Bagian 3 — Lima Tahun Kemudian, Aku Pulang dan Menemukan Harga yang Dibayar Suamiku

Avatar penulis
Cerita 02
16 menit baca 2,087 tayangan
Bagian 3 — Lima Tahun Kemudian, Aku Pulang dan Menemukan Harga yang Dibayar Suamiku
Indeks

Bagian 3 — Lima Tahun Kemudian, Aku Pulang dan Menemukan Harga yang Dibayar Suamiku

Lima tahun berlalu bukan seperti halaman kalender yang dibalik cepat.

Lima tahun terasa seperti lima ribu pagi ketika aku membuka mata dan tidak tahu apakah suamiku masih hidup sehat, sedang sakit, berada di penjara, atau sengaja memilih tidak mencariku.

Aku tidak pernah mengatakan kepada Naufal dan Naira bahwa ayah mereka meninggalkan kami.

Aku selalu berkata,

“Ayah sedang menyelesaikan masalah yang sangat jauh.”

Ketika mereka berumur tiga tahun, Naira mulai bertanya,

“Jauh itu di mana?”

Aku menjawab,

“Di tempat yang belum bisa kita datangi.”

Ketika mereka berumur empat tahun, Naufal bertanya,

“Kalau Ayah rindu, kenapa tidak video call?”

Pertanyaan itu membuatku menangis di kamar mandi malam-malam.

Aku tidak punya jawaban.

Aku bekerja apa saja.

Awalnya membantu Mbak Rani membuat katering nasi kotak.

Lalu aku belajar membuat kue.

Aku menjual bolu kukus, dessert box, pastel, dan frozen food melalui grup WhatsApp kompleks.

Pelan-pelan pelanggan bertambah.

Pada tahun ketiga aku bisa menyewa kios kecil di Samarinda.

Pada tahun keempat, aku mempekerjakan dua perempuan tetangga.

Hidup kami tidak mewah.

Tetapi anak-anakku makan cukup.

Sekolah cukup.

Dan aku tidak pernah lagi meminta uang kepada keluarga Dimas.

Aku juga tidak pernah mengganti status perkawinanku.

Beberapa kali Bu Ratna menyuruh orang menyampaikan bahwa Dimas sudah menceraikanku.

Aku mengecek.

Tidak pernah ada putusan perceraian.

Tidak ada perkara atas nama kami di pengadilan agama yang sesuai domisili.

Jadi aku tahu satu hal.

Seseorang terus berbohong.

Masalahnya, aku tidak tahu siapa yang masih bisa dipercaya.

Sampai suatu sore pada bulan Agustus, seorang perempuan bernama Lilis mengirim pesan ke akun bisnis kueku.

Namanya terasa familiar.

Setelah melihat fotonya, aku baru ingat.

Lilis dulu staf administrasi di perusahaan keluarga Dimas.

Pesannya hanya satu kalimat.

Mbak Ayu, saya rasa sudah waktunya Mbak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Mas Dimas.

Aku membaca kalimat itu mungkin dua puluh kali.

Tanganku gemetar saat menelepon.

Lilis tidak menjawab melalui telepon.

Ia meminta video call.

Ketika wajahnya muncul, hal pertama yang dikatakannya adalah,

“Saya minta maaf lima tahun diam.”

“Dimas di mana?”

Ia menunduk.

“Bekasi.”

Aku hampir menjatuhkan ponsel.

“Dia hidup?”

“Masih.”

Satu kata itu membuat kedua lututku lemas.

Aku duduk di lantai belakang kios.

“Kenapa dia tidak mencariku?”

Lilis mulai menangis.

“Dia mencari.”

Dunia seperti berhenti.

“Apa?”

“Mas Dimas mencari Mbak.”

“Lima tahun?”

“Sejak keluar.”

“Keluar dari mana?”

Lilis menutup mulut.

Lalu mengatakan sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah diketahui siapa pun di keluargaku.

Setelah aku meninggalkan Jakarta, Dimas melaporkan rencana pemalsuan dokumen kelahiran Naufal.

Ia juga memberikan rekaman percakapan Bu Ratna dan Reza kepada pengacara.

Dinas terkait memang belum sempat menerbitkan dokumen palsu atas nama Reza dan Siska, sehingga bayi kami secara administrasi selamat.

Tetapi Reza panik.

Karena orang yang bersedia membantunya mengurus dokumen mulai takut.

Rencana itu gagal.

Dan Reza menganggap Dimas sebagai penyebabnya.

Seminggu kemudian, bagian keuangan perusahaan menemukan “kekurangan” Rp412 juta.

Beberapa transfer tercatat memakai akun otorisasi Dimas.

Masalahnya, Dimas memang memiliki akses tersebut karena pekerjaannya.

Reza melapor ke polisi.

Bu Ratna menjadi saksi yang mengatakan anak bungsunya belakangan “banyak membutuhkan uang karena istrinya kabur ke luar pulau.”

Aku merasa mual mendengarnya.

“Ibu kandungnya sendiri?”

Lilis mengangguk.

“Bu Ratna bersaksi.”

“Lalu?”

“Mas Dimas ditahan selama proses.”

Berbulan-bulan.

Pengacara pertama yang disediakan keluarga malah terus menyuruhnya mengaku dan berdamai.

Dimas menolak.

Ia yakin transaksi itu bukan miliknya.

Ia meminta audit server.

Reza mengatakan server lama rusak.

Ia meminta CCTV kantor.

Rekaman pada malam transaksi dinyatakan hilang.

Ia meminta log akses.

Bagian IT mengatakan data sudah terhapus.

Semua pintu seolah sudah ditutup sebelum Dimas menyentuhnya.

“Berapa lama?”

tanyaku.

Lilis mengusap air mata.

“Empat belas bulan.”

Aku tidak bisa bernapas beberapa detik.

Empat belas bulan.

Sementara aku mengira dia mungkin sengaja menghindar.

Empat belas bulan.

Saat Naufal pertama kali memanggil “Mama”.

Saat Naira pertama kali berjalan.

Saat kedua anak demam bersamaan dan aku duduk sendiri di IGD sampai subuh.

Suamiku berada di balik dinding tahanan.

“Kenapa dia tidak menghubungiku?”

“Mas Dimas mencoba.”

Lilis kemudian memperlihatkan sebuah foto.

Tumpukan amplop.

Puluhan.

Alamat tujuan masih alamat lama Mbak Rani di Balikpapan.

Sebagian bertanda kembali.

Sebagian bahkan tidak pernah terkirim karena Dimas tidak punya alamat baruku setelah kami pindah ke Samarinda.

“Nomor saya?”

“Dia tidak hafal.”

Tentu saja.

Aku mengganti nomor.

Saat itu aku takut Bu Ratna melacak kami.

“Setelah keluar?”

“Kasusnya belum langsung selesai.”

Dimas akhirnya dibebaskan setelah ditemukan inkonsistensi transaksi.

Tetapi namanya sudah rusak.

Perusahaan memberhentikannya.

Keluarga besar percaya ia pencuri.

Teman-teman menjauh.

Ia menjual motornya untuk membayar pengacara.

Kemudian menjual laptop.

Jam tangan pemberian ayahnya.

Bahkan cincin kawin miliknya sempat digadaikan.

“Dia mencari saya?”

Lilis mengangguk.

“Dia datang ke Balikpapan.”

Aku menutup mulut.

“Kapan?”

“Hampir tiga tahun lalu.”

Dadaku seperti ditusuk.

Kami sudah pindah.

“Dia ke rumah lama Mbak Rani. Tetangga bilang kalian pindah ke Samarinda tapi tidak tahu alamat.”

Aku menangis tanpa suara.

Tiga tahun lalu, mungkin jarak kami hanya beberapa ratus kilometer.

Tetapi kami tetap tidak bertemu.

“Sekarang dia tinggal di mana?”

Lilis mengirim alamat.

Sebuah bengkel kecil di belakang kawasan industri Tambun.

Aku membeli tiket malam itu juga.

Mbak Rani meminta anak-anak tetap tinggal bersamanya dahulu.

Aku menolak.

“Lima tahun mereka menunggu ayahnya. Kalau orang itu benar-benar Dimas, mereka berhak melihat sendiri.”

Dua hari kemudian kami mendarat di Jakarta.

Naufal dan Naira belum pernah melihat kota kelahiran mereka sejak bayi.

Mereka menempel di kaca mobil, sibuk melihat jalan tol dan gedung.

Aku hampir tidak mendengar apa yang mereka katakan.

Jantungku berdetak terlalu keras.

Alamat dari Lilis membawa kami ke sebuah gang sempit di belakang deretan gudang.

Di ujung gang berdiri bengkel motor kecil.

Papan namanya sederhana.

BENGKEL DIMAS MOTOR.

Tanganku mulai gemetar.

Seorang laki-laki sedang jongkok di samping motor bebek.

Kaosnya hitam.

Tubuhnya jauh lebih kurus dibanding lima tahun lalu.

Rambutnya sedikit panjang.

Ada bekas luka tipis di dekat alis kiri.

Aku mengenali punggung itu bahkan sebelum ia berdiri.

“Naufal,” bisikku.

Anakku menatapku.

“Itu Ayah?”

Aku tidak bisa menjawab.

Laki-laki itu menoleh karena mendengar suara mobil.

Kunci pas jatuh dari tangannya.

Kami saling menatap.

Tidak ada musik.

Tidak ada hujan.

Tidak ada adegan dramatis seperti di sinetron.

Hanya suara kompresor bengkel dari dalam.

Dan wajah seorang laki-laki yang dalam satu detik berubah pucat.

“Ayu?”

Aku menggigit bibir.

Dimas berjalan satu langkah.

Berhenti.

Lalu matanya jatuh kepada dua anak di sampingku.

Naira bersembunyi di belakang lenganku.

Naufal berdiri diam.

Dimas menatap mereka sangat lama.

Matanya merah.

Tetapi ia tidak berani mendekat.

Ia hanya bertanya dengan suara pecah,

“Yang mana… Naufal?”

Aku langsung menangis.

Dulu ia bisa membedakan kedua bayi bahkan ketika aku sendiri kelelahan.

Sekarang ia harus bertanya.

Aku memegang bahu putraku.

“Ini Naufal.”

Lalu Naira.

“Ini Naira.”

Dimas menutup wajahnya.

Bahu laki-laki itu bergetar.

Naira menarik bajuku.

“Mama, kenapa Ayah nangis?”

Dimas langsung berjongkok.

Ia mengusap wajah kasar dengan kedua tangan.

“Karena Ayah bodoh.”

Aku menatapnya.

“Jangan bilang begitu kepada anak-anak.”

Ia mengangguk cepat.

“Maaf.”

Naufal maju satu langkah.

“Papa?”

Dimas membeku.

Anakku kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya.

Foto lama.

Foto Dimas menggendong dua bayi.

Aku selalu menyimpannya untuk mereka.

Naufal membandingkan wajah di foto dengan laki-laki di depannya.

“Benar Papa.”

Dimas akhirnya tidak tahan.

Ia menangis seperti anak kecil.

Tetapi ia tidak langsung memeluk mereka.

Ia bertanya,

“Boleh Ayah peluk?”

Naira menoleh kepadaku.

Aku mengangguk.

Dua anak itu maju.

Dimas memeluk mereka sekaligus.

Lututnya jatuh ke lantai bengkel.

Tangisnya semakin keras.

Aku memalingkan wajah karena tidak sanggup melihat.

Malam itu kami tidak langsung membicarakan keluarga.

Dimas membawa kami ke rumah kontrakannya.

Rumah itu hanya memiliki dua kamar.

Di salah satu dinding terdapat puluhan foto.

Bukan foto asli.

Hasil cetak dari akun media sosial bisnis kueku.

Ada foto ulang tahun Naira.

Foto Naufal memakai seragam TK.

Foto anak-anak memegang kue buatanku.

Aku menatapnya.

“Kamu menemukan akun itu?”

“Tahun lalu.”

“Kenapa tidak menghubungi?”

Dimas diam.

“Kenapa?”

“Aku takut.”

Aku tertawa pahit.

“Kamu menghadapi polisi, tahanan, kakakmu sendiri, tapi takut menghubungi istrimu?”

Ia mengangguk.

“Aku takut kalian sudah bahagia tanpa aku.”

Aku ingin marah.

Sungguh.

Aku sudah menyiapkan ratusan kalimat selama lima tahun.

Tetapi ketika melihat lemari kecilnya, aku menemukan satu kardus.

Di dalamnya ada seluruh surat yang pernah ia kirim kepadaku.

Ada kuitansi pengacara.

Dokumen perkara.

Salinan laporan mengenai upaya penyalahgunaan data bayi.

Dan sebuah buku tulis.

Halaman pertama bertanggal lima tahun lalu.

Naufal dan Naira umur 47 hari.

Halaman berikutnya:

Hari ini seharusnya mereka umur dua bulan.

Lalu:

Enam bulan. Mungkin sudah mulai makan.

Satu tahun. Mungkin sudah bisa berdiri.

Dua tahun. Semoga Ayu tidak terlalu capek.

Aku menutup buku itu.

Tidak sanggup melanjutkan.

“Kita belum selesai,” kataku.

Dimas mengangguk.

“Aku tahu.”

“Reza?”

Wajahnya berubah.

“Masih menjalankan perusahaan.”

“Bu Ratna?”

“Tinggal bersama Reza.”

“Siska?”

“Masih sama.”

“Dan mereka tidak membayar apa pun setelah melakukan semua ini?”

Dimas menatapku.

“Belum.”

Kata terakhir itu membuatku sadar.

Dimas belum menyerah.

Selama dua tahun terakhir, ia diam-diam mengumpulkan bukti.

Lilis ternyata menyimpan cadangan data transaksi lama.

Bukan karena ingin membantu sejak awal, tetapi karena bagian administrasi wajib membuat arsip mingguan.

Saat Reza menyuruh data server dihapus, Lilis sudah menyalin beberapa laporan ke hard disk eksternal untuk kebutuhan pajak.

Ia takut menyerahkannya.

Sampai perusahaan mulai terlambat membayar gaji dan Reza memecatnya.

Barulah ia membuka arsip itu.

Jejak transaksi Rp412 juta tidak berasal dari terminal komputer Dimas.

Otorisasi memang memakai akun Dimas.

Namun dilakukan dari perangkat kantor Reza pada malam ketika Dimas tercatat berada di rumah sakit mengantar aku kontrol pascapersalinan.

Ada rekaman parkir.

Ada tagihan rumah sakit.

Ada data tol elektronik.

Lebih penting lagi, salah satu staf IT akhirnya bersedia memberi keterangan bahwa ia diperintahkan menghapus log.

“Kenapa belum dilaporkan?”

tanyaku.

“Sudah.”

“Kapan?”

“Empat bulan lalu.”

Aku terdiam.

Dimas kemudian mengeluarkan map.

Proses hukum baru sedang berjalan.

Keterangan lama sedang diperiksa kembali.

Termasuk laporan palsu.

Termasuk manipulasi pembukuan.

Termasuk upaya penggunaan dokumen kelahiran anak kami.

Aku memandangnya.

“Jadi sekarang?”

“Sekarang kita tunggu prosesnya.”

Aku menggeleng.

“Aku tidak mau hanya menunggu.”

Tiga hari kemudian aku menemui Bu Ratna.

Bukan diam-diam.

Aku datang bersama Dimas.

Naufal dan Naira kutitipkan kepada Lilis.

Rumah besar itu masih sama.

Pagar cokelat.

Pot bunga besar.

Ayunan di teras.

Yang berbeda hanya wajah Bu Ratna ketika melihatku.

Gelas di tangannya hampir jatuh.

“Ayu?”

Aku tersenyum.

“Masih ingat saya, Bu?”

Ia langsung melihat ke belakangku.

“Mereka mana?”

Aku tahu siapa yang ia maksud.

Bukan “anak-anak”.

Bukan “cucu-cucu”.

Mereka.

“Tidak ikut.”

“Kenapa? Bawa kemari!”

Dimas berdiri di sampingku.

“Tidak.”

Bu Ratna memandang anaknya.

Untuk sesaat aku melihat perempuan itu masih mencoba memainkan peran lama.

“Dimas, kamu masih menyimpan dendam kepada Ibu?”

Suamiku menjawab,

“Kalau saya dendam, saya tidak akan datang bicara baik-baik.”

Reza muncul dari dalam rumah.

Wajahnya berubah ketika melihat kami.

“Apa maumu?”

Aku meletakkan sebuah map di meja.

“Tidak banyak.”

Aku membuka halaman pertama.

Salinan rekaman.

Halaman kedua.

Data transaksi.

Halaman ketiga.

Keterangan staf IT.

Halaman keempat.

Bukti Dimas berada di rumah sakit pada saat transaksi dilakukan.

Wajah Reza perlahan pucat.

Siska berdiri di belakang suaminya.

Aku memandang perempuan itu.

“Lima tahun lalu, Mbak ingin membawa anak saya.”

Ia langsung menangis.

“Aku tertekan.”

“Aku juga.”

“Aku sudah sembilan tahun tidak punya anak.”

“Aku turut sedih.”

Siska menatapku seperti berharap mendapat belas kasihan.

Aku melanjutkan,

“Tapi rahim Mbak yang tidak bisa mengandung bukan alasan untuk mengambil bayi dari tubuh perempuan lain.”

Ia menunduk.

Bu Ratna membentak,

“Tidak ada yang benar-benar mengambil! Rencana itu batal!”

Dimas tertawa kecil.

“Batal karena saya dengar.”

“Ibu cuma ingin menyelamatkan rumah tangga kakakmu!”

Aku menatapnya.

“Dengan menghancurkan rumah tangga anak Ibu yang lain?”

Bu Ratna membuka mulut.

Tidak ada jawaban.

Lalu ia berkata sesuatu yang benar-benar menghapus sisa rasa hormatku.

“Kalian punya dua.”

Aku berdiri.

“Lima tahun berlalu dan Ibu masih berpikir begitu.”

“Maksud Ibu—”

“Tidak perlu dijelaskan.”

Aku menunjuk foto keluarga besar di dinding.

“Anak bukan jatah sembako. Anak bukan warisan yang bisa dibagi. Anak saya tidak menjadi kurang penting hanya karena lahir kembar.”

Bu Ratna menangis.

Ia memegang lengan Dimas.

“Nak, Ibu sudah tua.”

Dimas menarik tangannya perlahan.

“Saya juga sudah lima tahun tidak menjadi ayah karena keputusan Ibu.”

Kalimat itu membuat ruangan sunyi.

Reza tiba-tiba mengambil map dari meja.

Ia hendak merobeknya.

Aku tidak bergerak.

“Silakan.”

Tangannya berhenti.

“Itu salinan. Yang asli sudah diserahkan.”

Wajahnya langsung berubah.

Dua minggu setelah pertemuan itu, pemeriksaan terhadap pembukuan perusahaan diperluas.

Reza tidak hanya harus menjawab soal Rp412 juta.

Audit menemukan beberapa transaksi lain.

Uang perusahaan dipindahkan ke rekening pihak ketiga selama bertahun-tahun.

Sebagian digunakan menutup kerugian investasi pribadinya.

Sebagian lagi dipakai membayar orang yang membantu membuat keterangan palsu.

Staf IT memberikan kesaksian.

Mantan kepala keuangan menyerahkan dokumen.

Lilis menyerahkan arsip.

Satu demi satu orang yang dulu takut mulai berbicara.

Bu Ratna dipanggil untuk memberikan keterangan.

Siska juga.

Aku tidak menikmati melihat mereka masuk ruang pemeriksaan.

Tetapi aku juga tidak merasa kasihan.

Ada perbedaan antara membalas dendam dan membiarkan seseorang menghadapi akibat perbuatannya.

Aku memilih yang kedua.

Prosesnya tidak selesai dalam semalam.

Butuh berbulan-bulan.

Beberapa tuduhan harus dibuktikan satu per satu.

Pengacara kami berkali-kali mengingatkan agar kami tidak menyebarkan perkara ke media sosial.

Aku setuju.

Aku tidak membutuhkan penonton.

Aku hanya ingin nama Dimas dibersihkan.

Dan akhirnya, itu terjadi.

Putusan pengadilan menyatakan tuduhan lama terhadap Dimas tidak terbukti berdasarkan bukti baru yang diperiksa.

Catatan perkara yang selama ini menghancurkan reputasinya dipulihkan melalui proses hukum yang tersedia.

Sementara Reza harus menghadapi hukuman atas penggelapan dana perusahaan dan pemberian keterangan palsu dalam perkara sebelumnya.

Ia juga diwajibkan mengembalikan kerugian sesuai keputusan pengadilan.

Perusahaan keluarga hampir bangkrut.

Rumah besar yang selama bertahun-tahun dibanggakan Bu Ratna terpaksa dijual untuk menyelesaikan sebagian kewajiban finansial.

Siska berpisah dari Reza sebelum putusan akhir.

Aku tidak tahu apakah mereka resmi bercerai atau tidak.

Aku juga tidak tertarik mencari tahu.

Bu Ratna kemudian tinggal di rumah adik perempuannya di Purwakarta.

Suatu sore ia datang ke rumah kontrakan kami.

Sendirian.

Tangannya membawa dua kotak mainan.

Dimas membuka pintu tetapi tidak mempersilahkannya masuk.

“Aku cuma mau lihat cucu.”

Katanya.

Dimas menoleh kepadaku.

Keputusan itu ia serahkan kepadaku.

Aku keluar.

Bu Ratna menatap wajahku dengan mata merah.

“Ayu, Ibu minta maaf.”

Aku mengangguk.

“Saya dengar.”

“Boleh Ibu bertemu Naufal?”

Aku tersenyum tipis.

“Naufal dan Naira.”

Ia menutup mata.

“Mereka berdua.”

“Bukan hari ini.”

Wajahnya langsung kecewa.

“Aku nenek mereka.”

“Saya tahu.”

“Lalu sampai kapan?”

Aku menjawab,

“Sampai anak-anak cukup besar untuk memahami apa yang pernah terjadi dan bisa memilih sendiri apakah mereka ingin bertemu Ibu.”

“Itu lama.”

Aku menatapnya.

“Lima tahun juga lama, Bu.”

Ia tidak bisa berkata apa-apa.

Aku menerima dua kotak mainan tersebut.

Bukan sebagai tanda bahwa semuanya sudah dimaafkan.

Hanya agar seorang perempuan tua tahu bahwa permintaan maafnya didengar.

Memaafkan tidak selalu berarti membuka kembali pintu yang pernah dipakai seseorang untuk masuk dan menghancurkan hidupmu.

Beberapa pintu boleh tetap terkunci.

Setelah masalah hukum selesai, Dimas menjual bengkel kecilnya.

Awalnya aku terkejut.

“Kamu membangun itu dari nol.”

“Aku tahu.”

“Kenapa dijual?”

Ia menunjuk dua anak yang sedang mengerjakan PR.

“Karena aku sudah terlalu lama tinggal di kota yang menyimpan terlalu banyak hal.”

Kami pindah ke Bogor.

Bukan rumah besar.

Hanya rumah dua lantai kecil di sebuah perumahan sederhana.

Aku membuka toko kue di lantai bawah.

Dimas bergabung dengan perusahaan distribusi milik teman lamanya.

Pengalamannya ternyata masih sangat dibutuhkan.

Enam bulan kemudian ia dipercaya memegang operasional wilayah.

Malam pertama kami tidur di rumah baru, hujan turun deras.

Naira masuk kamar membawa bantal.

“Aku mau tidur sama Mama.”

Naufal menyusul.

“Aku juga.”

Dimas pura-pura protes.

“Terus Ayah tidur di mana?”

Naira menunjuk lantai.

“Di situ.”

Aku tertawa sampai sakit perut.

Dimas menatapku.

Lalu ikut tertawa.

Itu mungkin terdengar seperti hal kecil.

Tetapi selama lima tahun, aku tidak pernah membayangkan bisa kembali mendengar suara suamiku tertawa di dalam rumah bersama anak-anak.

Sebelum tidur, Naufal tiba-tiba bertanya,

“Pa.”

“Hm?”

“Dulu Papa kenapa lama banget cari kami?”

Dimas diam beberapa detik.

Lalu ia duduk di tepi tempat tidur.

Karena kami sudah sepakat tidak akan membangun keluarga baru dengan kebohongan.

“Karena Papa punya masalah besar.”

“Papa jahat?”

“Tidak.”

“Papa masuk penjara?”

Aku kaget mendengar pertanyaan itu.

Ternyata anak-anak jauh lebih peka daripada yang kami kira.

Dimas tidak berbohong.

“Papa pernah ditahan waktu ada orang menuduh Papa melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak Papa lakukan.”

“Terus?”

“Papa berusaha membuktikan kebenaran.”

Naufal berpikir.

“Menang?”

Dimas tersenyum.

“Menang.”

Naira langsung bertanya,

“Berarti Papa pahlawan?”

Dimas menggeleng.

“Bukan.”

Ia memandangku.

“Yang hebat Mama kalian.”

Aku mendengus.

“Jangan mulai.”

Tetapi ia tetap berkata,

“Mama membawa dua bayi sendirian. Membesarkan kalian. Bekerja. Melindungi kalian. Dan tetap tidak mengajarkan kalian membenci orang.”

Aku tidak menjawab.

Karena mataku sudah panas.

Naira kemudian memeluk pinggangku.

Naufal merangkak ke dekat Dimas.

Empat orang memenuhi satu kasur.

Sempit.

Berisik.

Tidak sempurna.

Tetapi utuh.

Beberapa bulan kemudian, pada ulang tahun keenam si kembar, kami mengadakan pesta kecil.

Tidak ada dekorasi mahal.

Hanya balon.

Kue cokelat buatan sendiri.

Ayam bakar.

Nasi kuning.

Dan sekitar dua puluh orang teman dekat.

Setelah meniup lilin, Naira membagikan potongan kue.

Naufal berdiri di samping ayahnya.

Aku memperhatikan Dimas diam-diam memasukkan tangan ke saku.

Ia mengeluarkan sesuatu.

Cincin kawin lama.

Aku mengenal goresan kecil di sisinya.

“Kamu menebusnya?”

Ia mengangguk.

“Dari pegadaian?”

“Bukan. Sudah dilelang waktu aku tidak sanggup membayar.”

“Lalu?”

“Aku cari pembelinya.”

Aku menatapnya tidak percaya.

“Bertahun-tahun?”

“Hampir dua.”

“Kenapa repot?”

Ia memasangkan cincin itu kembali ke jarinya.

“Karena waktu aku kehilangan semuanya, aku selalu berpikir satu hal.”

“Apa?”

Ia menatap Naira.

Lalu Naufal.

Lalu aku.

“Kalau suatu hari kalian pulang, aku tidak mau berdiri di depan kalian sebagai laki-laki yang sudah menyerah.”

Aku memalingkan wajah.

Tetapi air mataku tetap jatuh.

Dimas meraih tanganku.

Lima tahun sebelumnya, di depan pemeriksaan keamanan bandara, ia pernah berkata tanpa suara,

Tunggu aku.

Aku benar-benar menunggunya.

Tidak dengan duduk diam.

Aku membesarkan anak-anak.

Membangun hidup.

Belajar berdiri tanpa siapa pun.

Dan ternyata selama lima tahun itu, di tempat lain, ia juga sedang berjuang untuk kembali kepada kami.

Hari itu aku akhirnya mengerti.

Pernikahan bukan soal siapa yang tidak pernah jatuh.

Bukan pula soal siapa yang selalu bisa menyelamatkan pasangannya tepat waktu.

Kadang-kadang dua orang terlempar ke sisi hidup yang berbeda, kehilangan rumah, uang, nama baik, bahkan kesempatan melihat anak tumbuh.

Yang menentukan bukan seberapa lama mereka terpisah.

Tetapi apakah setelah semuanya selesai, keduanya masih memilih berjalan menuju rumah yang sama.

Malam setelah pesta, aku mematikan lampu ruang tamu.

Di sofa ada dua tas sekolah kecil.

Di meja ada sisa kue ulang tahun.

Dari lantai atas terdengar suara Dimas memarahi Naufal karena belum menggosok gigi, lalu suara Naira tertawa mengejek kakaknya.

Aku berdiri di bawah tangga.

Tersenyum sendiri.

Tidak ada lagi orang yang akan datang dan mengatakan aku memiliki “dua anak, jadi satu boleh diberikan”.

Tidak ada lagi yang berhak menentukan siapa yang boleh menjadi ibu dari anak yang kulahirkan.

Tidak ada lagi ketakutan setiap kali nomor tak dikenal muncul di layar ponsel.

Kami akhirnya punya rumah yang benar-benar milik kami.

Bukan karena sertifikatnya.

Bukan karena harganya.

Tetapi karena di dalam rumah ini, tidak seorang pun harus takut bahwa orang yang mereka cintai akan direbut saat mereka tertidur.

Dimas muncul di ujung tangga.

“Kok belum naik?”

Aku memandangnya.

“Sebentar.”

Ia turun dua anak tangga.

Mengulurkan tangan.

Aku menyambutnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam ketika sebuah mobil hitam menunggu di ujung gang lima tahun lalu, aku tidak lagi merasa perlu menoleh ke belakang.