Bagian 3 — Aku Tidak Membalas dengan Teriakan, Tetapi dengan Bukti yang Membuat Mereka Membayar Semuanya

Avatar penulis
Cerita 02
14 menit baca 479 tayangan
Bagian 3 — Aku Tidak Membalas dengan Teriakan, Tetapi dengan Bukti yang Membuat Mereka Membayar Semuanya
Indeks

Bagian 3 — Aku Tidak Membalas dengan Teriakan, Tetapi dengan Bukti yang Membuat Mereka Membayar Semuanya

Aku membaca pesan itu tiga kali.

Bukan karena aku tidak mengerti.

Justru karena aku mengerti terlalu jelas.

Begitu akad Fikri selesai, dia juga nggak akan tega bikin ribut.

Jadi semuanya sudah dihitung.

Bukan hanya uang.

Mereka menghitung reaksiku.

Mereka menghitung rasa malu yang mungkin membuatku diam.

Mereka menghitung perasaan tidak enak kepada keluarga.

Mereka bahkan menghitung kemungkinan aku memilih mempertahankan pernikahan daripada menyeret suamiku sendiri ke masalah hukum.

Aku meletakkan ponsel Fikri di meja.

“Kirimi aku semuanya.”

Fikri mengangguk.

“Mbak…”

Aku menatapnya.

“Aku benar-benar tidak tahu Kak Raka menggunakan identitas Mbak.”

“Aku percaya bagian itu.”

Dia terlihat hampir menangis.

“Mama bilang Kak Raka dapat pinjaman dari kantor.”

Aku tersenyum pahit.

“Tentu saja.”

Semakin banyak yang kubongkar, semakin jelas pola mereka.

Kebohongan mereka tidak dibuat untuk meyakinkan semua orang.

Cukup setiap orang diberi satu versi cerita berbeda supaya tidak ada yang membandingkan.

Kepada Fikri, uang itu disebut pinjaman kantor.

Kepada keluarga calon pengantin, disebut tabungan kakak.

Kepada perusahaan pembiayaan, aku dibuat seolah-olah menjadi pemohon.

Dan kepadaku?

Aku bahkan tidak diberi cerita.

Aku hanya diberi utangnya.

“Ada lagi yang perlu aku tahu?” tanyaku.

Fikri menunduk.

“Ada.”

Dia membuka percakapan lain.

Kali ini antara Raka dan Ibu Ratih.

Pesannya berasal dari tiga bulan sebelumnya.

Raka: Ma, uang investasiku nyangkut.

Ibu Ratih: Berapa?

Raka: Hampir 180 juta.

Ibu Ratih: Nadia tahu?

Raka: Jangan sampai.

Pesan berikutnya berasal dari beberapa minggu kemudian.

Ibu Ratih: Utang toko Mama juga sudah ditagih supplier. Kalau pernikahan Fikri jadi bulan depan, kita butuh uang sekaligus.

Raka: Aku coba cari jalan.

Lalu kalimat yang membuat telapak tanganku dingin:

Ibu Ratih: Data Nadia lengkap kan di rumah?

Aku berhenti membaca.

Tidak perlu lagi.

Bukan keputusan spontan.

Bukan suami yang panik karena adiknya akan menikah.

Bukan anak yang terjepit antara istri dan ibu.

Mereka merencanakannya.

Sedikit demi sedikit.

Dokumenku.

Ponselku.

Wajahku.

Limit kreditku.

Semua berubah menjadi inventaris keluarga yang mereka pikir bisa dipakai ketika dibutuhkan.

Aku mengirim seluruh screenshot itu ke email khusus yang baru kubuat.

Kemudian aku bertanya kepada Fikri,

“Keluarga Nisa sudah menerima uang?”

“Hanya uang tanda jadi gedung dan sebagian kebutuhan acara.”

“Berapa?”

“Sekitar seratus tiga puluh juta.”

“Uang panai?”

“Belum semua.”

“Kalau acara batal?”

Fikri menghela napas.

“Aku belum tahu.”

Untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, aku melihat masalah dari sudut berbeda.

Fikri memang menerima manfaat.

Tetapi dari semua orang di keluarga itu, mungkin justru dia yang paling sedikit tahu.

“Aku tidak akan menyuruhmu membatalkan pernikahan,” kataku.

Dia menatapku.

“Tapi satu rupiah pun yang berasal dari pinjaman atas namaku harus dikembalikan.”

Fikri mengangguk cepat.

“Aku akan bicara dengan Nisa.”

“Jangan bohong kepadanya.”

Dia mengangguk lagi.

“Ceritakan semuanya.”

Sore itu, aku datang bersama kuasa hukum ke perusahaan pembiayaan.

Aku tidak ingin sekadar menelepon layanan pelanggan.

Aku ingin ada jejak dokumen.

Kami menyerahkan laporan polisi, bukti percakapan, kronologi penggunaan perangkat, dan rekaman CCTV rumah.

Kamera ruang keluarga kami sebenarnya dipasang Raka sendiri satu tahun sebelumnya setelah paket belanja daring beberapa kali hilang dari teras.

Ironisnya, kamera itu sekarang menjadi salah satu bukti terpenting.

Rekaman pukul 02.43 memperlihatkan Raka keluar dari kamar.

Dia mengambil ponselku dari meja.

Kemudian duduk di ujung sofa tempat aku tidur.

Sudut kamera tidak memperlihatkan layar.

Tetapi terlihat jelas dia mengarahkan ponsel ke wajahku selama beberapa detik.

Lalu melakukannya lagi.

Pukul 02.49 dia berjalan menuju meja kerja.

Pukul 03.06 dia kembali membawa map dokumen.

Aku menonton rekaman itu tanpa suara.

Ternyata melihat pengkhianatan dari luar tubuh sendiri terasa lebih kejam.

Di video itu aku tampak begitu tenang.

Tidur dengan kepala bersandar pada bantal.

Sama sekali tidak tahu laki-laki yang seharusnya menjagaku sedang duduk kurang dari satu meter dariku dan menggunakan wajahku sebagai kunci.

Petugas fraud menghentikan video.

“Bu Nadia, kami juga menemukan beberapa anomali.”

Dia menunjukkan data pengajuan.

Nomor rekening pencairan awalnya memang rekening atas namaku.

Tetapi beberapa menit setelah dana masuk, dilakukan pemindahan dalam dua tahap.

Rp800 juta ke rekening Ibu Ratih.

Rp160 juta ke Raka.

Perangkat yang digunakan sama.

Alamat jaringan juga cocok dengan internet rumah kami.

Kuasa hukumku meminta semuanya dituangkan dalam berita pemeriksaan internal.

Petugas mengangguk.

“Kami belum bisa membuat keputusan final hari ini, tetapi selama investigasi berjalan, penagihan terhadap Ibu akan kami hentikan sementara.”

Itu bukan kemenangan.

Tetapi setidaknya aku bisa bernapas.

Malamnya Raka datang ke apartemen sahabatku.

Dia tidak tahu nomor unit.

Jadi dia menunggu di lobi.

Aku turun karena aku memang ingin menemuinya sekali.

Bukan untuk berdamai.

Untuk mendengar seberapa jauh dia masih berani berbohong ketika dia belum tahu bukti apa yang kumiliki.

Raka berdiri saat melihatku.

Matanya merah.

Bajunya kusut.

“Nad.”

“Ada sepuluh menit.”

“Kamu benar-benar lapor polisi?”

“Ya.”

Dia memejamkan mata.

“Kenapa harus sejauh itu?”

Aku hampir kagum.

“Sejauh itu?”

“Kita bisa bereskan sendiri.”

“Bagaimana?”

“Aku bayar cicilannya.”

“Dengan penghasilanmu sekarang?”

“Aku jual mobil.”

“Mobil masih kredit.”

Dia terdiam.

“Aku pinjam teman.”

“Jadi membayar pinjaman hasil penipuan dengan pinjaman baru?”

“Nadia!”

Beberapa orang di lobi menoleh.

Aku tidak meninggikan suara.

“Jangan panggil namaku seolah aku yang membuat masalah.”

Raka mengusap wajah.

“Aku panik.”

“Selama tiga bulan?”

Dia membeku.

Aku melanjutkan.

“Seratus delapan puluh juta investasi yang hilang.”

Wajahnya langsung berubah.

“Utang toko Mama.”

Bibirnya terbuka.

“Pesan kalian tentang data pribadiku.”

“Nad…”

“Dan rencana kalian bahwa setelah akad Fikri selesai, aku tidak akan tega membuat keributan.”

Kali ini benar-benar tidak ada warna tersisa di wajahnya.

Dia tahu.

Semua yang selama ini dia simpan sudah terbuka.

“Aku bisa jelaskan.”

“Aku sudah terlalu sering mendengar itu.”

“Aku malu cerita soal investasinya.”

“Itu bukan masalah terbesar.”

“Aku takut kamu marah.”

“Bukan itu juga.”

“Aku ingin mengembalikan uangnya sebelum kamu tahu.”

Aku menatapnya.

“Nah.”

Dia terdiam.

“Itulah masalah sebenarnya.”

“Apa?”

“Kamu tidak menyesal karena melakukan ini.”

Aku mendekat satu langkah.

“Kamu menyesal karena aku tahu sebelum kamu sempat menutupinya.”

Raka mulai menangis.

Tapi anehnya, tangisannya tidak lagi menyentuh bagian apa pun dalam diriku.

Mungkin karena aku sudah melihat terlalu banyak angka.

Terlalu banyak pesan.

Terlalu banyak kebohongan yang ditulis dengan tenang.

“Nadia, enam tahun kita menikah.”

“Aku tahu.”

“Kita pernah bahagia.”

“Aku juga tahu.”

“Jangan buang semuanya gara-gara satu kesalahan.”

Aku menatapnya beberapa detik.

Kemudian menggeleng.

“Memindai wajah istrimu ketika dia tidur bukan satu kesalahan.”

“…”

“Mengambil KTP-nya bukan satu kesalahan.”

“…”

“Mengajukan pinjaman bukan satu kesalahan.”

“…”

“Mentransfer uang bukan satu kesalahan.”

“…”

“Berbohong bukan satu kesalahan.”

“…”

“Merencanakan supaya aku terjebak setelah pernikahan adikmu juga bukan satu kesalahan.”

Aku berhenti.

“Itu rangkaian keputusan.”

Dia tidak bisa menjawab.

Aku mengeluarkan sebuah amplop.

Tangannya langsung bergetar.

“Apa ini?”

“Salinan permohonan perceraian.”

Raka mundur setengah langkah.

“Nadia…”

“Aku akan tetap melanjutkan proses pidana dan sengketa kredit.”

Dia menatap amplop itu seperti sedang melihat vonis.

“Tidak.”

“Aku tidak meminta izin.”

“Nad, jangan.”

“Sepuluh menit selesai.”

Aku berbalik.

Dia mengejarku dua langkah.

“Aku bisa berubah!”

Aku berhenti tanpa menoleh.

“Mungkin.”

Dia diam.

“Tapi kalau kamu berubah nanti, itu bukan lagi tugasku untuk menunggu.”

Aku masuk lift.

Pintu tertutup.

Dan untuk pertama kali sejak telepon Ibu Ratih berbunyi di ruang rapat, aku merasa keputusan hidupku kembali berada di tanganku.

Masalah berikutnya justru datang dari keluarga besar.

Entah siapa yang menyebarkan cerita, dua hari kemudian beberapa kerabat Raka mulai mengirim pesan.

Ada yang halus.

Nadia, pikirkan nama baik keluarga.

Ada yang lebih terang-terangan.

Masa suami sendiri dilaporkan?

Ada pula yang menyalahkanku.

Kalau dari awal kamu mau membantu adik ipar, Raka tidak perlu mengambil jalan seperti itu.

Aku tidak membalas satu pun.

Sampai seorang tante Raka menulis:

Perempuan berpenghasilan tinggi biasanya memang susah menghormati suami.

Aku screenshot semua pesan.

Kemudian mematikan notifikasi.

Dulu mungkin aku akan menjelaskan.

Sekarang aku tidak tertarik.

Orang yang ingin memahami masalah tidak membutuhkan dua puluh penjelasan.

Dan orang yang sudah memutuskan menyalahkanmu tidak akan berubah meski diberi dua ratus bukti.

Tiga hari kemudian, Nisa menghubungiku.

Aku sedikit terkejut.

Kami hanya pernah bertemu dua kali.

“Mbak Nadia, boleh saya bertemu?”

Kami bertemu di sebuah restoran kecil.

Nisa datang bersama ayahnya.

Wajah keduanya terlihat serius.

Begitu duduk, ayah Nisa langsung berkata,

“Bu Nadia, saya baru tahu sumber uang yang dikirim keluarga Fikri.”

Aku menunggu.

“Kami tidak mau menerima uang seperti itu.”

Dia meletakkan bukti transfer.

Sebagian uang yang sebelumnya masuk telah dikembalikan ke rekening yang ditunjuk oleh penyidik.

Aku menatap Nisa.

“Bagaimana dengan pernikahan?”

Nisa menghela napas.

“Kami tunda.”

“Karena masalah ini?”

“Bukan hanya karena uang.”

Dia tersenyum tipis.

“Saya perlu memastikan setelah menikah nanti, keputusan rumah tangga kami tidak dikendalikan orang lain.”

Aku langsung mengerti.

Fikri rupanya juga mulai melihat keluarganya dengan cara berbeda.

Nisa melanjutkan,

“Fikri setuju kami menikah sederhana kalau semuanya sudah selesai.”

Ayahnya mengangguk.

“Pernikahan tidak perlu dibangun dari utang orang yang tidak tahu apa-apa.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi dibanding seluruh ceramah tentang “keluarga” yang kudengar beberapa hari terakhir, justru kalimat itulah yang paling terasa seperti keluarga.

Minggu berikutnya, aset pertama mulai kembali.

Vendor dekorasi mengembalikan uang muka setelah Fikri menjelaskan persoalannya.

Gedung menahan biaya pembatalan, tetapi sebagian besar dana bisa dikembalikan.

Uang dari keluarga Nisa juga dikembalikan.

Total hampir Rp210 juta kembali masuk ke rekening penampungan untuk penyelesaian perkara.

Sementara itu, rekening Ibu Ratih diperiksa.

Barulah diketahui Rp300 juta dari dana yang diterimanya sudah digunakan untuk menutup utang usaha toko sembako yang selama setahun terakhir terus merugi.

Seratus lima puluh juta lainnya dipindahkan ke deposito pendek.

Sisanya masih tersebar di beberapa pembayaran pernikahan.

Saat penyidik bertanya kenapa dia merasa berhak menggunakan pinjaman atas namaku, jawabannya membuatku tidak terkejut sama sekali.

“Dia istri anak saya.”

Sesederhana itu.

Bagi Ibu Ratih, hubungan keluarga adalah surat kuasa tanpa batas.

Kalau aku menikahi Raka, berarti penghasilanku adalah penghasilan keluarga.

Namaku milik keluarga.

Limit kreditku milik keluarga.

Bahkan persetujuanku dianggap formalitas yang boleh diambil belakangan.

Tetapi lembaga pembiayaan, penyidik, dan pengadilan tidak bekerja berdasarkan logika seperti itu.

Mereka bekerja berdasarkan bukti.

Dan bukti kami terlalu jelas.

Tiga bulan setelah kejadian, perusahaan pembiayaan menyelesaikan pemeriksaan internal.

Aku menerima surat resmi.

Fasilitas kredit tersebut dinyatakan bermasalah karena proses persetujuannya terbukti dilakukan tanpa otorisasi sah dariku.

Status penagihan kepadaku dihentikan.

Catatan internal terkait tunggakan juga dikoreksi.

Aku membaca surat itu di meja kerjaku.

Pelan-pelan.

Baris demi baris.

Saat sampai pada paragraf terakhir, aku baru menyadari tanganku gemetar.

Bukan karena takut.

Karena lega.

Selama berminggu-minggu, angka Rp960 juta itu terasa seperti batu besar yang digantungkan di leherku.

Sekarang, untuk pertama kalinya, batu itu dilepas.

Tetapi uang tetap harus dikembalikan oleh pihak yang menerimanya.

Dan kali ini, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi di balik kata “keluarga”.

Ibu Ratih akhirnya menjual sebidang tanah warisan di Kabupaten Gowa yang selama bertahun-tahun dia pertahankan.

Dia juga mencairkan deposito dan menjual beberapa perhiasan.

Raka menjual motor gede yang diam-diam dibelinya dua tahun lalu.

Aku bahkan baru mengetahui motor itu dibeli dengan bonus tahunan yang dulu dia bilang sudah habis untuk membantu ibunya berobat.

Satu kebohongan membuka kebohongan lain.

Lalu kebohongan berikutnya.

Pada akhirnya, dana yang berhasil dikembalikan mencapai sebagian besar nilai kerugian.

Sisanya menjadi kewajiban Raka dan Ibu Ratih berdasarkan penyelesaian hukum yang berjalan bersamaan dengan perkara mereka.

Raka sempat mencoba meminta mediasi keluarga.

Aku datang sekali.

Hanya sekali.

Di ruangan itu hadir dua paman, seorang tante, Ibu Ratih, Raka, kuasa hukum masing-masing, dan seorang mediator.

Ibu Ratih menangis hampir sejak menit pertama.

“Nadia, Mama sudah tua.”

Aku diam.

“Mama memang salah.”

Aku tetap diam.

“Tapi apa kamu tega lihat Raka hidupnya hancur?”

Aku akhirnya menjawab.

“Bu, ketika saya tidur malam itu, apa Ibu pernah bertanya apakah Ibu tega?”

Ruangan langsung sunyi.

Dia menunduk.

Aku melanjutkan.

“Ketika Ibu menyuruh dia memakai data saya, apakah Ibu memikirkan hidup saya?”

Tidak ada jawaban.

“Ketika Ibu meminta saya menandatangani surat palsu bahwa saya tahu soal pinjaman itu, apakah Ibu berpikir saya akan menanggung konsekuensinya bertahun-tahun?”

Ibu Ratih menangis lebih keras.

“Niat Mama cuma membantu anak.”

Aku mengangguk.

“Itu masalahnya.”

Dia menatapku.

“Ibu merasa boleh menghancurkan satu anak untuk membantu anak lain.”

Tidak ada lagi yang perlu kukatakan.

Aku meninggalkan mediasi tanpa mencabut laporan.

Proses perceraian selesai beberapa bulan kemudian.

Raka sempat menolak.

Lalu mencoba meminta kesempatan.

Kemudian marah.

Kemudian menyalahkanku.

Kemudian kembali meminta maaf.

Semua fase itu berlalu seperti cuaca.

Aku tidak lagi ikut berubah bersamanya.

Ketika hakim akhirnya mengesahkan perceraian kami, aku keluar dari gedung pengadilan tanpa menangis.

Sahabatku, Maya, sudah menunggu di luar.

Dia menyerahkan segelas kopi.

“Gimana rasanya?”

Aku memikirkan pertanyaannya.

“Sepi.”

“Sedih?”

“Sedikit.”

Aku tersenyum.

“Tapi ringan.”

Maya mengangguk.

Kami tidak mengadakan perayaan.

Tidak ada makan malam besar.

Tidak ada foto dengan tulisan “akhirnya bebas”.

Kami hanya makan bakso di warung dekat kantor pengadilan.

Dan entah kenapa, mangkuk bakso biasa itu terasa seperti makanan terenak yang pernah kumakan.

Perkara terhadap Raka dan Ibu Ratih berakhir hampir sepuluh bulan setelah malam itu.

Pengadilan menyatakan ada penggunaan data pribadi, dokumen, dan akses elektronik tanpa persetujuanku dalam proses pengajuan kredit.

Raka menerima hukuman pidana setelah pengadilan mempertimbangkan perannya sebagai pelaku utama yang melakukan akses dan verifikasi.

Ibu Ratih juga dimintai pertanggungjawaban atas keterlibatannya dalam perencanaan dan penerimaan dana.

Selain hukuman yang dijatuhkan pengadilan, keduanya tetap diwajibkan menyelesaikan pengembalian kerugian yang belum tertutup.

Aku tidak datang ketika putusan dibacakan.

Kuasa hukumku yang memberi kabar.

Aneh.

Dulu aku membayangkan saat itu akan terasa memuaskan.

Aku pikir mungkin aku akan tersenyum.

Mungkin merasa menang.

Ternyata tidak.

Aku hanya menutup laptop, berdiri, lalu membuat secangkir teh.

Karena pada akhirnya, kemenangan terbesarku bukan melihat mereka dihukum.

Kemenangan terbesarku adalah kenyataan bahwa utang itu bukan lagi milikku.

Kebohongan mereka bukan lagi tanggung jawabku.

Dan keluarga mereka bukan lagi penjara tempat aku harus tinggal sambil terus diminta mengerti.

Enam bulan setelah perceraian, Fikri menikah dengan Nisa.

Pernikahannya jauh berbeda dari rencana awal.

Tidak ada ballroom hotel.

Tidak ada ratusan tamu.

Tidak ada dekorasi puluhan juta.

Mereka menikah di sebuah gedung sederhana dekat rumah keluarga Nisa.

Tamu tidak sampai seratus orang.

Aku tahu karena Fikri mengirim foto setelah acara selesai.

Aku tidak datang.

Bukan karena marah kepadanya.

Aku hanya merasa beberapa pintu memang lebih baik ditutup.

Dalam foto itu Fikri dan Nisa berdiri sambil tersenyum.

Di bawah foto, Fikri menulis:

Mbak, akhirnya kami menikah pakai uang kami sendiri. Terima kasih karena waktu itu Mbak memaksa aku melihat semuanya dengan jujur.

Aku membaca pesan itu cukup lama.

Kemudian membalas:

Jaga rumah tanggamu dengan cara yang berbeda. Jangan pernah membuat pasanganmu takut tidur di sampingmu.

Dia membalas satu kata.

Iya.

Aku menutup percakapan.

Setahun berlalu.

Aku pindah dari rumah yang dulu kutinggali bersama Raka.

Rumah itu akhirnya dijual sebagai bagian dari penyelesaian aset perceraian.

Aku membeli apartemen yang lebih kecil.

Tidak ada halaman luas.

Tidak ada ruang keluarga besar.

Tetapi setiap sudutnya kupilih sendiri.

Kunci elektroniknya hanya menyimpan biometrikku.

Dokumen penting kusimpan di safe deposit box.

Ponselku tidak pernah lagi kubiarkan terbuka ketika tidur.

Orang mungkin menganggap itu berlebihan.

Bagiku tidak.

Kepercayaan yang rusak mengajarkan kebiasaan baru.

Tetapi ia juga mengajarkanku satu hal lain:

Berhati-hati bukan berarti hidup dalam ketakutan.

Aku tetap bekerja.

Tetap bertemu orang.

Tetap tertawa.

Bahkan beberapa bulan kemudian, ketika seorang teman mengenalkanku kepada seseorang, aku tidak menutup kemungkinan.

Aku hanya tidak terburu-buru.

Aku sudah belajar bahwa seseorang bisa berkata mencintaimu sambil merasa berhak mengambil keputusan atas hidupmu.

Sekarang aku melihat cinta dengan standar berbeda.

Bukan seberapa sering seseorang mengatakan,

“Aku melakukan ini demi keluarga.”

Tetapi apakah dia masih menghormati batasmu ketika keinginannya bertabrakan dengan keinginanmu.

Bukan apakah dia mau berkorban.

Tetapi apakah dia menganggapmu manusia yang berhak berkata tidak.

Suatu sore, aku kembali berdiri di ruang rapat.

Proyek baru.

Klien baru.

Presentasi baru.

Ponselku terletak terbalik di atas meja.

Ketika presentasi hampir selesai, ponsel itu bergetar.

Hanya sekali.

Aku meliriknya.

Sebuah email dari perusahaan pembiayaan.

Judulnya:

KONFIRMASI PENUTUPAN FASILITAS SENGKETA.

Setelah rapat selesai, aku membuka email itu.

Saldo kewajiban atas namaku:

Rp0.

Status:

DITUTUP.

Aku duduk sendirian beberapa detik.

Setahun sebelumnya, di ruangan yang hampir sama, sebuah telepon telah membuatku mengetahui bahwa seseorang menggunakan wajahku ketika aku tidur untuk menciptakan utang hampir satu miliar rupiah.

Hari ini, layar ponsel yang sama memberitahuku bahwa tidak ada satu rupiah pun dari pengkhianatan itu yang tersisa atas namaku.

Aku mematikan layar.

Lalu berjalan keluar dari ruang rapat.

Tidak ada musik dramatis.

Tidak ada orang yang bertepuk tangan.

Tidak ada mantan suami yang berlari mengejarku sambil menyesal.

Hanya aku.

Tas kerja di bahu.

Langkah yang ringan.

Dan sebuah hidup yang akhirnya kembali menjadi milikku sendiri.