Bagian 3 — Namaku Dipakai untuk Utang Adikku, Lalu Mereka Menyebutku Anak yang Tidak Tahu Balas Budi
Aku membaca halaman pertama itu sampai tiga kali.
Mungkin aku salah melihat.
Mungkin ada penjelasan lain.
Tetapi namaku tercetak jelas di kolom pemohon.
Ayu Lestari.
Nomor KTP-ku benar.
Alamat rumah benar.
Bahkan nama tempat kerjaku juga benar.
Aku mengangkat kepala.
“Ini apa?”
Raka menjawab enteng.
“Kredit motor.”
“Aku bisa baca. Kenapa pakai namaku?”
Ibu langsung ikut bicara.
“Karena penghasilanmu tetap.”
Aku menoleh kepadanya.
“Ayu kerja paruh waktu.”
“Tapi ada slip gaji.”
“Terus?”
“Nadine butuh motor di Malang. Kalau tiap hari naik ojek mahal.”
Nadine yang sejak tadi duduk sambil memegang ponsel akhirnya bicara.
“Cuma Beat, Kak. Bukan mobil.”
Aku hampir tidak percaya dengan kalimat itu.
“Bukan masalah Beat atau mobil. Kenapa nama aku?”
Raka menyandarkan tubuh.
“Namaku masih ada cicilan. Bapak juga susah karena usia.”
“Jadi kalian mau pakai namaku?”
“Kan cicilannya nanti keluarga yang bayar.”
Aku membuka halaman berikutnya.
Uang muka Rp2,5 juta.
Tenor tiga tahun.
Cicilan lebih dari Rp900 ribu per bulan.
Di bagian kontak darurat tertulis nomor Raka.
Yang belum ada hanya tanda tanganku.
Aku menutup map.
“Nggak.”
Suasana langsung berubah.
Ibu mengerutkan kening.
“Maksudmu?”
“Ayu nggak mau tanda tangan.”
Nadine tertawa pendek.
“Serius?”
“Serius.”
“Motor itu buat aku kuliah, bukan buat foya-foya.”
Aku menatapnya.
“Nadine, kalau kredit atas nama aku dan pembayaran terlambat, yang kena catatan aku.”
Raka mengibaskan tangan.
“Nggak akan terlambat.”
“Pinjaman Rp900 ribu saja belum Kak Raka kembalikan.”
Wajahnya langsung kaku.
“Itu beda.”
“Bedanya apa?”
“Jangan kurang ajar.”
Aku tidak menjawab.
Aku mengambil foto seluruh dokumen.
Raka langsung bangkit.
“Ngapain difoto?”
“Karena data pribadi aku dipakai tanpa izin.”
Ibu memukul lenganku pelan.
“Jangan ngomong seperti kita orang lain!”
Aku memandangnya.
“Kalau keluarga, seharusnya tanya dulu.”
Bapak akhirnya bicara.
Nada suaranya lelah.
“Sudahlah. Kalau Ayu tidak mau, jangan dipaksa.”
Untuk sesaat aku merasa ada seseorang yang masih berpihak kepadaku.
Tetapi Ibu segera berkata,
“Kamu diam saja! Yang setiap hari antar Nadine ke mana-mana nanti siapa?”
Bapak kembali diam.
Begitulah rumah kami.
Bapak bukan orang yang kasar.
Tetapi setiap kali keadaan sulit, diamnya selalu membuat orang yang paling keras menjadi pemenang.
Malam itu aku mengumpulkan semua dokumen pribadiku.
KTP.
Kartu mahasiswa.
NPWP.
Ijazah SMA.
Akta kelahiran.
Aku baru sadar fotokopi beberapa dokumen hilang dari map.
Aku bertanya kepada Ibu.
“Fotokopi KTP Ayu ada di mana?”
“Mana Ibu tahu.”
“Untuk pengajuan kredit itu dapat dari mana?”
Ibu tidak menjawab.
Jawabannya sudah cukup.
Keesokan harinya, aku membawa dokumen asli ke tempat kerja dan menyimpannya di loker berkunci.
Aku juga menghubungi sales yang namanya tercetak di formulir.
Namanya Dimas.
Aku mengatakan dengan jelas bahwa aku tidak pernah mengajukan kredit dan tidak memberikan izin.
Ia terdengar terkejut.
“Belum diproses, Mbak. Kami masih menunggu tanda tangan asli.”
“Tolong catat bahwa saya menolak.”
“Baik, Mbak. Saya blok pengajuan ini.”
Aku menyimpan percakapan WhatsApp itu.
Hari itu seharusnya masalah selesai.
Ternyata baru dimulai.
Dua hari kemudian, Tante Sari menelepon.
Ia adik Bapak dan tinggal di Gresik.
“Ayu, kamu bertengkar sama Ibu?”
Aku menutup rak obat.
“Kenapa, Tante?”
“Ibumu cerita di grup keluarga.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Cerita apa?”
Katanya aku berubah sejak punya uang.
Katanya aku tidak mau membantu rumah lagi.
Katanya aku menghitung setiap nasi yang kumakan.
Katanya aku iri kepada adikku karena Nadine masih dibiayai kuliah.
Dan yang paling membuatku diam…
Ibu mengatakan aku menolak membantu Nadine mendapatkan kendaraan meskipun selama ini orang tua sudah “mengorbankan segalanya” untukku.
Tante Sari bertanya pelan,
“Memang begitu?”
Aku tidak langsung menjawab.
Selama bertahun-tahun, aku punya kebiasaan buruk.
Kalau keluarga melakukan sesuatu yang menyakitkan, aku menyembunyikannya.
Aku takut dianggap membuka aib.
Aku takut orang berkata aku anak tidak tahu diri.
Tetapi kali itu aku lelah.
Aku mengirimkan screenshot transfer enam bulan.
Aku mengirim foto pengajuan kredit.
Aku mengirim percakapan dengan sales.
Lalu aku menulis:
“Tante, Ayu tidak minta Tante bela Ayu. Ayu cuma mau Tante tahu cerita lengkapnya.”
Tante Sari tidak membalas hampir sepuluh menit.
Kemudian ia menelepon lagi.
Suaranya berubah.
“Selama ini kamu yang bayar internet rumah?”
“Iya.”
“Obat Bapak?”
“Beberapa kali.”
“Kenapa nggak pernah bilang?”
Aku tertawa kecil.
“Karena Ayu kira itu normal.”
Tante Sari menghela napas panjang.
“Normal membantu keluarga. Yang nggak normal adalah bantuanmu dianggap kewajiban, lalu namamu mau dipakai untuk utang tanpa izin.”
Malam itu aku pulang sedikit lebih lambat.
Begitu membuka pintu, Ibu sudah menunggu.
“Kamu cerita apa ke Tante Sari?”
Aku tahu percakapan kami akan buruk.
Tetapi aku tidak menduga seburuk itu.
“Ayu cuma kirim bukti.”
“Bukti?”
Ibu tertawa sinis.
“Sekarang kamu simpan bukti untuk melawan orang tua?”
“Ayu simpan karena cerita Ibu tidak lengkap.”
Wajah Ibu berubah merah.
“Kamu mempermalukan Ibu!”
“Yang mempermalukan siapa?”
Aku tidak berteriak.
Justru itu membuat Ibu semakin marah.
Raka keluar dari kamar.
“Kenapa lagi?”
Ibu menunjukku.
“Adikmu menyebarkan masalah rumah ke keluarga besar.”
Aku memandang Raka.
“Tante Sari telepon duluan.”
“Harusnya bilang saja nggak ada masalah.”
“Jadi Ayu harus bohong?”
“Demi keluarga, iya.”
Aku tertawa.
Untuk pertama kalinya aku benar-benar tertawa di depan mereka.
Bukan karena lucu.
Karena akhirnya aku mengerti aturan keluarga kami.
Aku harus membantu tanpa menghitung.
Diam ketika diperlakukan tidak adil.
Menutup mulut ketika mereka berbohong.
Dan kalau keberatan, aku yang dianggap merusak keluarga.
Nadine turun dari lantai atas.
Ia mengenakan kaus baru yang belum pernah kulihat.
Di tangannya ada tas belanja.
Ibu langsung berubah nada.
“Kamu sudah makan, Sayang?”
Aku memperhatikan perubahan itu.
Hanya tiga detik.
Tiga detik dari wajah penuh kemarahan saat melihatku menjadi suara lembut ketika berbicara kepada Nadine.
Nadine mengangguk.
“Tadi makan sama teman.”
“Ya sudah, makanan di kulkas besok saja.”
Aku menatap kulkas.
Ada ayam bakar di dalamnya.
Masih utuh.
Disimpan untuk besok karena Nadine sudah kenyang.
Sementara bertahun-tahun aku mendapat sisa karena, menurut Ibu, “daripada dibuang”.
Malam itu keputusanku bulat.
Aku akan pindah.
Mbak Rini pernah menawarkan kamar kosong di rumah kos tempatnya tinggal, dekat apotek.
Biayanya Rp850 ribu per bulan termasuk air.
Aku menghubunginya.
“Mb, kamar yang waktu itu masih kosong?”
Balasan datang lima menit kemudian.
“Masih. Kamu mau lihat?”
“Besok.”
Aku tidak memberi tahu keluarga.
Aku pergi melihat kos setelah kerja.
Kamarnya kecil.
Hanya tiga kali tiga meter.
Ada jendela.
Kasur tipis.
Meja kayu.
Kamar mandi di luar.
Tetapi ketika aku berdiri di sana, sesuatu yang aneh terjadi.
Aku merasa bisa bernapas.
Tidak ada piring yang menungguku.
Tidak ada orang yang mengatur berapa potong ayam boleh kuambil.
Tidak ada yang membutuhkan slip gajiku.
Aku membayar uang muka dua bulan.
Hari Sabtu berikutnya, aku mulai membawa barang sedikit demi sedikit.
Baju kerja.
Buku.
Laptop.
Dokumen.
Seprai.
Aku sengaja tidak membawa banyak.
Hampir semua barang di kamarku bisa masuk dua koper dan satu kardus.
Itu juga membuatku sedih.
Dua puluh dua tahun hidup di sebuah rumah…
dan seluruh jejakku bisa dipindahkan dalam tiga kali perjalanan motor.
Hari terakhir, Ibu baru sadar.
Ia berdiri di pintu kamar melihat lemari yang setengah kosong.
“Kamu mau ke mana?”
“Pindah kos.”
Ibu terdiam.
“Siapa izinkan?”
“Ayu sudah dewasa.”
“Kamu tinggal di sini enak-enak, kenapa mau buang uang?”
Aku hampir mengatakan semuanya.
Tentang makanan.
Tentang kredit.
Tentang cerita di grup keluarga.
Tetapi aku sudah terlalu lelah menjelaskan.
“Karena Ayu mau belajar hidup sendiri.”
Ibu tertawa sinis.
“Hidup sendiri? Dengan gaji segitu?”
Aku mengangguk.
“Iya.”
“Kamu kira gampang bayar makan? Listrik? Kos? Sabun? Bensin?”
“Ayu akan coba.”
“Kalau uangmu habis jangan pulang menangis.”
Aku memasukkan charger ke tas.
“Ayu nggak akan.”
Ibu berdiri di depanku.
“Kamu benar-benar tega meninggalkan keluarga cuma gara-gara lauk?”
Aku berhenti.
Lalu menatap wajahnya.
“Bukan karena lauk, Bu.”
“Terus?”
“Karena dari lauk itu Ayu baru tahu posisi Ayu di rumah ini.”
Ibu memutar mata.
“Drama.”
Aku mengangguk.
“Mungkin.”
Aku mengambil koper.
Saat hendak keluar, Raka muncul dari ruang tengah.
“Kalau pindah, kunci rumah tinggal.”
Aku mengeluarkan kunci cadangan dari tas.
Kutaruh di meja.
Tidak ada yang menahan.
Tidak ada yang memeluk.
Bapak hanya berdiri di dekat pintu dapur.
Ia terlihat ingin bicara, tetapi seperti biasa, tidak ada suara yang keluar.
Aku naik motor dengan dua tas terikat di belakang.
Tanganku gemetar saat menyalakan mesin.
Aku menangis begitu sampai ujung gang.
Bukan karena menyesal.
Karena untuk pertama kalinya aku menyadari betapa lama aku menunggu seseorang memintaku tetap tinggal.
Tidak ada.
Minggu pertama di kos terasa aneh.
Aku pulang kerja dan kamar gelap.
Aku harus membeli makan sendiri.
Mencuci baju sendiri.
Mengatur uang sendiri.
Tetapi aku juga menemukan hal-hal kecil yang tidak pernah kusadari bisa membuat seseorang bahagia.
Aku bisa membeli satu paha ayam tanpa meminta izin.
Aku bisa menyimpan yogurt di kulkas bersama tanpa takut seseorang mengatakan itu pemborosan.
Aku bisa tidur tanpa mendengar suara Ibu memanggil dari dapur,
“Yu, piringnya belum dicuci.”
Aku mencatat setiap pengeluaran.
Kos Rp850 ribu.
Makan sekitar Rp900 ribu.
Bensin Rp300 ribu.
Pulsa.
Kebutuhan mandi.
Aku terkejut.
Ternyata setelah tidak mengirim begitu banyak uang ke rumah, penghasilanku justru cukup.
Bahkan aku masih bisa menabung.
Dua minggu kemudian, Ibu menelepon.
Aku kira ia merindukanku.
Ternyata kalimat pertama yang keluar adalah,
“Tagihan internet jatuh tempo.”
Aku menutup mata.
“Terus?”
“Biasanya kamu bayar.”
“Sekarang Raka bisa bayar.”
“Raka banyak kebutuhan.”
“Ayu juga.”
Ibu mendengus.
“Kamu ini benar-benar berubah.”
Aku tidak menjawab.
Tiga hari kemudian Raka mengirim pesan.
“Transfer dulu 400. Besok gue ganti.”
Aku membalas:
“Pinjaman sebelumnya Rp900 ribu belum kembali.”
Ia hanya membaca.
Malamnya status WhatsApp-nya berbunyi:
“Kadang saudara sendiri paling perhitungan setelah merasa punya uang.”
Aku tidak menanggapi.
Sebulan berlalu.
Kemudian sesuatu terjadi.
Tante Sari mengirim screenshot dari grup keluarga.
Ibu menulis bahwa sejak aku pindah, rumah sedang sulit.
Listrik naik.
Internet belum dibayar.
Nadine perlu uang praktikum.
Raka punya cicilan.
Lalu Ibu menambahkan:
“Anak perempuan kalau sudah merasa mandiri memang sering lupa rumah.”
Kali ini Tante Sari menjawab di grup.
Ia tidak memaki.
Ia hanya menulis:
“Bukankah enam bulan terakhir Ayu sudah transfer lebih dari Rp7 juta, belum pengeluaran lain? Mungkin sekarang saatnya anggota rumah yang lain berbagi.”
Di bawahnya, Tante juga mengirim foto catatan transfer yang pernah kukirim.
Grup mendadak sunyi.
Untuk pertama kalinya, cerita Ibu tidak berdiri sendirian.
Beberapa sepupu mulai bertanya.
Raka langsung meneleponku.
“Kamu kasih bukti ke Tante Sari buat disebar?”
“Aku cuma kasih ke Tante.”
“Sekarang semua orang pikir kita hidup dari uangmu!”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi hasilnya begitu!”
Aku diam beberapa detik.
“Kak, kalau bukti transaksi membuat kalian malu, masalahnya mungkin bukan bukti transaksinya.”
Telepon langsung ditutup.
Aku pikir itu sudah puncaknya.
Ternyata belum.
Dua hari kemudian, pukul empat sore, saat apotek sedang ramai, aku melihat Ibu masuk dari pintu kaca.
Ia tidak datang sendirian.
Nadine ada di belakangnya.
Ibu berjalan langsung ke meja kasir tempatku berdiri.
Wajahnya dingin.
“Ayu.”
Aku meletakkan scanner.
“Ibu?”
“Keluar sebentar.”
“Ayu sedang kerja.”
“Sekarang.”
Mbak Rini memandangku dari rak belakang.
Aku akhirnya meminta izin lima menit.
Kami berdiri di samping apotek.
Ibu langsung membuka tas dan mengeluarkan sesuatu.
Sebuah amplop putih.
Di dalamnya ada tagihan kampus Nadine.
Rp6.750.000.
Batas pembayaran tinggal empat hari.
Ibu menyodorkannya kepadaku.
“Kamu transfer setengah.”
Aku menatap angka itu.
“Kenapa?”
“Bapak belum ada uang.”
“Terus Raka?”
“Dia ada cicilan.”
Aku hampir tertawa.
“Jadi karena Kak Raka punya cicilan, Ayu yang bayar?”
“Nadine adikmu.”
“Ayu tahu.”
“Kalau tidak bayar, dia tidak bisa ikut semester.”
Nadine berdiri di belakang Ibu dengan wajah kesal.
Bukan malu.
Bukan sedih.
Kesal.
Seolah uang itu memang seharusnya keluar dari sakuku.
Aku bertanya,
“Nadine punya tabungan?”
Ia langsung menjawab,
“Tabunganku buat laptop.”
Aku menatap Ibu.
“Ayu tidak punya Rp3 juta untuk diberikan.”
Ibu mendekat.
“Bukan diberikan. Nanti diganti.”
“Kapan?”
“Kamu ini kenapa harus tanya semuanya?”
Aku mengangguk pelan.
“Karena kalau tidak tanya, akhirnya tidak pernah kembali.”
Wajah Ibu berubah.
Dan di depan dua pelanggan apotek yang sedang lewat, ia berkata cukup keras,
“Pantas kamu tinggal sendiri. Hatinya sudah keras. Dulu kami besarkan kamu, sekarang adik sendiri kesusahan saja kamu hitung uang.”
Aku merasakan wajahku panas.
Namun sebelum aku menjawab, Mbak Rini keluar.
Ia berdiri di sampingku.
Dengan nada sopan tetapi tegas, ia berkata,
“Bu, maaf. Ayu masih jam kerja. Kalau urusan keluarga, sebaiknya dibicarakan setelah shift.”
Ibu memandang seragam Mbak Rini, lalu kembali kepadaku.
“Jam sembilan Ibu tunggu di rumah.”
Aku berkata,
“Ayu tidak janji datang.”
Ibu menggenggam amplop lebih keras.
Kemudian ia mengucapkan kalimat yang membuatku sadar bahwa semua ini sudah jauh lebih besar daripada satu piring nasi.
“Kalau Nadine sampai berhenti kuliah karena kamu, jangan pernah mengaku sebagai kakaknya lagi.”
Malam itu aku tidak pergi ke rumah.
Tetapi pukul 22.13, sebuah pesan masuk dari nomor Bapak.
Hanya satu kalimat.
“Ayu, Bapak perlu bicara. Ada sesuatu soal uang kuliah Nadine yang selama ini Ibumu tidak pernah ceritakan kepadamu.”

