Aku Pulang Lebih Cepat dan Menemukan Tunanganku di Kamar Adikku, Lalu Ibu Berkata Besok Keluarganya Datang Bukan untuk Melamarku, Setelah Enam Tahun Aku Membiayai Rumah Mereka Sendirian

Avatar penulis
Cerita 03
16 menit baca 1,116 tayangan
Auto Draft
Indeks

Aku Pulang Lebih Cepat dan Menemukan Tunanganku di Kamar Adikku, Lalu Ibu Berkata Besok Keluarganya Datang Bukan untuk Melamarku, Setelah Enam Tahun Aku Membiayai Rumah Mereka Sendirian

Bagian 1 — Sejak luka bakar di wajah adikku, keluargaku menghapus hakku untuk cantik, dicintai, bahkan menentukan kapan aku boleh menikah dengan pilihanku sendiri

Aku pulang dari klinik hampir dua jam lebih cepat karena Tante Mira tidak perlu dirawat inap.

Ketika membuka pintu rumah, aku langsung sadar ada sesuatu yang aneh.

Lampu ruang tamu sudah dimatikan.

Piring-piring bekas makan malam masih menumpuk di meja.

Sepatu Arga masih ada di rak dekat pintu.

Namun ponselnya tidak aktif.

“Arga?”

Tidak ada jawaban.

Aku berjalan melewati lorong menuju kamar tamu. Kosong.

Lalu terdengar suara pelan dari kamar Nabila.

Suara laki-laki.

Suara yang sudah kukenal selama enam tahun.

Tanganku mendadak dingin.

Aku mendorong pintu kamar adikku.

Dan dalam satu detik, seluruh hidup yang kupertahankan bertahun-tahun terasa seperti runtuh tepat di depan mataku.

Arga berdiri di samping tempat tidur sambil terburu-buru memasang kembali kancing kemejanya.

Nabila duduk di tepi kasur dengan rambut berantakan, mengenakan cardigan tipis yang tadi malam jelas bukan pakaian yang dipakainya saat makan bersama.

Mereka sama-sama membeku melihatku.

Aku tidak berteriak.

Aneh sekali.

Aku justru berdiri sangat tenang.

“Keluar.”

Arga menelan ludah.

“Rani, dengar dulu—”

“Keluar dari kamar adikku.”

Nabila tiba-tiba menangis.

Tangisnya begitu cepat keluar sampai aku hampir tertawa.

“Kak… jangan marah. Aku tidak merencanakan ini.”

Kalimat itu bahkan belum selesai ketika Ibu berlari dari kamarnya.

Ayah menyusul dari belakang.

Kupikir mereka akan bertanya apa yang terjadi.

Kupikir, untuk sekali saja dalam hidupku, mereka akan berdiri di sampingku.

Ternyata aku masih terlalu bodoh untuk berharap.

Ibu langsung memeluk Nabila.

“Ya Allah, kamu kenapa menangis?”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Ibu tidak melihat Arga ada di kamar Nabila?”

Ibu menoleh kepadaku.

Tatapannya bukan terkejut.

Bukan marah.

Justru seperti seseorang yang rencananya ketahuan sedikit lebih cepat daripada yang diharapkan.

“Sudahlah, Rani.”

Dua kata itu membuat perutku terasa kosong.

Ayah menarik napas panjang.

“Kita bicara baik-baik.”

Aku tertawa kecil.

“Baik-baik?”

Aku menunjuk Arga.

“Laki-laki yang akan menikahiku dua bulan lagi keluar dari kamar adikku jam satu malam, lalu Ayah mau bicara baik-baik?”

Wajah Ayah langsung mengeras.

“Jangan bikin keributan!”

Kalimat itu sudah kudengar sepanjang hidupku.

Jangan bikin keributan.

Jangan membuat Nabila sedih.

Jangan memakai pakaian itu.

Jangan berdandan seperti itu.

Jangan membawa teman laki-laki pulang.

Jangan pamer kalau kamu mendapat nilai bagus.

Jangan unggah foto wisudamu terlalu banyak.

Jangan bahas pekerjaanmu di depan Nabila.

Jangan menikah dulu.

Semua bermula dua puluh empat tahun lalu.

Saat aku berumur delapan tahun dan Nabila baru lima tahun, kami sedang bermain di dapur rumah nenek di Bogor.

Aku diminta Ibu menjaga Nabila selama orang dewasa sibuk menyiapkan acara keluarga.

Aku keluar sebentar mengambil boneka.

Saat itulah Nabila berlari ke dapur dan menarik taplak meja.

Semangkuk kuah panas tumpah.

Sebagian mengenai pipi dan lehernya.

Nabila selamat.

Tetapi luka itu meninggalkan bekas besar di sisi kiri wajahnya.

Sejak hari itu, hidup Nabila berubah.

Dan entah bagaimana, hidupku ikut dijatuhi hukuman.

“Kalau kamu tidak meninggalkannya waktu itu, ini tidak akan terjadi.”

Ibu mengulang kalimat tersebut selama bertahun-tahun.

Saat aku berumur tiga belas tahun dan ingin membeli gaun untuk acara sekolah, Ibu berkata Nabila akan minder.

Saat SMA, aku dilarang ikut lomba duta sekolah karena menurut Ayah, tidak pantas aku “memamerkan wajah” sementara adikku selalu menutupi bekas lukanya.

Saat pertama kali belajar memakai makeup, seluruh alat kosmetikku dibuang.

“Nabila menangis lihat kamu dandan.”

Ketika aku mulai bekerja di perusahaan logistik di Bekasi, hampir separuh gajiku kukirim ke rumah.

Biaya terapi kulit Nabila.

Kursus.

Perawatan laser.

Obat.

Tagihan rumah.

Bahkan uang muka rumah yang kini ditempati Ayah dan Ibu berasal dari tabunganku.

Namaku tercantum dalam perjanjian kredit.

Cicilannya ditarik otomatis dari rekeningku setiap bulan.

Tetapi di rumah itu, aku tetap diperlakukan seperti tamu yang berutang.

Lalu aku bertemu Arga.

Dia berbeda.

Setidaknya, dulu aku percaya begitu.

Arga tahu semua tentang keluargaku.

Dia tahu kenapa aku jarang memakai gaun ketika pulang ke rumah orang tua.

Dia tahu kenapa setiap hadiah darinya kusimpan di apartemen.

Dia tahu bahwa Ibu pernah menangis tiga hari hanya karena aku mengunggah foto ulang tahun memakai dress merah.

Selama enam tahun Arga selalu berkata, “Nanti setelah kita menikah, kamu tidak perlu minta izin siapa pun untuk menjadi dirimu sendiri.”

Aku memegang kalimat itu seperti orang tenggelam memegang pelampung.

Aku menunggu.

Sampai umurku tiga puluh satu tahun.

Enam bulan lalu Arga melamarku.

Bukannya senang, Ibu justru bertanya, “Kalau kamu menikah duluan, bagaimana perasaan Nabila?”

Aku masih mencoba bersabar.

Aku bahkan meminta Arga menunda akad selama dua bulan.

Tiga hari lalu akhirnya Ibu meneleponku.

“Bawa Arga Sabtu malam. Kita bahas tanggal pernikahan.”

Aku menangis karena bahagia setelah menutup telepon.

Aku membeli makanan kesukaan Ayah.

Membawa kain batik baru untuk Ibu.

Membelikan Nabila parfum mahal.

Aku benar-benar percaya keluargaku akhirnya menerimaku.

Malam itu Nabila tampil sangat cantik.

Gaun hijau tua.

Rambut ditata rapi.

Bekas luka di pipinya hampir tidak terlihat setelah rangkaian perawatan yang sebagian besar kubayar.

Ibu bahkan memintanya duduk tepat di sebelah Arga.

Aku merasa tidak nyaman.

Tetapi aku menepis pikiran buruk itu.

Ketika Tante Mira tiba-tiba mengeluh sesak, Ibu memintaku mengantarnya ke klinik.

“Arga biar menginap saja,” katanya. “Sudah malam. Besok kalian bisa lanjut ngobrol.”

Aku pergi tanpa curiga sedikit pun.

Sekarang aku berdiri di lorong rumah, menatap empat orang yang ternyata sudah mengetahui sesuatu yang tidak kuketahui.

Aku menatap Arga.

“Berapa lama?”

Dia mengusap wajah.

“Rani…”

“Berapa lama kamu bicara dengan Nabila di belakangku?”

Nabila menunduk.

Ibu langsung menyela.

“Memangnya penting?”

Aku menatap Ibu.

Dia memegang bahu Nabila sambil berkata dengan suara yang nyaris lembut,

“Adikmu sudah hidup susah sejak kecil. Sekali saja ada laki-laki yang bisa menerima kondisinya, masa kamu tidak rela?”

Dadaku serasa dihantam.

“Arga tunanganku.”

Ayah mendecakkan lidah.

“Belum menikah.”

Aku memandang Arga lagi.

“Jawab aku.”

Akhirnya dia berkata,

“Dua bulan.”

Aku merasa telingaku berdenging.

Dua bulan.

Dua bulan berarti ketika Arga masih mengajakku memilih gedung.

Ketika kami masih membicarakan undangan.

Ketika dia memintaku mentransfer uang untuk DP katering.

Ketika dia mencium keningku dan berkata tidak sabar menunggu hari pernikahan.

“Tapi awalnya cuma ngobrol,” katanya cepat. “Nabila curhat. Aku kasihan.”

Aku tertawa.

“Kasihan?”

Nabila mendadak berdiri.

“Kak, sejak kecil semua orang menyukaimu! Kamu pintar, punya pekerjaan bagus, teman banyak. Aku apa?”

Aku terpaku.

“Aku membayar perawatanmu selama delapan tahun.”

“Aku tidak pernah meminta!”

Kalimat itu lebih menyakitkan daripada tamparan.

Aku perlahan mengangguk.

“Benar.”

Ruangan mendadak sunyi.

“Mulai malam ini, kamu tidak perlu menerima apa pun dariku lagi.”

Wajah Ibu berubah.

“Jangan bicara sembarangan karena emosi.”

Aku mengambil tas.

“Aku pulang.”

Ayah menghalangi pintu.

“Tidak ada yang pergi sebelum masalah selesai.”

“Masalahnya sudah selesai.”

“Belum!”

Ayah membentak.

Kemudian Ibu mengatakan sesuatu yang membuat kakiku berhenti.

“Besok pagi keluarga Arga datang.”

Aku menoleh.

Untuk sepersekian detik, aku masih berharap dia akan berkata mereka datang meminta maaf kepadaku.

Ibu merapikan rambut Nabila.

Lalu berkata,

“Keluarga Arga datang untuk membicarakan Nabila.”

Aku kehilangan suara.

Ibu melanjutkan dengan sangat tenang.

“Kami sudah sepakat. Kamu lebih kuat. Kamu bisa mendapatkan laki-laki lain.”

“Sedangkan kesempatan Nabila mungkin hanya sekali.”

Kemudian dia menunjuk cincin di jariku.

“Kalau kamu benar-benar sayang adikmu, lepaskan cincin itu malam ini.”

#DramaKeluarga #KisahKeluarga #PengkhianatanCinta #CeritaIndonesia #KisahPenuhEmosi

Bagian 2 — Saat ayah mendorongku hingga berdarah, sebuah pesan dari sepupuku membuktikan pengkhianatan itu sudah direncanakan jauh sebelum malam tersebut oleh mereka semua

Aku menatap cincin pertunangan di jariku.

Lalu menatap Ibu.

“Jadi semuanya sudah direncanakan?”

Tidak ada yang menjawab.

Itu sudah cukup.

Aku menarik cincin dari jariku dan meletakkannya di meja.

Bukan memberikannya kepada Nabila.

Aku menaruhnya tepat di depan Arga.

“Ambil.”

Arga terlihat gelisah.

“Rani, kita masih bisa—”

“Tidak.”

Untuk pertama kali selama tiga puluh satu tahun, aku tidak menangis saat keluargaku menyakitiku.

“Cincin itu milik orang yang kulamar dalam pikiranku. Orang itu ternyata tidak pernah ada.”

Aku berjalan menuju pintu.

Ayah kembali menahan lenganku.

“Kamu mau mempermalukan keluarga?”

Aku mencoba melepaskannya.

“Ayah, lepas.”

“Kamu dengar dulu!”

Cengkeramannya semakin kuat.

Aku menarik tangan.

Ayah mendorongku.

Mungkin dia hanya ingin membuatku mundur.

Mungkin dia tidak menyadari meja konsol berada tepat di belakangku.

Tubuhku menghantam sudutnya.

Pelipisku terasa panas.

Ketika kusentuh, telapak tanganku penuh darah.

Ibu menjerit.

Tetapi bukan karena aku.

Nabila yang mencoba mendekat tersandung karpet.

“Aduh!”

Ibu langsung berlari kepadanya.

“Kakimu sakit?”

Aku berdiri di dekat pintu sambil menekan luka dengan tangan.

Tidak ada seorang pun menghampiriku.

Pada detik itulah sesuatu dalam diriku benar-benar mati.

Bukan tubuhku.

Bukan harapanku.

Melainkan keinginan untuk terus menjadi anak baik bagi orang yang tidak pernah menganggapku anak.

Aku keluar sendiri.

Tetangga depan rumah, Bu Siska, melihat darah di wajahku dan membawaku ke IGD.

Empat jahitan.

Dokter mengatakan lukanya tidak serius.

Sambil menunggu administrasi, ponselku bergetar.

Pesan dari sepupuku, Lala.

“Kak, aku tidak tahu apakah aku harus kirim ini. Tapi menurutku Kakak berhak tahu.”

Di bawahnya ada delapan tangkapan layar.

Sebuah grup WhatsApp keluarga.

Namanya membuatku hampir muntah.

Rencana Nabila.

Grup itu dibuat tiga bulan lalu.

Ada Ibu.

Ayah.

Nabila.

Tante Mira.

Dan Arga.

Tanganku gemetar saat membaca percakapan satu per satu.

Ibu yang pertama kali menghubungi Arga.

Katanya Nabila sering menangis karena iri melihat kami akan menikah.

Awalnya Arga menjawab sopan.

Lalu Nabila mulai mengirim pesan pribadi.

Mereka semakin dekat.

Dua bulan lalu, Arga menulis:

“Kalau Rani terus menunda karena keluarganya, aku juga capek.”

Ibu menjawab:

“Kalau ternyata kamu lebih cocok dengan Nabila, Ibu tidak keberatan.”

Aku menutup mata.

Tante Mira rupanya tidak sakit malam itu.

Dia hanya diminta berpura-pura agar aku pergi.

Aku membaca pesan terakhir yang dikirim Ibu sore kemarin.

“Besok setelah Rani melihat sendiri, jangan biarkan dia menguasai keadaan. Tekankan bahwa Nabila sudah terlalu lama menderita.”

Aku tertawa di bangku rumah sakit sampai perawat menatapku aneh.

Mereka tidak spontan membela Nabila.

Mereka merencanakannya.

Bahkan kemarahanku sudah mereka antisipasi.

Tetapi ternyata ada hal yang lebih buruk.

Lala mengirim satu foto lagi.

Dokumen rencana biaya pertunangan Arga dan Nabila.

Gedung.

Katering.

Dekorasi.

Fotografer.

Total hampir Rp93 juta.

Di bawahnya tertulis:

Gunakan dana nikah Rani dulu. Nanti diganti bertahap.

Dana nikah itu seluruhnya berasal dari rekeningku.

Aku yang menabung.

Aku yang mengambil proyek tambahan.

Aku yang mengurangi liburan.

Aku yang membayar DP vendor.

Pukul empat pagi aku menelepon bank dan memblokir kartu tambahan yang selama ini kupegangkan kepada Ibu.

Pukul delapan, aku menghubungi semua vendor.

Acara dibatalkan.

Pengembalian dana hanya boleh masuk ke rekeningku.

Pukul sembilan, aku menemui notaris yang dulu mengurus rumah orang tuaku.

Rumah itu memang kutempati bersama mereka beberapa tahun, tetapi sertifikat dan kreditnya atas namaku.

Selama enam tahun, mereka hanya membayar listrik sesekali.

Sisanya aku.

Aku meminta salinan semua dokumen.

Siangnya, puluhan panggilan masuk.

Ibu.

Ayah.

Nabila.

Arga.

Aku tidak menjawab.

Sampai sebuah pesan dari Arga muncul.

“Jangan kekanak-kanakan. Kita selesaikan seperti orang dewasa.”

Aku membalas satu kalimat.

“Orang dewasa tidak tidur dengan adik tunangannya lalu memakai uang tunangannya untuk pesta baru.”

Dia menelepon tujuh belas kali.

Aku memblokirnya.

Besok paginya, keluarga Arga benar-benar datang ke rumah.

Tetapi ternyata mereka tidak tahu rencana sebenarnya.

Ibunya, Bu Ratih, meneleponku dari nomor berbeda.

“Rani, Arga bilang kamu membatalkan pernikahan karena kamu tidak bisa menerima kondisi wajah Nabila. Benarkah?”

Aku diam beberapa detik.

Kemudian kukirim semua tangkapan layar.

Termasuk percakapan Arga dengan Ibu.

Lima belas menit kemudian Bu Ratih menelepon lagi.

Kali ini suaranya bergetar.

“Datanglah ke rumah orang tuamu. Saya ingin mendengar semuanya di depan mereka.”

Awalnya aku menolak.

Lalu aku berubah pikiran.

Bukan untuk merebut Arga kembali.

Aku datang karena enam tahun hidupku tidak boleh diakhiri dengan kebohongan mereka.

Ketika aku tiba, ruang tamu penuh orang.

Arga langsung berdiri.

Nabila memakai kebaya krem.

Seolah hari itu benar-benar acara lamaran.

Ibu memandang luka di pelipisku, tetapi tidak bertanya apa-apa.

Bu Ratih meletakkan ponselnya di meja.

“Aku sudah membaca semuanya.”

Wajah Arga pucat.

Ayah mencoba menyela.

“Ini masalah keluarga kami—”

“Anak saya ikut berbohong, berarti ini juga masalah keluarga saya.”

Bu Ratih menatap Arga.

“Kamu masih mengatakan Rani yang membatalkan pernikahan tanpa alasan?”

Arga diam.

Aku mengeluarkan map dari tas.

“Tidak hanya itu.”

Aku meletakkan bukti transfer, invoice vendor, dan salinan dokumen rumah.

“Selama bertahun-tahun saya membayar rumah ini, biaya perawatan Nabila, serta sebagian besar kebutuhan keluarga.”

Ibu mulai panik.

“Kamu mau hitung-hitungan dengan orang tua?”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

Aku mengeluarkan surat terakhir.

“Aku cuma berhenti membiayai orang yang menganggap hidupku bisa dibagikan kepada adikku.”

Aku meletakkannya di meja.

“Mulai bulan depan, Ayah dan Ibu punya enam puluh hari untuk mengambil alih cicilan rumah ini atau mencari tempat tinggal lain.”

Ibu berdiri sambil memukul meja.

“Kamu tega mengusir orang tuamu sendiri?”

Sebelum aku menjawab, terdengar suara pecahan kaca.

Nabila menjatuhkan ponselnya.

Wajahnya putih seperti kertas.

Dia menatap Arga.

“Apa maksud pesan ini?”

Arga membeku.

Nabila mengangkat layar ponselnya.

Ternyata saat kami semua sibuk, sebuah pesan baru muncul dari perempuan lain.

Dan kalimat pertama yang terbaca jelas membuat seluruh ruangan sunyi.

“Mas Arga, kapan kamu mengembalikan Rp48 juta yang kamu pinjam dariku? Kamu bilang calon istrimu tidak tahu.”

Bagian 3 — Aku berhenti menjadi dompet keluarga, membuka semua bukti, dan membiarkan mereka merasakan akibat keputusan yang mereka buat sendiri selama bertahun-tahun tanpa rasa bersalah

Nabila membaca pesan itu dua kali.

Kemudian tiga kali.

“Apa ini?”

Arga langsung mencoba mengambil ponselnya.

Nabila mundur.

“Jangan sentuh aku!”

Untuk pertama kali aku melihat adikku menatap Arga dengan ketakutan yang sama seperti yang kurasakan malam sebelumnya.

Pesan itu berasal dari seorang perempuan bernama Sella.

Setelah didesak, Arga akhirnya mengaku.

Sella adalah rekan kerjanya.

Dia meminjam uang dengan alasan membutuhkan modal usaha.

Ternyata bukan hanya Sella.

Arga punya utang konsumtif hampir Rp170 juta.

Sebagian digunakan untuk trading spekulatif yang gagal.

Sebagian untuk gaya hidup.

Selama ini dia berharap dana pernikahan kami bisa memberinya ruang bernapas.

Ketika hubungan denganku mulai sulit karena persoalan keluarga, dia melihat Nabila sebagai jalan lain.

Dan lebih parahnya, dia tahu Ibu akan membelanya.

Nabila menangis.

“Jadi kamu mendekatiku karena Ibu bilang keluarga akan membantu?”

Arga tidak menjawab.

Jawaban itu sudah jelas.

Nabila menamparnya.

Aku tidak merasa puas.

Aku juga tidak merasa kasihan.

Aku hanya lelah.

Bu Ratih meminta Arga pulang.

Di depan semua orang, dia berkata keluarganya tidak akan melanjutkan pembicaraan lamaran dengan siapa pun sebelum Arga menyelesaikan utang dan mempertanggungjawabkan kebohongannya sendiri.

Aku mengambil cincin pertunangan dari meja.

Bukan untuk memakainya.

Aku menyerahkannya kepada Bu Ratih karena cincin itu dibeli oleh keluarga mereka.

“Terima kasih pernah memperlakukanku baik,” kataku.

Bu Ratih memelukku.

“Maafkan anak saya.”

Aku tidak mengatakan tidak apa-apa.

Karena memang tidak baik-baik saja.

Aku hanya berkata,

“Saya tidak menyalahkan Ibu.”

Lalu aku pergi.

Kali ini tidak ada seorang pun yang bisa menahanku.

Dua hari kemudian Ibu datang ke apartemenku bersama Ayah.

Mereka memintaku mencabut keputusan soal rumah.

Ibu menangis.

Katanya semua yang dilakukan hanya karena kasihan kepada Nabila.

Aku mendengarkan sampai selesai.

Kemudian aku bertanya,

“Kalau Ibu kasihan kepada Nabila, kenapa yang harus dihukum selalu aku?”

Ibu terdiam.

“Aku delapan tahun waktu kecelakaan itu terjadi.”

Tidak ada jawaban.

“Aku juga anak kecil.”

Ayah menunduk.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengucapkan kalimat yang seharusnya sudah kukatakan bertahun-tahun lalu.

“Kecelakaan yang menimpa Nabila bukan utang seumur hidupku.”

Ibu mulai menangis lagi.

Aku tidak berubah pikiran.

Enam puluh hari kemudian, Ayah dan Ibu pindah ke rumah kontrakan lebih kecil di Depok.

Aku menjual rumah lama setahun kemudian setelah menyelesaikan sisa kredit.

Sebagian uangnya kugunakan sebagai uang muka rumah kecil milikku sendiri.

Rumah dengan dua kamar.

Jendela lebar.

Dinding putih.

Dan lemari pakaian yang akhirnya berisi warna-warna yang kusukai.

Merah.

Biru.

Kuning.

Bahkan gaun bunga-bunga yang mungkin akan membuat Ibu marah kalau melihatku memakainya sepuluh tahun lalu.

Aku mengganti gaya rambut.

Belajar makeup dari YouTube.

Pergi ke Bali bersama teman-teman kantor.

Hal-hal kecil yang bagi orang lain biasa saja terasa seperti kemewahan bagiku.

Ternyata kebebasan tidak selalu datang dengan suara keras.

Kadang-kadang kebebasan hanya berupa keputusan sederhana:

Tidak mengangkat telepon yang membuatmu takut.

Tidak mentransfer uang karena merasa bersalah.

Tidak meminta izin memakai baju yang kamu suka.

Tidak menjelaskan kenapa kamu ingin bahagia.

Nabila tidak menikah dengan Arga.

Tiga bulan setelah kejadian itu, hubungan mereka berakhir total.

Arga harus menjual mobilnya untuk membayar sebagian utang.

Perusahaan tempatnya bekerja juga melakukan pemeriksaan internal setelah salah satu kreditornya datang ke kantor dan membuat keributan.

Aku tidak pernah mencari tahu lebih jauh.

Hidupnya bukan lagi urusanku.

Nabila sendiri pindah ke Bandung.

Awalnya aku mengira dia pergi karena malu.

Ternyata dia mengambil pekerjaan sebagai admin di sebuah klinik kecantikan.

Hampir setahun kami tidak berbicara.

Suatu malam, sebuah pesan masuk.

“Kak, boleh aku minta maaf tanpa meminta Kakak memaafkanku?”

Aku membaca lama.

Nabila menulis bahwa selama bertahun-tahun dia menikmati perlakuan istimewa karena takut kehilangan satu-satunya hal yang membuatnya merasa aman.

Setiap kali orang tua kami membandingkan kami, dia memilih diam.

Setiap kali mereka mengambil sesuatu dariku untuk memberikannya kepadanya, dia menerimanya.

Bahkan ketika Ibu menyarankan mendekati Arga, dia tahu itu salah.

Tetapi dia tetap melakukannya.

“Aku menggunakan luka di wajahku untuk membenarkan luka yang kubuat pada orang lain.”

Aku tidak langsung menjawab.

Dua hari kemudian aku menulis:

“Aku belum bisa kembali seperti dulu. Tapi aku berharap kamu belajar hidup tanpa mengambil hidup orang lain.”

Hubungan kami tidak pulih secara ajaib.

Kami tidak langsung menjadi saudara yang akrab.

Kami mulai dari hal kecil.

Ucapan ulang tahun.

Pesan Lebaran.

Sesekali minum kopi ketika dia ke Jakarta.

Aku belajar bahwa memaafkan seseorang tidak berarti memberinya akses kembali ke seluruh hidup kita.

Dua tahun setelah malam ketika aku menemukan Arga di kamar Nabila, aku menikah.

Namanya Dimas.

Kami bertemu melalui proyek kantor.

Dia tidak datang sebagai penyelamat.

Aku juga tidak membutuhkannya untuk menyelamatkanku.

Dia hanya seorang laki-laki yang menganggap batasan sebagai sesuatu yang harus dihormati.

Saat akad sederhana kami selesai, aku melihat ke barisan tamu.

Ayah dan Ibu hadir.

Mereka duduk di bagian belakang.

Hubungan kami belum sepenuhnya sembuh, tetapi mereka datang sebagai tamu, bukan sebagai pengendali hidupku.

Nabila duduk di sebelah mereka.

Bekas luka di wajahnya tidak lagi ditutupi makeup tebal.

Ketika mata kami bertemu, dia tersenyum kecil.

Aku membalasnya.

Dimas menggenggam tanganku.

Di meja dekat pintu ada sebuah foto pernikahan yang baru dicetak.

Dalam foto itu aku memakai kebaya putih yang kupilih sendiri.

Rambutku ditata sesuai keinginanku.

Lipstikku merah lembut.

Aku tersenyum tanpa meminta izin siapa pun.

Aku memandangi foto itu cukup lama.

Selama bertahun-tahun keluargaku membuatku percaya bahwa untuk mencintai adikku, aku harus mengecilkan diriku.

Aku harus kurang cantik agar dia merasa cantik.

Kurang bahagia agar dia tidak sedih.

Kurang dicintai agar dia tidak merasa sendirian.

Bahkan harus menyerahkan laki-laki yang akan kunikahi agar hidupnya terasa lebih adil.

Sekarang aku akhirnya mengerti.

Cinta yang meminta satu orang menghancurkan hidupnya supaya orang lain merasa utuh bukanlah cinta.

Itu pengorbanan yang dipaksakan.

Dan pada hari pernikahanku, ketika Dimas membisikkan, “Kamu cantik sekali,” aku tidak lagi menoleh untuk melihat apakah ada orang lain yang terluka karena mendengarnya.

Aku hanya tersenyum.

“Terima kasih.”

Karena setelah tiga puluh tiga tahun, akhirnya hidupku benar-benar menjadi milikku sendiri.