DUA BELAS TAHUN AKU DISEBUT PEREBUT SUAMI ORANG, SAMPAI PUTRAKU PULANG DENGAN BIBIR BERDARAH DAN MEMAKSAKU MEMBUKA BUKU NIKAH YANG KUSIMPAN SEJAK MALAM AKU DIUSIR DARI RUMAH MERTUA

Avatar penulis
Cerita 03
13 menit baca 1,431 tayangan
Auto Draft
Indeks

DUA BELAS TAHUN AKU DISEBUT PEREBUT SUAMI ORANG, SAMPAI PUTRAKU PULANG DENGAN BIBIR BERDARAH DAN MEMAKSAKU MEMBUKA BUKU NIKAH YANG KUSIMPAN SEJAK MALAM AKU DIUSIR DARI RUMAH MERTUA

Bagian 1 — Saat Putraku Bertanya Apakah Aku Perusak Rumah Tangga, Aku Membawanya ke Rumah Ayahnya dan Mengetuk Pintu yang Selalu Kubiarkan Tertutup Selama Dua Belas Tahun

Pintu rumah baru saja kubuka ketika Raka melempar tasnya ke lantai. Bibir kirinya pecah, kancing seragamnya hilang satu, dan di tangannya ada surat panggilan sekolah yang sudah diremas kusut.

“Ma, kalau Mama bukan pelakor, kenapa semua orang bilang Mama merebut Papa dari Tante Niken?”

Tanganku berhenti.

Selama dua belas tahun, aku menelan bisik-bisik keluarga Arga, sindiran tetangga lama, sampai status media sosial orang yang tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sore itu, fitnah itu akhirnya masuk ke kelas anakku dan membuatnya pulang dengan darah di bibir.

Aku membersihkan lukanya, lalu menatap matanya.

“Siapa yang memukulmu?”

“Dion. Ibunya bilang di grup orang tua kalau Mama dulu hamil supaya Papa terpaksa menikahi Mama. Katanya Tante Niken sebenarnya calon istri Papa.”

Raka menahan air mata.

“Aku pukul dia setelah dia bilang aku anak hasil rebutan.”

Dadaku panas, tetapi suaraku tenang.

“Ganti baju.”

“Buat apa?”

“Kita menemui papamu.”

Ia terdiam.

“Mama mau marah?”

“Tidak. Mama mau berhenti diam.”

Aku membuka laci paling bawah lemari dan mengambil map biru yang sudah bertahun-tahun tidak kusentuh. Di dalamnya ada fotokopi buku nikahku dengan Arga Pratama, akta kelahiran Raka, dan salinan putusan Pengadilan Agama yang mengakhiri pernikahan kami.

Raka melihat tanggal di buku nikah.

“2010?”

Aku mengangguk.

“Tante Niken menikah dengan Papa kapan?”

“Setelah putusan cerai Mama keluar pada 2014.”

“Jadi Mama benar-benar istri Papa dulu?”

“Ya.”

Wajahnya justru semakin sakit.

“Kenapa Mama biarkan aku percaya omongan orang?”

Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada fitnah mana pun.

“Dulu Mama pikir menjaga hubunganmu dengan Papa lebih penting daripada membersihkan nama Mama.”

“Kalau begitu Mama salah.”

Aku menelan ludah.

“Iya. Mama salah.”

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku memutuskan memperbaiki kesalahan itu.

Empat puluh menit kemudian kami berhenti di rumah dua lantai di Bintaro, rumah yang dulu pernah kurancang bersama Arga sebelum perceraian mengubah semuanya.

Aku menekan bel.

Niken membuka pintu dengan kaftan krem. Dari dalam terdengar musik dan tawa anak-anak. Sepertinya mereka sedang menyiapkan ulang tahun putrinya.

Begitu melihatku, senyumnya menegang.

“Ratih? Ada apa?”

Matanya turun ke Raka.

Aku mengangkat map biru.

“Kami mau bicara dengan Arga.”

Niken tidak bergeser.

“Mas Arga sedang menerima tamu. Kalau soal sekolah, besok saja. Aku juga sudah dengar ada keributan.”

Raka langsung bertanya, “Tante dengar dari siapa?”

“Orang tua murid saling kenal.”

“Yang bilang Mama saya pelakor juga orang tua murid yang saling kenal?”

Senyumnya hilang.

Arga muncul dari ruang tengah. Begitu melihat kami, langkahnya berhenti.

“Ratih?”

Aku mendorong Raka sedikit ke depan.

“Anakmu mau tanya sesuatu.”

Arga melihat luka di bibir Raka.

“Kamu kenapa?”

“Dipukul teman karena dia bilang Mama pelakor.”

Wajah Arga memucat.

Raka mengangkat dagu.

“Pa, Mama dulu istri Papa atau bukan?”

Arga diam.

Hanya tiga detik, tetapi bagi anak empat belas tahun yang menunggu ayahnya memulihkan harga diri ibunya, tiga detik itu terasa seperti pengkhianatan.

“Pa?”

“Raka, masalah orang dewasa tidak sesederhana—”

“Jawab iya atau tidak.”

Arga akhirnya mengangguk.

“Iya. Mama kamu dulu istri Papa.”

“Resmi?”

“Iya.”

“Lebih dulu daripada Tante Niken?”

Niken menyela, “Raka, cara kamu bicara—”

“Biar dia jawab,” kata Arga.

“Iya. Mama kamu lebih dulu menikah dengan Papa.”

Raka tertawa pendek.

“Terus kenapa orang bilang Mama yang merebut?”

Tidak ada jawaban.

Seorang gadis kecil muncul dari tangga. Nayla, anak Arga dan Niken. Aku tidak ingin menyeret anak lain ke dalam dosa orang dewasa, jadi aku menutup map.

Namun Niken berkata, “Kalau mau jujur, Ratih, pernikahanmu dengan Mas Arga memang sejak awal bermasalah. Keluarga besar tahu Mas Arga tidak pernah benar-benar memilihmu.”

Raka menegang.

Aku menatapnya.

“Hati-hati.”

“Aku cuma menyebut kenyataan. Kamu menikah karena sudah terlanjur hamil, kan?”

Arga menoleh tajam.

“Niken, cukup.”

Aku membuka map dan mengeluarkan satu lembar.

“Raka lahir April 2012. Buku nikah kami Juni 2010. Hitung sendiri.”

Niken terdiam.

“Kalau dua tahun setelah menikah disebut hamil untuk memaksa laki-laki menikah, berarti matematika di rumah ini berbeda dengan matematika di sekolah.”

Raka menatap tanggal-tanggal itu lama.

Ponselnya bergetar.

“Ma…”

Ia menyerahkan layar kepadaku. Seorang teman mengirim tangkapan layar dari grup orang tua murid. Pesan itu sudah diteruskan berkali-kali, tetapi nama pengirim awalnya tidak disensor.

Niken Larasati.

“Mohon maklum kalau Raka sensitif soal keluarga. Ibunya dulu memang hadir di tengah hubungan Mas Arga dengan saya. Kami memilih tidak membuka aib lama demi anak-anak.”

Di bawahnya ada pesan lain.

“Kalau ada konflik di sekolah, jangan terlalu dipercaya versi Ratih. Dia sejak dulu pintar membalik cerita.”

Raka membaca dari bahuku.

“Nenek juga ada di grup itu, Ma.”

Aku menggulir layar.

Akun Marni Pratama—ibu Arga—membalas:

“Betul. Kami keluarga sudah terlalu lama diam demi menjaga perasaan Raka.”

Aku mengangkat ponsel ke arah Arga.

“Ini yang kalian sebut diam?”

Niken bergerak hendak mengambil ponsel, tetapi Raka mundur.

Saat itu Bu Marni turun dari mobil di depan rumah membawa dua tas hadiah. Begitu melihat kami, wajahnya menegang.

“Kenapa mereka ada di sini?”

Raka menatap neneknya.

“Nek, Mama itu istri pertama Papa, kan?”

Bu Marni tidak menjawab.

“Kenapa Nenek bilang Mama masuk di tengah hubungan Papa dan Tante Niken?”

“Kamu masih kecil. Kamu tidak mengerti.”

“Saya cukup besar untuk membaca.”

Bu Marni pucat, lalu berkata, “Kalau ibumu dari dulu tahu diri dan tidak memaksakan pernikahan itu, semua ini tidak akan terjadi.”

Raka membeku.

Dua belas tahun aku membiarkan perempuan itu menyimpan versinya sendiri. Di depan cucunya yang terluka karena kebohongan mereka, dia masih memilih menyalahkanku.

Aku memasukkan dokumen ke map dan menatap Arga.

“Baik. Besok aku akan membawa dokumen yang selama ini tidak pernah kutunjukkan kepada Raka.”

Bu Marni langsung menoleh. Wajahnya berubah total.

“Ratih, jangan bawa dokumen itu ke sekolah.”

Aku tersenyum tipis.

“Kenapa, Bu? Takut tanggalnya terbaca?”

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #IbuDanAnak #KebenaranTerungkap #CeritaIndonesia

Bagian 2 — Ketika Bukti Lama Dibuka, Keluarga yang Selama Ini Diam Justru Menyerang Putraku dan Meminta Kami Menghapus Kebenaran Demi Nama Baik

Kami pulang tanpa makan malam. Raka masuk kamar, tetapi sebelum menutup pintu ia berkata, “Besok aku ikut. Jangan lagi bilang aku terlalu kecil.”

Pagi berikutnya, surat panggilan sekolah membawaku ke ruang kepala SMP swasta tempat Raka belajar. Di sana sudah ada wali kelas, guru BK, Niken, dan—yang membuatku hampir tertawa—Bu Marni.

Niken datang bukan sebagai orang tua murid.

Ia datang sebagai bendahara komite sekolah.

Kepala sekolah, Pak Yusuf, membuka pertemuan dengan suara hati-hati.

“Kami ingin menyelesaikan perkelahian anak-anak tanpa memperbesar masalah keluarga.”

Aku meletakkan map biru di meja.

“Masalah keluarga sudah dibesarkan lebih dulu di grup orang tua.”

Niken menyilangkan tangan.

“Saya tidak pernah menyuruh anak-anak mengejek Raka.”

“Tidak. Kamu hanya memberi orang tua mereka bahan untuk mengejeknya.”

Aku menunjukkan tangkapan layar.

Wali kelas terlihat terkejut. Pak Yusuf membaca lama, lalu menatap Niken.

“Bu Niken, ini nomor Ibu?”

“Nomor saya, tapi konteksnya dipotong.”

“Kalimat ‘ibunya hadir di tengah hubungan kami’ konteks lengkapnya apa?”

Ruangan mendadak sunyi.

Bu Marni menyela.

“Pak, urusan ini sebaiknya tidak dibahas di sekolah. Ratih memang mantan istri Arga, tetapi pernikahan mereka dulu terjadi dalam keadaan yang rumit.”

Aku membuka buku nikah.

“Akad kami 19 Juni 2010. Raka lahir 7 April 2012. Putusan cerai berkekuatan tetap 3 Oktober 2014.”

Lalu kukeluarkan dokumen kedua.

Itulah dokumen yang kemarin membuat Bu Marni panik: salinan mediasi perceraian yang kusimpan sejak dua belas tahun lalu. Di salah satu halaman tertulis alasan Arga meminta perceraian dipercepat.

Ia mengakui telah menjalin hubungan dengan perempuan lain.

Nama perempuan itu tercantum jelas.

Niken Larasati.

Niken langsung berdiri.

“Dokumen itu tidak boleh disebarkan!”

Aku menatapnya.

“Aneh. Kemarin kamu begitu suka menyebarkan cerita rumah tanggaku.”

Raka yang duduk di sampingku membaca bagian itu. Rahangnya mengeras.

Aku belum selesai.

Dari map yang sama, aku mengeluarkan cetakan surel Arga pada Agustus 2014.

Saat itu kami belum resmi bercerai.

“Ratih, aku tahu aku salah. Niken sedang hamil. Mama memintaku menyelesaikan perceraian secepat mungkin agar keluarga tidak malu.”

Tangan Raka gemetar.

Niken menatap Bu Marni.

“Ibu bilang surat itu sudah dibuang.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Dan seluruh ruangan mendengarnya.

Bu Marni buru-buru berkata, “Itu bukan berarti—”

“Cukup,” potongku.

Aku menoleh kepada Raka.

“Mama minta maaf karena kamu harus tahu dengan cara seperti ini.”

Raka tidak menangis.

Ia hanya bertanya kepada Niken, “Jadi waktu Mama saya masih resmi menikah dengan Papa, Tante sudah hamil?”

Niken tidak menjawab.

Pintu ruang kepala sekolah tiba-tiba terbuka.

Arga masuk dengan napas terengah. Rupanya Pak Yusuf menghubunginya.

“Ratih, kita bicara di luar.”

“Tidak. Semua kebohongan dimulai di depan orang lain. Koreksinya juga dilakukan di depan orang yang sama.”

Arga memejamkan mata.

Pak Yusuf meminta semua pihak tenang. Ia lalu menyatakan sekolah akan memeriksa penyebaran pesan di grup dan meminta komite menghentikan pembahasan tentang keluarga siswa.

Kupikir itu sudah cukup untuk hari itu.

Ternyata belum.

Siang harinya, ketika aku kembali ke studio desain kemasan milikku di Depok, pegawaiku menunjukkan layar Google Business dan Instagram.

Dalam tiga jam, kami mendapat belasan ulasan satu bintang dari akun-akun yang tidak pernah menjadi klien.

“Pemilik suka merusak rumah tangga orang.”

“Jangan bisnis dengan perempuan yang suka membuka aib keluarga.”

Ada pula satu unggahan anonim yang menyertakan foto lama pernikahanku dan menulis bahwa aku memeras mantan suami dengan “dokumen palsu”.

Nomor kantor mulai menerima telepon tak dikenal.

Sore itu seorang klien menunda kontrak karena tidak mau mereknya terseret drama.

Aku langsung tahu ini bukan lagi gosip sekolah.

Ini serangan terhadap nafkahku.

Pukul tujuh malam, Bu Marni datang ke rumah membawa amplop cokelat.

Ia meletakkannya di meja.

“Dua ratus juta rupiah. Pindahkan Raka ke sekolah lain, hapus semua unggahan, dan berhenti membawa dokumen lama.”

Aku bahkan tidak menyentuh amplop itu.

“Jadi sekarang Ibu membayar saya untuk ikut berbohong?”

“Anggap saja kompensasi.”

“Untuk dua belas tahun?”

Bu Marni kehilangan kesabaran.

“Kamu mau apa sebenarnya? Niken sudah jadi istri Arga. Mereka punya anak. Kalau semua dibuka, yang malu bukan cuma mereka!”

Aku berdiri.

“Anak saya sudah dipukul karena kebohongan kalian. Bisnis saya diserang. Dan Ibu masih bertanya saya mau apa?”

Aku menggeser amplop kembali.

“Saya mau satu hal: koreksi publik dari orang yang menyebarkan fitnah.”

Bu Marni tertawa pendek.

“Niken tidak akan melakukannya.”

Ponselku berbunyi.

Pesan dari nomor Arga masuk bersama sebuah file audio.

Hanya satu kalimat.

“Aku seharusnya mengirim ini dua belas tahun lalu.”

Aku menekan putar.

Suara Niken terdengar jelas.

“Biarkan orang mengira Ratih yang masuk di antara kita. Yang penting jangan sampai mereka tahu aku sudah hamil sebelum putusan cerainya keluar.”

Bu Marni langsung berdiri dan meraih ponselku.

Tapi kali ini aku lebih cepat.

Aku mundur satu langkah dan menatapnya.

“Sekarang, Bu, kita lihat siapa yang masih berani bilang saya memalsukan cerita.”

Bagian 3 — Mereka Mengira Aku Hanya Akan Menangis, Sampai Satu Rekaman, Satu Arsip Pengadilan, dan Satu Surat Sekolah Membalikkan Semua Kebohongan Mereka

Rekaman itu berasal dari ponsel lama Arga. Malam setelah pertemuan di sekolah, ia datang sendiri dan menyerahkan perangkatnya kepadaku.

“Aku menemukan cadangannya ketika pindah data,” katanya. “Dulu aku simpan karena aku takut Mama dan Niken suatu hari akan menyalahkan semuanya kepadamu. Tapi aku pengecut. Aku tidak pernah memberikannya.”

Aku tidak berterima kasih.

“Kalau kamu menyerahkannya dua belas tahun lalu, mungkin Raka tidak perlu pulang dengan bibir berdarah.”

Arga menunduk.

Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat mantan suami yang pernah kucintai. Aku melihat seorang laki-laki yang membiarkan kebohongan tumbuh karena kebohongan itu membuat hidupnya lebih nyaman.

Keesokan paginya aku menemui pengacara.

Kami mengirim somasi kepada Niken dan Bu Marni: hentikan penyebaran tuduhan, hapus unggahan, kirim koreksi tertulis kepada grup orang tua, dan ganti kerugian kontrak studionku yang batal.

Semua tangkapan layar, surel lama, dokumen pengadilan, dan rekaman disimpan sebagai bukti.

Aku tidak mengunggah aib mereka ke media sosial.

Aku hanya menuntut kebohongan dihentikan di tempat kebohongan itu disebarkan.

Tiga hari kemudian sekolah mengadakan rapat komite khusus. Pak Yusuf menjelaskan bahwa percakapan pribadi tentang keluarga siswa telah digunakan untuk membangun stigma terhadap Raka.

Niken diminta mundur dari posisi bendahara komite selama pemeriksaan internal.

Di depan belasan orang tua murid, Niken membaca pernyataan yang jauh lebih pendek daripada semua fitnah yang pernah ia sebarkan.

“Saya mengakui bahwa Ratih Prameswari adalah istri sah Arga sebelum saya menikah dengannya. Pernyataan saya yang menyebut Ratih hadir di tengah hubungan kami tidak sesuai dengan urutan peristiwa yang sebenarnya. Saya meminta maaf kepada Ratih dan Raka.”

Tak ada tepuk tangan.

Tak perlu.

Raka duduk di sampingku. Ketika kalimat terakhir selesai dibaca, bahunya yang selama beberapa hari tegang akhirnya turun.

Bu Marni tidak datang.

Namun malamnya ia mengirim pesan panjang kepada Raka, mengatakan bahwa nenek hanya ingin melindungi keluarga.

Raka membalas satu kalimat:

“Kalau melindungi keluarga harus menghancurkan nama Mama, saya tidak mau dilindungi seperti itu.”

Setelah itu ia memblokir nomor neneknya selama beberapa minggu atas pilihannya sendiri.

Arga juga menerima akibat yang tidak bisa dibayar dengan uang.

Raka menolak menginap di rumahnya untuk sementara dan hanya mau bertemu di tempat umum.

Aku tidak pernah menyuruhnya membenci ayahnya.

Aku hanya berhenti memaksanya memaafkan sebelum ia siap.

Sementara itu, pengacara Niken akhirnya menyetujui penyelesaian.

Semua unggahan dihapus, koreksi dikirim ke grup sekolah dan beberapa grup keluarga yang sebelumnya menerima cerita palsu, serta kerugian kontrak studionku diganti.

Yang paling mengejutkan justru datang dari salah satu klien yang sempat menunda proyek.

Setelah menerima klarifikasi, mereka kembali dan memperpanjang kontrak enam bulan.

“Bukan karena kasihan,” kata pemiliknya. “Kami lihat bagaimana Ibu menangani masalah tanpa menyerang anak-anak atau membuka hal yang tidak perlu.”

Aku pulang hari itu membawa dua kotak martabak.

Raka sedang mengerjakan tugas di meja makan.

“Ma,” katanya tanpa menoleh, “Dion minta maaf.”

“Terus?”

“Aku terima. Tapi aku bilang kalau dia ulang lagi, aku lapor guru. Aku nggak mau mukul orang lagi.”

Aku tersenyum.

“Bagus.”

Ia lalu mengambil map biru yang kini kusimpan di rak buku, bukan lagi di dasar lemari.

“Boleh aku lihat buku nikah Mama sekali lagi?”

Aku memberikannya.

Raka membaca nama dan tanggal itu, lalu mengembalikannya dengan hati-hati.

“Sekarang aku ngerti kenapa Mama diam dulu.”

Aku menggeleng.

“Jangan belajar bagian itu dari Mama. Kalau ada orang merendahkanmu dengan kebohongan, jangan diam sampai kebohongan itu diwariskan.”

Raka tersenyum kecil.

Seminggu kemudian, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku mengganti foto profil keluarga.

Bukan foto pesta mewah.

Bukan foto yang dibuat untuk membuktikan apa pun.

Hanya aku dan Raka di warung soto dekat rumah, sama-sama tertawa karena sambal kami terlalu pedas.

Tidak ada Arga.

Tidak ada Niken.

Tidak ada Bu Marni.

Aku tidak perlu lagi berdiri di samping siapa pun untuk membuktikan bahwa aku pernah menjadi istri yang sah.

Yang lebih penting, anakku akhirnya tahu ibunya tidak pernah menjadi perempuan yang disembunyikan.

Dan setelah dua belas tahun, aku juga akhirnya mengerti: nama baik tidak kembali ketika semua orang menyukaimu.

Nama baik kembali ketika kamu berhenti menyerahkan kebenaranmu kepada orang yang diuntungkan oleh kebohongan.