Bagian 4 — Saat Mereka Mengeluarkan Surat Palsu, Aku Membuka Rekaman yang Mengakhiri Semua Kebohongan

Avatar penulis
Cerita 02
14 menit baca 509 tayangan
Bagian 3 — Suamiku Memintaku Diam Demi Promosinya, Padahal Bukti di Meja Sudah Menunjuk Kepadanya
Indeks

Bagian 4 — Saat Mereka Mengeluarkan Surat Palsu, Aku Membuka Rekaman yang Mengakhiri Semua Kebohongan

Aku mengambil tablet dari tangan Bu Ratih.

Beliau masih menatapku.

“Dira, scan tanda tangan apa?”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku memotret percakapan itu menggunakan ponselku.

Lalu aku keluar dari WhatsApp Web.

“Bu.”

Suara sendiri terdengar sangat tenang.

“Mulai sekarang, kalau Arga bertanya apa Ibu melihat pesan tadi, bilang saja tidak.”

Bu Ratih membelalak.

“Kamu mau melakukan apa?”

“Aku mau melindungi diri.”

Beliau mencengkeram lenganku.

“Jangan bilang polisi dulu.”

Aku menatapnya.

Untuk sesaat aku melihat seorang ibu.

Bukan ibu mertuaku.

Seorang ibu yang ketakutan membayangkan anak laki-lakinya menghadapi konsekuensi.

Aku mengerti.

Tapi memahami bukan berarti harus menurut.

“Aku belum bilang apa-apa soal polisi.”

Bu Ratih mengembuskan napas.

Aku meneruskan.

“Tapi kalau Arga benar-benar menggunakan tanda tanganku tanpa izin, aku tidak akan menutupinya.”

Mata beliau berkaca-kaca.

“Dia pasti sedang panik.”

“Panik bukan izin untuk memalsukan persetujuan orang lain, Bu.”

Beliau terdiam.

Aku masuk ke kamar.

Hal pertama yang kulakukan adalah mengganti seluruh kata sandi email, cloud storage, mobile banking, dan laptop.

Kemudian aku memeriksa dokumen digital apa saja yang mungkin pernah kuakses dari komputer bersama.

Beberapa tahun lalu, ketika mengurus pembelian rumah, aku memang pernah memindai KTP, NPWP, tanda tangan, dan beberapa surat pernyataan.

Sebagian tersimpan di folder lama.

Aku merasa mual.

Aku segera menyalin seluruh riwayat file dan metadata ke drive eksternal.

Setelah itu aku menelepon seorang pengacara bernama Maya Lestari.

Maya bukan pengacara “keluarga kaya” seperti yang mungkin dibayangkan Arga.

Kami berteman sejak SMA.

Sekarang ia menangani sengketa komersial dan perjanjian perusahaan.

Aku menjelaskan situasi tanpa dramatisasi.

Maya hanya bertanya tiga hal.

“Apakah kamu pernah memberi izin tertulis?”

“Tidak.”

“Apakah Arga punya akses ke scan tanda tanganmu?”

“Mungkin.”

“Apakah perusahaan sudah menghubungimu resmi?”

“Ya.”

“Jangan tanda tangan apa pun malam ini. Jangan serahkan perangkat apa pun. Dan simpan komunikasi kalian.”

Aku mengangguk.

“Maya.”

“Hm?”

“Aku juga mau konsultasi soal perceraian.”

Telepon hening beberapa detik.

Ia tidak bertanya apakah aku yakin.

Itulah salah satu alasan aku meneleponnya.

“Baik,” katanya.

“Kita pisahkan dua urusan. Kasus profesional dan urusan rumah tangga.”

Aku memejamkan mata.

“Terima kasih.”

Sore harinya Arga pulang lebih cepat.

Bu Ratih berada di dapur.

Aluna sedang ikut kelas menggambar di rumah temannya.

Aku sengaja memastikan anak kami tidak ada.

Arga masuk dengan langkah cepat.

“Kita harus bicara.”

Aku duduk di meja makan.

“Silakan.”

Ia meletakkan ponselnya.

“Situasinya buruk.”

“Aku tahu.”

“Legal menerima pernyataanmu.”

“Aku juga tahu.”

Arga menatapku tajam.

“Kenapa kamu kirim tanpa bicara denganku?”

“Karena kamu sudah bicara atas namaku tanpa izin.”

Ia terdiam.

Aku melanjutkan.

“Kamu bilang pada perusahaan bahwa aku memberikan persetujuan.”

“Dira, dengar dulu.”

“Apakah kamu mengatakan itu?”

Ia mengusap wajah.

“Aku bilang kemungkinan besar kamu tidak keberatan.”

“Itu bukan yang ditulis staf legal.”

“Mereka salah mengartikan.”

“Baik.”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Kita bisa telepon mereka sekarang.”

Arga langsung mengangkat tangan.

“Tidak perlu.”

Aku tersenyum tipis.

“Kenapa?”

Ia duduk.

“Karena aku sudah berusaha memperbaikinya.”

“Dengan apa?”

Hening.

Aku menunggu.

Arga menatap meja.

“Ada surat lama.”

“Surat apa?”

“Persetujuan penggunaan portofolio.”

Aku benar-benar ingin tertawa.

Tapi aku tidak melakukannya.

“Ditandatangani siapa?”

“Kamu.”

Aku menatap wajah suamiku.

Tidak ada rasa bersalah di sana.

Yang ada hanya ketakutan.

“Aku tidak pernah menandatangani surat semacam itu.”

“Mungkin kamu lupa.”

“Arga.”

“Kamu banyak tanda tangan dokumen waktu renovasi rumah dulu.”

Ia bicara lebih cepat.

“Mungkin salah satunya…”

“Jangan.”

Suaraku cukup pelan untuk membuatnya berhenti.

“Jangan lanjutkan.”

Ia menatapku.

“Aku masih memberi kamu kesempatan terakhir.”

Aku meletakkan kedua tangan di meja.

“Katakan surat itu tidak ada.”

Arga mengatupkan rahang.

“Katakan kamu tidak membuatnya.”

Diam.

“Arga.”

Ia mengangkat mata.

“Kalau surat itu bisa menyelamatkan pekerjaanku, apa salahnya?”

Ada momen-momen dalam pernikahan ketika cinta mati tanpa suara.

Bukan saat orang berteriak.

Bukan saat piring pecah.

Kadang hanya satu kalimat.

Satu kalimat yang membuat semua alasan sebelumnya kehilangan arti.

Aku mengangguk perlahan.

“Baik.”

Arga tampak bingung.

“Baik apa?”

“Aku sudah dapat jawabannya.”

Aku berdiri.

Ia ikut berdiri.

“Dira.”

Aku mengambil tas.

“Kamu mau ke mana?”

“Keluar.”

“Sekarang?”

Aku menatapnya.

“Jangan sentuh komputerku.”

“Aku tidak pernah…”

“Jangan.”

Untuk pertama kalinya, mungkin ia mendengar sesuatu di suaraku yang membuatnya berhenti.

Aku pergi menemui Maya.

Malam itu kami menyusun dua dokumen.

Pertama, pemberitahuan resmi kepada PT Mahardika bahwa aku tidak pernah memberikan izin penggunaan desain ataupun tanda tangan untuk dokumen apa pun terkait proyek tersebut.

Kedua, surat permintaan agar setiap dokumen yang mengatasnamakan aku dikirimkan kepadaku untuk diverifikasi.

Aku tidak menuduh siapa pun melakukan pemalsuan.

Belum.

Aku hanya meminta bukti.

Keesokan paginya, pukul 10.13, email masuk.

Ada sebuah PDF tiga halaman.

Judulnya:

SURAT PERSETUJUAN PENGGUNAAN REFERENSI DESAIN

Di halaman terakhir ada tanda tanganku.

Namaku.

Nomor identitasku.

Tanggal empat bulan sebelumnya.

Aku menatapnya lama.

Kemudian aku berkata kepada Maya:

“Itu bukan tanda tangan yang kubuat.”

Ia memperbesar.

Scan tanda tangan tersebut identik dengan tanda tanganku pada dokumen pembelian rumah enam tahun lalu.

Bukan mirip.

Identik.

Bahkan ada titik kecil tinta yang sama di ujung huruf terakhir.

Maya menunjuk layar.

“Ini ditempel dari hasil scan.”

Aku merasakan perutku seperti jatuh.

“Bisa dibuktikan?”

“Kalau dibutuhkan, ahli digital forensik bisa memeriksa file.”

Kami meminta metadata dokumen.

Perusahaan bersedia bekerja sama karena mereka sendiri sedang melakukan investigasi.

Hasil awalnya luar biasa sederhana.

PDF dibuat empat hari sebelumnya.

Bukan empat bulan.

Komputer pembuatnya menggunakan akun milik Citra.

Dan file sumber pertama kali dikirim ke akun itu dari email pribadi Arga.

Aku duduk tanpa bicara.

Maya menatapku.

“Kamu tidak perlu memutuskan semuanya hari ini.”

“Aku sudah.”

Aku menelepon Bu Ratih.

“Bu, sore ini saya jemput Aluna.”

Beliau langsung bertanya:

“Kamu mau ke mana?”

“Ke rumah Ayah beberapa hari.”

“Dira…”

“Aku tidak akan melarang Ibu bertemu Aluna.”

Aku tahu ketakutan seorang nenek.

Karena itu aku langsung menjelaskan.

“Tapi untuk sementara aku dan Arga perlu berpisah.”

Beliau menangis.

Aku menutup mata.

“Maaf.”

“Jangan minta maaf,” katanya tiba-tiba.

Aku terdiam.

Bu Ratih menarik napas berat.

“Semalam Ibu tanya dia soal pesan itu.”

Dadaku mengencang.

“Ibu bilang tidak melihat.”

“Awalnya.”

Aku tidak berkata apa-apa.

“Lalu Ibu tidak tahan.”

Suaranya pecah.

“Ibu tanya kenapa dia butuh tanda tanganmu.”

“Apa katanya?”

“Dia bilang kamu terlalu emosional.”

Aku tertawa hambar.

Bu Ratih meneruskan.

“Dia bilang setelah semuanya selesai, kamu juga akan menikmati hasil promosinya.”

Aku menutup mata.

Kalimat itu begitu Arga.

Ia benar-benar percaya semua tindakannya dapat dibenarkan selama ia membawa pulang lebih banyak uang.

Padahal uang tidak pernah menjadi masalah utama kami.

Harga dirinya yang haus pengakuanlah masalahnya.

Sore hari aku menjemput Aluna.

Aku mengatakan kepadanya bahwa Mama dan Papa sedang punya masalah orang dewasa dan untuk sementara kami tinggal di rumah Kakek.

Aku tidak pernah bicara buruk tentang ayahnya.

Dia terlalu kecil untuk memikul kegagalan kami.

Arga menelepon hampir dua puluh kali.

Aku tidak menjawab.

Malamnya ia mengirim pesan.

Kamu membawa Aluna tanpa izin aku?

Aku menjawab:

Aku sudah memberitahumu. Besok kamu bisa video call dengannya jam tujuh. Kalau mau membahas pengasuhan, komunikasikan tertulis.

Balasannya panjang.

Marah.

Menuduh.

Lalu memohon.

Lalu marah lagi.

Aku tidak membalas.

Dua hari setelah itu, investigasi PT Mahardika selesai pada tahap awal.

Citra diskors.

Arga juga dinonaktifkan sementara dari seluruh akses proyek.

Direktur divisi memanggilku untuk wawancara sebagai pihak pemilik karya.

Aku datang ditemani Maya dan Pak Bima.

Di ruang rapat, untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku bertemu Citra.

Ia lebih muda dariku.

Rapi.

Cantik.

Blazer abu-abu.

Rambut disanggul.

Persis seperti perempuan “mandiri” yang selama berbulan-bulan digunakan suamiku untuk mengukur harga diriku.

Citra menatapku ketika aku masuk.

Wajahnya berubah.

“Nadira?”

Aku berhenti.

“Kita pernah bertemu?”

Ia menelan ludah.

“Waktu aku magang.”

Aku mengangguk.

Sekarang aku mengingatnya.

Seorang intern kurus yang sering duduk dekat printer lantai dua.

Dulu aku bahkan pernah membelikannya makan siang ketika ia lembur.

Lucu sekali ingatan manusia.

Kebaikan kecil bisa dilupakan oleh pemberinya.

Tapi kadang justru diingat oleh orang yang menerimanya.

Rapat dimulai.

Tim audit memperlihatkan dua versi desain.

Versiku dari 2018.

Versi Citra.

Perbandingan dilakukan satu per satu.

Massa bangunan.

Grid.

Plaza.

Jalur servis.

Diagram drainase.

Sistem shading.

Kemudian mereka bertanya kepada Citra.

“Apakah Anda mengembangkan konsep ini secara independen?”

Citra mengangguk.

“Ya.”

Aku menatapnya.

Tim audit mengeluarkan log arsip studio.

“Mengapa file kerja lama Studio Garis Selatan pernah berada di perangkat Anda?”

Citra menegang.

“Itu referensi.”

“Dengan izin siapa?”

Ia memandang Arga.

Arga duduk dua kursi darinya.

Wajahnya pucat.

Citra menjawab:

“Pak Arga bilang istrinya bagian dari tim lama dan penggunaan konsep tidak akan menjadi masalah.”

Semua kepala menoleh pada Arga.

Arga langsung menyela.

“Saya tidak pernah memberi jaminan legal.”

“Tapi Anda meminta file ke studio.”

“Saya pikir untuk referensi.”

“Kemudian Anda mengirim surat persetujuan.”

“Saya menerima dari Citra.”

Citra langsung menatapnya.

“Mas Arga yang kirim scan tanda tangannya!”

Ruangan mendadak hening.

Aku tidak bergerak.

Tidak perlu.

Mereka mulai saling menjatuhkan.

Begitulah hubungan yang dibangun dari keuntungan.

Begitu keadaan memburuk, kesetiaan adalah benda pertama yang dibuang.

Direktur legal mengangkat tangan.

“Cukup.”

Kemudian sebuah rekaman email ditampilkan.

Arga mengirim scan tanda tanganku kepada Citra.

Subjeknya:

Pakai yang ini dulu.

Citra membalas:

Tanggalnya?

Arga:

Mundurkan sebelum submission awal.

Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan.

Arga memejamkan mata.

Aku menatap laki-laki itu dan mencoba mencari orang yang dulu menungguku di depan studio dengan dua gelas es kopi.

Orang yang dulu rela naik motor hujan-hujanan hanya karena aku lupa membawa payung.

Aku masih bisa mengingatnya.

Tapi aku tidak lagi bisa menyamakan orang itu dengan laki-laki di depanku.

Investigasi perusahaan berlangsung hampir tiga minggu.

PT Mahardika akhirnya menarik desain tersebut dari tender dan meminta maaf resmi kepada pemilik karya.

Mereka kehilangan kesempatan pada proyek itu.

Namun perusahaan tidak langsung runtuh seperti yang Arga dramatisasikan.

Proyek lain tetap berjalan.

Orang lain tetap bekerja.

Dunia tidak berhenti hanya karena promosi Arga hilang.

Citra diberhentikan setelah pemeriksaan internal menyimpulkan bahwa ia menggunakan materi arsip tanpa izin serta membuat dokumen persetujuan yang tidak sah.

Arga juga diberhentikan.

Bukan karena ia suamiku.

Bukan karena aku meminta.

Dalam surat keputusan perusahaan tercantum alasan yang sangat jelas: pelanggaran integritas dokumen, pemberian informasi tidak benar kepada tim legal, dan penggunaan data pribadi pihak lain tanpa persetujuan.

Tidak ada satu pun alasan berbunyi:

Karena istrinya dendam.

Tetapi tentu saja Arga tetap mengatakan itu.

Ia datang ke rumah ayahku seminggu kemudian.

Ayah tidak mengizinkannya masuk sebelum aku setuju.

Aku akhirnya menemuinya di teras.

Arga tampak jauh lebih tua.

“Dira.”

Aku duduk.

“Apa?”

“Aku kehilangan semuanya.”

Aku menatapnya.

“Tidak.”

Ia mengernyit.

“Kamu kehilangan pekerjaan.”

“Jangan samakan dengan semuanya.”

“Karierku hancur.”

“Kamu masih sehat.”

“Kamu punya pengalaman kerja.”

“Kamu masih bisa melamar ke tempat lain setelah urusan ini selesai.”

“Aluna masih mengenalmu sebagai ayah.”

“Kamu belum kehilangan semuanya.”

Arga menatapku penuh luka.

“Apa kamu senang?”

“Tidak.”

Jawabanku jujur.

“Aku justru sedih.”

Ia tertawa pahit.

“Kelihatannya tidak.”

“Aku sedih karena delapan tahun pernikahan kita berakhir seperti ini.”

Wajahnya berubah.

“Berakhir?”

Aku mengeluarkan amplop.

Arga tidak mengambilnya.

“Apa itu?”

“Dokumen dari pengacara.”

Ia langsung berdiri.

“Dira, jangan gila.”

Aku menatapnya.

“Aku tidak gila.”

“Kita bisa memperbaiki ini.”

“Aku sudah mencoba memahami penghinaanmu.”

“Aku mencoba memahami kedekatanmu dengan Citra.”

“Aku bahkan masih memberimu kesempatan ketika kamu pulang setelah presentasi.”

“Tapi kamu menggunakan namaku untuk menyelamatkan diri.”

“Aku panik.”

“Lalu kamu menggunakan tanda tanganku.”

“Aku tidak berniat merugikanmu!”

“Karena menurutmu selama tujuanmu tercapai, aku seharusnya ikut diam.”

Arga menekan kedua tangannya ke kepala.

“Aku salah.”

“Ya.”

“Aku tahu sekarang.”

“Bagus.”

“Aku akan berubah.”

Aku tersenyum kecil.

“Mungkin.”

Ia memandangku berharap.

“Tapi perubahanmu tidak harus terjadi sebagai suamiku.”

Kalimat itu membuatnya diam.

Aku menyodorkan amplop lagi.

Kali ini ia mengambilnya.

Proses perceraian kami tidak selesai dalam semalam.

Ada mediasi.

Ada pembicaraan soal pengasuhan.

Ada urusan aset.

Rumah Bekasi akhirnya kami jual karena tidak satu pun dari kami ingin tinggal di sana.

Setelah kewajiban kredit dihitung, pembagian dilakukan sesuai dokumen dan kontribusi yang dapat dibuktikan.

Aku tidak mengambil lebih dari yang menjadi hakku.

Aku juga tidak menggunakan kekuatan keluargaku untuk membuat Arga kehilangan akses kepada Aluna.

Kami menyusun jadwal.

Akhir pekan tertentu bersama ayahnya.

Video call.

Hari sekolah.

Libur.

Aku punya satu syarat.

Jangan pernah menggunakan Aluna sebagai pembawa pesan konflik orang dewasa.

Arga menyetujuinya.

Bu Ratih tetap datang menemuiku.

Pada pertemuan pertama setelah semuanya, beliau membawa satu kotak lemper kesukaanku.

Kami duduk lama tanpa bicara.

Kemudian beliau berkata:

“Dulu Ibu ikut salah.”

Aku menggeleng.

“Tidak perlu.”

“Perlu.”

Beliau menatapku.

“Ibu selalu bilang kamu harus memahami tekanan Arga.”

“Tapi Ibu jarang bilang Arga harus memahami pengorbananmu.”

Matanya berkaca-kaca.

“Ibu kira selama dia bekerja keras, kekurangan lain bisa dimaklumi.”

Aku menggenggam tangan beliau.

“Arga tetap anak Ibu.”

“Dan kamu tetap ibu dari cucu Ibu.”

Kami tidak perlu memilih siapa yang harus dibenci.

Hidup nyata jauh lebih rumit daripada itu.

Enam bulan kemudian, aku kembali bekerja.

Bukan di perusahaan besar.

Bukan untuk membuktikan apa pun kepada Arga.

Aku membuka studio kecil bersama dua mantan rekan.

Namanya Ruang Nadi Studio.

Kami menyewa lantai dua sebuah ruko di Depok.

Tim kami hanya lima orang.

Aku bekerja tiga hari di studio dan dua hari dari rumah.

Jam empat sore, jika tidak ada rapat klien, aku berhenti bekerja untuk menjemput Aluna.

Proyek pertama kami bukan gedung senilai ratusan miliar.

Hanya renovasi perpustakaan komunitas.

Nilainya bahkan lebih kecil daripada bonus tahunan yang dulu sering dibanggakan Arga.

Tapi ketika pertama kali melihat namaku tercetak di gambar kerja lagi, aku duduk hampir sepuluh menit tanpa bicara.

Bukan karena aku akhirnya menjadi “perempuan mandiri”.

Aku tidak pernah berhenti menjadi manusia yang memiliki kemampuan hanya karena lima tahun tidak memakai kartu pegawai.

Aku hanya sempat memilih menggunakan kemampuanku di tempat lain.

Di rumah.

Pada anakku.

Pada keluargaku.

Pada hidup yang saat itu kupilih sendiri.

Setahun kemudian, desain perpustakaan kami memenangkan penghargaan kecil dari komunitas arsitektur kota.

Pak Bima datang ke acara itu.

Bu Ratih juga.

Aluna duduk di barisan depan dengan gaun kuning dan rambut dikepang dua.

Setelah namaku dipanggil, ia berdiri dari kursinya dan berteriak terlalu keras:

“Itu Mama aku!”

Semua orang tertawa.

Aku juga.

Di sudut ruangan aku melihat Arga.

Ia datang karena hari itu memang jadwalnya menjemput Aluna.

Kami saling menatap.

Ia tidak lagi memakai setelan mahal.

Setelah hampir delapan bulan mencari pekerjaan, akhirnya ia diterima di sebuah perusahaan konstruksi skala menengah dengan jabatan lebih rendah daripada sebelumnya.

Aku tahu dari Bu Ratih bahwa ia sekarang jauh lebih pendiam.

Apakah ia benar-benar berubah?

Aku tidak tahu.

Dan itu bukan lagi tanggung jawabku.

Setelah acara, ia menghampiri.

“Selamat.”

“Terima kasih.”

Ia melihat plakat di tanganku.

“Desainnya bagus.”

Aku tersenyum.

“Sudah lihat?”

“Iya.”

Lalu ia tertawa kecil, pahit.

“Dulu aku bahkan tidak tahu kamu bisa sebagus ini.”

Aku menatapnya.

“Bukan karena aku menyembunyikannya.”

Arga mengangguk pelan.

“Aku tahu.”

Aluna berlari ke arah kami.

“Papa!”

Wajah Arga langsung berubah.

Ia berjongkok dan membuka tangan.

Anak kami memeluknya.

Aku memperhatikan dari samping.

Dulu aku mengira akhir yang memuaskan berarti melihat orang yang menyakitiku kehilangan segalanya.

Ternyata bukan.

Arga kehilangan jabatan.

Kehilangan pernikahan.

Kehilangan reputasi yang ia bangun dengan kebohongan.

Citra kehilangan pekerjaannya dan harus mempertanggungjawabkan tindakannya.

Tapi aku tidak membutuhkan mereka hancur selamanya.

Yang kubutuhkan hanyalah berhenti membayar harga untuk kesalahan mereka.

Aku mengambil tas Aluna.

“Jam tujuh besok malam?”

Arga mengangguk.

“Aku antar dia pulang.”

“Baik.”

Ia berjalan beberapa langkah lalu berhenti.

“Dira.”

Aku menoleh.

“Aku minta maaf.”

Kali ini tidak ada kalimat setelahnya.

Tidak ada:

tapi aku sedang tertekan.

Tidak ada:

tapi kamu juga salah.

Tidak ada:

tapi aku melakukannya untuk keluarga.

Hanya permintaan maaf.

Aku mengangguk.

“Aku dengar.”

Aku tidak mengatakan aku memaafkannya.

Mungkin suatu hari.

Mungkin tidak.

Karena pengampunan tidak selalu diperlukan untuk menutup sebuah cerita.

Kadang yang diperlukan hanyalah pintu yang akhirnya benar-benar ditutup.

Malam itu aku pulang ke apartemen kecil yang kubeli dekat studio.

Di meja makan ada gambar Aluna.

Tiga orang berdiri di bawah matahari besar.

Aku.

Aluna.

Bu Ratih.

Di sisi kanan kertas, ada seorang laki-laki memegang tangan Aluna.

Arga.

Kami tidak lagi berada dalam satu rumah di gambar itu.

Tetapi tidak ada satu pun wajah yang dicoret.

Aku menempelkan gambar itu di kulkas.

Kemudian kubuka laptop.

Sebuah email dari calon klien baru sudah masuk.

Subjeknya:

Permintaan Pertemuan — Desain Pusat Komunitas

Aku tersenyum.

Lima tahun lalu aku meninggalkan kantor karena memilih keluargaku.

Setahun lalu aku meninggalkan pernikahan karena akhirnya memilih diriku sendiri.

Keduanya bukan kegagalan.

Dan jika ada satu hal yang kupelajari dari semua itu, ini:

Orang yang meremehkanmu sering kali bukan karena kamu tidak memiliki nilai.

Mereka hanya terlalu lama menikmati apa yang kamu lakukan sampai mengira semuanya muncul dengan sendirinya.

Arga baru menyadari nilainya ketika rumah yang selalu rapi tak lagi menunggunya.

Ketika dokumen yang biasa kubereskan tidak lagi tersedia.

Ketika Aluna harus dijemput berdasarkan jadwal, bukan asumsi bahwa Mama selalu ada.

Dan ketika desain yang dulu ia sebut “gambar-gambar pekerjaan lama” berdiri di layar sebuah acara dengan namaku tercantum jelas di bawahnya.

Sedangkan aku?

Aku akhirnya mengerti bahwa tidak perlu menjadi lebih sukses daripada perempuan lain untuk membuktikan harga diriku.

Aku juga tidak perlu mengalahkan Citra.

Aku hanya perlu mengambil kembali sesuatu yang selama bertahun-tahun kubiarkan orang lain definisikan untukku.

Namaku.

Pekerjaanku.

Batasanku.

Dan hidupku sendiri.