Bagian 4 — Mereka Memintaku Kembali Setelah Kehilangan Rumah, Tetapi Aku Memilih Hidup yang Tidak Bisa Mereka Atur Lagi

Avatar penulis
Cerita 02
13 menit baca 181 tayangan
Bagian 3 — Ketika Pembeli Datang Mengukur Ruang Tamu, Keluarga Suamiku Baru Menyadari Siapa Pemilik Rumah Ini
Indeks

Bagian 4 — Mereka Memintaku Kembali Setelah Kehilangan Rumah, Tetapi Aku Memilih Hidup yang Tidak Bisa Mereka Atur Lagi

Aku tidak tidur malam itu.

Bukan karena sedih.

Bukan juga karena takut.

Aku duduk di meja makan rumah Ibu sampai hampir pukul tiga pagi, memandangi screenshot percakapan Dimas dan Rio.

Suruh Ibu bikin dia pergi dulu beberapa hari.

Kalimat itu berulang di kepalaku.

Aku mengingat kembali malam salmon.

Cara Bu Ratna mendadak meledak.

Cara Dimas sama sekali tidak mencoba menenangkan keadaan.

Cara dia begitu cepat menyarankan aku pergi.

Cara keesokan harinya mereka sudah berencana mendatangkan seseorang untuk membahas pinjaman.

Selama ini aku mengira aku diusir karena suamiku terlalu lemah menghadapi ibunya.

Ternyata kemungkinan sebenarnya jauh lebih buruk.

Kepergianku menguntungkan mereka.

Pagi harinya aku menemui pengacaraku, Mbak Nabila.

Aku membawa semua dokumen.

Pesan.

Bukti pembayaran.

Riwayat pembelian apartemen.

Bukti bahwa apartemen lunas sebelum pernikahan.

Bahkan struk renovasi kecil yang selama ini kusimpan.

Nabila membaca semuanya.

“Apa tujuan utama Mbak sekarang?”

Aku menjawab tanpa ragu.

“Perceraian.”

“Masih ada keinginan mediasi?”

“Aku akan datang kalau prosedur membutuhkan. Tapi aku tidak ingin kembali.”

Dia mengangguk.

“Kalau begitu kita fokus pada dokumen dan fakta.”

Aku menyukai cara Nabila berbicara.

Tidak ada kalimat dramatis.

Tidak ada janji bahwa aku pasti menang segala hal.

Dia hanya menjelaskan apa yang bisa dibuktikan.

Apa yang harus disiapkan.

Dan bagian mana yang harus diselesaikan secara tertib.

Aku pulang dengan perasaan jauh lebih tenang.

Empat hari sebelum serah terima apartemen, Dimas datang sendirian ke rumah Ibu.

Kali ini dia tidak marah.

Dia membawa martabak kesukaanku.

Aku hampir ingin tertawa karena selama empat tahun menikah, dia bahkan sering lupa rasa martabak yang kusuka.

Sekarang dia ingat.

Ibu membiarkan kami bicara di teras.

Dimas duduk di hadapanku.

Wajahnya jauh lebih kurus.

“Rani.”

Aku menunggu.

“Pulang.”

Hanya satu kata.

Aku memandangnya.

“Pulang ke mana?”

Dia menelan ludah.

“Ke aku.”

“Kenapa?”

“Karena kita masih suami istri.”

Aku tersenyum tipis.

“Kamu menyuruhku pergi.”

“Aku salah.”

Itu pertama kalinya selama empat tahun aku mendengar Dimas mengatakan dua kata itu tanpa tambahan “tapi”.

Namun rupanya aku terlalu cepat berharap.

Karena lima detik kemudian dia melanjutkan,

“Tapi kamu juga keterlaluan langsung jual apartemen.”

Aku mengangguk.

Ternyata tetap sama.

“Mas, kamu datang untuk meminta maaf atau bernegosiasi?”

Dia menunduk.

“Kita mulai lagi.”

“Dengan ibumu?”

“Ibu bisa tinggal di tempat lain.”

“Dengan Rio?”

“Aku tidak akan bantu dia lagi.”

“Dengan utangmu?”

Dimas membeku.

Aku melihat wajahnya.

Jadi dia belum tahu aku sudah mengetahuinya.

“Utang apa?”

Aku membuka ponsel.

Kuperlihatkan data yang dikirim pengacara.

Wajahnya langsung pucat.

“Dari mana kamu dapat?”

“Itu bukan jawaban.”

“Rani, dengar dulu.”

“Aku sedang mendengar.”

Dia mengusap rambut.

“Aku bantu Rio karena dia adikku.”

“Rp287 juta?”

“Tidak semuanya buat Rio.”

“Lalu?”

“Ada untuk Ibu.”

“Kenapa tidak pernah cerita?”

Dia tidak menjawab.

Aku berkata,

“Mas, waktu aku beli sepatu kerja Rp700 ribu, ibumu bilang aku boros.”

“Waktu aku ganti ponsel setelah empat tahun, kamu menyuruhku cari yang lebih murah.”

“Waktu aku beli salmon Rp168 ribu, aku dituduh menghabiskan uang keluarga.”

Aku menatap matanya.

“Sedangkan kamu mengalirkan ratusan juta rupiah ke keluargamu tanpa bilang kepadaku.”

“Uang itu dari penghasilanku.”

Aku tersenyum.

“Menarik.”

Dia mengerutkan kening.

“Kamu boleh punya uang sendiri, tapi ketika aku mengatakan salmon kubeli dengan uangku sendiri, ibumu bilang setelah menikah tidak ada uang sendiri.”

Dimas terdiam.

“Aku tidak pernah meminta gajimu,” lanjutku.

“Aku cuma meminta kejujuran.”

“Aku takut kamu tidak setuju.”

“Nah.”

Aku mengangguk.

“Itulah masalahnya.”

“Setiap kali kamu takut aku tidak setuju, kamu memilih menyembunyikan sesuatu.”

“Setiap kali ibumu takut aku menolak, dia memilih menekan aku.”

“Setiap kali Rio membuat kesalahan, kalian mencari aset orang lain untuk menyelamatkannya.”

Aku bersandar.

“Dan kalian menyebut semua itu keluarga.”

Mata Dimas mulai merah.

“Aku bisa berubah.”

“Mungkin.”

“Kita bisa konseling.”

“Mungkin.”

“Aku pindah dari Ibu.”

“Mungkin.”

Dia menatapku penuh harap.

Aku melanjutkan,

“Tapi perubahanmu nanti bukan lagi tanggung jawabku.”

Harapan itu runtuh.

“Rani…”

“Aku sudah selesai.”

Dia menunduk lama.

Kemudian berkata,

“Kalau kamu cerai, utangku bagaimana?”

Pertanyaan itu membuatku menyadari dia belum datang karena takut kehilangan aku sepenuhnya.

Sebagian dirinya masih berpikir tentang akibat finansial.

Aku berdiri.

“Itu utang yang kamu buat tanpa sepengetahuanku. Bicarakan dengan pengacaramu.”

Dia ikut berdiri.

“Jadi segampang itu?”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

“Ini sama sekali tidak gampang.”

“Aku butuh empat tahun untuk berani melakukannya.”

Hari serah terima apartemen tiba.

Aku datang pukul sembilan pagi.

Dimas sudah memindahkan sebagian besar barang malam sebelumnya.

Masalahnya adalah Bu Ratna menolak pergi.

Saat aku tiba bersama Siska, Adrian, Meilani, dan perwakilan manajemen, Bu Ratna masih duduk di sofa.

Tiga koper besar ada di ruang tamu.

Tetapi dia belum beranjak.

“Aku tidak akan pergi sebelum Dimas datang.”

Aku melihat jam.

“Bu, serah terima pukul sepuluh.”

“Dimas bilang dia masih di jalan.”

Adrian terlihat tidak nyaman.

Aku meminta maaf.

Kami menunggu.

Dimas tiba hampir pukul sepuluh.

Dia langsung mendekati ibunya.

“Ibu, ayo.”

Bu Ratna mulai menangis.

“Kamu benar-benar biarkan istrimu mengusir Ibu?”

Dimas memejamkan mata.

“Ibu, unitnya sudah dijual.”

“Kamu suaminya!”

“Namaku tidak ada di sertifikat.”

Aku melihat Bu Ratna membeku.

Mungkin ini pertama kalinya anaknya sendiri mengatakan kalimat itu.

“Apa?”

Dimas mengulang dengan suara lebih pelan.

“Apartemen ini memang milik Rani dari sebelum kami menikah.”

Bu Ratna menatapku.

Matanya dipenuhi kemarahan.

“Jadi kamu menang sekarang?”

Aku terdiam sebentar.

Lalu menjawab,

“Bu, ini bukan pertandingan.”

“Kamu dapat uang hampir dua miliar. Kami dapat apa?”

Aku menahan napas.

“Bu mendapat empat tahun tinggal tanpa membayar sewa.”

Wajahnya berubah.

“Aku juga membayar banyak kebutuhan Ibu.”

Dia langsung menangis lebih keras.

“Kamu hitung semua?”

“Tidak.”

“Kalau aku menghitung, aku sudah membawa tagihan.”

Ruangan hening.

Meilani menunduk, mungkin tidak ingin ikut mendengar pertengkaran keluarga orang.

Aku berkata lebih pelan,

“Saya tidak pernah meminta uang sewa.”

“Saya tidak pernah meminta Ibu mengganti makanan.”

“Saya tidak pernah mempermasalahkan listrik.”

“Saya bahkan membayar asuransi tambahan Ibu karena Dimas bilang sedang kesulitan.”

Aku menatap Bu Ratna.

“Yang saya minta cuma satu.”

“Hormati saya sebagai orang yang tinggal di rumah ini.”

“Tapi Ibu bahkan tidak bisa memberi saya itu.”

Bu Ratna tidak menjawab.

Dimas membawa koper pertama ke lift.

Mas Rio muncul sekitar sepuluh menit kemudian untuk membantu.

Dia tidak berani menatapku.

Saat mengambil koper terakhir, dia akhirnya berkata,

“Mbak, maaf.”

Aku memandangnya.

“Apa yang kamu minta maaf?”

Dia tampak terkejut.

Aku melanjutkan,

“Karena utang?”

“Karena mau menggunakan apartemenku?”

“Atau karena menyarankan agar ibumu membuatku pergi supaya kalian bisa mengurus sertifikat?”

Wajahnya pucat.

Bu Ratna langsung menoleh.

“Rio!”

Ternyata dia bahkan tidak tahu detail percakapan itu.

Rio menunduk.

Dimas berkata,

“Sudah.”

Aku menatap mereka bertiga.

“Ya.”

“Memang sudah.”

Pukul sebelas kurang lima menit, mereka pergi.

Aku menyerahkan kartu akses tambahan kepada Adrian.

Meilani berdiri di dekat jendela.

“Terima kasih, Mbak.”

Aku mengangguk.

“Semoga betah.”

Sebelum keluar, aku berdiri beberapa detik di ruang tamu kosong.

Bekas sofa terlihat di lantai.

Dinding tempat televisi tergantung tampak lebih terang daripada bagian lain.

Empat tahun hidupku seolah sudah dikemas dan diangkut keluar.

Aku menunggu rasa sedih datang.

Ternyata yang datang justru lega.

Aku menutup pintu.

Kali ini dari luar.

Dan aku tahu aku tidak akan pernah membukanya lagi sebagai pemilik.

Hasil penjualan setelah berbagai biaya tidak langsung kugunakan.

Aku menyimpan sebagian besar dalam instrumen aman sambil mencari tempat baru.

Tiga bulan kemudian, aku membeli sebuah rumah kecil dua lantai di Bintaro.

Bukan rumah mewah.

Luas tanahnya hanya sembilan puluh meter.

Tapi ada satu jendela besar di dapur.

Ada teras mungil.

Ada kamar yang kusiapkan untuk Ibu jika suatu hari dia ingin menginap.

Dan yang paling penting, hanya ada satu orang yang menentukan siapa boleh tinggal di sana.

Aku.

Ibu tertawa ketika pertama kali datang.

“Rumahnya tidak sebesar apartemenmu dulu.”

Aku membuka jendela dapur.

“Tapi udaranya lebih enak.”

Ibu menatapku.

Dia tahu aku tidak sedang membicarakan udara.

Proses perceraianku dengan Dimas berlangsung beberapa bulan.

Tidak cepat.

Tidak juga mudah.

Ada mediasi.

Ada pertemuan dengan pengacara.

Ada pembicaraan mengenai barang-barang yang kami beli selama pernikahan.

Kami menyelesaikan bagian yang memang perlu diselesaikan dengan dokumen.

Dimas sempat mencoba memasukkan apartemen sebagai harta yang dipersoalkan.

Namun dokumen pembelian, pelunasan, dan tanggal kepemilikan sudah jelas.

Pada akhirnya, pembahasan itu berhenti.

Utang pribadinya menjadi masalah lain.

Aku tidak akan berpura-pura memahami semua proses hukum dengan sederhana.

Yang kutahu, aku mengikuti nasihat pengacaraku, membawa bukti, dan tidak lagi menandatangani apa pun karena rasa takut atau rasa bersalah.

Sementara itu, kehidupan Dimas berubah drastis.

Dia menyewa rumah kecil untuk Bu Ratna di Ciputat.

Masalahnya, gaji Dimas sudah terbebani berbagai cicilan.

Rio juga gagal mempertahankan bengkelnya.

Beberapa peralatan disita pemasok karena pembayaran tertunggak.

Mobil operasionalnya dijual.

Untuk pertama kalinya, setiap anggota keluarga harus menanggung akibat keputusan finansial mereka sendiri.

Bu Ratna beberapa kali menghubungiku.

Awalnya dengan marah.

Kamu puas sekarang?

Aku tidak menjawab.

Seminggu kemudian:

Dimas stres gara-gara kamu.

Aku tetap tidak menjawab.

Sebulan kemudian nadanya berubah.

Kalau kamu mau kembali, Ibu tidak akan ikut campur lagi.

Aku membacanya lama.

Lalu menghapus notifikasi.

Bukan karena aku dendam.

Aku hanya sudah memahami bahwa janji seseorang setelah kehilangan kendali tidak sama dengan perubahan karakter.

Suatu sore, sekitar dua minggu sebelum sidang terakhir, aku bertemu Dimas di sebuah kafe karena ada dokumen yang harus kami periksa.

Dia terlihat berbeda.

Lebih kurus.

Lebih pendiam.

Tidak ada lagi nada memerintah.

Setelah urusan dokumen selesai, dia tidak langsung pergi.

“Rani.”

“Ya?”

“Aku mau tanya satu hal.”

Aku menunggu.

“Kalau malam itu aku tidak menyuruh kamu pergi… apakah kita masih bisa bersama?”

Aku berpikir cukup lama.

Lalu menggeleng.

“Tidak tahu.”

Dimas terlihat kecewa.

Aku melanjutkan,

“Tapi masalahnya bukan malam itu.”

“Lalu?”

“Malam itu cuma membuatku berhenti menyangkal.”

Aku menatapnya.

“Masalah sebenarnya sudah ada sejak lama.”

“Saat ibumu merendahkanku dan kamu diam.”

“Saat keputusan di rumah selalu harus membuat ibumu nyaman.”

“Saat aku bekerja dan ikut membayar banyak kebutuhan, tapi tetap diperlakukan seperti orang yang numpang.”

“Saat kamu foto dokumen milikku untuk membantu adikmu.”

“Saat kamu menyembunyikan utang.”

“Saat kamu menganggap aku harus selalu mengalah karena aku istri.”

Dimas menunduk.

“Aku kira mempertahankan keluarga berarti membuat semua orang tenang.”

“Tidak.”

Aku menjawab pelan.

“Kadang mempertahankan keluarga berarti berani mengatakan kepada orang yang salah bahwa dia salah.”

Dia mengusap wajah.

“Aku terlambat paham.”

Aku tidak menjawab.

Beberapa penyesalan memang datang setelah semua pintu tertutup.

Tapi itu bukan berarti pintunya harus dibuka kembali.

Perceraian kami akhirnya selesai.

Hari ketika aku menerima salinan putusan, aku duduk sendirian di dalam mobil cukup lama.

Aku tidak merasa menang.

Aku juga tidak merasa kalah.

Aku merasa selesai.

Dan ternyata perasaan selesai jauh lebih damai daripada perasaan menang.

Setelah perceraian, aku mulai mengambil proyek pembukuan kecil pada malam hari.

Awalnya hanya membantu satu kedai kopi milik teman.

Lalu dua toko daring.

Lalu sebuah klinik kecil.

Enam bulan kemudian, aku memberanikan diri membuka jasa konsultasi pembukuan dan pajak untuk UMKM bersama dua mantan rekan kerja.

Aku tetap bekerja kantoran beberapa bulan sampai pendapatan usaha mulai stabil.

Setahun setelah aku keluar dari apartemen itu dengan satu koper, aku akhirnya mengundurkan diri.

Di hari terakhirku, bos memelukku dan berkata,

“Dulu kamu selalu terlihat seperti orang yang terburu-buru pulang karena takut melakukan kesalahan.”

Aku terdiam.

Mungkin dia benar.

Sekarang aku pulang karena ingin pulang.

Bukan karena takut seseorang akan marah jika makan malam terlambat.

Malam pertama setelah resmi bekerja untuk usahaku sendiri, Ibu datang membawa bahan makanan.

Dia mengeluarkan sayur.

Telur.

Tahu.

Lalu sebuah kotak kecil.

Aku melihat labelnya.

Salmon.

Aku tertawa.

“Bu, ini mahal.”

Ibu menatapku santai.

“Lagi diskon.”

Kalimat itu begitu mirip dengan kalimatku malam ketika semuanya dimulai hingga kami berdua tertawa.

Aku memasak salmon dengan mentega dan lemon.

Kami makan di meja kecil dekat jendela.

Tidak ada yang bertanya harganya.

Tidak ada yang memeriksa struk.

Tidak ada yang menghitung berapa potong yang kumakan.

Setelah makan, Ibu berkata,

“Enak.”

Aku mengangguk.

“Enak sekali.”

Beberapa hari kemudian, sebuah pesan masuk dari nomor Dimas.

Sudah hampir tiga bulan kami tidak bicara.

Aku mau menikah lagi tahun depan.

Aku membaca.

Tidak ada rasa sakit.

Aku menjawab sederhana:

Semoga kamu sudah belajar banyak dari pernikahan kita. Semoga kalian bahagia.

Dia membalas:

Aku belajar satu hal paling mahal.

Aku tidak bertanya.

Dia menulis lagi:

Diam bukan berarti netral. Waktu aku diam saat Ibu menyakiti kamu, sebenarnya aku sedang memilih pihak.

Aku menatap pesan itu cukup lama.

Lalu menjawab:

Semoga kali ini kamu memilih dengan lebih baik.

Setelah itu kami tidak bicara lagi.

Bu Ratna juga berhenti menghubungiku.

Kabarnya, setelah beberapa bulan tinggal di rumah sewa, dia pindah kembali ke kampung halamannya dekat Cirebon karena biaya hidup lebih ringan.

Rio bekerja sebagai kepala mekanik di bengkel milik orang lain.

Mungkin itu baik untuknya.

Untuk pertama kalinya dia bekerja tanpa modal pinjaman keluarga.

Aku tidak bahagia karena mereka kesulitan.

Aku tidak membutuhkan penderitaan mereka untuk membuktikan bahwa aku benar.

Bagian paling memuaskan dari semua yang terjadi bukan ketika Bu Ratna harus meninggalkan apartemen.

Bukan ketika Dimas gagal mendapatkan bagian dari hasil penjualan.

Bukan ketika Rio kehilangan bengkel.

Bagian yang paling memuaskan adalah saat aku menyadari aku tidak lagi hidup dengan keharusan menjelaskan setiap keputusan kepada orang-orang yang tidak pernah menghargai penjelasanku.

Dua tahun kemudian, usahaku memiliki tujuh karyawan.

Aku mengubah kamar kecil di lantai bawah menjadi ruang kerja.

Ibu sering datang setiap Sabtu.

Kadang kami memasak.

Kadang dia hanya duduk di teras sambil membaca.

Suatu malam, seorang klien baru bertanya kepadaku,

“Mbak Rani masih sendiri?”

Aku tersenyum.

“Iya.”

“Tidak kesepian?”

Aku memandang rumahku.

Lampu dapur menyala hangat.

Ada suara mesin cuci dari belakang.

Tanaman di teras bergerak ditiup angin.

Aku menjawab,

“Sendiri dan kesepian itu dua hal berbeda.”

Dulu aku tinggal bersama dua orang lain di sebuah apartemen.

Tapi hampir setiap malam aku merasa sendirian.

Sekarang rumahku kadang hanya berisi aku.

Namun untuk pertama kalinya, aku tidak merasa kesepian.

Malam itu sebelum tidur, aku membuka sebuah kotak tua.

Di dalamnya masih ada kunci apartemen lama.

Kunci itu seharusnya sudah tidak berguna.

Aku lupa mengembalikannya karena saat serah terima kami menggunakan kartu akses.

Aku memegangnya sebentar.

Lalu meletakkannya kembali.

Bukan sebagai kenang-kenangan tentang kegagalan pernikahan.

Melainkan sebagai pengingat.

Ada masa ketika aku berpikir mempertahankan rumah berarti bertahan di dalamnya selama mungkin.

Sekarang aku tahu rumah bukan sekadar dinding yang kita miliki.

Rumah adalah tempat di mana kita tidak perlu meminta izin untuk menjadi diri sendiri.

Tempat di mana makanan yang kita beli tidak dijadikan alasan untuk mempermalukan kita.

Tempat di mana kasih sayang tidak diberikan dengan syarat kita harus terus mengalah.

Tempat di mana kata “keluarga” tidak digunakan untuk mengambil hak orang lain.

Dan yang paling penting—

rumah adalah tempat yang tidak akan mengusirmu hanya karena seseorang sedang marah kepadamu.

Dulu Dimas berkata,

“Pulanglah ke rumah ibumu dulu. Tunggu Ibu tenang, baru kembali.”

Dia tidak pernah membayangkan bahwa ketika aku menutup pintu malam itu, aku tidak sedang pergi untuk sementara.

Aku sedang meninggalkan kehidupan lama yang sudah terlalu lama membuatku mengecil.

Dan ketika akhirnya mereka meminta aku kembali…

aku sudah mempunyai rumah baru.

Pekerjaan baru.

Hidup baru.

Serta satu hal yang selama bertahun-tahun tidak pernah kumiliki dalam pernikahan itu:

hak penuh untuk menentukan bagaimana aku ingin diperlakukan.

Kali ini, tidak ada seorang pun yang bisa menyuruhku pergi dari hidupku sendiri.