Bagian 3 — Ketika Pembeli Datang Mengukur Ruang Tamu, Keluarga Suamiku Baru Menyadari Siapa Pemilik Rumah Ini

Avatar penulis
Cerita 02
11 menit baca 176 tayangan
Bagian 3 — Ketika Pembeli Datang Mengukur Ruang Tamu, Keluarga Suamiku Baru Menyadari Siapa Pemilik Rumah Ini
Indeks

Bagian 3 — Ketika Pembeli Datang Mengukur Ruang Tamu, Keluarga Suamiku Baru Menyadari Siapa Pemilik Rumah Ini

Selama beberapa detik, Dimas tidak berkata apa-apa.

Aku bahkan memeriksa layar ponsel untuk memastikan sambungan belum terputus.

Lalu suaranya terdengar lagi.

Lebih rendah.

Lebih berbahaya.

“Maksud kamu apa, dua minggu lagi kami harus keluar?”

Aku duduk di tepi tempat tidur masa kecilku.

“Unit itu sudah dalam proses penjualan.”

Di seberang sana terdengar suara barang jatuh.

Kemudian Bu Ratna berteriak,

“Apa katanya?”

Dimas tidak menjawab ibunya.

“Rani, jangan bercanda.”

“Aku tidak bercanda.”

“Kamu jual apartemen?”

“Iya.”

“Tanpa izin aku?”

Pertanyaan itu begitu absurd sampai aku membutuhkan beberapa detik untuk menjawab.

“Mas, apartemen itu kubeli sebelum menikah. Sertifikat atas namaku. Kamu tahu itu.”

“Aku suami kamu!”

“Dan kemarin kamu menyuruhku keluar dari apartemen itu karena ibumu sedang marah.”

“Itu cuma sementara!”

“Bagiku cukup.”

Bu Ratna merebut ponselnya.

Suaranya langsung memenuhi telingaku.

“Kamu perempuan macam apa? Baru ribut sedikit sudah jual rumah?”

“Bu, itu bukan rumah Ibu.”

“Empat tahun anak saya tinggal di situ!”

“Tinggal tidak berarti memiliki.”

“Kurang ajar!”

Aku mendengar Mas Rio mencoba menenangkan ibunya.

Bu Ratna justru semakin keras.

“Kamu mau bikin keluarga ini jadi gelandangan?”

Kalimat itu membuatku tersenyum pahit.

Empat tahun aku menanggung banyak pengeluaran.

Tidak pernah sekali pun aku menyebut mereka menumpang.

Sekarang, ketika aku memilih pergi, tiba-tiba aku dituduh membuat mereka kehilangan rumah.

“Masih ada dua minggu untuk mencari tempat lain,” kataku.

“Kamu batalkan penjualan itu!”

“Tidak.”

“Dimas bisa laporkan kamu!”

“Silakan.”

Telepon ditutup.

Lima menit kemudian, grup WhatsApp keluarga Dimas meledak.

Selama ini aku hampir tidak pernah aktif di sana.

Tiba-tiba namaku disebut berkali-kali.

Tante Mira menulis:

Rani, masalah keluarga jangan dibawa ke urusan harta.

Om Dedi menulis:

Kalau benar apartemen mau dijual tanpa musyawarah dengan suami, itu keterlaluan.

Sepupu Dimas mengirim:

Kasihan Tante Ratna sudah tua, masa disuruh pindah mendadak?

Aku membaca semuanya.

Aku tidak menjawab.

Lalu satu foto muncul.

Foto Bu Ratna sedang duduk di sofa ruang tamu dengan mata merah.

Caption-nya:

Empat tahun menjaga menantu seperti anak sendiri, akhirnya dibuang.

Aku hampir kagum melihat betapa cepat korban bisa berubah peran di cerita yang dibuatnya sendiri.

Ibu masuk membawa potongan pepaya.

Dia melihat wajahku.

“Mereka menyerang kamu?”

Aku menyerahkan ponsel.

Ibu membaca beberapa pesan.

Kemudian dia meletakkannya.

“Jawab kalau perlu. Kalau tidak perlu, jangan.”

Aku menatap Ibu.

“Bu, apa aku jahat?”

Ibu tidak langsung menjawab.

Dia menarik kursi.

“Kalau kamu menjual sesuatu karena ingin menghukum mereka, mungkin caramu keras.”

Aku diam.

“Tapi kalau kamu menjualnya karena kamu sadar mereka menganggap hakmu sebagai hak mereka, itu berbeda.”

Aku menunduk.

Ibu melanjutkan,

“Yang paling Ibu takutkan bukan apartemennya. Ibu takut kalau kamu kembali hanya karena merasa bersalah, nanti mereka tahu cara membuatmu menyerah.”

Kalimat itu menancap dalam.

Hari berikutnya aku tetap bekerja seperti biasa.

Dimas datang ke kantor.

Resepsionis meneleponku pukul sebelas.

“Mbak Rani, ada Pak Dimas menunggu.”

Aku turun.

Dimas berdiri dekat pintu masuk dengan wajah kusut.

Begitu melihatku dia langsung mendekat.

“Kita bicara.”

Kami pergi ke kedai kopi di gedung sebelah.

Dia bahkan tidak memesan minum.

“Batalkan.”

Itu kata pertamanya.

“Aku tidak akan.”

“Uang tanda jadi bisa dikembalikan.”

“Kontrak sudah ditandatangani.”

“Kita bayar penalti.”

“Aku tidak mau.”

Dimas menepuk meja.

Beberapa orang menoleh.

“Kenapa kamu keras kepala begini?”

“Aku belajar dari empat tahun terakhir.”

“Jangan dramatis.”

“Aku tidak sedang dramatis.”

Aku menatapnya.

“Aku cuma akhirnya berhenti berharap kamu akan memilih melindungi pernikahan kita.”

Dimas tertawa sinis.

“Ini gara-gara Ibu marah soal ikan?”

Aku hampir tidak percaya.

“Menurutmu ini tentang salmon?”

“Ya awalnya itu.”

“Tidak, Mas.”

Aku membuka ponsel.

Kuperlihatkan sebuah folder.

Di dalamnya ada screenshot.

Pesan Bu Ratna yang meminta uang.

Pesan Dimas yang menyuruhku mengalah.

Transfer untuk biaya medis ibunya.

Bukti aku membayar iuran apartemen.

Foto sertifikat apartemen di ponsel Dimas.

Pesan mengenai rencana menjadikan unit sebagai jaminan.

“Aku menyimpan semuanya bukan karena mau menghitung-hitung,” kataku.

“Aku menyimpannya karena beberapa bulan terakhir aku mulai takut suatu hari kalian akan mencoba mengambil keputusan besar tanpa persetujuanku.”

Dimas memandang layar.

Lalu wajahnya berubah.

“Jadi kamu memang sudah merencanakan ini?”

“Aku merencanakan melindungi diriku.”

“Kamu tidak percaya suami sendiri?”

“Aku percaya dulu.”

Dia bersandar.

“Rani, dengar. Soal pinjaman Rio itu tidak seperti yang kamu pikir.”

“Bagaimana?”

“Bengkel Rio sedang butuh modal.”

“Aku tahu.”

“Kalau berhasil, kita semua untung.”

“Kita siapa?”

Dia diam.

“Kamu pernah bertanya apakah aku mau menjaminkan rumahku?”

“Makanya mau dibahas.”

“Setelah kalian mengundang orang kredit ke apartemen?”

Dia memalingkan muka.

Aku sudah mendapat jawabannya.

Beberapa saat kemudian Dimas berkata,

“Ibu cuma takut kamu menolak.”

Aku tertawa.

“Jadi karena takut aku menolak, solusinya adalah membuat semuanya dulu baru memberitahuku?”

“Jangan dipelintir.”

“Tidak ada yang perlu dipelintir.”

Aku berdiri.

“Dua belas hari lagi serah terima.”

Dimas ikut berdiri.

“Kalau kamu lakukan ini, jangan harap hubungan kita bisa kembali seperti dulu.”

Aku menatapnya.

“Mas, aku menjual apartemen karena aku sudah tahu hubungan kita tidak boleh kembali seperti dulu.”

Aku pergi.

Malamnya, Bu Ratna datang ke rumah Ibu.

Bukan sendiri.

Dia membawa dua orang saudara perempuan Dimas.

Aku sedang membantu Ibu menyiram tanaman ketika sebuah mobil berhenti.

Bu Ratna turun lebih dulu.

“Panggil Rani!”

Tetangga langsung melihat.

Aku keluar.

“Bu.”

Dia berdiri di halaman dengan wajah merah.

“Kita selesaikan sekarang.”

Ibu keluar dari dalam rumah.

“Silakan bicara baik-baik.”

Bu Ratna menunjuk kepadaku.

“Anak Ibu sudah bikin keluarga saya kacau!”

Ibu menjawab tenang,

“Anak saya pulang membawa satu koper setelah suaminya menyuruh dia keluar dari rumah miliknya sendiri.”

Bu Ratna terdiam.

Salah satu adik Dimas mencoba masuk.

“Tante, jangan diperpanjang.”

Bu Ratna membuka tasnya.

Dia mengeluarkan sebuah map.

“Ini.”

Aku melihatnya.

“Apa?”

“Surat pernyataan. Kamu tanda tangan pembatalan penjualan.”

Aku hampir tertawa.

“Tidak.”

“Baca dulu!”

“Aku tidak perlu.”

“Kalau tidak, saya bawa masalah ini ke pengacara.”

“Silakan.”

Wajahnya berubah.

Mungkin selama empat tahun dia tidak pernah melihatku menolak secepat itu.

Dia terbiasa dengan Rani yang mengangguk.

Rani yang diam.

Rani yang berkata, “Tidak apa-apa.”

Perempuan itu sudah tidak ada.

Bu Ratna mulai menangis.

“Kamu tega sama Dimas?”

Aku menjawab,

“Bu, waktu Dimas menyuruh saya pergi, apakah Ibu bilang dia tega?”

Dia terdiam.

“Waktu Ibu mau memakai sertifikat apartemen saya untuk jaminan usaha Mas Rio, apakah Ibu bertanya apakah saya keberatan?”

“Semua demi keluarga!”

“Kenapa selalu aset saya yang harus dikorbankan demi keluarga Ibu?”

Kalimat itu membuat halaman mendadak sunyi.

Salah satu tante memandang Bu Ratna.

Mungkin itu pertama kalinya mereka mendengar soal jaminan.

Bu Ratna cepat berkata,

“Cuma pinjaman enam bulan!”

Aku mengambil ponsel.

“Aku punya pesan dari Pak Hendra.”

Wajah Mas Rio yang baru turun dari mobil langsung berubah.

Aku baru menyadari dia ikut datang.

“Pak Hendra mengatakan pengajuan kredit yang kalian bicarakan nilainya Rp650 juta.”

Bu Ratna langsung menatap Rio.

Aku melanjutkan.

“Dan bukan enam bulan.”

Rio menyela,

“Mbak, itu urusan bisnis.”

“Dengan apartemenku sebagai jaminan.”

Dia diam.

Ibu Dimas berkata,

“Nanti juga dibayar!”

Aku menatapnya.

“Dari apa?”

Tidak ada jawaban.

Aku memang sudah mencari tahu.

Bengkel Rio bukan sedang berkembang.

Bengkel itu hampir tutup.

Dia punya utang kepada pemasok.

Dua cicilan mobil tertunggak.

Bahkan salah satu karyawannya belum dibayar dua bulan.

Jika apartemenku benar-benar dijaminkan, risiko itu akan berada di pundakku.

Dan yang paling menyakitkan, Dimas tahu.

Aku memandang suamiku yang baru turun dari mobil kedua.

Dia rupanya datang belakangan.

“Mas.”

Dimas berhenti.

“Berapa lama kamu tahu utang Rio?”

Bu Ratna menyela.

“Jangan bicara di sini!”

Aku tetap menatap Dimas.

“Berapa lama?”

Dia akhirnya menjawab.

“Tiga bulan.”

Dadaku terasa dingin.

Tiga bulan.

Waktu yang sama ketika aku menemukan foto sertifikatku di ponselnya.

“Jadi tiga bulan lalu kamu foto sertifikat bukan untuk menghitung aset keluarga?”

Dimas membisu.

“Jawab.”

“Rani…”

“Untuk pengajuan pinjaman?”

Dia mengusap wajah.

“Itu baru rencana.”

Aku mengangguk perlahan.

Aneh.

Mendapat kepastian justru membuat semuanya lebih ringan.

Tidak ada lagi ruang untuk menyangkal.

Tidak ada lagi alasan untuk mengatakan mungkin aku terlalu sensitif.

Aku masuk rumah.

Mengambil sebuah amplop.

Lalu kembali.

Kuserahkan kepada Dimas.

“Apa ini?”

“Salinan surat dari pengacaraku.”

Dia membuka.

Wajahnya pucat.

Aku berkata,

“Aku sudah mengajukan konsultasi perceraian.”

Bu Ratna menjerit.

“Karena masalah begini kamu mau cerai?”

Aku memandangnya.

“Bukan karena ikan.”

“Bukan karena satu pertengkaran.”

“Bukan hanya karena apartemen.”

Aku menunjuk Dimas.

“Aku mau bercerai karena selama empat tahun suamiku selalu meminta aku mengalah supaya ibunya nyaman.”

Aku menunjuk Rio.

“Dan ketika keluarganya membutuhkan uang, mereka hampir menjadikan asetku jaminan tanpa persetujuanku.”

Lalu aku memandang Bu Ratna.

“Yang paling penting, ketika saya akhirnya tidak mau lagi menurut, kalian semua datang ke rumah ibu saya untuk memaksa saya.”

Tidak ada yang menjawab.

Dimas menggenggam surat itu.

“Kamu serius?”

“Sangat.”

Tapi rupanya mereka belum benar-benar percaya aku akan meneruskannya.

Tiga hari kemudian, Adrian dan Meilani datang ke apartemen bersama desainer interior untuk mengukur ruang tamu.

Aku sudah memberi tahu Dimas sebelumnya bahwa calon pemilik akan datang.

Dia tidak menjawab.

Aku ikut hadir bersama Siska.

Saat pintu terbuka, Bu Ratna berdiri di sana.

Dia melihat empat orang asing membawa meteran laser dan katalog furnitur.

“Ada apa ini?”

Siska menjawab sopan,

“Kami melakukan pengukuran sebelum serah terima.”

Bu Ratna memandangku.

Wajahnya berubah putih.

“Kamu benar-benar jadi menjual?”

Aku masuk.

“Iya, Bu.”

Meilani menunjuk dinding dekat televisi.

“Pak Adrian, nanti kabinetnya kita bongkar saja ya.”

Bu Ratna langsung berdiri di depan lemari televisi.

“Tidak boleh!”

Semua orang diam.

Dia menatapku dengan mata merah.

“Rani, ini rumah anak saya!”

Sebelum aku menjawab, Adrian berkata pelan,

“Maaf, Bu. Berdasarkan dokumen transaksi, unit ini milik Mbak Rani dan sedang kami beli.”

Kalimat sederhana dari orang asing itu ternyata jauh lebih keras daripada seluruh pertengkaran kami.

Bu Ratna duduk perlahan di sofa.

Untuk pertama kalinya selama empat tahun, seseorang selain aku mengatakan kebenaran yang tidak bisa dia bantah.

Dimas pulang satu jam kemudian.

Begitu masuk, dia melihat pengukuran sedang berlangsung.

Dia menarikku ke dapur.

“Kamu mempermalukan Ibu.”

Aku melepaskan tangannya.

“Jangan pegang aku.”

“Kamu sengaja bawa pembeli saat Ibu ada di sini!”

“Ini unit yang sedang mereka beli. Mereka berhak mengukur.”

“Kasih kami waktu sebulan.”

“Tidak.”

“Rani!”

“Jadwal serah terima sudah disepakati.”

Dimas menatapku lama.

Kemudian dia berkata sesuatu yang tidak kuduga.

“Kalau kamu tetap jual apartemen, setidaknya bagi uangnya.”

Aku benar-benar mengira aku salah dengar.

“Apa?”

“Kita menikah empat tahun.”

Aku tertawa pendek.

“Unit itu kubeli sebelum menikah.”

“Tapi selama menikah aku tinggal di sini. Aku ikut merawat.”

“Merawat bagaimana?”

“Aku pernah ganti AC.”

Aku menatapnya.

AC seharga enam juta rupiah.

Dibandingkan apartemen senilai hampir dua miliar.

“Jadi kamu ingin bagian karena pernah membeli AC?”

Wajahnya merah.

“Jangan menghina.”

“Aku tidak menghina. Aku memastikan logikanya.”

Dia mendekat.

“Setidaknya Rp400 juta.”

Aku terdiam.

Dimas melanjutkan,

“Supaya aku bisa sewa rumah untuk Ibu dan membantu Rio melunasi utang.”

Di situlah aku memahami satu hal yang selama ini gagal kupahami.

Bahkan ketika pernikahan kami sedang runtuh, pikirannya masih sama.

Asetku tetap dianggap solusi untuk keluarganya.

Aku mengangguk.

“Tidak.”

Dimas mengatupkan rahang.

“Kalau begitu aku akan lawan di pengadilan.”

“Silakan.”

“Jangan menyesal.”

Aku mengambil tas.

Sebelum pergi, aku berkata,

“Mas, orang yang selama empat tahun paling banyak menyesal dalam pernikahan ini bukan kamu.”

Malam itu pengacaraku menelepon.

Dia mengatakan Dimas memang sudah menghubungi seorang pengacara.

Tapi ada hal lain.

Sebuah hal yang bahkan aku belum tahu.

“Bu Rani,” katanya, “kami menemukan ada pinjaman digital dan dua fasilitas kredit atas nama Pak Dimas dengan total cukup besar. Beberapa transaksi mengarah ke rekening adiknya.”

Aku duduk tegak.

“Berapa?”

“Sekitar Rp287 juta yang bisa kami identifikasi sejauh ini.”

Darahku terasa berhenti mengalir.

Selama empat tahun Dimas selalu berkata kami harus berhemat.

Dia membiarkan ibunya memeriksa struk belanjaku.

Dia mempermasalahkan salmon Rp168.000.

Sementara diam-diam, hampir tiga ratus juta rupiah telah mengalir ke masalah keluarga yang tidak pernah dia ceritakan kepadaku.

Aku menutup mata.

Pengacaraku melanjutkan,

“Dan ada satu transfer yang perlu Ibu lihat sendiri.”

Beberapa menit kemudian sebuah dokumen masuk ke emailku.

Aku membukanya.

Transfer sebesar Rp95 juta.

Dari rekening Dimas.

Ke rekening Bu Ratna.

Catatan transaksi:

DP rumah kontrakan Rio.

Tanggalnya enam bulan lalu.

Enam bulan lalu.

Pada hari yang sama ketika Bu Ratna mengatakan kepadaku dia tidak punya uang untuk membayar biaya rumah sakit dan aku mentransfer Rp18 juta untuknya.

Tanganku mulai gemetar.

Belum selesai.

Di bawahnya ada screenshot percakapan antara Dimas dan Rio yang diperoleh dari dokumen mediasi awal.

Satu kalimat membuat napasku tercekat.

Tenang. Kalau Rani masih sulit, suruh Ibu bikin dia pergi dulu beberapa hari. Sertifikatnya kita urus pas dia nggak ada.

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

Jadi malam salmon itu…

Mungkin bukan sekadar ledakan emosi.

Mungkin mereka memang membutuhkan aku keluar dari apartemen.

Dan untuk pertama kalinya, kemarahanku berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin.

Aku tidak lagi ingin berdebat.

Aku hanya ingin semua orang yang terlibat menerima konsekuensi dari pilihan mereka sendiri.