Bagian 3 — Saat Semua Bukti Dibuka, Mereka Baru Tahu Ibu yang Mereka Remehkan Tidak Sendirian

Avatar penulis
Cerita 02
12 menit baca 882 tayangan
Bagian 3 — Saat Semua Bukti Dibuka, Mereka Baru Tahu Ibu yang Mereka Remehkan Tidak Sendirian
Indeks

Bagian 3 — Saat Semua Bukti Dibuka, Mereka Baru Tahu Ibu yang Mereka Remehkan Tidak Sendirian

Arga mengalami serangan aritmia selama hampir tujuh menit.

Tujuh menit itu terasa lebih panjang daripada sembilan tahun pernikahanku.

Aku berdiri di balik kaca ICU dan melihat tiga dokter mengelilinginya.

Seorang perawat mendorong troli obat.

Monitor berbunyi tanpa jeda.

Tubuh kecil anakku hampir sepenuhnya tertutup kabel.

Aku tidak menangis.

Entah kenapa air mataku seperti sudah habis.

Yang kurasakan hanya dingin.

Dokter jantung Arga, dr. Fajar, keluar sekitar pukul sembilan.

“Kondisinya kembali stabil, tapi kami tidak mau mengambil risiko menunggu terlalu lama.”

“Berapa lama?”

“Kalau bisa, operasi dalam beberapa hari.”

Aku menutup mata.

“Jadwal kita sudah hilang.”

“Saya tahu.”

Dr. Fajar kemudian mengatakan sesuatu yang tidak pernah kuduga.

Salah satu koleganya di Surabaya sedang menangani program bedah jantung anak bersama tim gabungan. Mereka mungkin memiliki ruang operasi pada akhir minggu, tetapi pengiriman perangkat yang sesuai dengan ukuran Arga harus dipastikan hari itu juga.

Biayanya tetap besar.

Aku hanya punya enam juta rupiah di rekening.

“Dok, kalau masalahnya pembayaran, beri saya beberapa jam.”

Ia mengangguk.

“Ada hal lain yang perlu Ibu tahu. Kami akan bantu sebisa mungkin. Kondisi Arga sudah kami diskusikan sejak kemarin malam.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

“Perawat mendengar keributan soal dana operasi. Salah satu dokter kami kemudian menghubungi yayasan jantung anak. Saya tidak menjanjikan apa pun, tetapi mereka sedang memeriksa apakah Arga memenuhi syarat bantuan.”

Untuk pertama kalinya sejak dua hari terakhir, dadaku terasa sedikit longgar.

Aku mengucapkan terima kasih.

Kemudian aku masuk menemui Arga.

Ia sudah sadar.

“Mama.”

“Iya, Sayang.”

“Papa pergi?”

Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada anak tujuh tahun bahwa ayahnya sedang diperiksa polisi karena mengambil uang yang seharusnya digunakan untuk menyelamatkan hidupnya.

Jadi aku menggenggam tangannya.

“Papa sedang menyelesaikan masalah.”

Arga diam lama.

Kemudian ia bertanya,

“Papa lebih sayang Tante Selina?”

Pertanyaan itu menusuk lebih dalam daripada makian mana pun.

Aku membungkuk dan mencium dahinya.

“Dengar Mama. Apa pun kesalahan orang dewasa, itu bukan karena Arga kurang baik. Bukan karena Arga kurang pintar. Bukan karena Arga sakit.”

Matanya berkaca-kaca.

“Aku bikin Mama capek, ya?”

Aku langsung menggeleng.

“Tidak pernah.”

“Tapi Mama sering tidur di kursi.”

“Karena Mama suka dekat Arga.”

“Bohong.”

Aku tertawa sambil menangis.

Arga ikut tersenyum.

Tangannya lemah sekali ketika menghapus air mataku.

“Kalau aku sembuh, nanti Mama tidur di kasur.”

Aku menggenggam jarinya.

“Deal.”

Saat keluar dari ICU, aku mengambil keputusan.

Aku tidak akan lagi menunggu keluarga Wijaya menentukan apakah anakku pantas diselamatkan.

Aku menelepon Bu Lestari, notaris yang selama bertahun-tahun mengurus aset peninggalan ayahku.

“Ada satu tanah di Bogor yang dulu Papa titipkan kepada saya. Masih bisa dijual cepat?”

“Bisa, tapi kenapa?”

“Aku butuh dana operasi Arga.”

Bu Lestari diam.

Lalu berkata,

“Jangan jual dulu.”

“Kenapa?”

“Temui saya.”

Tiga puluh menit kemudian ia datang ke rumah sakit membawa satu map cokelat.

Ayahku meninggal lima tahun lalu.

Sebelum meninggal, ia mengetahui hubungan rumah tanggaku dengan keluarga Wijaya mulai tidak sehat.

Ternyata ia membuat dana perwalian pendidikan dan kesehatan atas nama Arga.

Aku tidak pernah diberi tahu.

“Almarhum meminta dana ini baru diberitahukan kalau benar-benar ada keadaan darurat dan aset pribadimu tidak cukup.”

Tanganku gemetar ketika melihat nilainya.

Rp2,1 miliar.

Aku menutup mulut.

“Kenapa Papa tidak pernah bilang?”

“Karena beliau takut uang ini ikut dianggap milik keluarga suamimu.”

Aku menangis untuk pertama kalinya tanpa berusaha menahan diri.

Bahkan setelah meninggal, ayah masih melindungiku.

Sore itu pembayaran untuk operasi Arga di Surabaya langsung dilakukan.

Tim rumah sakit memastikan perangkat tersedia.

Ambulans medis dan tim transfer pasien disiapkan untuk keberangkatan keesokan pagi.

Aku akhirnya bisa bernapas.

Tapi perangku dengan keluarga Wijaya belum selesai.

Justru baru dimulai.

Dua hari kemudian, penyidik kembali menghubungiku.

Pemeriksaan digital menemukan bahwa transfer Rp1,37 miliar dilakukan dari laptop rumah.

Dimas menggunakan akses yang tersimpan pada browser, lalu memasukkan kode verifikasi yang masuk ke tablet lamaku.

Tablet itu biasanya digunakan Arga untuk menonton kartun.

Aku baru ingat Dimas membawanya ke kamar kerja malam sebelum transfer.

Ada rekaman kamera apartemen yang mendukung waktu tersebut.

Selain itu, penyidik menemukan aliran dana lain.

Bukan hanya uang operasi.

Selama delapan belas bulan terakhir, ada beberapa pembayaran dari rekening perusahaan keluarga Wijaya menuju rekening Selina dan satu perusahaan interior yang mengerjakan apartemennya.

Jumlahnya hampir Rp3,8 miliar.

Dimas langsung mengatakan itu urusan perusahaan.

Namun polisi belum selesai.

Beberapa transfer diberi keterangan “vendor sparepart”.

Perusahaan penerima ternyata tidak pernah memasok barang apa pun kepada Wijaya Teknik.

Pemiliknya adalah sepupu Selina.

Kasus yang semula hanya berawal dari uang operasi anakku mulai membuka sesuatu yang jauh lebih besar.

Aku tidak ikut campur.

Aku hanya menyerahkan bukti yang kumiliki.

Termasuk rekaman percakapan Ratna.

Termasuk ucapannya di luar ICU.

“Kalau anak itu sampai terjadi sesuatu, pastikan semua dokumen uang perusahaan sudah dipindahkan dulu.”

Ketika rekaman itu diputar di hadapan penyidik, wajah Ratna berubah.

Ia mencoba mengatakan konteksnya berbeda.

Pengacaranya meminta pemeriksaan dihentikan sementara.

Aku duduk di seberangnya tanpa mengatakan apa-apa.

Ratna akhirnya menatapku.

Tatapan yang dahulu membuatku gugup sekarang tidak berarti apa-apa.

“Kamu merekam saya?”

Aku menjawab pelan.

“Ibu sendiri yang mengajari saya untuk selalu menjaga keluarga.”

Rahangnya mengeras.

“Kamu ingin menghancurkan semuanya?”

“Tidak.”

Aku menatapnya lurus.

“Saya hanya berhenti menjadi orang yang terus membersihkan kekacauan kalian.”

Operasi Arga dilakukan hari Jumat pukul 06.30.

Aku tidak tidur semalaman.

Dari jendela rumah sakit di Surabaya, langit perlahan berubah dari hitam menjadi abu-abu.

Sebelum dibawa masuk, Arga memegang tanganku.

“Ma.”

“Iya?”

“Kalau bangun nanti aku boleh makan es krim?”

Aku tertawa kecil.

“Kalau dokter izinkan.”

“Dua?”

“Satu.”

“Dua.”

“Satu setengah.”

Ia tersenyum.

“Deal.”

Pintu ruang operasi tertutup.

Aku duduk di kursi koridor selama hampir delapan jam.

Tidak ada Dimas.

Tidak ada Ratna.

Tidak ada satu pun anggota keluarga Wijaya.

Yang datang justru Bu Lestari.

Kakakku, Raka.

Dua sahabat lamaku.

Dan seorang perempuan dari yayasan jantung anak yang bahkan baru mengenalku sehari sebelumnya.

Kadang-kadang keluarga bukan orang yang memiliki nama belakang sama.

Keluarga adalah orang yang tetap duduk di sampingmu ketika mereka tidak mendapatkan apa pun dari keberadaan mereka di sana.

Pukul 14.47, dr. Fajar keluar.

Ia menurunkan maskernya.

Aku berdiri begitu cepat hingga lututku hampir lemas.

“Bagaimana?”

Dokter tersenyum.

“Operasinya berjalan sesuai rencana.”

Aku langsung menangis.

Benar-benar menangis.

Sampai kakakku harus memegang bahuku.

“Fungsi jantungnya merespons baik. Beberapa hari pertama tetap kritis, tapi kami puas dengan hasil operasinya.”

Aku berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Saat akhirnya diperbolehkan melihat Arga dari balik kaca ICU, wajahnya penuh selang.

Tapi monitor di sampingnya menunjukkan angka saturasi yang selama bertahun-tahun hampir tidak pernah kulihat.

 

Aku menempelkan tangan ke kaca.

“Arga, Mama di sini.”

Dimas baru muncul dua hari setelah operasi.

Ia tidak diizinkan masuk ICU.

Kami bertemu di kafetaria rumah sakit.

Wajahnya kusut.

Tidak ada lagi jam tangan mahal yang biasa ia pakai.

“Aku dengar operasinya berhasil.”

“Ya.”

“Kenapa kamu tidak bilang pindah rumah sakit?”

Aku menatapnya.

“Kamu tidak bertanya.”

Dimas terdiam.

Beberapa detik kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop.

“Aku mau kembalikan sebagian uang.”

Di dalamnya ada bukti transfer Rp150 juta.

Aku mendorong amplop itu kembali.

“Kirim melalui rekening yang diarahkan penyidik. Jangan kepadaku.”

Ia mengusap wajah.

“Rani, hentikan ini.”

“Apa?”

“Laporan.”

Aku hampir tersenyum.

“Anakmu baru selesai operasi jantung. Kalimat pertama yang kamu bawa ke sini tetap soal laporan?”

“Aku sudah salah.”

“Kamu mencuri uang operasi Arga.”

“Aku panik.”

“Kamu membeli apartemen untuk Selina tiga bulan sebelumnya.”

Dimas tidak menjawab.

“Kamu membohongiku tentang kondisi medisnya.”

Ia menunduk.

“Selina bilang dia takut.”

Aku mengangguk perlahan.

“Arga juga takut.”

Dimas terlihat seperti ditampar.

Aku melanjutkan.

“Bedanya, ketika Arga takut, dia masih bertanya apakah aku capek menjaganya. Ketika Selina takut, kalian mengambil uang dari rekening anak sakit.”

“Jangan bawa-bawa Selina terus.”

Aku tertawa.

Bahkan sekarang ia masih membelanya.

“Baik.”

Aku mengeluarkan satu map.

“Aku tidak akan membahas Selina lagi.”

Dimas mengernyit.

Aku meletakkan dokumen di depannya.

Permohonan perceraian.

Wajahnya pucat.

“Rani.”

“Aku juga mengajukan hak pengasuhan utama Arga.”

“Kamu tidak bisa memutus hubunganku dengan anakku!”

“Aku tidak berniat.”

Aku menatapnya.

“Tapi dokter dan psikolog anak akan menentukan bentuk pertemuan yang aman setelah kondisi Arga stabil.”

Dimas berdiri.

“Kamu menghukumku.”

“Bukan.”

Aku tetap duduk.

“Aku menghentikan aksesmu untuk menghukum kami.”

Ia tidak mampu menjawab.

Masalah keluarga Wijaya menjadi lebih buruk tiga minggu kemudian.

Audit internal perusahaan menemukan pembayaran fiktif senilai miliaran rupiah.

Dimas memang tidak mengambil semuanya.

Sebagian transaksi dilakukan oleh direktur keuangan yang sudah lama bekerja dengan Ratna.

Namun tanda tangan persetujuan Dimas muncul pada sejumlah dokumen.

Ratna juga diketahui meminta beberapa berkas dipindahkan setelah laporan polisi dibuat.

Aku tidak tahu bagaimana akhir seluruh perkara perusahaan mereka karena prosesnya berjalan terpisah.

Yang kutahu, Dimas harus menghadapi pemeriksaan panjang.

Ia kehilangan posisinya sebagai direktur operasional.

Beberapa asetnya dibekukan selama penyelidikan.

Dan Selina?

Ia menghilang ketika uang berhenti mengalir.

Kurang dari dua bulan setelah apartemennya dipermasalahkan, ia mengirim pesan kepada penyidik bahwa hubungannya dengan Dimas “hanya pertemanan”.

Ironisnya, perempuan yang menurut Dimas begitu membutuhkan dirinya ternyata menjadi orang pertama yang mengambil jarak ketika keadaan memburuk.

Apartemen yang dipesan atas nama Selina kemudian masuk dalam sengketa pembayaran karena dana awalnya berkaitan dengan transaksi yang diperiksa.

Tas mahal yang kulihat hari itu?

Dari laporan transaksi kartu kredit, aku baru tahu harganya Rp84 juta.

Dibeli pada hari yang sama saat jadwal operasi Arga dibatalkan.

Ketika mengetahui itu, aku tidak marah lagi.

Aku hanya merasa jijik.

Ratna datang menemuiku satu kali.

Tanpa pengacara.

Tanpa sekretaris.

Tanpa pakaian mahal yang biasanya membuat semua orang menoleh.

Arga sudah dipulangkan dan kami tinggal sementara di rumah kakakku.

Ratna berdiri di depan pagar.

“Aku ingin melihat cucuku.”

Aku membiarkannya masuk.

Arga sedang menggambar di meja makan.

Bekas operasi di dadanya masih harus dijaga, tetapi warna wajahnya sudah jauh lebih baik.

Ketika melihat neneknya, ia tersenyum kecil.

“Nenek.”

Ratna menangis.

Mungkin untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis sungguhan.

Ia memeluk Arga dengan hati-hati.

Setelah Arga kembali menggambar, Ratna menghampiriku di dapur.

“Cabut pernyataan tentang rekaman itu.”

Aku hampir tertawa.

Bahkan air matanya ternyata memiliki tujuan.

“Tidak.”

“Dimas akan kehilangan semuanya.”

Aku menuangkan air.

“Waktu Arga kehilangan jadwal operasi, Ibu bilang itu cuma masalah keluarga.”

Ratna menunduk.

“Aku salah.”

“Benar.”

“Apa kamu tidak bisa memberi kesempatan?”

Aku memandangnya.

“Ibu ingin tahu perbedaan kita?”

Ia diam.

“Ketika Arga hampir kehilangan nyawa, saya menjual apa pun yang bisa saya jual. Saya mencari dokter. Saya mencari rumah sakit. Saya meminta bantuan orang yang bahkan tidak mengenal saya.”

Aku meletakkan gelas di depannya.

“Ketika Dimas menghadapi akibat tindakannya sendiri, Ibu datang meminta saya menghapus akibat itu.”

Ratna tidak berkata apa-apa.

Aku melanjutkan.

“Dia bukan anak kecil lagi.”

Lima menit kemudian Ratna pulang.

Aku tidak menghentikannya.

Enam bulan berlalu.

Perceraianku resmi.

Hak pengasuhan utama Arga berada padaku.

Dimas mendapat jadwal bertemu setelah berkonsultasi dengan psikolog anak karena Arga sempat mengalami kecemasan setiap kali mendengar namanya.

Aku tidak pernah melarang mereka bertemu.

Aku hanya menolak memaksa seorang anak memeluk ayah yang masih ia takuti.

Dimas mulai membayar kembali uang yang diambilnya melalui skema yang diatur dalam penyelesaian perdata.

Proses pidana terkait akses rekening dan transaksi perusahaan tetap berjalan sesuai jalurnya.

Aku tidak pernah datang ke sidang untuk melihatnya jatuh.

Aku sudah terlalu lama menghabiskan hidupku memperhatikan Dimas.

Sekarang aku ingin melihat Arga tumbuh.

Setahun setelah operasi, kami kembali ke Jakarta untuk kontrol.

Pagi itu Arga berlari kecil dari tempat parkir menuju lobi rumah sakit.

Aku langsung panik.

“Arga! Jangan lari!”

Ia berhenti, lalu tertawa.

“Dulu Mama bilang jangan lari karena jantungku.”

“Sekarang juga jangan lari karena Mama capek mengejar.”

Ia terkikik.

Hasil pemeriksaannya bagus.

Dokter mengatakan fungsi jantung stabil.

Aktivitasnya boleh meningkat perlahan.

Di luar ruang konsultasi, Arga tiba-tiba menarik tanganku.

“Ma.”

“Hm?”

“Es krim.”

Aku pura-pura lupa.

“Es krim apa?”

“Utang.”

Aku tertawa.

“Ternyata masih ingat?”

“Satu setengah.”

Akhirnya kami pergi ke toko es krim dekat rumah sakit.

Arga memilih cokelat.

Aku memilih kopi.

Kami duduk di dekat jendela.

Matahari Jakarta sore itu sangat terang.

Tidak ada suara monitor.

Tidak ada bunyi alarm saturasi.

Tidak ada orang yang memintaku memilih antara menjaga pernikahan atau menjaga anakku.

Arga sibuk mengambil bagian es krimku.

Aku mengetuk tangannya.

“Itu punya Mama.”

“Berbagi itu baik.”

“Siapa yang ngajarin?”

“Nenek Lestari.”

Aku tertawa.

Kemudian teleponku berbunyi.

Pesan dari Dimas.

Aku sudah transfer cicilan bulan ini. Boleh video call Arga malam nanti?

Aku memperlihatkannya kepada Arga.

Ia membaca pelan.

Kemudian mengangguk.

“Boleh. Lima belas menit.”

“Kenapa lima belas?”

“Aku mau main bola sama Om Raka.”

Aku tersenyum.

“Baik.”

Tidak ada kebencian dalam jawabannya.

Tidak ada ketakutan seperti dulu.

Hanya batas.

Dan mungkin itulah kemenangan terbesar kami.

Bukan melihat Dimas kehilangan jabatan.

Bukan melihat Ratna kehilangan kuasa.

Bukan melihat Selina pergi saat uang berhenti.

Kemenangan terbesar adalah ketika orang-orang yang pernah mengendalikan hidup kami akhirnya tidak lagi menentukan bagaimana kami bangun tidur, bagaimana kami bernapas, atau bagaimana kami menjalani hari.

Aku dulu mengira mempertahankan keluarga berarti menahan semuanya sendirian.

Ternyata aku salah.

Kadang-kadang, menyelamatkan keluarga justru berarti berani membawa anakmu keluar dari tempat yang terus melukainya.

Arga menyodorkan sendok berisi es krim ke arahku.

“Ma.”

“Apa?”

“Nanti pulang kita beli sepeda?”

Aku terdiam.

Dulu aku selalu takut mendengar kata sepeda.

Takut ia terlalu lelah.

Takut jantungnya bermasalah.

Takut bibirnya membiru.

Kini aku melihat pipinya yang sehat, matanya yang cerah, dan bekas operasi yang tersembunyi di balik kausnya.

Aku mengangguk.

“Boleh.”

“Yang merah.”

“Kenapa harus merah?”

“Biar cepat.”

Aku tertawa.

“Sepeda merah tidak otomatis lebih cepat.”

“Kalau aku yang naik, cepat.”

Ia mengangkat dagu dengan bangga.

Aku memandang anakku beberapa detik.

Setahun lalu, aku berdiri di koridor rumah sakit dengan rekening hampir kosong dan jadwal operasi yang hilang.

Aku mengira hidupku sudah runtuh.

Ternyata yang runtuh hanya rumah yang memang sejak lama retak.

Dan setelah puing-puingnya dibersihkan, aku akhirnya bisa melihat sesuatu yang selama ini tertutup.

Jalan keluar.

Aku mengusap rambut Arga.

“Baik. Kita cari sepeda merah.”

Ia melompat dari kursi.

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Kami keluar dari toko bersama.

Tangannya menggenggam tanganku.

Langkahnya ringan.

Langit masih terang.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ketika aku melihat putraku berjalan di depanku, aku tidak lagi menghitung berapa lama ia bisa bertahan.

Aku hanya memikirkan satu hal sederhana.

Besok ia akan tumbuh sedikit lebih besar.

Dan aku akan ada di sana untuk melihatnya.