BAGIAN 3 — PERJALANAN MENCARI KELUARGA AYAH MEMBUKA LUKA LAMA, NAMUN JUGA MEMBERI ALYA DAN RAKA KESEMPATAN MEMBANGUN CINTA DENGAN CARA BARU
Dua hari kemudian, aku dan Raka berangkat menuju desa yang tertulis di belakang foto.
Perjalanan memakan waktu hampir tujuh jam.
Sepanjang jalan, kami tidak banyak berbicara.
Hubungan kami terasa berbeda.
Bukan lagi sepasang tunangan yang sedang merencanakan pernikahan.
Kami seperti dua orang yang sedang mencoba memahami apakah cinta yang dibangun selama tiga tahun masih bisa berdiri setelah fondasinya diguncang sedemikian keras.
Menjelang sore kami tiba di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah.
Kami menunjukkan foto Bima kepada seorang pemilik warung.
Pria tua itu langsung berdiri.
—Kalian mencari keluarga Pak Bima?
Jantungku berdegup kencang.
—Bapak mengenalnya?
—Semua orang tua di sini mengenalnya.
Dia menunjuk sebuah rumah sederhana di ujung jalan.
—Adik perempuannya masih tinggal di sana.
Kakiku terasa lemas.
Raka tidak mengatakan apa pun. Dia hanya berjalan di sampingku.
Seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun membuka pintu.
Aku belum sempat memperkenalkan diri ketika matanya tertuju pada wajahku.
Gelas di tangannya hampir jatuh.
—Dewi?
Aku menggeleng.
—Saya Alya.
Bibirnya bergetar.
—Anaknya Dewi?
Aku mengangguk.
Perempuan itu langsung memelukku.
Begitu saja.
Tanpa pertanyaan.
Tanpa bukti.
Tanpa keraguan.
Dia menangis di bahuku sambil terus mengulang satu kalimat.
—Akhirnya kamu pulang.
Namanya Bu Mira.
Dia adalah adik kandung Bima.
Ternyata selama bertahun-tahun keluarga ayahku mencari keberadaan ibu.
Setelah Bima meninggal, Dewi sempat mengirim dua surat kepada keluarga mereka. Namun setelah kejadian di rumah Ratih, ibu pindah tanpa meninggalkan alamat.
Komunikasi terputus.
Bu Mira membawa sebuah album lama.
Di sanalah untuk pertama kalinya aku melihat wajah ayahku dari berbagai masa kehidupannya.
Bima tersenyum sambil memegang ikan hasil pancingan.
Bima berdiri bersama Arif di depan usaha kecil mereka.
Bima dan ibuku duduk berdampingan dalam sebuah acara sederhana.
Lalu ada sebuah foto yang membuatku tak mampu menahan tangis.
Ayah sedang memegang pakaian bayi kecil.
Di belakang foto tertulis:
“Untuk Alya. Ayah belum melihatmu, tapi Ayah sudah mencintaimu.”
Aku memeluk album itu.
Selama bertahun-tahun aku mengira ayahku meninggalkan ibu.
Ternyata dia tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk melihatku lahir.
Kami tinggal di desa selama dua hari.
Aku bertemu paman, bibi, dan beberapa sepupu yang selama ini hanya mengetahui bahwa Bima memiliki seorang anak yang hilang kontak.
Tidak ada rumah mewah.
Tidak ada warisan besar.
Namun untuk pertama kalinya aku mengetahui dari siapa aku mewarisi kebiasaan tertawa keras, kesukaan terhadap makanan pedas, bahkan kebiasaanku mengetuk meja dengan jari ketika gugup.
Raka menjaga jarak selama berada di sana.
Dia tahu perjalanan itu bukan tentang dirinya.
Pada malam terakhir, aku menemukannya duduk sendirian di teras.
—Kenapa kamu tidak tidur?
Dia tersenyum.
—Aku sedang memikirkan sesuatu.
Aku duduk di sampingnya.
—Tentang apa?
—Tentang betapa egoisnya aku dulu.
Aku menoleh.
—Malam pertunangan, ketika gelang itu hilang, seharusnya aku langsung berdiri di sampingmu.
Aku diam.
—Tapi aku ragu, — lanjutnya. — Walaupun hanya beberapa menit, aku tetap meragukanmu. Dan beberapa menit itu cukup untuk membuatmu merasa sendirian.
—Aku memang marah.
—Aku tahu.
—Aku juga belum bisa melupakannya.
Dia mengangguk.
—Aku tidak meminta kamu melupakannya.
Raka mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Cincin pertunangan kami.
Namun dia tidak memasangkannya kepadaku.
Dia meletakkannya di atas meja.
—Aku mengembalikan ini bukan untuk memintamu langsung menikah denganku.
Aku menatapnya.
—Lalu?
—Simpan kalau kamu masih percaya ada kemungkinan untuk kita. Kalau suatu hari kamu memutuskan tidak ingin kembali, berikan kepadaku. Aku akan menerima keputusanmu.
Aku mengambil cincin itu.
Namun tidak langsung memakainya.
—Kita mulai lagi dari awal.
Raka tersenyum kecil.
—Dari awal?
—Tanpa pertunangan. Tanpa tekanan keluarga. Kalau kamu ingin bersamaku, ajak aku berkencan lagi.
Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, dia tertawa.
—Besok malam kamu sibuk?
Aku ikut tersenyum.
—Kita masih tujuh jam dari kota.
—Berarti makan bakso di warung depan juga bisa disebut kencan.
Aku tertawa.
Dan mungkin itulah saat hubungan kami benar-benar dimulai kembali.
Bukan tiga tahun sebelumnya.
Melainkan malam itu.
Enam bulan berikutnya mengubah banyak hal.
Sinta datang ke toko kuenya sendirian.
Dia meminta maaf.
Bukan dengan alasan.
Bukan dengan mengatakan bahwa dia hanya ingin melindungi keluarga.
Dia mengakui kesalahannya.
—Aku melakukan kepadamu persis seperti yang pernah kulakukan kepada ibumu. Aku tidak berharap kamu memaafkanku.
Aku memang tidak langsung memaafkannya.
Namun aku juga tidak ingin hidup membawa kebencian yang diwariskan dari masa lalu.
—Aku bisa memaafkanmu suatu hari nanti. Tapi kepercayaan harus kamu bangun sendiri.
Sinta mengangguk.
Bu Ratih melakukan sesuatu yang lebih tidak terduga.
Dia pergi bersamaku mengunjungi makam ibu.
Wanita yang selama bertahun-tahun terlalu bangga untuk mengakui kesalahannya berdiri di depan makam Dewi dan menangis.
—Aku terlambat delapan belas tahun, Dewi. Tapi aku tetap ingin mengatakan bahwa kamu tidak pernah menjadi pencuri. Akulah yang gagal mempercayaimu.
Aku berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu.
Memaafkan bukan berarti mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan tidak salah.
Memaafkan berarti aku menolak membiarkan kesalahan mereka menentukan seluruh hidupku.
Setahun setelah malam pertunangan yang gagal itu, Raka kembali datang ke toko.
Kali ini dia membeli satu kue kecil.
Di atasnya hanya tertulis:
“Mau berkencan denganku seumur hidup?”
Aku tertawa sampai menangis.
—Ini cara kamu melamar?
—Aku sudah mencoba cara mewah sekali. Hasilnya hampir membuat kita mengira kita saudara kandung.
Aku memukul lengannya sambil tertawa.
Kemudian dia berlutut.
Tidak ada pesta.
Tidak ada keluarga besar.
Hanya kami berdua dan beberapa pegawaiku yang mengintip dari dapur.
—Alya, kali ini aku tidak berjanji akan selalu tahu apa yang harus kulakukan. Aku hanya berjanji bahwa ketika ada masalah, aku tidak akan berdiri diam dan membiarkanmu menghadapinya sendirian lagi. Maukah kamu menikah denganku?
Aku menatap pria di hadapanku.
Lalu mengulurkan tangan.
—Ya.
Pernikahan kami berlangsung sederhana beberapa bulan kemudian.
Bu Mira datang bersama keluarga ayahku.
Pembantu tua yang menyimpan rahasia selama delapan belas tahun duduk di barisan depan.
Sinta membantuku mengenakan kerudung pengantin.
Sedangkan Bu Ratih membawa sebuah kotak biru tua.
Ketika melihatnya, aku langsung mengenali gelang yang pernah membuat semuanya terbongkar.
—Aku rasa ini seharusnya menjadi milikmu, — katanya.
Aku memandang gelang itu.
Kemudian menggeleng.
—Saya tidak membutuhkannya untuk menjadi bagian dari keluarga ini.
Ratih tersenyum dengan mata berkaca-kaca.
—Aku tahu. Karena itu sekarang aku memberikannya bukan sebagai syarat menjadi menantuku. Aku memberikannya sebagai permintaan agar kamu membantuku membangun keluarga ini dengan cara yang lebih baik.
Kali ini aku menerimanya.
Bukan karena harganya.
Melainkan karena maknanya telah berubah.
Setelah menikah, aku dan Raka tidak tinggal di rumah besar keluarganya.
Kami membeli rumah kecil tak jauh dari toko kueku.
Raka tetap bekerja di perusahaan keluarganya, sedangkan aku mengembangkan toko menjadi usaha yang mempekerjakan beberapa perempuan dari keluarga berpenghasilan rendah.
Sebagian keuntungan kami gunakan untuk program pelatihan kerja bagi para ibu tunggal.
Program itu kuberi nama Dewi-Bima.
Untuk ibu yang membesarkanku.
Dan ayah yang mencintaiku bahkan sebelum sempat melihat wajahku.
Dua tahun kemudian, pada suatu sore, aku sedang menutup toko ketika seorang anak perempuan kecil berlari dari pintu belakang menuju Raka.
—Ayah!
Raka langsung mengangkatnya tinggi-tinggi.
Putri kami bernama Dewi Mira.
Nama itu dipilih untuk mengingat dua perempuan yang mengajarkanku dua bentuk keluarga: seseorang yang melahirkan dan membesarkanku, serta seseorang yang menyambutku pulang ketika aku bahkan tidak tahu bahwa aku masih memiliki tempat untuk pulang.
Aku berdiri di depan toko sambil melihat mereka tertawa.
Di pergelangan tanganku masih terpasang gelang tua milik keluarga Raka.
Dulu gelang itu digunakan untuk menjebakku.
Sekarang benda itu mengingatkanku pada satu hal sederhana.
Kebenaran mungkin datang terlambat.
Permintaan maaf mungkin tidak mampu mengembalikan tahun-tahun yang hilang.
Dan sebuah keluarga tidak otomatis menjadi baik hanya karena memiliki hubungan darah.
Keluarga dibangun dari keberanian untuk berkata jujur, kesediaan mengakui kesalahan, dan pilihan untuk tetap saling menjaga ketika kebenaran tidak lagi nyaman.
Raka menghampiriku sambil menggendong putri kami.
—Pulang?
Aku memandang mereka berdua.
Kemudian melihat toko kecil yang kubangun dengan tanganku sendiri, foto Dewi dan Bima yang tergantung berdampingan di dinding, serta orang-orang yang kini menjadi bagian dari kehidupan yang dulu tidak pernah kubayangkan.
Aku tersenyum.
—Ayo pulang.
Dan kali ini aku tahu persis apa arti kata itu.
Rumah bukanlah tempat di mana tidak pernah ada luka.
Rumah adalah tempat di mana tidak ada seorang pun yang harus menghadapi lukanya sendirian.
Setelah delapan belas tahun penuh rahasia, tuduhan, dan kehilangan, akhirnya aku tidak lagi mencari tempat untuk diterima.
Aku telah membangunnya sendiri.
Bersama orang-orang yang memilih untuk tinggal.
