Bagian 2
Adrian tidak langsung menelepon Rina.
Ia justru mencari satu nama lain.
Hendra Santoso.
Pak Hendra sudah menjadi penasihat hukum keluarga Wijaya sejak Adrian masih kuliah. Ia bukan orang yang mengurus semua perkara perusahaan, tetapi hampir setiap masalah sensitif keluarga selama dua puluh tahun terakhir pernah melewati mejanya.
Telepon baru tersambung beberapa detik.
“Adrian?”
“Pak, saya mau tanya soal seseorang.”
“Tanya saja.”
“Dimas Prasetyo.”
Tidak ada jawaban.

Adrian memandang layar untuk memastikan sambungan belum terputus.
“Pak Hendra?”
“Dari mana kamu mendapatkan nama itu?”
Pertanyaannya membuat Adrian duduk lebih tegak.
“Jadi Bapak ingat.”
“Adrian, dari mana?”
“Suaminya bekerja untuk saya.”
“Dimas bekerja untuk kamu?”
“Bukan Dimas. Istrinya.”
Kembali hening.
Adrian menjelaskan singkat mengenai Rina.
Ia tidak menceritakan soal percakapan susu bayi. Itu terasa terlalu pribadi.
Ketika Adrian selesai, suara Pak Hendra berubah lebih hati-hati.
“Jangan tanya Rina tentang Dimas dulu.”
“Kenapa?”
“Saya perlu melihat sesuatu.”
“Melihat apa?”
“Nanti saya jelaskan.”
“Empat tahun lalu saya pernah mendengar Om Fajar menyebut namanya. Ayah menyuruh dia berhenti bicara begitu saya masuk.”
Pak Hendra mengembuskan napas.
“Adrian.”
“Saya tidak mau jawaban setengah.”
“Saya tahu.”
“Dimas melakukan apa?”
Pak Hendra tidak langsung menjawab.
Akhirnya ia berkata, “Saya akan menghubungimu lagi.”
Sambungan ditutup.
Jawaban itu justru membuat Adrian semakin gelisah.
Ia membuka sistem arsip lama perusahaan.
Dimas Prasetyo pernah bekerja di Wijaya Infrastruktur.
Bukan pekerja lapangan biasa.
Ia pernah menjadi supervisor pengendalian biaya di salah satu proyek kawasan industri Cikarang.
Tanggal ia berhenti bekerja hampir tepat dengan percakapan yang Adrian dengar empat tahun lalu.
Alasan keluar yang tercatat:
Mengundurkan diri atas kehendak sendiri.
Tidak ada surat wawancara akhir.
Tidak ada catatan pelanggaran.
Tidak ada laporan resmi mengenai kerugian.
Namun pada berkas proyek tahun yang sama, Adrian menemukan satu hal yang ganjil.
Ada pergantian mendadak perusahaan pemasok material setelah Dimas pergi.
Vendor lamanya bernama PT Karya Mitra Abadi.
Nama itu juga terasa familiar.
Ia belum sempat menelusurinya lebih jauh ketika seseorang mengetuk.
Rina berdiri di pintu.
“Pak, saya sudah selesai. Ada lagi yang perlu dikerjakan?”
Adrian melihat jam.
Hampir pukul lima.
“Tidak. Hati-hati pulang.”
Rina mengangguk.
Sebelum ia pergi Adrian berkata, “Rina, bulan depan sistem gaji staf rumah akan saya evaluasi.”
Wajah Rina langsung terlihat khawatir.
“Ada masalah dengan pekerjaan saya?”
“Tidak.”
“Kalau ada yang kurang, bilang saja, Pak.”
“Bukan itu.”
Adrian berhenti.
Ia belum ingin membuat janji sebelum melihat semuanya.
“Saya cuma merasa beberapa hal sudah lama tidak ditinjau.”
Rina masih tampak bingung, tetapi akhirnya mengangguk.
Setelah ia pergi, Adrian kembali melihat kertas perhitungan pengeluaran tadi pagi.
Rp450.000.
Ia tidak bisa membiarkan angka itu begitu saja.
Namun memberinya uang tunai setelah tanpa sengaja mendengar percakapan terasa memalukan bagi Rina.
Akhirnya Adrian pergi ke supermarket, membeli dua kaleng susu dengan merek yang pernah ia lihat di tas bayi Rina ketika suatu kali ibunya datang menjemputnya, ditambah popok dan beberapa kebutuhan rumah.
Ia memasukkan semuanya ke dalam dua kantong belanja biasa.
Rencananya sederhana.
Ia tahu alamat Rina dari berkas kepegawaian.
Ia hanya ingin menitipkannya kepada penjaga kontrakan, mengatakan bahwa itu bonus kebutuhan keluarga dari tempat kerja, lalu pulang.
Setidaknya itu yang ia katakan kepada dirinya sendiri ketika mobilnya mengikuti rute yang sama dengan angkutan yang biasa digunakan Rina.
Perjalanan memakan waktu lebih dari satu jam.
Adrian beberapa kali hampir berbalik.
Mengikuti pegawai sampai rumah karena mendengar percakapan pribadinya bukan keputusan yang terasa semakin baik semakin lama ia pikirkan.
Saat akhirnya menemukan deretan kontrakan tempat Rina tinggal, ia menghentikan mobil beberapa rumah sebelum alamat yang tercantum.
Rumahnya kecil.
Cat teras sudah kusam.
Ada jemuran pakaian bayi di samping pintu.
Adrian baru mengambil dua kantong belanja dari kursi belakang ketika sebuah sedan hitam berhenti di depan kontrakan Rina.
Ia mengenali mobil itu.
Pak Hendra keluar.
Adrian tetap berdiri di belakang pintu mobilnya.
Pengacara itu berjalan ke rumah Rina dan mengetuk.
Rina membuka pintu sambil menggendong Owen.
Begitu melihat siapa yang datang, wajahnya berubah.
“Pak Hendra?”
Pak Hendra mengatakan sesuatu yang tidak terdengar.
Rina diam lama.
Kemudian ia mempersilakannya masuk.
Adrian seharusnya pergi.
Sebaliknya, beberapa menit kemudian ia berjalan mendekat.
Pintu depan belum tertutup sepenuhnya.
Ia mendengar suara Rina dari dalam.
“Empat tahun saya simpan. Dimas bilang jangan berikan kepada siapa pun kecuali keluarga Wijaya sendiri yang datang mencari.”
Adrian berhenti.
Terdengar bunyi laci dibuka.
Ketika ia mengetuk pintu, Rina yang membukanya.
Matanya langsung jatuh ke kantong belanja di tangan Adrian.
Lalu ke mobilnya.
Lalu kembali ke wajah Adrian.
“Pak Adrian?”
Pak Hendra berdiri dari kursi ruang tamu.
Di atas meja kecil antara mereka ada sebuah amplop biru tua yang pinggirannya sudah kusut.
Rina menatap Adrian tanpa tersenyum.
“Bapak mengikuti saya?”
Adrian belum sempat menjawab ketika Pak Hendra mengambil selembar kertas dari amplop itu.
Tulisan tangan di bagian atas masih terbaca jelas.
Jika keluarga Wijaya suatu hari mau mendengar, berikan ini kepada Adrian. Bukan kepada Pak Fajar.
Bagian 3 berlanjut di bawah dengan akhir ceritanya. 👇
Bagian 3
Rina masih berdiri di ambang pintu sambil menggendong Owen.
“Bapak mengikuti saya?” tanyanya lagi.
Kali ini Adrian tidak mencoba mencari kalimat yang membuat tindakannya terdengar lebih baik.
“Iya.”
Rina menatap dua kantong belanja di tangannya.
“Kenapa?”
Adrian meletakkan kantong itu di lantai teras.
“Saya mendengar teleponmu pagi tadi.”
Wajah Rina langsung berubah.
“Telepon saya?”
“Saya mau masuk dapur. Saya dengar soal susu Owen.”
Rina memalingkan wajah.
Untuk sesaat ia tidak terlihat marah.
Ia justru terlihat malu.
Adrian merasa itu lebih buruk.
“Saya tidak sengaja mendengarnya,” lanjut Adrian. “Tapi saya memang salah karena datang ke sini tanpa bilang. Saya pikir saya bisa menitipkan barang lalu pergi.”
“Bapak bisa saja bicara dengan saya.”
“Saya takut membuatmu tidak nyaman.”
Rina menatapnya.
“Dengan mengikuti saya pulang?”
Adrian tidak punya jawaban yang bisa membela dirinya.
“Benar. Itu keputusan yang buruk.”
Pak Hendra berdeham pelan dari dalam.
“Sepertinya kalian sebaiknya masuk dulu. Ada hal lain yang lebih sulit dibicarakan di teras.”
Rina tidak langsung bergerak.
Kemudian Owen mulai menarik kerah bajunya.
Ia menggeser tubuh memberi jalan.
“Masuk.”
Ruang tamunya tidak lebih besar dari sebagian kamar mandi tamu di rumah Adrian.
Ada satu sofa dua dudukan, meja plastik kecil, rak berisi beberapa botol susu dan obat bayi, serta kipas angin yang berputar pelan di sudut.
Adrian duduk di kursi plastik.
Rina tetap menggendong Owen.
Pak Hendra meletakkan kembali kertas di atas amplop biru.
“Rina,” katanya, “saya minta maaf datang mendadak.”
“Empat tahun Bapak tidak datang.”
Kalimat itu keluar tanpa nada tinggi.
Pak Hendra menunduk.
“Itulah sebabnya saya datang sekarang.”
“Karena Pak Adrian menelepon?”
“Iya.”
Rina tertawa pendek.
“Jadi akhirnya perlu orang penting dulu baru ada yang mengingat nama suami saya.”
Adrian melihat Pak Hendra.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Pak Hendra tidak menjawab langsung.
Ia justru bertanya kepada Rina, “Boleh saya jelaskan?”
Rina menatap amplop biru.
“Silakan. Toh Dimas sudah tidak bisa menjelaskan sendiri.”
Owen mulai rewel.
Rina membawanya ke kamar kecil di belakang, lalu kembali beberapa menit kemudian setelah bayi itu tertidur.
Baru setelah duduk, ia membuka amplop.
Di dalamnya ada beberapa lembar fotokopi dokumen, catatan angka, dan satu surat tulisan tangan.
Pak Hendra mengambil dokumen pertama.
“Dimas bekerja di proyek Cikarang sebagai supervisor pengendalian biaya,” katanya.
“Saya sudah menemukan itu.”
“Yang mungkin belum kamu tahu, salah satu pekerjaannya adalah mencocokkan volume pekerjaan dengan invoice vendor.”
Adrian mengangguk.
“PT Karya Mitra Abadi.”
Pak Hendra menatapnya.
“Kamu sudah sampai sana?”
“Sedikit.”
Pak Hendra membuka satu lembar.
“Empat tahun lalu Dimas menemukan beberapa invoice yang nilainya tidak sesuai dengan barang yang benar-benar masuk ke proyek.”
“Berapa?”
“Kalau dihitung dari dokumen yang sempat dia salin, sekitar Rp6,4 miliar selama lebih dari setahun.”
Adrian memandangnya lama.
Enam koma empat miliar bukan jumlah yang akan menjatuhkan Wijaya Infrastruktur.
Tetapi cukup besar untuk tidak mungkin disebut kesalahan administrasi biasa.
“Siapa yang menyetujui?”
Pak Hendra diam.
Adrian sudah tahu jawaban sebelum nama itu disebut.
“Om Fajar?”
“Sebagian persetujuan terakhir melalui dia.”
Rina menyandarkan punggung ke kursi.
“Dimas tidak pernah bilang semua detailnya kepada saya,” katanya. “Dia cuma bilang ada tagihan yang menurutnya tidak benar dan dia disuruh tanda tangan.”
“Dia menolak?” tanya Adrian.
Rina mengangguk.
“Dua kali.”
Pak Hendra melanjutkan.
“Setelah itu Dimas bicara kepada ayahmu.”
Adrian merasa rahangnya menegang.
“Ayah tahu?”
“Ya.”
“Seberapa banyak?”
“Cukup untuk meminta saya memeriksa hubungan vendor itu dengan orang-orang di perusahaan.”
Adrian menatap meja.
“Dan hasilnya?”
Pak Hendra menarik satu dokumen dari mapnya sendiri.
“Direktur PT Karya Mitra Abadi adalah saudara ipar Fajar.”
Adrian tidak langsung berbicara.
Ia mengenal nama laki-laki itu.
Bukan dekat.
Pernah bertemu dua atau tiga kali di acara keluarga.
Selama bertahun-tahun ia mengira hubungan mereka hanya kebetulan karena sama-sama bekerja di bidang konstruksi.
“Kenapa tidak ada audit resmi?”
Pak Hendra menatapnya.
“Karena saat itu perusahaan sedang dalam proses restrukturisasi beberapa fasilitas kredit. Ayahmu takut kabar mengenai dugaan penyimpangan proyek akan membuat bank meninjau semuanya.”
“Jadi dia diam?”
“Dia bilang dia butuh waktu.”
“Empat tahun?”
“Adrian.”
“Empat tahun, Pak.”
Rina tidak ikut menyela.
Ia hanya menatap tangannya sendiri.
Pak Hendra berkata, “Fajar membantah. Dia bilang perbedaan harga berasal dari perubahan spesifikasi lapangan. Dia juga menuduh Dimas mencoba melindungi kesalahan pencatatan timnya sendiri.”
“Dan Ayah percaya?”
“Tidak sepenuhnya.”
“Lalu?”
“Ayahmu meminta Dimas meninggalkan proyek sementara sambil masalahnya diperiksa.”
Adrian membuka berkas lama di ponselnya.
“Di sistem tertulis mengundurkan diri atas kehendak sendiri.”
Rina mendengus pelan.
“Karena itu yang diminta mereka tulis.”
Adrian menoleh kepadanya.
“Dimas menandatanganinya?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Rina mengambil napas.
“Karena waktu itu saya sedang hamil.”
Adrian memandang Owen yang tertidur di kamar belakang.
Rina menggeleng.
“Bukan Owen. Kehamilan itu tidak bertahan.”
Tidak ada yang bicara beberapa detik.
Rina melanjutkan tanpa dramatis.
“Saya harus beberapa kali ke rumah sakit. Kami butuh uang. Dimas pikir kalau dia pergi baik-baik, masalahnya bisa selesai dan dia bisa mencari kerja di tempat lain.”
“Tapi tidak selesai?”
“Tidak.”
Setelah Dimas keluar, beberapa perusahaan yang ia lamar meminta referensi.
Dua proses rekrutmen berhenti setelah tahap akhir.
Satu perusahaan akhirnya memberi tahu secara tidak resmi bahwa nama Dimas dikaitkan dengan “masalah keuangan proyek”.
Rina tidak tahu siapa yang menyebarkan cerita itu.
Dimas juga tidak bisa membuktikannya.
Ia akhirnya bekerja dengan perusahaan kontraktor yang lebih kecil, lalu beralih mengerjakan proyek per proyek.
Penghasilannya tidak pernah kembali seperti sebelumnya.
“Tiga tahun kemudian saya hamil Owen,” kata Rina. “Kami sudah mulai agak stabil.”
Adrian bertanya pelan, “Dimas meninggal kapan?”
“Sebelas bulan lalu.”
Owen baru lahir beberapa minggu setelahnya.
Dimas meninggal dalam kecelakaan lalu lintas ketika pulang dari lokasi proyek di Karawang.
Tidak ada hubungan dengan perkara lama.
Tidak ada konspirasi.
Tidak ada ancaman misterius.
Hanya kecelakaan di jalan dan satu telepon tengah malam yang mengubah kehidupan Rina.
Setelah kematian Dimas, tabungan mereka habis perlahan.
Ada biaya kontrakan.
Persalinan.
Kebutuhan bayi.
Beberapa utang kecil yang dulu tidak terasa berat ketika ada dua penghasilan.
Rina mulai bekerja lagi saat Owen cukup besar untuk ditinggalkan beberapa jam bersama ibunya.
“Bagaimana kamu bisa bekerja di rumah saya?” tanya Adrian.
“Saya daftar lewat rekomendasi mantan tempat kerja.”
“Kamu tahu rumah itu milik saya?”
“Tidak waktu pertama kali datang.”
“Kapan tahu?”
“Hari ketiga.”
Adrian terdiam.
“Kenapa tidak pergi?”
Rina menatapnya seolah pertanyaan itu lebih aneh daripada yang Adrian sadari.
“Karena saya butuh pekerjaan.”
Jawaban itu sederhana.
Tidak ada rencana mendekati keluarga Wijaya.
Tidak ada usaha mendapatkan akses.
Rina bahkan tidak pernah membawa nama Dimas selama tujuh bulan.
Ia datang, bekerja, menerima gaji, lalu pulang.
“Dimas pernah menyuruhmu menemui saya?” tanya Adrian.
Rina menyentuh amplop biru.
“Tidak.”
“Lalu kenapa suratnya ditujukan kepada saya?”
Rina mengambil lembar tulisan tangan.
“Kata dia, kalau suatu hari keluarga Bapak benar-benar ingin tahu, orang yang mungkin masih mau mendengar cuma Bapak.”
Adrian menerima surat itu.
Tulisan Dimas kecil dan rapi.
Sebagian besar surat berisi kronologi.
Nomor invoice.
Tanggal pertemuan.
Nama vendor.
Siapa yang meminta tanda tangannya.
Tidak ada kalimat dramatis.
Di bagian akhir hanya ada beberapa baris pribadi.
Dimas menulis bahwa ia tidak ingin Rina menghabiskan hidup mengejar keluarga Wijaya.
Ia hanya ingin satu hal.
Jika suatu hari persoalan itu dibuka kembali, namanya jangan dibiarkan tercatat sebagai orang yang pergi karena masalah keuangan.
Adrian membaca bagian itu dua kali.
“Kenapa tidak pernah dikirim ke saya?”
Rina menatap Pak Hendra.
Pengacara itu yang menjawab.
“Dimas pernah datang kepada saya setelah keluar dari perusahaan.”
Adrian mengangkat kepala.
“Bapak tahu dia punya dokumen ini?”
“Saya tahu sebagian.”
“Dan Bapak tidak menghubungi saya?”
“Ayahmu meminta semua komunikasi soal itu melewati dia.”
“Bapak penasihat hukum keluarga atau penjaga rahasia Ayah saya?”
Nada Adrian akhirnya meninggi.
Pak Hendra menerimanya tanpa membalas.
“Waktu itu saya membuat keputusan yang sampai sekarang saya sesali.”
“Keputusan apa?”
“Saya memilih mengikuti instruksi klien saya.”
Adrian berdiri.
Ia berjalan dua langkah ke arah pintu, lalu berhenti karena ruangan itu terlalu kecil untuk benar-benar menjauh.
Rina berkata, “Pak Adrian.”
Adrian menoleh.
“Saya tidak mau rumah saya jadi tempat Bapak bertengkar soal keluarga Bapak.”
Kalimat itu membuat Adrian sadar di mana mereka berada.
Ia duduk kembali.
“Maaf.”
Rina menunjuk amplop.
“Saya simpan itu bukan untuk menghancurkan siapa pun.”
“Saya mengerti.”
“Dimas sudah meninggal. Tidak ada yang bisa mengembalikan empat tahun hidupnya.”
Adrian memegang surat tersebut.
“Lalu apa yang kamu inginkan?”
Rina berpikir lama.
“Nama dia dibersihkan.”
“Hanya itu?”
“Bapak jangan bilang ‘hanya’.”
Adrian langsung mengangguk.
“Benar.”
Rina melihat ke arah kamar Owen.
“Kalau memang perusahaan Bapak ikut membuat orang lain menganggap suami saya pencuri, saya ingin ada surat resmi yang menjelaskan dia tidak pernah terbukti mengambil uang.”
“Kalau ada hak finansial yang belum dibayar?”
“Saya tidak tahu.”
“Kalau ada?”
Rina menatapnya.
“Itu dibicarakan setelah semuanya jelas.”
Bukan jawaban seseorang yang sedang mengejar keberuntungan.
Adrian justru semakin malu mengingat dua kantong belanja di teras.
Ia datang karena Rp450.000.
Ternyata masalah yang disimpan rumahnya sendiri jauh lebih besar daripada susu bayi.
Malam itu Adrian tidak pulang ke Sentul.
Ia langsung menuju rumah orang tuanya di Kebayoran.
Ayahnya, Surya Wijaya, sedang membaca koran di ruang keluarga ketika Adrian masuk.
Ibunya duduk di ujung sofa.
Fajar kebetulan sedang makan malam di sana.
Melihat ketiganya sekaligus membuat pekerjaan Adrian lebih mudah.
Ia meletakkan fotokopi satu invoice di meja.
“Ada yang mau menjelaskan?”
Fajar melihat kertas itu.
Wajahnya tidak langsung berubah.
Itu justru membuat Adrian semakin marah.
“Apa ini?” tanya ibunya.
Ayah Adrian melepas kacamatanya.
“Dari mana kamu dapat?”
“Jadi Ayah ingat.”
“Adrian.”
“Dimas Prasetyo.”
Ibunya menoleh kepada Surya.
Fajar mengambil minum.
Adrian memandang pamannya.
“Empat tahun lalu Om bilang proyek Cikarang bisa ikut diperiksa kalau Dimas membawa sesuatu keluar.”
Fajar mengeraskan rahang.
“Kamu tidak tahu konteksnya.”
“Bagus. Jelaskan.”
“Bukan sekarang.”
“Empat tahun terlalu lama untuk bilang bukan sekarang.”
Ayahnya berdiri.
“Duduk dulu.”
“Saya sudah cukup lama duduk tanpa tahu.”
Surya menatap anaknya beberapa saat.
Kemudian ia berkata kepada istrinya, “Mira, biar kami bicara.”
Ibu Adrian tidak bergerak.
“Kalau ini soal perusahaan keluarga, saya juga keluarga.”
Tidak ada yang meminta ia pergi lagi.
Surya akhirnya duduk.
Ia membenarkan sebagian besar yang sudah dikatakan Pak Hendra.
Dimas menemukan perbedaan invoice.
Fajar mengatakan perubahan biaya memang terjadi di lapangan.
Surya takut persoalan itu menjadi skandal ketika perusahaan sedang membutuhkan dukungan bank.
Jadi Dimas diminta keluar sementara.
“Sementara?” Adrian mengulang.
Surya menunduk.
“Seharusnya hanya sampai pemeriksaan selesai.”
“Pemeriksaan apa?”
“Internal.”
“Di mana laporannya?”
Tidak ada jawaban.
Adrian memandang Fajar.
“Om?”
Fajar bersandar.
“Proyek konstruksi tidak sesederhana lihat invoice lalu bilang selisih berarti dicuri.”
“Saya tahu.”
“Kamu waktu itu bahkan tidak mengurus Cikarang.”
“Sekarang saya direktur utama.”
“Empat tahun lalu bukan.”
“Dan hari ini saya yang bertanggung jawab.”
Fajar tertawa kecil tanpa humor.
“Jadi karena seorang bekas pegawai menyimpan beberapa fotokopi, kamu mau menyeret keluarga sendiri?”
Adrian menatapnya.
“Yang menarik, saya belum menuduh Om mengambil uang.”
Fajar berhenti.
Adrian melanjutkan.
“Saya cuma bilang akan memeriksa.”
Ibunya menatap Fajar.
Surya memijat dahinya.
Fajar berkata, “Saya tahu arah pertanyaanmu.”
“Kalau begitu jawab yang sederhana. Hubungan Om dengan PT Karya Mitra Abadi apa?”
“Direkturnya saudara ipar saya.”
“Kenapa hubungan itu tidak tercatat sebagai potensi benturan kepentingan dalam dokumen pengadaan?”
“Waktu itu sistem kita belum serapi sekarang.”
“Kenapa harga mereka lebih tinggi dari volume yang masuk?”
“Karena ada perubahan spesifikasi.”
“Dokumennya?”
“Cari di proyek.”
“Saya akan cari.”
Adrian mengeluarkan ponsel.
“Mulai besok pagi, semua kewenangan Om untuk menyetujui vendor lama proyek Cikarang saya hentikan sampai pemeriksaan selesai.”
Fajar berdiri.
“Kamu tidak bisa memperlakukan saya seperti pegawai.”
“Saya memperlakukan Om sebagai orang yang pernah punya kewenangan atas transaksi perusahaan.”
“Perusahaan itu dibangun keluarga kita.”
“Justru itu.”
Surya berkata, “Adrian, jangan mengambil keputusan dalam keadaan marah.”
Adrian menoleh kepadanya.
“Saya tidak sedang memecat siapa pun malam ini. Saya mengamankan pemeriksaan.”
Ia meletakkan surat Dimas di meja.
“Ayah tahu hal paling buruk dari semua ini?”
Surya diam.
“Bukan Rp6,4 miliar itu.”
Fajar mendengus.
Adrian tidak melihatnya.
“Seorang pegawai datang melapor. Ayah tidak tahu dia benar atau salah, tapi namanya dibiarkan rusak karena lebih mudah membuat dia pergi daripada menghadapi masalahnya.”
Surya menelan ludah.
“Saya punya ribuan pegawai yang harus dipikirkan.”
“Dimas juga pegawai Ayah.”
“Kalau bank menarik fasilitas saat itu, ribuan keluarga bisa terkena.”
“Dan karena takut itu, satu keluarga dianggap boleh menanggung semuanya?”
Surya menatap surat tersebut.
“Saya pikir saya bisa memperbaikinya setelah keadaan tenang.”
“Kapan?”
Ayahnya tidak menjawab.
Empat tahun tidak membutuhkan jawaban lain.
Keesokan pagi, Adrian meminta komite audit perusahaan membuka pemeriksaan independen terhadap pengadaan proyek lama.
Ia tidak menyerahkan seluruh proses kepada Pak Hendra.
Pak Hendra hanya membantu memastikan dokumen Rina diterima dengan benar dan agar komunikasi dengannya tidak berubah menjadi tekanan dari perusahaan.
Adrian juga menolak menjadikan fotokopi Dimas sebagai satu-satunya dasar.
Tim memeriksa invoice perusahaan.
Catatan penerimaan material.
Persetujuan pembayaran.
Email proyek yang masih tersimpan.
Rekening pembayaran vendor.
Kontrak.
Catatan perubahan spesifikasi.
Proses itu memakan waktu.
Bukan tiga jam.
Bukan satu sore.
Selama hampir enam minggu, tidak ada jawaban yang sepenuhnya bersih.
Beberapa selisih ternyata memang bisa dijelaskan.
Ada perubahan harga material.
Ada pekerjaan tambahan.
Ada dokumen yang terlambat dicatat.
Namun tidak semuanya.
Sejumlah invoice tetap tidak cocok dengan volume penerimaan barang.
Beberapa persetujuan dilakukan tanpa dokumen perubahan pekerjaan yang semestinya.
Dan hubungan keluarga antara Fajar dengan vendor tidak pernah dicatat.
Yang lebih buruk, tim menemukan email lama yang memperlihatkan Dimas sudah mempertanyakan transaksi tersebut sebelum ia meninggalkan perusahaan.
Ia tidak pernah dituduh mencuri dalam email itu.
Tidak pernah ada temuan bahwa ia mengambil uang.
Tidak pernah ada pemeriksaan yang membuktikan ia melakukan pelanggaran keuangan.
Catatan “mengundurkan diri atas kehendak sendiri” memang benar secara dokumen.
Tetapi konteksnya jauh dari sukarela.
Adrian membaca laporan awal itu di ruang kerjanya.
Ia kemudian memanggil ayah dan Fajar ke kantor.
Kali ini ada dua anggota komite audit dan penasihat hukum perusahaan.
Tidak ada makan malam keluarga.
Tidak ada kesempatan mengganti topik.
Fajar masih membantah melakukan penggelapan pribadi.
Ia bersikeras sebagian selisih digunakan untuk mempercepat pekerjaan melalui pemasok lain dan menutup kenaikan biaya lapangan.
Namun ia tidak bisa menjelaskan semua transaksi.
Ia juga tidak bisa menjelaskan mengapa hubungan dengan vendor disembunyikan.
Komite memutuskan kewenangannya tetap dibekukan sampai pemeriksaan lengkap selesai.
Dua minggu kemudian Fajar mengundurkan diri dari posisi operasional.
Bukan karena Adrian berteriak lebih keras.
Bukan karena polisi datang menyeretnya keluar.
Bukan karena seluruh keluarga tiba-tiba membencinya.
Ia pergi karena setelah kewenangannya dicabut dan dokumen diperiksa satu per satu, tidak ada lagi tempat yang cukup luas untuk menyembunyikan keputusan-keputusan lama.
Urusan hukum antara perusahaan, Fajar, dan vendor masih berlangsung berbulan-bulan setelahnya.
Adrian tidak menjanjikan kepada Rina bahwa seseorang pasti masuk penjara.
Ia juga tidak menjanjikan semua uang akan kembali.
Ada terlalu banyak hal yang masih harus diperiksa untuk mengatakan itu.
Tetapi satu hal bisa mereka lakukan lebih cepat.
Wijaya Infrastruktur menerbitkan surat resmi yang menjelaskan bahwa tidak ada temuan perusahaan yang menyatakan Dimas Prasetyo melakukan penggelapan atau mengambil dana perusahaan.
Catatan internal mengenai keluarnya Dimas diperbarui dengan keterangan bahwa kepergiannya terjadi ketika ada sengketa internal mengenai proses pengadaan.
Adrian membawa surat itu sendiri ke rumah Rina.
Kali ini ia menelepon dulu.
Rina membuka pintu dengan Owen di pinggang.
“Boleh masuk?” tanya Adrian.
Rina mengangguk.
Adrian menyerahkan map.
Rina membacanya berdiri.
Tidak ada musik.
Tidak ada pidato.
Ia hanya membaca dari awal sampai akhir.
Lalu mengulang bagian yang menyebut nama Dimas.
“Ini akan tersimpan di arsip perusahaan?”
“Iya.”
“Kalau nanti ada perusahaan lain yang minta referensi lama?”
“Mereka akan menerima keterangan yang sudah diperbaiki.”
Rina menutup map.
“Terima kasih.”
Adrian hampir menjawab bahwa itu memang kewajiban mereka.
Ia akhirnya berkata, “Masih ada satu hal.”
Perusahaan menemukan dua pembayaran insentif proyek dan penggantian biaya kerja yang tidak pernah diselesaikan setelah Dimas keluar.
Jumlahnya tidak sebesar angka dalam perkara pengadaan.
Setelah dihitung bersama hak yang masih bisa diverifikasi serta penyelesaian yang disepakati atas kesalahan administrasi perusahaan, Rina menerima Rp186 juta.
Pak Hendra menyarankan ia membaca perjanjian dengan penasihat lain jika ingin.
Adrian mendukung itu.
Ia tidak ingin Rina menandatangani sesuatu hanya karena pihak yang membawa dokumen bernama Wijaya.
Rina membutuhkan hampir satu minggu sebelum menyetujuinya.
Hal pertama yang ia lakukan setelah uang masuk bukan membeli rumah atau mobil baru.
Ia melunasi utang persalinan yang masih dicicil kepada ibunya.
Membayar kontrakan beberapa bulan di muka.
Menyimpan dana darurat.
Lalu membeli susu Owen tanpa menghitung berapa sendok yang harus dikurangi supaya cukup sampai Jumat.
Persoalan lain justru membuat Adrian lebih tidak nyaman karena sepenuhnya berada di tangannya.
Gaji Rina.
Adrian meminta peninjauan terhadap semua orang yang bekerja langsung untuk rumahnya.
Bukan hanya Rina.
Ia membandingkan jam kerja, transportasi, tanggung jawab, hari libur, dan biaya hidup.
Hasilnya sederhana.
Selama bertahun-tahun ia membayar berdasarkan angka yang “biasa” tanpa pernah mempertanyakan apakah angka itu layak.
Gaji beberapa staf dinaikkan.
Tunjangan transportasi diperjelas.
Jadwal kerja diperbaiki.
Untuk Rina, kenaikannya cukup besar sehingga ia tidak lagi harus meminta ibunya menutup kebutuhan rutin setiap akhir bulan.
Saat Adrian menjelaskannya, Rina langsung bertanya, “Ini karena Dimas?”
“Tidak.”
“Karena telepon saya?”
“Teleponmu membuat saya melihat sesuatu yang seharusnya sudah saya lihat dari dulu.”
Rina memandangnya curiga.
Adrian melanjutkan, “Kalau saya cuma menaikkan gajimu karena merasa bersalah, itu bantuan pribadi. Yang saya ubah sistem semua staf.”
Rina tidak menjawab beberapa saat.
“Kalau begitu saya terima.”
Hubungan Adrian dengan ayahnya tidak pulih secepat catatan perusahaan diperbaiki.
Surya beberapa kali mencoba menjelaskan bahwa pada masa itu ia merasa sedang memilih risiko yang paling kecil.
Adrian bisa memahami ketakutannya.
Ia hanya tidak bisa lagi menyebut keputusannya benar.
Mereka masih makan bersama.
Masih berbicara tentang perusahaan.
Tetapi untuk pertama kalinya, Adrian tidak otomatis menganggap diamnya ayah sebagai kebijaksanaan.
Fajar tidak datang ke beberapa acara keluarga berikutnya.
Ibunya sempat meminta Adrian “jangan terlalu keras”.
Adrian menjawab, “Saya tidak meminta keluarga memusuhinya. Saya cuma tidak akan mengembalikan kewenangan sebelum urusannya jelas.”
Kalimat itu tidak menyelesaikan konflik keluarga.
Tetapi cukup untuk mengubah kebiasaan lama.
Beberapa bulan kemudian, pemeriksaan perusahaan masih berjalan.
Sebagian kerugian sedang dinegosiasikan dengan vendor.
Tanggung jawab Fajar masih ditangani melalui penasihat hukum.
Tidak semuanya selesai.
Dan memang tidak perlu semuanya selesai agar Adrian memahami apa yang sebenarnya berubah.
Suatu Jumat sore, ia berjalan melewati dapur ketika mendengar Rina menelepon.
Kali ini Adrian langsung hendak berbalik agar tidak mendengar percakapan pribadi.
Namun suara Rina terdengar sebelum ia pergi.
“Tidak usah, Bu. Uang Ibu simpan saja.”
Ia tertawa kecil.
“Iya, susu Owen masih ada. Aku sudah beli kemarin.”
Adrian terus berjalan.
Ia tidak masuk.
Tidak bertanya.
Tidak mencoba menyelamatkan siapa pun.
Di meja ruang kerjanya, amplop biru milik Dimas sudah tidak ada.
Adrian telah mengembalikannya kepada Rina bersama semua dokumen aslinya.
Yang tersisa di arsip perusahaan hanyalah satu berkas baru dengan nama yang selama empat tahun sengaja tidak disebut keluarganya.
Dimas Prasetyo.
Kali ini namanya tidak dihapus.
Menurutmu, apakah Adrian sudah bertindak tepat terhadap ayah dan pamannya setelah mengetahui bagaimana Dimas diperlakukan?
Jika menikmati cerita berbasis karakter seperti ini, silakan ikuti halaman ini.
