Bagian 3 — Amplop Cokelat Itu Membuka Utang Palsu, Sertifikat Hilang, dan Pengkhianatan Bertahun-Tahun
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, Om Hendra tidak punya jawaban.
Tangannya masih terulur ke arah amplop.
Namun wajahnya sudah tidak lagi menunjukkan kemarahan.
Yang terlihat hanya ketakutan.
Bagas berdiri dari kursinya.
“Apa maksudmu penyidik?”
Aku memasukkan kembali dokumen ke amplop.
“Persis seperti yang kamu dengar.”
Om Hendra akhirnya menemukan suaranya.
“Jangan sok pintar. Kamu cuma anak kuliahan. Kamu tidak tahu urusan bisnis.”
“Benar.”
Aku mengangguk.
“Aku memang bukan pengusaha.”
Aku mengeluarkan selembar tanda terima.
“Tapi aku tahu bedanya utang Ayah dengan uang yang masuk ke perusahaan Om.”
Kuperlihatkan kertas itu kepada semua orang.
Itu bukan fotokopi sembarangan.
Di pojok kanan atas terdapat nomor laporan.
Dua minggu sebelumnya, Ibu dan aku sudah berkonsultasi dengan pendamping hukum.
Kami juga sudah membawa sebagian dokumen ke polisi karena ada dugaan penggunaan data pribadi dan pemalsuan tanda tangan.
Aku tidak pernah berniat mengumumkannya saat Lebaran.
Kami sebenarnya hanya ingin melihat apakah Om Hendra masih punya sedikit keberanian untuk mengaku.
Ternyata tidak.
Yang dia lakukan justru membawa surat itu ke meja makan dan mencoba membuat Ibu mengesahkan semuanya dengan tanda tangannya sendiri.
Ibu menatapku.
“Kamu sudah melapor?”
Aku memegang tangannya.
“Belum sampai tahap apa pun yang perlu Ibu takutkan. Tapi kita sudah menyerahkan dokumennya. Aku mau bilang setelah Lebaran.”
Air mata mulai memenuhi mata Ibu.
Bukan karena marah padaku.
Aku tahu persis ekspresi itu.
Itu ekspresi seseorang yang selama berbulan-bulan hidup dalam ketakutan, lalu baru menyadari bahwa sesuatu yang selama ini ia kira kesalahan suaminya ternyata mungkin bukan kesalahannya sama sekali.
Tiga bulan setelah Ayah meninggal, dua orang penagih pernah mendatangi rumah.
Mereka membawa fotokopi KTP Ayah.
Nomor NPWP Ayah.
Dan surat pinjaman senilai Rp460 juta.
Saat itu Ibu hampir pingsan.
Ruko kecil di Ambarawa adalah aset paling berharga yang ditinggalkan Ayah.
Di lantai bawah ada toko alat listrik yang disewakan.
Lantai atas masih kosong.
Hasil sewanya hanya beberapa juta setiap bulan, tetapi uang itulah yang membantu Ibu membayar biaya kuliahku setelah Ayah tidak ada.
Ketika para penagih mengatakan ruko bisa menjadi masalah apabila utang tidak dibereskan, Ibu langsung panik.
Namun ada satu hal yang terasa janggal.
Ayah adalah orang yang mencatat pengeluaran Rp20.000 sekalipun.
Buku kecilnya penuh tulisan.
Cicilan motor.
Tagihan listrik.
Biaya sekolahku.
Pinjaman saudara.
Semua dicatat.
Tetapi tidak pernah ada satu angka pun tentang pinjaman Rp460 juta.
Dari situlah aku mulai mencari.
Aku membuka laptop lama Ayah.
Ayah pernah membantu pembukuan perusahaan Om Hendra hampir enam tahun.
Di laptop itu masih ada puluhan folder laporan.
Aku tidak menemukan surat pinjaman.
Tapi aku menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik.
Rekap transfer ke rekening perusahaan Om Hendra.
Beberapa pembayaran apartemen.
Pembelian mobil.
Biaya sekolah atas nama seorang anak yang tidak kukenal.
Dan rangkaian pesan lama antara Ayah dan Om Hendra.
Salah satunya dikirim lima minggu sebelum Ayah masuk rumah sakit.
Ayah menulis:
“Hendra, saya sudah bilang jangan pakai data saya lagi untuk pengajuan apa pun. Fotokopi KTP dan NPWP saya kembalikan. Masalah perusahaanmu bukan tanggung jawab saya.”
Om Hendra menjawab:
“Cuma buat administrasi vendor, Mas. Jangan lebay.”
Pesan berikutnya dari Ayah lebih keras.
“Kalau ada dokumen atas nama saya tanpa izin, saya akan urus secara hukum.”
Aku menunjukkan tangkapan layar itu.
Wajah Mbah Sri semakin pucat.
Om Hendra membentak.
“Chat bisa diedit!”
“Bisa.”
Aku mengangguk.
“Makanya aku tidak cuma bawa chat.”
Aku mengambil dokumen berikutnya.
“Koperasi tempat pengajuan pinjaman sudah memberikan salinan formulir setelah kami mengajukan keberatan resmi.”
Aku menunjuk kolom nomor telepon.
Nomor yang dipakai bukan nomor Ayah.
Itu nomor kantor perusahaan Om Hendra.
Alamat emailnya juga email staf keuangan perusahaan.
Rekening pencairannya memang tercantum atas nama Ayah pada formulir awal.
Tetapi melalui surat instruksi pencairan tambahan, dana dialihkan ke rekening perusahaan.
Dan tanda tangan pada surat instruksi itu sama-sama dipermasalahkan.
Om Darto mulai menggeser kursinya menjauh dari Om Hendra.
Tante Yuli tidak lagi berbicara.
Aku belum selesai.
“Yang paling sederhana adalah tanggal.”
Aku mengeluarkan ringkasan rekam medis Ayah.
Tidak ada detail penyakit yang kubacakan.
Aku hanya menunjuk waktu.
“Sejak tanggal 17 November pukul 03.40 Ayah masuk ICU.”
Lalu menunjuk formulir lain.
“Pengajuan final dilakukan tanggal 18 November pukul 10.16.”
Ibu berbisik,
“Bima tidak sadar.”
“Benar.”
Aku menatap Om Hendra.
“Dan menurut catatan kunjungan koperasi, orang yang menyerahkan berkas bukan Ayah.”
Om Hendra mendadak berteriak.
“Cukup!”
Tante Ratih yang sejak tadi berdiri dekat pintu perlahan berbalik.
Ia tadinya berniat pergi.
Sekarang ia kembali ke meja.
“Siapa?”
Aku menatapnya.
“Yang tercatat datang adalah perwakilan perusahaan.”
Om Hendra memotong.
“Itu staf! Saya tidak tahu apa-apa!”
Aku mengeluarkan foto cetak terakhir.
Bukan gambar dari kamera tersembunyi.
Bukan bukti dramatis yang muncul entah dari mana.
Itu foto tangkapan dari rekaman CCTV lobi koperasi yang kemudian diserahkan dalam proses klarifikasi.
Seorang pria terlihat berdiri di depan meja layanan.
Meski gambarnya tidak sempurna, wajahnya cukup jelas.
Om Hendra.
Di sebelahnya ada seorang staf laki-laki.
Tante Ratih menutup mulut.
Bagas tidak bersuara lagi.
Aku meletakkan foto itu tepat di depan Om Hendra.
“Masih mau bilang staf?”
Om Hendra melihat Mbah Sri.
“Bu…”
Mbah Sri justru menunduk.
Aku langsung menangkap sesuatu dari ekspresinya.
“Mbah tahu?”
Ibu ikut memandang beliau.
“Bu?”
Mbah Sri tidak menjawab.
Dada Ibu naik turun.
“Bu tahu soal ini?”
Akhirnya Mbah Sri berkata pelan,
“Hendra cuma bilang butuh tanda tangan keluarga untuk memperpanjang modal usaha.”
Aku hampir tidak percaya.
“Jadi Mbah tahu dia menggunakan nama Ayah?”
“Tidak seperti itu.”
“Lalu seperti apa?”
Mbah Sri mulai menangis.
“Hendra bilang perusahaan sedang kesulitan. Dia bilang Bima pasti mau membantu kalau sehat.”
Kalimat itu membuat Ibu berdiri.
Sepanjang hari beliau menahan penghinaan.
Dibilang membawa kesialan.
Disuruh makan di dapur.
Dipaksa menandatangani utang yang bukan miliknya.
Tetapi kalimat terakhir itu akhirnya menghancurkan kesabarannya.
“Kalau sehat?”
Suara Ibu bergetar.
“Waktu suami saya sehat, dia sudah bilang jangan gunakan datanya.”
Mbah Sri menangis semakin keras.
Ibu melanjutkan.
“Waktu Bima masuk ICU, saya menelepon rumah ini.”
Semua orang diam.
“Saya tidak minta uang gratis.”
Ibu menunjuk Om Hendra.
“Saya cuma minta dia mengembalikan Rp85 juta yang dulu dipinjam dari suami saya. Saya bilang sebagian biaya obat dan perawatan tambahan sedang menumpuk.”
Om Hendra menunduk.
“Dia bilang tidak punya uang.”
Ibu tertawa pahit.
“Tidak punya uang.”
Lalu memandang Tante Ratih.
“Padahal waktu itu dia membayar apartemen perempuan lain.”
Tante Ratih menutup mata.
Ibu menghadap Mbah Sri lagi.
“Dan saat anak Ibu terbaring tidak sadar, Ibu justru mengizinkan anak Ibu yang lain memakai identitasnya?”
Mbah Sri hendak memegang tangan Ibu.
Ibu mundur.
“Jangan.”
Hanya satu kata.
Tetapi seluruh ruangan langsung diam.
Bagas tiba-tiba mencoba membela ayahnya.
“Kalaupun benar, mungkin Papa cuma pinjam nama Om Bima sementara. Toh perusahaan kami juga selama ini membantu keluarga.”
Aku menatapnya.
“Perusahaan kalian?”
“Iya.”
“Kamu yakin?”
Bagas mendengus.
Aku mengeluarkan buku catatan kecil milik Ayah.
“Ayah menyimpan daftar orang yang masih berutang kepadanya.”
Kubuka halaman tengah.
Nama Om Hendra.
Rp85 juta.
Belum kembali.
Nama Tante Yuli.
Rp32 juta.
Belum kembali.
Nama Om Darto.
Rp18 juta.
Sudah kembali Rp10 juta.
Sisa Rp8 juta.
Aku melihat sekeliling meja.
“Lucu ya.”
“Orang yang selama ini dibilang membebani keluarga ternyata justru orang yang uangnya beredar ke mana-mana.”
Tante Yuli langsung gelisah.
“Itu urusan lama.”
“Betul.”
Aku mengangguk.
“Makanya setelah ini kita selesaikan yang lama satu-satu.”
Wajahnya berubah.
“Jangan sok menagih. Ayahmu sendiri tidak pernah menagih keras.”
“Ayah tidak menagih karena beliau menganggap kalian keluarga.”
Aku menatapnya lurus.
“Setelah hari ini, Ibu tidak punya alasan melakukan hal yang sama.”
Mbah Sri memukul meja.
“Cukup!”
Aku menoleh.
Beliau menangis.
“Hari Lebaran kok jadi begini!”
Untuk pertama kalinya Ibu menjawab tanpa menundukkan kepala.
“Bu, Lebaran tidak membuat perbuatan salah tiba-tiba menjadi benar.”
Sunyi.
“Dan menjadi janda tidak membuat saya kehilangan harga diri.”
Tidak seorang pun membalas.
Ibu mengambil tasnya.
Kemudian mengambil dua kotak makanan yang tadi ia bawa dari rumah.
Bukan makanan dari meja.
Makanan yang ia siapkan khusus untuk Mbah Sri.
Ibu menatap kotak-kotak itu beberapa detik.
Lalu meletakkannya kembali.
“Masakan di meja boleh kalian makan.”
Ibu merapikan kerudungnya.
“Saya tidak akan mengambil apa pun.”
Mbah Sri menangis.
“Sari…”
Ibu menatapnya.
“Delapan bulan saya mencoba menjaga hubungan ini karena Bima selalu bilang ibunya harus tetap dihormati.”
Suaranya pelan.
“Tapi menghormati Ibu tidak berarti saya harus membiarkan Laras dihina. Tidak berarti saya harus mengakui utang palsu. Dan tidak berarti saya harus duduk di dapur setelah memasak untuk semua orang.”
Aku berdiri di samping Ibu.
“Mulai hari ini, kalau ingin bertemu kami, datanglah sebagai keluarga.”
Ibu memandang satu per satu orang di meja.
“Bukan sebagai orang yang merasa berhak mengatur hidup kami.”
Kami berjalan menuju pintu.
Tiba-tiba Tante Ratih memanggil.
“Laras.”
Aku berhenti.
Ia mengambil ponselnya.
“Nomor pendamping hukummu.”
Om Hendra langsung menoleh.
“Ratih!”
Tante Ratih tidak memandangnya.
“Berikan.”
Aku menyebutkan nomornya.
Om Hendra mendekat.
“Kamu mau apa?”
Tante Ratih akhirnya menatap suaminya.
Tatapannya jauh lebih tenang daripada saat menampar tadi.
Justru karena itu terlihat lebih mengerikan.
“Aku mau tahu uang mana yang kamu pakai untuk perempuan itu.”
“Ratih…”
“Rumah yang kita tempati dibeli ayahku.”
Suaranya datar.
“Modal awal perusahaan juga sebagian dari keluargaku.”
Om Hendra mulai pucat lagi.
“Jadi mulai besok, pengacara yang bicara denganmu.”
Ia menunjuk pintu.
“Malam ini jangan pulang ke rumah.”
Bagas memandang ibunya.
“Mama!”
“Kalau kamu mau ikut papamu, silakan.”
Bagas langsung diam.
Ibu menarik tanganku.
Kami keluar.
Begitu sampai di halaman, aku mendengar suara kursi berderak dan teriakan dari dalam.
Tetapi kali ini aku tidak menoleh.
Di mobil, Ibu tidak menyalakan mesin.
Beliau duduk memegang kemudi.
Lalu menangis.
Bukan tangisan keras.
Air matanya jatuh satu-satu.
Aku memeluknya.
“Maaf, Bu.”
Ibu menggeleng.
“Kenapa minta maaf?”
“Aku bongkar semuanya pas Lebaran.”
Ibu tertawa kecil di tengah tangis.
“Kalau kamu tidak bongkar, mungkin Ibu sudah menandatangani surat itu.”
Kami terdiam.
Beberapa menit kemudian Ibu berkata,
“Kita pulang.”
“Tidak makan?”
Ibu mengusap wajah.
“Kita punya ketupat di rumah.”
Aku tersenyum.
“Rendang juga ada.”
“Sedikit.”
“Telur?”
“Ada.”
Aku menyalakan musik pelan.
Lalu kami meninggalkan rumah itu.
Lebaran siang itu, kami makan berdua di meja kecil rumah kami sendiri.
Tidak ada opor sebanyak satu panci besar.
Tidak ada belasan piring.
Tidak ada kue mahal.
Hanya ketupat, telur balado, rendang sisa semalam, dan kerupuk yang sudah sedikit melempem.
Sebelum makan, Ibu mengajak berdoa untuk Ayah.
Setelah selesai, beliau menatap kursi kosong di ujung meja.
Lalu berkata,
“Kalau Bapakmu masih ada, dia pasti marah kamu bicara begitu sama Om-mu.”
Aku menahan senyum.
“Terus lima menit kemudian?”
Ibu tertawa.
“Lima menit kemudian dia pasti minta lihat dokumennya.”
Untuk pertama kalinya sejak Ayah meninggal, kami tertawa saat menyebut namanya.
Masalah tentu tidak selesai dalam sehari.
Justru setelah Lebaran, semuanya mulai bergerak.
Pendamping hukum membantu kami mengurus keberatan resmi terhadap dokumen pinjaman.
Keterangan dari rumah sakit memperkuat bahwa kondisi Ayah pada tanggal pengajuan tidak memungkinkan beliau menandatangani dokumen sendiri.
Data pencairan menunjukkan dana bergerak ke rekening perusahaan Om Hendra.
Pihak koperasi juga melakukan pemeriksaan internal terhadap prosedur pengajuan tersebut.
Kasusnya kemudian masuk proses penyelidikan.
Om Hendra awalnya bersikeras bahwa Ayah pernah memberikan izin lisan.
Namun tidak ada satu pun dokumen yang bisa membuktikan klaimnya.
Sebaliknya, pesan-pesan lama Ayah justru menunjukkan penolakan.
Tante Ratih bergerak lebih cepat daripada siapa pun.
Dalam waktu kurang dari dua minggu, ia memisahkan akses ke rekening pribadinya dan menyerahkan urusan pernikahannya kepada pengacara.
Ia juga menemukan sesuatu yang bahkan tidak ada di dokumen Ayah.
Ternyata apartemen Rina bukan satu-satunya pengeluaran.
Ada biaya liburan.
Sekolah Dimas.
Pembelian perhiasan.
Dan sejumlah transfer rutin yang berlangsung hampir sembilan tahun.
Tante Ratih mengirim satu pesan kepadaku.
“Hampir sembilan tahun, Ras. Bukan delapan.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Akhirnya aku hanya menulis:
“Maaf, Tante.”
Ia membalas:
“Jangan. Lebih baik tahu sekarang daripada sepuluh tahun lagi.”
Hubungan kami tidak tiba-tiba menjadi dekat.
Ia tetap Tante Ratih yang pernah menghina Ibu.
Dan Ibu juga tidak melupakan kalimatnya tentang kesialan.
Tetapi setidaknya ia berhenti menyalahkan kami.
Bagas berbeda.
Selama beberapa minggu ia menulis status media sosial seolah keluarganya menjadi korban fitnah.
Aku tidak membalas.
Sampai suatu hari pengacaranya sendiri menyuruhnya berhenti membicarakan perkara yang sedang berjalan.
Status-status itu lalu hilang.
Tante Yuli datang ke rumah kami sebulan kemudian.
Bukan untuk meminta maaf.
Ia membawa buah.
Lalu duduk hampir satu jam sebelum akhirnya berkata,
“Soal uang Rp32 juta itu…”
Ibu menjawab santai,
“Bisa dicicil.”
Wajah Tante Yuli langsung kaku.
“Ibu serius?”
“Sangat.”
“Aku kira Bima dulu bilang tidak usah terburu-buru.”
“Benar.”
Ibu tersenyum tipis.
“Bima juga mengira keluarganya tidak akan menyuruh istrinya makan di dapur setelah dia meninggal.”
Tante Yuli tidak bisa menjawab.
Akhirnya ia sepakat membayar bertahap.
Om Darto melunasi sisa Rp8 juta dua minggu kemudian tanpa banyak bicara.
Uang-uang itu tidak membuat kami kaya.
Tetapi bagi Ibu, persoalannya bukan jumlah.
Untuk pertama kalinya beliau berhenti merasa harus selalu mengalah hanya demi disebut menantu baik.
Perubahan terbesar justru terjadi tiga bulan kemudian.
Ibu menggunakan sebagian tabungan dan ruangan depan rumah untuk membuka usaha katering kecil.
Namanya sederhana.
“Dapur Sari.”
Awalnya pesanan hanya dari tetangga.
Lalu kantor kelurahan.
Kemudian sebuah sekolah memesan nasi kotak untuk acara.
Bekas pelanggan Ayah ikut merekomendasikan.
Ibu kembali bangun sebelum subuh.
Bedanya, sekarang setiap masakan yang beliau buat dibayar.
Tidak lagi dibawa ke rumah orang yang kemudian menyuruhnya makan di belakang.
Aku membantu mengelola pemesanan daring di sela kuliah.
Enam bulan setelah Lebaran itu, perkara Om Hendra sudah jauh lebih jelas.
Dari pemeriksaan dokumen dan keterangan beberapa pihak, dugaan penggunaan data Ayah tanpa persetujuan semakin kuat.
Om Hendra akhirnya tidak lagi menyangkal bahwa pinjaman tersebut digunakan untuk kebutuhan perusahaannya.
Melalui kuasa hukumnya, ia menawarkan penyelesaian terhadap kewajiban finansial agar aset Ayah tidak lagi dikaitkan dengan utang perusahaan.
Ibu menerima pengembalian hanya melalui jalur tertulis.
Tidak ada kesepakatan diam-diam di ruang keluarga.
Tidak ada “demi nama baik keluarga”.
Semua melalui dokumen.
Sebagian aset perusahaan Om Hendra dijual.
SUV yang dulu membuatku marah saat Ayah sakit juga tidak pernah kulihat lagi.
Perkara terkait dokumen tetap berjalan sesuai proses hukum.
Aku tidak pernah merasa perlu datang melihat Om Hendra jatuh.
Cukup bagiku melihat surat yang menyatakan ruko Ayah tidak lagi diperlakukan sebagai jaminan atas kewajiban perusahaan tersebut.
Ketika surat itu datang, Ibu membacanya tiga kali.
Lalu memelukku.
“Rumah peninggalan Bapak aman.”
Aku mengangguk.
Ibu masuk kamar.
Beberapa menit kemudian beliau keluar membawa buku catatan Ayah.
Diletakkannya buku itu di lemari.
“Sudah selesai.”
Bukan semua rasa sakit.
Bukan kehilangan.
Tetapi satu beban besar akhirnya selesai.
Tentang Mbah Sri, keadaan jauh lebih rumit.
Selama empat bulan beliau tidak menghubungi kami.
Aku tahu dari Om Darto bahwa beliau beberapa kali menanyakan Ibu.
Tetapi gengsi membuatnya tidak menelepon.
Ibu juga tidak mengejar.
Beliau berkata,
“Kalau orang mau datang, pintu rumah tidak pernah dikunci. Tapi Ibu tidak akan kembali ke tempat yang sama hanya untuk diperlakukan sama.”
Aku setuju.
Hampir setahun kemudian, pagi menjelang Lebaran berikutnya, bel rumah berbunyi.
Aku sedang menempel daftar pesanan katering di dinding.
Ibu sedang mengemas kue.
Aku membuka pintu.
Mbah Sri berdiri di sana.
Sendirian.
Tidak ada Om Hendra.
Tidak ada Tante Yuli.
Tangannya membawa satu kaleng rengginang dan sebungkus tape ketan.
Aku terdiam.
Beliau juga terdiam.
Lalu bertanya,
“Ibumu ada?”
Ibu muncul dari dapur.
Wajahnya langsung berubah.
“Mbah…”
Mbah Sri menatap Ibu cukup lama.
Kemudian meletakkan bawaannya di meja.
“Sari.”
Suaranya gemetar.
“Saya salah.”
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada kalimat “tapi”.
Tidak ada alasan adat.
“Saya terlalu membela Hendra.”
Mbah Sri menarik napas.
“Saya juga salah karena waktu itu menyuruh kalian makan di belakang.”
Mata Ibu mulai berkaca-kaca.
Mbah Sri melanjutkan.
“Bima kalau masih ada pasti malu melihat ibunya.”
Ibu diam.
Lalu berkata,
“Bima tidak akan malu punya ibu.”
Mbah Sri menangis.
Ibu menambahkan,
“Tapi dia pasti kecewa.”
Mbah Sri mengangguk.
“Saya tahu.”
Ruangan hening beberapa saat.
Kemudian Mbah Sri melihat ke arah meja makan.
“Apa saya boleh ikut makan besok?”
Aku menatap Ibu.
Keputusan ada padanya.
Ibu menarik kursi.
“Mbah boleh datang.”
Mbah Sri tersenyum kecil.
Namun Ibu belum selesai.
“Tapi ada satu aturan.”
Mbah Sri terlihat tegang.
Ibu menunjuk meja.
“Di rumah ini tidak ada orang makan di dapur karena dianggap membawa sial.”
Aku menahan tawa.
Ibu ikut tersenyum.
“Siapa pun yang datang, kalau menghormati rumah ini, duduknya di meja yang sama.”
Mbah Sri menunduk.
“Ya.”
Lebaran kedua tanpa Ayah jauh berbeda.
Kami tidak pergi ke rumah keluarga besar.
Kami memasak di rumah sendiri.
Tidak banyak.
Opor.
Rendang.
Sambal goreng kentang.
Ketupat.
Beberapa tetangga datang.
Om Darto datang bersama istrinya.
Tante Ratih datang sebentar, tanpa Om Hendra.
Bahkan ia membawa kue.
Mbah Sri duduk di kursi dekat jendela.
Tidak ada kursi khusus.
Tidak ada meja utama.
Tidak ada meja belakang.
Semua makan bersama.
Sebelum makan, Ibu memandang kursi kosong di sebelahku.
Dulu kursi itu milik Ayah.
Sekarang tidak ada seorang pun mencoba mengisinya.
Dan anehnya, untuk pertama kalinya, kursi kosong itu tidak membuat rumah terasa kehilangan.
Justru mengingatkan kami bahwa seseorang pernah duduk di sana, mencintai kami, bekerja untuk kami, dan meninggalkan cukup banyak keberanian agar kami tidak terus menundukkan kepala setelah dia pergi.
Aku mengambil rendang.
Mbah Sri melihatku.
“Laras.”
“Iya, Mbah?”
“Tambah nasi.”
Aku tersenyum.
“Kali ini boleh makan di sini?”
Mbah Sri terdiam.
Lalu wajahnya memerah.
Semua orang tertawa.
Termasuk Ibu.
Mbah Sri akhirnya ikut tertawa sambil memukul pelan lenganku.
“Dasar anak ini.”
Aku menatap Ibu.
Ibu sedang tersenyum.
Bukan senyum orang yang mengalah.
Bukan senyum seorang janda yang berusaha diterima keluarga suaminya.
Tetapi senyum seseorang yang akhirnya tahu bahwa rumahnya sendiri sudah cukup.
Aku pernah mengira kemenangan terbesar kami adalah membongkar perselingkuhan Om Hendra.
Ternyata bukan.
Bukan juga menyelamatkan ruko.
Bukan mendapatkan kembali uang yang dipinjam saudara-saudara Ayah.
Bukan melihat orang-orang yang pernah merendahkan kami akhirnya datang dengan kepala tertunduk.
Kemenangan terbesar adalah melihat Ibu tidak lagi takut kehilangan keluarga hanya karena berani berkata tidak.
Hari ketika beliau menolak duduk di dapur, sebenarnya beliau sedang memilih hidupnya sendiri.
Dan sejak hari itu, kami tidak pernah lagi meminta kursi kepada siapa pun.
Kami membuat meja kami sendiri.

