasa sedih.
Karena ternyata ayah mertuaku sudah melihat sesuatu yang selama ini tidak mampu kulihat.
Aku kembali membaca surat.
Ada satu paragraf terakhir.
“Maya, jangan hancurkan keluarga ini hanya karena mereka telah menyakitimu. Ambil kembali apa yang menjadi hakmu, tetapi jangan menjadi seperti mereka. Jika suatu hari mereka kehilangan segalanya, biarkan mereka belajar berdiri dengan kaki sendiri.”
Aku terdiam cukup lama.
Air mataku akhirnya jatuh.
Bukan karena takut.
Tetapi karena untuk pertama kalinya aku memahami pesan orang tua itu.
Dia tidak ingin aku membalas dendam.
Dia ingin aku menghentikan kebiasaan buruk yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Aku mengusap air mata.
“Pak,” kataku kepada pengacara, “apa yang terjadi jika saya menjalankan seluruh hak saya?”
Dia menjawab hati-hati.
“Perusahaan akan berada di bawah pengawasan Ibu. Beberapa aset harus dikembalikan. Transaksi pribadi yang tidak sah harus dipertanggungjawabkan.”
Arman menatapku.
“Dan aku?”
Aku memandangnya.
“Kamu masih suamiku.”
Dia terlihat sedikit lega.
Tetapi aku melanjutkan.
“Namun itu tidak berarti aku akan menyelamatkanmu dari akibat perbuatanmu.”
Wajahnya kembali pucat.
Rani tiba-tiba mengambil kopernya.
“Aku pergi.”
Aku menatapnya.
“Silakan.”
Dia berjalan menuju pintu.
Namun sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, pengacara itu berkata:
“Bu Rani, sebaiknya jangan pergi dulu.”
Rani membeku.
“Kenapa?”
Pengacara itu membuka sebuah map tipis.
“Karena ada beberapa transaksi yang menggunakan rekening Anda.”
Rani perlahan berbalik.
“Apa?”
Aku menatapnya.
Kini aku mulai memahami semuanya.
Rani bukan sekadar perempuan yang datang karena percaya pada janji seorang pria.
Dia terlibat lebih jauh.
Tetapi seberapa jauh?
Pengacara itu mengeluarkan satu lembar bukti transfer.
“Dana perusahaan masuk ke rekening ini beberapa kali.”
Rani menggeleng keras.
“Bukan saya!”
Arman tiba-tiba berkata:
“Rani, diam.”
Kalimat itu membuatnya menatap Arman dengan penuh ketidakpercayaan.
“Kamu menyuruhku diam?”
Arman tidak menjawab.
Rani mulai menangis.
“Kamu bilang uang itu hadiah untukku.”
Aku memandang Arman.
“Hadiah?”
Rani tertawa getir.
“Kamu bilang setelah menikah denganku, kita akan hidup di rumah ini. Kamu bilang semua sudah beres.”
Aku melihat Arman menundukkan kepala.
Saat itu aku sadar.
Aku bukan satu-satunya orang yang telah dibohongi.
Rani juga telah digunakan.
Namun sebelum aku sempat mengatakan apa pun, ponsel pengacara itu berdering.
Dia menjawab.
Wajahnya berubah setelah mendengar beberapa kalimat.
Kemudian dia menatapku.
“Bu Maya…”
“Ada apa?”
“Pihak bank baru saja mengonfirmasi sesuatu.”
“Apa?”
Dia menyerahkan ponselnya kepadaku.
Di layar terdapat satu pemberitahuan.
Satu rekening perusahaan telah mencoba melakukan transfer seluruh sisa dana malam ini.
Jumlahnya sangat besar.
Aku menatap Arman.
Dia berdiri diam.
Kemudian aku bertanya:
“Siapa yang melakukan transfer itu?”
Pengacara itu menjawab pelan.
“Perintahnya dibuat menggunakan akses Pak Arman.”
Aku menatap suamiku.
“Arman…”
Dia tidak menjawab.
Dan ketika aku melihat wajahnya, aku tahu—
malam ini belum selesai.
Justru semuanya baru dimulai.
