Bagian 3 — Ketika Semua Bukti Dibuka, Mereka Baru Tahu Siapa yang Selama Ini Mereka Remehkan

Avatar penulis
Cerita 02
15 menit baca 1,018 tayangan
Bagian 3 — Ketika Semua Bukti Dibuka, Mereka Baru Tahu Siapa yang Selama Ini Mereka Remehkan
Indeks

Bagian 3 — Ketika Semua Bukti Dibuka, Mereka Baru Tahu Siapa yang Selama Ini Mereka Remehkan

Aku tidak pulang ke rumah malam itu.

Aku menginap di apartemen kecil milik sahabatku, Sinta, di Tebet.

Selama perjalanan, Arga menelepon tujuh belas kali.

Aku tidak mengangkat satu pun.

Pesannya masuk terus-menerus.

Maya, jangan ambil keputusan saat emosi.

Lima menit kemudian:

Soal apartemen bisa aku jelaskan.

Lalu:

Tidak ada apa-apa antara aku dan Alya.

Kemudian:

Kita sudah enam tahun menikah. Masa semuanya selesai gara-gara malam ini?

Aku membaca kalimat terakhir berulang kali.

Gara-gara malam ini.

Seolah enam tahun pengabaian, penghinaan, kebohongan, dan keputusan yang dibuat di belakangku tidak pernah terjadi.

Seolah masalah kami baru dimulai ketika sebuah bros patah.

Aku membuka clutch.

Bros bunga melati itu tergeletak dalam dua bagian.

Aku menyentuh bagian yang patah.

Aneh.

Aku tidak menangis.

Mungkin karena ada batas tertentu ketika sakit sudah terlalu lama ditahan sampai tubuh berhenti bereaksi.

Sinta keluar dari kamar membawa segelas air.

Dia tidak banyak bertanya.

Hanya duduk di sampingku.

Setelah beberapa menit, dia berkata,

“Mau cerita?”

Aku menggeleng.

“Besok saja.”

“Kalau mau nangis?”

Aku melihat bros di tanganku.

“Besok juga.”

Malam itu aku tidur kurang dari dua jam.

Pukul delapan pagi, aku sudah berada di kantor pusat PT Ruang Selatan Kreasi di Kemang.

Aku datang lebih awal karena tidak ingin ada dokumen yang tiba-tiba hilang.

Ratih sudah menungguku bersama kepala legal, kepala HR, dan Pak Aditya, notaris yang selama ini menangani urusan korporasi.

Kami memeriksa hasil audit awal.

Angkanya lebih buruk daripada yang kukira.

Dalam sembilan bulan, tiga vendor yang terkait dengan keluarga Alya menerima pembayaran total Rp1,73 miliar.

Tidak semuanya fiktif.

Sebagian pekerjaan memang ada.

Tapi harga digelembungkan.

Beberapa item ditagihkan dua kali.

Ada biaya dokumentasi Rp94 juta untuk acara yang sebenarnya dikerjakan freelancer senilai Rp31 juta.

Ada biaya konsultan Rp180 juta tanpa laporan pekerjaan.

Ada pembelian perangkat produksi konten hampir Rp120 juta, tetapi barangnya tidak tercatat sebagai aset perusahaan.

Yang paling serius adalah penggunaan tanda tangan digitalku pada satu kontrak vendor senilai Rp620 juta.

“Apa kita yakin aksesnya dari akun Alya?” tanyaku.

Kepala IT mengangguk.

“Login dari laptop perusahaan yang diberikan ke Saudari Alya. Waktu akses pukul 23.17. IP dari jaringan kantor.”

“CCTV?”

“Ada.”

Dia memutar rekaman.

Tanggalnya tiga bulan lalu.

Kantor hampir kosong.

Alya terlihat duduk sendirian di meja tim pemasaran.

Beberapa menit kemudian Arga muncul.

Dia berdiri di belakangnya.

Mereka berbicara.

Kami tidak punya audio.

Tapi setelah Arga meninggalkan ruangan, Alya kembali mengetik.

Tiga menit kemudian, sistem mencatat tanda tanganku ditempelkan ke kontrak.

Aku menatap layar lama sekali.

Apakah Arga tahu?

Rekaman itu tidak membuktikannya.

Aku tidak mau menuduh sesuatu yang belum bisa dibuktikan.

“Pisahkan fakta dan dugaan,” kataku kepada tim.

“Jangan ada yang menyebarkan cerita ke luar perusahaan. Kita hanya gunakan data yang bisa diverifikasi.”

Ratih mengangguk.

Itu penting bagiku.

Aku tidak ingin menang dengan cara yang sama seperti mereka memperlakukanku.

Pukul sembilan lewat empat puluh, Arga masuk.

Dia tidak mengenakan jas.

Wajahnya terlihat seperti tidak tidur semalaman.

Begitu melihatku, dia langsung berjalan mendekat.

“Maya, kita bicara berdua.”

“Setelah rapat.”

“Ini rumah tangga kita.”

“Yang akan dibahas sekarang urusan perusahaan.”

Dia menahan napas.

“Aku masih suamimu.”

Aku menatapnya.

“Untuk sementara.”

Wajahnya berubah.

“Maksudmu?”

Pintu lift terbuka lagi.

Alya muncul.

Dia mengenakan kemeja putih dan celana hitam.

Matanya sembap.

Aku bahkan sedikit terkejut dia berani datang.

Arga langsung menoleh.

“Kamu ngapain ke sini?”

“Aku dipanggil HR.”

“Aku bilang kemarin jangan datang dulu.”

“Justru karena Mas bilang begitu aku takut.”

Alya kemudian menatapku.

“Mbak Maya, saya mau jelaskan semuanya.”

Aku melihat jam.

“Jam sepuluh.”

Tepat pukul sepuluh, rapat dimulai.

Struktur kepemilikan PT Ruang Selatan Kreasi sebenarnya tidak pernah rahasia.

Aku memegang 55 persen saham.

Arga 35 persen.

Sisanya 10 persen dimiliki Bima Hartono, arsitek senior yang ikut membangun perusahaan sejak awal.

Selama empat tahun terakhir aku memang jarang muncul di depan klien.

Setelah ibu sakit, aku mengurangi keterlibatan operasional.

Saat ibu meninggal, aku semakin menarik diri.

Arga mengambil hampir seluruh panggung.

Semakin lama, orang-orang menganggap perusahaan itu miliknya.

Aku membiarkannya.

Aku tidak pernah menyangka suatu hari sikap diamku justru dianggap kelemahan.

Pak Aditya membaca agenda rapat.

Evaluasi transaksi bermasalah.

Pemeriksaan tata kelola.

Pembatasan akses sementara.

Dan terakhir, usulan pemberhentian Arga Wiratama sebagai Direktur Utama.

Arga langsung memotong.

“Ini tidak masuk akal.”

Bima menyandarkan tubuh ke kursi.

“Yang tidak masuk akal Rp1,73 miliar keluar tanpa kontrol.”

“Semua untuk proyek.”

Ratih mulai menampilkan dokumen satu per satu.

Quotation awal.

Invoice akhir.

Perbandingan harga.

Hubungan pemilik vendor.

Log persetujuan.

Semakin lama, Arga semakin diam.

Ketika kontrak dengan tanda tanganku muncul, dia langsung menoleh ke Alya.

“Kamu bilang dokumen itu cuma template.”

Alya pucat.

“Maksud Mas apa?”

“Jangan pura-pura.”

“Malam itu Mas sendiri yang bilang proyek jangan tertunda!”

“Aku tidak pernah bilang pakai tanda tangan Maya!”

Alya mulai menangis.

“Aku lakukan karena semua orang di sini selalu lambat! Mas sendiri setiap hari bilang Mbak Maya cuma menghambat keputusan.”

Ruangan mendadak sunyi.

Arga menatapku.

“Maya…”

Aku mengangkat tangan.

“Lanjut.”

Ratih membuka pengeluaran apartemen.

Total Rp168 juta selama enam bulan.

Arga segera berkata,

“Itu akomodasi kerja.”

Kepala keuangan bertanya,

“Kenapa tidak masuk kebijakan perjalanan dinas?”

“Karena Alya sering pulang malam.”

“Kenapa perusahaan membayar apartemen permanen?”

“Supaya tim bisa kerja.”

“Tim yang mana?”

Arga terdiam.

Ratih menunjukkan daftar akses gedung.

Selama enam bulan, hanya dua nama yang tercatat rutin menggunakan unit.

Alya.

Dan Arga.

Aku menatap layar.

Tidak ada foto kamar.

Tidak ada rekaman pribadi.

Tidak ada bukti apa yang terjadi di dalam.

Aku tidak membutuhkan lebih dari itu.

Aku tidak perlu membuktikan perselingkuhan fisik.

Yang sudah terbukti saja cukup.

Suamiku diam-diam membayar tempat tinggal seorang perempuan dengan uang perusahaan.

Datang ke sana berulang kali.

Memberinya akses khusus.

Membiarkannya mengelola vendor keluarga.

Mempersiapkan perusahaan baru dengannya.

Dan merancang “restrukturisasi pribadi” setelah urusan pernikahan kami selesai.

Itu lebih dari cukup.

Arga tiba-tiba berdiri.

“Dokumen perusahaan baru itu cuma wacana.”

Aku bertanya,

“Dibuat oleh akunmu?”

“Iya.”

“Daftar karyawan dibuat olehmu?”

Dia tidak menjawab.

“Daftar klien?”

Diam.

“Rencana keluar setelah pernikahan selesai?”

“Maya, aku sedang marah waktu membuatnya.”

Aku hampir tertawa.

“Orang marah biasanya membanting pintu, Arga. Tidak membuat presentasi dua puluh tiga halaman lengkap dengan proyeksi pendapatan tiga tahun.”

Bima menundukkan kepala agar tidak terlihat tersenyum.

Wajah Arga memerah.

“Perusahaan ini juga hasil kerjaku.”

“Aku tidak menyangkal itu.”

“Kalau bukan karena aku, modalmu sudah habis sejak tahun pertama!”

“Mungkin.”

“Jadi kamu mau menyingkirkan aku begitu saja?”

“Tidak.”

Aku mendorong satu map ke tengah meja.

“Kita akan mengikuti prosedur.”

Untuk pertama kalinya, dia terlihat bingung.

Aku tidak berniat merampas saham Arga.

Aku juga tidak akan memalsukan tuduhan.

Aku tidak perlu.

Perusahaan melakukan audit independen selama tiga puluh hari.

Selama periode itu, akses operasional Arga sebagai Direktur Utama ditangguhkan berdasarkan keputusan pemegang saham dan mekanisme internal yang disiapkan tim legal.

Bima ditunjuk sebagai pelaksana tugas.

Semua transaksi terkait Alya dan vendor-vendor tersebut dibekukan.

Laptop perusahaan diamankan.

Dokumen disalin.

Email diarsipkan.

Dan karena ada indikasi penggunaan tanda tangan digital tanpa izin, perusahaan menyerahkan masalah itu kepada kuasa hukum untuk diproses sesuai jalur hukum yang berlaku.

Alya mulai panik.

“Mbak Maya, jangan polisi.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Saya bisa mengembalikan uangnya.”

“Uang yang mana?”

Dia terdiam.

“Kalau kamu merasa tidak mengambil apa pun, mengapa bicara soal mengembalikan uang?”

Wajahnya langsung kehilangan warna.

Arga menutup mata.

“Alya, cukup.”

Tapi semuanya sudah terlambat.

Dalam pemeriksaan HR berikutnya, satu demi satu cerita mulai terbuka.

Alya bukan otak tunggal di balik semuanya.

Tapi dia juga bukan korban polos seperti yang selalu digambarkan Arga.

Dia merekomendasikan perusahaan milik sepupunya.

Dia mengetahui harga asli vendor.

Dia menerima sebuah laptop produksi konten senilai Rp46 juta yang dibeli perusahaan tetapi kemudian dibawa ke apartemennya.

Dia meminta sepupunya memasukkan biaya konsultan tambahan.

Sebagian selisih pembayaran kemudian digunakan untuk menutup pengeluaran pribadinya.

Arga, di sisi lain, memang tidak terbukti menerima uang dari vendor.

Kesalahannya berbeda.

Dan mungkin justru lebih menyakitkan bagiku.

Dia tahu harga-harga itu tidak wajar.

Dia tetap menyetujui.

Dia memberikan Alya akses yang seharusnya tidak dimiliki anak magang.

Ketika Ratih pernah mempertanyakan salah satu invoice, Arga mengirim email:

Jangan terlalu kaku. Alya orang saya. Proses saja.

Dua kata itu menjadi simbol seluruh masalah.

Orang saya.

Selama enam tahun aku istrinya.

Tapi ketika harus memilih siapa yang dipercaya, dibela, diberi akses, dan dilindungi…

Jawabannya bukan aku.

Tiga hari setelah rapat, aku mengajukan gugatan perceraian melalui pengacara.

Arga datang ke apartemen Sinta malam itu.

Dia menunggu hampir dua jam di lobi.

Aku akhirnya turun.

Dia terlihat jauh berbeda dari pria yang melempar tiramisu kepadaku beberapa malam sebelumnya.

Tidak ada jas mahal.

Tidak ada teman-teman.

Tidak ada Alya.

Hanya dia.

“Maya.”

Aku berdiri tiga meter darinya.

“Bicara di sini.”

“Aku mau kita pulang.”

“Rumah yang mana?”

Dia terdiam.

“Rumah kita.”

“Rumah tidak hilang gara-gara aku pergi tiga malam.”

“Maksudmu?”

“Yang hilang itu rasa aman.”

Arga mengusap wajah.

“Aku memang salah.”

Aku menunggu.

“Aku terlalu membela Alya.”

Aku tetap diam.

“Aku juga salah soal apartemen.”

“Lalu?”

“Soal perusahaan baru juga salah.”

“Lalu?”

Dia mulai kehilangan kesabaran.

“Apa lagi yang kamu mau aku akui?”

Aku menatapnya.

“Itulah masalahnya.”

“Apa?”

“Kamu masih menganggap ini daftar pelanggaran yang kalau sudah kamu sebut satu-satu berarti selesai.”

Aku menarik napas.

“Yang hancur bukan karena apartemen. Bukan karena vendor. Bukan karena kue.”

Aku menatap matanya.

“Yang hancur adalah caramu memandangku.”

Dia tidak bicara.

“Di depan teman-temanmu, kamu mempermalukanku supaya Alya merasa dilindungi.”

“Maya…”

“Ketika aku bilang aku tidak mendorongnya, kamu bahkan tidak mempertimbangkan kemungkinan aku berkata jujur.”

Dia menunduk.

“Ketika benda terakhir peninggalan ibuku patah, kamu bilang bisa beli sepuluh.”

Tanganku mengepal tanpa sadar.

“Dan setelah semua itu, kamu masih bilang besok aku akan normal lagi.”

Arga mengangkat wajah.

Matanya merah.

“Aku tidak tahu kamu sudah sejauh ini.”

Aku tersenyum tipis.

“Itu karena selama ini kamu hanya memperhatikan ketika aku marah.”

Dia seperti tidak mengerti.

“Padahal kamu seharusnya takut ketika aku berhenti marah.”

Dia berjalan satu langkah mendekat.

“Aku bisa berubah.”

“Aku harap begitu.”

Wajahnya sedikit terang.

Lalu aku melanjutkan,

“Tapi bukan untukku.”

Ekspresinya langsung runtuh.

“Maya, jangan.”

“Aku sudah tanda tangan surat kuasa perceraian.”

“Enam tahun begitu saja?”

Aku menatapnya lama.

“Bukan enam tahun yang aku buang.”

“Lalu apa?”

“Aku berhenti membuang tahun ketujuh.”

Aku berbalik.

Arga tidak mengejar.

Untuk pertama kalinya, mungkin dia benar-benar mengerti bahwa ada pintu yang kalau sudah ditutup tidak selalu bisa dibuka dengan permintaan maaf.

Sebulan berikutnya menjadi bulan paling melelahkan dalam hidupku.

Audit independen selesai.

Kerugian perusahaan yang dapat dibuktikan dari mark-up, pengadaan tidak sesuai prosedur, dan aset yang tidak dikembalikan berjumlah ratusan juta rupiah.

Sebagian dana berhasil dikembalikan melalui penyelesaian dengan vendor.

Beberapa transaksi dilanjutkan ke proses hukum karena menyangkut dokumen dan akses digital yang dipersoalkan.

Aku tidak mengunggah apa pun ke media sosial.

Aku tidak menyebarkan identitas Alya.

Aku tidak mengirim rekaman pesta kepada akun gosip.

Teman-teman Arga justru beberapa kali mencoba menghubungiku karena video malam itu sudah telanjur beredar di grup pribadi mereka.

Aku hanya memberi satu jawaban.

“Urusan rumah tangga saya sedang diproses. Tidak perlu ikut campur.”

Ironisnya, sikap diam itu membuat orang-orang yang dulu menungguku mengamuk mulai merasa malu sendiri.

Salah satu teman Arga bahkan mengirim pesan.

Maya, maaf malam itu gue ikut ketawa. Harusnya gue stop Arga.

Aku tidak menjawab panjang.

Semoga lain kali kamu melakukannya kalau melihat orang dipermalukan.

Selesai.

Alya diberhentikan setelah pemeriksaan internal.

Beberapa minggu kemudian, kuasa hukumnya menghubungi perusahaan untuk membicarakan pengembalian aset dan sebagian dana yang dipersoalkan.

Aku menyerahkan seluruh proses kepada tim legal.

Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.

Aku juga tidak merasa perlu.

Dulu aku berpikir kepuasan terbesar adalah melihat orang yang menyakitiku menderita.

Ternyata bukan.

Kepuasan terbesar adalah ketika hidupku sudah begitu tenang sampai aku tidak lagi penasaran bagaimana hidup mereka berjalan.

Masalah dengan Arga lebih rumit.

Dia tetap memiliki 35 persen saham.

Pemberhentian dari jabatan direktur tidak otomatis menghapus kepemilikannya.

Setelah tiga bulan negosiasi, kami menggunakan penilai independen.

Nilai saham dihitung.

Kewajiban dan potensi kerugian diperhitungkan.

Akhirnya kami sepakat.

Aku dan Bima membeli sebagian besar saham Arga melalui transaksi resmi.

Sisanya dibeli investor lama yang sejak awal mengenal perusahaan.

Arga menerima nilai yang menjadi haknya.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Aku tidak ingin merampas apa yang memang miliknya.

Aku hanya ingin berhenti membiarkan dia mengendalikan sesuatu yang hampir dia rusak.

Perceraian kami juga tidak berubah menjadi perang harta.

Sebelum menikah, atas saran ibu, kami sudah membuat perjanjian perkawinan mengenai aset bawaan, warisan, dan kepemilikan perusahaan.

Dulu Arga bahkan bercanda,

“Ibumu curiga banget sama calon menantunya.”

Sekarang baru kupahami kenapa ibu begitu keras meminta semuanya jelas.

Bukan karena dia membenci Arga.

Karena dia memahami sesuatu yang belum kupahami saat berusia dua puluh tujuh tahun:

Cinta tidak pernah menjadi alasan untuk menghapus batas.

Hari putusan perceraian selesai, aku keluar dari gedung pengadilan dengan perasaan aneh.

Tidak bahagia.

Tidak sedih.

Hanya ringan.

Arga berdiri di dekat mobilnya.

Dia memanggilku.

“Maya.”

Aku berhenti.

Dia berjalan mendekat.

Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, wajahnya terlihat tenang.

“Aku tidak akan minta kamu kembali.”

Aku mengangguk.

Dia memasukkan tangan ke saku lalu berkata,

“Aku cuma mau bilang satu hal.”

“Apa?”

“Waktu itu… soal bros ibumu.”

Aku menatapnya.

“Aku benar-benar menyesal.”

Aku tidak menjawab.

“Aku baru mengerti setelah semuanya selesai. Benda itu tidak bisa diganti.”

Angin siang meniup rambutku.

“Memang tidak bisa.”

Dia mengangguk pelan.

“Maaf.”

Kali ini aku percaya dia benar-benar menyesal.

Tapi penyesalan tidak selalu menghasilkan kesempatan kedua.

Kadang-kadang penyesalan hanya berfungsi sebagai pelajaran bagi kehidupan seseorang berikutnya.

“Aku terima permintaan maafmu.”

Arga menatapku cepat.

“Tapi itu tidak mengubah keputusan?”

“Tidak.”

Dia tersenyum pahit.

“Sudah kuduga.”

Kami berpisah di tangga pengadilan.

Tidak ada pelukan.

Tidak ada janji akan tetap berteman.

Tidak ada adegan dramatis.

Hanya dua orang yang akhirnya menerima bahwa satu bagian hidup telah selesai.

Enam bulan kemudian, PT Ruang Selatan Kreasi pindah ke kantor baru yang lebih kecil tetapi jauh lebih sehat.

Aku tidak mengambil posisi Direktur Utama.

Bima tetap memimpin operasional.

Aku memilih aktif sebagai Komisaris sekaligus memimpin program pengembangan desain dan tata kelola internal.

Kami menghapus budaya “orang kepercayaan” yang dulu begitu kuat.

Semua vendor harus melewati proses verifikasi.

Persetujuan transaksi memiliki beberapa lapis.

Akses data diberikan berdasarkan kebutuhan kerja.

Program magang juga kami perbaiki.

Anak magang tidak lagi diperlakukan seperti pesuruh.

Tapi mereka juga tidak diberi akses yang seharusnya hanya dimiliki staf tetap.

Kami membuka dua belas posisi magang berbayar untuk mahasiswa desain dari keluarga berpenghasilan terbatas.

Program itu kuberi nama:

Program Melati.

Bima bertanya kenapa.

Aku hanya tersenyum.

Suatu sore aku pergi ke sebuah bengkel perhiasan lama di Cikini.

Pemiliknya seorang perempuan hampir tujuh puluh tahun bernama Bu Laksmi.

Aku memberikan bros ibuku.

Dia memeriksanya dengan kaca pembesar.

“Bisa diperbaiki,” katanya.

Aku langsung bertanya,

“Bisa dibuat seperti semula?”

Bu Laksmi diam sebentar.

“Tidak persis.”

Aku menatapnya.

“Bagian patahnya bisa disambung. Penitinya bisa diganti. Kelopaknya bisa dibentuk lagi.”

“Bekas patahnya?”

“Kalau diperhatikan dekat, tetap terlihat.”

Aneh sekali.

Aku justru tersenyum.

“Jangan disembunyikan.”

Bu Laksmi mengangkat alis.

“Yakin?”

“Yakin.”

Dua minggu kemudian aku kembali.

Bros itu utuh lagi.

Bunga melatinya kembali berbentuk.

Di bagian tengah ada garis tipis bekas sambungan.

Tidak jelek.

Tidak sempurna.

Tapi kuat.

Aku memakainya pertama kali pada acara pembukaan Program Melati.

Di ruangan itu duduk dua belas mahasiswa.

Beberapa datang dari Depok.

Ada yang dari Bekasi.

Ada yang naik kereta sejak subuh dari Bogor.

Aku berdiri di depan mereka tanpa layar raksasa, tanpa pesta mewah, tanpa suami di sampingku.

Hanya aku.

Dan bros ibu di bahuku.

Seorang mahasiswa perempuan bernama Nabila bertanya setelah acara,

“Bu Maya, boleh tanya sesuatu?”

“Tentu.”

“Kenapa namanya Program Melati?”

Tanganku refleks menyentuh bros.

Aku tersenyum.

“Karena seseorang pernah mengingatkan saya bahwa sesuatu yang patah tidak selalu harus dibuang.”

Nabila terlihat bingung.

Aku melanjutkan,

“Tapi juga tidak harus berpura-pura tidak pernah patah.”

Dia tersenyum.

Hari itu, setelah semua orang pulang, aku berdiri sendiri di depan jendela kantor.

Jakarta sore itu macet seperti biasa.

Klakson terdengar dari bawah.

Langit berwarna oranye kotor.

Tidak ada musik dramatis.

Tidak ada perasaan bahwa aku baru memenangkan sesuatu.

Hanya ada ketenangan.

Ponselku berbunyi.

Pesan dari Ratih.

Bu, laporan kuartal sudah keluar. Profit operasional naik 18 persen dibanding kuartal sebelumnya.

Aku membalas:

Bagus. Besok kita bahas bonus tim.

Kemudian satu pesan lain masuk.

Nomor Arga.

Sudah hampir dua bulan dia tidak menghubungiku.

Pesannya pendek.

Selamat untuk Program Melati. Aku lihat beritanya. Ibumu pasti bangga.

Aku membaca sekali.

Lalu membalas:

Terima kasih. Semoga kamu juga baik-baik saja.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Aku memasukkan ponsel ke tas.

Dulu, pesan dari Arga bisa menentukan suasana hatiku seharian.

Sekarang tidak lagi.

Aku mematikan lampu kantor dan berjalan ke lift.

Pintu logam memantulkan bayanganku.

Untuk sesaat aku melihat perempuan yang sama seperti malam pesta itu.

Tapi ternyata bukan.

Malam itu aku berdiri di depan cermin toilet dengan krim kue di gaun, darah di jari, dan benda peninggalan ibu yang patah di tangan.

Aku pikir hidupku sedang runtuh.

Ternyata ada hal yang tidak kusadari.

Yang runtuh malam itu bukan hidupku.

Hanya ilusi bahwa aku harus terus bertahan di tempat yang sudah tidak menghormatiku.

Pintu lift terbuka.

Aku melangkah masuk.

Tanganku menyentuh bros melati di bahu.

Masih ada garis patahnya.

Dan aku tidak pernah lagi mencoba menyembunyikannya.

Karena akhirnya aku mengerti pesan ibu yang dulu terlalu sering kulupakan.

Kalau suatu hari aku merasa sendirian, aku tetap punya diriku sendiri.

Dan kali ini, itu sudah lebih dari cukup.