Bagian 3 — Aku Berhenti Mengalah, dan Untuk Pertama Kalinya Keluargaku Melihat Siapa yang Sebenarnya Bermasalah

Avatar penulis
Cerita 02
15 menit baca 1,215 tayangan
Bagian 3 — Aku Berhenti Mengalah, dan Untuk Pertama Kalinya Keluargaku Melihat Siapa yang Sebenarnya Bermasalah
Indeks

Bagian 3 — Aku Berhenti Mengalah, dan Untuk Pertama Kalinya Keluargaku Melihat Siapa yang Sebenarnya Bermasalah

Dimas tidak langsung memberi nasihat ketika aku menceritakan semuanya.

Dia hanya mendengarkan.

Setelah aku selesai, dia menuangkan teh hangat dan berkata,

“Kamu mau aku bicara dengan keluargamu?”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

“Kamu yakin?”

“Yakin.”

Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin ada orang yang menyelamatkanku.

Aku ingin menyelesaikan masalah itu sendiri.

Selama bertahun-tahun aku selalu berharap seseorang di rumah akhirnya berkata bahwa perlakuan mereka tidak adil.

Ayah.

Ibu.

Tante.

Siapa saja.

Tapi tidak pernah ada.

Kalau kali ini aku kembali mundur hanya supaya suasana keluarga tetap tenang, maka sepuluh tahun lagi mereka masih akan melakukan hal yang sama.

Dimas menggenggam tanganku.

“Kalau begitu kita lanjut sesuai rencana.”

“Kamu tidak takut menikah dengan keluarga seperti keluargaku?”

Dia tertawa kecil.

“Aku menikah denganmu. Bukan dengan rapat keluarga besarmu.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi malam itu aku menangis lama sekali.

Bukan karena sedih.

Karena akhirnya ada seseorang yang tidak meminta aku mengecilkan diri agar orang lain merasa nyaman.

Kami tetap melanjutkan persiapan pernikahan.

Jumlah tamu kami kurangi dari dua ratus menjadi seratus delapan puluh.

Dekorasi dibuat sederhana.

Souvenir diganti dari gelas custom menjadi pouch kain buatan UMKM milik teman kantor.

Aku tidak mengambil utang.

Dimas juga tidak.

Kami bahkan sepakat tidak perlu bulan madu jauh-jauh.

Dua malam di Yogyakarta setelah acara sudah cukup.

Anehnya, setelah berhenti mengejar persetujuan keluarga, persiapan menikah justru terasa jauh lebih ringan.

Masalah berikutnya muncul tiga minggu kemudian.

Ibu datang ke apartemen kecil yang kusewa.

Sendirian.

Dia membawa sekotak lumpia.

Aku tahu ada sesuatu yang dia inginkan.

Benar saja.

Setelah lima belas menit membicarakan cuaca dan pekerjaan, Ibu berkata,

“Bagas sudah bicara serius dengan keluarga kita.”

Aku hanya menjawab,

“Syukurlah.”

“Mereka kemungkinan lamaran dua bulan lagi.”

Aku mengangguk.

Lalu Ibu mengusap lututnya berkali-kali.

Gerakan yang selalu dilakukannya ketika gugup.

“Nadira…”

“Ya?”

“Ratih mau acara lamaran yang agak bagus.”

Aku mulai mengerti.

“Berapa?”

Ibu terlihat malu.

“Keluarga Bagas orang berada. Kakakmu tidak mau keluarga kita kelihatan terlalu sederhana.”

Aku menunggu.

“Dia sudah tanya vendor dekorasi. Catering juga.”

“Berapa, Bu?”

Ibu akhirnya menjawab,

“Kurang sekitar tujuh puluh juta.”

Aku hampir tertawa.

“Dan Ibu datang ke sini supaya aku pinjamkan?”

“Bukan pinjam…”

Aku menatapnya.

Ibu mengubah kalimat.

“Maksud Ibu, nanti dikembalikan.”

“Kapan?”

“Setelah Ratih menikah.”

“Dari mana dia mengembalikan?”

Ibu terdiam.

Aku menghela napas.

“Bu, aku juga sedang menyiapkan pernikahan.”

“Ibu tahu. Tapi acara kalian sederhana. Tabunganmu masih ada, kan?”

Kalimat itu benar-benar membuatku sadar betapa anehnya pola pikir di rumah kami.

Aku berhemat dianggap punya uang lebih untuk Ratih.

Aku memilih pesta sederhana dianggap tidak membutuhkan tabunganku sendiri.

Aku hidup sesuai kemampuan justru menjadi alasan supaya aku menanggung keinginan orang lain.

“Tidak, Bu.”

Wajah Ibu langsung berubah.

“Nadira…”

“Aku tidak akan memberikan Rp70 juta.”

“Kamu sekarang berubah sekali.”

Aku tertawa kecil.

“Aku tidak berubah, Bu. Aku cuma berhenti bilang iya.”

Ibu pulang dengan wajah kecewa.

Tiga hari kemudian Ratih mengirim pesan.

Peliiiit banget sama kakak sendiri.

Aku tidak membalas.

Seminggu sesudahnya, aku mengetahui sesuatu yang selama ini tidak pernah diceritakan kepadaku.

Ayah menelepon.

“Nadira, kamu ada waktu makan siang?”

Kami bertemu di warung soto dekat kantorku.

Ayah datang sendirian.

Wajahnya terlihat lebih tua daripada yang kuingat.

Setelah makanan datang, dia tidak langsung makan.

“Dira, soal uang tujuh puluh juta itu… jangan kamu kasih.”

Aku menatapnya.

“Aku memang tidak akan kasih.”

Ayah mengangguk.

Lalu mengeluarkan napas panjang.

“Ayah sebenarnya sudah dua kali melunasi utang Ratih.”

Sendokku berhenti.

“Utang apa?”

“Kartu kredit. Paylater. Beberapa cicilan barang.”

“Berapa?”

Ayah tidak langsung menjawab.

“Sekitar enam puluh delapan juta untuk yang pertama. Lalu hampir empat puluh juta tahun lalu.”

Aku benar-benar tidak tahu.

Ratih selalu tampil seperti orang yang hidupnya paling mapan.

Tas bermerek.

Makan di restoran bagus.

Liburan.

Salon.

Hotel ketika reuni kampus.

Dia juga sering mencibir barang-barangku.

“Nadira, masa tas kantor itu lagi?”

“Sepatumu sudah tiga tahun, kan?”

“Kamu harus investasi penampilan.”

Ternyata sebagian besar “penampilan” itu dibayar dengan utang.

“Kenapa Ayah bayar?”

Ayah menatap meja.

“Ibumu takut nanti nama Ratih jelek kalau sampai ditagih ke kantor.”

“Dan Ratih mengembalikan?”

Ayah tersenyum pahit.

“Belum.”

Saat itu aku tidak merasa senang.

Aku justru merasa lelah.

Betapa banyak tenaga yang dikeluarkan seluruh keluarga hanya untuk mempertahankan gambaran bahwa Ratih selalu lebih sukses dariku.

“Ayah tahu Ibu minta uang ke aku?”

“Tahu.”

“Kenapa Ayah diam?”

Pertanyaan itu membuatnya tidak bisa menjawab.

Aku melanjutkan,

“Dari kecil Ayah selalu diam.”

Wajah Ayah berubah.

“Dira…”

“Kalau Ibu membandingkan aku dengan Mbak Ratih, Ayah diam. Kalau Mbak Ratih menghina aku, Ayah diam. Waktu mereka menyuruh aku menyerahkan tanggal pernikahan, Ayah juga diam.”

Ayah menunduk.

“Ayah pikir kalau tidak ikut campur, masalahnya akan selesai.”

“Tidak, Yah.”

Aku menahan air mata.

“Diam itu juga memilih pihak.”

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, Ayah tidak membela diri.

Dia hanya mengangguk.

“Benar.”

Sebelum kami berpisah, Ayah berkata,

“Ayah akan datang ke pernikahanmu.”

Aku menatapnya.

“Datanglah kalau Ayah memang ingin datang. Bukan karena merasa bersalah.”

Dia mengangguk lagi.

Masalah di keluarga kami belum selesai.

Justru menjadi lebih besar.

Hubungan Ratih dan Bagas yang awalnya terlihat sempurna mulai retak ketika kedua keluarga lebih sering bertemu.

Ternyata Bagas memang memiliki penghasilan bagus.

Tetapi hidupnya tidak seperti yang dibayangkan Ratih.

Apartemennya masih KPR.

Sebagian penghasilannya digunakan untuk membantu biaya kuliah adiknya.

Ibunya, Bu Mira, seorang janda yang menjalankan usaha nasi kotak dan katering kecil sejak suaminya meninggal delapan tahun lalu.

Ketika pertama kali mendengar itu, Ratih masih terlihat santai.

Tapi setelah tahu Bu Mira sendiri sering mengantar pesanan memakai mobil pick-up usaha, sikapnya berubah.

Suatu hari Ratih pulang ke Semarang dan mengeluh di depan Ibu.

“Masa calon mertuaku masih sibuk jualan nasi kotak?”

Ibu menegurnya pelan.

“Usaha katering itu bukan pekerjaan buruk.”

“Aku tidak bilang buruk. Cuma… kurang cocok dengan lingkungan kerjaku.”

Aku kebetulan sedang mengambil dokumen di rumah dan mendengar semuanya.

Ratih melanjutkan,

“Nanti teman-teman kantor datang ke resepsi. Kalau lihat ibu mertuaku sibuk ngomong soal pesanan nasi kotak, kan aneh.”

Aku menatapnya.

“Mbak, beliau membesarkan dua anak dari usaha itu.”

Ratih langsung menoleh tajam.

“Kamu jangan ikut campur.”

Aku mengangkat tangan.

“Baik.”

Tapi yang tidak diketahui Ratih adalah Bagas datang menjemputnya setengah jam lebih cepat.

Dia berdiri di teras.

Dan mendengar bagian akhir percakapan.

Bagas tidak membuat keributan.

Dia masuk.

Menyapa semuanya.

Lalu membawa Ratih pergi.

Aku pikir masalah selesai.

Ternyata tidak.

Dua hari kemudian, Ratih pulang sambil menangis.

Bagas meminta mereka menunda lamaran.

Ratih mengamuk.

“Cuma gara-gara aku ngomong sedikit tentang ibunya!”

Ibu langsung membelanya.

“Bagas juga terlalu sensitif.”

Ayah yang sedang membaca koran tiba-tiba menurunkannya.

“Ratih.”

Semua orang diam.

Ayah jarang menggunakan nada seperti itu.

“Kalau ada orang bicara tentang Ibumu seperti kamu bicara tentang ibunya Bagas, kamu akan terima?”

Ratih terdiam.

Ibu mencoba menyela.

“Pak…”

Ayah mengangkat tangan.

“Biar dia jawab.”

Ratih mengambil tas lalu masuk kamar.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Satu minggu kemudian, Bagas datang bersama pamannya.

Dia mengembalikan beberapa barang yang sebelumnya diberikan Ratih.

Tidak ada bentakan.

Tidak ada drama.

Bagas hanya berkata,

“Saya menghargai Mbak Ratih. Tapi setelah beberapa kali berdiskusi, saya merasa cara kami memandang keluarga, uang, dan pernikahan terlalu berbeda.”

Ratih menangis.

“Jadi kamu putus hanya karena ibumu?”

Bagas menatapnya lama.

“Bukan karena Ibu saya.”

“Lalu?”

“Karena cara kamu memperlakukan orang yang kamu anggap tidak setara denganmu.”

Kalimat itu membuat ruang tamu sunyi.

Aku melihat wajah Ratih memucat.

Untuk sekali ini, tidak ada satu pun orang yang bisa disalahkan.

Tidak ada calon yang terlalu pendek.

Tidak ada rumah yang terlalu kecil.

Tidak ada mobil yang terlalu tua.

Tidak ada gaji yang terlalu rendah.

Seorang laki-laki yang selama ini dianggap memenuhi hampir seluruh standar Ratih memilih pergi karena melihat langsung bagaimana Ratih memperlakukan orang lain.

Setelah Bagas pergi, Ratih masuk kamar dan membanting pintu.

Malamnya dia keluar lagi.

Wajahnya bengkak.

Dia menunjukku.

“Puas?”

Aku mengerutkan kening.

“Apa?”

“Kamu pasti puas melihat aku gagal.”

“Aku tidak punya hubungan apa pun dengan keputusan Bagas.”

Ratih tertawa getir.

“Sejak dulu kamu iri padaku.”

Aku hampir tidak percaya.

Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa marah.

Aku justru kasihan.

“Kamu benar-benar pikir seluruh hidupku berputar mengelilingimu?”

Ratih terdiam.

Aku berdiri.

“Mbak, aku sudah berhenti bersaing denganmu sejak lama.”

“Bohong.”

“Yang masih berlomba cuma kamu.”

Wajahnya menegang.

Aku melanjutkan,

“Ketika aku pakai baju bekasmu, kamu menang.”

“Ketika nilai sekolahmu lebih tinggi, kamu menang.”

“Ketika gajimu lebih besar, kamu menang.”

“Ketika orang rumah memujimu, kamu menang.”

“Tapi sekarang aku tidak ikut lomba itu lagi.”

Ratih menatapku.

Matanya mulai merah lagi.

“Aku menikah bukan untuk mengalahkanmu.”

“Aku bahagia bukan untuk mempermalukanmu.”

“Dan Bagas meninggalkanmu juga bukan karena aku.”

Aku mengambil tas.

“Sampai kapan pun kamu menyalahkan orang lain, hidupmu akan tetap seperti ini.”

Untuk pertama kalinya, Ratih tidak punya jawaban.

Dua minggu kemudian, masalah utangnya akhirnya pecah.

Ternyata sebelum Bagas memutuskan hubungan, Ratih sudah membayar uang muka beberapa vendor untuk acara lamaran besar.

Sebagian menggunakan kartu kredit.

Sebagian paylater.

Sebagian lagi uang yang dipinjam dari Ibu.

Total kewajibannya hampir Rp112 juta.

Ibu panik.

Seperti biasa, solusi pertamanya adalah meminta Ayah menutupinya.

Tetapi kali ini Ayah menolak.

“Aku sudah dua kali bayar.”

“Kalau tidak dibayar, nanti bagaimana?”

“Ratih yang bayar.”

“Dari mana?”

Ayah menatap Ratih.

“Dari gajinya.”

Ratih langsung berdiri.

“Kalau semua dipakai bayar utang aku hidup pakai apa?”

Ayah menjawab,

“Belajar hidup sesuai kemampuan.”

Aku mendengar pertengkaran itu melalui telepon karena Ibu meneleponku sambil menangis.

Lalu datang kalimat yang sudah kuduga.

“Nadira, kamu ada tabungan…”

Aku langsung memotong.

“Tidak.”

“Nak, dengar dulu.”

“Tidak, Bu.”

“Kakakmu sedang susah.”

“Utangnya bukan keadaan darurat. Itu akibat pilihannya.”

Ibu diam.

Aku melanjutkan,

“Dan jangan lagi telepon aku untuk meminta uang menutup keputusan Mbak Ratih.”

Untuk pertama kalinya, Ibu tidak memaksaku.

Ratih akhirnya menjual mobilnya.

Dia mengganti dengan kendaraan yang lebih murah.

Dua tas bermerek dijual.

Beberapa rencana liburan dibatalkan.

Dia pindah dari apartemen sewa di kawasan yang mahal ke tempat yang lebih kecil dekat kantornya.

Tidak ada yang tragis.

Dia tetap punya pekerjaan.

Tetap punya penghasilan.

Tetap sehat.

Dia hanya untuk pertama kalinya harus membayar harga dari gaya hidup dan keputusan yang selama bertahun-tahun selalu dibereskan orang lain.

Sementara itu, tanggal pernikahanku semakin dekat.

Sebulan sebelum acara, Ibu belum mengatakan apakah dia akan datang.

Aku tidak bertanya.

Aku dan Dimas sibuk mengurus dokumen akad, finalisasi katering, susunan meja, dan memastikan keluarga Dimas punya tempat menginap.

Tiga hari sebelum pernikahan, Ibu datang ke tempatku.

Tidak membawa makanan.

Tidak membawa permintaan uang.

Dia hanya duduk di sofa.

Lama sekali.

Lalu berkata,

“Ibu menemukan kotak foto lama.”

Aku tidak menjawab.

“Ada foto ulang tahun Ratih banyak sekali.”

Dia menarik napas.

“Foto ulang tahunmu hampir tidak ada.”

Dadaku mengencang.

Ibu memandang tangannya.

“Ibu dulu merasa karena kamu tidak pernah protes, berarti kamu baik-baik saja.”

Aku berkata pelan,

“Anak yang tidak protes belum tentu tidak sakit, Bu.”

Air matanya jatuh.

“Ibu tahu.”

Aku menatapnya.

Tidak langsung memeluk.

Tidak langsung mengatakan semuanya sudah selesai.

Beberapa luka tidak bisa diselesaikan dengan satu permintaan maaf.

Ibu melanjutkan,

“Waktu Ratih kecil, Ibu selalu takut dia gagal karena dia anak pertama. Jadi semua perhatian diarahkan ke dia.”

“Lalu aku?”

Ibu menangis lebih keras.

“Kamu kelihatan lebih mudah diurus.”

Aku tersenyum pahit.

“Jadi karena aku tidak merepotkan, aku mendapat lebih sedikit?”

Ibu tidak menjawab.

Karena jawabannya jelas.

Akhirnya dia berkata,

“Ibu salah.”

Bukan “Ibu melakukan semua demi kebaikanmu.”

Bukan “Kamu juga harus memahami Ibu.”

Bukan “Namanya orang tua pasti punya kekurangan.”

Hanya dua kata.

Ibu salah.

Aneh sekali.

Dua kata yang kutunggu hampir tiga puluh tahun ternyata tidak membuat semua rasa sakit hilang.

Tapi setidaknya untuk pertama kalinya, luka itu diakui ada.

Ibu bertanya,

“Kalau Ibu datang ke pernikahanmu… kamu masih mau?”

Aku menatapnya beberapa detik.

“Datanglah.”

Ibu mengusap air mata.

“Tapi satu syarat.”

Dia terlihat tegang.

“Jangan jadikan hari itu tentang Mbak Ratih.”

Ibu mengangguk.

Hari pernikahanku akhirnya tiba.

Pagi itu hujan turun sebentar di Semarang.

Kemudian langit cerah.

Aku duduk di ruang rias memakai kebaya warna gading sederhana ketika pintu terbuka.

Ayah masuk lebih dulu.

Dia memakai batik cokelat tua.

Matanya langsung merah ketika melihatku.

“Kamu cantik.”

Aku tersenyum.

“Terima kasih.”

Dia mendekat.

“Ayah minta maaf.”

Aku tahu dia tidak hanya bicara tentang pernikahan.

Aku mengangguk.

“Kita perbaiki pelan-pelan, Yah.”

Lima belas menit kemudian Ibu datang.

Dia tidak membawa Ratih.

Aku tidak bertanya.

Akad berlangsung sederhana.

Dimas mengucapkan ijab kabul dengan suara yang sedikit bergetar, tapi jelas.

Ketika semuanya dinyatakan sah, aku melihat Ayah menunduk mengusap mata.

Ibu menangis tanpa suara.

Dan untuk pertama kalinya, di salah satu hari terpenting hidupku, tidak ada satu orang pun yang membandingkanku dengan Ratih.

Sekitar satu jam setelah resepsi dimulai, aku sedang berbicara dengan teman kantor ketika melihat seseorang berdiri di dekat pintu.

Ratih.

Dia memakai kebaya biru tua.

Sendirian.

Tidak ada riasan berlebihan.

Tidak ada ekspresi mengejek.

Dia hanya berdiri kaku seperti tidak yakin boleh masuk.

Aku tidak menghampirinya.

Beberapa menit kemudian dia sendiri yang berjalan mendekat.

“Selamat.”

“Terima kasih.”

Dia melihat Dimas.

“Mas Dimas.”

Dimas mengangguk sopan.

“Mbak Ratih.”

Hening beberapa detik.

Lalu Ratih berkata,

“Aku hampir tidak datang.”

Aku tersenyum tipis.

“Aku tahu.”

Dia memainkan tali tasnya.

“Aku juga masih kesal.”

Aku hampir tertawa.

“Jujur sekali.”

Ratih mengembuskan napas.

“Tapi kalau aku tidak datang, mungkin nanti aku menyesal.”

Aku tidak memeluknya.

Tidak ada adegan dramatis kami menangis bersama.

Hubungan kami belum sampai sana.

Aku hanya berkata,

“Makan dulu. Catering-nya enak.”

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Ratih tertawa kecil tanpa nada mengejek.

Enam bulan setelah pernikahan, Dimas dan aku pindah ke rumah kecil kami.

Bukan rumah mewah.

Dua kamar.

Ada halaman sempit di belakang.

Cicilannya masih dua belas tahun.

Tapi setiap pagi ketika membuka pintu dapur dan melihat cahaya masuk dari halaman, aku merasa tenang.

Di kantor, aku juga akhirnya menyelesaikan sertifikasi supply chain yang kutunda dua tahun.

Beberapa bulan kemudian aku dipromosikan menjadi supervisor operasional.

Gajiku naik.

Ketika kukabarkan kepada Ibu, dia berkata,

“Selamat. Ibu bangga.”

Tidak ada tambahan,

“tapi Ratih…”

Tidak ada perbandingan.

Hanya selamat.

Mungkin bagi orang lain hal itu kecil.

Bagiku, itu perubahan besar.

Ratih masih belum menikah.

Tapi sekarang aku tidak menganggap itu sebagai kekalahannya.

Menjadi lajang bukan hukuman.

Yang menjadi masalah sejak awal bukan statusnya.

Melainkan cara dia menilai manusia berdasarkan gaji, rumah, mobil, gelar, dan seberapa jauh mereka bisa membuatnya terlihat unggul.

Setelah Bagas pergi dan utangnya harus dia tanggung sendiri, Ratih berubah perlahan.

Tidak ajaib.

Tidak tiba-tiba menjadi orang paling rendah hati sedunia.

Kadang masih menyebalkan.

Kadang masih suka pamer.

Tapi dia mulai mencatat pengeluaran.

Mulai melunasi utangnya sendiri setiap bulan.

Bahkan suatu hari dia mengirim foto nasi kotak ke grup keluarga.

Ternyata kantor mereka memesan catering dari UMKM dekat gedung.

Ratih menulis,

Ternyata usaha begini kalau dikelola serius bisa besar juga.

Aku tahu dia sedang memikirkan Bu Mira.

Aku tidak mengomentarinya.

Setahun setelah pernikahanku, kami kembali makan bersama di rumah orang tua.

Situasinya hampir sama seperti malam ketika Ratih mengatakan aku akan menjomblo seumur hidup.

Meja yang sama.

Lampu yang sama.

Sayur asem buatan Ibu.

Ayah tetap mengambil sambal terlalu banyak.

Bedanya, Dimas duduk di sebelahku.

Ratih duduk di seberang.

Di tengah makan, Ibu bercerita bahwa seorang tetangga ingin mengenalkan Ratih dengan seseorang.

Dulu, percakapan itu pasti langsung berubah menjadi pembahasan gaji, rumah, pendidikan, dan kendaraan.

Kali ini Ratih hanya berkata,

“Ketemu dulu saja.”

Ayah tertawa.

“Tidak tanya mobilnya?”

Ratih melotot.

“Pak!”

Aku ikut tertawa.

Ratih menatapku.

Beberapa detik kemudian dia juga tertawa.

Lalu, entah mengapa, dia berkata,

“Dira.”

“Hmm?”

“Dulu waktu aku bilang kamu bakal sendirian sampai tua…”

Aku mengangkat alis.

Ratih tampak malu.

“Aku keterlaluan.”

Meja makan menjadi sunyi.

Aku bisa saja membalas.

Bisa saja mengatakan,

“Lihat sekarang siapa yang menikah duluan?”

Aku bisa mengembalikan kalimat yang selama bertahun-tahun dia lemparkan kepadaku.

Tapi aku tidak melakukannya.

Karena akhirnya aku memahami satu hal.

Kemenanganku bukan karena aku menikah lebih dulu.

Bukan karena hubunganku berhasil sementara hubungannya gagal.

Bukan karena sekarang gajiku lebih besar daripada dulu.

Kemenanganku adalah aku tidak lagi membutuhkan kekalahan Ratih agar merasa cukup.

Aku menatap kakakku.

“Sudah lewat.”

Ratih mengangguk.

“Tapi aku tetap minta maaf.”

Aku tersenyum.

“Baik.”

Malam itu, saat Dimas dan aku pulang, dia bertanya,

“Rasanya gimana?”

“Apa?”

“Menang.”

Aku tertawa.

“Aku tidak menang.”

Dimas melirikku.

“Serius?”

Aku melihat lampu kota dari balik kaca mobil.

Lalu berkata,

“Aku cuma akhirnya berhenti ikut perlombaan yang tidak pernah kupilih.”

Dan mungkin, itulah hal terbaik yang pernah kulakukan untuk diriku sendiri.

Selama bertahun-tahun, keluargaku membuatku percaya bahwa aku adalah anak yang kurang cantik, kurang pintar, kurang sukses, kurang menarik, dan kurang layak dibandingkan kakakku.

Aku hampir mempercayainya.

Hampir.

Sampai suatu hari aku sadar:

Nilai seseorang tidak berkurang hanya karena orang di rumahnya gagal melihatnya.

Kita tidak harus lebih kaya daripada saudara kita.

Tidak harus menikah lebih dulu.

Tidak harus punya pekerjaan paling bagus.

Tidak harus membuktikan siapa yang paling berhasil.

Kadang satu-satunya hal yang perlu kita lakukan adalah berhenti hidup berdasarkan ukuran orang lain.

Sekarang ketika mengingat kalimat Ratih malam itu—

“Dengan keadaanmu seperti itu, mungkin kamu bakal sendirian sampai tua.”

Aku tidak lagi marah.

Aku justru tersenyum.

Karena ternyata yang hampir membuatku sendirian bukan kekuranganku.

Melainkan bertahun-tahun keyakinan bahwa aku harus terus mengalah supaya pantas dicintai.

Dan begitu aku berhenti mengalah pada hal-hal yang merendahkanku, aku menemukan sesuatu yang jauh lebih penting daripada memenangkan persaingan dengan kakakku.

Aku menemukan hidupku sendiri.