Bagian 4 — Mereka Mencoba Menghancurkan Pekerjaanku, Tetapi Satu Audit Justru Membongkar Kebohongan Mereka Sampai Akar

Avatar penulis
Cerita 02
12 menit baca 914 tayangan
Bagian 3 — Transfer Empat Puluh Delapan Juta Itu Membuka Rencana yang Sudah Disusun Jauh Sebelum Hari Pernikahan
Indeks

Bagian 4 — Mereka Mencoba Menghancurkan Pekerjaanku, Tetapi Satu Audit Justru Membongkar Kebohongan Mereka Sampai Akar

Naira tidak menelepon Fajar setelah menerima surat anonim itu.

Ia tidak mengirim pesan kepada Ratih.

Ia juga tidak menulis apa pun di media sosial.

Pagi berikutnya ia datang ke kantor pukul tujuh.

Lebih awal satu jam dari biasanya.

Ia membawa laptop pribadi, map dokumen, mutasi rekening satu tahun terakhir, bukti penjualan tanah, sertifikat deposito, slip bonus proyek, dan seluruh dokumen transaksi calon rumah di Rungkut.

Bu Farah sudah menunggunya bersama manajer keuangan dan kepala divisi audit internal.

Naira duduk.

“Saya siap diperiksa.”

Kepala audit, Pak Dedi, tampak sedikit terkejut.

“Kami belum menuduh Mbak Naira.”

“Saya tahu.”

“Kalau begitu kenapa membawa semua ini?”

“Karena surat itu menuduh rumah yang akan saya beli berasal dari uang vendor.”

Ia meletakkan akta jual beli tanah peninggalan ayahnya di meja.

“Ini sumber sebagian besar dananya.”

Kemudian sertifikat deposito.

“Ini sisanya.”

Lalu mutasi rekening.

“Semua bisa dicocokkan.”

Audit dilakukan.

Bukan hanya terhadap Naira.

Karena tuduhan menyebut dua proyek tertentu, perusahaan memeriksa aliran approval, invoice vendor, change order, dan perbandingan harga.

Tiga hari pertama, Naira nyaris tidak tidur.

Bukan karena takut bersalah.

Tetapi karena ia tahu satu surat palsu tetap bisa meninggalkan bayangan.

Ia menjaga sikap.

Datang bekerja.

Menjawab semua pertanyaan.

Menyerahkan akses yang diperlukan.

Tidak bergosip dengan rekan kantor.

Pada hari keempat, Pak Dedi memanggilnya.

“Naira, dari pemeriksaan sementara tidak ada transaksi mencurigakan.”

Naira mengangguk.

“Terima kasih, Pak.”

“Tapi kami mau tanya satu hal.”

“Apa?”

“Siapa yang mungkin punya informasi nama proyekmu?”

Naira diam sebentar.

“Calon suami saya.”

“Calon?”

“Sudah batal.”

Pak Dedi tidak ikut campur.

Ia hanya mencatat.

“Kami juga menemukan surat ini dikirim dari gerai ekspedisi dekat Jalan Kertajaya.”

Naira mengenal daerah itu.

Salon Ratih berada dua gang dari sana.

Namun ia tidak mengatakannya.

Belum ada bukti siapa pengirimnya.

Pada hari kelima, audit selesai.

Tidak ditemukan fee vendor.

Tidak ada pembayaran pribadi.

Tidak ada penggelembungan anggaran yang dilakukan Naira.

Sebaliknya, evaluasi proyek menunjukkan bahwa selama dua tahun terakhir Naira justru beberapa kali menolak variation order yang tidak memiliki dasar teknis.

Bu Farah menyerahkan surat hasil pemeriksaan internal kepadanya.

“Nama kamu bersih.”

Naira mengembuskan napas yang terasa seperti baru ia tahan selama lima hari.

“Tapi kami tetap akan simpan surat anonim ini.”

“Silakan.”

“Kalau ada intimidasi lanjutan, beri tahu.”

Naira mengangguk.

Sepulang kantor, ia langsung mendatangi kantor pengacara.

Kali ini bukan sekadar mengenai uang Rp77,4 juta.

Ia membawa surat anonim.

Pengacaranya membaca perlahan.

“Apakah Anda punya bukti Fajar atau Ratih yang mengirim?”

“Belum.”

“Jangan menuduh tanpa bukti.”

“Saya tidak mau menuduh.”

“Bagus.”

Pengacara itu menyarankan agar Naira mengirim peringatan tertulis tambahan.

Isinya sederhana.

Jangan menghubungi tempat kerja.

Jangan menyebarkan informasi palsu.

Jangan menggunakan foto Naira.

Jangan mempublikasikan tuduhan mengenai keuangan tanpa bukti.

Semua komunikasi mengenai utang dilakukan tertulis.

Surat itu diterima keluarga Fajar dua hari kemudian.

Malamnya Fajar menelepon.

Naira tidak mengangkat.

Fajar menelepon enam kali.

Kemudian mengirim pesan.

Kamu puas sekarang bikin semuanya seperti perang?

Naira membalas satu kali.

Saya hanya meminta batas saya dihormati.

Fajar mengetik lama.

Aku cuma mau kita bicara baik-baik.

Bisa lewat pengacara.

Tidak ada jawaban lagi.

Sementara itu, proses rumah Rungkut terus berjalan.

Pada hari penandatanganan AJB, Bu Rini ikut menemani.

Naira mengenakan kemeja putih sederhana.

Tidak ada gaun.

Tidak ada pesta.

Tidak ada keluarga besar.

Hanya notaris, penjual, pembeli, agen, dan beberapa map dokumen.

Saat notaris memastikan nama pemilik baru, ia membaca:

“Naira Prameswari.”

Hanya satu nama.

Naira menunduk.

Menandatangani.

Tangannya sempat berhenti sepersekian detik.

Ia teringat meja pemasaran beberapa minggu lalu.

Pulpen yang didorong Fajar.

Nama Ratih di dokumen.

Voice note.

Ancaman bahwa perempuan tiga puluh tahun akan takut batal menikah.

Hari itu Naira memahami satu hal.

Terkadang kebebasan tidak datang dengan suara keras.

Kadang bentuknya hanya satu tanda tangan yang akhirnya diletakkan di tempat yang benar.

Setelah proses selesai, Bu Lestari menyerahkan kunci.

“Ada tiga.”

Ia meletakkan tiga kunci di telapak tangan Naira.

“Satu pintu depan. Satu pagar. Satu pintu samping.”

Naira menggenggamnya.

“Terima kasih, Bu.”

Bu Lestari tersenyum.

“Semoga rumahnya ramai dengan hal baik.”

Naira hampir menangis.

Tetapi ia tersenyum.

“Amin.”

Dua minggu pertama, rumah itu kosong.

Naira tidak langsung membeli banyak furnitur.

Ia hanya membawa kasur.

Meja kerja.

Rak kecil.

Rice cooker.

Dua kursi.

Bu Rini protes.

“Masa rumah sebesar ini kursinya dua?”

Naira tertawa.

“Pelan-pelan.”

Ia mengecat ulang dinding ruang tamu.

Mengganti lampu dapur.

Memperbaiki keran halaman belakang.

Hal-hal kecil yang dulu ia bayangkan akan dilakukan bersama Fajar sekarang ia kerjakan sendiri.

Anehnya, tidak terasa sepi.

Justru terasa tenang.

Tidak ada Ratih yang mengirim desain kamar.

Tidak ada Bu Marni yang menentukan warna gorden.

Tidak ada Fajar yang berkata rumah harus dekat keluarganya.

Untuk pertama kalinya, Naira memilih warna cat hanya karena ia menyukainya.

Sementara itu, cicilan utang mulai masuk.

Bulan pertama Fajar mengirim Rp6 juta.

Ratih Rp2 juta.

Bulan kedua terlambat sebelas hari.

Pengacara Naira langsung mengirim pengingat.

Bulan ketiga, pembayaran masuk tepat waktu.

Tidak ada lagi drama.

Rupanya batas hukum jauh lebih efektif daripada debat keluarga.

Namun dampak lain mulai muncul di pihak Fajar.

Karena pernikahan batal, rumah yang semula mereka pesan otomatis tidak dapat dilanjutkan.

Fajar mencoba mengambil alih sendiri.

Bank menolak simulasi kredit yang sama karena rasio cicilan terhadap penghasilannya terlalu tinggi.

Tanpa penghasilan Naira, plafon KPR-nya jauh lebih kecil.

Ia harus melepaskan unit tersebut.

Booking fee Rp5 juta hangus sebagian sesuai ketentuan developer.

Ratih kemudian memintanya membeli rumah lebih murah dengan tetap mencantumkan namanya.

Fajar menolak.

Pertengkaran besar terjadi.

Informasi itu bukan datang dari Naira.

Dimas yang kebetulan kemudian bertemu Arman di sebuah acara properti menceritakannya.

Arman menyampaikan dengan hati-hati.

“Mbak, saya sebenarnya nggak mau bawa gosip.”

“Kalau gosip, nggak usah.”

Arman tertawa.

“Oke.”

Mereka tidak membahasnya lagi.

Naira juga tidak mencari tahu.

Tetapi beberapa minggu kemudian, Ratih sendiri datang ke rumah Naira.

Hari Minggu pukul empat sore.

Naira sedang menyiram tanaman ketika bel berbunyi.

Ia membuka pagar setengah.

Ratih berdiri di luar.

Wajahnya tampak lebih lelah daripada terakhir kali.

“Aku mau bicara.”

“Lewat sini saja.”

“Kamu nggak suruh masuk?”

“Tidak.”

Ratih terlihat tersinggung.

Namun kemudian menahan diri.

“Aku mau soal cicilan utang.”

“Ada apa?”

“Salon lagi sepi.”

Naira diam.

“Aku minta waktu.”

“Jadwalnya sudah tertulis.”

“Aku tahu.”

“Kalau perlu perubahan, hubungi pengacara.”

Ratih mengembuskan napas kasar.

“Kamu selalu begitu sekarang.”

“Begitu bagaimana?”

“Dingin.”

Naira memandangnya.

“Mbak datang untuk bicara soal cicilan atau soal kepribadian saya?”

Ratih terdiam.

Kemudian matanya melihat ke dalam halaman.

Rumah Naira memang tidak mewah.

Tetapi rapi.

Di teras ada bangku kayu.

Beberapa tanaman baru.

Lampu dinding kecil.

Ratih menatap cukup lama.

“Jadi benar kamu beli rumah.”

“Iya.”

“Tunai?”

“Itu bukan urusan Mbak.”

Ratih tertawa hambar.

“Fajar bilang kalau dulu dia tahu kamu punya uang sebanyak ini, semuanya mungkin beda.”

Naira menahan senyum pahit.

“Justru kalimat itu membuktikan keputusan saya benar.”

Ratih tampak tidak mengerti.

“Kalau seseorang memperlakukan saya lebih baik hanya setelah tahu berapa saldo saya, berarti masalahnya bukan karena saya kurang terbuka.”

Ratih menunduk sebentar.

Kemudian berkata, “Fajar kacau sejak kalian batal.”

Naira tidak menjawab.

“Kerjanya juga bermasalah.”

“Tolong jangan bicarakan dia kepada saya.”

“Kamu nggak penasaran?”

“Tidak.”

Ratih terlihat seperti baru pertama kali menyadari bahwa Naira benar-benar sudah pergi.

Bukan sedang menghukum.

Bukan sedang menunggu dikejar.

Sudah selesai.

Ratih akhirnya berkata pelan, “Soal voice note waktu itu…”

Naira menatapnya.

“Aku memang salah ngomong.”

“Bukan hanya salah ngomong.”

“Aku pikir kamu nanti jadi istri Fajar.”

“Karena itu uang saya boleh diatur?”

Ratih tidak menjawab.

Naira melanjutkan.

“Masalah terbesar Mbak bukan karena mengatakan sesuatu yang kasar.”

“Masalahnya Mbak benar-benar percaya bahwa setelah saya menikah, tenaga, penghasilan, tabungan, bahkan rumah saya otomatis menjadi sumber daya keluarga kalian.”

Ratih memandang tanah.

Beberapa detik kemudian ia berkata, “Di keluarga kami memang dari dulu begitu.”

Naira mengangguk.

“Saya mengerti.”

Ratih menatapnya, mungkin berharap ada simpati.

Namun Naira menyelesaikan kalimatnya.

“Tapi saya tidak wajib hidup seperti itu.”

Ratih pergi lima menit kemudian.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada rekonsiliasi dramatis.

Naira justru merasa itu jauh lebih nyata.

Beberapa luka tidak perlu diubah menjadi persahabatan.

Cukup dihentikan supaya tidak terus melukai.

Enam bulan berlalu.

Utang Fajar berkurang lebih dari separuh.

Salon Ratih akhirnya tutup.

Menurut kabar yang Naira dengar secara tidak sengaja dari seorang kenalan lama, bisnis itu memang sudah bermasalah jauh sebelum uang Rp48 juta dipindahkan.

Tunggakan sewa.

Pinjaman supplier.

Pembelian alat dengan cicilan.

Rp48 juta Naira hanya menunda keruntuhan beberapa bulan.

Fajar sendiri pindah dari rumah ibunya setelah terus bertengkar mengenai uang.

Naira tidak tahu ke mana.

Ia juga tidak bertanya.

Kemudian pada bulan kedelapan, satu hal mengenai surat anonim akhirnya terjawab.

Bu Farah menelepon Naira.

“Masih ingat surat yang dulu?”

“Tentu.”

“Kami dapat email dari seseorang.”

Ternyata seorang mantan pegawai salon Ratih mengirimkan pernyataan.

Perempuan itu pernah diminta Ratih mengantar amplop ke gerai ekspedisi.

Saat itu ia tidak tahu isinya.

Setelah salon tutup dan gajinya belum dibayar, terjadi pertengkaran.

Dalam pertengkaran itu Ratih mengaku pernah “membuat surat ke kantor Naira supaya dia kapok”.

Mantan pegawai tersebut bersedia memberikan keterangan jika diperlukan.

Naira duduk diam setelah mendengar penjelasan Bu Farah.

Ia tidak merasa puas.

Yang ia rasakan justru lelah.

Ia menghubungi pengacara.

Setelah mempertimbangkan semuanya, mereka mengirim somasi terakhir kepada Ratih terkait penyebaran informasi palsu.

Ratih datang ke kantor pengacara bersama Fajar.

Kali ini tidak ada Bu Marni.

Tidak ada keluarga besar.

Tidak ada suara tinggi.

Ratih menandatangani pernyataan bahwa ia tidak akan menghubungi tempat kerja Naira, menyebarkan tuduhan, memakai foto, atau membuat publikasi mengenai Naira.

Ia juga meminta maaf secara tertulis kepada perusahaan tempat Naira bekerja.

Sebagai bagian penyelesaian, jadwal utangnya diperketat.

Fajar ikut menandatangani.

Sebelum meninggalkan ruangan, Fajar berhenti di dekat pintu.

“Naira.”

Naira mengangkat kepala.

Ia terlihat lebih kurus.

Lebih tua.

“Boleh bicara satu menit?”

Pengacara Naira masih ada di ruangan.

Naira mengangguk.

Fajar duduk kembali.

“Aku tahu semuanya sudah selesai.”

Naira diam.

“Aku cuma mau tanya.”

“Apa?”

“Kalau waktu itu aku nggak masukkan nama Mbak Ratih, kita jadi menikah?”

Pertanyaan itu membuat ruangan sunyi.

Naira memikirkan jawabannya.

Kemudian berkata:

“Mungkin.”

Fajar menunduk.

“Tapi sekarang aku tahu masalahnya bukan nama Mbak Ratih.”

Fajar menatapnya.

“Masalahnya adalah kamu merasa berhak membuat keputusan tentang uangku tanpa aku.”

Naira melanjutkan.

“Kamu mengambil Rp48 juta dengan berbohong.”

“Kamu membiarkan keluargamu menghina aku.”

“Kamu memakai ketakutanku soal usia untuk menekan aku.”

“Dan ketika aku pergi, bukannya mengoreksi semuanya, kalian mencoba merusak pekerjaanku.”

Fajar tidak mengatakan apa-apa.

“Jadi kalau kamu bertanya apakah satu nama di sertifikat menghancurkan pernikahan kita…”

Naira menggeleng.

“Tidak.”

“Nama itu cuma membuka apa yang selama ini sudah ada.”

Fajar mengusap wajah.

“Aku menyesal.”

Naira percaya mungkin ia benar-benar menyesal.

Tetapi penyesalan tidak selalu berarti hubungan harus diulang.

“Aku harap kamu belajar sesuatu.”

Hanya itu.

Tidak ada kesempatan kedua.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada janji berteman.

Fajar pergi.

Sembilan bulan setelah hari di ruang pemasaran itu, utang terakhir sebesar Rp5,4 juta masuk ke rekening Naira.

Keterangan transfer hanya satu kata.

Lunas.

Naira membuka dokumen pengakuan utang.

Menulis tanggal pelunasan.

Kemudian menyimpannya.

Selesai.

Pada malam yang sama, ia mengundang beberapa teman kantor ke rumah.

Bukan pesta besar.

Hanya makan sederhana.

Sate.

Rawon.

Es teh.

Bu Rini membawa puding.

Siska datang membawa tanaman monstera dan berkata, “Rumah baru harus punya tanaman yang susah mati.”

Mereka tertawa.

Arman juga datang sebentar karena kebetulan berada dekat kawasan itu.

Ia melihat halaman yang sudah diubah Naira menjadi kebun kecil.

“Waktu pertama lihat rumah ini, Mbak bilang jangan banyak renovasi.”

Naira tertawa.

“Yang bilang Bu Lestari.”

“Tapi sekarang berubah semua.”

“Sedikit.”

“Senang?”

Naira melihat sekeliling.

Lampu teras menyala hangat.

Bu Rini sedang tertawa bersama Siska.

Dari dapur terdengar suara piring.

Di luar pagar, malam Surabaya terasa biasa.

Tidak ada musik dramatis.

Tidak ada seseorang datang membawa cincin.

Tidak ada keajaiban.

Hanya hidup yang akhirnya kembali terasa miliknya.

“Iya.”

Naira menjawab.

“Senang.”

Setahun kemudian, rumah itu tidak lagi terasa seperti rumah yang ia beli setelah batal menikah.

Ia hanya menjadi rumah Naira.

Tempat ibunya menginap setiap akhir pekan.

Tempat teman-temannya berkumpul.

Tempat Naira mengerjakan laporan proyek di meja dekat jendela.

Tempat ia menanam cabai yang hampir semuanya mati kecuali dua batang.

Tempat ia belajar bahwa memiliki hidup sendiri tidak berarti hidup sendirian.

Kariernya juga berubah.

Hasil audit yang dulu dilakukan karena fitnah justru membuat manajemen melihat betapa rapi dokumentasi pekerjaannya.

Beberapa bulan kemudian Naira dipromosikan menjadi senior cost controller.

Kenaikan gajinya tidak spektakuler.

Tetapi cukup membuatnya tertawa ketika Bu Rini berkata:

“Kalau dulu jadi menikah, mungkin bonus pertama langsung ditanya mau bantu siapa.”

Naira menatap ibunya.

Lalu mereka tertawa bersama.

Fajar tidak pernah menghubunginya lagi.

Ratih juga tidak.

Sesekali Naira masih mendengar kabar mereka dari kenalan lama.

Ia tidak membenci mereka.

Tetapi ia tidak ingin kembali menjadi bagian dari hidup mereka.

Ia akhirnya mengerti bahwa memaafkan dan membuka pintu kembali adalah dua hal berbeda.

Seseorang bisa berhenti marah tanpa memberikan akses lagi.

Seseorang bisa melanjutkan hidup tanpa harus membuktikan bahwa pihak lain menderita lebih buruk.

Dan seseorang bisa membatalkan pernikahan meskipun undangan hampir jadi, keluarga sudah tahu, dan usia terus berjalan.

Karena terlambat menikah masih jauh lebih murah daripada salah menikah selama puluhan tahun.

Pada suatu sore, hampir dua tahun setelah kejadian itu, Naira sedang membersihkan lemari ketika menemukan pulpen hitam lama di dalam tas.

Ia tidak yakin apakah itu pulpen dari ruang pemasaran waktu itu atau bukan.

Benda kecil itu membuatnya teringat pada hari ketika Fajar mendorong sebuah dokumen kepadanya dan berkata:

Tanda tangan saja.

Dulu Naira mengira keputusan besar dalam hidup selalu terasa megah.

Ternyata tidak.

Keputusan yang menyelamatkannya hanya dimulai dari satu hal kecil.

Ia tidak mengambil pulpen itu.

Ia berdiri.

Ia pergi.

Naira memandang halaman rumahnya dari jendela.

Pohon mangga tua sedang berbuah.

Di bawahnya ada kursi yang dibeli Bu Rini bulan lalu.

Naira tersenyum.

Saat itu akhirnya ia memahami sesuatu yang selama ini terasa sulit dijelaskan.

Rumah bukan sekadar nama yang tercetak pada sertifikat.

Rumah adalah tempat di mana seseorang tidak perlu membayar untuk dianggap keluarga.

Dan cinta yang sehat tidak pernah meminta seseorang mengorbankan keamanan, harga diri, serta masa depannya sebagai bukti kesetiaan.

Pada hari ia meninggalkan ruang pemasaran itu, Fajar mengira Naira sedang membuang kesempatan menikah.

Padahal sebenarnya, Naira sedang menyelamatkan satu-satunya kehidupan yang benar-benar menjadi tanggung jawabnya.

Kehidupannya sendiri.