Bagian 3 — Buku KIA Lama Membuka Rahasia yang Selama Delapan Tahun Dikubur Keluarga

Avatar penulis
Cerita 02
9 menit baca 494 tayangan
Bagian 3 — Buku KIA Lama Membuka Rahasia yang Selama Delapan Tahun Dikubur Keluarga
Indeks

Bagian 3 — Buku KIA Lama Membuka Rahasia yang Selama Delapan Tahun Dikubur Keluarga

Tidak ada seorang pun langsung bicara.

Aku bahkan mendengar suara motor lewat dari jalan depan.

Pak Hadi berdiri di ujung meja, satu tangannya menekan map cokelat.

Dinda tidak lagi terlihat seperti perempuan yang setengah jam sebelumnya begitu percaya diri menyebut anakku tidak pantas menerima apa pun dari keluarga.

“Bapak bisa jelaskan?”

Suara Bayu terdengar berat.

Pak Hadi menarik napas.

“Tiga minggu lalu ada staf kantor PPAT yang menelepon saya. Katanya mereka ingin mengonfirmasi surat kuasa untuk pengurusan sertifikat rumah ini.”

Arman langsung menoleh.

“Aku belum pernah dengar.”

“Karena Bapak sengaja belum cerita.”

Pak Hadi menatap putranya.

“Bapak ingin memastikan dulu.”

Dinda mencoba tertawa.

Tetapi tawanya terdengar dipaksakan.

“Mungkin salah kirim dokumen.”

Pak Hadi membuka halaman kedua.

“Nama pemberi kuasa: Hadi Santoso.”

Jarinya turun ke bagian berikutnya.

“Nama penerima kuasa: Dinda Prameswari.”

Dinda terdiam.

“Tujuan: mengurus pemecahan dan perubahan administrasi sertifikat.”

Ibu Ratna akhirnya bangkit.

“Pak, nanti saja dibahas.”

Pak Hadi menoleh tajam.

“Kenapa nanti?”

“Ini ulang tahun Bapak.”

“Ulang tahun saya sudah rusak sejak cucu saya dihina di meja makan.”

Ibu Ratna menelan ludah.

Pak Hadi melanjutkan.

“Awalnya saya mengira ada salah paham. Saya minta kantor itu mengirim salinan dokumen lewat WhatsApp.”

Beliau menunjuk tanda tangan.

“Ini mirip tanda tangan saya.”

Lalu beliau menatap Dinda.

“Tapi bukan tanda tangan saya.”

Dinda menggeleng cepat.

“Aku tidak pernah memalsukan tanda tangan Bapak.”

“Bapak belum bilang kamu yang memalsukan.”

Dinda langsung diam.

Pak Hadi menghela napas panjang.

“Kenapa kamu langsung membela diri?”

Aku melihat bahu Dinda menegang.

Bayu mengambil dokumen tersebut.

Ia membacanya dari atas sampai bawah.

“Dinda, ini nomor KTP kamu.”

Dinda memalingkan wajah.

“Bisa saja ada orang lain yang pakai.”

“Nomor ponsel juga nomor kamu.”

Bayu membalik halaman.

“Alamat email juga email kamu.”

Kini tidak ada lagi yang bisa disebut kebetulan.

Arman menatap adiknya.

“Apa yang sebenarnya kamu lakukan?”

“Aku cuma…”

Dinda berhenti.

Ibu Ratna buru-buru berkata,

“Dinda cuma ingin membantu mengurus dokumen.”

Pak Hadi tertawa pahit.

“Ratna.”

Nada suaranya membuat ibu mertuaku membeku.

“Jadi kamu tahu?”

Ibu Ratna tidak menjawab.

“Jawab.”

“Aku cuma…”

Beliau menunduk.

“Dinda pernah cerita kalau surat rumah masih sertifikat lama. Katanya kalau nanti ada apa-apa, prosesnya akan repot.”

“Lalu?”

“Dia cuma mau bantu.”

Pak Hadi mengetuk kertas.

“Dengan tanda tangan palsu?”

“Bukan palsu…”

Ibu Ratna terdengar semakin lemah.

Pak Hadi langsung menatapnya.

“Kamu tahu siapa yang menandatangani?”

Ibu Ratna diam.

Wajah Dinda berubah tegang.

Arman tampak tidak percaya.

“Ibu?”

Akhirnya Ibu Ratna duduk perlahan.

“Beberapa bulan lalu Bapak pernah tanda tangan beberapa kertas kosong untuk urusan BPJS dan bank.”

Pak Hadi mengernyit.

“Apa hubungannya?”

Tidak ada jawaban.

Lalu aku memahami sesuatu.

Pak Hadi juga memahami pada saat yang sama.

“Kamu menyimpan kertas dengan tanda tangan saya?”

Ibu Ratna mulai menangis.

“Aku tidak tahu Dinda akan menggunakannya untuk ini.”

Dinda langsung memotong.

“Ibu!”

Namun terlambat.

Semua orang sudah mendengar.

Pak Hadi mundur satu langkah.

Ekspresinya membuatku lebih tidak nyaman daripada jika beliau berteriak.

Selama aku mengenalnya, Pak Hadi jarang marah.

Kalau kesal, biasanya beliau keluar menyiram tanaman.

Kalau kecewa, beliau diam.

Malam itu beliau benar-benar diam.

Bayu meletakkan dokumen.

“Kamu mau memecah sertifikat rumah orang tuamu tanpa sepengetahuan mereka?”

Dinda langsung membela diri.

“Aku cuma mau mengamankan bagianku!”

“Bagianmu?”

Pak Hadi akhirnya bicara.

“Saya masih hidup.”

Dinda menelan ludah.

“Aku tahu.”

“Rumah ini masih milik saya dan ibu kamu.”

“Aku cuma takut nanti Mas Arman mengambil semuanya!”

Arman berdiri.

“Apa pernah sekali saja aku bilang rumah ini harus jadi milikku?”

“Mas selalu jadi anak kesayangan!”

“Aku yang mengantar Bapak kontrol karena kamu bilang bengkel Bayu sibuk!”

“Jangan bawa-bawa aku.”

Bayu menyela tajam.

“Aku bahkan tidak tahu soal dokumen ini.”

Dinda menoleh kepada suaminya.

“Mas…”

“Jangan.”

Bayu mengangkat tangan.

“Sekarang aku tidak tahu mana dari ucapanmu yang benar.”

Suasana kembali hening.

Dinda mendadak menunjukku.

“Semua ini gara-gara dia!”

Aku sampai hampir tertawa karena tidak percaya.

“Gara-gara aku?”

“Iya! Kalau kamu tidak membawa-bawa cerita delapan tahun lalu, semuanya tidak akan seperti ini!”

Aku berdiri.

“Dinda, lima puluh menit lalu kamu menyebut anakku anak haram karena kamu takut suatu hari ia mendapat sesuatu dari kakeknya.”

“Itu bukan maksudku!”

“Lalu apa maksudmu?”

Dinda tidak menjawab.

Aku mendekat satu langkah.

“Kamu ingin orang di meja ini meragukan posisi Naufal sebagai cucu keluarga supaya suatu saat kamu bisa berkata Rio lebih pantas.”

“Jangan mengarang!”

“Benarkah?”

Aku mengambil ponsel.

Membuka grup keluarga besar yang berisi belasan orang.

Kemudian kutunjukkan satu pesan lama.

Tiga bulan sebelumnya, seorang bibi bertanya siapa yang akan tinggal bersama Pak Hadi jika beliau semakin tua.

Dinda membalas dengan emoji tertawa dan kalimat:

“Yang penting nanti rumah jangan jatuh ke orang yang garis keluarganya saja masih tanda tanya.”

Saat itu aku mengira ia hanya menyindir orang lain.

Sekarang semuanya jelas.

Arman membaca pesan tersebut.

Rahangnya mengeras.

“Jadi ini bukan pertama kali.”

Ibu Ratna memandang Dinda.

“Kamu pernah menulis begitu?”

Dinda membuang muka.

Aku melanjutkan.

“Naufal lahir pada usia kehamilan tiga puluh empat minggu.”

Aku membuka foto lain.

“Ini ringkasan keluar rumah sakit.”

Aku menaruh ponsel di meja.

“Berat lahirnya dua koma satu kilogram. Ia masuk inkubator lima hari. Aku masih ingat aku menangis tiap malam karena tidak bisa langsung membawanya pulang.”

Arman menunduk.

Aku tahu ia juga mengingat masa itu.

Aku berkata,

“Dinda tahu semua itu.”

Aku menatapnya.

“Dia datang ke rumah sakit.”

Wajah Bayu berubah.

“Jadi kamu tahu Naufal prematur?”

Dinda diam.

“Jawab!”

“Iya.”

Satu kata itu cukup.

Bayu mengembuskan napas panjang.

“Berarti kamu sengaja.”

Dinda langsung menangis.

“Aku cuma marah!”

Aku menggeleng.

“Bukan.”

“Jangan sok tahu!”

“Kamu sudah menyebarkan sindiran selama berbulan-bulan. Itu bukan keceplosan.”

Aku mengambil tas yang sejak tadi tergantung di kursi.

Lalu mengeluarkan amplop kecil.

Dinda menatapnya dengan mata melebar.

Aku sebenarnya membawa amplop itu bukan untuk menghancurkan siapa pun.

Dua minggu sebelumnya, saat membersihkan lemari arsip rumah, aku menemukan beberapa dokumen lama.

Di antaranya fotokopi Buku KIA Dinda.

Aku berniat menyerahkannya kembali kepada Ibu Ratna malam itu.

Aku tidak pernah membayangkan dokumen lama itu justru akan dibutuhkan.

Kuletakkan fotokopi tersebut di meja.

Bayu mengambilnya.

Ia membaca halaman demi halaman.

Ada hasil pemeriksaan.

Ada tanggal.

Ada usia kandungan.

Dan ada satu catatan nama dokter yang sama seperti foto di ponselku.

Dinda mulai sesenggukan.

“Mas, dengarkan aku dulu.”

Bayu tidak menjawab.

Ia hanya menatap satu tanggal.

Kemudian bertanya,

“Pada tanggal pemeriksaan pertama ini, kita belum balikan.”

Dinda terdiam.

Bayu kembali membaca.

“Dan di sini usia kandungan sudah sebelas minggu.”

“Mas…”

“Waktu itu aku masih di Balikpapan.”

Ibu Ratna menangis semakin keras.

Pak Hadi memejamkan mata.

Bayu mengangkat wajah.

“Siapa Reza?”

Dinda langsung menutup mulut.

Itu jawaban tanpa kata.

Bayu berdiri.

“Kamu pernah bilang Reza cuma teman kantor.”

“Memang!”

“Jangan bohong lagi.”

“Aku tidak bohong!”

“Kalau begitu kenapa namanya membuat kamu ketakutan?”

Dinda menangis.

Ia berusaha meraih lengan Bayu.

Bayu mundur.

“Aku pergi ke Balikpapan enam bulan.”

Ia berbicara sangat pelan.

“Kita putus setelah dua bulan aku di sana.”

Dinda mengangguk sambil menangis.

“Kamu meneleponku tiga bulan kemudian. Kamu bilang kamu menyesal. Kamu minta kita mencoba lagi.”

Dinda tidak mampu menatapnya.

“Aku pulang. Dua minggu kemudian kamu bilang telat haid.”

Bayu tertawa tanpa humor.

“Kamu bilang usia kandungan sekitar tujuh minggu.”

Tidak ada yang bergerak.

“Ternyata ketika kita menikah, kandunganmu hampir delapan belas minggu.”

Bayu menatap Dinda.

“Jadi saat kamu bilang tujuh minggu…”

Ia berhenti.

Seolah sulit mengucapkannya.

“…kamu sudah tahu sebenarnya lebih dari tiga bulan?”

Dinda duduk perlahan.

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Kehilangan kamu.”

Bayu memejamkan mata.

“Apa Rio anakku?”

Pertanyaan itu membuat seluruh ruangan terasa membeku.

Dinda menangis semakin keras.

“Aku tidak tahu.”

Arman mengusap wajahnya.

Ibu Ratna langsung menutup mulut.

Pak Hadi menunduk.

Bayu tidak berkata apa pun hampir satu menit.

Kemudian ia mengangguk kecil.

“Setidaknya akhirnya ada satu jawaban jujur.”

“Mas…”

“Jangan panggil aku dulu.”

Dinda tersedu.

“Aku mau jelaskan.”

“Apa yang mau dijelaskan?”

“Aku memang dekat dengan Reza ketika kita putus. Tapi setelah kamu balik, aku benar-benar ingin hidup sama kamu.”

“Lalu kamu memutuskan aku tidak perlu tahu kalau anak yang kamu kandung mungkin anak orang lain?”

Dinda menangis.

Ibu Ratna tiba-tiba berkata,

“Bayu, waktu itu Ibu yang menyuruh Dinda diam.”

Bayu menoleh.

“Apa?”

Aku sendiri tidak menyangka beliau akan mengaku.

Ibu Ratna menggenggam ujung bajunya.

“Dinda datang ke rumah sambil menangis. Reza tidak mau bertanggung jawab. Tidak lama setelah itu kamu menghubungi Dinda lagi.”

Pak Hadi menatap istrinya.

“Dan kamu tahu semua ini?”

Ibu Ratna mengangguk.

“Dinda bilang dia masih sayang Bayu.”

Pak Hadi mengembuskan napas berat.

“Kamu menyuruh anakmu menipu orang yang akan menikah dengannya?”

“Aku pikir setelah menikah semuanya akan selesai.”

“Rahasia tidak selesai hanya karena pesta pernikahan digelar!”

Pak Hadi membentak untuk pertama kalinya.

Ibu Ratna langsung terdiam.

Bayu meraih kunci motornya.

“Aku pulang.”

Dinda panik.

“Mas, jangan!”

“Rio ikut aku.”

“Jangan bawa anakku!”

Bayu menatapnya.

“Selama delapan tahun, aku yang menemani dia demam. Aku yang antar dia sekolah. Aku yang mengajarinya naik sepeda.”

Nada suaranya bergetar.

“Jangan sekarang bicara seolah aku orang asing hanya karena kita belum tahu hasil DNA.”

Aku merinding mendengarnya.

Di tengah kemarahan sebesar itu, Bayu masih memikirkan anak.

Dinda justru berteriak,

“Kalau Mas pergi, semua orang bakal menyalahkan aku!”

Bayu tersenyum pahit.

“Yang kamu pikirkan masih dirimu sendiri.”

Ia berjalan menuju kamar tempat Rio dan Naufal bermain.

Namun sebelum mencapai pintu, Pak Hadi menghentikannya.

“Bayu.”

Bayu menoleh.

“Ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu.”

Wajah Dinda langsung berubah.

“Bapak!”

Pak Hadi menatap putrinya.

“Kamu tadi bilang semua orang menyerangmu karena urusan rumah.”

Beliau mengambil satu berkas lain dari map.

“Kita belum selesai soal rumah.”

Dinda berdiri.

“Tidak perlu dibahas!”

“Justru harus.”

Pak Hadi mengeluarkan dua lembar mutasi rekening.

“Selama enam bulan terakhir, ada transfer rutin dari rekening Ibu ke rekeningmu.”

Ibu Ratna langsung menunduk.

Nilainya tidak kecil.

Lima juta.

Tujuh juta.

Sepuluh juta.

Kadang dua belas juta.

Totalnya lebih dari lima puluh juta rupiah.

Arman tercengang.

“Ibu memberi Dinda uang sebanyak ini?”

Ibu Ratna berkata lirih,

“Dia sedang kesulitan.”

Bayu langsung menoleh kepada istrinya.

“Kesulitan apa?”

Tidak ada jawaban.

“Bengkelku membayar biaya rumah.”

Dinda diam.

“Cicilan mobil sudah lunas.”

Dinda terus diam.

“Uang sekolah Rio aku bayar.”

Bayu mengangkat dokumen rekening.

“Lima puluh juta ini dipakai untuk apa?”

Aku melihat tangan Dinda mulai gemetar.

Pak Hadi lalu mengeluarkan lembar terakhir.

Bukan mutasi rekening.

Bukan surat rumah.

Melainkan hasil cetak percakapan.

Pak Hadi meletakkannya di meja.

Di sana terlihat pesan Dinda kepada seseorang bernama RZ.

Pesan terakhir dikirim hanya tiga minggu sebelumnya.

Aku hampir berhasil urus rumah Bapak. Kalau bagian tanah sudah jelas, utangmu bisa kita tutup. Jangan hubungi aku dulu sampai semuanya selesai.

Bayu membaca pesan itu.

Wajahnya benar-benar kehilangan warna.

Ia menatap istrinya.

“RZ…”

Suara Bayu hampir tidak terdengar.

“Reza?”

Dinda tidak menjawab.

Dan malam yang kukira sudah mencapai titik terburuk ternyata baru saja membuka pintu menuju rahasia yang jauh lebih besar.