Bagian 3 — Transfer Empat Puluh Delapan Juta Itu Membuka Rencana yang Sudah Disusun Jauh Sebelum Hari Pernikahan
Naira tidak langsung menelepon Fajar malam itu.
Ia juga tidak menghubungi Ratih.
Selama bertahun-tahun bekerja menghitung anggaran proyek, Naira terbiasa menghadapi satu aturan sederhana: ketika angka terlihat janggal, jangan dulu menuduh siapa pun.
Cari dokumen.
Susun tanggal.
Periksa jejak.
Pagi berikutnya, pukul enam lewat dua puluh, ia sudah duduk di meja makan bersama laptop.
Ibunya, Bu Rini, meletakkan secangkir teh hangat di sampingnya.
“Kamu tidur?”
“Dua jam.”
Bu Rini menarik kursi.
“Kamu mau lapor polisi?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Karena aku mau tahu dulu mereka sudah melakukan apa.”
Naira membuka semua percakapan dengan Fajar selama empat bulan terakhir.
Percakapan pertama yang ia cari adalah saat Fajar meminta Rp48 juta.
Fajar menulis bahwa developer membutuhkan tambahan booking fee untuk mempertahankan unit yang mereka pilih.
Ia bahkan mengirim gambar kuitansi.
Naira tidak pernah curiga.
Saat itu ia sedang berada di proyek renovasi hotel di Gresik dan hanya punya waktu beberapa menit sebelum masuk rapat.
Ia langsung transfer.
Sekarang, ketika diperiksa dengan tenang, terlalu banyak hal yang salah.
Logo perusahaan pada kuitansi sedikit buram.
Tidak ada nomor invoice.
Tidak ada tanda tangan sales.
Dan nomor rekening tujuan berbeda dari rekening pada brosur pembayaran yang diberikan developer.
Naira menyimpan semua bukti.
Lalu ia menelepon Dimas.
Sales rumah itu menjawab setelah dering kedua.
“Pagi, Bu Naira.”
“Mas Dimas, saya mau tanya sesuatu.”
“Silakan.”
“Booking fee unit kemarin sebenarnya berapa?”
“Lima juta rupiah.”
Naira menutup mata.
“Bukan lima puluh tiga juta?”
Dimas terdengar kaget.
“Bukan, Bu.”
“Developer pernah menerima transfer tambahan Rp48 juta dari saya?”
“Setahu saya tidak ada.”
Naira memintanya memeriksa.
Sepuluh menit kemudian Dimas mengirim rincian resmi.
Developer hanya menerima Rp5 juta.
Pembayaran dilakukan dari rekening Fajar.
Tidak pernah ada transfer tambahan.
Berarti Rp48 juta milik Naira masuk ke rekening Ratih.
Naira menatap layar tanpa ekspresi.
Bu Rini yang duduk di seberangnya mulai mengerti.
“Uangmu diambil?”
Naira mengangguk.
“Tapi aku belum tahu untuk apa.”
Pukul sembilan, Naira mengirim satu pesan kepada Fajar.
Transfer Rp48 juta tanggal 3 Agustus masuk ke rekening Mbak Ratih. Jelaskan.
Fajar membaca.
Tidak menjawab.
Lima belas menit kemudian statusnya berubah offline.
Setengah jam berikutnya, Ratih menghapus unggahan Facebook.
Itu justru menjadi jawaban pertama.
Naira menyimpan tangkapan layar yang sudah dikirim Siska.
Kemudian ia menghubungi seorang teman kuliah bernama Dina yang sekarang bekerja di kantor notaris.
Bukan untuk meminta bantuan ilegal.
Naira hanya ingin memahami prosedur.
“Kalau seseorang mau membeli rumah memakai nama saudaranya, tapi uangnya dari orang lain, bisa?”
“Bisa saja kalau pemberi uang setuju.”
“Kalau pemberi uang tidak tahu?”
“Secara perdata bisa jadi masalah besar. Tergantung bukti dan perjanjiannya.”
“Kalau uang ditransfer dengan alasan berbeda?”
“Kalau dari awal ada kebohongan untuk mendapatkan uang, simpan semua komunikasi.”
Naira melakukan itu.
Ia mencetak chat.
Mutasi bank.
Kuitansi palsu.
Screenshot unggahan Ratih.
Daftar transfer lain kepada Fajar.
Totalnya mengejutkan.
Selama tiga tahun, ada Rp92,6 juta uang Naira yang pernah diberikan atau dipinjamkan kepada Fajar.
Sebagian memang untuk makan, liburan, dan kebutuhan bersama.
Tetapi setidaknya Rp77,4 juta tercatat jelas sebagai pinjaman atau pembayaran yang dijanjikan akan diganti.
Laptop.
Sertifikasi kerja.
Uang muka motor.
Perbaikan mobil ibunya.
Dan transfer Rp48 juta.
Naira selama ini tidak merasa sedang membiayai Fajar.
Semuanya terjadi sedikit demi sedikit.
Itulah cara paling mudah membuat seseorang tidak menyadari jumlah sebenarnya.
Pukul sebelas, Fajar akhirnya menelepon.
Naira mengaktifkan speaker.
Bu Rini duduk di dekatnya.
“Kamu ngapain hubungi developer?”
Suara pertama Fajar bukan meminta maaf.
Bukan menjelaskan.
Melainkan marah karena ketahuan.
“Kenapa Rp48 juta masuk ke rekening Mbak Ratih?”
Fajar diam.
“Jawab.”
“Itu cuma sementara.”
“Untuk apa?”
“Ratih butuh dana.”
“Dana apa?”
“Urusan keluarga.”
Naira tertawa pelan.
“Jadi kamu bohong bilang itu booking fee rumah?”
“Aku mau ganti.”
“Kapan?”
“Setelah nikah.”
“Pakai uang siapa?”
Fajar langsung meninggikan suara.
“Kamu jangan bikin semua seolah-olah aku penipu!”
“Aku belum bilang kamu penipu.”
“Cara kamu ngomong begitu.”
“Aku cuma menyebut faktanya.”
Fajar menarik napas panjang.
Kemudian mengeluarkan kalimat yang akhirnya membuat semuanya semakin jelas.
“Mbak Ratih waktu itu butuh uang buat nutup tunggakan pinjaman usahanya.”
Naira menatap ibunya.
Bu Rini membeku.
“Usaha apa?”
“Salon.”
“Jadi uang yang kamu bilang untuk rumah kita ternyata dipakai membayar utang salon kakakmu?”
“Nanti juga balik.”
“Kamu bahkan tidak minta izin.”
“Kalau aku bilang dari awal, kamu pasti nggak kasih.”
Naira menjawab tenang.
“Itu sebabnya namanya disebut penipuan.”
Fajar langsung diam.
Beberapa detik kemudian ia berkata lebih pelan.
“Kita bisa selesaikan baik-baik.”
“Bagaimana?”
“Kamu jangan bawa-bawa masalah hukum.”
“Uangku dikembalikan.”
“Sekarang aku belum punya.”
“Berarti kita buat pengakuan utang tertulis.”
Fajar tidak menjawab.
Naira sudah menduga.
Orang yang berniat membayar biasanya tidak takut menandatangani pengakuan utang.
Orang yang sejak awal menganggap uang itu haknya justru akan tersinggung.
Benar saja.
“Segitunya kamu sama aku?”
“Segitunya kamu sama uangku.”
Telepon ditutup dari seberang.
Satu jam kemudian, nomor Bu Marni menelepon.
Naira tidak menjawab.
Kemudian Ratih.
Tidak dijawab.
Lalu sepupu Fajar.
Lalu paman Fajar.
Sore hari, WhatsApp Naira dipenuhi pesan.
Sebagian menuduhnya mempermalukan keluarga.
Sebagian meminta ia “mengalah sedikit”.
Seorang bibi Fajar bahkan menulis:
Kalau nanti sudah menikah, uang istri memang bantu keluarga suami. Jangan hitung-hitungan.
Naira hanya membalas satu pesan kepada semuanya.
Saya belum menikah dengan Fajar. Uang Rp48 juta diambil dengan alasan pembayaran rumah tetapi dipindahkan ke rekening pribadi Mbak Ratih tanpa izin saya. Saya meminta uang tersebut dikembalikan. Selain itu tidak ada yang perlu saya perdebatkan.
Setelah itu ia membisukan semua nomor.
Namun masalahnya belum selesai.
Hari berikutnya, Naira pergi menemui Arman.
Rumah di Rungkut yang ditawarkan kepadanya berada di jalan lingkungan yang tenang.
Bangunan satu lantai.
Luas tanah 154 meter persegi.
Luas bangunan 105 meter.
Ada halaman samping kecil.
Pohon mangga tua tumbuh dekat pagar belakang.
Tidak mewah.
Tidak baru.
Tetapi saat Naira berdiri di ruang tamunya, ia merasa untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan ada tempat yang tidak meminta apa pun darinya.
Pemilik rumah adalah pasangan pensiunan bernama Pak Haris dan Bu Lestari.
Mereka hendak pindah ke Yogyakarta mengikuti anak bungsu.
Harga awal rumah Rp1,19 miliar.
Setelah negosiasi beberapa minggu, mereka sepakat Rp1,12 miliar.
Naira memang memiliki dana cukup.
Bukan karena ia diam-diam kaya raya.
Lima tahun sebelumnya, almarhum ayahnya meninggalkan sebidang tanah kecil di daerah Menganti atas nama Naira.
Tanah itu baru terjual delapan bulan lalu karena terkena pengembangan gudang logistik.
Bagian Naira setelah pajak sekitar Rp730 juta.
Ditambah deposito, tabungan, dan bonus proyek, total dana likuidnya mencapai sekitar Rp1,27 miliar.
Naira awalnya berniat memakai sebagian besar uang itu untuk membeli rumah bersama Fajar secara lebih ringan.
Ia tidak pernah memberitahukan seluruh jumlahnya karena mereka belum menikah dan tidak pernah ada alasan baginya membuka seluruh aset pribadi.
Sekarang keputusan itu menyelamatkannya.
Di ruang tamu rumah Rungkut, Pak Haris bertanya, “Mbak jadi beli untuk tempat tinggal sendiri?”
Naira tersenyum tipis.
“Iya, Pak.”
“Belum menikah?”
Pertanyaan itu membuat Arman tampak canggung.
Namun Naira justru menjawab santai.
“Hampir.”
Pak Haris mengangguk.
Tidak bertanya lagi.
Bu Lestari malah menunjukkan dapur.
“Kalau sendiri, jangan terlalu banyak renovasi. Lemari ini masih bagus.”
Nada keibuannya membuat dada Naira sedikit sesak.
Bukan karena sedih.
Karena ternyata masih ada orang yang bisa membahas rumah tanpa menghitung bagaimana mengambil keuntungan dari dirinya.
Dua hari kemudian, Naira membayar uang tanda jadi.
Seminggu setelah pemeriksaan notaris selesai, transaksi dijadwalkan.
Pada saat yang sama, Fajar akhirnya setuju bertemu.
Bukan karena ingin meminta maaf.
Ia datang ke sebuah kafe di Jalan Ahmad Yani sambil membawa kakaknya.
Ratih duduk di sampingnya dengan wajah dingin.
Naira datang bersama Dina.
Begitu melihat Dina, Fajar langsung bertanya, “Kenapa bawa orang?”
“Supaya tidak ada lagi yang bilang pembicaraan kita berbeda.”
Ratih menyilangkan tangan.
“Kamu mau apa sebenarnya?”
“Rp48 juta dikembalikan.”
“Aku belum punya.”
“Lalu pengakuan utang.”
Ratih tertawa.
“Utang?”
“Itu uang saya.”
“Fajar bilang kamu kasih.”
Naira mengeluarkan chat.
Di layar ada pesan Fajar:
Transfer ya, Nai. Kekurangan booking rumah Rp48 juta. Besok siang harus masuk supaya unit nggak dilepas.
Naira menggeser layar ke Ratih.
“Di bagian mana saya bilang uang itu hadiah untuk salon Anda?”
Ratih langsung menutup mulut.
Fajar berkata, “Kalau kamu mau memperkarakan, kita juga bisa buka semua yang sudah aku keluarkan selama pacaran.”
Naira mengangguk.
“Silakan.”
“Aku sering jemput kamu.”
“Silakan dihitung bensinnya.”
“Aku pernah bayar makan.”
“Hitung.”
Fajar tidak menyangka jawabannya.
Naira melanjutkan.
“Aku tidak meminta kembali hadiah ulang tahun atau makan malam. Aku hanya meminta dana yang jelas-jelas kamu pinjam atau kamu ambil dengan alasan palsu.”
Dina mengeluarkan dokumen sederhana.
Pengakuan utang.
Total Rp77,4 juta.
Fajar melihat angkanya.
“Kenapa jadi tujuh puluh tujuh?”
Naira menjelaskan satu per satu.
Rp48 juta dana booking palsu.
Rp9 juta uang muka motor.
Rp6,8 juta sertifikasi.
Rp13,6 juta sisa harga laptop yang dijanjikan dicicil kembali.
Semua punya percakapan.
Semua ada tanggal.
Fajar menatap Ratih.
Ratih langsung berbisik, “Jangan tanda tangan.”
Naira mendengarnya.
“Tidak masalah.”
Ia berdiri.
“Kalau tidak ada itikad baik, selanjutnya kita gunakan jalur resmi.”
Wajah Fajar berubah.
“Naira, kamu ancam aku?”
“Tidak.”
Naira memasukkan dokumen ke dalam map.
“Aku memberimu pilihan.”
Mereka pergi tanpa menandatangani.
Dua hari kemudian, sebuah surat somasi dari pengacara yang direkomendasikan Dina dikirimkan.
Bukan laporan polisi.
Belum.
Somasi meminta pengembalian dana atau kesepakatan pembayaran tertulis.
Fajar kembali panik.
Keluarganya mulai menghubungi Bu Rini.
Namun kali ini ibu Naira tidak lagi diam.
Kepada Bu Marni, ia hanya berkata:
“Anak saya bekerja sejak lulus kuliah. Saya tidak membesarkannya supaya tabungannya dianggap dana sosial keluarga orang lain.”
Tiga hari setelah somasi diterima, Ratih akhirnya mentransfer Rp8 juta.
Dengan keterangan:
cicilan pengembalian.
Naira menyimpan bukti itu.
Secara tidak sengaja, Ratih baru saja mengakui bahwa uang tersebut memang harus dikembalikan.
Fajar akhirnya menandatangani pengakuan utang dengan jadwal cicilan dua belas bulan.
Naira mengira bagian paling buruk sudah lewat.
Ternyata keluarga Mahendra belum selesai.
Seminggu sebelum Naira dijadwalkan menandatangani AJB rumah Rungkut, HRD kantornya memanggilnya.
Di ruang kecil lantai tujuh, kepala HR bernama Bu Farah meletakkan sebuah amplop di meja.
“Kami menerima ini kemarin.”
Di dalamnya ada surat anonim.
Isinya menuduh Naira menerima “fee pribadi dari vendor proyek” dan memakai uang perusahaan untuk membeli rumah.
Dada Naira langsung dingin.
Tuduhan itu palsu.
Tetapi sangat spesifik.
Di bagian bawah surat bahkan disebutkan nama dua proyek yang pernah ditangani Naira.
Bu Farah berkata, “Kami tidak menyimpulkan apa pun. Tapi karena menyebut proyek internal, audit harus dilakukan.”
Naira menatap surat itu.
Hanya segelintir orang di luar kantor yang tahu detail proyek tersebut.
Salah satunya adalah Fajar.
Selama tiga tahun, ia mendengar semua cerita Naira tentang pekerjaan.
Dan tepat di sisi belakang amplop, ada kesalahan kecil yang membuat Naira mengenali sumbernya.
Alamat kantor Naira ditulis:
Jalan Mayjen Sungkono No. 118.
Itu alamat gedung lama.
Kantornya sudah pindah delapan bulan lalu.
Namun di ponsel Fajar, kontak kantor Naira masih memakai alamat lama itu.
Naira pulang malam itu dengan satu pikiran.
Mereka bukan lagi berusaha mengambil uangnya.
Sekarang mereka sedang mencoba menghancurkan pekerjaannya.
Dan kali ini, Naira memutuskan ia tidak akan hanya bertahan.
Ia akan memastikan setiap orang yang ikut bermain harus bertanggung jawab.

