Suamiku Menggugat Cerai Saat Kekasihnya Hamil Tua, Tapi Ketika Hakim Bertanya Mengapa Aku Bertahan, Satu Jawabanku Membuat Wajahnya Langsung Pucat

Avatar penulis
Cerita 03
15 menit baca 1,494 tayangan
Auto Draft
Indeks

Suamiku Menggugat Cerai Saat Kekasihnya Hamil Tua, Tapi Ketika Hakim Bertanya Mengapa Aku Bertahan, Satu Jawabanku Membuat Wajahnya Langsung Pucat

Bagian 1

Di Ruang Sidang Arga Memohon Kebebasan Demi Perempuan Lain, Namun Ia Tak Tahu Aku Sedang Menunggu Satu Kesalahan Terbesarnya

“Yang Mulia, saya sudah tidak sanggup hidup bersama perempuan itu.”

Suara suamiku, Arga Pratama, terdengar keras di ruang sidang Pengadilan Agama Bandung pagi itu.

Ia menunjuk ke arahku tanpa sedikit pun rasa bersalah.

“Sudah hampir sebelas bulan kami tidur terpisah. Keuangan kami juga sudah masing-masing. Pernikahan ini hanya tinggal nama.”

Pengacaranya menyerahkan setumpuk dokumen.

Riwayat sewa apartemen.

Percakapan WhatsApp.

Bukti pembayaran kebutuhan rumah secara terpisah.

Bahkan surat keterangan dari psikolog yang menyebut Arga mengalami tekanan emosional.

Lalu kalimat berikutnya membuat beberapa orang di ruang sidang menoleh kepadaku.

“Kalau saya terus dipaksa bertahan dalam pernikahan ini, kesehatan mental saya bisa semakin buruk.”

Aku hampir tertawa.

Lelaki yang selama delapan bulan terakhir tinggal bersama perempuan lain sekarang berdiri di depan hakim seolah-olah dialah korban terbesar.

Tapi aku menundukkan kepala.

Aku menggenggam tisu.

Kemudian berkata pelan,

“Saya masih ingin mempertahankan rumah tangga kami.”

Arga langsung menoleh.

Matanya membesar.

“Apaan lagi, Nadira?”

Hakim menegurnya agar tenang.

Aku melanjutkan dengan suara bergetar.

“Saya tahu suami saya melakukan kesalahan. Tapi saya masih bersedia memaafkan. Kalau dia pulang, saya tidak akan memperpanjang masalah.”

Urat di leher Arga terlihat jelas.

Ia seperti ingin berdiri dan berteriak.

“Nadira! Aku sudah punya perempuan lain!”

Ruangan mendadak sunyi.

Aku mengusap sudut mata.

“Perasaan saya adalah urusan saya. Mas Arga tidak harus membalasnya.”

Pengacaraku, Rani Maheswari, menundukkan wajahnya.

Bukan karena sedih.

Aku tahu ia sedang menahan senyum.

Sidang berakhir dengan keputusan yang paling tidak ingin didengar Arga.

Permohonan cerainya belum dikabulkan karena majelis menilai masih ada sejumlah hal yang perlu dibuktikan dan memberi kesempatan penyelesaian lebih lanjut.

Begitu keluar dari ruang sidang, Arga menghampiriku.

“Berapa?”

Aku mengangkat kepala.

“Apa?”

“Jangan pura-pura bodoh. Berapa uang yang kamu mau supaya tanda tangan?”

Aku tersenyum tipis.

“Kamu kan tadi bilang masalahnya bukan uang.”

Wajahnya mengeras.

“Selvi akan melahirkan paling lambat minggu depan.”

Nah.

Akhirnya keluar juga.

Selvi Anindita.

Mantan staf pemasaran perusahaan logistik yang kami bangun dari nol selama tujuh tahun.

Perempuan yang menurut Arga adalah “orang pertama yang benar-benar mengerti dirinya”.

Lucunya, aku juga pernah menjadi orang itu.

Sebelum perusahaan punya tiga puluh dua truk, aku yang menggadaikan gelang pernikahanku untuk membayar uang muka kendaraan pertama.

Saat Arga masih tidur di lantai gudang karena tak mampu menyewa kantor, aku yang membuat laporan keuangan sampai pukul dua pagi.

Ketika bisnis mulai menghasilkan miliaran rupiah per tahun, Arga mengatakan aku tidak perlu lagi ikut campur.

Katanya supaya aku bisa “menikmati hidup sebagai istri”.

Ternyata maksudnya sederhana.

Supaya aku tidak melihat ke mana uang perusahaan pergi.

Delapan bulan lalu aku menemukan transfer Rp480 juta ke sebuah rekening atas nama orang yang tidak kukenal.

Kemudian Rp275 juta.

Lalu Rp690 juta.

Total yang berhasil kami telusuri saat itu lebih dari Rp2,4 miliar.

Sebagian uang dipakai untuk membayar apartemen Selvi di Dago.

Sebagian membeli mobil.

Sebagian lagi masuk ke rekening sebuah perusahaan baru bernama PT Lintas Prima Sentosa.

Direkturnya?

Sepupu Selvi.

Begitu aku menanyakan perusahaan itu, Arga justru meminta cerai.

Ia menawarkan rumah kecil di Cimahi dan Rp300 juta sebagai “penyelesaian damai”.

Aku menolak.

Seminggu kemudian tawarannya naik menjadi Rp500 juta.

Aku tetap menolak.

Bulan berikutnya menjadi Rp800 juta.

Aku bahkan tidak membuka draft perjanjiannya.

Bukan karena aku masih mencintainya.

Perasaanku terhadap Arga sudah selesai sejak malam ia berkata bahwa semua keberhasilannya adalah hasil kerja kerasnya sendiri.

Padahal aku masih menyimpan foto saat kami berdua menghitung uang receh di lantai kontrakan untuk membayar solar truk pertama.

Alasanku bertahan jauh lebih sederhana.

Ada hakku di dalam bisnis itu.

Dan sebelum semua angka dibuka, Arga tidak akan mendapatkan kebebasannya semudah membuang cincin pernikahan.

Setelah Arga pergi dari pengadilan, Rani menyenggol lenganku.

“Akting kamu makin bagus.”

Aku langsung tertawa.

“Dia percaya?”

“Bukan cuma dia. Petugas keamanan tadi saja sampai menatapmu penuh kasihan.”

Kami berjalan menuju parkiran.

Kemudian ponsel Rani berbunyi.

Ia membaca pesan beberapa detik.

Senyumnya menghilang.

“Nad.”

“Apa?”

“Selvi melahirkan tadi subuh.”

Aku berhenti berjalan.

“Rumah sakit mana?”

“Rumah sakit swasta di Setiabudi. Kamar VIP.”

Aku mengangguk.

“Bagus.”

Rani menatapku curiga.

“Kamu jangan bilang mau datang.”

“Aku tidak mau bikin keributan di rumah sakit.”

“Syukurlah.”

“Aku tunggu sampai mereka pulang.”

Rani menghela napas panjang.

“Nadira…”

“Tenang. Aku cuma mau mengantar hadiah.”

Tiga hari kemudian, sebuah unggahan muncul di Instagram Selvi.

Foto tangan seorang lelaki menggenggam tangan perempuan di atas selimut putih.

Di antara jari Selvi terlihat sebuah cincin berlian.

Caption-nya singkat.

Terima kasih sudah membuat aku dan anak kita merasa memiliki keluarga yang utuh.

Tidak ada wajah Arga.

Tapi jam tangan di pergelangan lelaki itu kukenal.

Aku yang membelikannya pada ulang tahun pernikahan kami yang kelima.

Aku mengirim tangkapan layar kepada Rani.

Ia langsung menelepon.

“Ini bagus.”

“Aku juga berpikir begitu.”

“Jangan lakukan apa pun dulu. Simpan semuanya.”

“Sudah.”

Beberapa hari kemudian aku mendapatkan informasi bahwa Selvi akan mengadakan acara syukuran kelahiran bayi di sebuah vila keluarga di Lembang.

Sekitar empat puluh tamu diundang.

Keluarga Selvi.

Teman-teman Arga.

Beberapa rekan bisnis perusahaan kami.

Yang paling menarik adalah undangan digitalnya.

Di bagian bawah tertulis:

Selvi Anindita & Arga Pratama beserta putra kami.

Aku menatap tulisan itu hampir satu menit.

Kemudian menelepon Rani.

“Kalau mereka sendiri yang mengaku sebagai pasangan di depan puluhan orang, itu berguna?”

“Secara hukum setiap bukti harus dilihat konteksnya. Tapi untuk menunjukkan pola hubungan, pengeluaran, dan penggunaan aset, tentu berguna.”

Aku tersenyum.

“Kalau begitu hari Minggu aku datang.”

“Nadira, jangan bikin kekacauan.”

“Tidak akan.”

Hari Minggu pukul sebelas siang, aku tiba di vila itu mengenakan kebaya kutu baru berwarna krem dan membawa satu kotak besar.

Begitu memasuki halaman, aku melihat foto Arga dan Selvi terpajang di dekat meja tamu.

Bukan foto pernikahan.

Tapi cukup romantis untuk membuat siapa pun mengira mereka suami istri.

Selvi duduk di sofa, menggendong bayi.

Di tangannya masih terpasang cincin berlian yang sama.

Seorang perempuan memujinya.

“Suamimu perhatian sekali, Sel. Vila sebagus ini saja disewa khusus untuk acara bayi.”

Selvi tersenyum manis.

“Arga memang begitu. Aku sudah bilang sederhana saja, tapi dia bilang anak pertamanya harus dirayakan.”

Anak pertama.

Aku berdiri tepat di belakang perempuan itu.

“Mas Arga memang selalu suka membuat kejutan.”

Selvi menoleh.

Wajahnya seketika kehilangan warna.

Arga yang berdiri beberapa meter darinya menjatuhkan gelas yang sedang dipegang.

“Nadira?”

Semua kepala menoleh.

Aku tersenyum.

“Selamat siang.”

Lalu aku berjalan menuju meja hadiah.

“Maaf datang tanpa konfirmasi. Saya Nadira.”

Beberapa rekan bisnis Arga jelas mengenaliku.

Suasana mulai berubah.

Aku menatap bayi di pelukan Selvi.

“Lucu sekali.”

Selvi memeluk anaknya lebih erat.

“Kamu mau apa?”

“Memberikan hadiah.”

Aku membuka kotak yang kubawa.

Di dalamnya bukan pakaian bayi.

Bukan emas.

Bukan pula uang.

Ada empat bundel dokumen.

Aku mengambil satu.

“Ini tagihan apartemen selama delapan bulan.”

Bundel kedua.

“Ini cicilan mobil yang kamu pakai.”

Bundel ketiga.

“Ini pembayaran rumah sakit dan vila hari ini.”

Arga berjalan cepat menghampiriku.

“Nadira, cukup!”

Aku mundur selangkah.

“Kenapa?”

Aku menatap para tamu.

“Saya hanya ingin memastikan satu hal.”

Kemudian aku mengeluarkan halaman terakhir.

Sebuah rekening koran perusahaan.

Aku mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Karena ternyata hampir semua hadiah untuk perempuan yang disebut Mas Arga sebagai cinta sejatinya dibayar menggunakan uang perusahaan yang sahamnya juga tercatat atas nama saya.”

Ruangan membeku.

Namun sebelum Arga sempat merebut kertas itu, Rani yang berdiri di pintu mengirimiku satu pesan.

Aku membacanya.

Tanganku mendadak dingin.

Jangan serahkan dokumen apa pun. Kami baru menemukan transfer Rp3,1 miliar tadi malam. Uangnya masuk ke perusahaan milik keluarga Selvi.

Aku menatap Arga.

Untuk pertama kalinya hari itu, aku tidak lagi tersenyum.

Karena ternyata perselingkuhan hanyalah bagian paling kecil dari semua yang ia sembunyikan.

#DramaKeluarga #KisahRumahTangga #PengkhianatanSuami #PerempuanBangkit #CeritaIndonesia

Bagian 2

Setelah Transfer Miliaran Terbongkar, Arga Menuduhku Menghancurkan Keluarganya, Tetapi Satu Rekaman Membuat Selvi Mulai Mencurigainya Sendiri

Aku memasukkan dokumen kembali ke kotak.

Arga berbisik dengan rahang mengeras.

“Kita bicara di luar.”

“Tidak perlu.”

“Nadira!”

Para tamu mulai saling berbisik.

Aku tidak ingin menjadikan bayi yang baru lahir sebagai bagian dari pertengkaran orang dewasa, jadi aku berbalik dan berjalan keluar.

Arga mengejarku hingga parkiran.

Begitu pintu vila tertutup, ia menarik lenganku.

“Memangnya kamu puas mempermalukan Selvi?”

Aku menepis tangannya.

“Yang memalukan dia bukan aku.”

“Kamu sengaja datang untuk merusak acara anakku!”

“Anakmu tidak ada hubungannya denganku.”

Aku mendekat.

“Tapi uang perusahaan ada.”

Wajah Arga berubah.

“Apa maksudmu?”

Aku hanya menunjukkan layar ponsel.

Rp3.100.000.000.

Transfer ke PT Lintas Prima Sentosa.

Tanggalnya dua hari sebelum ia mengajukan gugatan cerai.

Arga diam.

Hanya sekitar dua detik.

Tapi cukup lama untuk menjawab semua pertanyaanku.

“Kamu mengambil data perusahaan tanpa izin?”

Aku tertawa pendek.

“Aku komisaris dan pemegang saham tiga puluh lima persen.”

“Perusahaan itu sekarang aku yang jalankan!”

“Menjalankan bukan berarti memilikinya sendirian.”

Ia menunjuk wajahku.

“Kalau kamu terus begini, jangan salahkan aku kalau semuanya jadi lebih buruk.”

Aku membuka pintu mobil.

“Simpan ancamanmu untuk pengacara.”

Malam itu Arga mengirim dua puluh tiga pesan.

Ia menawarkan Rp1,5 miliar.

Lalu Rp2 miliar.

Kemudian sebuah rumah di Buahbatu.

Aku tidak membalas.

Kami mulai audit independen.

Hasilnya jauh lebih buruk daripada dugaanku.

Selama sembilan bulan Arga telah memindahkan sejumlah kontrak pengiriman dari perusahaan lama ke PT Lintas Prima Sentosa.

Pelanggan tetap memakai truk dan sopir milik perusahaan kami.

Biaya solar ditanggung perusahaan kami.

Perawatan kendaraan juga.

Namun pembayaran dari pelanggan masuk ke perusahaan baru.

Aku membaca laporan itu sampai tiga kali.

“Berapa total kerugiannya?” tanyaku.

Auditor menatap Rani sebelum menjawab.

“Perkiraan awal lebih dari Rp6,8 miliar.”

Aku tidak marah.

Aneh sekali.

Aku justru merasa sangat tenang.

Sekarang semuanya jelas.

Arga tidak terburu-buru bercerai hanya karena cinta.

Ia membutuhkan perceraian sebelum jejak keuangannya terbuka lebih jauh.

Dua hari kemudian sesuatu yang tidak kami duga terjadi.

Selvi meneleponku.

Awalnya aku hampir tidak mengangkat.

“Nadira?”

“Ya.”

“Aku mau tanya sesuatu.”

Suaranya berbeda dari perempuan percaya diri yang kulihat di vila.

“Apa benar perusahaan tempat Arga bekerja sebagian milikmu?”

“Bukan tempat dia bekerja. Kami mendirikannya bersama.”

Hening.

“Dia bilang perusahaan itu warisan ayahnya.”

Aku memejamkan mata.

Tentu saja.

“Selvi, kalau kamu menelepon untuk membicarakan Arga, sebaiknya—”

“Aku menemukan sesuatu.”

Aku terdiam.

“Laptop Arga tertinggal di apartemen.”

“Apa yang kamu temukan?”

“Beberapa file kontrak.”

Nada suaranya mulai gemetar.

“Ada tanda tanganku.”

“Lalu?”

“Aku tidak pernah menandatangani kontrak itu.”

Aku langsung duduk tegak.

Selvi ternyata tercatat sebagai penjamin pribadi untuk fasilitas kredit perusahaan baru sebesar Rp2,7 miliar.

Menurut dokumen itu, ia menjaminkan sebuah rumah di Garut milik ibunya.

“Aku bahkan tidak tahu rumah Mama dicantumkan,” katanya sambil menangis.

Aku tidak merasa kasihan atas hubungannya dengan suamiku.

Tapi pemalsuan adalah perkara berbeda.

“Foto semua dokumennya. Jangan ambil file asli dulu.”

“Kenapa aku harus percaya padamu?”

“Kamu tidak harus percaya.”

Aku menatap hujan di luar jendela.

“Tapi sekarang kamu mulai mengerti bahwa lelaki yang berbohong kepadaku selama berbulan-bulan juga bisa berbohong kepadamu.”

Keesokan malam Selvi datang ke kantor Rani.

Tidak ada cincin berlian di jarinya.

Ia membawa laptop, beberapa screenshot, dan rekaman suara.

Di salah satu rekaman, suara Arga terdengar jelas sedang berbicara dengan sepupu Selvi.

“Begitu cerai selesai, aset lama aman. Nadira paling cuma dapat rumah. Kontrak-kontrak besar kita pindahkan semua sebelum audit.”

Suara lain bertanya,

“Kalau dia tahu?”

Arga tertawa.

“Dia ibu rumah tangga. Mau ngerti apa soal pembukuan?”

Aku duduk diam.

Selvi menatapku.

“Aku minta maaf.”

Aku tidak menjawab.

Karena maaf tidak mengembalikan delapan bulan penghinaan.

Namun aku juga tahu bukti yang dibawanya jauh lebih berharga daripada kemarahan.

Rani memutar rekaman berikutnya.

Kali ini terdengar suara Arga berkata,

“Selvi tidak perlu tahu soal kredit dulu. Setelah rumah ibunya diagunkan, baru nanti aku jelaskan.”

Selvi menutup mulutnya.

Air matanya jatuh.

Saat itulah ponselnya berdering.

Nama Arga muncul di layar.

Rani memberi isyarat.

“Angkat. Speaker.”

Selvi menekan tombol.

“Halo?”

Suara Arga terdengar tergesa.

“Kamu di mana?”

“Di rumah teman.”

“Kamu buka laptopku?”

Selvi menatap kami.

“Kenapa?”

“Jawab saja!”

Selvi menarik napas.

“Aku lihat kontrak kredit.”

Sunyi beberapa detik.

Kemudian suara Arga berubah dingin.

“Sel, dengarkan aku. Jangan melakukan hal bodoh. Semua itu aku lakukan untuk masa depan kita.”

“Dengan memalsukan tanda tanganku?”

“Jangan bicara soal ini lewat telepon.”

“Rumah Mama kamu jadikan jaminan?”

Arga tidak menjawab.

Kemudian ia mengucapkan satu kalimat yang membuat wajah Selvi benar-benar pucat.

“Kalau kamu berpihak pada Nadira, pastikan kamu siap kehilangan hak atas semua uang dan rumah yang kuberikan padamu.”

Selvi menatapku.

Aku belum sempat berkata apa pun ketika Rani membuka email di laptopnya.

Satu dokumen baru baru saja masuk dari auditor.

Di layar terlihat daftar kepemilikan sebuah rumah mewah di Kota Baru Parahyangan.

Pembelinya Arga.

Namun nama penerima manfaatnya bukan Selvi.

Bukan pula aku.

Rani memperbesar halaman terakhir.

Nama seorang perempuan muncul di sana.

Maya Larasati.

Selvi mengernyit.

“Siapa Maya?”

Aku juga tidak mengenalnya.

Tapi di bawah nama itu ada satu keterangan yang membuat kami bertiga saling menatap.

Hubungan dengan pemohon: calon istri.

Dan dokumen itu dibuat empat bulan lalu.

Saat Selvi sedang hamil lima bulan.

Bagian 3

Selvi Mengira Dirinya Cinta Terakhir Arga, Sampai Perempuan Ketiga Datang Membawa Bukti yang Membuat Semua Kebohongannya Runtuh di Hari yang Sama

Kami menemukan Maya dua hari kemudian.

Ternyata ia seorang agen properti berusia tiga puluh tahun.

Arga mengenalnya ketika mencari rumah baru.

Dan seperti kepadaku serta Selvi, Arga juga menceritakan kisah hidup yang berbeda kepadanya.

Kepada Maya, aku adalah mantan istri yang “belum mau menerima kenyataan”.

Selvi?

Katanya hanya teman lama yang sedang dibantu karena hamil tanpa suami.

Ketika Maya melihat foto Arga menggendong bayi Selvi, ia langsung memutus komunikasi.

Yang lebih mengejutkan, rumah di Kota Baru Parahyangan ternyata dibayar menggunakan uang muka Rp1,4 miliar dari rekening perusahaan kami.

Maya bersedia menyerahkan percakapan mereka.

Salah satunya berbunyi:

Setelah urusan pengadilan selesai, aku benar-benar bebas. Kita mulai hidup baru.

Tanggal pesan itu?

Dua hari setelah Arga menemani Selvi melakukan pemeriksaan kehamilan.

Aku membaca percakapan itu tanpa emosi.

Rani menatapku.

“Masih mau mempertahankan pernikahan?”

Aku tertawa.

“Sekarang justru aku yang mau menyelesaikannya.”

Bukan karena Arga memilih perempuan ketiga.

Tapi karena kami sudah mendapatkan semua yang kubutuhkan.

Audit selesai.

Rekaman tersedia.

Kontrak palsu ditemukan.

Jejak perpindahan uang tercatat.

Dokumen kredit dengan tanda tangan Selvi telah diserahkan kepada kuasa hukumnya untuk ditindaklanjuti.

Dalam proses berikutnya, aku tidak lagi berpura-pura ingin mempertahankan rumah tangga.

Melalui jalur hukum yang sesuai, aku menuntut pembagian hakku atas aset yang kami bangun bersama dan meminta seluruh transaksi perusahaan diperiksa.

Begitu Arga mengetahui Selvi bekerja sama dengan kami, ia datang ke rumah ibuku malam-malam.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, lelaki itu tidak datang dengan suara tinggi.

Ia datang dengan wajah lelah.

“Nadira.”

Aku berdiri di balik pagar.

“Pulang.”

“Aku mau bicara.”

“Lewat pengacara.”

“Aku salah.”

Aku hampir tersenyum.

Dulu aku menunggu kalimat itu bertahun-tahun.

Sekarang mendengarnya tidak menimbulkan apa pun.

“Aku akan kembalikan uangnya.”

“Bagus.”

“Kita bisa mulai lagi.”

Aku benar-benar tertawa kali ini.

“Mulai lagi?”

Arga mendekat ke pagar.

“Aku tahu kamu sebenarnya masih sayang. Di pengadilan kamu sendiri bilang—”

“Itu strategi.”

Wajahnya berubah.

Aku menatapnya lurus.

“Kamu sungguh percaya setelah mengambil uang perusahaan, membiayai perempuan lain, dan menyebutku ibu rumah tangga bodoh, aku masih menunggumu pulang?”

Arga terdiam.

“Aku hanya butuh waktu untuk mengamankan hakku.”

Aku membuka pintu sedikit agar ia dapat melihat map tebal di tanganku.

“Sekarang waktunya selesai.”

Beberapa bulan berikutnya menjadi masa paling melelahkan dalam hidupku.

Namun perlahan semuanya terbuka.

Sejumlah transaksi perusahaan baru dibekukan untuk diperiksa.

Kontrak pelanggan dikembalikan setelah diketahui menggunakan armada dan sumber daya perusahaan lama.

Arga akhirnya menyetujui penyelesaian keuangan setelah proses panjang melalui para kuasa hukum.

Aku memperoleh bagian aset dan nilai usaha sesuai hak yang berhasil dibuktikan, termasuk kompensasi atas dana perusahaan yang dialihkan.

Rumah lama kami dijual.

Aku tidak mempertahankannya.

Terlalu banyak kenangan buruk di sana.

Aku membeli rumah lebih kecil di daerah Setiabudi untukku dan ibuku, lalu menggunakan sebagian uangku untuk membangun perusahaan konsultasi logistik bersama dua mantan staf yang keluar setelah mengetahui apa yang dilakukan Arga.

Selvi juga pergi.

Ia membawa anaknya pulang ke Garut sementara kasus tanda tangan dan jaminan rumah ibunya diselesaikan melalui kuasa hukum.

Suatu sore ia mengirimiku pesan.

Aku tidak meminta kamu memaafkan aku. Aku hanya ingin bilang terima kasih karena tidak menyeret anakku ke dalam masalah kami.

Aku membaca pesan itu lama.

Kemudian membalas,

Rawat anakmu. Jangan ajari dia bahwa merebut milik orang lain adalah bukti cinta.

Selvi tidak membalas lagi.

Aku juga tidak membutuhkannya.

Maya sudah meninggalkan Arga lebih dulu.

Sedangkan perusahaan baru yang dibangun Arga kehilangan sebagian besar kontraknya setelah beberapa klien mengetahui armada yang selama ini digunakan ternyata bukan miliknya.

Ia menjual mobil mewahnya.

Apartemen Dago dilepas.

Rumah Kota Baru Parahyangan juga batal menjadi simbol “kehidupan baru” yang selalu ia janjikan kepada perempuan berbeda.

Enam bulan setelah semuanya selesai, aku bertemu Rani di sebuah kedai kopi.

Ia meletakkan sebuah amplop di depanku.

“Apa ini?”

“Salinan putusan dan dokumen terakhir. Semua sudah selesai.”

Aku membuka halaman terakhir.

Pernikahanku dengan Arga resmi berakhir.

Anehnya, tidak ada rasa sedih.

Hanya lega.

Rani mengangkat gelas kopi.

“Jadi, akhirnya Mas Arga mendapatkan apa yang dia inginkan.”

“Status lajang?”

“Iya.”

Aku ikut mengangkat gelasku.

“Dengan harga yang lumayan mahal.”

Kami tertawa.

Di luar kedai hujan baru berhenti.

Aku melihat orang-orang berjalan di trotoar, kendaraan memenuhi jalan, dan matahari sore muncul tipis di balik awan Bandung.

Dulu aku mengira kemenangan berarti melihat Arga menyesal.

Ternyata bukan.

Kemenangan sebenarnya adalah ketika aku tidak lagi membutuhkan penyesalannya untuk merasa hidupku berharga.

Tiga hari kemudian aku menandatangani kontrak pertama perusahaan baruku.

Nilainya tidak sebesar kontrak-kontrak lama.

Tapi di pojok kanan bawah dokumen itu hanya ada namaku.

Tidak ada kebohongan.

Tidak ada rekening rahasia.

Tidak ada lelaki yang menganggap semua pengorbananku tidak pernah ada.

Aku menutup map, menatap dua rekan kerjaku, lalu tersenyum.

“Mulai besok kita kerja serius. Aku tidak mau perusahaan ini besar karena satu orang merasa paling hebat.”

Mereka tertawa.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ketika pulang ke rumah malam itu, aku tidak bertanya siapa yang memilihku.

Aku sudah memilih diriku sendiri.

Dan kali ini, tidak ada seorang pun yang bisa mengambil keputusan itu dariku.