AKU MEMBAYAR PESTA ULANG TAHUN IBU MERTUAKU, TAPI DIA MEMBIARKAN AKU DAN ANAK-ANAKKU BERDIRI DI LUAR PINTU. KETIKA SUAMIKU BERKATA, “AKU TIDAK BISA MERUSAK ULANG TAHUN IBU,” LALU MASUK TANPA KAMI, AKHIRNYA AKU MEMAHAMI SATU HAL YANG MENYAKITKAN: SELAMA INI AKU MEMPERTAHANKAN PERNIKAHAN YANG TIDAK AKAN PERNAH MELINDUNGI ANAK-ANAKKU SAAT MEREKA BENAR-BENAR MEMBUTUHKANNYA.

Avatar penulis
Cerita 04
19 menit baca 220 tayangan
AKU MEMBAYAR PESTA ULANG TAHUN IBU MERTUAKU, TAPI DIA MEMBIARKAN AKU DAN ANAK-ANAKKU BERDIRI DI LUAR PINTU. KETIKA SUAMIKU BERKATA, “AKU TIDAK BISA MERUSAK ULANG TAHUN IBU,” LALU MASUK TANPA KAMI, AKHIRNYA AKU MEMAHAMI SATU HAL YANG MENYAKITKAN: SELAMA INI AKU MEMPERTAHANKAN PERNIKAHAN YANG TIDAK AKAN PERNAH MELINDUNGI ANAK-ANAKKU SAAT MEREKA BENAR-BENAR MEMBUTUHKANNYA.
Indeks

AKU MEMBAYAR PESTA ULANG TAHUN IBU MERTUAKU, TAPI DIA MEMBIARKAN AKU DAN ANAK-ANAKKU BERDIRI DI LUAR PINTU. KETIKA SUAMIKU BERKATA, “AKU TIDAK BISA MERUSAK ULANG TAHUN IBU,” LALU MASUK TANPA KAMI, AKHIRNYA AKU MEMAHAMI SATU HAL YANG MENYAKITKAN: SELAMA INI AKU MEMPERTAHANKAN PERNIKAHAN YANG TIDAK AKAN PERNAH MELINDUNGI ANAK-ANAKKU SAAT MEREKA BENAR-BENAR MEMBUTUHKANNYA.

“Hanya Arga yang boleh masuk. Kamu dan anak-anakmu bisa menunggu di tempat lain.”

Ibu mertuaku, Bu Ratna, mengucapkan kalimat itu di depan pintu sebuah ruang makan privat di restoran mewah kawasan SCBD, Jakarta Selatan.

Dia bahkan tersenyum ketika mengatakannya.

AKU MEMBAYAR PESTA ULANG TAHUN IBU MERTUAKU, TAPI DIA MEMBIARKAN AKU DAN ANAK-ANAKKU BERDIRI DI LUAR PINTU. KETIKA SUAMIKU BERKATA, “AKU TIDAK BISA MERUSAK ULANG TAHUN IBU,” LALU MASUK TANPA KAMI, AKHIRNYA AKU MEMAHAMI SATU HAL YANG MENYAKITKAN: SELAMA INI AKU MEMPERTAHANKAN PERNIKAHAN YANG TIDAK AKAN PERNAH MELINDUNGI ANAK-ANAKKU SAAT MEREKA BENAR-BENAR MEMBUTUHKANNYA.

Senyum yang begitu tenang sampai aku membutuhkan beberapa detik untuk memahami bahwa dia sama sekali tidak sedang bercanda.

Di belakangnya, rangkaian anggrek putih menghiasi pintu masuk.

Seorang fotografer berjalan di antara para tamu yang mengenakan batik formal dan gaun malam. Dari balik pintu kaca terdengar alunan musik jazz lembut.

Para pelayan mulai membagikan minuman kepada tamu.

Malam itu adalah perayaan ulang tahun Bu Ratna yang ke-65.

Sebuah acara yang dia persiapkan begitu serius hingga rasanya lebih mirip resepsi pernikahan daripada pesta ulang tahun keluarga.

Di sebelahku, putriku yang berusia empat belas tahun, Alya, memeluk sebuah scrapbook yang dibuatnya sendiri selama hampir seminggu.

Di samping Alya berdiri adiknya, Dimas, sembilan tahun.

Kedua tangannya memegang hati-hati sebuah kotak hadiah.

Di dalamnya ada satu set cangkir teh porselen bermotif bunga biru yang dibelinya menggunakan uang tabungannya sendiri.

Dimas mengangkat kotak itu sedikit.

“Nenek, Dimas pilih yang bunga biru karena Mama bilang Nenek paling suka warna ini.”

Dia tersenyum malu-malu.

“Dimas nabung lama buat beli ini.”

Bu Ratna bahkan tidak mengulurkan tangan.

“Simpan saja, Sayang.”

Kemudian dia menatapku.

“Nenek cuma ingin malam yang tenang. Tidak perlu ada hal-hal yang membuat suasana jadi rumit.”

Aku merasakan tenggorokanku mengencang.

Bagian yang paling memalukan bukan sekadar karena ibu mertuaku menolak anak-anakku.

Melainkan karena hampir seluruh pesta yang sedang berlangsung di balik pintu itu…

dibayar dengan uangku.

Selama berminggu-minggu, suamiku, Arga, terus membujukku agar pesta ulang tahun ibunya dibuat semewah mungkin.

“Nadira, Ibu cuma sekali berumur enam puluh lima tahun.”

“Biar sekali ini aku kasih sesuatu yang bisa dia kenang seumur hidup.”

Aku akhirnya setuju.

Uang muka restoran sebesar Rp35 juta dibayar menggunakan kartuku.

Pelunasan paket ruang privat, katering, dekorasi, fotografer, dan hiburan juga berasal dari rekeningku.

Totalnya sudah melewati Rp120 juta.

Aku sendiri yang bernegosiasi dengan manajer restoran.

Aku yang memilih menu.

Aku pula yang tiga kali menghubungi dekorator karena Bu Ratna terus mengubah desain bunga.

Pertama dia mengatakan rangkaiannya terlalu sederhana.

Kemudian warnanya dianggap kurang elegan.

Terakhir dia meminta anggrek putih impor karena menurutnya bunga sebelumnya terlihat “seperti dekorasi acara kantor biasa.”

Aku menuruti semuanya.

Bukan karena aku sangat peduli pada pesta itu.

Aku melakukannya demi Arga.

Aku selalu melakukan banyak hal demi Arga.

Dan mungkin itulah kesalahanku.

Saat aku masih berdiri bersama kedua anakku di luar, Bu Ratna merangkul lengan putranya.

Beberapa tamu baru datang.

Dengan suara cukup keras agar mereka mendengar, dia berkata,

“Arga memang tahu bagaimana memperlakukan ibunya.”

Aku memandang suamiku.

Aku menunggu.

Tidak perlu pertengkaran besar.

Tidak perlu dia mempermalukan ibunya.

Aku hanya membutuhkan satu kalimat.

“Kalau istri dan anak-anak saya tidak boleh masuk, saya juga tidak masuk.”

Hanya itu.

Tetapi Arga menghindari tatapanku.

“Ibu…”

Dia melirik ke arah tamu-tamu.

“Mungkin jangan dibicarakan di sini.”

Senyum Bu Ratna langsung menghilang.

“Ini ulang tahun Ibu.”

“Berarti Ibu yang menentukan siapa yang boleh hadir.”

Kemudian dia memandang Alya dan Dimas.

“Dan Ibu tidak mau mengatur seluruh malam ini demi anak-anak dari laki-laki lain.”

Wajah Alya berubah pucat.

Aku langsung berdiri sedikit di depannya.

Ayah kandung Alya dan Dimas, Rendra, meninggal akibat kecelakaan enam tahun sebelumnya.

Bu Ratna tahu itu.

Dia juga tahu anak-anakku masih menyimpan luka karena kehilangan ayah mereka.

Jadi kalimat itu bukan sesuatu yang keluar tanpa sengaja.

Dia tahu persis di mana harus menusuk.

“Jangan pernah bicara tentang anak-anakku seperti itu lagi.”

Bu Ratna menatapku tanpa rasa bersalah.

“Arga sudah menanggung kamu, dua anak yang bukan darah dagingnya, dan apartemen mahal tempat kalian tinggal.”

“Jangan berdiri di depan Ibu seolah-olah kamu yang paling banyak berkorban.”

Aku hampir tertawa.

Bukan karena lucu.

Tapi karena pada saat itu aku sadar betapa banyak kebohongan yang dibiarkan Arga dipercaya oleh keluarganya.

Dimas menarik ujung bajuku.

“Ma…”

Aku menunduk.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Memangnya Dimas beban?”

Dadaku seperti dihantam sesuatu.

Aku berjongkok dan memegang kedua bahunya.

“Tidak.”

Aku menatap matanya.

“Kamu dengarkan Mama baik-baik. Kamu dan Kak Alya tidak pernah menjadi beban.”

“Tidak pernah.”

Dia mengangguk kecil.

Aku berdiri kembali.

Kemudian aku menatap Arga.

“Terakhir kali aku tanya.”

“Apakah kamu benar-benar akan masuk ke pesta itu tanpa kami?”

Arga melihat ke arah ibunya.

Kemudian ke arah para tamu.

Lalu ke pintu kaca yang terbuka.

Dia mengembuskan napas panjang.

“Nadira, aku tidak bisa merusak ulang tahun Ibu.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi anehnya, setelah mendengarnya, sesuatu di dalam diriku justru menjadi sangat tenang.

Selama hampir lima tahun pernikahan kami, aku selalu mengira masalah terbesar dalam rumah tangga kami adalah Bu Ratna.

Aku salah.

Masalah sebenarnya adalah laki-laki yang berdiri di sampingnya.

Karena orang lain hanya bisa terus melewati batas jika pasanganmu terus membukakan pintu untuk mereka.

Arga berjalan masuk.

Bu Ratna menggandeng lengannya.

Sebelum ikut masuk, dia menoleh kepadaku.

“Perempuan yang tahu tata krama harus tahu kapan waktunya mundur.”

Aku tidak membalas.

Tidak berteriak.

Tidak memaksa masuk.

Aku mengambil tangan Dimas.

“Ayo.”

Alya menatap pintu itu beberapa detik.

Kemudian dia meletakkan scrapbook yang dibuatnya di bangku dekat pintu.

“Tidak usah dibawa pulang, Ma.”

Suaranya pelan.

“Alya sudah tidak mau kasih.”

Aku mengambil scrapbook itu.

“Kita bawa.”

“Kenapa?”

“Karena sesuatu yang dibuat dengan kasih sayang tidak pantas ditinggalkan di tempat yang tidak menghargainya.”

Kami berjalan menuju area valet.

Begitu masuk mobil, aku menghubungi kakakku, Raka Pradana.

Raka adalah pengacara litigasi di Jakarta.

Begitu dia mengangkat telepon, aku hanya mengatakan empat kata.

“Siapkan gugatan cerai untukku.”

Dia terdiam.

Hanya sebentar.

“Kamu di mana?”

“Di luar restoran tempat pesta ulang tahun yang baru saja kubayar.”

“Arga masuk setelah ibunya melarang aku dan anak-anak masuk.”

Nada suara Raka langsung berubah.

Tenang.

Profesional.

“Jangan bertengkar dengan Arga malam ini.”

“Simpan semua chat.”

“Kontrak restoran.”

“Bukti pembayaran.”

“Mutasi rekening.”

“Dokumen aset.”

“Dan mulai malam ini, hentikan semua pengeluaran tambahan yang tidak pernah kamu setujui.”

Aku menatap pintu restoran dari balik kaca mobil.

“Baik.”

Aku membuka email.

Lalu mengirim pesan kepada manajer restoran.

Aku menjelaskan bahwa seluruh pembayaran sesuai kontrak yang telah dilunasi tetap berlaku.

Namun mulai saat itu, aku mencabut persetujuan untuk semua biaya tambahan.

Tambahan minuman.

Perpanjangan penggunaan ruangan.

Pesanan menu tambahan.

Upgrade pelayanan.

Semua biaya di luar kontrak awal harus mendapat persetujuan dan pembayaran langsung dari penyelenggara yang berada di dalam ruangan.

Sekitar sepuluh menit kemudian, manajer membalas.

Instruksiku sudah dicatat.

Aku mematikan layar ponsel.

Kemudian mengajak anak-anak makan malam di sebuah restoran kecil yang biasa kami datangi.

Tidak ada anggrek putih.

Tidak ada fotografer.

Tidak ada dekorasi mahal.

Kami hanya memesan nasi goreng, sate ayam, dan es teh.

Dimas masih membawa kotak porselen itu.

Alya meletakkan scrapbook di kursi sebelahnya.

Untuk beberapa saat kami bertiga diam.

Lalu Dimas bertanya,

“Kalau Om Arga sayang sama kita, kenapa dia masuk?”

Aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu tanpa menghancurkan sesuatu dalam dirinya.

Alya menjawab lebih dulu.

“Mungkin orang bisa sayang sama kita tapi tetap terlalu takut membela kita.”

Aku menatap putriku.

Usianya baru empat belas tahun.

Tetapi malam itu dia memahami pernikahanku lebih jelas daripada aku selama bertahun-tahun.

Aku menggenggam tangannya.

“Kakak benar.”

Lalu aku menambahkan,

“Tapi kalian juga harus tahu sesuatu.”

“Cinta yang sehat tidak meminta kalian menerima penghinaan supaya orang lain merasa nyaman.”

Malam itu kami pulang bertiga.

Arga baru kembali lewat tengah malam.

Begitu pintu terbuka, aku sudah duduk di ruang keluarga.

Dia melempar kunci mobil ke meja.

“Apa yang kamu lakukan?”

Aku menatapnya.

“Apa maksudmu?”

“Restoran menghentikan semua tambahan pesanan.”

“Mereka meminta kartu kreditku untuk tambahan minuman dan biaya perpanjangan ruangan.”

“Mama malu di depan semua tamu.”

Aku hampir tidak percaya.

“Jadi itu masalahmu?”

“Aku dipermalukan, Nadira!”

“Bukan.”

Aku berdiri.

“Penghinaan terjadi ketika kamu berjalan melewati pintu itu sementara istri dan dua anakmu ditinggalkan di luar.”

“Ibuku sedang emosional.”

“Kamu tetap masuk.”

“Itu ulang tahunnya!”

“Dan mereka anak-anak.”

Arga terdiam.

Aku melanjutkan.

“Dimas bertanya apakah dirinya beban.”

Wajah Arga sedikit berubah.

Tetapi tidak cukup.

“Besok aku bicara sama dia.”

“Tidak perlu.”

“Apa maksudmu?”

“Aku sudah bicara dengan Raka.”

Ekspresinya mengeras.

“Kakakmu?”

“Ya.”

“Untuk apa?”

“Menyiapkan perceraian.”

Arga menatapku beberapa detik.

Lalu tertawa pendek.

“Kamu mau mengakhiri pernikahan kita gara-gara satu makan malam?”

Aku menggeleng.

“Bukan karena satu makan malam.”

“Aku mengakhirinya karena satu makan malam akhirnya menunjukkan kepadaku sesuatu yang selama ini selalu kucari alasan untuk tidak melihat.”

“Apa?”

“Siapa dirimu ketika ibumu meminta kamu memilih.”

Wajahnya berubah.

“Nadira, jangan dramatis.”

“Tidak ada drama.”

Aku mengambil sebuah map abu-abu dari meja.

“Aku hanya berhenti berpura-pura.”

Arga melihat map itu.

“Apa itu?”

“Dokumen yang seharusnya sudah kita bicarakan sejak lama.”

Dia tidak mengambilnya.

Sebaliknya dia mendengus.

“Baik. Kalau memang kamu mau seperti ini, silakan.”

Kemudian dia tersenyum dingin.

“Tapi jangan lupa rumah ini juga rumahku.”

“Jangan berpikir kamu bisa begitu saja mengusirku dari rumahku sendiri.”

Aku menatapnya.

“Apartemen penthouse di Kuningan ini tidak pernah menjadi milikmu.”

Senyumnya menghilang.

“Apa?”

“Namamu tidak pernah tercantum dalam sertifikat.”

“Nadira—”

“Dan kondominium di Pondok Indah yang ditempati ibumu juga bukan kamu yang membelinya.”

Arga tidak bergerak.

Aku melanjutkan dengan suara tenang.

“Ibumu juga bukan pemiliknya.”

Sekarang wajahnya benar-benar berubah.

“Jadi…”

Dia menelan ludah.

“Rumah Mama milik siapa?”

Aku membuka map abu-abu itu.

Lalu mendorong satu salinan dokumen ke arahnya.

“Milikku.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Arga tidak punya satu kata pun untuk menjawab.Ư

Arga menatap dokumen di atas meja seperti sedang membaca sesuatu dalam bahasa yang tidak dikenalnya.

Matanya bergerak dari baris pertama ke baris terakhir.

Lalu kembali lagi ke atas.

“Ini tidak mungkin.”

Aku tidak menjawab.

Tangannya mengambil lembar kedua.

Kemudian ketiga.

Wajahnya perlahan kehilangan warna.

“Unit Pondok Indah ini…”

Dia berhenti.

“Benar-benar atas namamu?”

“Ya.”

“Sejak kapan?”

“Sejak dibeli.”

Arga mengangkat kepalanya.

“Tapi Mama bilang itu hadiah dariku.”

Aku hampir tersenyum.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena akhirnya aku memahami betapa besar kebohongan yang telah dibangun di dalam keluarga ini.

“Hadiah darimu?”

Aku menarik sebuah kursi dan duduk.

“Dengan uang siapa, Arga?”

Dia tidak menjawab.

Jadi aku menjawab untuknya.

“Tiga tahun lalu ibumu harus pindah karena pemilik rumah kontrakannya menjual properti itu. Kamu datang kepadaku dan bilang kamu ingin membantunya.”

“Aku setuju.”

“Kamu punya sekitar Rp180 juta.”

“Harga unit itu lebih dari Rp2 miliar.”

“Aku yang membayar sisanya.”

Arga mengusap wajahnya.

“Tapi kita suami istri.”

“Benar.”

“Jadi secara teknis—”

“Jangan.”

Aku menatapnya.

“Jangan mulai menjelaskan hukum kepadaku setelah kakakku memeriksa semua dokumennya.”

Dia langsung diam.

Pembelian unit itu menggunakan dana yang berasal dari aset pribadiku sebelum menikah.

Dokumen pembelian mencatat namaku.

Pajak, biaya pengelolaan, renovasi, bahkan asuransinya dibayar dari rekeningku.

Bu Ratna memang tinggal di sana.

Tapi dia tidak pernah memilikinya.

Yang tidak kuketahui sampai malam itu adalah bahwa selama bertahun-tahun, Arga membiarkan ibunya percaya bahwa dialah yang membeli semuanya.

Dan ternyata bukan hanya Bu Ratna.

Seluruh keluarganya percaya cerita yang sama.

Arga berdiri.

“Kamu mau mengusir ibuku?”

Pertanyaan itu menarik.

Bukan, Apa yang telah kulakukan sampai pernikahan kita hancur?

Bukan, Bagaimana keadaan Alya dan Dimas?

Pertanyaan pertamanya tentang properti.

“Aku belum mengatakan apa pun tentang mengusir siapa pun.”

“Tapi kamu sengaja menunjukkan dokumen ini.”

“Aku menunjukkannya karena lima menit lalu kamu mengancamku dengan rumah yang kamu kira milikmu.”

“Itu bukan ancaman.”

“Kalau begitu anggap saja ini bukan balasan.”

Aku berdiri.

“Ini informasi.”

Lalu aku berjalan menuju kamar.

“Nadira.”

Aku berhenti.

“Apa?”

Dia menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Bukan marah.

Takut.

“Jangan lakukan apa pun sebelum kita bicara.”

Aku menatapnya cukup lama.

“Kamu punya kesempatan bicara di depan pintu restoran tadi.”

“Kamu memilih masuk.”

Malam itu aku tidur bersama Alya di kamarnya.

Dimas sudah tertidur lebih dulu dengan kotak porselen masih berada di meja belajarnya.

Sebelum mematikan lampu, Alya bertanya kepadaku,

“Mama benar-benar mau cerai?”

Aku berbaring di sampingnya.

“Iya.”

Dia terdiam.

Aku takut mendengar pertanyaan berikutnya.

Sebaliknya, dia berkata,

“Maaf.”

Aku langsung menoleh.

“Kenapa kamu minta maaf?”

“Karena aku lega.”

Kalimat itu menghancurkan hatiku.

“Alya…”

“Aku suka Om Arga.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Tapi setiap kali Nenek Ratna datang, Mama selalu berubah.”

“Berubah bagaimana?”

“Kayak Mama harus hati-hati ngomong.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Kalau Nenek mengejek masakan Mama, Mama tertawa.”

“Kalau Nenek bilang Mama terlalu memanjakan kami, Mama diam.”

“Kalau Nenek bilang Papa kami dulu tidak bisa memberi masa depan yang bagus…”

Suaranya melemah.

“Aku lihat Mama masuk kamar mandi dan menangis.”

Dadaku terasa sesak.

Aku tidak pernah tahu Alya melihat itu.

Aku mengira aku sedang melindungi anak-anak dengan menjaga kedamaian.

Ternyata mereka melihat harga yang harus kubayar untuk kedamaian itu.

Alya menggenggam tanganku.

“Aku tidak mau Mama terus sedih cuma supaya keluarga kita kelihatan utuh.”

Aku menariknya ke pelukanku.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, aku menangis.

Bukan karena pernikahanku akan berakhir.

Aku menangis karena putriku yang berusia empat belas tahun sudah belajar membaca kesedihan yang selama ini kupikir berhasil kusembunyikan.

Keesokan paginya, Raka datang membawa dua gelas kopi dan sebuah tas laptop.

Dia duduk di meja makan.

“Pertama, jangan membuat keputusan emosional tentang aset.”

“Aku tahu.”

“Kedua, jangan mengusir Bu Ratna hanya karena kamu marah.”

“Aku juga tahu.”

Raka menatapku.

“Ketiga, ada sesuatu yang perlu kamu lihat.”

Dia membuka laptop.

“Apa?”

“Mutasi rekening yang kamu kirim tadi malam.”

Dia memutar layar ke arahku.

“Aku menemukan pola.”

Aku mendekat.

Ada beberapa transfer bulanan.

Nominalnya berbeda-beda.

Rp12 juta.

Rp15 juta.

Rp18 juta.

Kadang Rp25 juta.

Semuanya berasal dari rekening bersama yang kugunakan untuk biaya rumah tangga.

Tujuannya rekening atas nama sebuah perusahaan yang tidak kukenal.

PT Mahendra Konsultan Utama.

“Ini apa?”

“Itu yang ingin kutanyakan.”

Aku menggeleng.

Raka mengetik sesuatu.

Kemudian menunjukkan dokumen perusahaan.

Nama direktur muncul.

Arga Mahendra.

Namaku tidak tercantum.

“Aku tidak pernah tahu perusahaan ini ada.”

“Kelihatannya sudah berdiri hampir dua tahun.”

Aku merasa perutku mual.

“Berapa total transfernya?”

Raka diam sebentar.

“Sekitar Rp640 juta.”

Aku menatap angka itu.

Enam ratus empat puluh juta rupiah.

Selama hampir dua tahun.

Sedikit demi sedikit.

Cukup kecil agar tidak langsung terlihat mencurigakan.

Cukup besar untuk menjadi sesuatu yang tidak mungkin dianggap kebetulan.

“Ada lagi.”

Raka membuka dokumen lain.

Perusahaan itu memiliki kewajiban utang.

Cukup besar.

Arga rupanya mencoba membangun bisnis konsultasi bersama dua temannya.

Bisnis itu gagal.

Lalu dia menggunakan uang dari rekening rumah tangga untuk menutup lubangnya.

“Kenapa aku tidak pernah tahu?”

Raka menatapku.

“Karena dia tidak mau kamu tahu.”

Aku teringat sesuatu.

Beberapa bulan sebelumnya, Arga pernah menyarankan agar kami menjual penthouse.

Katanya tempat itu terlalu besar.

Katanya kami sebaiknya hidup lebih sederhana.

Saat itu aku bahkan merasa tersentuh.

Aku mengira suamiku mulai memikirkan masa depan.

Sekarang aku tahu alasannya.

Dia membutuhkan uang.

Dan apartemenku adalah jalan keluar termudah.

Ponselku bergetar.

Bu Ratna.

Aku hampir tidak mengangkatnya.

Tapi Raka berkata,

“Jawab. Jangan berdebat.”

Aku menerima panggilan.

Belum sempat aku bicara, suaranya langsung terdengar.

“Kamu membuat Arga pulang dalam keadaan seperti orang kehilangan akal.”

Aku menahan napas.

“Ada yang bisa saya bantu, Bu?”

“Kamu benar-benar mau menghancurkan rumah tangga hanya karena kejadian semalam?”

Aku diam.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.

“Kalau masalahnya pesta, Ibu bisa mengembalikan uangmu.”

Aku melihat Raka.

“Berapa yang akan Ibu kembalikan?”

Dia terdiam.

“Ya… biaya pesta.”

“Berapa?”

Hening.

Dia tidak tahu.

Tentu saja.

Karena dia tidak pernah tahu aku yang membayar.

“Apa Arga memberi tahu Ibu berapa biayanya?”

Tidak ada jawaban.

Aku melanjutkan.

“Apakah Arga pernah memberi tahu Ibu bahwa kondominium tempat Ibu tinggal dibeli menggunakan uang saya?”

Sunyi.

Begitu sunyi sampai aku bisa mendengar napasnya.

Lalu suaranya berubah.

“Apa maksudmu?”

Aku memejamkan mata.

Dan saat itulah aku menyadari sesuatu.

Arga belum memberitahunya.

“Lebih baik Ibu bicara langsung dengan Arga.”

Aku menutup telepon.

Kurang dari satu jam kemudian, bel apartemen berbunyi.

Bu Ratna berdiri di luar.

Masih mengenakan pakaian yang sama seperti malam sebelumnya.

Wajahnya pucat.

“Mana Arga?”

“Dia keluar.”

“Aku mau bicara denganmu.”

Aku membiarkannya masuk.

Raka tetap berada di ruang kerja.

Bu Ratna duduk di sofa.

Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, dia tidak terlihat seperti perempuan yang selalu memiliki jawaban.

“Arga bilang kondominium itu dia beli.”

Aku tidak menjawab.

“Setiap bulan dia bilang dia membayar cicilannya.”

Aku mengerutkan kening.

“Cicilan?”

Bu Ratna menatapku.

“Dia meminta Ibu mengirim Rp8 juta setiap bulan untuk membantu cicilan.”

Darahku terasa dingin.

“Sejak kapan?”

“Hampir tiga tahun.”

Aku berdiri.

Bu Ratna juga mulai memahami.

“Kalau rumah itu sudah dibayar…”

“Tidak ada cicilan.”

Wajahnya berubah.

“Lalu uang Ibu ke mana?”

Aku memanggil Raka.

Lima belas menit kemudian, kami bertiga duduk di meja makan.

Raka meminta Bu Ratna membuka riwayat transfernya.

Transfer rutin itu masuk ke rekening pribadi Arga.

Hampir Rp300 juta selama bertahun-tahun.

Bu Ratna menatap layar ponselnya.

Tangannya gemetar.

Dan tiba-tiba aku melihat sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Perempuan yang mempermalukanku semalam ternyata juga sedang ditipu oleh anak yang selama ini dibanggakannya.

Air matanya jatuh.

“Dia bilang itu rumahnya.”

Aku tidak mengatakan, Sekarang Ibu tahu rasanya.

Aku bisa saja.

Sebagian kecil diriku bahkan menginginkannya.

Tetapi aku melihat seorang ibu berusia enam puluh lima tahun yang baru mengetahui bahwa putra kesayangannya telah berbohong kepadanya selama bertahun-tahun.

Dan entah bagaimana, kemarahanku berubah bentuk.

Bukan hilang.

Hanya berubah.

Bu Ratna menatapku.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang rumah itu milikmu?”

“Karena saya tidak merasa perlu.”

“Kenapa?”

“Karena saya pikir membantu keluarga tidak membutuhkan pengumuman.”

Dia menundukkan kepala.

Kalimat berikutnya keluar hampir seperti bisikan.

“Aku salah tentangmu.”

Aku tidak menjawab.

Kemudian dia mengatakan sesuatu yang lebih sulit.

“Aku juga salah tentang anak-anakmu.”

Mataku langsung terangkat.

“Jangan minta maaf kepada saya.”

Dia mengangguk perlahan.

“Saya tahu.”

“Kalau Ibu benar-benar menyesal, minta maaf kepada mereka.”

Sore itu Arga pulang.

Dia berhenti di ambang pintu ketika melihat ibunya duduk bersama kami.

“Mama?”

Bu Ratna berdiri.

“Apa benar selama tiga tahun rumah yang kutempati bukan milikmu?”

Arga tidak menjawab.

“Apa benar kamu mengambil uangku untuk cicilan yang sebenarnya tidak ada?”

“Mama, dengar dulu—”

“Jawab.”

Aku belum pernah mendengar Bu Ratna berbicara kepada putranya seperti itu.

Arga melihatku.

“Kamu mengadu?”

Bu Ratna menampar meja dengan telapak tangannya.

“Jangan salahkan Nadira!”

Semua orang diam.

Air mata mengalir di wajahnya.

“Kamu berbohong kepada ibumu sendiri.”

Arga mulai menjelaskan tentang bisnis.

Tentang investasi.

Tentang uang yang akan dikembalikan.

Tentang tekanan.

Tentang niat baik.

Semakin lama dia berbicara, semakin jelas satu hal.

Dia tidak pernah mengatakan,

“Aku salah.”

Selalu ada alasan.

Selalu ada orang lain.

Selalu ada keadaan.

Akhirnya aku berdiri.

“Cukup.”

Arga menatapku.

“Aku tidak mau mendengar penjelasan lagi.”

“Kamu mau apa?”

“Aku mau perceraian.”

“Nadira—”

“Dan aku tidak akan menuntut ibumu keluar dari kondominium.”

Bu Ratna menatapku kaget.

Arga juga.

Aku melanjutkan.

“Beliau boleh tinggal di sana selama memenuhi kewajiban biaya pengelolaan dan kebutuhan pribadinya sendiri.”

“Kenapa?”

Pertanyaan itu justru datang dari Bu Ratna.

Aku menatapnya.

“Karena saya tidak ingin menjadi seperti orang yang menyakiti anak-anak saya hanya karena sedang marah kepada orang dewasa.”

Bu Ratna menutup mulutnya.

Dia menangis.

Perceraian kami membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Ada pemeriksaan dokumen.

Pembagian kewajiban.

Penelusuran rekening.

Arga akhirnya harus bertanggung jawab atas utang bisnis yang dibuatnya sendiri.

Aku tidak mengambil semua yang dia punya.

Aku hanya memastikan aku tidak lagi membayar harga dari keputusan yang tidak pernah kubuat.

Namun bagian paling mengejutkan terjadi beberapa bulan setelah semuanya selesai.

Hari itu ulang tahun Dimas.

Kami mengadakan makan siang sederhana di rumah.

Bel berbunyi.

Ketika kubuka pintu, Bu Ratna berdiri di sana.

Di tangannya ada kotak porselen bunga biru.

Kotak yang dulu dibawa Dimas ke pesta ulang tahunnya.

Aku terdiam.

Ternyata malam setelah pesta, seorang staf restoran menemukan kotak itu di dekat area pintu dan menyimpannya. Beberapa hari kemudian Bu Ratna mengambilnya.

Dia tidak pernah membukanya.

Sampai hari itu.

“Dimas ada?”

Aku memanggilnya.

Dimas keluar.

Begitu melihat neneknya, senyumnya menghilang.

Bu Ratna berjongkok perlahan.

Dia meletakkan kotak itu di lantai.

Kemudian menatap cucu tirinya.

“Dimas.”

“Ada sesuatu yang Nenek seharusnya katakan sejak lama.”

Dimas diam.

“Nenek salah.”

Bu Ratna mulai menangis.

“Bukan kamu yang menjadi beban.”

“Nenek yang membuatmu merasa seperti itu.”

Aku merasakan mataku panas.

“Nenek tidak pantas menerima hadiah ini malam itu.”

Dia mendorong kotak ke arah Dimas.

“Jadi Nenek ingin mengembalikannya.”

Dimas melihat kotak tersebut.

Lalu melihat Bu Ratna.

“Kenapa dikembalikan?”

“Karena Nenek tidak menerimanya dengan baik.”

Dimas berpikir cukup lama.

Kemudian dia membuka kotak.

Mengambil satu cangkir.

Dan menyerahkannya kepada Bu Ratna.

“Kalau Nenek mau…”

Dia tersenyum kecil.

“Kita bisa minum teh bareng.”

Bu Ratna menutup wajahnya dan menangis.

Aku menoleh ke arah Alya.

Putriku juga menangis.

Hari itu kami duduk bersama di meja makan.

Bukan sebagai keluarga sempurna.

Bukan karena semua luka sudah sembuh.

Dan bukan karena sebuah permintaan maaf otomatis menghapus apa yang pernah terjadi.

Arga tidak ada di sana.

Hubungannya dengan anak-anak menjadi sesuatu yang harus dia bangun sendiri, kalau suatu hari mereka bersedia.

Aku tidak lagi menjadi jembatan yang memaksa semua orang terlihat seperti keluarga.

Tetapi Bu Ratna datang sesekali.

Dia belajar mengetuk sebelum masuk.

Belajar bertanya sebelum memberi pendapat.

Belajar bahwa Alya dan Dimas tidak membutuhkan darahnya untuk layak disebut keluarga.

Dan aku?

Aku belajar sesuatu yang jauh lebih sulit.

Selama bertahun-tahun aku mengira mempertahankan keluarga berarti menahan sakit selama mungkin.

Aku salah.

Kadang-kadang mempertahankan keluarga justru berarti berani mengakhiri sesuatu yang membuat anak-anakmu belajar bahwa cinta harus dibayar dengan penghinaan.

Malam ketika Arga berjalan masuk ke pesta itu tanpa kami, aku merasa seolah-olah keluargaku sedang runtuh.

Berbulan-bulan kemudian aku akhirnya mengerti.

Keluargaku tidak runtuh malam itu.

Aku hanya berhenti menopang bagian yang sejak awal memang tidak pernah mau berdiri bersama kami.

Dan hadiah paling berharga yang kuterima dari semua kejadian itu bukan penthouse.

Bukan kondominium.

Bukan kemenangan dalam perceraian.

Melainkan sebuah sore sederhana ketika putraku menuangkan teh ke dalam dua cangkir porselen bermotif bunga biru.

Satu untuk dirinya.

Satu untuk perempuan yang pernah membuatnya bertanya apakah dirinya adalah beban.

Bu Ratna mengangkat cangkirnya dengan tangan gemetar.

Dimas tersenyum.

“Nenek suka motifnya?”

Bu Ratna memandang bunga-bunga biru itu.

Lalu memandang cucuku—bukan, cucunya.

Kali ini dia tidak ragu.

“Cantik sekali.”

Dia menarik napas.

“Tapi orang yang memilihnya jauh lebih berharga.”

Dimas tersenyum lebar.

Aku memalingkan wajah sebentar karena air mataku jatuh.

Dan saat itulah aku tahu—

aku tidak menyesal meninggalkan pernikahanku.

Aku hanya menyesal membutuhkan waktu begitu lama untuk memahami bahwa rumah bukanlah tempat di mana semua orang dipaksa bertahan bersama.

Rumah adalah tempat di mana seorang anak tidak pernah perlu bertanya, “Apakah aku beban?” untuk memastikan dirinya dicintai.