Bagian 3 — Pada Hari Kedua Belas, Satu Kalimat Pengacara Mengubah Semua Orang di Ruang Tamu

Avatar penulis
Cerita 02
14 menit baca 2,021 tayangan
Bagian 3 — Pada Hari Kedua Belas, Satu Kalimat Pengacara Mengubah Semua Orang di Ruang Tamu
Indeks

Bagian 3 — Pada Hari Kedua Belas, Satu Kalimat Pengacara Mengubah Semua Orang di Ruang Tamu

Bu Yuliana adalah orang pertama yang bereaksi.

“Apa maksud Bapak?”

Pak Arman tidak langsung menjawab.

Ia kembali membaca halaman yang sedang dipegangnya.

Kemudian ia melihat sertifikat rumah, akta hibah, dokumen kendaraan, serta salinan perjanjian perkawinan kami.

Aku duduk diam.

Raka yang sejak tadi bersandar dengan percaya diri mulai mengubah posisi duduk.

“Pak, memangnya ada masalah?”

Pak Arman meletakkan akta itu di meja.

“Masalahnya adalah informasi yang saya terima berbeda dengan dokumen yang sekarang ada di depan saya.”

Bu Yuliana mengerutkan dahi.

“Bedanya apa? Mereka kan sudah suami istri.”

Pak Arman menatapnya.

“Bu, status suami istri tidak otomatis berarti semua aset yang dimiliki salah satu pihak sebelum atau melalui pemberian pribadi langsung menjadi milik seluruh keluarga besar.”

Ruangan seketika sunyi.

Aku melihat ujung jari Bu Yuliana yang tadi mengetuk meja kini berhenti.

Pak Arman melanjutkan.

“Rumah ini diberikan melalui akta hibah sebelum pernikahan. Sertifikatnya juga tercatat atas nama Ibu Nadira.”

Ia mengambil dokumen lain.

“Mobil juga tercatat atas namanya.”

Kemudian dokumen berikutnya.

“Deposito berasal dari pemberian orang tua kepada Ibu Nadira dan telah dicatat terpisah.”

Terakhir, ia mengangkat salinan perjanjian perkawinan.

“Dan ini yang paling penting. Ada kesepakatan pemisahan serta pengaturan aset yang ditandatangani kedua calon mempelai sebelum menikah.”

Aku melihat langsung ke wajah Raka.

“Aku tidak pernah menyembunyikan dokumen itu.”

Pak Arman ikut menoleh kepadanya.

“Pak Raka, ini tanda tangan Anda?”

Raka tidak menjawab.

“Pak Raka?”

“Iya.”

Satu kata.

Cukup untuk menghancurkan seluruh sandiwara yang mereka bawa ke ruang tamuku pagi itu.

Bu Yuliana menoleh tajam.

“Kamu tanda tangan?”

Raka mengusap wajah.

“Waktu itu kupikir cuma formalitas.”

Aku hampir tertawa.

“Formalitas?”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Dua kali notaris menjelaskan isinya. Pertama di kantornya. Kedua saat kita datang untuk tanda tangan.”

Raka membalas dengan nada defensif.

“Aku memang tanda tangan, tapi aku tidak mengira akibatnya akan sejauh ini.”

“Apa akibat yang kamu maksud?”

Aku menatapnya.

“Tidak bisa mengambil rumahku?”

Ia diam.

“Tidak bisa mencairkan uangku?”

Diam lagi.

“Atau tidak bisa memberikan ruang kerjaku kepada adikmu?”

“Nadira, jangan dibalik seperti itu.”

“Aku tidak membalik apa pun.”

Aku menunjuk map di atas meja.

“Kalian yang datang ke rumahku dengan pengacara.”

Bu Yuliana tiba-tiba menyela.

“Bapak ini pengacara siapa sebenarnya?”

Pak Arman menarik napas.

“Bu Yuliana, saya datang berdasarkan informasi yang Ibu berikan.”

“Dan sekarang Bapak malah membela dia?”

“Saya tidak membela siapa pun. Saya menjelaskan posisi berdasarkan dokumen.”

Wajah Bu Yuliana memerah.

“Rumah tangga itu bukan cuma soal dokumen!”

Aku mengangguk.

“Benar.”

Kemudian kutatap satu per satu wajah mereka.

“Rumah tangga juga soal kepercayaan. Itu sebabnya saya ingin tahu kenapa baru empat hari setelah menikah salinan dokumen rumah saya hilang dari laci.”

Raka langsung menoleh.

Citra menunduk.

Bu Yuliana berkata cepat, “Jangan menuduh!”

“Aku tidak menuduh.”

Aku membuka layar ponsel.

“Raka sudah mengaku lewat pesan bahwa dia mengambilnya untuk konsultasi.”

Aku menunjukkan percakapan.

Raka langsung berdiri.

“Kenapa kamu bawa-bawa chat pribadi?”

Aku menatapnya.

“Karena isi chat pribadi itu menjadi alasan empat orang datang ke rumahku untuk meminta sebagian asetku.”

Pak Arman mengangkat tangan.

“Pak Raka, duduk dulu.”

Namun Raka tetap berdiri.

Wajahnya terlihat campuran antara marah dan malu.

“Semua ini seharusnya bisa diselesaikan dalam keluarga.”

Aku menjawab, “Aku juga berpikir begitu sampai keluargamu membawa pengacara.”

Bu Yuliana menepuk meja.

“Baik! Anggap saja rumah ini milikmu. Terus apa? Raka suamimu. Masa suami tidak punya hak tinggal?”

“Aku tidak pernah melarang dia tinggal.”

“Lalu Citra?”

“Kamar tamu tersedia.”

“Dia tidak suka kamar itu!”

Aku sampai harus menarik napas agar tidak tertawa.

“Dan sejak kapan ketidaksukaan Citra terhadap arah jendela menjadi alasan hukum untuk membongkar ruang kerjaku?”

Citra akhirnya bersuara.

“Aku juga sebenarnya tidak pernah minta sampai segininya.”

Bu Yuliana langsung menoleh.

“Kamu diam!”

Aku memperhatikan mereka.

Ada sesuatu di balik semua desakan ini.

Sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kamar.

Aku menatap Pak Arman.

“Pak, boleh saya tahu apa yang sebenarnya mereka konsultasikan kepada Bapak?”

Bu Yuliana langsung menjawab lebih dulu.

“Itu urusan keluarga kami!”

Pak Arman tampak tidak nyaman.

“Secara detail saya tidak bisa membuka konsultasi tanpa persetujuan klien.”

Aku mengangguk.

“Tidak masalah.”

Lalu Citra berkata pelan, nyaris seperti berbicara kepada dirinya sendiri.

“Mama cuma mau menutup pinjaman katering.”

Bu Yuliana membentak.

“Citra!”

Semua mata berpindah kepadanya.

Aku perlahan menatap ibu mertuaku.

“Pinjaman?”

Citra tampak menyesal sudah bicara.

Namun kata-kata yang telanjur keluar tidak bisa ditarik kembali.

Raka langsung berkata, “Bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Lalu seperti apa?”

Ia kembali diam.

Citra akhirnya mengembuskan napas.

“Usaha Mama sedang susah.”

Bu Yuliana berdiri.

“Sudah! Jangan bicara sembarangan!”

Tetapi Citra justru terlihat lelah.

“Mau disembunyikan sampai kapan, Ma?”

Aku tidak bergerak.

Citra menatapku.

“Beberapa bulan lalu Mama meminjam uang untuk buka dapur produksi kedua. Pesanan turun. Ada cicilan alat, sewa tempat, sama pinjaman lainnya.”

“Berapa?”

Ia tidak menjawab.

Raka yang akhirnya mengatakannya.

“Sekitar Rp430 juta.”

Aku memejamkan mata sesaat.

Sekarang semuanya masuk akal.

Permintaan Rp400 juta dari depositoku.

Keinginan agar uang “dikelola Mama”.

Tekanan agar rumah menjadi milik bersama.

Bahkan dokumen yang diam-diam dibawa.

Aku menatap Raka.

“Jadi sejak malam pernikahan, ketika kamu meminta Rp400 juta untuk ibumu, kamu sudah tahu beliau punya utang?”

Raka mengepalkan rahang.

“Nadira, itu bisnis keluarga.”

“Jawab.”

“Iya.”

Satu kata lagi.

Satu kehancuran lagi.

Aku tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Karena ada titik tertentu ketika rasa kecewa terlalu penuh hingga berubah menjadi ketenangan.

“Kamu tahu ibumu butuh hampir setengah miliar.”

Raka tidak menjawab.

“Kamu tahu deposito ibuku untukku Rp720 juta.”

Diam.

“Lalu malam setelah resepsi, kamu menyarankan Rp400 juta diberikan kepadanya.”

“Nanti dikembalikan.”

“Kapan?”

“Kalau bisnis membaik.”

“Kalau tidak?”

Bu Yuliana kembali menyela.

“Kamu bicara seolah Mama mau mencuri!”

Aku menoleh kepadanya.

“Saya tidak pernah memakai kata mencuri.”

“Tapi sikapmu seperti itu!”

“Baik. Kalau begitu saya ganti pertanyaannya.”

Aku merapatkan kedua tangan di atas meja.

“Kalau saya menyerahkan Rp400 juta tanpa jaminan, tanpa jadwal pembayaran, dan tanpa pernah diberi tahu bahwa usaha Ibu sedang punya utang Rp430 juta, itu namanya apa?”

Tidak ada jawaban.

Aku melanjutkan.

“Kalau saya menolak, lalu suami saya mengambil salinan dokumen rumah saya dan berkonsultasi untuk menjadikan rumah tersebut aset bersama, itu namanya apa?”

Bu Yuliana memalingkan wajah.

“Kalau saya menolak memberikan ruang kerja, lalu Ibu masuk memakai kunci cadangan tanpa izin dan membawa tukang untuk membongkarnya, itu namanya apa?”

Citra menunduk semakin dalam.

Raka berkata lirih, “Cukup, Nadira.”

“Belum.”

Aku menatapnya.

“Kamu selalu mengatakan satu kalimat yang sama kepadaku.”

“Semua ini keluarga.”

Aku menunjuk dirinya.

“Sekarang aku ingin tahu, kapan aku dianggap keluarga?”

Raka membuka mulut.

Aku tidak memberinya kesempatan.

“Saat pendapatku dihormati?”

Tidak ada jawaban.

“Saat rumahku dijaga?”

Diam.

“Saat uangku dilindungi?”

Diam.

“Atau hanya ketika sesuatu milikku sedang kalian butuhkan?”

Raka menunduk.

Bu Yuliana malah semakin keras.

“Kalau kamu memang sudah berpikir seperti itu, mungkin kamu tidak cocok jadi istri Raka!”

Aku memandangnya beberapa detik.

Kemudian aku tersenyum.

“Untuk pertama kalinya sejak kita kenal, kita sepakat.”

Raka langsung mengangkat kepala.

“Apa maksudmu?”

Aku berdiri.

Masuk ke ruang kerja.

Kemudian kembali membawa satu map putih.

Kutaruh di depan Raka.

Ia membuka halaman pertama.

Wajahnya berubah.

“Apa ini?”

“Hasil konsultasiku dengan pengacara keluarga tiga hari lalu.”

“Kamu konsultasi pengacara?”

“Kamu boleh. Kenapa aku tidak?”

Ia membaca beberapa baris.

Dokumen tersebut bukan surat cerai yang sudah diajukan.

Belum.

Itu adalah rangkuman tindakan yang akan kuambil apabila tekanan terhadap aset pribadiku terus berlanjut, termasuk persiapan gugatan cerai dan daftar dokumen yang harus diamankan.

Aku tidak berniat menjadikan perceraian sebagai ancaman.

Aku sudah memikirkannya dengan sangat serius selama beberapa hari terakhir.

Aku berkata, “Aku menikah untuk membangun keluarga. Bukan untuk masuk ke sistem di mana semua yang kumiliki dianggap sumber dana darurat keluarga suamiku.”

Raka segera duduk kembali.

Nada suaranya berubah.

“Nadira, jangan emosional.”

Aku hampir tersenyum.

“Sejak kalian datang, aku orang yang paling tidak emosional di ruangan ini.”

“Kita baru dua belas hari menikah.”

“Aku tahu.”

“Orang bakal bilang apa?”

Itulah pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya.

Bukan, “Apa yang bisa kuperbaiki?”

Bukan, “Apakah aku menyakitimu?”

Bukan, “Apa masih ada kesempatan?”

Yang ia pikirkan adalah orang lain.

Aku menjawab, “Mereka boleh bilang apa saja.”

Bu Yuliana langsung berdiri.

“Raka, pulang!”

Aku menatapnya.

“Bu, sebelum pulang, saya butuh kunci rumah yang masih Ibu pegang.”

“Saya tidak punya!”

Aku mengambil ponsel dan membuka rekaman kamera pintu dari beberapa hari sebelumnya.

Terlihat jelas Bu Yuliana membuka rumah menggunakan kunci cadangan.

Wajahnya berubah.

Aku tidak mengancam.

Tidak berteriak.

Aku hanya mengulurkan tangan.

Beberapa detik kemudian, ia membuka tas dan melempar kunci ke meja.

“Nih!”

Aku mengambilnya.

“Terima kasih.”

Kemudian aku menatap Citra.

“Kunci mobil?”

Citra segera merogoh tasnya.

Ia meletakkannya tanpa bicara.

Raka menatapku.

“Jadi kamu mau mengusirku?”

“Aku minta kamu tinggal sementara di rumah ibumu.”

“Ini juga rumahku!”

Pak Arman yang sejak tadi diam akhirnya bicara.

“Pak Raka.”

Raka menoleh.

Pria itu berkata dengan nada datar, “Saya sarankan jangan memperburuk situasi dengan pernyataan seperti itu.”

Bu Yuliana memandangnya tajam.

Pak Arman merapikan dokumennya.

“Saya juga perlu menjelaskan satu hal sebelum pergi.”

Ia menunjuk rancangan kesepakatan yang tadi dibawanya.

“Dokumen yang keluarga Bapak minta saya siapkan bukan bukti bahwa Bapak sudah memiliki setengah rumah.”

Raka terdiam.

“Kalau Ibu Nadira menandatanganinya, justru itu merupakan bentuk persetujuan baru darinya.”

Aku menatap Raka.

Akhirnya bagian terakhir terbuka.

Selama ini mereka bukan sedang memperjuangkan hak yang sudah mereka miliki.

Mereka berusaha membuatku menandatangani dokumen agar hak itu muncul.

Pak Arman menatap Bu Yuliana.

“Kalau sejak awal saya diberi informasi lengkap, saya tidak akan menyampaikan persoalan ini dengan kerangka yang sama.”

Bu Yuliana berdiri kaku.

Lalu ia mengambil tasnya.

“Citra. Kita pulang.”

Tidak ada yang mencegah.

Raka tetap duduk sekitar lima menit setelah mereka pergi.

Kami tidak berbicara.

Untuk pertama kalinya, rumah terasa terlalu sunyi.

Akhirnya ia bertanya, “Kamu benar-benar mau berpisah?”

Aku menjawab jujur.

“Aku belum mengajukan apa pun pagi ini.”

Wajahnya sedikit berubah.

Seolah masih ada harapan.

Namun aku melanjutkan.

“Tapi setelah semua yang kudengar hari ini, aku akan mengajukannya.”

“Nadira…”

“Aku bisa memaafkan ibumu karena beliau bukan orang yang mengucapkan janji pernikahan kepadaku.”

Ia menatapku.

“Tapi kamu berbeda.”

Suaraku mulai bergetar untuk pertama kalinya.

“Kamu berdiri di sampingku saat akad.”

“Kamu tanda tangan perjanjian itu.”

“Kamu dengar ibuku menjelaskan kenapa dia memberikan rumah ini kepadaku.”

“Kamu tahu ibumu punya utang.”

“Kamu tahu aku tidak setuju.”

Aku menarik napas.

“Tapi kamu tetap mengambil dokumenku.”

Ia menunduk.

“Aku cuma ingin membantu Mama.”

“Aku tahu.”

“Dia ibu yang membesarkanku.”

“Aku tahu.”

“Aku terjepit.”

Aku menggeleng.

“Tidak.”

Aku menatap matanya.

“Kamu membuat pilihan.”

Kalimat itu membuatnya diam.

Karena sebenarnya sesederhana itu.

Selama dua belas hari aku terus diberi tahu bahwa Raka “terjepit” antara istri dan ibunya.

Seolah ia tidak punya kendali.

Padahal setiap kali konflik muncul, ia selalu memilih.

Ia memberikan kunci rumah.

Ia memberikan mobil kepada Citra.

Ia mengambil salinan dokumen.

Ia membawa pengacara.

Itu semua pilihan.

Raka pergi sore itu membawa koper.

Aku menangis setelah pintu tertutup.

Bukan karena kehilangan rumah tangga yang sempurna.

Melainkan karena akhirnya menerima bahwa rumah tangga sempurna itu memang tidak pernah ada.

Seminggu kemudian, kedua keluarga bertemu.

Bukan di rumahku.

Aku memilih kantor notaris.

Ibuku datang bersamaku.

Ayah duduk di sebelahnya.

Bu Yuliana datang dengan wajah dingin.

Raka tampak jauh lebih kurus.

Awalnya mereka meminta agar masalah ini “diselesaikan baik-baik”.

Aku setuju.

Lalu Bu Yuliana menyampaikan syarat yang menurutnya sangat masuk akal.

Aku dan Raka tetap bersama.

Citra tidak jadi tinggal di rumahku.

Sebagai gantinya, aku “cukup membantu” usaha kateringnya dengan Rp250 juta.

Aku menatapnya cukup lama.

Lalu Ibu tertawa.

Itu pertama kalinya selama seluruh masalah ini aku melihat ibuku tertawa di depan Bu Yuliana.

“Mbak Yuli,” kata Ibu, “anak saya datang untuk membicarakan rumah tangganya. Bukan mengajukan kredit usaha.”

Wajah Bu Yuliana merah padam.

Raka langsung berkata, “Ma, sudah.”

Namun ibunya masih protes.

“Kalau menantu membantu mertua salahnya di mana?”

Ibuku menjawab tenang.

“Tidak salah.”

Ia menatap Bu Yuliana.

“Yang salah adalah menganggap bantuan sebagai kewajiban, lalu memakai pernikahan sebagai alat untuk memaksanya.”

Tidak ada yang bisa membantah.

Pertemuan berakhir tanpa rekonsiliasi.

Dua minggu kemudian aku resmi mengajukan gugatan cerai.

Prosesnya tidak selesai dalam sehari.

Ada mediasi.

Ada panggilan.

Ada malam-malam ketika aku bertanya apakah keputusanku terlalu cepat.

Namun setiap kali ragu, aku membaca ulang pesan Raka:

Kamu tinggal tanda tangan supaya separuh rumah dimasukkan sebagai milik bersama.

Keraguanku selalu hilang.

Dalam proses mediasi, Raka beberapa kali mengatakan bahwa ia masih mencintaiku.

Aku percaya mungkin sebagian dari dirinya memang mencintaiku.

Tetapi cinta saja tidak cukup ketika seseorang tidak menghormati batas, keputusan, dan keamanan pasangannya.

Pengacara kami memeriksa seluruh aset.

Rumah hibah tetap tercatat sebagai milikku.

Mobil pemberian Ibu tetap atas namaku.

Deposito tetap terpisah.

Adapun beberapa perabot dan barang yang memang kami beli bersama setelah menikah, aku tidak mempersulit.

Televisi yang Raka beli, kubiarkan ia ambil.

Mesin kopi yang dibayar dari rekeningnya, silakan.

Beberapa barang kecil kami selesaikan tanpa pertengkaran.

Aku tidak ingin mengambil sesuatu yang bukan milikku.

Justru itulah poin yang selama ini ingin kusampaikan kepada keluarganya.

Empat bulan setelah hari ketika Bu Yuliana datang membawa pengacara, pernikahan kami resmi berakhir.

Raka menungguku di luar setelah sidang terakhir.

“Nadira.”

Aku berhenti.

Ia terlihat berbeda.

Tidak lagi marah.

Hanya lelah.

“Mama menjual sebagian peralatan katering.”

Aku mengangguk.

“Utangnya?”

“Masih ada, tapi sudah lebih kecil.”

Aku tidak bertanya lebih jauh.

Ia menatapku.

“Aku sekarang mengerti kenapa kamu marah.”

Aku tersenyum tipis.

“Bukan karena rumahnya, Rak.”

“Aku tahu.”

Untuk pertama kalinya ia benar-benar terdengar memahami.

“Karena aku membuatmu merasa rumahmu sendiri tidak aman.”

Aku diam.

Ia melanjutkan.

“Aku pikir setelah menikah, berbagi berarti tidak boleh ada batas.”

Aku menjawab, “Berbagi hanya punya arti kalau orang yang punya sesuatu diberi hak mengatakan iya atau tidak.”

Raka mengangguk.

“Aku terlambat mengerti.”

“Iya.”

Tidak ada pelukan.

Tidak ada adegan dramatis.

Tidak ada permintaan agar kami mencoba lagi.

Kami hanya berdiri beberapa detik sebagai dua orang yang pernah ingin menghabiskan hidup bersama, lalu gagal memahami arti saling menghormati.

Sebelum pergi, Raka berkata, “Maaf.”

Aku percaya permintaan maaf itu tulus.

Tetapi permintaan maaf tidak selalu berarti pintu harus dibuka kembali.

Kadang permintaan maaf hanya menjadi tanda bahwa dua orang akhirnya boleh berjalan ke arah berbeda tanpa membawa kebencian.

Enam bulan kemudian, ruang kerja di lantai dua rumahku selesai direnovasi.

Bukan karena rusak.

Aku hanya ingin mengubah suasananya.

Rak buku yang dulu hampir dibongkar Bu Yuliana dicat ulang.

Aku memasang meja kayu baru menghadap jendela.

Di salah satu dinding, kugantung foto kecil bersama Ibu dan Ayah.

Depositoku masih utuh.

Aku mengambil sebagian bunga dan tabungan kerjaku sendiri untuk membuka studio desain kecil bersama dua teman.

Pada bulan pertama kami hanya mendapatkan empat proyek.

Bulan ketiga menjadi sembilan.

Bulan keenam, aku harus menambah seorang staf.

Suatu Minggu pagi, Ibu datang membawa bubur ayam.

Ia berdiri di pintu ruang kerjaku sambil melihat sekeliling.

“Bagus.”

Aku tersenyum.

“Dulu ada yang bilang ruangan sebesar ini sayang kalau cuma dipakai kerja.”

Ibu tertawa.

Kami duduk dekat jendela.

Aku bertanya sesuatu yang sejak lama kusimpan.

“Bu, waktu sebelum aku menikah, kenapa Ibu bersikeras membuat semua dokumen itu?”

Ibu mengaduk buburnya perlahan.

“Karena Ibu berharap kamu tidak akan pernah membutuhkannya.”

Aku terdiam.

“Tapi kalau ternyata kamu membutuhkan, Ibu ingin kamu punya pilihan.”

Aku menatap rumah yang pagi itu dipenuhi cahaya.

Akhirnya aku mengerti.

Rumah itu bukan hadiah agar aku terlihat kaya.

Deposito itu bukan cara Ibu memanjakanku.

Mobil itu bukan simbol status.

Semua itu adalah pilihan.

Pilihan untuk tidak bertahan hanya karena takut tidak punya tempat tinggal.

Pilihan untuk berkata tidak ketika seseorang melewati batas.

Pilihan untuk pergi ketika rasa hormat sudah hilang.

Dan dokumen yang membuat wajah ibu mertuaku membeku pada hari kedua belas pernikahanku bukan sekadar beberapa lembar kertas bertanda tangan.

Itu adalah pengingat bahwa menikah tidak pernah berarti menyerahkan seluruh dirimu kepada keluarga orang lain.

Aku pernah mengira akhir pernikahanku adalah kegagalan terbesar dalam hidupku.

Sekarang tidak lagi.

Kegagalan terbesar justru akan terjadi jika hari itu aku menandatangani dokumen yang mereka sodorkan, menyerahkan rumahku, menyerahkan uangku, dan meyakinkan diri bahwa semua itu harus kuterima demi disebut “istri yang baik”.

Pagi itu Ibu berdiri hendak pulang.

Sebelum menuruni tangga, ia menoleh ke arahku.

“Sekarang rumah ini terasa lebih hidup.”

Aku melihat ruang kerja.

Melihat meja yang kembali pada tempatnya.

Melihat cahaya yang masuk dari jendela.

Lalu aku tersenyum.

“Iya, Bu.”

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, kalimat itu terasa benar.

Rumah ini tidak lagi dipenuhi suara orang yang sibuk menentukan apa yang boleh kupertahankan dan apa yang harus kuserahkan.

Tidak ada lagi yang datang membawa tukang untuk membongkar ruanganku.

Tidak ada lagi yang meminta kunci cadangan.

Tidak ada lagi yang menghitung depositoku.

Tidak ada lagi yang menggunakan kata “keluarga” sebagai alasan untuk mengambil keputusan dariku.

Yang tersisa hanya rumah yang sejak awal diberikan ibuku untuk satu tujuan sederhana:

agar apa pun yang terjadi dalam hidupku,

aku selalu punya tempat untuk berdiri dengan kedua kakiku sendiri.

Dan kali ini, aku tidak akan menyerahkan tempat itu kepada siapa pun.